Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X Penerapan Program Kolintang Masuk Gereja: Meningkatkan Pemahaman Musik dan Mengembangkan Aspek Mental-SpiritualKolaboratif di Gereja Pantekosta di Indonesia Soegiarto Hartono1. Djoko Santoso2. Antonius Suparno3 Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung. Jakarta. Indonesia Sekolah Tinggi Alkitab Batu. Malang. Indonesia Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga. Indonesia E-mail: soegiarto. hartono@sttaa. djokosantoso2007@gmail. suparno@uksw. Abstrak Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan program kolintang dalam lingkungan gereja guna meningkatkan pemahaman jemaat tentang musik serta mengembangkan aspek mental, spiritual, sosial, dan Metode yang digunakan adalah pendidikan masyarakat dan pelatihan berbasis Pedagogi Kolintang, yang menggabungkan gerakan tubuh, visual, ritme, dan pola harmoni untuk memudahkan pemahaman musik. Pendekatan ini juga memanfaatkan Akor Arah sebagai sistem simbolisasi harmoni yang intuitif, memungkinkan peserta lebih cepat memahami hubungan antar nada dan akor dalam permainan kolintang. Program ini diterapkan pada kelompok ibu-ibu dan anak-anak di tiga Gereja Pantekosta di Indonesia (Banten dan Jawa Timu. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan, yaitu: . pemahaman harmoni musik meningkat dari 25% menjadi 85%, . keterampilan bermain kolintang meningkat dari 5% menjadi 70%, . kolintang berhasil diintegrasikan dalam ibadah gereja, dan . penguatan komunitas melalui aktivitas bermusik Program ini tidak hanya melestarikan warisan budaya Indonesia, tetapi juga memperkaya pengalaman spiritual jemaat melalui pendekatan musik inklusif dan inovatif. Kata Kunci: Kolintang. Pedagogi Kolintang. Musik Tradisional. Harmoni. Pelayanan Gereja Abstract This community service program aims to implement kolintang in church settings to enhance congregational understanding of music while fostering mental, spiritual, social, and collaborative aspects. The method used is community education and training through Kolintang Pedagogy, which integrates body movements, visuals, rhythm, and harmonic patterns to facilitate musical This approach also utilizes Directional Chord Symbols, an intuitive harmonic notation system that enables participants to grasp the relationships between notes and chords more effectively in kolintang performance. The program was conducted among womenAos and childrenAos groups in three Pentecostal churches in Indonesia (Banten and East Jav. The results showed significant improvements: . musical harmony comprehension increased from 25% to 85%, . kolintang playing skills improved from 5% to 70%, . kolintang was successfully integrated into church worship, and . community bonding was strengthened through collective musical activities. This program not only preserves IndonesiaAos cultural heritage but also enriches the congregationAos spiritual experience through an inclusive and innovative musical approach. Keywords: Kolintang. Kolintang Pedagogy. Traditional Music. Harmony. Church Ministry Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 PENDAHULUAN Musik e-ISSN: 2656 - 677X membeku, tetapi instrumen hidup yang universal yang mampu menyentuh hati dan jiwa manusia. Dalam konteks dalam konteks ibadah kontemporer. ibadah di gereja, musik memainkan Permasalahan peran vital dalam memuliakan Tuhan, menyatukan jemaat, dan menciptakan pemahaman mendalam tentang musik atmosfer pujian dan penyembahan di kalangan jemaat gereja, padahal (Ottaway. Konsep musik merupakan bagian integral dari ibadah Kristen. Musik seringkali hanya manusia secara holistik telah lama dianggap sebagai kegiatan hiburan menjadi perhatian para ahli musik. Johnson . menegaskan bahwa musik tidak sekadar ekspresi artistik, yang mencakup aspek mental, spiritual, melainkan juga merupakan instrumen dan kolaboratif. Persepsi keliru bahwa musik hanya untuk orang berbakat juga kepribadian manusia, terutama dalam masih umum ditemui, padahal musik memandang musik sebagai bagian alami manusia yang dapat dipelajari integral dari pertumbuhan personal dan oleh siapa saja. Hal ini didukung oleh Sebagai alat musik tradisional studi Harfiani & Nugroho . yang Indonesia yang berasal dari Minahasa. Sulawesi dalam keterampilan musik antara anak- anak yang mengikuti ekstrakurikuler bilah-bilah Utara, menciptakan melodi dan ritme yang khas ketika dimainkan. Windewani . pendidikan musik yang terstruktur. mengungkap bahwa musik kolintang Berdasarkan tidak statis, melainkan terus mengalami kelompok ibu-ibu dan anak-anak di perubahan fungsi dalam konteks sosial Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) budaya masyarakat Minahasa. Hal ini merupakan kelompok yang aktif dan menunjukkan bahwa kolintang bukan berperan penting dalam pertumbuhan Fakta Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X pemahaman tentang harmoni musik di diperkuat dengan penggunaan istilah . bersenar seperti Karua (Tenor/Gita. , . dalam konteks ibadah gereja. Secara Uner program musik inklusif untuk semua Kategorisasi (Alto/Banj. Katelu (Alto3/Ukulel. (Kaseke & S, 2. Konstruksi simbolik kolintang memiliki musik dalam ibadah memiliki dasar yang kuat dalam Alkitab. Pemahaman sosio-kultural Minahasa, melampaui konteks kekristenan telah dikaji oleh (Latuni para teolog, termasuk DeMol . Penggunaan instrumen kecapi telah yang menekankan pentingnya musik tercatat dalam Alkitab sejak zaman sebagai sarana penyembahan dan kuno (Kejadian 4:21. 1 Samuel 16:. Mazmur 150:3-5 Urgensi kegiatan ini terletak pada mencatat: "Pujilah Dia dengan tiupan potensi kolintang sebagai jembatan Dia gambus dan kecapi, pujilah Dia dengan tradisional Indonesia dalam konteks rebana dan tari-tarian, pujilah Dia kontemporer, sambil mengembangkan dengan permainan kecapi dan seruling, aspek mental, spiritual, dan kolaboratif pujilah Dia dengan ceracap yang jemaat (Smith, 2. Tujuan kegiatan berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!" (NIV). Dalam 1 kolintang sebagai media pembelajaran Tawarikh 23:5, disebutkan bahwa Daud anak-anak . menjadi pemusik di rumah Tuhan. Kitab Wahyu juga menggambarkan makhluk- makhluk surgawi menggunakan alat spiritual-kolaboratif jemaat. musik dalam penyembahan (Wahyu 5:8, 8:. Indonesia Kolintang Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 METODE e-ISSN: 2656 - 677X Timu. , dan GPdI Berea Alam Sutera. Kegiatan Tangerang Selatan (Bante. Program masyarakat ini menerapkan metode ini menyasar kelompok ibu-ibu dan Pendidikan Masyarakat dan Pelatihan anak-anak Sekolah Minggu sebagai peserta utama. Pendidikan Masyarakat Suter. serta semi-perkotaan atau sedangkan Pelatihan berfokus pada pedesaan (Ngunut. Jawa Timu. Hal ini pengembangan keterampilan bermain kolintang di kalangan jemaat. program dalam berbagai kondisi sosial Program ini dilaksanakan di tiga (Tangerang Pemilihan lokasi didasarkan pada Alam lokasi berbeda, yaitu GPdI Obaja Puri pendekatan kolaboratif dengan alat Metropolitan. Tangerang musik lain dalam ibadah dan aktivitas GPdI Tulungagung Ngunut, (Bante. , (Jawa Tabel 1. Rincian Peserta Program Lokasi Kelompok GPdI Tangerang Ibu-ibu 20 orang 30-55 tahun GPdI Ngunut Ibu-ibu 20 orang 28-70 tahun GPdI Alam Sutera Anak-anak Sekolah Minggu 38 orang 7-12 tahun Implementasi Jumlah Peserta Usia memahami kebutuhan jemaat serta dilakukan dalam tiga tahapan utama, dimulai dengan tahap persiapan yang penyelenggaraan program. Selain itu, kolintang yang akan digunakan selama pengembangan program merujuk pada Repertoar lagu-lagu ibadah penelitian Priawara & Mudjilah . Pendekatan pendekatan spiral dalam meningkatkan kolintang, sementara modul pelatihan pembelajaran kolintang. Pada tahap ini, disusun secara adaptif agar dapat tim pelaksana melakukan konsultasi Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 memiliki kebutuhan khusus. e-ISSN: 2656 - 677X Pada minggu terakhir, program memasuki tahap evaluasi, di mana Setelah tahap persiapan, program pemahaman dan keterampilan peserta berlanjut ke tahap pelaksanaan yang diukur melalui pre-test dan post-test. Selain itu, peserta didorong untuk Kegiatan Pendidikan Masyarakat, menampilkan hasil pelatihannya dalam sesi demonstrasi langsung bermain peserta diperkenalkan pada peran Sebagai bagian dari refleksi. Kristen, manfaatnya bagi kecerdasan pengalaman belajar, tantangan yang serta keseimbangan otak, serta sejarah dihadapi, serta manfaat yang dirasakan dan filosofi kolintang. Selain itu, sesi ini selama mengikuti program. Evaluasi ini juga digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program lanjutan agar musik dalam konteks gereja. Setelah sesi pendidikan, peserta mengikuti Pelatihan Kolintang, yang mencakup empat pertemuan. Pelatihan dimulai Metode Pedagogi Kolintang yang bagian-bagian diterapkan dalam program ini bersifat kolintang beserta fungsinya, diikuti inklusif, dengan mengganti teori musik dengan praktik dasar bermain kolintang konvensional menggunakan kombinasi menggunakan pendekatan Pedagogi Kolintang. Metode ini mengajarkan (Hartono, 2. Pendekatan ini juga musik melalui gerakan tubuh, visual, memungkinkan adaptasi bagi peserta dan ritme, sehingga lebih mudah dengan kebutuhan khusus dipahami oleh peserta dari berbagai penggunaan pola warna, sistem Akor latar belakang (Gryner, 2. Selain Arah, serta gerakan yang terstruktur. itu, latihan menyanyi dan menepuk Selain tangan dengan nada dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan pembelajaran, sehingga peserta tidak hanya mengembangkan keterampilan ensemble kolintang. Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X musik tetapi juga semakin menghargai dan kebersamaan dalam komunitas warisan budaya Indonesia. Khusus di GPdI Berea Alam HASIL DAN PEMBAHASAN Sutera, program ini dikembangkan Kegiatan lebih lanjut dengan mengintegrasikan kolintang bersama alat musik modern seperti keyboard, gitar, cajon, dan berbagai aspek. Berikut adalah hasil Meskipun terdapat variasi dalam instrumentasi, konsep harmoni memastikan bahwa prinsip musikal Peningkatan Pemahaman Musik dasarnya tidak berubah. Pendekatan Program pelatihan kolintang telah kolaboratif ini juga digunakan untuk Kolintang Pedagogi Berdasarkan hasil pre-test musikal serta memberikan pengalaman post-test, belajar yang lebih kaya bagi peserta. Keberhasilan program ini diukur berdasarkan beberapa indikator, antara lain peningkatan pemahaman harmoni kolintang yang dapat dilihat dari hasil pre-test post-test. Selain frekuensi penggunaan kolintang dalam ibadah serta tingkat partisipasi jemaat dalam pelayanan musik juga menjadi ukuran penting dalam menilai dampak Gambar 1. Pemahaman Harmoni Musik di Gpdi Obaja Indikator kualitatif, seperti perkembangan spiritual peserta, juga diamati untuk melihat sejauh mana Sebelum pelatihan, hanya 25% peserta yang memiliki pemahaman dasar tentang harmoni musik. Setelah mengikuti program dengan metode Pedagogi Kolintang, melaporkan pemahaman yang baik Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X tentang konsep dasar harmoni dan mampu membedakan nada rendah . , nada tinggi . , dan nada sedang . Peserta kolintang yang berasal dari bunyi tongting-tang, yang membentuk gerakan berkelanjutan menyerupai simbol tak terhingga (O). Pemahaman filosofis ini Gambar 2. Integrasi Kolintang dalam Sekolah Minggu di GpdI Berea Indonesia Pengembangan Keterampilan Bermain Kolintang Salah satu faktor keberhasilan Keterampilan bermain kolintang adalah pendekatan Pedagogi Kolintang peserta mengalami peningkatan yang yang memperkenalkan konsep harmoni Sebelum pelatihan, musik melalui metode sederhana dan 95% peserta belum pernah bermain inklusif tanpa terkendala oleh teori kolintang, dan 60% belum pernah bermain alat musik apapun. Setelah Seperti seorang peserta: "Saya selalu merasa tidak bisa bermain musik, tapi ternyata memainkan pola dasar kolintang untuk dengan cara ini saya bisa memahami seperti ditunjukkan pada Tabel 2. lagu-lagu Tabel 2. Perkembangan Keterampilan Bermain Kolintang Tingkat Keterampilan Sebelum (%) Sesudah (%) Peningkatan (%) Pemula . engenal instrume. Dasar . emainkan pola sederhan. Menengah . emainkan melod. Lanjut . Kemajuan karakteristik kolintang yang relatif lebih memudahkan peserta berpartisipasi mudah dipelajari. Dalam ensemble sesuai tingkat kemampuannya. Peserta Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 pemula memainkan bass kolintang e-ISSN: 2656 - 677X Integrasi kolintang dalam ibadah yang sederhana, sementara peserta lebih maju mencoba kolintang melodi perkembangan teknologi. Wikarsa & yang membutuhkan keterampilan lebih Angdresey Integrasi Kolintang dalam Ibadah Gereja Salah pengembangan dan adopsi alat musik adalah berhasilnya integrasi kolintang tradisional dalam konteks modern. Hal Sebelum ini sejalan dengan temuan dalam program ini, di mana 85% jemaat didominasi alat musik modern seperti keyboard, gitar, dan drum. Setelah kolintang memberi nuansa baru yang menyegarkan dalam ibadah. ditunjukkan pada Gambar 3. Temuan diperoleh di GpdI Berea Alam Sutera, di mana kolaborasi kolintang dengan alat musik respons sangat positif . % untuk ibadah anak dan 88% untuk ibadah Kolaborasi ini menjembatani kesenjangan generasi, dengan anakanak kolintang dengan alat musik modern, diapresiasi oleh jemaat dari berbagai kelompok usia. Penggunaan ibadah merupakan bentuk inkulturasi yang memperkaya pengalaman ibadah Gambar 3. Integrasi Kolintang Angklung dalam Ibadah di GpdI Berea sekaligus melestarikan warisan budaya Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X Lebih jauh, kolaborasi dengan tumbuhnya apresiasi terhadap budaya alat musik lain memperluas spektrum tradisional . %). ekspresi musikal dan ibadah kontemporer. Dampak Salah satu peserta menuturkan: "Program kolintang ini tidak hanya mengajarkan saya bermain musik. Holistik Program Kolintang percaya diri dan merasa lebih dekat Program kolintang memberikan dampak holistik pada jemaat yang dengan Tuhan saat memuji melalui alat mencakup aspek mental, spiritual, dan Berdasarkan mendalam dengan peserta, dampak signifikan yang teridentifikasi: Secara melaporkan peningkatan rasa percaya diri . %), stimulasi kognitif . %), dan . %). Secara Gambar 4. Dampak Holistik Program Kolintang pada Ibu-ibu Gpdi Ngunut %), pengalaman baru mengekspresikan iman . %), dan penghayatan lebih Tantangan dan Solusi Meskipun mendalam terhadap lagu-lagu rohani tantangan yang dihadapi dan solusi %), %). Secara yang diterapkan: kolaborasi antar generasi . %), dan Tabel 3. Tantangan dan Solusi Program Tantangan Solusi yang Diterapkan Hasil Keterbatasan alat musik Rotasi penggunaan dan pembuatan alat sederhana Semua peserta mendapat kesempatan praktik Perbedaan tingkat Pendekatan bertingkat dan peer- Pembelajaran adaptif sesuai Perdebatan penggunaan Edukasi teologis tentang musik dalam Alkitab Penerimaan lebih luas dari Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X Tantangan Solusi yang Diterapkan Preferensi musik Kolaborasi kolintang dengan alat Apresiasi dari jemaat berbagai Keberlanjutan Program Model Kolaborasi Untuk Hasil Sutera memberikan wawasan baru Dengan mengintegrasikan kolintang program, dibentuk kelompok kolintang di ketiga gereja dengan jadwal latihan menarik bagi berbagai generasi. Anak- menunjukkan kemampuan lebih maju anak cenderung lebih tertarik pada kolaborasi kolintang dengan alat musik mengajarkan kolintang kepada jemaat modern, sementara orang dewasa Tim pengabdian juga menyusun dengan angklung. Model kolaborasi ini komprehensif yang menggabungkan menciptakan jembatan budaya antar Beberapa Pedagogi Kolintang pembelajaran inklusif. Model keberlanjutan program dalam jangka dikembangkan di GpdI Berea Alam Tabel 4. Model Kolaborasi dan Dampaknya Model Kolaborasi Lokasi Dampak Khusus Kelompok yang Paling Tertarik Kolintang mandiri GPdI Tangerang. GPdI Ngunut Pemahaman mendalam Ibu-ibu . %). Anak tentang alat musik tradisional . %) Kolintang alat musik modern GPdI Alam Sutera Jembatan antara tradisional dan kontemporer Anak-anak . %). Remaja . %) Kolintang GPdI Alam Sutera Penguatan identitas budaya Indonesia Dewasa . %). Lansia . %) data kuantitatif dan kualitatif, program SIMPULAN Program masuk gereja di Gereja Pantekosta di pemahaman jemaat tentang harmoni Indonesia telah berhasil musik dari 25% menjadi 85%. tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan Jurnal ComunityE Servizio Volume 07. Nomor 01. Tahun 2025. Hal 110 - 122 e-ISSN: 2656 - 677X bermain kolintang dari hampir 0% menjadi 70%. mengintegrasikan kolintang dalam ibadah gereja dengan UCAPAN TERIMA KASIH memberikan dampak . Penulis kasih kepada Gereja Pantekosta di jemaat yang mencakup aspek mental. Indonesia spiritual, dan sosial. Metropolitan Tangerang. GPdI Ngunut Keberhasilan (GPdI) Obaja Puri Tulungagung Jawa Timur, dan GpdI menegaskan pentingnya integrasi seni Berea dukungan dan kerjasamanya. Ucapan Pendekatan Alam Sutera Banten Pedagogi Kolintang terbukti efektif disampaikan kepada Bapak Gembala sebagai metode pembelajaran musik Jusuf Ratulangi Gpdi Obaja. Bapak yang inklusif dan adaptif. Temuan Gembala penting dari GPdI Berea Alam Sutera Ngunut dan Ibu Pendeta Evie Sukiat GpdI Berea yang telah memberikan Yonathan Yohanes Gpdi kolintang dengan alat musik modern dan angklung memperluas daya tarik untuk terlaksananya program kolintang program ke berbagai kelompok usia, masuk gereja. Penulis juga berterima dengan tetap mempertahankan konsep kasih kepada semua jemaat yang telah harmoni yang sama. Model kolaborasi antara kolintang inkulturasi musik gereja. Strategi ini pelatihan, serta kepada tim yang telah membantu dalam proses dokumentasi REFERENSI