E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Hubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis dan Gaya Kelekatan Aman dengan Keintiman Relasi Romantis Kresentia Marselin Putri Talino1. RR. Dini Diah Nurhadianti2 Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Jakarta Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Jakarta E-mail: 1kresentiamarselin@upi-yai. id, 2dini_diah_nurhadianti@upi-yai. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keinitman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah Bekasi. Teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 164 orang. Hasil analisis menggunakan metode bivariate correlation menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi pola asuh demokratis dengan keintiman relasi romantis . = 0,. serta hhubungan positif yang signifikan antara gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis . = 0,. Hasil uji multivariate correlation pada hubungan persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis menghasilkan koefisien r = 0,596 dan r2 = 0,355 , dengan p < 0,05. Persepsi pola asuh demokratis memberi kontribusi sebesar 1,2% dan gaya kelekatan aman memberikan kontribusi sebesar 34,3% terhadap keintiman relasi Berdasarkan hasil dari kategorisasi data keintiman relasi romantis, persepsi pola asuh demokratis, dan gaya kelekatan aman berada pada kategori tinggi. Kata Kunci: keintiman, pola asuh demokratis, kelekatan aman. ABSTRACT This research aims to find the relationship between perceptions of democratic parenting and a secure attachment style with the intimacy of romantic relationships among Catholic Young People (OMK) in Paroki Kampung Sawah Bekasi. Purposive sampling was the method employed for collecting data, with a total sample size of 164 The results of the analysis using the bivariate correlation method show that there is a significant positive relationship between perceptions of democratic parenting styles and romantic relationship intimacy . = 0. and there is a significant positive relationship between secure attachment style and romantic relationship intimacy . = The results of the multivariate correlation test on the relationship perceptions of democratic parenting and secure attachment style with romantic relationship intimacy produced coefficients r = 0,596 dan r2 = 0,355 , with p < 0,05. The intimacy of romantic relationships is affected by as much as 1,2% when people perceive a democratic parenting style, and as much as 34,3% when people perceive a secure attachment style. Based on the results of the data categorization romantic relationship intimacy, perceptions of democratic parenting and secure attachment styles are in the high category. Keywords: intimacy, democratic parenting, secure attachment Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif PENDAHULUAN Fase dewasa melibatkan periode transisi yang panjang, salah satunya adalah fase dewasa awal. Saat memasuki masa dewasa awal, individu akan melakukan banyak eksplorasi dan eksperimen, mulai dari jalur karir yang ingin dituju, tujuan ke depan, sampai gaya hidup yang diyakini ke depannya. melajang atau menikah, hidup bersama, dan membina keluarga. Berdasarkan data BPS, pernikahan di Indonesia pernikahan yang tercatat pada 2021 049, kemudian turun 348 di 2022, dan kembali turun menjadi 1. 255 di Kemudian pada 2024 dilaporkan bahwa angka perkawinan di Indonesia tercatat terus menurun. Penurunan angka pernikahan di Indonesia bisa dipengaruhi oleh masalah ekonomi, psikologi, dan sosial. Namun di Indonesia ada juga beberapa alasan personal, seperti pengalaman keluarga sebelumnya yang kurang baik. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan kepercayaan diri. Selain penurunan angka pernikahan, kasus perceraian di Indonesia juga cukup Pada tahun 2022. BPS menyatakan bahwa ada 516. 334 kasus Indonesia, penyebabnya juga bermacam-macam. KDRT, meninggalkan salah satu pasangan. Dalam Gereja Katolik hubungan pernikahan itu bersifat monogami dan tidak terceraikan, sehingga fase pendekatan dalam relasi romantis ini dapat membantu dua individu saling mengenal satu sama lain dan memantapkan hati untuk menuju ke jenjang yang lebih serius, karena pasangan yang dipilih itulah yang akan menjadi teman hidup yang sifatnya satu untuk selamanya. Fase dewasa awal merupakan periode perkembangan yang terjadi pada rentang usia 20-30 tahun. Pada fase ini, inidvidu mulai mencapai kemandirian ekonomi dan pribadi, pengembangan karir, dan masa memilih seseorang lebih dekat, memulai keluarga sendiri, sampai mengasuh anak (Santrock, 2. Keintiman pada tahap dewasa awal inilah yang berusaha diwujudkan dalam sebuah hubungan dengan orang lain, salah satunya dengan menjalin relasi romantis. Menjalin dimaksudkan di sini adalah proses memahami satu sama lain, proses mengenal lawan jenis jadi lebih dekat, proses belajar pembinaan hubungan, dan penyelesaian konflik melalui Keintiman itu sendiri merupakan pengalaman yang ditandai komunikasi, dan kedekatan yang bisa juga tanpa melibatkan kontak seksual. Individu akan menjadi lebih intim jika penghargaan, dan saling responsif satu dengan yang lain. Keintiman ini merupakan kondisi interpersonal dan emosional yang dapat dialami dua individu dalam relasi romantis. Meskipun selama ini banyak orang sebagai hubungan seksual, namun definisi keintiman dalam relasi romantis tidak sesederhana itu, ada berbagai aspek keintiman lain yang dapat memengaruhi kualitas hubungan dua individu dalam berpacaran. Keintiman dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain. pengalaman masa lalu, konflik masa kecil, kecemasan terkait identitas diri, dan ketakutan untuk mengungkapkan perasaan yang tidak Salah satu pengalaman masa lalu yang didapatkan dalam setiap individu adalah pola asuh orang tua. Dua aspek pengasuhan yang dijelaskan Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif oleh Diana Baumrind adalah kontrol dan kehangatan, sehingga gabungan pengasuhan yang berbeda. otoriter, permisif, dan tidak terlibat. Gaya memengaruhi individu setelah tumbuh dewasa, mulai dari kepribadian, pilihan karir, sampai dengan pernikahan. Orang tua dengan pola asuh demokratis biasanya mendorong anak untuk mandiri dengan menetapkan aturan namun juga menghormati pendapat anak dan menerima perasaannya. Anak yang tumbuh dalam pola asuh ini cenderung lebih percaya diri, mandiri, berani mengemukakan pendapat, dan mampu mengambil keputusan yang masuk akal serta mengevaluasi sendiri Mayoritas individu yang tumbuh dengan pola asuh demokratis cenderung lebih mudah membangun hubungan dekat yang sehat. berkomitmen pada pasangannya dan lebih bersedia berkompromi untuk kemajuan hubungan (Fan, 2. Sehingga meskipun secara literasi lebih banyak yang membahas pengaruh gaya kelekatan terhadap keintiman relasi romantis, maka seharusnya pola asuh pun dapat menjadi faktor yang memengaruhi keintiman relasi romantis individu di masa dewasa. diwarnai oleh kepercayaan, komitmen, dan usia yang panjang (Feeney, dalam Santrock 2. Selain itu, orang dewasa dengan kelekatan aman ini juga cenderung menerima dukungan jika sedang berada dalam kondisi tertekan dan lebih bersedia memberi dukungan jika pasangannya tertekan (Rholes & Simpson, 2. Dalton dan FrickHorbury menemukan bahwa orangorang dengan keterikatan yang aman mendapat skor lebih tinggi pada variabel seperti kehangatan, perasaan aman, dan kemandirian. Selain itu, orang-orang dengan keterikatan yang aman memiliki persepsi yang lebih positif pada variabel yang memprediksi aksesibilitas orang lain, kepercayaan, dan tanggap terhadap kebutuhan keterikatan yang tidak aman. Jenis keterikatan yang anak bentuk memiliki dampak jangka panjang ke dalam banyak aspek perkembangan anak dan kehidupan dewasa. Beberapa aspek tersebut antara lain hubungan dengan teman sebaya dan kemampuan mempertahankan hubungan intim jangka panjang, sehingga kelekatan yang dialami anak semasa kecil harusnya memengaruhi keintiman relasinya saat dewasa, salah satunya dalam keintiman relasi romantis. Dalam hal relasi romantis, berbagai jurnal penelitian psikologi terdahulu telah menyebutkan adanya hubungan Sementara gaya kelekatan yang dimiliki seseorang sudah dimiliki sejak masa kanak-kanak, terkait bagaimana keterikatan anak tersebut dengan pengasuhnya atau dengan orang tuanya. Orang dewasa yang punya kelekatan yang aman cenderung lebih puas dengan relasi dekatnya dibandingkan orang dewasa dengan kelekatan tidak aman, kemudian relasi orang dewasa dengan kelekatan yang aman cenderung Sekolah pertama bagi seorang anak adalah keluarga, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tentunya memengaruhi proses tumbuh kembang anak ke depannya. Pola asuh demokratis yang diterapkan orang tua, membuat anak lebih merasa dihormati dan dipedulikan, orang tua dengan pola mengembangkan hubungan yang lebih erat dan positif dengan anak. Selain pola asuh, anak yang memiliki lingkungannya akan mengembangkan kelekatan aman. Individu dengan Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif kelekatan aman ini akan lebih mampu membina interaksi yang harmonis, membina hubungan yang intens, dan tidak mendominasi. Apa yang dialami individu di masa dewasa, sangat bergantung dengan apa yang terjadi pada masa kecilnya, bagaimana pola asuhnya, lingkungan tempat tinggalnya, termasuk juga gaya kelekatan yang dimilikinya sejak kecil. Hal-hal tersebut tentu berpengaruh dalam berbagai aspek, salah satunya adalah keintiman individu dalam menjalin relasi Seiring dengan banyaknya berita mengenai relasi romantis yang tidak berjalan dengan baik, maka penulis tertarik untuk mendalami hubungan kedua hal tersebut dengan keintiman relasi romantis pada usia dewasa awal, sebagai salah satu langkah dalam menentukan kualitas hubungan ke depannya. Oleh sebab itu penulis mengambil judul AuHubungan Persepsi Pola Asuh Demokratis dan Gaya Kelekatan Aman dengan Keintiman Relasi Romantis Pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung SawahAy. LANDASAN TEORI Keintiman Relasi Romantis Erikson . alam Santrock, 2. mendeskripsikan keintiman sebagai menemukan diri sendiri sekaligus peleburan diri sendiri dengan orang Keintiman juga membutuhkan komitmen terhadap orang lain. Menurutnya, jika seseorang gagal mengembangkan relasi yang intim di masa dewasa awal, maka individu tersebut akan mengalami isolasi. Olson, dkk . mendefinisikan keintiman sebagai proses berbagi secara intelektual, fisik, dan emosional dengan orang lain. Sementara Osho . mendefinisikan keintiman sebagai kebutuhan penting yang melepas topeng, dan menunjukkan kepribadian aslinya. Keintiman relasi romantis adalah proses berbagi secara intelektual, fisik, dan emosional yang perlu dibangun antar manusia untuk membuat individu lebih mengetahui dirinya sendiri dengan berani melepaskan pertahanan dan menunjukkan kepribadian aslinya, serta merangkul orang lain. Persepsi Pola Asuh Demokratis Sulaiman, . mendefinisikan bahwa pola asuh demokratis merupakan gaya asuhan orang tua yang tegas, namun penyayang dan konsisten. Orang tua dalam kategori ini menerangkan sebab-sebab setiap peraturan diadakan, memiliki harapan tinggi kepada anak, namun senantiasa memberi dukungan dan Menurut Baumrind, orang tua dengan pola asuh ini menggunakan didikan yang penuh diplomasi, disesuaikan dengan keperluan anak, mengawasi anak jika diperlukan, dan sangat responsif dalam berkomunikasi dengan anak. Fan . menyampaikan bahwa orang tua yang melaksanakan pola asuh hubungan positif dengan anak-anaknya, serta selalu memenuhi kebutuhannya, sehingga setelah dewasa, individu bisa menganalisis permasalahan dalam hubungan dekat dengan lebih objektif, bebas dari tekanan dan keterikatan, serta perasaan dan pikiran yang belum terselesaikan dalam sebuah relasi. Anak-anak sedang tumbuh gaya pengasuhan demokratis lebih percaya diri dan mandiri, sehingga berani mengemukakan pendapat. Anak yang menerima pola asuh demokratis keputusan yang masuk akal dan keselamatan setelah dewasa, lebih Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif mudah memulai hubungan dekat yang sehat, berkomitmen pada pasangannya, dan lebih bersedia berkompromi demi kemajuan hubungan, serta dapat merasakan cinta dan rasa hormat yang besar saat beranjak dewasa. Persepsi pola asuh demokratis adalah pemahaman anak menerima dan merasakan pola asuh dengan responsivitas, dukungan, dan tuntutan tinggi dari orang tuanya, serta selalu mengutamakan hubungan positif antara orang tua dan anak. Ha1: Ada hubungan persepsi pola asuh demokratis dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah Bekasi. Ha2: Ada hubungan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah Bekasi. Sementara hubungan antara ketiga variabel, penelitian ini menggunakan teknik correlation, yaitu: Ha3: Ada hubungan persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah Bekasi. Hasil selanjutnya akan dianalisis untuk mencari kesimpulan dari penelitian ini dan dihitung menggunakan bantuan dari program SPSS (Statistical Product and Service Solutio. Gaya Kelekatan Aman Agusdwitanti, . menyampaikan bahwa gaya kelekatan aman akan akan dikembangkan anak dengan figur lekatnya, jika anak merasa Zaid menyatakan bahwa anak dengan kelekatan aman dibesarkan oleh pengasuh yang terlibat dan mampu merespons kebutuhannya, anak-anak tersebut menerima interaksi dan dukungan positif dari figur lekatnya. Susanto dan Sari . menyampaikan bahwa individu dengan kelekatan aman akan merasa percaya diri, optimis, serta mampu membina relasi yang intim dengan individu lain. Gaya kelekatan aman adalah pola interaksi orang tua dan anak yang hangat dan positif, yang akan berkembang jika anak merasa yakin dengan penerimaan lingkungannya, dibesarkan oleh pengasuh yang terlibat, mampu merespons kebutuhannya, serta memberi interaksi dan dukungan Hasil dan Pembahasan Metodologi Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik bivariate correlation untuk mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu: Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 Peneliti sebanyak 164 orang, menggunakan teknik purposive sampling dengan karakteristik yaitu, anggota OMK yang berusia antara 20 Ae 30 tahun, laki-laki dan perempuan, pernah atau sedang menjalin relasi romantis dengan lawan jenis, serta belum menikah. Dari 164 sampel, diperoleh 98 responden perempuan . ,8%) dan 66 responden laki-laki . ,2%). Sementara jika dilihat berdasarkan rentang usia, hasilnya didominasi oleh responden berusia 22 tahun sebanyak 39 orang dengan presentase 23,8%. Pengujian hipotesis pertama (Ha. dilakukan dengan metode bivariate Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai r = 0,422 dan p < 0,05. Hasilnya membuktikan bahwa terdapat hubungan ke arah positif yang E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif signifikan, sehingga Ha1: AuAda demokratis dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy diterima dan Ho1: AuTidak ada demokratis dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy ditolak. Pengujian hipotesis kedua (Ha. dilakukan masih dengan metode bivariate correlation. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai r = 0,586 dan p < 0,05. Hasilnya membuktikan bahwa terdapat hubungan ke arah positif yang signifikan, sehingga Ha2: AuAda hubungan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy diterima dan Ho2: AuTidak ada hubungan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy ditolak. Pengujian hipotesis ketiga (Ha. dilakukan dengan metode multivariate Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai r = 0,596 dan r2 = 0,355 0,05. Hasilnya hubungan yang signifikan, sehingga Ha3: AuAda hubungan persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy diterima dan Ho3: AuTidak ada hubungan persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Kampung Sawah BekasiAy ditolak. Adapun hasil uji hipotesis ketiga variabel dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Korelasi Bivariate dan Multivariate IV 1 dengan DV r = 0,422 Ha1 . = 0,. IV 2 dengan DV r = 0,586 Ha2 . = 0,. IV 1 dan IV 2 r = 0,596 Ha3 dengan DV . = 0,. Berdasarkan hasil analisis data regression dengan metode enter, didapatkan nilai R Square = 0,355 dan p < 0,05 yang berarti persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman memberikan kontribusi sebesar 35,5% sementara sisanya sebesar 64,5% menyangkut kontribusi dari variabel lain yang tidak dihitung, seperti kecemasan akan identitas diri, kelemahan, membawa dendam masa lalu ke masa sekarang, dan konflik masa kecil yang tidak terselesaikan. Berdasarkan hasil analisis data regression dengan metode stepwise, variabel yang dominan adalah gaya kelekatan aman sebesar 34,3% dengan hasil R Square Change 0,343 sehingga sumbangan kedua adalah persepsi pola asuh demokratis sebesar 1,2% dengan hasil R Square Change 0,012. Uji normalitas pada variabel keintiman relasi romantis memperoleh signifikansi sebesar p = 0,075. > p = 0,05 Hasil normalitas untuk variabel persepsi pola asuh demokratis sebesar p = 0,200 > p = 0,05 sehingga data diasumsikan Terakhir, uji normalitas variabel gaya kelekatan aman sebesar p = 0,200 > p = 0,05 sehingga asumsi distribusi data normal. Tabel 2. Uji Normalitas Variabel Angka Keterangan KKR 0,075 Normal PPAD 0,200 Normal GKA 0,200 Normal Keterangan: p > 0,05 Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif KRR: Keintiman Relasi Romantis PPAD: Persepsi Pola Asuh Demokratis GKA: Gaya Kelekatan Aman Variabel keintiman relasi romantis terbagi atas 130 responden pada kategori tinggi dengan persentase 79,3% dan 34 responden pada kategori sedang dengan persentase 20,7%. Kemudian variabel persepsi pola asuh demokratis terbagi atas 135 responden pada kategori tinggi dengan persentase 82,3% dan 29 responden pada kategori sedang dengan persentase 17,7%. Sementara variabel gaya kelekatan aman terbagi atas 101 responden pada kategori tinggi dengan persentase 61,6% dan 63 responden pada kategori sedang dengan persentase 38,4%. Adapun berdasarkan kategorinya dapat dilihat pada tabel berikut: Berdasarkan kategorisasi, variabel keintiman relasi romantis memiliki pengelompokan kategorisasi dengan X < 58,3 untuk kategori rendah, 58,3 O X O 91,7 untuk kategori sedang, dan X > 91,7 untuk kategori tinggi. Hasil mean temuan dari variabel keintiman relasi romantis sebesar 102,16 sehingga keintiman relasi romantis pada OMK di Paroki Kampung Sawah berada pada kategori Berdasarkan kategorisasi, variabel persepsi pola pengelompokan kategorisasi dengan X < 58,3 untuk kategori rendah, 58,3 O X O 91,7 untuk kategori sedang, dan X > 91,7 untuk kategori tinggi. Hasil mean temuan dari variabel persepsi pola asuh demokratis sebesar 102,74 sehingga persepsi pola asuh demokratis pada OMK di Paroki Kampung Sawah berada pada kategori tinggi. Berdasarkan kategorisasi, variabel gaya kelekatan kategorisasi dengan X < 63 untuk kategori rendah, 63 O X O 99 untuk kategori sedang, dan X > 99 untuk kategori tinggi. Hasil mean temuan dari variabel gaya kelekatan aman sebesar 104,25 sehingga gaya kelekatan aman pada OMK di Paroki Kampung Sawah berada pada kategori tinggi. Tabel 4. Kategorisasi Variabel Variabel Kategori Jumlah Persen KRR Tinggi 79,3% Sedang 20,7% PPAD Tinggi 82,3% Sedang 17,7% GKA Tinggi 61,6% Sedang 38,4% Keterangan: KRR: Keintiman Relasi Romantis PPAD: Persepsi Pola Asuh Demokratis GKA: Gaya Kelekatan Aman Kesimpulan Tabel 3. Kategorisasi Mean Temuan 102,16 102,74 104,25 Variabel Ket. KKR Tinggi PPAD Tinggi GKA Tinggi Keterangan: KRR: Keintiman Relasi Romantis PPAD: Persepsi Pola Asuh Demokratis GKA: Gaya Kelekatan Aman Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 Berdasarkan kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: Terdapat hubungan yang signifikan pada persepsi pola asuh demokratis dengan keintiman relasi romantis ke arah positif pada OMK di Paroki Kampung Sawah. Hal menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi pola asuh demokratis maka semakin tinggi juga keintiman relasi Begitupun sebaliknya, semakin rendah persepsi pola asuh demokratis maka semakin rendah pula keintiman relasi romantis individu. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Terdapat hubungan yang signifikan pada gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis ke arah yang positif pada OMK di Paroki Kampung Sawah. Hal menunjukkan bahwa semakin tinggi gaya kelekatan aman maka semakin tinggi juga keintiman relasi romantis Begitupun sebaliknya, semakin rendah gaya kelekatan aman, maka semakin rendah pula keintiman relasi romantis individu. Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman dengan keintiman relasi romantis pada OMK di Paroki Kampung Sawah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi pola asuh demokratis dan gaya kelekatan aman yang diterima individu, maka semakin tinggi pula keintiman relasi Begitupun sebaliknya, semakin demokratis dan gaya kelekatan aman yang diterima individu, maka semakin rendah pula keintiman relasi romantis individu tersebut. DAFTAR PUSTAKA