Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 POKDARWIS SATUPAM: MENGGAPAI KESADARAN MASYARAKAT MELALUI BRANDING SAPTA PESONA Gabriela Hendratnoˡ, Theo Andrianto², Stanley Gracius Christoper³, Willie Natanael4, Budi Setiawan5 1,2,3,4,5 Pradita University Jl. Gading Serpong Boulevard No.1 Tower 1, Banten Email Correspondence: gabriela.hendratno@student.pradita.ac.id ABSTRAK Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) adalah komunitas lokal yang membantu proses pengelolaan kampung wisata maupun desa wisata. Pokdarwis ini memiliki peranan penting dalam perkembangan kampung wisata. Melalui pendekatan dengan branding Sapta Pesona yang terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan, Pokdarwis Satupam berusaha untuk memberikan kesadaran kepada masyarakatnya pentingnya peran aktif masyarakat dalam mengelola kampung wisatanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Pokdarwis Satupam dapat menggapai kesadaran masyarakat melalui branding Sapta Pesona. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa dokumentasi, observasi dan wawancara mendalam dengan pengelola Kampus Wisata Satupam. Hasil dari penelitian ini memberikan kesadaran bagi masyarakat lokal terkait pentingnya branding Sapta Pesona untuk mengembangkan Kampung Wisata Satupam. Branding Sapta Pesona yang dilakukan oleh Pokdarwis Satupam, yaitu menggunakan papan Sapta Pesona dan komunikasi pemasaran melalui sosial media yang dapat memberikan kesan yang kuat dan menciptakan ingatan jangka panjang kepada masyarakat lokal maupun wisatawan. Kata Kunci: Pokdarwis; Branding; Sapta Pesona; Kesadaran Masyarakat; Kampung Wisata Satupam ASTRACT Tourism Awareness Group (Pokdarwis) is a local community that helps the management process of tourist villages or tourist villages. Pokdarwis has an important role in the development of tourist villages. Through an approach with the Sapta Pesona branding consisting of safe, orderly, clean, cool, beautiful, friendly, and memorable, Pokdarwis Satupam strives to provide awareness to its community about the importance of the active role of the community in managing its tourist villages. This study aims to determine Pokdarwis Satupam can achieve public awareness through the Sapta Pesona branding. This study uses qualitative research methods in the form of documentation, observation and in-depth interviews with the managers of the Satupam Tourism Campus. The results of this study provide awareness for local communities regarding the importance of Sapta Pesona branding to develop Satupam Tourism Village. Branding Sapta Pesona carried out by Pokdarwis Satupam, namely using the Sapta Pesona board and marketing communication through social media which can give a strong impression and create long-term memories to local people and tourists. Keywords: Pokdarwis; Branding; Sapta Pesona; Public Awarenes; Satupam Tourism Village 35 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Pariwisata memiliki potensi yang besar dalam perkembangan perekonomian masyarakat dan negara. Pariwisata dikatakan sebagai kegiatan wisata yang memiliki fasilitas dan pelayanan lengkap yang telah disediakan, baik oleh pemerintah, pemerintah daerah, para pengusaha pariwisata, maupun masyarakat itu sendiri untuk keberlangsungan wisata. Oleh karena itu, pariwisata kerap disebut sebagai kegiatan wisata yang memiliki sifat multidimensi dan multidisiplin (Setiawan et. al., 2024). Selain itu, pariwisata juga dikatakan sebagai sebuah sistem yang multikompleks, dimana beberapa aspek-aspek penting dalam sebuah perjalanan wisata saling berkaitan satu sama lain. Pariwisata juga telah memberikan perubahan bagi masyarakat setempat, baik dengan menambah lapangan pekerjaan, membantu melestarikan budaya, dan meningkatkan devisa bagi negara (Takome et. al., 2021). Perubahan pariwisata tersebut nantinya akan semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, pemerintah kerap kali melepaskan tanggung jawabnya terhadap perkembangan pariwisata, yang dimana seharusnya perkembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan keberlanjutan pada pariwisata. Hal tersebut ditunjukan dengan kurangnya komitmen pemerintah dalam membangun fasilitas penunjang pariwisata, yang merupakan kunci penting untuk menciptakan pariwisata yang berkelanjutan (Permatasari, 2022). Fasilitas penunjang pariwisata untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan memiliki empat komponen penting, yang terdiri dari attraction, amenities, ancillary service, dan accessibility. Secara singkat, attraction adalah objek wisata yang dapat menarik minat wisatawan, amenities adalah fasilitas pendukung di tempat wisata, ancillary service merupakan fasilitas pelengkap yang harus disediakan untuk wisatawan, dan accessibility yang merupakan sarana dan prasarana untuk mengakses tempat wisata yang sifatnya krusial (Anggara et al., 2024). Untuk membangun fasilitas dan mengelola keempat komponen penunjang pariwisata tersebut, perlu adanya bantuan dan campur tangan dari masyarakat lokal yang ada. Terutama, apabila komponen tersebut akan dikembangkan di sebuah tempat wisata yang berbasis komunitas. Wisata berbasis komunitas atau yang juga dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT) menginterpretasikan dimana masyarakat lokal ikut berkontribusi secara aktif dan memiliki peran penting dalam mengelola tempat wisatanya (Yulianah, 2021). Tempat wisata berbasis komunitas (CBT) berupa desa wisata atau kampung wisata. Menurut Vany et al. (2024), desa wisata di Indonesia saat ini sedang berkembang dan memiliki keunikannya tersendiri, yang biasanya berupa budaya dan tradisi yang masih orisinil. Desa wisata maupun kampung wisata memiliki konsep yang sama, yang membedakan hanya lokasi keberadaannya saja. Desa wisata terletak di kabupaten, sedangkan kampung wisata terletak di dalam kota. Dalam proses pengelolaan kampung wisata maupun desa wisata, terdapat beberapa masyarakat lokal maupun komunitas yang membantu proses pengelolaan, salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis sendiri merupakan komunitas atau kelompok yang membantu pengembangan dan proses pengelolaan kampung wisata. Biasanya, mereka akan bergerak sebagai motivator atau jembatan yang menghubungkan masyarakat lokal dengan pemerintah maupun dengan pokdarwis itu sendiri (Hendratno et al., 2025). Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Andrianto et al., (2024) mengatakan bahwa pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) merupakan sebuah kelompok masyarakat lokal yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pariwisata dan mengelola potensi wisata secara berkelanjutan. Pokdarwis diciptakan oleh 36 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 warga di suatu daerah yang memiliki semangat untuk memajukan pariwisata di tempat mereka serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, dengan fokus pada keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan pelestarian alam (Andrianto et al., 2024). Dalam hal ini, Pokdarwis Satupam menjadi salah satu contoh pokdarwis yang mengelola Kampung Wisata Satupam. Pokdarwis Satupam merupakan kelompok sadar wisata untuk Kampung Wisata Satupam yang terletak di Pamulang Timur. Dalam prosesnya, pokdarwis tidak hanya bergerak pada pengelolaan kampung wisata, tetapi mereka juga bergerak dalam membantu meningkatkan kesadaran para masyarakat lokal dengan membangun citra dan branding melalui sapta pesona. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa branding dalam pariwisata sangat dibutuhkan untuk menciptakan dan memberikan identitas yang kuat untuk orang banyak (Mujadihin et al., 2023). Menurut Sutanto et al., (2024) branding adalah proses yang dilakukan untuk dapat mengenalkan dan menciptakan identitas baru yang unik, yang dapat membedakan produk tersebut dari produk lain. Branding tidak dapat dilakukan tanpa ada elemen-elemen seperti nama, logo, tagline, desain, dan komunikasi pemasaran (Bilillah, 2024). Menurut Sutanto et al., (2024), branding yang efektif adalah branding yang dapat menciptakan daya tarik bagi produk tersebut. Oleh karena itu, Pokdarwis Satupam menggunakan branding Sapta Pesona dengan tujuan untuk menciptakan daya tarik bagi wisatawan. Sapta pesona merupakan tujuh komponen penting untuk mewujudkan lingkungan wisata yang dapat menjadi cerminan bagi destinasi wisata lain dan menarik minat wisatawan untuk melakukan kunjungan pada Kampung Wisata Satupam. Tujuh komponen sapta pesona terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan (Soeswoyo, 2020). Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Laksmi et al., (2023) menyampaikan bahwa undang-undang kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009 menyatakan sapta pesona adalah sebuah konsep diwujudkan di dalam produk pariwisata yang memiliki isi (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan) yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas dan menjaga dari suatu tempat wisata. Sapta Pesona merupakan konsep pariwisata yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Konsep ini mencakup tujuh daya tarik atau pesona yang menjadi dasar membangun dan mengembangkan pariwisata di Indonesia (Laksmi et al., 2023). Sapta pesona akan menjadi alat yang menciptakan pengalaman wisata baru dan menyenangkan untuk para wisatawan. Selain itu, sapta pesona juga menciptakan gambaran yang positif bagi para wisatawan yang berkunjung (Nasution et al., 2020). Pokdarwis Satupam menggunakan konsep sapta pesona ini sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan Kampung Wisata Satupam untuk menjadi kampung wisata yang menarik. Dengan mengedepankan branding sapta pesona, Pokdarwis Satupam tidak hanya memperkenalkan potensi wisata di Kampung Wisata Satupam saja, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat lokal akan pentingnya sapta pesona. Oleh karena itu, penelitian ini akan meneliti bagaimana Pokdarwis Satupam dapat meningkatkan kesadaran masyarakat melalui branding sapta pesona?. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji peningkatan kesadaran masyarakat melalui branding sapta pesona oleh Pokdarwis Satupam. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan memberikan dampak yang positif bagi para pengelola sektor pariwisata berbasis komunitas untuk meningkatkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. 37 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang dianggap cocok dan sesuai dengan teknik pengambilan data penulis. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang biasa digunakan untuk meneliti kondisi objek penelitian secara alamiah. Penelitian ini biasanya memanfaatkan beberapa teori penelitian terdahulu sebagai penguat dan penjelasan penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, pemahaman mengenai fenomena yang dialami oleh subjek penelitian juga menjadi salah satu objek penelitian. Fenomena tersebut bisa berupa perilaku atau tindakan, persepsi, motivasi, maupun sebuah deskripsi dalam bentuk kata-kata (Nasution, 2023). Metode pengambilan data yang digunakan dalam metode penelitian kualitatif biasanya berupa wawancara, observasi, kuesioner atau angket yang dilengkapi dengan dokumentasi (Abduh et al., 2023). Hal ini sesuai dengan metode pengambilan data penulis dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data analisis observasi, analisis dokumentasi, dan wawancara dengan pengelola Pokdarwis Satpam untuk mendeskripsikan subjek penelitian penulis. Dalam penelitian ini, data yang penulis dapatkan akan lebih dalam dan detail. Selain itu, penulis juga berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Bapak Daeng Rahmat selaku Wakil Ketua Pokdarwis Satupam, seputar cara Pokdarwis Satupam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui branding Sapta Pesona. HASIL DAN PEMBAHASAN Kampung Wisata Satupam terbentuk karena adanya semangat para masyarakat setempat untuk mengembangkan kampung yang mereka tempati menjadi kampung yang memiliki potensi wisata. Sebagai destinasi wisata yang berbasis komunitas, Kampung Wisata Satupam memberikan potensi yang menjanjikan. Seluruh masyarakat bergotong royong mengelola kampung tersebut dan membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang dinamakan Pokdarwis Satupam. Pokdarwis ini akan memegang tanggung jawab penuh untuk mengelola Kampung Wisata Satupam menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan (Kampung Wisata Satupam, 2025). Pokdarwis Satupam saat ini berada di bawah kepemimpinan Bapak Ade Marffudin selaku Ketua Pokdarwis dan Bapak Daeng Rahmat sebagai Wakilnya. Dengan adanya pokdarwis, diharapkan Kampung Wisata Satupam dapat berkembang dan menarik perhatian wisatawan melalui atraksinya, edukasinya, kuliner, maupun kesenian yang terus dilestarikan. Beberapa aktivitas yang ditawarkan oleh Kampung Wisata Satupam dikembangkan oleh Pokdarwis Satupam dengan tujuan agar dapat mencerminkan keunikan desa tersebut, seperti edukasi budidaya ikan, budidaya maggot, budidaya ayam, budidaya bebek, berbagai kuliner asli, kegiatan religi ziarah makam, serta pertunjukan bidang seni dan budaya (Kampung Wisata Satupam, 2025). 38 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Gambar 1. Pertunjukan Seni dan Budaya Palang Pintu Sumber: Dokumentasi Penulis (2025) Selain aktivitas yang ditawarkan, Pokdarwis Satupam juga memiliki peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan kampung wisata itu sendiri. Salah satu aspek kunci yang harus ada untuk membantu pengembangan kampung wisata itu adalah adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan kampung wisata mereka. Cara efektif yang dapat pokdarwis gunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kampung wisatanya adalah melalui branding Sapta Pesona. Branding Sapta Pesona yang dilakukan oleh Pokdarwis Satupam adalah dengan cara memasang Papan yang terbuat dari kayu, yang berisi tujuh elemen Sapta Pesona. Elemen tersebut terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Gambar 2. Papan Sapta Pesona Sumber: Dokumentasi Penulis (2025) Selain menggunakan papan, branding Sapta Pesona juga dilakukan dengan bantuan teknologi. Pokdarwis Satupam menggunakan sosial media untuk menunjukkan kepada masyarakat maupun wisatawan dan menciptakan kesan yang kuat tentang elemen bersih, sejuk, ramah, dan kenangan dari elemen Sapta Pesona yang terdapat di Kampung Wisata Satupam. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutanto et al., (2024) bahwa branding akan dikatakan efektif apabila dapat menciptakan kesan yang kuat yang dapat diingat oleh khalayak dalam jangka waktu yang panjang. 39 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Penggunaan sosial media menjadi salah satu contoh branding yang menggunakan elemen komunikasi pemasaran, seperti yang disebutkan oleh Bilillah (2024) dalam penelitiannya. Aman Merupakan salah satu elemen Sapta Pesona, dimana dalam sebuah destinasi wisata diwajibkan memiliki keadaan lingkungan yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman bagi masyarakat setempat maupun wisatawan pada saat melakukan perjalanan atau kegiatan wisata (Mintardjo, 2022). Dengan ini, Pokdarwis Satupam memiliki peran aktif untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman. Oleh karena itu, Pokdarwis Satupam dan masyarakat setempat akan melakukan kerja sama dengan kepolisian dan pihak militer serta membuat pos polisi dan pos militer untuk menjaga keamanan desa setiap harinya. Tertib Pada sebuah destinasi wisata, diwajibkan memiliki kesadaran akan kedisiplinan untuk menjaga dan melayani wisatawan. Hal-hal yang dapat menunjukan kedisiplinan, dapat berupa memiliki peraturan yang dilaksanakan dan selalu dijalankan dengan rapi, tepat waktu, dan teratur. Selain itu, masyarakat bisa dilibatkan dengan menunjukan sisi, bahwa masyarakat lokal dapat merawat lingkungan dan mematuhi peraturan desa yang berlaku (Mintardjo, 2022). Peraturan tersebut tidak hanya dipatuhi oleh masyarakat lokal, tetapi juga wajib dipatuhi oleh wisatawan yang datang. Dalam hal ini, Pokdarwis Satupam mencerminkan dan menunjukan kedisiplinannya dengan membuat aturan yang sesuai dengan keadaan setempat, seperti aturan untuk menjaga kebersihan, larangan merusak lingkungan, dan larangan merusak fasilitas yang telah disediakan. Bersih Lingkungan wisata yang bersih akan memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang hadir berkunjung. Hal ini dapat ditunjukan dengan kebersihan di lingkungan sekitar, higienitas dalam mempersiapkan makanan, dan penampilan Pokdarwis yang bersih dan rapi (Mintardjo, 2022). Oleh sebab itu, kebersihan merupakan hal yang paling penting untuk mempertahankan destinasi wisata menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Dalam hal kebersihan, Pokdarwis Satupam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya kebersihan untuk menjaga keamanan masyarakat lokal maupun wisatawan itu sendiri. Oleh karena itu, Pokdarwis Satupam mengupayakan untuk selalu melakukan kegiatan bersih-bersih desa secara berkala bersama dengan masyarakat lokal. Dengan ini, masyarakat akan lebih merasa bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan demi kenyamanan bersama. Selain kegiatan bersih-bersih, Pokdarwis Satupam juga menyediakan tempat sampah di beberapa titik untuk membantu meminimalisir adanya sampah yang berserakan, sekaligus mencegah dan menyadarkan wisatawan maupun masyarakat lokal untuk selalu menjaga kebersihan. Sejuk Sebuah destinasi wisata harus dapat menyediakan suasana sejuk bagi wisatawan yang hadir berkunjung. Meskipun suasana sejuk biasanya ditentukan oleh faktor lingkungan dan kondisi alam, tetapi masyarakat juga dapat diikutsertakan untuk memberikan suasana sejuk di lingkungan destinasi wisatanya dengan menjaga kelestarian alam (Mintardjo, 2022). Dengan ini, Pokdarwis Satupam dapat bekerjasama dengan masyarakat lokal untuk menanam dan merawat pepohonan yang ada untuk menciptakan 40 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 suasana lingkungan yang sejuk. Pokdarwis Satupam juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga dan melestarikan alam, melalui penyuluhan edukatif tentang dampak negatif polusi udara dan solusi untuk mengurangi polusi udara yang berlebihan dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi wisatawan. Selain melalui faktor alam, suasana sejuk tersebut, dapat dibentuk oleh pengelola destinasi wisata dengan menyediakan penyejuk ruangan. Indah Branding Sapta Pesona juga menekankan pada pentingnya sebuah destinasi wisata memiliki keindahan alam sebagai daya tarik wisatanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan daya tarik wisata melalui keindahan alam, yaitu dengan menata dan menjaga alam yang ada agar tetap terawat (Mintardjo, 2022). Dalam hal ini, Pokdarwis Satupam mengajak masyarakat lokal dan wisatawan untuk tetap menjaga dan melestarikan keindahan alam yang ada di Kampung Wisata Satupam, dengan cara tidak merusak flora dan fauna yang ada. Selain melestarikan keindahan alam, Pokdarwis Satupam juga memiliki tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya yang ada dengan cara memperkenalkan seni dan budaya lokal kepada wisatawan yang berkunjung. Gambar 3 dan 4. Pemandangan Kampung Wisata Satupam Sumber: Dokumentasi Penulis (2025) Ramah Keramahtamahan merupakan salah satu variabel Sapta Pesona yang penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang menyenangkan bagi wisatawan. Penyambutan hangat, keterbukaan masyarakat, dan sikap akrab yang dicerminkan oleh masyarakat akan memberikan kenyamanan dan kenangan yang menyenangkan bagi wisatawan. Hal ini bisa dilakukan dengan adanya toleransi antar masyarakat lokal dan wisatawan, adanya interaksi satu sama lain, dan adanya pelayanan yang ramah antar masyarakat lokal dan wisatawan yang berkunjung (Mintardjo, 2022). Oleh karena itu, untuk memberikan pengalaman menyenangkan bagi wisatawan, Pokdarwis Satupam memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal yang nantinya akan berinteraksi dengan pengunjung pertama kali. Pelatihan yang dilakukan berupa pelatihan cara bersikap ramah dan sopan, pelatihan 41 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 cara menyambut pengunjung, pelatihan komunikasi dan pelayanan yang baik, pelatihan cara menjelaskan suatu informasi kepada pengunjung, dan masih banyak lagi. Kenangan Berkunjungnya wisatawan ke sebuah destinasi wisata sudah pasti akan meninggalkan sebuah kenangan. Terutama, apabila destinasi wisata tersebut dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan bagi wisatawan, sehingga dapat diingat dalam jangka waktu panjang sebagai kenangan. Di beberapa destinasi wisata, pembentukkan kenangan untuk wisatawan dapat menggunakan berbagai cara, seperti dengan menjual atau memberi cinderamata, maupun dengan menunjukan kesenian dan kebudayaan yang menarik dan tidak mudah dilupakan dalam jangka waktu yang lama (Mintardjo, 2022). Hal tersebut dapat dijadikan contoh untuk Pokdarwis Satupam dengan mengelola atau membuat tempat menjual cinderamata atau dengan mengadakan kegiatan yang diadakan untuk umum dengan tujuan promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, akan membantu memberikan pengalaman menarik dan berkesan bagi pengunjung yang datang mengunjungi Kampung Wisata Satupam. KESIMPULAN Pokdarwis Satupam dengan segala kerja kerasnya telah berhasil membangun kesadaran terhadap masyarakat terkait betapa pentingnya peran aktif masyarakat dalam mengelola dan membangun Kampung Wisata Satupam. Terutama juga, masyarakat telah mengetahui bagaimana cara mengelola Kampung Wisata dengan baik melalui branding Sapta Pesona. Pokdarwis Satupam mengutamakan untuk melengkapi aspek-aspek Sapta Pesona mulai dari keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, dan kenangan. Pokdarwis Satupam tidak hanya memperkuat identitas destinasi wisata berbasis masyarakat, tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga dan mengembangkan Kampung Wisata Satupam sebagai Kampung Wisata yang memiliki potensi sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Proses yang dilakukan Pokdarwis Satupam sudah interaktif dan edukatif, sehingga hal tersebut dapat membantu meningkatkan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan wisata disekitarnya. DAFTAR PUSTAKA Abduh, M., Alawiyah, T., Apriansyah, G., Sirodj, R. A., & Afgani, M. W. (2023). Survey Design: Cross Sectional Dalam Penelitian Kualitatif. Jurnal Pendidikan Sains Dan Komputer, 3(1), 31-39. Https://Doi.Org/10.47709/Jpsk.V3i01.1955 Andrianto, T., Sanjaya, M. F., Dharmawan, R., & Setiawan, B. (2024). Pokdarwis Gubugklakah: Menggapai Asa melalui Sadar Wisata. Nawasena: Jurnal Ilmiah Pariwisata, 3(3), 126-136. Anggara, B., Taufik, M., & Mandala, O. S. (2024). Eksplorasi Potensi Pengembangan Wisata Alam Menggunakan Pendekatan 4A Dalam Mendukung Pariwisata Berkelanjutan. Toba (Journal Of Tourism, Hospitality And Destination), 3(2), 3339. 10.55123/Toba.V3i2.3515 Bilillah, R. S. (2024). Peningkatan Branding UMKM Lokal Melalui Desain Komunikasi Visual. Arunika : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 33-38. Hendratno, G., Wijaya, L. C., Dolang, J. C. M., Karangan, A. Y., & Setiawan, B. (2025, Februari). Pokdarwis Capung Alas Desa Wisata Pujon Kidul Sebagai Jembatan 42 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Menuju Tatanan Tertinggi Sadar Wisata. Jurnal Sains Terapan Pariwisata, 10(1), 67-77. 10.56743/Jstp.V10i1.488 Kampung Wisata Satupam. (2025, Maret 1). Kampung Wisata Satupam. Weebly. Retrieved April 3, 2025, From Https://Kampung-Wisata-Satupam.Weebly.Com/ Laksmi, P. A. S., Yogiarta, I. M., & Rustini, N. M. (2023). Tourism Management through Sapta Pesona Concept to Increase Tourist Attraction in Timpag Village, Tabanan Regency. Journal of Business on Hospitality and Tourism, 9(1), 28-34. Mintardjo, B. H. (2022). Implementasi Sapta Pesona Di Taman Balekambang Surakarta. Jurnal Nawasena, 1(2), 1-11. Mujadihin, Riono, S. B., Dumadi, Harini, D., & Sholeha, A. (2023). Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Mengenai Strategi Branding Untuk Meningkatkan Pemasaran UMKM Produk Lokal Di Desa Kaliwlingi. Era Abdimas: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat Multidisiplin, 1(4), 27-38. Nasution, A. F. (2023). Metode Penelitian Kualitatif. Harfa Creative. Nasution, L., Anom, S., & Karim, A. (2020). Pengaruh Program Sapta Pesona Dan Fasilitas Terhadaptingkat Kunjungan Objek Wisata T-Gardendi Kecamatan Deli Tua Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Darma Agung, 28(2), 211-230. Http://Dx.Doi.Org/10.46930/Ojsuda.V28i2.627 Permatasari, I. (2022). Peran Model Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) Dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism) Di Bali. Kertha Wicaksana: Sarana Komunikasi Dosen Dan Mahasiswa, 16(2), 164-171. . Https://Doi.Org/10.22225/Kw.16.2.2022.164-171 Sahir, S. H. (2021). Metodologi Penelitian. Penerbit Kbm Indonesia. Setiawan, B., Wiryanto, A. H., Budiyani, A., & Rivaldo. (2024). Pkm Penataan Dan Pengembangan Homestay Di Kampung Wisata Ekowisata Keranggan Kota Tangerang Selatan. Jurnal Ikraith-Abdimas, 8(2), 110-117. Https://Doi.Org/10.37817/Ikra-Ithabdimas.V8i2 Soeswoyo, D. M. (2020). Peningkatan Kualitas Masyarakat Melalui Sosialisasi Sadar Wisata Dan Sapta Pesona. Jurnal Pemberdayaan Pariwisata, 2(1), 29-35. Sutanto, A. C., Chang, G., Nadhif, L. D., Son, S. S., Simon, V. M., & Ningsih, R. Y. (2024). Efektivitas Penggunaan Instagram Dalam Proses Branding Pada Umkm Di Kemanggisan. Jurnal Manajemen Dan Pemasaran Digital, 2(3), 204-211. Https://Doi.Org/10.38035/Jmpd.V2i3 Takome, S., Suwu, E. A.A., & Zakarias, J. D. (2021). Dampak Pembangunan Pariwisata Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Lokal Di Desa Bobanehena Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat. Jurnal Ilmiah Society, 1(1-15). V Vany, J., Priscillia, F., Arifin, M., Deo, C., & Setiawan, B. (2024). Perencanaan Dan Pengembangan Homestay Di Desa Wisata Angsana, Desa Setu, Kab. Bogor. IKRAITH ABDIMAS, 8(1), 57-63. Yulianah, Y. (2021). Mengembangkan Sumber Daya Manusia untuk Pariwisata Berbasis Komunitas di Pedesaan. Komitmen: Jurnal Ilmiah Manajemen, 2(1), 1-9. 43