BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. Wihdat Amal*1. Ira Irviana2. Rahma Ashari Hamzah3 1,2,3 Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Islam Makassar Abstract This study aims to examine the effectiveness of integrating the autonomous learner model with the cooperative learning model of the jigsaw type in improving Indonesian language learning outcomes among fourth-grade students at SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar. The focus of this research is to determine the extent to which the combined implementation of both models enhances studentsAo learning outcomes. This study employed a pre-experimental design using a one-group pretestAeposttest approach, involving 38 students as participants. Data were collected through tests, observations, and documentation. The results indicate an improvement in the average scores for the autonomous learner model from 38. 09 to 52. 38, with an N-gain of 0. ow categor. , while the jigsaw model increased from 52. 35 to 67. 64, with an N-gain of 0. oderate categor. The paired sample t-test showed a significance value of < 0. Observational findings also revealed increased student independence and collaboration, rising from 41% to 83% and from 69% to 87%, respectively. Thus, the combined models are effective, although the absence of a control group limits the generalizability of the findings. Keywords: autonomous learner, jigsaw, learning outcomes Submitted: 2 March 2026. Reviewed: 14 March 2026. Accepted: 14 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Efektivitas Model Pembelajaran Autonomous Learner dan Kooperatif Tipe Jigsaw terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SDI Bonerate No. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas penerapan model pembelajaran autonomous learner yang dipadukan dengan model kooperatif tipe jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar. Fokus penelitian ini adalah menilai sejauh mana kedua model yang diterapkan secara terpadu mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental one-group pretestAeposttest dengan melibatkan 38 siswa. Data diperoleh melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pada model autonomous learner dari 38,09 menjadi 52,38 dengan N-gain 0,23 . ategori renda. , sedangkan pada model jigsaw dari 52,35 menjadi 67,64 dengan N-gain 0,32 . ategori sedan. Uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi < 0,05. Hasil observasi juga memperlihatkan peningkatan kemandirian dan kerja sama siswa dari 41% menjadi 83% serta 69% menjadi 87%. Dengan demikian, kedua model efektif, meskipun keterbatasan desain tanpa kelompok kontrol membatasi generalisasi hasil. Kata Kunci: autonomous learner, jigsaw, hasil belajar Corresponding Author: Wihdat Amal, wihdatamal25@gmail. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Islam Makasar. Sulawesi Selatan. Indonesia 158 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan awal sebuah peletakan dasar nilai-nilai peradaban kebudayaan manusia yang ada di dunia. Suatu proses yang diharapkan dalam usaha pendidikan adalah proses terarah yang bertujuan, yaitu mengarahkan anak didik kepada titik optimal kemampuannya. Oleh karena itu, proses pendidikan adalah bersifat life long education yang dapat dimaknai bahwa untuk melestarikan kebudayaan masyarakat dilakukan melalui proses yang tanpa akhir atau pendidikan sepanjang hayat (Hamzah et al. , 2. Melalui pendidikan, individu diharapkan mampu mengembangkan potensi diri secara optimal sehingga dapat menjadi generasi yang berkualitas dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa (Irviana & Maskura, 2. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab 1 pasal yang berbunyi: AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy (Hamzah et al. , 2. Namun, salah satu permasalahan utama dalam dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran yang belum sepenuhnya mendorong kemampuan berpikir peserta didik. Pembelajaran cenderung masih berpusat pada guru, sehingga siswa kurang diberi kesempatan untuk mengolah dan membangun pengetahuan secara mandiri. Akibatnya, kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa menjadi kurang optimal (Mulyadi et al. , 2. Mata pelajaran bahasa Indonesia akan selalu diajarkan kepada siswa. Peran bahasa Indonesia sendiri adalah sebagai pemersatu bangsa Indonesia sehingga para siswa harus mengenali bahasa pemersatu bangsanya sendiri (Hamzah et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi di kelas IV SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar, diketahui bahwa kemampuan belajar bahasa Indonesia siswa masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat, bertanya, serta menyelesaikan masalah secara mandiri. Selain itu, hasil Penilaian Tengah Semester (PTS) menunjukkan bahwa hanya 18 dari 38 siswa yang mencapai KKTP. Rendahnya hasil belajar tersebut dipengaruhi oleh kurangnya minat belajar serta penggunaan metode pembelajaran yang kurang efektif, di mana siswa cenderung bergantung pada penjelasan guru tanpa mengkaji ulang materi secara mandiri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan dan kemandirian siswa. Model autonomous learner dapat mendorong siswa untuk belajar secara mandiri, sementara model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan komunikasi antar siswa (Nani & Hendriana, 2. Dengan demikian, penerapan kedua model pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar bahasa Indonesia siswa secara lebih METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah dasar di Kepulauan Selayar pada bulan Agustus 2025, bertepatan dengan proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. 159 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Wihdat Amal et. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimen melalui desain one group pretest-posttest untuk melihat perubahan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV yang terdiri dari IVa yang berjumlah 21 orang dan IVb yang berjumlah 17 orang dengan total keseluruhan 38 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, sehingga seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Penelitian ini melibatkan dua variabel bebas, yaitu model pembelajaran autonomous learner dan model kooperatif tipe jigsaw yang diterapkan secara terpadu, serta satu variabel terikat berupa hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen tes berbentuk pilihan ganda digunakan pada pretest dan posttest, yang sebelumnya telah melalui uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan kelayakannya. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, dengan pengujian hipotesis melalui uji paired sample t-test pada taraf signifikansi 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pembelajaran Autonomous Leaarner Penelitian diawali dengan pelaksanaan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Selanjutnya, siswa kelas IVa mengikuti beberapa kali pertemuan pembelajaran dengan menerapkan model autonomous learner Dalam proses pembelajaran, siswa diberikan kesempatan untuk merencanakan, mengatur, dan mengevaluasi kegiatan belajarnya secara mandiri dengan bimbingan guru sebagai fasilitator. Siswa diarahkan untuk mencari sumber belajar, memahami materi secara aktif, serta merefleksikan hasil belajarnya. Melalui penerapan model ini, siswa tidak hanya meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia, tetapi juga mengembangkan kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis dalam proses Pre-test Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di UPT SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar, data pretest digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa kelas IVa sebelum diterapkan model pembelajaran Autonomous Learner dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1 Nilai Pretest Pre-test Autonomous Learner Min Max Sum Mean Variance Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa dari 21 siswa diperoleh nilai minimum 10 dan maksimum 60 dengan rentang 50. Rata-rata nilai sebesar 38,10 dengan standar deviasi 15,04, yang 160 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa masih tergolong rendah hingga sedang serta memiliki variasi nilai yang cukup besar antarindividu. Tabel 2 Kategori Hasil Belajar Bahasa Indonesia (Pretes. Kategori Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Kriteria Frekuensi Persen 8 - 22 23 - 52 53 - 68 0,00 19,05 66,67 14,29 0,00 Berdasarkan kategorisasi hasil belajar, mayoritas siswa . ,67%) berada pada kategori sedang, 19,05% pada kategori rendah, dan 14,29% pada kategori tinggi, tanpa adanya siswa pada kategori sangat rendah maupun sangat tinggi. penyebaran yang cukup bervariasi. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa sebelum perlakuan diberikan, tingkat kemampuan siswa cenderung berada pada kategori sedang dengan perbedaan capaian yang cukup beragam, sehingga menjadi dasar untuk melihat peningkatan pada tahap posttest. Post-tes Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Pada tahap posttest, hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IVa menunjukkan adanya peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran autonomous learner. Tabel 3 Nilai Post-test Post-test Autonomous Learner Min Max Sum Mean Variance Berdasarkan analisis deskriptif, dari 21 siswa diperoleh nilai minimum 20 dan maksimum 90 dengan rata-rata sebesar 52,38 serta standar deviasi 17,86. Data ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa setelah perlakuan berada pada kategori lebih baik dibandingkan kondisi awal, dengan penyebaran nilai yang masih cukup bervariasi namun dalam batas wajar. 161 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Wihdat Amal et. Tabel 4 Kategori Hasil Belajar Bahasa Indonesia (Posttes. Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Kriteria < 17 17 - 34 35 - 69 70 - 88 Frekuensi Persen 0,00 14,29 66,67 14,29 4,76 Berdasarkan tabel kategorisasi, tidak terdapat siswa pada kategori sangat rendah, sementara mayoritas siswa . ,67%) berada pada kategori sedang. Sebanyak 14,29% berada pada kategori rendah, 14,29% pada kategori tinggi, dan 4,76% mencapai kategori sangat tinggi. Munculnya kategori sangat tinggi serta hilangnya kategori sangat rendah menunjukkan bahwa penerapan model Autonomous Learner memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa, meskipun distribusi nilai masih didominasi oleh kategori sedang. Pengaruh Model Pembelajaran Autonomous Leaarner Terhadap Hasil Belajar Siswa Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu melakukan uji asumsi yakni uji normalitas dan homogenitas, dan hasilnya data normal dan homogen. pada penelitian ini, peneliti menerapkan analisis statistik dengan menggunakan uji paired sample t- test, untuk membandingkan hasil capaian belajar siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan melalui pretest dan posttest. Tabel 7 Uji Paired Sample t-test Pre-post Mean 383 21 . df Sig. Berdasarkan hasil uji Paired Sample t-test pada pembelajaran Autonomous Learner diperoleh nilai rata-rata pretest sebesar 38. 10 dan posttest sebesar 52. 38 dengan nilai signifikansi (Sig. < 0. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest, yang berarti model pembelajaran Autonomous Learner efektif meningkatkan hasil belajar bahasa indonesia siswa. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Model pembelajaran Kooperative tipe Jigsaw Pretest Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Berdasarkan hasil pretest yang dilaksanakan pada 17 siswa kelas IVb UPT SDI Bonerate No. Kepulauan Selayar sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, dapa dilihat pada tabel berikut. 162 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. Tabel 8 Nilai Pretest Pre-test J i g s a w Min Max Sum Mean Variance Berdasarkan tabel diatas, diperoleh rata-rata nilai sebesar 52,35 dengan skor terendah 20 dan Rentang nilai sebesar 70 menunjukkan adanya perbedaan kemampuan yang cukup besar antar siswa. Standar deviasi sebesar 23,33 juga memperlihatkan bahwa variasi nilai tergolong tinggi, sehingga kemampuan awal siswa masih belum merata dan cenderung berada pada kategori Tabel 9 Kategori Hasil Belajar Bahasa Indonesia (Pretes. Kategori Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Kriteria Frekuensi Persen 0,00 6 - 28 29 - 75 76 - 99 17,65 64,71 17,65 0,00 Berdasarkan kategori hasil belajar, sebagian besar siswa . ,71%) berada pada kategori sedang, 17,65% pada kategori rendah, dan 17,65% pada kategori tinggi, serta tidak ada yang termasuk kategori sangat rendah maupun sangat tinggi. Histogram nilai juga menunjukkan penyebaran skor yang cukup luas, dari rentang rendah hingga tinggi. Secara keseluruhan, hasil pretest ini menggambarkan bahwa kemampuan awal siswa masih beragam dan belum optimal, sehingga diperlukan penerapan model pembelajaran Jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar secara lebih Post-test Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Berdasarkan hasil posttest setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada 17 siswa, diperoleh data deskripsif deperti tabel di bawah ini. Tabel 10 Nilai Posttest Poat-test J i g s a w Min Max Sum Mean Variance 163 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Wihdat Amal et. Berdasarkan tabel diatas, nilai terendah adalah 40 dan tertinggi 90 dengan rata-rata 67,65. Rentang nilai sebesar 40 dan standar deviasi 15,22 menunjukkan bahwa penyebaran nilai tidak terlalu lebar dan kemampuan siswa menjadi lebih merata dibandingkan saat pretest. Secara umum, hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan belajar siswa setelah diberikan perlakuan. Tabel 11 Kategori Hasil Belajar Bahasa Indonesia (Posttes. Kategori Kriteria Frekuensi Persen Sangat Rendah < 37 0,00 Rendah 37 - 51 17,65 Sedang 52 - 82 70,59 Tinggi 83 - 98 11,76 Sangat Tinggi 0,00 Berdasarkan kategori hasil belajar, mayoritas siswa . ,59%) berada pada kategori sedang, 11,76% pada kategori tinggi, dan 17,65% pada kategori rendah, tanpa adanya siswa pada kategori sangat rendah maupun sangat tinggi. Histogram juga memperlihatkan nilai yang lebih terkonsentrasi pada rentang menengah hingga tinggi. Secara keseluruhan, data posttest menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Jigsaw memberikan dampak positif terhadap peningkatan dan pemerataan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Siswa Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu melakukan uji asumsi yakni uji normalitas dan homogenitas, dan hasilnya data berdistribusi normal dan homogen. Dalam pengujian hipotesis pada penelitian ini, peneliti menerapkan analisis statistik dengan menggunakan uji paired sample t-test. Proses analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25. Tabel 14 Uji paired sample t-test Pre-Post Mean Sig. Berdasarkan hasil uji Paired Sample t-test pada kelompok pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw diperoleh nilai rata-rata pretest sebesar 52. 35 dan posttest sebesar 67. 65 dengan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0. < 0. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest, sehingga model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dinyatakan efektif meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. 164 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. PEMBAHASAN Penerapan Model Pembelajaran Autonomous Learner Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diterapkan model autonomous learner, rata-rata nilai pretest siswa sebesar 38,10 yang tergolong rendah dengan variasi nilai yang cukup besar. Setelah penerapan model, rata-rata posttest meningkat menjadi 52,38 dengan selisih peningkatan 14,28 poin. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi 0,003 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa model autonomous learner efektif meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia. Namun demikian, jika dianalisis lebih mendalam, peningkatan hasil belajar yang diperoleh masih tergolong moderat dan belum mencapai kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun model autonomous learner memberikan dampak positif, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utama adalah karakteristik siswa sekolah dasar yang pada umumnya masih berada pada tahap perkembangan operasional konkret, sehingga kemampuan untuk belajar secara mandiri belum berkembang secara optimal. Siswa masih memerlukan bimbingan dan arahan dari guru dalam mengelola proses belajarnya. Selain itu, model autonomous learner menuntut kemampuan regulasi diri . elf-regulated learnin. , seperti merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi pembelajaran. Kemampuan ini relatif belum matang pada siswa sekolah dasar, sehingga tidak semua siswa mampu memanfaatkan model ini secara maksimal. Hal ini dapat menjelaskan mengapa peningkatan hasil belajar tidak setinggi yang diharapkan. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, seperti penelitian (Supriyadi, 2. yang menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan keterampilan menulis puisi, terdapat perbedaan konteks yang cukup signifikan. Penelitian tersebut lebih menekankan pada keterampilan spesifik, sedangkan penelitian ini mengkaji hasil belajar Bahasa Indonesia secara umum yang mencakup berbagai aspek kemampuan. Dengan demikian, cakupan yang lebih luas dalam penelitian ini berpotensi memengaruhi tingkat efektivitas model. Keunikan penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan model autonomous learner dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara menyeluruh, bukan hanya pada keterampilan tertentu. Adapun novelty penelitian ini adalah penegasan bahwa keberhasilan model pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh strategi yang digunakan, tetapi juga oleh kesiapan kemandirian belajar siswa. Temuan ini memperkuat teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif jika siswa aktif membangun pengetahuan, namun tetap membutuhkan dukungan sesuai tahap perkembangan kognitifnya. Penerapan Model Pembelajaran Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SDI Bonerate No. 85 Kepulauan Selayar Pada kelas IVb, rata-rata pretest sebesar 52,35 menunjukkan kemampuan awal siswa berada pada kategori sedang. Setelah diterapkan model Jigsaw, rata-rata posttest meningkat menjadi 67,65 dengan peningkatan 15,29 poin serta penurunan standar deviasi yang menunjukkan kemampuan siswa semakin merata. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan signifikansi 0,013 . < 0,. , sehingga model Jigsaw terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar. 165 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Wihdat Amal et. Secara analitis, peningkatan hasil belajar pada model Jigsaw lebih tinggi dibandingkan dengan model autonomous learner. Hal ini dapat dijelaskan melalui karakteristik model Jigsaw yang menekankan kerja sama, interaksi sosial, dan saling ketergantungan positif antar siswa. Dalam konteks siswa sekolah dasar, pembelajaran berbasis kelompok lebih sesuai karena siswa cenderung lebih mudah memahami materi melalui diskusi, berbagi informasi, dan penjelasan dari teman Selain itu, model Jigsaw memungkinkan siswa dengan kemampuan rendah untuk belajar dari siswa yang lebih mampu, sehingga terjadi proses tutor sebaya . eer teachin. yang berkontribusi pada pemerataan hasil belajar. Hal ini terlihat dari penurunan standar deviasi yang menunjukkan bahwa kesenjangan kemampuan antar siswa semakin kecil. Dengan demikian, model Jigsaw tidak hanya meningkatkan rata-rata nilai, tetapi juga meningkatkan keadilan dalam distribusi hasil belajar. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya (Putra, 2019. Alfazr et al. , 2. hasil penelitian ini sejalan dengan temuan bahwa model Jigsaw efektif meningkatkan hasil belajar melalui interaksi sosial dan kerja sama. Namun, penelitian ini memberikan kontribusi lebih lanjut dengan menunjukkan bahwa model Jigsaw juga berperan dalam mengurangi kesenjangan kemampuan siswa, yang masih jarang dianalisis secara spesifik dalam penelitian sebelumnya. Keunikan penelitian ini terletak pada analisis ganda, yaitu peningkatan hasil belajar dan pemerataan kemampuan siswa. Adapun novelty penelitian ini adalah penegasan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga memiliki dampak sosialpedagogis dalam menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan merata. Perbandingan Efektivitas Model Autonomous Learner dan Jigsaw Berdasarkan hasil penelitian, model Jigsaw menunjukkan peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan model autonomous learner. Perbedaan ini dapat dianalisis dari beberapa aspek. Pertama, dari segi karakteristik siswa sekolah dasar, siswa cenderung lebih menyukai pembelajaran yang bersifat interaktif dan kolaboratif dibandingkan pembelajaran Oleh karena itu, model Jigsaw yang berbasis kerja kelompok lebih sesuai dengan kebutuhan perkembangan sosial dan kognitif siswa. Kedua, model autonomous learner menuntut tingkat kemandirian yang tinggi, sementara sebagian besar siswa sekolah dasar masih bergantung pada arahan guru. Hal ini menyebabkan efektivitas model menjadi kurang optimal jika tidak disertai dengan pendampingan yang intensif. Ketiga, dalam model Jigsaw, terdapat mekanisme tanggung jawab individu dan kelompok secara bersamaan, sehingga setiap siswa terdorong untuk berpartisipasi aktif. Sebaliknya, dalam model autonomous learner, keberhasilan sangat bergantung pada motivasi intrinsik siswa, yang tingkatnya dapat bervariasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan hasil antara kedua model tidak hanya disebabkan oleh strategi pembelajaran itu sendiri, tetapi juga oleh kesesuaian model dengan karakteristik siswa. Model Jigsaw lebih efektif dalam konteks siswa sekolah dasar karena mampu mengakomodasi kebutuhan interaksi sosial, sedangkan model autonomous learner lebih cocok diterapkan pada siswa dengan tingkat kemandirian belajar yang lebih tinggi. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran autonomous learner yang dipadukan dengan model kooperatif tipe jigsaw mampu memberikan perbaikan dalam proses dan hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Perbaikan tersebut tidak hanya terlihat dari peningkatan 166 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effectiveness of the Autonomous Learner and Jigsaw Cooperative Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fourth-Grade Students at SDI Bonerate No. capaian akademik, tetapi juga dari berkembangnya kemandirian belajar, keaktifan, kemampuan berkomunikasi, serta kerja sama antar siswa selama pembelajaran berlangsung. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan kedua model pembelajaran secara terpadu yang dapat menjadi alternatif strategi bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa. Pendekatan ini mendorong siswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolah dan membangun pengetahuan secara mandiri maupun melalui interaksi Namun demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan, di antaranya penggunaan desain pre-eksperimen tanpa kelompok kontrol serta jumlah sampel yang terbatas pada satu kelas, sehingga generalisasi hasil penelitian masih perlu dilakukan dengan hati-hati. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain eksperimen yang lebih intens, melibatkan sampel yang lebih luas, serta mengkaji penerapan model ini pada mata pelajaran atau jenjang pendidikan yang berbeda. Dengan demikian, keberlanjutan penelitian ini diharapkan dapat memperkuat bukti empiris mengenai efektivitas pembelajaran yang mengintegrasikan kemandirian dan kerja sama siswa. DAFTAR PUSTAKA