https://jurnal. Hubungan Health Locus of Control dan Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita TB Paru Zulfahri Lubis1*. Indahwati2. Kristina3. Afrizal Hasan4 1,2,3 Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Haji Sumatera Utara Akper Gita Matura Abadi Kisaran *Email Korespondensi: lubiszulfahri@gmail. Abstract The rise in the count of tuberculosis patients tems from the low degreeof patient adherence in using antituberculosis medications,which is impacted by the level of insight regarding tuberculosis,drive to heal,remoteness,health care expenses, drug adverse effects,familial backing, and the function of medical This study is to determine the relationship between Health Locus of Control and Vulnerability with Treatment Compliance in Tuberculosis patients. The sort of research carried outis an analytical design poll utilizin ga cross- sectional perspective, the quantity of samples in this investigation comprised 27 pulmonary TB sufferers via purposive selection. The data analysis used was Rank Spearman. The findings of the research indicated a noteworthy association between Health Locus of Control and Treatment Adherence among Pulmonary TB sufferers. 000 < 0. 05,featuring a correlation coefficient of There is a significant relationship between vulnerability and Treatment Compliance in Pulmonary TB patients. 001 < 0. with a correlation coefficient of 0. The conclusion of this study is that there is a relationship between Health locus of control and Vulnerability with Treatment Compliance in Pulmonary TB Patients. It's hoped that with this research, health care staff will be more proactive in delivering health in struction concerning dimensions of locus of control, susceptibility to adhering to pulmonary TB therapy. Keywords: Locus of Control. Vulnerability. Tuberculosis Abstrak Peningkatan jumlah pasien tuberkulosis disebabkan oleh rendahnya kepatuhan pasien dalam menggunakan obat anti-tuberkulosis, yang dipengaruhi oleh tingkat pemahaman tentang tuberkulosis, motivasi untuk sembuh, keterpencilan, biaya perawatan kesehatan, efek samping obat, dukungan keluarga, dan fungsi tenaga medis. Studi ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara Lokus Kontrol Kesehatan dan Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan pada pasien Tuberkulosis. Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei desain analitik menggunakan perspektif cross-sectional, jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 27 pasien TB paru melalui pemilihan purposif. Analisis data yang digunakan adalah Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara Lokus Kontrol Kesehatan dan Kepatuhan Pengobatan di antara pasien TB paru . < 0,000 < 0,. , dengan koefisien korelasi 0,877. Terdapat hubungan yang signifikan antara kerentanan dan Kepatuhan Pengobatan pada pasien TB paru . < 0,001 < 0,. dengan koefisien korelasi sebesar 0,598. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara lokus kendali kesehatan dan kerentanan dengan kepatuhan pengobatan pada pasien TB paru. Diharapkan dengan penelitian ini, tenaga kesehatan akan lebih proaktif dalam memberikan instruksi kesehatan mengenai dimensi lokus kendali, kerentanan terhadap kepatuhan pengobatan TB paru. Kata Kunci: Lokus Kontrol. Kerentanan. Tuberkulosis PENDAHULUAN Vol 2. No 1. Januari, 2026 Tuberkulosis merupakan penyakit yang di sebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosa. *Corresponding author email : lubiszulfahri@gmail. Page 53 of 59 Copyright: @ 2026 Authors Dahak yang mengandung bakteri ini merupakan sumber penularan tuberkulosis Percikan dahak yang menyembur ketika pemyakit Tuberkulosis paru dan sekali pasien batuk dapat mean 3000 percikan dahak (Meiharti Priyatna Dewi. Suarnianti, & Syaipuddin, 2. Data dari Global TB Report menyebutkan bahwa kejadian TB di Indonesia pada tahun 2022 adalah 1. 000 kasus dengan Insidence Rate 385/100. 000 penduduk. Prevalensi kejadian Tuberkulosis sebanyak 309 kasus . ,3%), ini berarti bahwa terdapat sekitar 335. ,7%) kasus tuberkulosis yang belum ditemukan. Pasien Tuberkulosis yang tidak teridentifikasi dan belum mendapat pengobatan sangat berisiko menularkan penyakit tersebut kepada orang lain (WHO 2. Kasus tuberculosis di Indonesia yang yang mendapatkan pengobatan berulang terdapat sebanyak 5. 687 kasus dan 65,2% diantaranya adalah kasus kambuh. Akibat buruk yang dapat ditimbulkan dari kejadian kekambuhan Tuberkulosis paru adalah menurunnya produktifitas, kematian, serta meningkatnya penularan TB paru di terjadinya multi drug resisten (MDR) (Karminiasih. Putra. Duarsa. Ngurah, & Karmaya, 2. Pengobatan yang tidak tuntas pada Pasien Tuberkulosis paru akan menyebabkan kekambuhan sehingga pasien akan menjalani pengobatan yang berulang. Dari penelitian Saraswati et al . di dapatkan bahwa terdapat sebanyak 58. Tuberkulosis dengan riwayat mengkonsumsi Obat anti tuberkulosis secara teratur dan pasien dengan riwayat konsumsi Obat Tuberkulosis yang tidak teratur sebanyak 1%, sedangkan pasien yang mengkonsumsi obat TB tidak teratur dan putus obat sebanyak 7% (WHO 2. Terdapat beberapa factor yang menyebabkan tingginya jumlah penderita tuberkulosis anata lain seperti rendahnya tingkat kepatuhan penderita untuk berobat dan meminum obat anti tuberkulosis yang tidak tuntas, hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat tuberkulosis, rendahnya motivasi untuk sembuh, jarak yang terlalu jauh dengan pelayanan kesehatan, biaya pengobatan, efek samping obat, dukungan keluarga yang rendah, dan kurangnya peran dari petugas kesehatan (Alkhusari. Ariyani, & Azizah. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan factor yang dapat meningkatkan perilaku pencegahan Tuberkulosis Paru di antaranya adalah faktor internal dari individu yang dapat meningkatkan perilaku kesehatan seseorang salah satunya adalah Internal Health Locus Of Control. Teori ini menjelaskan bahwa baik buruknya perilaku kesehatan seperti minum obat dapat dipengaruhi oleh health locus of control (Rozaqi. Andarmoyo, & Rahayu. Health locus of control dapat mengubah seseorang mengelola kesehatan. Pasien dengan HLC internal mungkin lebih cenderung aktif dalam merawat kesehatan mereka, termasuk patuh dalam proses Namun, pasien dengan HLC eksternal akan merasa bahwa faktor-faktor luar kendali, seperti nasib, lebih mempengaruhi pemulihan mereka. Sehingga HLC memainkan peran penting dalam menentukan seberapa efektif pasien tersebut dalam mengelola kondisi mereka. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan peran HLC dalam merancang intervensi yang mendukung pemulihan pasien TB Paru (Sumiari et al. Kerentanan adalah kondisi di mana seseorang atau suatu sistem rentan atau mudah terpengaruh oleh faktor-faktor tertentu, seperti penyakit atau kondisi lingkungan yang tidak Seseorang yang memiliki kerentanan akan dapat mendorong individu mengubah perilaku kesehatan karena adanya kesadaran akan ancaman penyakit yang lebih serius, sehingga memicu motivasi untuk bertindak, seperti Patuh dalam pengobatan. tinggi rasa rentan, semakin besar dorongan untuk melakukanpengobatan (Pezeshki. Karimi. Mohammadkhah. Afzali Harsini, & Khani Jeihooni, 2. Copyright: @ 2026 Authors Seseorang dengan persepsi kerentanan yang tinggi terhadap penyakit dapat tuberkulosis paru. sedangkan persepsi kerentanan yang yang rendah akan menyebabkan perilaku yang buruk terhadap pencegahan dan pengobatan seperti tidak menggunakan masker ketika dirumah, tidak menutup mulut saat batuk atau bersin, serta membuang dahak sembarangan (Putri, 2. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara persepsi kerentanan yang dirasakan penderita TBC terhadap kepatuhan minum obat serta menyumbang 33. terhadap variabel kepatuhan minum obat. Dengan meningkatnya dimensi persepsi kerentanan yang di rasakan penderita TBC, maka kepatuhan minimum pasien juga akan meningkat (Anggrani. Dini, & Oktarina, 2. Dari uraian tersebut penelitian ini bertujuan untuk melihat Hubungan Internal Locus Of Cobtrol dan Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru di RS Setio Husodo Kisaran Tahun 2025. Karakteristik Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat dari 27 orang responden di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran di dapatkan mayoritas umur responden adalah umur 46-55 Tahun sebanyak 13 orang . 1%). Responden yang berpendidikan SMA sebanyak 12 orang . 4%) dan Pekerjaan responden mayoritas bekerja sebanyak 16 orang . 3%) dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20 rsponden . Tabel 2. Hubungan Health Locus Of Control dengan Kepatuhan Variabel Locus of Control Koefisien p Value Kepatuhan METODE Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan desain cross sectional yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan Hubungan antara Health Locus Of Control dan Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret 2025 di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran. Teknik menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan statistik uji Spearman Rank. Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa dari hasil korelasi Rank Spearman di dapatkan koefisien korelasi 887 dengan p value 0. 000 (< 0. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Health Locus of Control dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Paru. Hasil koefisien korelasi 877 juga menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan yang sangat HASIL Tabel 3. Hubungan Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita TB Paru Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Umur 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun Pendidikan SMP SMA Sarjana Variabel Kerentanan Kepatuhan Koefisien p Value Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa dari hasil korelasi Rank Spearman di dapatkan koefisien korelasi 598 dengan p value 0. 001 (< 0. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Copyright: @ 2026 Authors Paru. koefisien korelasi memberikan nilai positif yang berarti bahwa ada hubungan yang searah antara Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan artinya semakin tinggi Kerentanan yang dirasakan maka semakin tinggi tingkat kepatuhan pengobatan. Hasil koefisien 598 juga menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan yang kuat. PEMBAHASAN Dari Hasil Penelitian diketahui bahwa bahwa Distribusi Frekuensi Health Locus Of Control Pada penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran adalah mayoritas tinggi sebanyak 14 responden . 9%). Dari Hasil Penelitian dapat dilihat bahwa dari hasil korelasi Rank Spearman di dapatkan koefisien korelasi sebesar 0. 598 dengan p value 0. 001 (< Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Paru. Hasil korelasi Rank Spearman di dapatkan koefisien korelasi sebesar 0. dengan p value 0. 000 (< 0. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Health Locus of Control dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Paru. Health Locus of Control sangat berperan penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Seseorang dengan health locus of control internal akan meningkatkan manajemen diri untuk merngelola kesehatannya sendiri untuk itu perlu dilakukan upaya untuk menunjang kesehatan pasien salah satunya adalah dengan melibatkan pasien dalam proses pengobatan dengan mempertimbangkan health locus of control (Molassiotis et al. , 2. Menurut Budianto menyatakan bahwa Kepatuhan minum obat sangat penting bagi penderita Tuberkulosis untuk menghindari terjadinya Multi Druds Resistence, untuk mencegah komplikasi yang di timbulkan akibat ketidakpatuhan pada regimen pengobatan TB Paru. seseorang harus merasa rentan untuk melakukan pencegahan dan pengobatan penyakit. Keyakinan individu ini berkaitan dengan aspek kognitif seperti pengetahuan individu terhadap suatu masalah Kerentanan yang dirasakan sangat penting dalam memotivasi perilaku untuk mengambil tindakan pencegahan penyakit. sehingga di pertimbangkan faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien Health Locus of Control dan Kerentanan. Health locus of control mempunya beberapa dimensi antara lain internal health locus of control (IHLC), chance health locus of control (CHLC) dan powerful others health locus of control (PHLC) (Gellman, 2. Seseorang yang memiliki lokus of control internal (IHLC) akan beranggapan bahwa tanggaung jawab terhadap pemeliharaan kesehatan merupakan tanggung jawab dari pasien sendiiri, sehingga pasien yang memiliki Locus of Control Internal yang baik akan cencerung patuh untuk mengendalikan Dari Hasil Penelitian dapat dilihat bahwa gambaran Kerentanan Pada Penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran mayoritas adalah sedang sebanyak 11 responden . 7%), sedangkan kerenranan pada kategori tinggi dan rendah yaitu samasama 8 responden . 6%). Kerentanan merupakan salah satu persepsi yang kuat yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku sehat. yang dirasakan seorang pasien yang menderita Tuberculosis paru akan mendorong pasien tersebut untuk berperilaku sehat. Dengan adanya dorongan yang yang berasal dari dalam diri diharapkan akan dapat merubah perilaku serta meningkatkan kesiapan individu untuk berperilaku sehat dan menjalankan tindakan pengobatan dengan baik (Pratiwi. Sari, & Subandi, 2. Pada penelitian ini sebagian besar pasien memiliki persepsi kerentanan yang positif terhadap TB Paru. Kerentanan . usceptibility yang dirasaka. adalah elemen yang sangat krusial dalam memengaruhi tindakan pasien terkait pengobatan maupun Ini mungkin disebabkan karena pasien secara rutin mencari perawatan medis dan sebagian besar telah mengalami penyakit selama lebih dari sepuluh tahun. Hasil Penelitian ini di dapatkan bahwa gambaran Kepatuhan Pengobatan Pada Copyright: @ 2026 Authors Penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran mayoritas adalah Patuh sebanyak 17 responden . 0%), sedangkan kategori tidak patuh sebanyak 10 responden . 0%). Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB Paru menjadi faktor kritis dalam mencapai kesembuhan dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul (Rozaqi et , 2. Kepatuhan mengakibatkan peningkatan risiko obstruksi bronkus, atelektasis, dan penurunan Peak Expiratory Flow Rate (PEFR), yang semuanya merupakan parameter penting dalam evaluasi fungsi paru-paru. Selain itu, kepatuhan kesembuhan sangat pasien. pasien yang patuh cenderung lebih cepat menurunkan jumlah bakteri, mempercepat proses penyembuhan, dan mengurangi risiko komplikasi serta resistensi obat (Rozaqi et al. , 2. Kepatuhan dalam pengobatan TB mematuhi nasihat medis, termasuk minum obat TB sebagai syarat utama keberhasilan Ketidakpatuhan penggunaan obat yang berkepanjangan, efek samping, dan minimnya kesadaran mengenai penyakit yang dideritanya. Bebetapa faktor seperti terapeutik, kesehatan, lingkungan, sosial ekonomi, dan keluarga memengaruhi mencapai pengobatan optimal (Apriliani & Suraya, 2. Pasien yang patuh dalam menjalani pengobatan memiliki keinginan untuk sembuh dan menjaga pola hidupnya dan memiliki motivasi untuk sembuh faktor yang menyebabkan kepatuhan minum obat berasal dari dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. sedangkan faktor yang mempengaruhi pasien tidak patuh minum obat adalah kurangnya pengetahuan pasien TB tentang pengobatan yang dijalani sejalan dengan penelitian (Rizqiya, 2. Terdapat hubungan antara Health Locus of Control dan Self-Efficacy dengan Kepatuhan Minum Obat pada penderita TB juga menemukan hal serupa bahwa Penderita TB yang mematuhi pengobatan memiliki health locus of control yang positif dan selfefficacy yang tinggi (Ramadhani. Fitriana, & Febriyanti, 2. Health locus of control (HLOC) juga terbukti mempunyai kaitan yang erat dengan kepatuhan penderita TB Paru dalam mengonsumsi obat (Putra & Sari. Dalam diungkapkan bahwa persepsi terhadap kerentanan . erceived susceptibilit. adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku pasien dalam menjalani pengobatan maupun pemeriksaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa pasien secara teratur mencari perawatan medis dan sebagian besar telah menderita penyakit selama lebih dari sepuluh tahun. Namun, dalam penelitian (Wati. Wihastuti, & Nasution, 2. Seseorang cenderung tidak melakukan tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit apabila seseorang tidak berada dalam kondisi berisiko terhadap suatu penyakit. Persepsi Tuberkulosis sangat p e n t i n g u n t u k mendorong seseorang untuk melakukan perilaku pencegahan dan pengobatan TB paru (Trisno dan Hidayat, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran Tahun 2025 didapatkan kesimpulan : Gambaran Health Locus Of Control Pada penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran Gambaran Kerentanan Pada Penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran mayoritas adalah mayoritas sedang. Gambaran Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita TB Paru di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran mayoritas adalah Patuh. Ada hubungan yang signifikan antara Health Locus of Control dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Paru. korelasi memberikan nilai positif. Ada hubungan yang signifikan antara Kerentanan dengan Kepatuhan Pengobatan pada penderita TB Paru dengan koefisien korelasi Copyright: @ 2026 Authors Selanjutnya Diharapkan kepada tenaga kesehatan supaya memperhatikan faktor psikologis seperti Health locus of control dan Kerentanan yang dirasakan pasien pada saat memberikan pendidikan kesehatan tentang kepatuhan pengobatan pada penderita Tb Paru. UCAPAN TERIMA KASIH Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Pihak Rumah Sakit tempat penelitian ini dilaksanakan, atas izin dan bantuannya dalam memperoleh data sekunder dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA