Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. April 2024 2023 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Pengaruh Fototerapi Terhadap Mikrobioma Kulit dan Keparahan PenyakitPada Pasien Dermatitis Atopik Effect of Phototherapy on Skin Microbiome and Disease Severity in AtopicDermatitis Patients Nanda Earlia1,2*. Elfa Wirdani Fitri1,2. Mikyal Bulqiah3. Aqil Yuniawan Tasrif4 Departement of Dermatology and Venereology. Faculty of Medicine. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Indonesia. Department of Dermatology and Venereology. Dr. Zaionel Abidin Hospital. Banda Aceh,Indonesia. Dr. Zaionel Abidin Hospital. Banda Aceh. Indonesia Faculty of Medicine. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Indonesia *E-mail: nanda. earlia@usk. Submit : 7 Desember2023. Revisi: 4 Juni 2024. Terima: 4 Juli 2024 Abstrak Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit inflamasi kronis bersifat gatal dan residif. Pasien DA cenderung mengalami infeksi kulit yang dapat memperparah dan mencetus kekambuhan. Modalitas tatalaksana DA sedang dan berat terkini adalah penggunaan fototerapi. Fototerapi dengan menggunakan Narrowband-UVB (NB-UVB) dapat dipertimbangkan sebagai terapi lini kedua pasien DA sedang dan berat setelah gagal terapi lini pertama. Selain efek antiinflamasi, fototerapi NB-UVB memiliki efek antibiotik sehingga bermanfaat dalam mengatasi infeksi kulit pada pasien DA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian fototerapi terhadap mikrobioma kulit dan keparahan penyakit DA. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis . linical trial. desain paralel dengan matching. Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita DA yang berobat di poliklinik kulit dan kelamin RSUDZA yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Sebanyak 20 pasien terlibat dalam penelitian ini, yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yaitu pasien yang diterapi dengan fototerapi sebanyak 2 kali per minggu, selama 4 minggu dan kelompok kontrol tanpa fototerapi. Pemeriksaan keparahan penyakit dengan parameter Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD). Eczema Area and Severity Index (EASI). Atopic Dermatitis Severity Index (ADSI). Trans Epidermal Water Loss (TEWL) dan Skin Capacitance (Sca. serta swab kulit untuk deteksi mikrobioma dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisa menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan pemberian fototerapi selama 8 kali secara signifikan mengurangi keparahan penyakit dengan parameter SCORAD. EASI. ADSI. TEWL dan Scap . ilai p<0. dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun, tidak halnya dengan mikrobioma kulit . >0. Kata kunci: Fototerapi. NB-UVB, dermatitis atopik, keparahan penyakit, mikrobioma kulit Abstract Atopic dermatitis (AD) is a chronic inflammatory disease characterized by itching and recidivism. patients tend to experience skin infections which can worsen and trigger recurrence. The current treatment modality for moderate and severe AD is the use of phototherapy. Phototherapy using Narrowband-UVB (NB-UVB) can be considered as second-line therapy for moderate and severe AD patients after failure of first-line therapy. Apart from the anti-inflammatory effect. NB-UVB phototherapy has an antibiotic effect so it is useful in treating skin infections in AD patients. The aim of this study was to determine the effectiveness of phototherapy on the skin microbiome and the severity of AD disease. This research is a parallel design clinical trial with matching. The population ofthis study Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. were all AD sufferers seeking treatment at the RSUDZA skin and genital clinic who met the inclusion and exclusion criteria. A total of 20 patients were involved in this study, who were divided into 2 groups, namely the treatment group, namely patients treated with phototherapy 2 times per week, for 4 weeks and a control group without phototherapy. Examination of disease severity with SCORAD. EASI. ADSI. TEWL and Scap parameters as well as skin swabs for microbiome detection were carried out before and after the intervention. The results of analysis using the unpaired t test showed that administering phototherapy 8 times significantly reduced disease severity with the parameters SCORAD. EASI. ADSI. TEWL and Scap . value <0. compared to the control group. However, this was not the case with the skin microbiome . >0. Keywords: Phototherapy. NB-UVB, atopic dermatitis, severity, skin microbiome Pendahuluan Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit inflamasi kronis bersifat gatal dan residif (Hill & Spergel, 2. Angka kejadian DA di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) berkisar hingga 10,2% pada populasi dewasa dan 13% pada populasi anak-anak (Traub, 2. Angka kejadian DA di Indonesia sendiri cukup tinggi, hal ini dilihat dari data yang telah dikumpulkan dari lima kota besar di Indonesia oleh Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) menunjukkan DA berada di peringkat pertama sebanyak 23,67% dari 10 besar penyakit kulit lainnya pada anak (Kurniati, 2. Berdasarkan data rekam medik dari Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin dari tahun 2017-2019, ditemukan kasus DA sebanyak 189 kasus dan merupakan penyakit dengan angka kunjungan tertinggi (RSUDZA, 2. Interaksi dari kelainan genetik, defek sawar kulit, gangguan imunologis serta faktor pencetus lainnya seperti agen infeksi diduga merupakan dasar dari patogenesis DA. Pasien DA cenderung memiliki kulit dengan permeabilitas epidermis meningkat, penurunan hidrasi stratum korneum, dan peningkatan pH kulit. Tingkat pH pada stratum korneum ini akan menghasilkan lingkungan asam untuk aktivitas enzim anti-mikroba yang optimal dan keragaman mikrobioma pada permukaan kulit sehingga pasien DA cenderung mengalami infkesi kulit dan infeksi tersebut juga memperparah dan mencetus kekambuhan (Hendricks et al. , 2. Dalam suatu systematic review menyebutkan bahwa S. aureus banyak terdapat di kulit kelompok pasien DA dibandingkan kelompok kontrol dan berhubungan positif terhadap keparahan penyakit. Selain, aureus, terdapat pula jenis mikrobioma dari famili yang sama yaitu S. epidermidis dan S. haemolyticus ((Bjerre et al. , 2. Penilaian fungsi sawar kulit epidermis pada pasien DA biasanya menggunakan pengukuran transepidermal water loss (TEWL), hidrasi stratum korneum . kin capacitanc. , pH permukaan kulit, suhu dan elastisitas. Suhu dan nilai TEWL dapat membantu dokter untuk menentukan tingkat keparahan penyakit dan memilih pasien yang membutuhkan perawatan intensif (Montero-Vilchez et al. , 2. Gambaran klinis berupa kulit kering yang merupakan gejala umum pada pasien DA yang merupakan indikasi adanya dari gangguan sawar kulit dan berkorelasi dengan peningkatan TEWL (Engebretsen et al. , 2016. Rehbinder et al. , 2. Modalitas tatalaksana DA derajat sedang dan berat terkini adalah penggunaan fototerapi yaitu broadband UVB . -320 n. , narrowband-UVB (NBUVB) . -313 n. , terapi UVA-1 . -400 n. , terapi UVA 8-methoxypsoralens (PUVA), laser excimer 380 nm dan sinar spektrum penuh (Ortiz-Salvador & Pyrez-Ferriols, 2. Narrowband-UVB (NB-UVB) dapat dipertimbangkan sebagai terapi lini kedua . etelah gagal terapi lini pertama seperti emolien, steroid topikal, dan penghambat kalsineurin topika. untuk DA karena merupakan suatu modalitas yang aman dan memiliki indeks teurapetik baik dan efek samping yang minimal dan dapat digunakan sebagai Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. monoterapi atau kombinasi dengan obat sistemik, seperti kortikosteroid(Dayal et al. , 2017. Patrizi et al. , 2015. Rodenbeck et al. , 2016. Sidbury et al. , 2. Berdasarkan kemanjuran dan keamanan. NB-UVB merupakan standar baku emas untuk mengobati psoriasis dan dermatitis Fototerapi dengan NB-UVB memberikan efek anti bakteri dan mengubah kadar defensin antimicrobial peptides (AMP. , protein-S100, cathelicidin, dan ribonuclease 7 (Kemyny et al. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa fototerapi dengan NB-UVB dapat mengurangi kolonisasi S aureus pada pasien DA ((Dotterud et al. , 2. Penelitian oleh Lossius pada tahun 2020 juga menyebutkan bahwa pemberian fototerapi NB-UVB bermanfaat pada lesi kulit DA dan tidak mempengaruhi bagian tubuh lainnya (Lossius et al. , 2. Sejauh pencarian literatur, penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menilai efektifitas dari pemberian fototerapi terhadap mikrobioma kulit dan derajat keparahan penyakit dilihat dari parameter Scoring of Atopic Dermatitis Index (SCORAD). Eczema Area and Severity Index (EASI). Atopic Dermatitis Severity Index(ADSI). TEWL dan Scap pada pasien dermatitis atopik. Metode Penelitian Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis . linical trial. desain paralel dengan matching. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) RSUD dr. Zainoel Abidin dengan nomor: 092/ETIK-RSUDZA/2023. Semua data yang diperoleh dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian dan ilmiah. 2 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin. RSUD dr. Zainoel Abidin dari bulan Juni sampai September 2023. 3 Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien DA yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUDZA dan subjek penelitian ini adalah sebanyak 20 pasien dermatitis atopik yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUDZA yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. 4 Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria inklusi penelitian ini adalah DA derajat sedang-berat yang berusia 19-60 tahun dan bersedia mengikuti penelitian dari awal hingga akhir. Pasien yang mendapatkan terapi sinar, terapi antibiotik dan imunosupresan sistemik dalam 1 bulan terakhir serta antibiotik dan imunosupresan topikal dalam 2 minggu terakhir dikeluarkan dalam penelitian ini. 5 Randomisasi Randomisasi blok dua kelompok menggunakan sistem komputerisasi digunakan untuk menentukan subjek penelitian kelompok intervensi dan kelompok kontrol. 6 Prosedur Penelitian Kelompok intervensi diberikan fototerapi, dengan dosis 0. 20 J/cm2 dengan durasi 2 menit. Intevensi dilakukan 2 kali seminggu selama 4 minggu. Kedua kelompok, baik kelompok Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. intervensi dan kelompok perlakuan mendapatkan terapi standar berupa pelembab dan kortikosteroid topikal. Sebelum dan sesudah intervensi, pemeriksaan swab kulit untuk pemeriksaan mikrobioma kulit serta penilaian derajat keparahan penyakit menggunakan parameter SCORAD. EASI. ADSI. TEWL dan Scap dilakukan. 7 Analisis Data Analisis menggunakan uji chi-square dilakukan untuk menilai efektifitas pemberian fototerapi terhadap mikrobioma kulit dan uji T tidak berpasangan dilakukan untuk menilai efektifitas pemberian fototerapi terhadap keparahan penyakit dengan indeks kepercayaan 95% dengan nilai p yang dianggap bermakna < 0. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 21 (IBM. Chicago. IL. USA). Hasil dan Pembahasan 1 Karakteristik Sampel Penelitian Hasil penelitian menunjukkan data demografi bahwa sebagian besar subjek penelitian (SP) di kedua kelompok baik intervensi maupun kontrol berjenis kelamin perempuan yaitu masing masing sebanyak 6 SP . %) dan 8 SP . %). Ditinjau dari riwayat atopi yang dimiliki, sebagian besar SP di kedua kelompok memiliki riwayat atopi yaitu masing masing sebanyak 6 SP . %) dan 5 SP . %). Berdasarkan riwayat atopi keluarga dari kedua kelompok separuhnya memiliki keluarga dengan riwayat atopi . %). Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian Karakteristik Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Riwayat Atopi Riwayat Atopi Keluarga Rata-rata usia* Kelompok Intervensi Jumlah Persentase . (%) 80A18. Kelompok Kontrol Jumlah Persentase . (%) 50A20. *Disajikan dalam bentuk rata-rataASD SP kelompok intervensi berusia rata-rata 49. 8 tahun dan pada kelompok kontrol SP rata-rata 5 tahun. Semua kelompok usia dapat menderita DA meskipun usia yang paling umum timbulnya penyakit ini adalah pada anak usia dini. Namun. DA juga sering terjadi pada usia lanjut dan di negara-negara berpendapatan tinggi, sekitar 10% populasi orang dewasa terkena DA (Chan et al. , 2. Sebuah tinjauan sistematis ini melaporkan prevalensi DA pada orang dewasa berkisar antara 1,3% sampai 22,7% (Bylund et al. , 2. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama dalam prevalensi DA. Perempuan lebih banyak menderita DA dibandingkan dengan laki-laki pada usia dewasa (Johansson et al. Hal ini konsisten dengan hasil penelitian yang kami lakukan bahwa hampir sebagian besar pasien dari kedua kelompok . % dan 80%) berjenis kelamin perempuan. Faktor penting Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. lainnya dalam kejadian DA adalah riwayat penyakit atopi seperti asma dan rhinitis alergi baik pada diri sendiri maupun pada keluarga (Belgrave et al. , 2. 2 Distribusi Frekuensi Mikrobioma Kulit pada Pasien DA Tabel 2 menunjukkan sebagian besar bakteri yang ditemukan di lesi kulit pasien DA di kelompok intervensi maupun kontrol adalah non S. aureus sebanyak masing-masing 60% dan Tabel 2. Distribusi frekuensi mikrobioma kulit pada pasien DA Bakteri Non S. Kelompok Intervensi Jumlah Persentase . (%) Kelompok kontrol Jumlah Persentase . (%) 3 Distribusi Frekuensi Keparahan Penyakit Pada Pasien DA Sebelum diberikan intervensi . ilai baselin. , seluruh parameter (SCORAD. EASI. ADSI. TEWL dan Sca. pada kedua kelompok tidak memiliki perbedaan yang bermakna, yang artinya bahwa titik mulai dari kedua kelompok penelitian adalah sama (Tabel . Tabel 3. Distribusi frekuensi keparahan penyakit pada pasien DA Parameter SCORAD EASI ADSI TEWL Scap Kelompok intervensi 36A14. 08A11. 00A2. 97A5. 79A4. Kelompok kontrol 01A12. 77A5. 9A2. 03A2. 15A7. Nilai p Tabel 4. Hasil uji efektivitas pemberian fototerapi terhadap mikrobioma kulit pada pasien DA Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Mikrobioma kulit Ada Tidak ada Nilai p* Uji chi-square Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa pemberian fototerapi tidak bermakna secara statistik dalam mengurangi mikrobioma kulit dengan nilai p = 0. 156 atau > 0. Tabel 5 menunjukkan pemberian fototerapi secara signifikan mengurangi keparahan penyakit di semua parameter dibandingkan kelompok kontrol dengan nilai p <0. Terapi cahaya atau fototerapi memiliki potensi terapeutik yang sangat besar bagi pasien yang kehidupan pribadi dan sosialnya seharihari sangat dipengaruhi oleh DA. Fototerapi harus diintegrasikan dalam rencana pengobatan yang komprehensif dan evaluasi terkait tingkat keparahan penyakit dan kepatuhan pasien. Secara khusus, penggunaan fototerapi dapat menjadi hal yang penting dalam pengobata DA Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. kronis maupun akut pada anak dan orang dewasa sebagai intervensi lini kedua setelah gagal dengan terapi topikal (Patrizi et al. , 2. Tabel 5. Hasil uji efektivitas pemberian fototerapi terhadap derajat keparahan penyakit pada DA SCORAD EASI ADSI TEWL Scap RerataASD 83A6. 46A15. 94A7. 56A3. 00A1. 40A1. 58A2. 14A2. 72A5. 89A3. Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Pemberian fototerapi ( ) Pemberian fototerapi (-) Nilai p** <0. Nilai p<0. uji t tidak berpasangan Fototerapi dengan NB- UVB telah diketahui dapat mengurangi derajat keparahan DA berdasarkan nilai SCORAD hingga 50% (Tintle et al. , 2. EASI 40% (Kwon et al. , 2. Hal yang sama juga didapatkan dalam penelitian ini, penurunan keparahan pasien DA pada kelompok intervensi berdasarkan SCORAD mencapai 58%, dan EASI 51% dan ADSI 43% sehingga perbaikan klinis pun sangat tercapai (Gambar . Gambar 1. Lesi sebelum fototerapi. Lesi sesudah fototerapi 8x dengan interval 2 kali per minggu selama 4 minggu. Radiasi dari UV memiliki efek imunomodulator yang mengarah pada perbaikan penyakit kulit Pada studi yang melibatkan hewan dan manusia, diketahui UVB menghambat respons imun yang kemungkinan terkait dengan adanya induksi apoptosis sel T. Pada psoriasis. NB-UVB terbukti menginduksi terjadinya supresi dari sistem imun yang diikuti dengan normalisasi hiperplasia epidermal yang mendukung teori dari patologi regulasi imun epidermal pada penyakit psoriasis. Selanjutnya. NB-UVB ditemukan dapat menekan jalur sel T utama yang terlibat dalam patogenesis psoriasis, yaitu jalur Th17/IL-23 dan Th1. Penurunan IL-17 dan IL-22 pada pasien psoriasis berkorelasi dengan respons klinis yang lebih baik. Demikian pula halnya Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. dengan DA, adanya supresi yang kuat pada sumbu Th2 dan AuT22Ay pada pasien AD setelah diberikan NB-UVB disertai dengan normalisasi fungsi barrier dari epidermal. Penelitian lain menemukan penurunan signifikan pada subset sel inflamasi . ermasuk sel T. IDECs, dan DC AuatopikA. (Tintle et al. , 2. Dengan adanya supresi dari sel T, sekresi sitokin dan makrofag juga berkurang setelah pemberian NB-UVB. Sitokin yang secara signifikan berkurang yakni IL-2. IL-8. IL-9. IL-17. IL-22 dan IL-23 yang berperanpenting dalam patogenesis DA (Kemyny et al. Gambar 2. Mekanisme kerja radiasi ultraviolet dalam mengobati penyakit kulit yang terkait sistem imun. Dikutip dari (Kemyny et al. , 2. Kolonisasi kulit oleh S. aureus lebih sering terjadi pada pasien dengan DA dan banyaknya S. aureus berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit. Hal ini sebagian dijelaskan karena S. aureus dapat berkembang lebih baik pada kondisi pH kulit penderita DA yang lebih tinggi dibandingkan pada lingkungan yang lebih asam pada kulit sehat. Pada kulit DA, terdapat peningkatan kelimpahan dari S. aureus dan S. epidermidis, sedangkan pada tingkat genus Cutibacterium. Streptococcus. Acinetobacter. Corynebacterium, dan Prevotella mengalami penurunan (Lossius et al. , 2. Fototerapi dengan NB-UVB memberikan efek anti-bakteri . an mengubah kadar defensin DARI peptida anti- mikroba (AMP. , protein S100, cathelicidin, dan ribonuklease 7 (Lossius et al. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, dengan metode berbasis kultur, bahwa pengobatan UVB menurunkan kelimpahan relative S. aureus pada kulit penderita DA pada orang dewasa dan anak-anak (Dotterud et al. , 2008. Silva et al. , 2. Pada penelitian ini, fototerapi NB-UVB tidak dapat menurunkan mikrobioma kulit . ilai p>0. , hal ini salah satunya bisa dikarenakan metode yang digunakan masih kultur konvensional sehigga diperlukan penelitian yang menerapkan metode yang tidak bergantung pada kultur seperti pengurutan gen 16S rRNA berarti seluruh komunitas bakteri dapat dikarakterisasi. Selain itu, metode kultur konvensional yang dihasilkan pada penelitian hanya menilai ada dan tidaknya bakteri tersebut di kulit namun jumlah bakteri tidak ada sehingga apabila ada penurunan jumlah bakteri sebelum dan sesudah intervensi tidak dapat kita nilai. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian fototerapi efektif dalam mengurangi keparahan Nanda Earlia dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. penyakit pada pasien DA berdasarkan parameter SCORAD. EASI. ADSI. TEWL dan SCap namun jika dilihat dari mikrobioma kulit tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian lanjutan dengan sampel dan waktu yang lama serta modalitas pengurutan gen 16S rRNA masih diperlukan. Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih kepada RSUD dr. Zainoel Abidin yang telah mendanai penelitian ini, staf litbang RSUDZA, pasien yang terlibat dalam penelitian ini, staf poliklinik kulit dan kelamin, dokter spesialiskulit dan kelamin dan pihak lainnya yang sudah membantu dalam penelitian ini. Daftar Pustaka