Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Komparatif Makna Simbolik Tari Topeng Malangan dari Indonesia dan Tari Biyn Lian dari Tiongkok Nadia Ariellah Wahyu Amanda1*. Yang Nadia Miranti1 Sastra Cina. Fakultas Ilmu Budaya,Universitas Brawijaya. Jl. Veteran No. Ketawanggede. Kec. Lowokwaru. Kota Malang. Jawa Timur 65145. Penulis untuk Korespondensi/E-mail: nadiaariellah3@student. Abstract Ae In these performing arts, masks serve as the main medium for expressing symbolic meaning, however these two mask arts show differences in symbolic interpretation, social function, and performance context. This research aims to analyze the comparison of the symbolic meaning of masks and social context in Malangan Mask Dance from Indonesia and Biyn Lian Dance from China. This study uses qualitative research to describe the approach of literary analysis using Clifford Geertz's interpretive anthropology framework and Victor Turner's symbolic theory. The results show that Malangan Mask Dance understands masks as symbols of stable characters with traditions, rituals, and social activities in Javanese society. Meanwhile. Biyn Lian Dance considers masks as symbols of transition, showing dramatic and rapid changes in emotions and characters. These differences reflect the cultural orientation, social structure, and interpretation by the supporting community of the symbolic function of performing arts in their social life. Abstrak Ae Dalam seni pertunjukan tersebut, topeng berfungsi sebagai media utama untuk mengekspresikan makna simbolik dalam topeng, namun kedua seni topeng ini menunjukkan perbedaan dalam interpretasi simbolis, fungsi sosial dan konteks pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan makna simbolik topeng dan konteks sosial dalam Tari Topeng Malangan dari Indonesia dan Tari Biyn Lian dari Tiongkok. Penelitian ini menggunakan studi kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan pendekatan analisis literatur dengan kerangka antropologi interpretatif Clifford Geertz dan teori simbolik Victor Turner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan memahami topeng sebagai simbol karakter yang stabil dengan tradisi, ritual dan kegiatan sosial dalam masyarakat Jawa. Sementara itu. Tari Biyn Lian menganggap topeng sebagai simbol transisi dengan menunjukkan perubahan emosi dan karakter yang berlangsung secara dramatis dan cepat. Perbedaan ini menunjukkan orientasi budaya, struktur sosial dan interpretasi oleh masyarakat pendukung terhadap fungsi simbolis seni pertunjukan dalam kehidupan sosial mereka. Keywords - Biyn Lian. Comparative. Malangan Mask Dance. Symbolic Meaning. PENDAHULUAN eni pertunjukan merupakan salah satu cara lingkungan sosial, politik, serta spiritual di Seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai wadah komunikasi budaya yang dapat merepresentasikan simbol, nilai, serta identitas suatu masyarakat (Hidajat. R, 2. Salah satu jenis seni pertunjukan yang penuh dengan representasi simbol yaitu tari Dalam berbagai tradisi, topeng memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar penutup wajah yaitu berperan sebagai simbol kekuatan supranatural, perwujudan sifat dan sebagai media penghubung antara alam nyata dan alam spiritual. Beredar pula legenda bahwa Ken Arok menggunakan topeng dalam upacara kematian. Dalam kesenian tradisional, seni dan ritual keagamaan menjadi dua hal yang tidak dapat Feldman dalam (Melany & Nirwana. juga menegaskan bahwa fungsi personal seni tidak hanya mencakup ekspresi dari seniman, tetapi Received: 09 February 2026. Accepted: 13 March 2026. Published: 31 March 2026 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 juga mengandung dimensi spiritual yang merefleksikan pandangan batin sang seniman. Keterkaitan antara seni, simbol dan spiritualitas tersebut juga tampak jelas terjadi dalam berbagai kebudayaan di dunia, termasuk Indonesia dengan tari topeng yang cukup terkenal yaitu Tari Topeng Malangan. Tari Topeng Malangan memiliki keterkaitan dengan Cerita Panji, sebuah kisah klasik yang kaya makna dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak seni tradisional Jawa (Irawanto. R, 2. Dalam pertunjukannya, tokoh dalam Cerita Panji menggunakan topeng untuk merepresentasikan sifat atau karakter tokoh. Karakter Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana melambangkan unsur lakilaki dan perempuan. Selain itu, mereka juga mewakili siklus waktu, dengan Panji Asmarabangun sebagai Matahari dan Dewi Candrakirana sebagai bulan purnama yang mencerminkan konsep siang dan malam (Suwasono, 2. Penggunaan topeng sebagai sarana ekspresi budaya dan spiritual tidak hanya muncul dalam pertunjukan seni tradisional Indonesia tetapi juga muncul dalam seni pertunjukan tradisional Tiongkok yang disebut Opera Tiongkok (Zhsngguy Xyq. Opera Tiongkok merupakan seni pertunjukan musik vokal, dialog, tari, akting simbolis, rias wajah, kostum dan gerakan tubuh yang berfungsi sebagai sistem tanda untuk mengkomunikasikan nilai-nilai budaya kepada Representasi estetika dan nilai-nilai Tiongkok mencerminkan realitas secara harfiah tetapi berusaha menyampaikan makna melalui gambar dan simbol yang distilir (Zhang. T, 2. Salah satu bentuk utama Opera Tiongkok adalah Opera Sichuan . O / ChuAnj. , seni teater tradisional yang berkembang di wilayah Sichuan dengan pertunjukan menggabungkan musik, tari, dialog, akrobatik dan gaya akting ekspresif. Dalam Opera Sichuan, rias wajah dan topeng berfungsi sebagai media visual untuk mewakili karakteristik karakter. Menurut Tao Zhang dalam The Rise and Decline of Chinese Opera in Indonesia . , rias wajah dan topeng adalah kode simbolis dalam Opera Tiongkok . ermasuk Opera Sichua. yang berfungsi sebagai kode nilai yang mewakili karakter moral, status sosial, dan keadaan psikologis karakter yang dapat digunakan penonton untuk memahami karakter tanpa perlu bergantung dengan kosakata karakter Salah satu pertunjukan paling unik dalam Opera Sichuan adalah Tari Ganti Wajah (Biyn Lia. Perubahan topeng dalam hitungan detik menjadi objek minat optik dan juga representasi untuk transformasi batin karakter yang terlibat dalam pertunjukan drama. Teknik ini berasal dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Pada Dinasti Qing, hingga sekitar masa Republik Tiongkok, teknik pertunjukan Opera Sichuan terus berkembang berkat upaya para seniman tua. Belum lagi, dukungan dari bangsawan dan lembaga budaya lokal juga signifikan untuk menjaga kesinambungan Tari Biyn Lian, baik melalui pelaksanaan pendanaan pertunjukan, pengembangan kostum baru dan peralatan panggung yang ditingkatkan, serta melalui upaya untuk mengumpulkan rekaman dan menyusun standar agar dapat melestarikan keaslian pertunjukan (Liu. Vasinareom, and Yu, 2. Dalam memahami makna simbolik dari kedua pertunjukan tersebut, penelitian ini menggunakan teori antropologi interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Geertz memandang bahwa budaya adalah sebuah jaringan makna atau webs of significance yang diciptakan, dipertahankan dan dimaknai oleh manusia dalam kehidupan sosialnya (Geertz, 1973 dalam Susen, 2. Dalam teori tersebut, budaya tidak hanya dipahami sebagai kumpulan kebiasaan atau sebuah sistem mekanis Akan tetapi kebudayaan adalah suatu sistem diinterpretasikan untuk memahami makna di balik kebudayaan dan praktik sosial tersebut. Kerangka tersebut diperkuat oleh pemikiran Victor Turner mengenai simbol dan dinamika sosial dalam praktik ritual dan pertunjukan. Turner berpendapat bahwa simbol budaya bersifat multivokal atau memiliki banyak makna (Turner, 1967 dalam Novia. Simbol juga tidak hanya berfungsi sebagai representasi visual, akan tetapi juga memiliki kekuatan untuk membangkitkan emosi, membentuk pengalaman kolektif, serta memainkan peran aktif dalam dinamika sosial. Beberapa penelitian terdahulu telah membahas kesenian Topeng Malangan maupun Tari Biyn Lian dalam Opera Sichuan. Penelitian karya Youyu Liu. Manissa Vasinarom. Juntong Yu dengan judul The Development of Face Changing in Sichuan Opera, penelitian ini ditulis pada tahun 2025 yang membahas mengenai perkembangan teknik pergantian wajah atau Biyn Lian dalam kesenian Opera Sichuan dengan menekankan keterkaitannya dengan tradisi seni rakyat serta permainan topeng Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 khas wilayah Sichuan. Penelitian terdahulu yang kedua adalah penelitian karya Melany dan Aditya Nirwana dengan judul Kajian Estetik Topeng Malangan (Studi Kasus di Sanggar Asmorobangun. Desa Kedungmonggo. Kec. Pakisaji. Kab. Malang, penelitian ini ditulis pada tahun 2016. Penelitian ini membahas estetika Topeng Malangan dengan pendekatan formalistik yang berakar pada teori Edmund Burke Feldman di mana struktur, fungsi, gaya, dan makna dijadikan sebagai empat elemen Penelitian terdahulu ketiga adalah penelitian karya Wu Yating. Ahmad Rizal Abdul Rahman. Velu A/L K. Perumal, dan Siow May Ling dengan judul Examine the Significance of the Facial Makeup Pattern Used in the Sichuan Opera and Its Interpretation, penelitian ini ditulis pada tahun Studi ini meneliti makna dan pentingnya proses transformasi wajah dalam Opera Sichuan, terutama teknik Biyn Lian atau Tari Ganti Wajah. Meskipun berbagai penelitian telah banyak membahas Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian, menganalisis secara terpisah tradisi Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Hingga saat ini, kajian yang secara khusus membandingkan makna simbolik yang terdapat pada Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian dalam perspektif antropologi interpretatif masih sangat jarang dan terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan dengan melakukan analisis mengenai komparatif terhadap makna simbolik Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Berdasarkan uraian latar belakang, penulis merumuskan tiga pokok permasalahan yang akan Pertama, bagaimana perbedaan makna simbolik yang terdapat dalam Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Kedua, bagaimana perbedaan fungsi sosial dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Ketiga, bagaimana teknik pergantian wajah dalam Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan makna simbolik dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian, menganalisis teknik pergantian wajah dalam Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian dan menganalisis fungsi sosial dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. METODE Peneliti menggunakan Metode Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Deskriptif. Menurut Mulyana . Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang berusaha mengungkapkan kejadian atau fenomena sosial dengan cara mendeskripsikan data dan fakta melalui kata-kata secara menyeluruh terhadap subjek atau objek penelitian. Dalam penelitian ini. Metode Kualitatif digunakan dalam bentuk studi komparatif untuk membandingkan makna simbolis serta konteks sosial pada Tari Topeng Malangan dari Indonesia dan Tari Biyn Lian dari Tiongkok. Objek penelitian ini adalah Tari Topeng Malangan dari Indonesia dan Tari Biyn Lian dari Tiongkok. Dengan begitu, peneliti bisa mengungkapkan perbedaan dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Penelitian menggunakan Pendekatan Deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena budaya yang sedang diteliti. Fenomena tersebut dideskripsikan secara menyeluruh melalui uraian kata-kata dan kalimat naratif. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian kali ini adalah studi literatur atau literatur Studi literatur merupakan proses pengumpulan, mengevaluasi dan mensintesis literatur yang sama dengan topik yang sedang diteliti (Ardiansyah, et. Pendekatan yang sistematis ini meliputi pengumpulan literatur yang memiliki topik sama, menganalisis temuan dari literatur yang berbeda dan mengevaluasi kualitas literatur (Ardiansyah, et. Dalam penelitian ini, pengumpulan literatur dilakukan dengan menelusuri sumber-sumber ilmiah seperti artikel jurnal, buku akademik, serta publikasi ilmiah lain yang membahas Tari Topeng Malangan. Tari Biyn Lian, simbolisme topeng dan seni pertunjukan Literatur yang dipilih merupakan sumber yang relevan dan memiliki keterkaitan langsung dengan fokus penelitian. Tujuan penggunaan teknik pengumpulan data ini adalah untuk melakukan identifikasi terhadap pengetahuan pada penelitian sebelumnya dan memberikan hasil penemuan yang kuat untuk penelitian yang akan dilakukan setelahnya. Langkah-langkah proses penulisan diawali dengan pengumpulan data pustaka dari penelitian-penelitian Sumber data sekunder diperoleh dari artikel jurnal ilmiah, buku akademik, serta publikasi lain yang dianggap relevan dengan tema penelitian. Setelah data dikumpulkan, dilakukan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan informasi dari berbagai literatur yang berbeda untuk memastikan konsistensi data yang diperoleh. Dengan begitu, data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dianggap sah. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Tahap selanjutnya adalah kondensasi data yaitu dengan memilih data yang dianggap penting serta menyederhanakan data tanpa menghilangkan makna Setelah proses kondensasi data, peneliti melakukan analisis data. Analisis dilakukan dengan interpretatif, yaitu dengan membandingkan kedua tari berdasarkan beberapa aspek utama seperti makna simbolik topeng, fungsi budaya, sejarah perkembangan, dan konteks sosial yang melatarbelakangi kedua tari tersebut. Analisis ini juga menggunakan kerangka teori antropologi interpretatif Clifford Geertz dan teori simbolik Victor Turner untuk memahami makna simbol yang terkandung dalam penggunaan topeng pada kedua tradisi tersebut. Terakhir adalah dilakukan penarikan kesimpulan dan interpretasi yang merumuskan temuan utama dari hasil perbandingan kedua tarian tersebut dan menghubungkan hasil analisis dengan kerangka teori yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian Kemunculan dan perkembangan seni tari tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dan kebudayaan masyarakat sekitar. Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian lahir dari tradisi yang berbeda, baik dari segi geografis, sistem kepercayaan, maupun struktur Kedua kesenian ini menempatkan topeng sebagai media utama untuk melakukan pertunjukan Tari Topeng Malangan berasal dari daerah Malang di Jawa Timur dan merupakan tarian tradisional Jawa yang dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha dan adat Jawa. Kesenian tersebut memiliki keterikatan dengan kisah Ramayana. Mahabarata dan Panji yang merupakan cerita lama dan hidup dalam masyarakat Jawa sejak masa kerajaan (Melany, 2. Berdasarkan kajian historis yang dirangkum oleh Purnama dan Rachmadian . yang merujuk pada pendapat Hariyono . , kesenian Wayang Topeng Malangan pada awalnya berkembang di Desa Kedungmonggo dan Desa Polowijen. Kecamatan Blimbing. Malang. Jawa Timur. Pada masa tersebut, seni ini sebelumnya dikenal sebagai Topeng Jabung hingga akhirnya berkembang dan dikenal luas sebagai Topeng Malangan. Dalam berbagai literatur. Tari Topeng Malangan telah muncul sejak zaman Kerajaan Kahuripan. Pada abad ke-11 hingga abad ke-14. Tari Topeng Malangan mengalami perkembangan yang pesat. Ketika Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan, kesenian Tari Topeng Malangan turut mengalami kemunduran karena sebelumnya kesenian ini banyak ditampilkan dalam lingkungan kerajaan. Seiring berjalannya waktu, kesenian tersebut kemudian berkembang di Kabupaten Malang. Purnama dan Rachmadian . mengutip catatan Pigeaud bahwa pada akhir abad ke-19, pertunjukan wayang topeng tercatat di pendopo Kabupaten Malang selama masa pemerintahan A. Surya Adiningrat . 8Ae1. Selain itu, pada tahun 1930-an, kelompok wayang topeng yang aktif di daerah selatan Malang yang meliputi Sanggreng. Jenggala. Wijiamba dan Turen. Pada periode ini, pertunjukan Wayang Topeng Malangan diperluas melampaui ranah pedesaan lokal ke arena publik dan institusional, sehingga menjadi seni rakyat dengan signifikansi sosial dan budaya yang penting (Purnama & Rachmadian, 2. Topeng Malangan, yang telah didirikan sejak awal memiliki dimensi sakral dan melibatkan upacara tradisional, praktik ritual dan bentuk hiburan. Sementara itu. Tari Ganti Wajah atau Biyn Lian merupakan bagian integral dari Opera Sichuan yang berkembang di wilayah Sichuan. Tiongkok. Tari Biyn Lian diperkirakan muncul pada akhir abad ke19 dari metode baru dalam panggung pertunjukan Opera Sichuan. Kang Zhilian merupakan aktor Opera Sichuan terkenal dan salah satu tokoh suci dalam dunia Opera Sichuan. Kang Zhilin adalah orang pertama yang mengembangkan "tiga transformasi," yaitu mengganti kostum dengan kecepatan luar biasa yang kemudian berkembang menjadi bentuk praktik ganti wajah (Renfeng. Sejarah perkembangan Opera Sichuan dibentuk oleh migrasi dan ekspansi populasi dari akhir Dinasti Ming hingga awal Dinasti Qing ketika berbagai tradisi opera lokal dari berbagai wilayah di Tiongkok diperkenalkan ke Sichuan. Benturan tradisi-tradisi ini menghasilkan perkembangan jenis seni pertunjukan baru yang terus berkembang. Pada pertengahan Dinasti Qing, identitas artistik Opera Sichuan tetap relatif stabil, dengan gaya pertunjukan dan sistem repertoar yang khas dan terstruktur telah Pada periode ini, bentuk-bentuk baru teknik teater simbolis mulai muncul . isalnya, lukisan wajah pada tahap awal, teknik mengubah wajah atau Biyn Lia. yang kemudian memperoleh Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 status populer sebagai elemen ikonik dalam Opera Sichuan (He et al. , 2025, merujuk pada Zhao, 2. Dalam memahami makna kesenian dari pertunjukan Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian, penelitian ini menggunakan perspektif antropologi interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz, kebudayaan dimaknai sebagai jaringan makna atau webs of significance yang diciptakan dan dimaknai oleh manusia dalam konteks sosial dan Dengan begitu, sejarah seni pertunjukan tidak bisa dipisahkan dari bagaimana cara masyarakat pendukungnya memahami dunia, struktur sosial, relasi antar manusia, kekuasaan dan Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan memiliki keterkaitan sejarah dengan kerajaan, ritual dan kehidupan di desa yang menempatkan seni sebagai bagian dari kehidupan Sementara itu. Tari Biyn Lian memiliki keterkaitan sejarah dengan migrasi budaya, profesionalisasi seniman dan perkembangan teknik Perbedaan latar historis tersebut menunjukkan bahwa budaya memiliki orientasi yang berbeda sesuai dengan bagaimana masyarakat pendukung mengartikan seni tersebut. Dengan demikian, perbedaan latar historis tersebut tidak hanya menunjukkan visual topeng, tetapi juga merepresentasikan konteks sosial, sejarah dan budaya masyarakat. Komparasi Makna Simbolik Topeng dan Konteks Sosial dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian Tari topeng tidak hanya digunakan sebagai pertunjukan, tetapi dapat digunakan sebagai elemen simbol yang dapat menyampaikan makna kolektif ke Dalam sudut pandang antropologi Cliffortz Geert, topeng dapat dipahami sebagai simbol yang bekerja dalam jaringan makna . ebs of Makna topeng tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui keterkaitannya dengan mitologi, struktur sosial dan praktik budaya Dalam artikelnya The Interpretation of Cultures: Geertz Is Still in Town. Susen menjelaskan bahwa menurut Geertz analisis budaya tidak menemukan hukum universal, tetapi menafsirkan makna simbolis yang terletak dalam konteks sosial dan sejarah tertentu dan melalui pendekatan thick description (Geertz, 1973 dalam Susen, 2. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis makna simbolik dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Dalam konteks seni pertunjukkan. Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian menggunakan topeng sebagai simbol visual. Meskipun demikian, kedua pertunjukkan tersebut memiliki teknik penggunaan topeng yang berbeda. Dalam Tari Topeng Malangan, topeng berfungsi sebagai representasi simbolik yang menggambarkan karakter pemain. Representasi karakter itu sendiri juga bersifat tetap yang berarti setiap topeng memiliki representasi tokoh itu sendiri. Representasi tersebut seperti tokoh Panji Asmara Bangun memakai topeng warna hijau. Dewi Sekartaji berwarna putih. Raden Gunung Sari berwarna putih. Sang Ayu Ragil Kuning berwarna kuning. Klana berwarna merah dan Bapang berwarna merah (Wahyuningsih, 2. , tidak hanya menampilkan visual topeng yang berbeda, setiap warna topeng tersebut memiliki makna yang menggambarkan penokohan tersebut. Menurut Wahyuningsih dalam bukunya yang berjudul Seni Tari Wayang Topeng Malangan tahun 2011, topeng warna putih menunjukkan tentang kesucian, warna hijau menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan, warna kuning menunjukkan kebersihan, warna merah menunjukkan kemurkaan dan kelicikan, warna biru dan emas menunjukkan hiasan untuk dasar topeng. Hal ini menunjukan bahwa topeng tidak hanya berfungsi sebagai kostum, akan tetapi juga berfungsi sebagai penegasan suatu tokoh dalam Melalui penggunaan warna topeng yang tetap, masyarakat dengan mudah mengenali sifat tokoh atau tokoh yang dipresentasikan sebelum dialog atau gerakan tari dilakukan. Selain mempresentasikan tokoh, simbol tersebut juga memiliki kaitan dengan nilainilai budaya masyarakat jawa. Dengan demikian, makna simbolik dari Tari Topeng Malangan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika saja namun juga sebagai media yang menunjukan nilai moral dan struktur karakter yang relatif tetap dalam cerita yang dipentaskan. Berbeda dengan Tari Topeng Malangan. Tari Biyn Lian justru menekankan dinamika perubahan simbol dalam pertunjukan. Dalam teknik Tari Biyn Lian, pergantian topeng dapat dilakukan dengan cepat dalam hitungan detik, sehingga satu tokoh dapat menampilkan berbagai topeng dalam satu rangkaian ceritanya (Yating et al. , 2. Pergantian topeng tersebut tidak hanya sebagai efek visual yang dramatis saja, tetapi juga memiliki simbol transformasi karakter yang dinamis dalam alur dramatik pertunjukan (Li. , 2. Hal ini menunjukkan transformasi tersebut menggambarkan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 sifat atau karakter dari tokoh yang dapat berubah seiring dengan perubahan emosi tokoh. Meskipun mengedepankan dari sisi hiburannya, setiap ekspresi dan warna topeng memiliki makna tertentu yang digunakan sebagai media komunikasi symbolik untuk penonton (Zhang. , 2. Seperti topeng warna merah sering dikaitkan dengan karakter yang berani, jujur dan loyal. Warna putih menunjukkan karakter yang licik dan antagonis. Warna topeng hitam menunjukkan ketegasan, keadilan dan kekuatan moral. Warna emas atau perak menunjukkan makhluk supranatural atau memiliki karakter yang luar biasa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yating et al. , . yang menunjukkan bahwa simbol dari topeng Tari Bian Lian tidak hanya berfungsi untuk mempresentasikan suatu karakter saja, namun juga menunjukan perubahan emosi dan konflik dalam tokoh yang Tabel 1. Komparasi Makna Simbolik Topeng pada Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian Aspek Perbandingan Tari Topeng Malangan Tari Biyn Lian Bentuk Satu karakter satu topeng Satu karakter beberapa topeng Warna Putih Melambangkan Melambangkan Warna Merah Melambangkan Melambangkan Warna Kuning Melambangkan kebersihan hati Melambangkan sifat agresif Warna Hijau Melambangkan Melambangkan sifat liar yang tidak bisa Warna Hitam Melambangkan karakter keras atau tegas Melambangkan Warna Emas/Perak Melambangkan warna dasar Melambangkan supranatural atau karakter dengan kekuatan luar Warna Biru Melambangkan warna dasar Melambangkan karakter yang Aspek Perbandingan Tari Topeng Malangan Tari Biyn Lian atau independen Berdasarkan tabel 1, terlihat bahwa perbandingan makna simbolik topeng bersifat stabil menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan menggunakan topeng untuk merepresentasikan satu karakter tertentu. Sebaliknya. Tari Biyn Lian bersifat dinamis karena satu tokoh dapat menggunakan beberapa jenis warna yang menunjukkan perubahan karakter. Sejak awal kesenian Tari Topeng Malangan memiliki kaitan erat dengan praktik ritual, upacara adat, dan perayaan yang memiliki makna kolektif bagi masyarakat. Kamal . menjelaskan bahwa Tari Topeng Malangan sering dipentaskan dalam rangkaian upacara tertentu seperti bersih desa, selamatan dan peringatan tradisi lokal yang memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam dan kekuatan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan tidak hanya sebagai hiburan, tetap juga sebagai implementasi sosial yang menggabungkan dengan kehidupan masyarakat. Selain fungsi ritual. Tari Topeng Malangan juga berkembang menjadi hiburan berbagai lapisan masyarakat setempat (Melany, 2. Fungsi hiburan Tari Topeng Malangan juga tidak terlepas dari media pendidikan. Melalui media transmisi nilai-nilai budaya, ajaran moral dan etika kehidupan masyarakat Jawa disampaikan melalui karakter tokoh dan alur cerita (Koten, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa Tari Topeng Malangan tidak hanya berfungsi sebagai ritual, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan, moral, etika melalui Tari Topeng Malangan juga dipentaskan dalam kegiatan yang modern seperti festival budaya dan kegiatan pariwisata (Alwi and Hasaniyah 2. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan merupakan suatu bentuk identitas yang merepresentasikan kekhasan budaya Malang dan Jawa Timur di hadapan publik yang lebih luas. Dalam konteks pertunjukannya. Tari Topeng Malangan dipentaskan dalam ruang-ruang umum yang memiliki makna bagi masyarakatnya seperti halaman rumah warga, balai desa dan lainnya yang Seperti yang sudah dibahas di atas. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 pertunjukan ini sering dilaksanakan pada waktuwaktu yang telah disepakati bersama misal dalam bersih desa, selametan dan juga upacara tradisional lainnya (Kamal, 2. Dengan begitu, kehadiran seni pertunjukan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat. Dekatnya kehidupan masyarakat dengan seni tari tersebut, membuat hubungan antara penonton dengan penampil bersifat dekat dan partisipatif (Kusumaningtyas, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa, penonton tidak hanya memiliki peran sebagai pengamat pasif saja, namun juga sebagai bagian dari komunitas yang terlibat secara emosional dan kultural dalam Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi tari mengalami perluasan yang tidak hanya memiliki fungsi sakral akan tetapi juga berfungsi sebagai kegiatan pariwisata yang lebih representatif dan performatif. Tentu hal tersebut merubah pola interaksi penonton dan performa, akan tetapi makna dari seni tari dapat dikomunikasikan kepada audiens yang lebih luas. Berbeda dengan Tari Topeng Malangan. Tari Biyn Lian dalam Opera Sichuan memiliki konteks sosial sebagai sarana tontonan dan hiburan visual. (Liu. Vasinarom, and Yu, 2. menjelaskan bahwa Tari Biyn Lian dikenal luas dengan teater seni yang menonjolkan keahlian teknis, kejutan visual dan dinamika dramatik. Meskipun berorientasi pada segi hiburannya. Tari Biyn Lian juga berfungsi sebagai media penyampaian pesan-pesan non verbal, moral dan sosial dengan menggunakan seni dan topengnya kepada penonton secara formal dan profesional (Mingyue and Chiang 2. Dalam konteks sosial lainnya. Tari Biyn Lian dianggap sebagai bagian penting dari upaya pelestarian seni pertunjukan tradisional yang terus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat modern (Wang 2. Hal ini dikarenakan. Tari Biyn Lian merupakan suatu simbol budaya yang memperkenalkan identitas budaya Tiongkok kepada audiens yang lebih luas melalui pertunjukan dan festival seni (Gong et al. Perkembangan ini menunjukan bahwa Tari Biyn Lian juga berperan mewujudkan identitas budaya di tengah kehidupan modern. Dalam konteks pertunjukannya. Tari Biyn Lian dipentaskan di ruang-ruang seperti panggung teater, acara perayaan, festival budaya, atau pertunjukan seni yang diselenggarakan secara yang bersifat publik dan formal (Liu. Vasinarom, and Yu 2. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara penari dan penonton dalam konteks ini lebih bersifat formal, berbeda dengan Tari Topeng Malangan yang memiliki kedekatan dengan penonton. Dengan begitu, terdapat pemisahan yang jelas antara penonton dan juga Pemisahan tersebut menyebabkan hubungan antara penonton dan penampil lebih bersifat performatif dan transaksional (Liu. Vasinarom, and Yu 2. Sehingga dapat dipahami bahwa penonton hadir dengan tujuan untuk menikmati keterampilan teknis, keindahan visual. Situasi tersebut membuat Tari Biyn Lian menjadi tontonan yang mengedepankan unsur kekaguman menjadi bagian penting untuk penontonnya. Tabel 2. Komparasi Karakteristik Topeng pada Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian Aspek Perbandingan Tari Topeng Malangan Tari Biyn Lian Fungsi sosial Lebih berfungsi sebagai hiburan Memiliki fungsi ritual dan berkaitan pertunjukan dengan kehidupan artistik Ruang Pertunjukan Dipentaskan di ruang sosial masyarakat seperti halaman rumah warga, balai desa, dan ruang bersama Dipentaskan seperti panggung Hubungan Penonton dan Performer Hubungan bersifat partisipatif dan bersama antara masyarakat dan Hubungan lebih dengan pemisahan yang jelas antara Menekankan Orientasi stabilitas identitas Simbolik Budaya budaya dan nilai Menekankan dinamika emosi, karakter, dan efek Konteks Pertunjukan Umumnya Dipentaskan dalam konteks budaya panggung teater dan ritual atau pertunjukan masyarakat lokal. seni formal. Perkembangan Fungsi Selain fungsi ritual. Berkembang berkembang juga Aspek Perbandingan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Tari Topeng Malangan Tari Biyn Lian pertunjukan dalam festival budaya dan kegiatan pariwisata pertunjukan seni profesional yang kepada publik luas Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa terdapat perbedaan mengenai karakteristik dari Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Dalam konteks sosialnya, tari Topeng Malangan dipentaskan dalam konteks budaya serta ritual kesenian masyarakat lokal sehingga menunjukkan kedekatan dan keterlibatan penari dengan penonton. Sebaliknya, dalam Tari Biyn Lian lebih berkembang secara formal dan profesional di panggung teater. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa antara penari dan penonton memiliki batasan karena cenderung hanya hadir untuk menikmati keindahan visual dari Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa fungsi sosial dan konteks sosial yang berbeda dapat mempengaruhi makna dari masing-masing seni pertunjukan. Dengan deskripsi yang sudah disajikan, terdapat perbedaan yang mendasar dalam makna simbol pada Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian. Dalam Tari Topeng Malangan, topeng digunakan sebagai suatu representasi karakter yang tetap dan memberikan makna dari simbol-simbol sesuai dengan kebudayaan Jawa. Sumber : Novri Liyanto. Tari Topeng Malangan, 2016. Gambar 1. Tari Topeng Malangan Seperti pada gambar 1, setiap topeng memiliki bentuk dan warna secara tetap yang melambangkan suatu karakter dan arti simboliknya sendiri. Topeng merepresentasikan karakter Dewi Sekartaji, topeng melambangkan karakter Klana dan bapang tergantung dengan ekspresi topeng. Dengan begitu, topeng dari Tari Topeng Malangan berfungsi merepresentasikan moral dari suatu karakter dan juga bersifat tetap sehingga dapat mudah dikenali oleh masyarakatnya. Sebaliknya topeng dalam Tari Biyn Lian, karakter tidak direpresentasikan dengan satu topeng saja. Tetapi, topeng digunakan sebagai salah satu alat visual yang menunjukan perubahan emosi dari karakternya. Sumber: Data Primer (Pertunjukan di Sichua. , 2025 Gambar 2. Tari Topeng Biyn Lian Pada gambar 2 juga menampilkan bahwa terdapat berbagai topeng seperti warna merah, hitam, biru, dan lainnya. Pergantian topeng secara cepat dalam Biyn Lian menjadi bagian utama dari daya tarik keseniannya, dan juga menampilkan perubahan psikologis tokoh yang sedang direpresentasikan. Contohnya keberanian, hitam melambangkan ketegasan, biru melambangkan karakter yang kuat, dan lainnya. Dengan begitu penelitian ini menemukan bahwa meskipun kedua tari tersebut menggunakan topeng sebagai media simboliknya, terdapat perbedaan dari arti warna simboliknya dan juga Tari Topeng Malangan menekankan representasi tokoh dengan satu topeng, sedangkan Tari Biyn Lian menggunakan topeng untuk media transformasi ekspresi yang dinamis dalam konteks pertunjukan Perbedaan makna simbolik topeng dalam kedua kesenian tersebut dapat dipahami dengan kerangka teori antropologi interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Geertz menekankan bahwa pemahaman simbol budaya tidak dapat dipisahkan dari sistem makna yang telah dibangun oleh masyarakat pendukungnya. Simbol, menurut Geertz merupakan bagian dari jaringan makna yang disebut sebagai webs of significance, yaitu sebuah struktur makna yang membentuk cara masyarakat Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 memahami dunia sekitar dan kebudayaannya. Dalam konteks Tari Topeng Malangan, topeng digunakan sebagai suatu representasi karakter yang tetap dan memberikan makna dari simbol-simbol sesuai dengan kebudayaan jawa. Berbeda dengan Tari Biyn Lian yang simbol topeng lebih menekankan pada fungsi dramatik dan perubahan emosi pada karakternya. Dengan begitu, simbol kedua topeng tersebut tidak hanya sebagai visual saja namun memiliki arti sesuai dengan masyarakat yang melatarbelakanginya. Tari Topeng Malangan mengedepankan simbol sebagai representasi yang tetap dan berlatar belakang sebagai kesenian masyarakat, tetapi Tari Biyn Lian menampilkan simbol topeng sebagai media ekspresi dramatik yang memiliki latar belakang pertunjukan teater. Selain perbedaan dalam makna simboliknya. Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian memiliki perbedaan dalam konteks sosial dan konteks Tari Topeng Malangan berkembang dalam masyarakat jawa dan memiliki kaitan erat dengan praktik ritual, upacara adat dan perayaan yang memiliki makna bersama Dengan begitu, pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki peran sosial sebagai pelestarian budaya, pendidikan nilai moral dan menjadi ruang sosial Dijadikannya ruang sosial, juga membuat interaksi antara penonton dan penampil cenderung lebih dekat dan bersifat partisipasi. Sebaliknya. Tari Biyn Lian berkembang di panggung teater yang bersifat formal dan profesional. Meskipun Tari Biyn Lian mengedepankan hiburan sebagai elemen utamanya, tari tersebut juga digunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan non verbal, moral dan sosial dengan menggunakan seni serta topengnya kepada penonton secara formal. Dalam konteks tersebut, dikarenakan pertunjukan bersifat formal hubungan penonton dan penampil lebih bersifat transaksional atau performatif. Perbedaan tersebut menunjukan bahwa Tari Topeng Malangan berfungsi sebagai bagian dari praktik budaya komunitas, sedangkan ari Biyn Lian lebih berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan teater yang berorientasi pada hiburan visual dan profesionalitas pertunjukan. Perbedaan konteks sosial dan konteks pertunjukan antara kedua kesenian tersebut dapat dipahami melalui kerangka teori Victor Turner. Turner dalam Novia . menjelaskan bahwa pertunjukan adalah sebuah social performance yang tidak hanya menyampaikan simbol akan tetapi juga menciptakan sebuah pengalaman bagi masyarakat yang Dalam konteks Tari Topeng Malangan, pertunjukan sering dilakukan bersama dalam praktik ritual, upacara adat, dan perayaan yang memiliki makna bersama masyarakat. Dalam hal ini. Turner juga menjelaskan bahwa pertunjukan yang dilakukan bersama sehingga menciptakan pengalaman bagi semua yang mengikutinya bisa disebut dengan komunitas. Maka dari itu, hubungan penonton dengan penampil cenderung partisipatif. Berbeda dengan Tari Biyn Lian yang berkembang dalam teater sehingga dilaksanakan dengan formal dan profesional. Hubungan antara penonton dan penampil bersifat representasional dimana penonton berperan sebagai audiens dan penampil berperan sebagai performer. Perbedaan kedua kesenian tersebut menunjukan bahwa tidak hanya dalam aspek makna simbol saja, tetapi juga menciptakan Berdasarkan hasil komparasi tersebut, penelitian ini menemukan bahwa walaupun kedua kesenian tersebut memakai topeng sebagai simbol visual. Peneliti juga menemukan dua perbedaan yang paling Pertama. Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian merepresentasikan fungsi simbolik topeng dan praktik pertunjukan yang berbeda dalam konteks budaya masing-masing. Dalam Tari Topeng Malangan, topeng digunakan sebagai suatu representasi karakter yang tetap dan memberikan makna dari simbol-simbol sesuai dengan kebudayaan jawa. Sedangkan Tari Biyn Lianebih menampilkan transformasi emosi dan dinamika karakter secara cepat dalam pertunjukan teater. Kedua, perbedaan tersebut juga terlihat dalam konteks sosial dan konteks pertunjukannya dimana Tari Topeng Malangan berkembang dalam masyarakat jawa dan memiliki kaitan erat dengan praktik ritual, upacara adat, dan perayaan yang memiliki makna bersama masyarakat. Sebaliknya Tari Biyn Lian berkembang di panggung teater yang bersifat formal dan profesional. Dengan begitu, perbandingan kedua kesenian tersebut menunjukkan bahwa simbol topeng tidak hanya memiliki fungsi merepresentasikan sistem makna budaya serta fungsi sosial yang berbeda dalam masyarakat yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Tari Topeng Malangan dan Tari Biyn Lian sama-sama menggunakan topeng sebagai media pertunjukan, namun memiliki perbedaan dalam makna simbolik, fungsi sosial, dan konteks pertunjukannya. Dalam Tari Topeng Malangan, topeng dimaknai sebagai representasi karakter yang bersifat tetap dengan makna simbolik yang berakar dari tradisi Jawa, terutama cerita Panji serta praktik masyarakat Fungsinya tidak hanya sebagai elemen artistik saja, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan ritual spiritual masyarakat. Sebaliknya, dalam Tari Biyn Lian, topeng dimaknai sebagai simbol transformasi karakter yang ditunjukkan melalui menggambarkan perubahan emosi dan kondisi batin Melalui perspektif antropologi interpretatif Clifford Geertz dan teori simbolik Victor Turner, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa simbol topeng dalam kedua seni mencerminkan orientasi budaya, struktur sosial, serta cara masyarakat memaknai seni dalam kehidupan mereka. Pendekatan komparatif dalam penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah untuk memperkaya kajian mengenai makna simbolik dalam pertunjukan tari di Indonesia dan Tiongkok. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing Yang Nadia Miranti yang telah memberikan bimbingan, arahan, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis sampaikan juga terima kasih untuk Bapak Khoirul Anam. Ibu Sri Wahyuni. Ikmal Somadani, keluarga, teman kuliah, teman-teman magang dari Donlim dan KNI yang secara langsung maupun tidak langsung membantu penelitian ini. Semoga segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. REFERENSI