Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 HUBUNGAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA KENDARI Warnida1. Andriyani2*. Wa Ode Sri Kamba Wuna3 STIKes Pelita Ibu * kikidhilaira@yahoo. Received: 11-03-2024 Revised: 10-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT This study aims to determine the relationship between preeclampsia in mothers giving birth and the occurrence of low birth weight babies (LBW) at Kendari City General Hospital. This type of research uses analytic with a cross sectional approach using a retrospective approach. The sampling technique uses Total Sampling with a total sample of 164. The results of this study indicate the feasibility of the test model obtained sig value = 0. 015 > 0. 05, which means that the feasible test model has sufficiently explained the data on the association of preeclampsia with the incidence of Low Birth Weight (LBW) babies. The Odds Ratio shows a value of 2. 279 > 1 meaning that preeclampsia is a risk factor for low birth weight 2 times greater than nonpreeclamptic deliveries. Keywords: Newborn. Preeclampsia. Low Birth Weight PENDAHULUAN Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan kondisi bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2. 500 gram, yang secara historis disamakan dengan istilah prematuritas, meskipun BBLR dapat terjadi baik pada bayi prematur maupun bayi cukup bulan (Lusiana, 2. World Health Organization (WHO) menetapkan standar BBLR sebagai berat lahir di bawah 2. 500 gram, yang menjadi permasalahan kesehatan masyarakat global yang berkelanjutan dan signifikan. Bayi dengan BBLR memiliki risiko kesakitan dan kematian dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan bayi dengan berat lahir normal, dengan prevalensi global mencapai 15,5% atau sekitar 20,6 juta bayi setiap tahunnya, dimana 96,5% kasus terjadi di negara-negara berkembang (Martini, 2. Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan prevalensi BBLR tertinggi di dunia . ,1%) setelah India . ,6%) dan Afrika Selatan . ,2%), serta menjadi negara kedua dengan prevalensi BBLR tertinggi di kawasan ASEAN setelah Filipina . ,2%) (Martini, 2. Data nasional tahun 2018 menunjukkan prevalensi BBLR di Indonesia mencapai 6,2%, dengan angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah . ,9%) dan terendah di Provinsi Jambi . ,2%) (Budiarti, 2. Preeklampsia atau toksemia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai proteinuria (Rosdiana, 2. Kondisi ini merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya BBLR, selain faktor ibu lainnya seperti usia, paritas, riwayat kehamilan buruk, jarak kehamilan yang terlalu dekat, penyakit akut dan kronik, serta kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan konsumsi Faktor lain yang berkontribusi meliputi kondisi plasenta dan faktor janin seperti infeksi bawaan dan kelainan kromosom (Sukarni, 2. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 1 Data Preeklampsia dan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Sulawesi Tenggara Jumlah Persentase Persentase Tahun Preeklampsia BBLR Persalinan (%) (%) 1,00 2,03 0,90 2,63 0,84 1,87 1,07 2,66 1,08 2,73 Sumber: Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Data provincial menunjukkan tren peningkatan kasus preeklampsia dari 1,00% pada tahun 2018 menjadi 1,08% pada tahun 2022. Sementara itu, kejadian BBLR menunjukkan pola fluktuatif namun cenderung meningkat, mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan persentase 2,73%. Tabel 2 Data Preeklampsia dan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Jumlah Ibu Bersalin dengan Persentase Persentase Tahun BBLR Persalinan Preeklampsia (%) (%) 7,99 6,32 8,91 7,03 10,17 7,28 8,76 6,14 Sumber: Buku Registrasi RSUD Kota Kendari Data rumah sakit menunjukkan variasi tahunan dalam prevalensi preeklampsia, dengan puncak tertinggi pada tahun 2021 . ,17%) dan sedikit menurun pada tahun 2022 . ,76%). Kejadian BBLR mengikuti pola serupa, dengan peningkatan progresif hingga tahun 2021 . ,28%) kemudian menurun pada tahun 2022 . ,14%). Studi terdahulu yang dilakukan Sari . tentang "Hubungan Ibu Preeklampsia dengan Kejadian BBLR di RSUD Balung Kabupaten Jember" membuktikan adanya korelasi signifikan antara preeklampsia dan BBLR, dimana ibu dengan preeklampsia memiliki risiko 1,85 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan ibu tanpa preeklampsia. Mengingat persistensi tingginya angka kejadian preeklampsia dan dampaknya terhadap outcome perinatal, penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis "Hubungan Preeklampsia Pada Ibu Bersalin Dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari". METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional retrospektif yang bertujuan menganalisis hubungan preeklampsia dengan kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari pada bulan Mei 2023 (Tersiana, 2. Teknik total sampling digunakan untuk mengambil seluruh populasi sebanyak 164 ibu bersalin yang mengalami preeklampsia pada tahun 2022 sebagai sampel penelitian. Data sekunder dikumpulkan melalui rekam medis rumah sakit dengan instrumen berupa format pengumpulan data yang mencakup karakteristik responden, status preeklampsia, dan berat badan lahir bayi. Variabel bebas berupa preeklampsia dikategorikan menjadi ringan (TD Ou 140/90 mmH. dan berat (TD > 160/110 mmH. , sedangkan variabel terikat yaitu BBLR didefinisikan sebagai berat lahir < 2500 gram dengan skala ordinal dan nominal (Sugiyono, 2. Pengolahan data Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 dilakukan melalui tahapan editing, coding, data entry, dan data cleaning menggunakan program SPSS, kemudian dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi = 0,05 untuk menguji hipotesis hubungan antar variabel, dengan hasil disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan crosstabulation disertai narasi penjelasan (Tersiana, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 164 ibu bersalin yang mengalami preeklampsia di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari. Karakteristik responden dianalisis berdasarkan distribusi usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Tabel 3 Distribusi Usia Responden di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Kategori Usia Jumlah . Persentase (%) < 20 tahun 33,53 20-35 tahun 12,21 > 35 tahun 54,26 Total Berdasarkan distribusi usia, mayoritas responden berada pada kelompok usia > 35 tahun . ,26%), diikuti kelompok usia < 20 tahun . ,53%), dan paling sedikit pada kelompok usia reproduktif optimal 20-35 tahun . ,21%). Tabel 4 Distribusi Tingkat Pendidikan Responden di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Tingkat Pendidikan Jumlah . Persentase (%) 40,25 SMP 34,14 SMA 25,61 Total Tingkat pendidikan responden didominasi oleh pendidikan dasar (SD) sebesar 40,25%, kemudian tingkat SMP . ,14%), dan tingkat SMA . ,61%). Tabel 5 Distribusi Jenis Pekerjaan Responden di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Jenis Pekerjaan Jumlah . Persentase (%) IRT 53,04 Wiraswasta 46,96 Total Status pekerjaan menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden berprofesi sebagai ibu rumah tangga . ,04%), sedangkan sisanya bekerja sebagai wiraswasta . ,96%). Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi variabel kejadian BBLR dan tingkat keparahan preeklampsia pada responden penelitian. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 6 Distribusi Kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Status BBLR Jumlah . Persentase (%) BBLR 39,63 Tidak BBLR 60,37 Total Sumber: Buku Rekam Medik RSUD Kota Kendari Kejadian BBLR pada bayi yang lahir dari ibu dengan preeklampsia mencapai 39,63%, sedangkan bayi dengan berat lahir normal sebesar 60,37%. Tabel 7 Distribusi Tingkat Keparahan Preeklampsia di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Tingkat Preeklampsia Jumlah . Persentase (%) Preeklampsia Ringan 40,85 Preeklampsia Berat 59,15 Total Distribusi tingkat keparahan preeklampsia menunjukkan bahwa preeklampsia berat lebih dominan . ,15%) dibandingkan preeklampsia ringan . ,85%). Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan antara tingkat keparahan preeklampsia dengan kejadian BBLR menggunakan uji Chi-square. Tabel 8 Hubungan Preeklampsia dengan Kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Tingkat Preeklampsia Tidak BBLR BBLR Total OR . % CI) p-value Preeklampsia Ringan Preeklampsia Berat Total Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p-value 0,015 < . , yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara tingkat keparahan preeklampsia dengan kejadian BBLR. Nilai OR sebesar 2,279 . % CI: 1,173-4,. menunjukkan bahwa ibu dengan preeklampsia berat memiliki risiko 2,279 kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu dengan preeklampsia ringan. Pembahasan Temuan penelitian ini mendukung teori Lusiana . yang menyatakan bahwa preeklampsia merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,015, menandakan adanya hubungan yang bermakna antara preeklampsia dan BBLR. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,279 menunjukkan bahwa ibu dengan preeklampsia memiliki risiko dua kali lebih besar melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan ibu tanpa preeklampsia. Secara fisiologis, preeklampsia mengganggu proses invasi sel trofoblas ke arteri spiralis dalam jaringan myometrium, sehingga menyebabkan gangguan pada fungsi Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Akibatnya, plasenta tidak mampu secara optimal menyalurkan darah, oksigen, dan nutrisi ke janin, yang dapat memperlambat pertumbuhan janin. Kondisi ini juga memicu stres oksidatif pada plasenta, meningkatkan kontraktilitas rahim dan kepekaan terhadap rangsangan, yang dapat mengarah pada kelahiran prematur dan berisiko menghasilkan bayi BBLR (Hartati, 2. Selain itu, pada sebagian ibu hamil, terdapat peningkatan respons vaskular terhadap angiotensin II yang dapat memicu hipertensi dan kerusakan pembuluh darah. Hal ini mengakibatkan vasospasme, menyempitnya pembuluh darah di berbagai organ penting seperti plasenta, ginjal, hati, dan otak, sehingga menurunkan fungsi organ hingga 40Ae60%. Dampak pada plasenta mencakup degenerasi dan risiko terjadinya IUGR (Intrauterine Growth Restrictio. maupun IUFD (Intrauterine Fetal Deat. , serta meningkatnya kontraksi uterus dan sensitivitas terhadap oksitosin (Rosdianah, 2. Penelitian ini juga sejalan dengan studi Elvina Sari Sinaga dan Aminah di RSUD Dr. Yunus Bengkulu . , yang menunjukkan adanya hubungan antara preeklampsia dan BBLR berdasarkan uji chi-square, dengan kemungkinan 4Ae50 kali lebih tinggi untuk melahirkan bayi BBLR di RS Haji Adam Malik. Hasil serupa diperoleh oleh Imrotul Chumaida . di RSUD Gambiran Kediri, yang juga menemukan hubungan positif dan signifikan antara preeklampsia dan BBLR. Secara umum, preeklampsia merupakan salah satu penyebab utama BBLR karena dampaknya terhadap pertumbuhan janin yang terhambat akibat suplai oksigen dan nutrisi yang tidak memadai. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh uji statistic chis square menunjukkan nilai A=0,015<0,05 artinya HO ditolak dan HA diterima yang berarti ada pengaruh umur ibu terhadap kejadian preeklampsia pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Kota Daerah Kendari. DAFTAR PUSTAKA