KOMUNITAS: JURNAL ILMU SOSIOLOGI Mei 2020 Vol. 3 No. Hal. 14 Ae 30 Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. KUNCI LABUANG (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale Program Studi Sosiologi Program Pascasarjana Universitas Pattimura benlypettihawean@gmail. Abstrak Kunci Labuang adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat di Negeri Kilang sebelum melakukan Ritual aktifitas mencari hasil laut. Ritual ini dilakukan secara komunal untuk kepentingan bersama dan dilakukan pada moment-moment tertentu saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan proses Ritual Kunci Labuang. Sehingga dari prosesi ritual yang dipelajari tersebut dapat terlihat bagaimana pandangan masyarakat negeri Kilang terhadap laut. Dengan melakukan ritual Kunci Labuang, masyarakat Negeri Kilang mempercayai bahwa mereka akan memperoleh hasil yang melimpah serta jaminan keamanan saat melakukan aktifitas mengambil hasil laut tersebut. Ritual ini memperlihatkan bagaimana kedekatan masyarakat Negeri Kilang dengan alam, khususnya laut sekaligus memperlihatkan bahwa alam turut membentuk perilaku maasyarakat. Ritual Kunci Labuang menjadi akses bagi masyarakat Negeri Kilang untuk memanfaatkan alam dengan segala sumber dayanya dengan tetap berpedoman pada keteraturan yang diwariskan leluhur secara turun temurun. Dengan melakukan ritual ini masyarakat negeri Kilang meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang senantiasa menjaga mereka di laut. Ritual Kunci Labuang juga memperlihatkan bahwa meskipun masyarakat Negeri Kilang secara umum dikenal sebagai masyarakat pegunungan, tetapi mereka juga punya cara pandang tersendiri terhadap laut yang juga menjadi bagian dari wilayah negeri. Laut tidak terpisah dari Laut dan darat adalah sebuah kesatuan dalam wilayah petuanan negeri Kilang. Kata Kunci: Masyarakat. Kunci Labuang. Darat. Laut. https://ojs3. id/index. php/komunitas jurnal@gmail. Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale Pendahuluan. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang ada dalam masyarakat itu Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah seluruh pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, dan menjadi kerangka landasan untuk untuk mewujudkan dan mendorong terwujudnya perilaku. Kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencanarencana dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Mujianto 2010: . Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini kebenarannya oleh yang bersangkutan serta diselimuti dan menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi system penilaian sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang bersih dan kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral tersebut dan yang merupakan pandangan hidup serta etos atau sistem etika yang dimiliki oleh setiap Provinsi Maluku merupakan provinsi dengan banyak sekali pulau, dengan luas wilayah sekitar 712. 480 km2 dan 92. 4% adalah lautan. Sesuai analisa citra landsat 7, luas perairan provinsi Maluku mencapai 658. 294 km 2. Sedangkan total luas daratan 54. km2 dengan panjang garis pantai 10. 92 km (Bappeda Provinsi Maluku 2. Wilayah kepulauan Maluku terbentuk dari pulau-pulau kecil. Ada beberapa sumber mengenai jumlah pulau di profinsi ini dan panjang garis pantai, di antaranya ada yang menyatakan jumlah pulau 1412 buah dengan panjang garis pantai 10. 92 km (Bappeda 2. dan sumber lain menyatakan sejumlah 1340 buah pulau dengan total panjang garis 15 km (Dangeubun dalam Soselisa 2007:. Penduduk yang mendiami pulau-pulau yang terdapat di Maluku pada umumnya bermata pencaharian utama bercocok tanam dan juga melaut. Kedua jenis mata pencaharian ini tidak dilakukan berbarengan secara intensif, tetapi tergantung pada Pada musim angin kencang dan laut berombak, pekerjaan yang ditekuni penduduk adalah bercocok tanam di darat,dan sebaliknya ketika kondisi laut tenang penduduk berkonsentrasi ke laut untuk mencari ikan. Intensitas relasi dan pengalaman bersama alam KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale menghasilkan konsep-konsep pengetahuan musim, perhitungan di langit, pergerakan dan posisi matahari, keadaan laut serta pengetahuan akan kapan waktu yang baik atau tepat untuk melakukan sesuatu, seperti menangkap ikan, berburu, membuka kebun, membangun rumah, atau melakukan sebuah upacara. Konsep ini di Maluku Tengah disebut Tanoar, kondisi tertentu yang diberikan oleh alam untuk digunakan secara optimal oleh manusia, karena posisi-posisi tertentu dari benda-benda alam dapat mempengaruhi dunia dan makhluk yang ada di dalamnya. Keakraban penduduk dengan lingkungan membuat mereka memahami benar lingkungannya. Mereka mengenal lingkungannya dengan baik dan dengan hasil belajar terhadap lingkungan itulah mereka memiliki sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang kemudian membangun tradisi atau budaya Pemahaman alam seperti ini juga dianut oleh masyarakat di Negeri Kilang, salah satu Negeri yang berada di bagian selatan pulau Ambon yang secara administratif berada dalam wilayah kecamatan Leitimur Selatan. Keakraban penduduk Negeri Kilang dengan lingkungan membuat mereka memahami benar lingkungannya. Dengan hasil belajar terhadap lingkungan mereka memiliki sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang kemudian membangun tradisi mereka. Keakraban masyarakat Kilang dengan alam dapat dilihat pada aktifitas mata pencaharian mereka. Mayoritas masyarakat Kilang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Secara geografis. Negeri Kilang merupakan salah satu negeri yang ada di pegunungan Pulau Ambon. Tidak seperti negeri-negeri yang disebut pegunungan pada umumnya, negeri ini memiliki bukan hanya petuanan . atasbatas daera. darat tetapi juga petuanan laut. Keadaan wilayah inilah yang memungkinkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup tidak hanya berorientasi pada hasil alam yang diperoleh didaratan tetapi juga punya orientasi pada hasil laut. Sebagai petani, tanaman utama adalah umbi-umbian . bi kayu, ubi jalar, tala. , dan pisang. pertanian masyarakat Negeri Kilang berada di lereng-lereng perbukitan dan beberapa tempat merupakan wilayah curam yang cukup terjal. Disamping bertani, mata pencaharian masyarakat Negeri Kilang adalah sebagai masyarakat Negeri Kilang memiliki petuanan laut yang cukup potensial untuk dimanfaatkan masyarakat demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga . dan kebutuhan pasar . Mata pencaharian sebagai nelayan digeluti oleh masyarakat Negeri Kilang sejak leluhur. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah masuknya masyarakat dari berbagai daerah untuk menempati Negeri Kilang melalui jalur laut. Bukti sejarah yang menunjukkan bahwa leluhur Negeri Kilang sebagai nelayan, pertama, memiliki Negeri Lama yang bernama Henatuban terletak di puncak dusun Hahila yang berjarak A1 km dari KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale bibir pantai. kedua, memiliki dua Labuang . yaitu Labuang Sousela1 yang terletak di dusun Nanseri, dan Labuang Rilanita2yangterletak di dusun Hahila. Setiap nelayan lokal memiliki pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi, untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Seperti halnya nelayan Negeri Kilang yang memiliki pengetahuan lokal tentang cara-cara menangkap ikan, tanda-tanda hujan, arah angin, arah arus, ombak, bahkan mengetahui lokasi ikan tertentu di laut. Nelayan mengetahui bahwa jika pada musim Timur . , tiba-tiba awan hitam tebal muncul di bagian Timur itu pertanda bahwa akan terjadi angin disertai hujan dan ombak, begitu pula sebaliknya dengan musim Barat. Tetapi apabila musim Timur namun awan hitam tebal muncul di bagian Barat maka kemungkinan ada hujan tetapi intensitasnya lebih ringan. Sedangkan kecepatan hembusan angin dapat diketahui dari posisi awan, ketika awan putih terangkat dari atas air laut ke langit . atas pandangan normal pada lau. maka pertanda angin berhembus dengan cepat. Untuk mengetahui arah arus dan angin pada saat memancing ikan, nelayan dapat mengetahui dari posisi perahu dan tasi. Jika tasi dilepas pada posisi sebelah kiri perahu tetapi tiba-tiba berada di bawah perahu sebelah kanan maka dapat diketahui bahwa arus dari Selatan, begitu pula Arah angin dapat diketahui dari posisi bergesernya perahu dari posisi atau tempat awal nelayan memancing ikan. Sedangkan lokasi ikan biasanya dapat diketahui dari patokan pada posisi memancing sejajar dengan gunung, tanjung atau pohon-pohon tertentu di darat. Masyarakat Negeri Kilang mengenal sebuah ritual sebelum melakukan aktifitas mencari ikan di laut. Masyarakat meyakini bahwa dengan melakukan ritual ini maka hasil laut yang diperoleh akan melimpah. Ritual ini hanya dilakukan pada saat-saat tertentu seperti acara-acara Negeri. Di dalam tradisi ini terdapat salah satu ritual mengambil AuKunci LabuangAy yang disimbolkan dengan batu pada tempat tertentu yang diyakini merupakan tempat AuKunci Labuang Auitu berada. Ritual melaut ini biasanya dilakukan di salah satu Labuang di Negeri Kilang yang disebut Rilanita, dan dilakukan secara komunal oleh masyarakat. Prosesinya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada saat hendak melaut, nelayan mempersiapkan peralatan tangkap kemudian dari negeri menuju ke Labuang yang jaraknya A 1,5 km, karena perjalanan yang jauh dan melelahkan maka setibanya di Labuangbiasanya nelayan beristirahat sejenak sambil makan sirih pinang. Tempat makan sirih pinang disebut batu tampa sirih, di sinilah ritual dimulai. masyarakat secara bersama memakan sirih pinang. Setelah makan sirih pinang, nelayan . iwakili oleh kepala Sousela artinya tempat kediaman yang aman, damai,dan sejahtera Rilanita artinya mari datang lalu lihat KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale adat/pendeta adat, menuju ke tempat di mana terletak kunci Labuang yang disimbolkan dengan batu dan kemudian menuju daerah tangkapan di laut. Daerah pantai/laut di sekitar Labuang Rilanita disebut juga tagalaya3. Dengan membuka tagalaya, masyarakat meyakini bahwa hasil yang diperolah akan melimpah. Pada saat nelayan kembali dari melaut, nelayan menaruh semua hasil tangkapan di atas batu oha-oha, kemudian pendeta adat . melakukan cara yang hampir sama dengan prosesi awal . yakni mengucapkan beberapa kalimat doa dalam bahasa Alune, setelah melakukan prosesi tersebut, nelayan kembali ke batu oha-oha mengambil hasil tangkapan kemudian menuju Ritual melaut ini, tidak dilakukan setiap harinya, tetapi hanya dilakukan pada acara-acara tertentu di negeri misalnya: adat cuci negeri, pelantikan Raja atau panas pela. Ritual ini dilakukan hanya untuk kepentingan banyak orang atau kepentingan bersama. Jika ada yang melakukan proses ritual ini untuk kepentingan diri sendiri atau komersial maka tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Dengan adanya ritual melaut ini, mengindikasikan bahwa masyarakat Kilang yang notabene adalah masyarakat pegunungan, juga punya cara tersendiri dalam memandang dan memperlakukan laut. Berdasarkan gambaran di atas maka permasalahan penelitian ini terfokus pada Bagaimana masyarakat Negeri Kilang memaknai ritual AuKunci LabuangAy?, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa pemaknaan masyarakat Negeri Kilang terhadap ritual melaut mereka serta manfaat dari peneltian ini mengetahui dan memahami makna ritual Aukunci LabuangAy bagi masyarakat Negeri Kilang, dapat pandangan masyarakat pegunungan di Negeri Kilang terhadap laut. Metode Penelitian. Jenis Penelitian. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penggunaan pendekatan ini oleh Denzin . alam Moloeng, 2007: . yaitu cara yang diawali dengan pengamatan umum karena dengan menggunakan metode ini di dalam melaksanakan suatu penelitian ilmiah di mana pengamatan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi seorang peneliti. Menurut Moloeng . menjelaskan bahwa, penelaah dalam analisis kualitatif sangat penting dalam penelitian karena tiga alasan: Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan Tagalaya adalah adalah sebuah wadah berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman bambu, dan biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan hasil kebun maupun hasil laut. KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale Metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Lokasi Penelitian. Penelitian dilakukan di Negeri Kilang Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Negeri ini dipilih sebagai lokasi penelitian dengan alasan bahwa Negeri Kilang memiliki sebuah ritual melaut yang disebut AuKunci LabuangAy meskipun pada kenyataannya masyarakat Negeri Kilang bukanlah masyarakat pesisir. Masyarakat negeri Kilang dapat digolongkan pada masyarakat pegunungan disebabkan aktifitas utama masyarakat adalah Namun disamping bertani, masyarakat Kilang juga mempunyai orientasi pada aktivitas melaut. Informan Penelitian. Penentuan informan didasarkan atas pertimbangan bahwa para informan sangat memahami dan dapat dipercaya untuk memberikan data atau infomasi terkait ritual melaut masyarakat Negeri Kilang yang dibutuhkan peneliti. Para informan tersebut terdiri dari : Raja Negeri Kilang, 3 orang Kepala Soa, 1 orang pendeta adat . , 2 orang kewang . ewang darat dan kewang lau. , tokoh masyarakat 1 orang, tokoh agama 1 orang, dan 4 orang masyarakat yang terdiri dari 2 orang nelayan dan 2 orang istri nelayan. Jumlah keseluruhan informan kunci dalam penelitian ini adalah sebanyak 13 orang Sumber Data. Data yang diperlukan dalam penelitian ini ada 2 . jenis yakni, . Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat Negeri Kilang, dan tokoh pemerintah negeri, selama peneliti berada di lokasi penelitian. Data sekunder, yang diperoleh melalui studi kepustakan, internet, telaah pada dokumen yang terdapat pada Kantor Pemerintah Negeri Kilang. Teknik Pengumpulan Data. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara. Observasi merupakan kegiatan pengamatan, pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian. Sedangkan wawancara adalah percakapan dengan maksud memperoleh data primer, dan percapakan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara . yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara . yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut (Moleong 2007: . Untuk memperoleh data primer dalam penelitian ini maka peneliti menggunakan teknik wawancara Dalam melakukan wawancara mendalam, peneliti menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan terbuka. Alat bantu lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tape recorder dan camera digital. Peneliti juga membuat catatan KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale lapangan yang berkaitan dengan aktifitas wawancara dengan informan, hasil wawancara lapangan yang berbentuk data disusun dalam tabel data, kemudian dipilah untuk masingmasing informan, dan selanjutnya dilakukan klasifikasi data yang sama dan data yang berbeda untuk menyusun transkrip data berikutnya yang dijadikan sebagai data analisis (Pelupessy, 2012: . Teknik Analisa Data. Semua data yang berhasil dihimpun dari lapangan kemudian dikaji dan dianalisis secara kualitatif dan senantiasa dikaitkan dengan hasil pengamatan. Teknik analisa data seperti ini yang dilakukan oleh peneliti menurut Seiddel . alam Moleong, 2007: 248-. antara lain: Pengumpulan Data. Mencatat dan menghasilkan catatan lapangan, memberi kode agar sumber datanya dapat ditelusuri. Reduksi Data. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mengsistematisasikan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya. Kesimpulan atau Verifikasi. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum. Temuan dan Pembahasan. Negeri Kilang merupakan salah satu Negeri Adat yang berada di Pulau Ambon dan secara administratif berada di Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Negeri Kilang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh dari pusat kota sejauh 11. 3 km. Letak wilayah negeri ini pada bagian timur pegunungan di Pulau Ambon. Secara geografis memiliki batas wilayah, diantaranya: Sebelah Utara berbatasan dengan Negeri Soya, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Banda, sebelah Timur berbatasan dengan Negeri Hukurila, sebelah Barat berbatasan dengan Negeri Naku. Prosesi dan Pandangan Masyarakat Kilang Tentang Kunci Labuang. Mendahului pembahasan tentang ritual Kunci Labuang, penulis akan memaparkan sebuah tradisi lain yang juga dilakukan masyarakat Negeri Kilang dan memiliki kaitan erat dengan tradisi Kunci Labuang yang menjadi fokus tulisan ini. Disamping ritual Kunci Labuang, masyarakat Negeri Kilang juga mengenal sebuah ritual lain yang disebut ritual Kunci Negeri. Lewat penuturan kepala adat . Negeri Kilang, ritual kunci Negeri telah berlangsung sejak berdirinya Negeri Kilang. Negeri KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale Kilang yang sekarang merupakan tempat bermukim yang kedua, tempat bermukim yang pertama berada di sebelah timur Negeri Kilang sekarang dan berbatasan dengan wilayah petuanan Negeri Hukurila daerah tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Hahila yang juga diyakini sebagai tempat pertama leluhur masyarakat Kilang menetap. Karena faktor pertambahan penduduk dan luas wilayah yang tidak memungkinkan untuk didiami . etaknya di tepi pantai dan sangat cura. maka para leluhur berpindah dari tempat semula yang berada di dusun Hahila ke Sama Sima, tempat yang sekarang didiami penduduk Negeri Kilang. Dituturkan bahwa pada zaman itu sering terjadi peperangan antar negeri ditambah juga oleh adanya Lanung atau perompak yang sering melakukan penyerangan pada wilayah negeri-negeri di tepian pantai. Ritual kunci negeri dilakukan untuk melindungi negeri dari ancaman-ancaman tersebut, sehingga menciptakan rasa aman bagi seluruh warga negeri. Konon, setelah ritual ini dilakukan maka negeri akan ditutupi sehingga yang tampak hanyalah hutan belukar dan dinding-dinding karang di tepian Adapun proses ritual kunci negeri tersebut adalah sebagai berikut : Mauweng akan mengunjungi batu-batu teon di tiap soa . buah batu teo. kemudian menuju bagian depan negeri yakni di daerah pantai yang diyakini sebagai tempat pertama para leluhur menginjakan kaki, di sana terdapat sebuah batu yang disebut batu Papua. Di batu inilah diyakini para leluhur negeri Kilang berdiam, dari pantai . agian depan neger. mauweng kemudian menuju tempat terakhir yakni di bagian belakang negeri, di sana terdapat sebuah batu yang disebut batu Krois. Di setiap tempat yang dikunjungi. Mauweng menyampaikan maksud kedatangannya, lewat doa dalam bahasa tanah . ahasa Alun. yang dikenal dengan sebutan Pasua Pasawari dan bunyi doa tersebut sama di setiap tempat/lokasi. Adapun bunyi doa Pasua Pasawari itu adalah sebagai berikut : Horo mate pata rila, yau pasua pasawari, sopo upu lanit o. Pa sopo hua upu ala lebe hanua kahuaresi. Artinya : Hormat yang tak terhingga, saya sampaikan/saya mohonkan dengan seluruh isi hati kepada Tuhan langit dan bumi, yang menguasai segala alam semesta Bunyi doa di atas adalah bagian pembuka atau sapaan doa yang ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Setelah menyampaikan kalimat doa yang sama di setiap lokasi tersebut, kemudian diikuti dengan penyampaian maksud kedatangan. Di akhir doa, mauweng akan menghentakkan salah satu kaki ke tanah satu kali. Doa ini sekaligus mengakhiri ritual tersebut. Dengan melakukan ritual ini maka masyarakat Negeri akan lebih merasa aman. Ritual Kunci Negeri di Kilang terakhir dilakukan A10 tahun yang lalu KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale pada saat Tragedi Sosial melanda Maluku khususnya kota Ambon, dan muncul cerita tentang Negeri yang tidak kelihatan dari laut. Seperti halnya ritual Kunci Negeri, ritual Kunci Labuang juga sudah ada sejak berdirinya Negeri Kilang. Pada awalnya ritual ini dilakukan untuk melindungi daerah pesisir Negeri Kilang dari ancaman-ancaman para perompak dan serangan Negeri lain. Ritual Kunci Labuang adalah bagian dari proses Kunci Negeri dan dikhususkan pada daerah pesisir. Ritual ini dalam sebutannya memang disebut AukunciAy tetapi proses awal sesungguhnya adalah proses AumembukaAy pintu Labuang, dimana diyakini bahwa Negeri selalu berada dalam keadaan terlindungi . Dalam kepentingan tertentu. Aupintu LabuangAy ini harus dibuka. Kepentingan itu antara lain, melakukan perjalanan ke suatu tempat maupun dalam kaitan melakukan aktifitas mencari hasil laut. Ritual ini penting dilakukan untuk menjamin rasa aman, baik untuk yang Auke luarAy agar terhindar dari bahaya dan bagi yang mencari hasil laut mendapatkan hasil yang memuaskan, tetapi juga bagi yang Auada di dalamAy karena selama proses mencari hasil laut misalnya. Aupintu LabuangAy ada dalam keadaan terbuka, itu berarti juga bahwa terbuka bagi berbagai ancaman yang lain . akit penyakit misalny. Prosesi ritual kunci Labuang dapat digambarkan melalui beberapa tahapan sebagai berikut. Tahapan Persiapan: Dalam tahapan ini, persiapan dilakukan secara pribadi oleh pendeta adat . yang akan bertindak sebagai pemimpin ritual. Tahapan persiapan ini meliputi semedi atau tapak khusus selama tiga hari berturut-turut sebelum hari ritual Kunci Labuang dilakukan, dimulai pada pukul 18. 00 WIT Ae 05. 00 WIT . am 6 sore Ae jam 5 Dalam semedi/tapak itu, mauweng akan melakukan puasa makan. Terkait tempat atau lokasi semedi, biasanya dilakukan di salah satu tempat di pesisir pantai Hahila, daerah di sekitar lokasi pelaksanaan ritual. Lokasi ini tidak bersifat tetap. Menurut pendeta adat, sesampainya di sana pada waktu akan melakukan semedi, lokasi tempat bersemedi akan AuditunjukanAy. Pendeta adat akan melihat tanda-tanda tertentu dan dapat AumerasakanAy dan kemudian memastikan lokasi tempat bersemedi. pada pelaksaan ritual ini terakhir kalinya (A10 tahun yang lal. semedicukup dilakukan di rumah . epatnya kama. tetapi selama proses itu, semua anggota keluarga atau warga yang lain tidak diperkenankan memanggil nama mauweng ataupun melakukan aktifitas yang dapat mengganggu prosesi ini. Pakaian yang digunakan mauweng haruslah pakaian adat . aju Salah satu cerita yang beredar di masyarakat adalah ketika Pela dari Werinama hendak mengantar pulang salah satu warga Kilang yang diselamatkan sewaktu kerusuhan, mereka tidak menemukan daerah pantai Negeri Kilang dan yang dilihat hanyalah dinding karang. KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale saron. berwarna hitam. Pantangan lain adalah baju ini tidak boleh dilipat pada saat mauweng selesai bersemedi pada pagi hari. Persiapan yang lain dilakukan oleh masing-masing dua orang perwakilan dari tiap soa yang ditentukan oleh soa itu sendiri. Keperluan ritual yang harus disiapkan antara lain : sirih pinang dan peralatan melaut . lat pancing dari bambu yang biasa disebut huhate, jaring, tali pancing, parang, perahu, dan juga umpa. semua perlengkapan ini haruslah perlengkapan baru yang belum pernah dipakai sebelumnya kecuali perahu. Dari paparan di atas dapat terlihat bahwa masyarakat negeri Kilang dalam mempersiapkan Ritual Adat ini ada dalam proses bersama. Maka benarlah apa yang dikemukakan Smith . alam Koentjaraningrat,1980:. , yang menjelaskan bahwa upacara religi biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat. Para pemeluk suatu religi atau agama memang ada menjalankan kewajiban mereka untuk melakukan upacara itu dengan sungguh-sungguh. Motivasi mereka memang tidak terutama untuk berbakti kepada dewa atau tuhannya, atau untuk mengalami kepuasan keagamaan secara pribadi, tetapi juga karena mereka menganggap bahwa melakukan upacara adalah suatu kewajiban sosial. Prosesi upacara religi ini dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk peringatan dan penyembahan terhadap suatu objek yang dianggap sakral serta memiliki pengalaman-pengalaman baik itu secara individu maupun secara kolektif masyarakat, sehingga dari proses inilah terkenang akan situasi yang memiliki nilai atau makna tersendiri bagi mereka yang melakukan upacara Hal demikian juga telah dikemukakan oleh. Levi-Strauss Pertama, akal budi manusia bukanlah suatu cermin pasif, melainkan menanggapi secara aktif lingkungan alami . dan seluruh kondisi teknologis dan ekonomis yang data-datanya diolah oleh akal menjadi sistem logis yang koheren. Kedua, akal tidak hanya menanggapi lingkungan sekitarnya sendiri, tetapi juga menginsyafi adanya berbagai macam lingkungan baik yang hadir nyata maupun yang dibayangkan dan diintegrasikan dalam berbagai sistem ideologis . arian-varian mito. yang masing-masing taat pada pembatasan dan paksaan mental. Akibatnya, kelompok-kelompok atau masyarakatmasyarakat yang memiliki pola pikir yang berbeda tetap mengalami jalan perkembangan yang sama. Selain segala persiapan yang telah disebutkan di atas, menjelang prosesi ini dilakukan, masyarakat juga harus menyiapkan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan keributan baik di dalam kampung maupun di dalam keluarga. Kesiapan itupun bukan hanya secara materiil tetapi kesiapan batin juga menjadi sangat penting. KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale Tahapan Pelaksanaan Dari negeri menuju ke Labuang yang jaraknya A 1,5 km, karena perjalanan yang jauh dan melelahkan maka setibanya di Labuang biasanya nelayan beristirahat sejenak sambil makan sirih pinang. Tempat makan sirih pinang disebut batu tampa sirih, di sinilah ritual dimulai. Setelah makan sirih pinang, nelayan . iwakili oleh kepala adat/pendeta adat, menuju ke tempat di mana terletak kunci Labuang yang disimbolkan dengan batu, tempat batu Kunci Labuang tersebut berada di lokasi tempat bertemunya air laut dan air Di tempat ini. Mauweng lalu menaikan doa dalam bahasa tanah/ bahasa asli . ahasa Alun. yang dikenal dengan istilah Doa PASUA PASAWARI yang bunyinya sebagai berikut5 : Horo mate pata rila, yau pasua pasawari, sopo upu lanit o. Pa sopo hua upu ala lebe hanua kahuaresi Artinya : Hormat yang tak terhingga, saya sampaikan/saya mohonkan dengan seluruh isi hati kepada Tuhan langit dan bumi, yang menguasai segala alam semesta Bunyi doa di atas adalah bagian pembuka atau sapaan doa yang ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Setelah menyampaikan kalimat doa tersebut, kemudian diikuti dengan penyampaian maksud kedatangan. Di akhir doa,mauweng akan menghentakkan salah satu kaki ke tanah satu kali. Kemudian masyarakat menuju daerah tangkapan di laut. Daerah pantai/laut di sekitar Labuang Rilanita disebut juga tagalaya6. Dengan membuka tagalaya, masyarakat meyakini bahwa hasil yang diperoleh akan melimpah. Aktifitas mencari ikan dan hasil-hasil laut lainnya-pun dimulai. Ritual ini ditujukan bukan hanya untuk aktifitas mencari ikan di laut saja tetapi juga untuk aktifitas mencari ikan di pesisir . ang dikenal dengan istilah huhat. , mencari bia, gurita, dan sayur-sayur laut. Selama proses mencari hasil laut itu ada pantangan-pantangan atau halhal tabu yang harus dipatuhi masyarakat. Pantangan-pantangan tersebut antara lain : dilarang meludah di laut, dilarang membuang kotoran apapun di laut, tidak boleh berbicara dengan suara yang keras, pada saat mengayuh perahu . agi yang melakukan aktifitas mencari ikan dengan cara mangae. alat mengayuh . tidak boleh menyentuh badan perahu sehingga dapat menimbulkan suara. Ritual ini memberi mereka rasa aman dan jaminan akan memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Dengan kata lain. Ritual Kunci Labuang ini menjadi semacam akses bagi masyarakat Negeri untuk menikmati sumber daya alam kelautan yang mereka miliki. Disamping itu juga Ritual ini memperteguh keyakinan masyarakat secara kolektif akan Lafalan doa pembuka sama dengan yang diucapkan pada saat ritual kunci Negeri. Tagalaya adalah adalah sebuah wadah biasanya berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman bambu, dan biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan hasil kebun maupun hasil laut. Masyarakat negeri kilang memandang daerah labuang sebagai layaknya sebuah tagalaya di mana terdapat segala hasil laut yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup. Dengan membuka pintu labuang berarti juga membuka tagalaya untuk mengambil hasil laut tersebut. KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale adanya perlindungan dan penjagaan dari kekuatan supranatural pada saat mereka mencari hasil laut. Pada saat masyarakat kembali dari melaut, masyarakat menaruh semua hasil tangkapan di atas batu oha-oha, kemudian pendeta adat . melakukan cara yang hampir sama dengan prosesi awal . setelah selesai mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa tanah, batu kunci Labuang kemudian dikembalikan ke tempatnya yang semula, setelah melakukan prosesi tersebut, mereka akan kembali ke batuoha-oha mengambil hasil tangkapan kemudian semua prosesi akan ditutup dengan doa oleh Pendeta. Eksistensi kepercayaan pada ritus-ritus adat dan agama modern merupakan dua unsur yang memiliki substansi berbeda. Perbedaan yang terjadi baik dalam bentuk objek pemujaannya maupun tata cara penyembahan yang dilakukan. Perbedaan substansi yang mendasar dalam realitas sistem kepercayan akan membawa dampak, baik itu negatif maupun juga dampak positif. Dampak negatif yang dapat digambarkan berupa pertentangan atau konflik yang disebabkan oleh perbedaan sistem dan pola kepercayaan yang diterapkan. Namun di samping itu tidak diabaikan juga hal positif yang tampak dalam bentuk saling memahami antara aliran kepercayaan yang berbeda. Hal positif yang dapat dilihat yakni bentuk kerja sama yang terjadi pada moment-moment ritual adat yang Bentuk kerja sama yang terjadi antara kedua aliran kepercayaan ini seperti keterlibatan bersama pada proses-proses ritual adat, khususnya Kunci Labuang. Pada proses ritual adat Kunci Labuang di Negeri Kilang, terjadi proses saling menunjang satu dengan lainnya untuk kelancaran kegiatan tersebut. Hal ini tampak dari keterlibatan tokohtokoh yang memegang peranan penting di dalam masing-masing aliran kepercayaan bersama-sama mengikuti prosesi. Setelah ditutup dengan doa oleh pendeta, maka tugas kaum perempuan untuk membersihkan hasil laut yang didapat dan semua masyarakat kemudian kembali ke Negeri. Ritual Kunci Labuang pada pelaksanaannya memang melibatkan semua lapisan masyarakat di Negeri Kilang tidak ada batasan umur maupun Semua elemen masyarakat terlibat bersama dalam setiap tahapan prosesi ini. Khusus untuk perempuan dan anak-anak biasanya terlibat dalam ritual ini dan hanya beraktifitas di sekitar wilayah pantai untuk mengumpulkan bia, sayur laut . ika bertepatan dengan musimny. dan hasil laut lainnya. Kunci Labuang: Akses ke Sumber Daya Alam. Masyarakat Kilang dalam sebutan umum disebut masyarakat pegunungan. wilayah pulau Ambon terdapat beberapa Negeri yang mendapat julukan Negeri di pegunungan, tetapi juga memiliki wilayah petuanan laut . iantaranya: Negeri Kilang. Negeri Naku dan Negeri Hukuril. berdasarkan wilayah petuanan inilah maka terbentuk sistem mata pencaharian yang berorientasi darat dan laut. Hal inipun menjadi ciri khas KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale masyarakat pegunungan di Negeri Kilang. Orientasi mata pencaharian masyarakat mereka ada di laut namun juga di darat. Terkait dengan orientasi laut. Masyarakat Kilang mempercayai bahwa dengan dilakukannya Ritual Kunci Labuang maka hasil laut yang diperoleh akan melimpah. Ritual Kunci Labuang menjadi semacam akses bagi masyarakat Negeri Kilang untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Dengan melaksanakan ritual ini, masyarakat Negeri Kilang mempertegas kuatnya ketergantungan mereka kepada alam. Sehingga dengan demikian maka keharmonisan masyarakat Kilang dengan alam adalah hal yang terpenting untuk dilestarikan. Hal inilah yang detegaskan Kluckhohn dalam teorinya tentang nilai budaya. Kluckhohn . mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan sebuah konsep beruang lingkup cukup luas yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai-nilai budaya secara fungsional. Sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan mereka percaya bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil. Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Ada lima masalah pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara universal. Yang menjadi perhatian utama pada penulisan ini adalah pada masalah pokok keempat yang berkaitan dengan kedudukan fungsional manusia terhadap Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini akan berpengaruh terhadap pola aktivitas Hal ini juga dapat terlihat dalam pelaksanaan Ritual Kunci Labuang. Larangan untuk membuang kotoran apapun ke laut, dan penggunaan alat tangkap tradisional yang tidak berpotensi merusak biota laut merupakan perwujudan dari usaha untuk tetap menjaga harmonisasi dengan alam. Cara pandang masyarakat negeri Kilang untuk tetap menjaga harmonisasi dengan alam inilah yang juga turut membentuk perilaku mereka terhadap alam dan yang kemudian melahirkan ritual-ritual. Kunci Labuang: Menjamin Rasa Aman. Kebutuhan mendasar manusia adalah kebutuhan akan rasa aman. Salah satu alasan yang melatar-belakangi dilaksanakannya ritual Kunci Labuang ialah menjamin keamanan, bukan hanya untuk masyarakat yang AukeluarAy tetapi juga untuk masyarakat yang ada Audi dalamAy. Masyarakat Negeri Kilang meyakini bahwa Negeri Kilang selalu berada dalam keadaan terlindungi . erkunci/tertutu. dari segala hal buruk yang Ritual Kunci Labuang dilaksanakan, disamping untuk untuk memperoleh KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale hasil laut yang diperlukan tetapi juga menjamin rasa aman bagi masyarakat yang melakukan aktifitas mencari hasil laut dalam prosesi ritual tersebut. Serta menjamin keamanan bagi masyarakat yang tinggal di dalam kampung. Karena ketika Aupintu LabuangAy terbuka itu berarti Negeri rentan akan hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini telah diungkapkan Durkheim dalam teorinya tentang perilaku ritual yang mendasar dengan membedakan antara yang sakral dan profan. Ia menyebutkan bahwa seluruh ritus dimaksudkan untuk mewujudkan pemisahan antara yang sakral dan profan, dan pemisahan ini bersifat esensial. Ritus-ritus ini menghalangi terjadinya percampuran dan kontak yang tak diizinkan dan mencegah masing-masing wilayah saling memasuki satu sama lain. Oleh karena itu ritus-ritus ini hanya menentukan pantangan dan larangan. Ritusritus ini tidak mengamanatkan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh para penganut, akan tetapi hanya melarang melakukan tindakan-tidakan tertentu. Maka dari itu, seluruh ritus jenis ini berbentuk larangan-larangnan, atau meminjam istilah yang jamak berlaku di kalangan etnografer, berbentuk tabu. Istilah tabu . berasal dari bahasa Polinesia yang berarti institusi yang berkaitan dengan hal-hal tertentu yang terlarang dari penggunaan biasa dalam kehidupan sehari-hari. kata ini juga bisa diartikan sebagai kata sifat yang mengekspresikan karakteristik tertentu dari hal-hal yang terlarang tersebut. Ketika semua pantangan diperhatikan masyarakat dalam ritual ini, maka jaminan rasa aman itu diyakini akan diperoleh masyarakat secara kolektif. Baik yang melakukan aktifitas mencari hasil di laut maupun yang ada di darat bahkan yang ada di negeri. Dengan kata lain, negeri dan seluruh masyarakatnya akan tetap ada dalam keadaan aman meskipun Aupintu LabuangAy ada dalam keadaan terbuka selama prosesi adat ini dilakukan. Menurut Durkheim di sinilah pentingnya ritual. Mereka dapat memberikan arti penting suatu masyarakat dalam diri individu sekaligus memberikan kepada mereka perasaan yang transenden, yang tidak terjamah, yang tidak tercapai dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individual. Perasaan kehadiran yang transenden inilah yang bagi masyarakat Kilang menjamin rasa aman bagi mereka. Strehlow pernah berargumen bahwa ketika masyarakat mengatakan ritus-ritus dilakukan karena dia berasal dari leluhur, itu berarti mengatakan bahwa otoritas yang memerintahkan ritus ini sama dengan otoritas yang dimiliki tradisi, yang tentu saja bersifat sosial. Ritus-ritus itu dilaksanakan demi memelihara hubungan dengan masa lalu dan melestarikan identitas moral kelompok. Kesimpulan. Dari penelitian yang dilakukan terhadap Kunci Labuang di Negeri Kilang, disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Ritual Kunci Labuang yang dilakukan masyarakat Negeri Kilang memperlihatkan kedekatan masyarakat dengan alam, . Ritual kunci Labuang menjadi akses bagi masyarakat Negeri Kilang untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan berpedoman pada keteraturan yang diwariskan turun-temurun KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Kunci Labuang (Suatu Kajian Sosio-Kultural Terhadap Ritual Melaut Orang Kilan. Vol. 3 No. 1 Mei 2020. Hal. 14 - 30 Benly Pattihawean. Hermien L. Soselisa. Wellem R. Sihasale oleh leluhur, . Ritual Kunci Labuang memberikan jaminan rasa aman bagi masyarakat Negeri Kilang, baik yang melaut maupun yang menetap di Negeri, . Ritual Kunci Labuang memperlihatkan bahwa meskipun masyarakat Negeri Kilang menurut topografi wilayah sebagai masyarakat pegunungan, namun memiliki cara pandang terhadap laut, . Ritual kunci Labuang adalah semacam protokoler kultural yang mempertemukan masyarakat Kilang sebagai selayaknya seorang anak dengan laut yang dipandang oleh masyarakat Kilang sebagai seorang ibu yang memberi kehidupan, . Bagi masyarakat Negeri Kilang, laut sesungguhnya bukan sekedar sebuah teritori . Negeri, laut bukan sekedar sebuah wilayah yang bersifat geometris. Secara substantif sesungguhnya laut dalam segala kesakralannya dimaknai sebagai hidup mereka, . Perkembangan zaman yang berpengaruh pada perubahan orientasi hidup masyarakat Kilang khususnya generasi muda, memberikan pengaruh bagi keberadaan nilai-nilai lokal dalam ritual Kunci Labuang. Daftar Pustaka