SIPISSANGNGI Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. lppm-unasman. id/index. php/sipissangngi SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. ISSN. : 2775-2054 IMPLEMENTASI MODEL STRATEGI PEMASARAAN RACE PADA KELOMPOK BUMDES SITIROANG DECENG Article history Received: 03 April 2026 Revised: 16 April 2026 Accepted: 23 April 2026 DOI: 10. 35329/jp. 1*Rahmat Riwayat Abadi, 2Ayu Kartini Parawansa, 1Ridfan Rifadly Abadi, 1Annisa Paramaswary Aslam, 1Anindya Dwi Ningtyas 1Program Studi Manajemen. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia, 2Program Studi Agroteknologi. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia *Corresponding author abadi@unm. Abstrak Bentuk kepedulian terhadap perekonomian daerah . dengan potensi lokal setempat adalah mampu menghubungkan usaha masyarakat dan BUMDes. Salah satu BUMDes yang berada di Kabupaten Bone dan bergerak di usaha konveksi adalah BUMDes Sitiroang Deceng. Potensi yang ada pada BUMDes tersebut terbilang cukup baik karena mampu mengelola dan membangun usaha yang sesuai dengan karakteristik lokal serta menyerap tenaga kerja. Namun dalam perjalanannya. BUMDes Sitiroang Deceng tetap dihadapkan pada berbagai permasalahan. Permasalahan yang ditemui adalah kapasitas produksi yang dihasilkan kelompok usaha tersebut belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar. Produksi pakaian yang mampu dihasilkan oleh kelompok usaha ini hanya sekitar 44,78% dari jumlah permintaan yang ada. Selain itu, masih belum optimalnya strategi pemasaran yang dilakukan, sebab pesanan dari luar daerah jumlahnya masih sangat terbatas dan volumenya masih sangat kecil. Metode yang akan digunakan dalam penerapan solusi pada kegiatan ini adalah pelatihan dan pendampingan aspek produksi serta aspek pemasaran. Hasil kegiatan ini memberikan informasi . terjadi persentase peningkatan kapasitas produksi sebesar 23,53%, dan . mitra mampu menyerap materi pelatihan dan pendampingan sebesar 77,78% sehingga diharapkan mitra mampu mengelola strategi pemasaran untuk menjangkau dan memperluas market. Kata kunci: BUMDes. Model RACE. Aspek Pemasaran. Aspek Produksi. Daya Saing Gambar 1. Kelompok BUMDes Sitiroang Deceng Volume 6. Nomor 2. Juni . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA PENDAHULUAN Komitmen terhadap perekonomian daerah . dan potensi lokal ditunjukkan dengan kemampuan menghubungkan usaha masyarakat dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. BUMDes bertujuan mendukung dan menggali potensi, meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat (Tafhana et al, 2. Namun, karena berbagai alasan, baik terkait prosedur administratif maupun kelayakan ekonomi, banyak desa di Indonesia masih kurang memperhatikan pembentukan lembaga ekonomi desa tersebut (Lenama, 2. Kebijakan pemerintah diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, sehingga BUMDes perlu adaptif dengan bertransformasi menuju digitalisasi ekonomi melalui kewirausahaan digital (Mavilinda et al, 2021. Wardana et al. Menurut data tahun 2022 dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Bone, tercatat ada 13. 000 UMKM di Kabupaten Bone . Namun, jumlah pasti Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. di Kabupaten Bone. Sulawesi Selatan, belum Selain itu, terdapat 1. 519 BUMDes di Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu kelompok usaha tersebut di Kabupaten Bone adalah industri garmen, yang merupakan bagian dari BUMDes Sitiroang Deceng. BUMDes Sitiroang Deceng didirikan pada tahun 2017 dan secara administratif ditetapkan oleh Kementerian Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada tanggal 28 Februari 2023. Kelompok usaha garmen yang dikelola oleh BUMDes Sitiroang Deceng ini beranggotakan sekitar 11 orang. Kelompok ini awalnya dibentuk untuk melatih keterampilan warga. Potensi kolaborasi antara BUMDes dan perajin cukup baik, karena BUMDes menyediakan wadah bagi perajin untuk memproduksi pakaian sesuai permintaan (Gambar . Permintaan pesanan dari kelompok usaha garmen ini cukup bervariasi dan cenderung musiman, tergantung pada acara-acara tertentu. Namun, jika permintaan pesanan cukup besar, para perajin merasa tidak mampu untuk menanganinya karena keterbatasan peralatan dan proses produksi yang masih konvensional. Industri garmen memiliki akses produksi yang terbatas karena penggunaan mesin jahit konvensional, yang membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan produk. Kapasitas produksi kelompok usaha ini belum mampu memenuhi semua permintaan pasar, karena konsumen biasanya harus menunggu cukup lama untuk menerima produk mereka. Kelompok usaha ini mampu memproduksi 300 potong pakaian per bulan. Namun, jumlah ini masih jauh dari harapan, karena pesanan dari sekolah untuk penerimaan siswa baru cukup tinggi pada bulan kelima hingga kedua belas. Angka ini tentu masih jauh dari harapan, karena rata-rata jumlah pesanan dapat mencapai 680 selama bulan-bulan Ini berarti bahwa hanya sekitar 44,78% dari permintaan yang dapat direalisasikan oleh kelompok usaha ini, suatu angka yang masih jauh dari harapan. Salah satu penyebab kapasitas produksi yang tidak optimal ini adalah kelompok usaha hanya memiliki empat mesin, yang membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama ketika menerima pesanan dalam jumlah besar. Gambar 2. Proses Produksi Kelompok Usaha Konveksi BUMDes Sitiroang Deceng Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA Dari segi pemasaran, pangsa pasar usaha konveksi masih terbatas karena terkendala pada minimnya konsep strategi pemasaran yang masih bersifat, sehingga segmen konsumennya pun terbatas, terutama institusi dan sekolah. Keterbatasan akses pasar ini disebabkan oleh strategi pemasaran yang belum optimal. Dalam memasarkan produknya, para pengrajin belum memanfaatkan media promosi yang tersedia saat ini. Produk dipasarkan di wilayah sekitar yang berbatasan langsung dengan kecamatan terdekat. Kalaupun ada pesanan dari luar daerah, jumlahnya masih terbatas dan volumenya sangat Mayoritas anggota kelompok belum memiliki keterampilan yang memadai untuk memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce secara efektif. Pengembangan strategi pemasaran dari tradisional ke konvensional . ermasuk digita. diperlukan untuk menjawab tantangan terkini. Kebutuhan ini muncul akibat pergeseran pola perilaku konsumen yang diiringi oleh kemajuan teknologi. Pendekatan tradisional perlu dipadukan dengan pendekatan digital agar lebih terarah dan terukur, sehingga dapat disesuaikan dengan preferensi konsumen. Pemasaran digital adalah teknik pemasaran yang utamanya memanfaatkan internet sebagai media pemasarannya (Adinugraha et al. , 2. Salah satu alasan pemasaran digital menjadi strategi pemasaran alternatif adalah biaya yang lebih rendah dan terukur. Strategi pemasaran digital digunakan oleh bisnis untuk mengoptimalkan potensi upaya pemasaran digital mereka (Dermawansyah & Rizqi, 2021. Abadi et al. , 2. Desain strategi pemasaran digital disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan bisnis. Baik perusahaan ingin meningkatkan penjualan maupun menginformasikan keberadaannya kepada publik, penerapan strategi pemasaran digital akan terus berkembang berdasarkan hasil evaluasi strategi sebelumnya. Untuk mengoptimalkan pemasaran di kelompok usaha konveksi BUMDes Sitiroang Deceng, strategi pemasaran digital yang dapat diterapkan adalah model Reach. Act. Convert, and Engage (RACE). Model ini memungkinkan bisnis untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi strategi pemasaran secara sistematis dengan membagikan perjalanan pelanggan ke dalam tahapan-tahapan yang mudah dikelola. Model RACE adalah kerangka kerja yang dapat membantu merencanakan dan mengelola strategi media sosial (Naufal et al. , 2. Model ini dapat diterapkan untuk mengelola komunikasi pemasaran daring dan luring, memungkinkan pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan model bisnis baru atau mentransformasi model bisnis yang sudah ada agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Metode RACE berfokus pada strategi pemasaran digital yang dapat diimplementasikan dalam suatu bisnis, bagaimana membangun kesadaran pelanggan terhadap produk atau layanan yang ditawarkan, dan mengembangkan konten yang dapat meningkatkan lalu lintas internet perusahaan, mengonversi pengunjung menjadi pelanggan atau pembeli, serta membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan (Chaffey & Chadwick, 2. Pada tahap Reach, sangat penting untuk mempertimbangkan strategi peningkatan trafik di media sosial dan situs web, karena hal ini berkaitan erat dengan kesadaran dan brand awareness. Pada tahap act, pengunjung media sosial dan situs web didorong untuk terlibat melalui interaksi. Tahap selanjutnya adalah convert, untuk mengubah pelanggan yang sudah ada menjadi pelanggan tetap. Tahap terakhir, engage, sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan. Model ini memungkinkan pemasar untuk merencanakan dan mengelola upaya pemasaran digital secara lebih efektif, yang pada akhirnya mengubah mereka menjadi pelanggan setia (Rautela & Sharma, 2. Metode RACE lebih teknis dan praktis dalam memanfaatkan pemasaran digital melalui berbagai kanal (Febrianti, et al. , 2. Dengan menerapkan metode RACE, bisnis ini diharapkan dapat mendorong upaya pemasaran digital, dimulai dengan memperkenalkan layanan bisnis konvensional yang tersedia dan menyediakan katalog yang menarik, mendorong audiens untuk lebih terlibat, dan pada akhirnya mengambil tindakan yang lebih signifikan, yaitu menjadi konsumen. Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA Dengan mempertimbangkan berbagai potensi dan tantangan yang telah diuraikan, kegiatan ini bertujuan untuk membantu mitra menjadi lebih mandiri dan meningkatkan daya saing bisnis. Arah pengembangannya akan selaras dengan daya saing global dan berfokus pada peningkatan kewirausahaan, diikuti dengan kualitas produk. Dampak langsung dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas antara lain adalah peningkatan daya saing produk lokal. Inisiatif ini menguntungkan kelompok usaha karena memungkinkan mereka menyesuaikan produksi untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pasar. Lebih lanjut, program ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Dengan strategi pemasaran yang lebih efektif, individu dan wirausaha dapat meningkatkan penjualan produk atau layanan mereka (Seran Seran et al, 2023. Viddiastuti & Winowatan, 2. Masyarakat dengan keterampilan pemasaran yang lebih kuat akan mampu memperluas pasar dan memperkenalkan produk lokal kepada lebih banyak METODE Kegiatan ini diawali dengan survei awal pada April 2025 dan akan berlangsung selama enam bulan. Observasi langsung dan studi lapangan di kelompok usaha konveksi BUMDes Sitiroang Deceng dilakukan dengan pendekatan partisipatif-pasif, di mana tim pengabdian masyarakat (PKM) mengamati secara saksama seluruh proses produksi dan bisnis. Kegiatan yang diamati meliputi pengadaan bahan baku, produksi, pengelolaan inventaris, dan penerapan ilmu dan teknologi kepada mitra. Sepanjang rangkaian, tim memperhatikan dengan saksama kelayakan kualitas penerapan teknologi dan kualitas bahan yang digunakan serta alur kerja yang diterapkan. Pengamatan kondisi infrastruktur pendukung, seperti kualitas sarana produksi . esin jahit yang tersedi. , serta sistem pendukung operasional lainnya . engantaran pesanan dan interaksi konsume. Melalui tahapan ini, peneliti akan mendapatkan gambaran konkrit terkait aktivitas operasional mitra serta tantangan dan potensi yang Observasi dan studi lapangan ini memberikan landasan empiris yang kuat untuk memahami konteks bisnis yang dijalankan secara komprehensif. Metode yang digunakan dalam pelatihan dan workshop, yaitu penyuluhan, pendampingan, dialog, dan diskusi. Dalam praktek lapangan akan dilakukan pemaparan strategi pemasaran dengan menerapkan model RACE. Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksankan adalah sebagai berikut: Monitoring Penerapan Sosialisasi Teknologi Evaluasi Pelatihan Pendampingan Gambar 3. Tahapan-Tahapan Konkrit Pelaksanaan Kegiatan Secara keseluruhan, mitra yang terlibat dalam program kemitraan masyarakat ini adalah kelompok usaha konveksi BUMDes Sitiroang Deceng di Desa Ulo. Kecamatan Tellu Siattinge. Kabupaten Bone. Mitra terlebih dahulu memperkenalkan produk dan mengatasi kendala yang dihadapi dalam proses pemasaran, dilanjutkan dengan materi yang diberikan oleh tim pengusul. Oleh karena itu, untuk menciptakan sinergi, mitra diharapkan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini guna mendukung pencapaian target kegiatan. Bentuk partisipasi mitra yang bersifat fisik antara lain penyediaan tempat pelatihan dan Sementara itu, partisipasi nonfisik antara lain berupa pengalaman lapangan yang diperoleh melalui penyediaan produk dan model pemasaran yang diterapkan mitra untuk memasarkan produknya. Setelah pelaksanaan kegiatan ini, sinergi antara tim pengusul dan mitra diharapkan terjalin melalui evaluasi berkala. Program pengembangan strategi pemasaran dengan memanfaatkan model RACE ini diharapkan dapat terus berlanjut setelah kegiatan Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA pengabdian masyarakat ini. Oleh karena itu, rekomendasi berikut akan diimplementasikan oleh peneliti selama kegiatan pengabdian masyarakat: Untuk mengetahui efektivitas program, akan dilakukan penilaian dengan mengkaji pengetahuan mitra melalui kuesioner, wawancara, serta analisis pre- test dan posttest terhadap kelompok usaha konveksi BUMDes Sitiroang Deceng. Kegiatan serupa akan dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki manajemen strategi pemasaran dengan menerapkan model RACE yang berbasis kearifan lokal. Dengan target pasar kelompok usaha konveksi BUMDes Sitiroang Deceng, pengembangan pemasaran produk dapat Program pengabdian masyarakat ini menampilkan inisiatif kolaboratif dengan mitra untuk memberikan arahan dalam penerapan strategi pemasaran yang memanfaatkan model RACE dan memasukkan kearifan lokal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara kesuluruhan, mitra yang dilibatkan dalam kegiatan program kemitraan masyarakat ini adalah kelompok usaha konveksi BUMDesa Sitiroang Deceng di desa Ulo, kecamatan Tellu Siattinge, kabupaten Bone. Kegiatan tersebut dilaksakan pada hari Sabtu, tanggal 13 September 2025 dan diikuti oleh 22 orang peserta. Mitra kemudian dan mengemukakan kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pemasaran kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh tim. Adapun ilmu pengetahuan yang akan ditransfer kepada mitra berupa pemberian materi dan informasi mengenai teknik pemasaran model RACE. Ilmu ini perlu diterapkan dalam mengelola kegiatan pemasaran yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan penjualan serta mampu menjangkau market yang baru. Penerapan teknologi berupa pelatihan sosial media ads dan desain konten untuk peningkatan jangkauan pemasaran. Selain pemaparan materi, di akhir sesi, mitra diberikan bantuan berupa alat mesin jahit obras dan setrika uap untuk menunjang kapasitas produksi usaha mereka. Setelah kegiatan ini dilangsungkan dan penerapannya tepat sasaran melalui bantuan mesin jahit obras dan setrika uap boiler, terjadi persentase peningkatan kapasitas produksi sebesar 23,53% (Gambar . Implementasi teknologi dan inovasi model pemasaran RACE kepada masyarakat adalah sebagai upaya agar masyarakat dipandu untuk mengelola strategi pemasaran dengan menyediakan struktur yang jelas dan terukur untuk perjalanan pelanggan, mulai dari menjangkau audiens hingga membangun loyalitas jangka panjang. Model ini menyediakan kerangka kerja yang mudah diikuti untuk menyusun strategi pemasaran yang komprehensif dan terintegrasi, mulai dari kesadaran awal hingga loyalitas pelanggan. Implementasi usaha konveksi yang didukung teknologi pada BUMDes memiliki dampak sosial-ekonomi yang signifikan, dimulai dari penciptaan lapangan kerja yang langsung BUMDes dapat menjadi solusi nyata bagi masalah pengangguran di perdesaan, khususnya dengan menyediakan pekerjaan bagi ibu rumah tangga serta anak muda yang tidak melanjutkan pendidikan. Peningkatan kapasitas produksi yang dimungkinkan oleh teknologi seperti mesin obras dan setrika uap secara langsung berkorelasi dengan kebutuhan akan lebih banyak tenaga kerja. Penerapan teknologi seperti mesin jahit obras dan setrika uap pada usaha konveksi BUMDes adalah langkah yang sangat relevan dan strategis, dengan potensi dampak positif Investasi pada mesin jahit, mesin obras, dan peralatan pendukung lainnya yang lebih canggih mampu mempercepat proses produksi sehingga mampu memenuhi permintaan yang ada pada BUMDes Sitiroang Deceng. Secara ekonomi, teknologi ini meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi, yang tercermin dalam peningkatan omzet dan perluasan skala usaha. Secara sosial, penerapan teknologi ini menciptakan lapangan kerja, memicu efek multiplier ekonomi, dan mendorong inklusi sosial Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA Kapasitas Produksi Bumdes Sitiroang Deceng Series1 Sebelum Sesudah Gambar 4. Peningkatan Kapasitas Produksi Setelah Penyediaan Alat Peningkatan daya saing tidak akan lengkap tanpa strategi pemasaran yang kuat. Banyak usaha yang menghadapi masalah pemasaran karena kurangnya wawasan dan pengalaman serta rendahnya pemahaman tentang pentingnya branding dan teknologi PKM ini hadir sebagai solusi melalui luaran berupa pelatihan dan pendampingan pada BUMDes Sitiroang Deceng yang berfokus pada aspek-aspek ini. Implementasi strategi pemasaran yang diterapkan pada kegiatan pengabdian ini berupa strategi pemasaran dengan model RACE. Model RACE adalah kerangka kerja pemasaran digital yang siklis, dikembangkan untuk membantu organisasi dalam mengelola perjalanan pelanggan dari kesadaran awal hingga loyalitas. Tahap Reach bertujuan untuk memperluas visibilitas dan menjangkau calon pelanggan potensial. Setelah audiens dijangkau, tujuan tahap Act adalah mendorong mereka untuk berinteraksi secara aktif. Tahap Convert berfokus pada memfasilitasi audiens yang berinteraksi untuk melakukan tindakan yang berharga, yaitu Tahap Engage bertujuan untuk mempertahankan pelanggan dan mengubah mereka menjadi advokat merek. Hasil tes pre-test menunjukkan pengetahuan atau kemampuan awal subjek sebelum suatu intervensi atau pembelajaran dimulai, sedangkan hasil post-test menunjukkan pengetahuan atau kemampuan yang sama setelah intervensi atau pembelajaran Perbandingan kedua hasil tes ini digunakan untuk mengukur perubahan atau peningkatan yang terjadi dan mengevaluasi efektivitas suatu program, pelatihan, atau metode pembelajaran. Pelatihan implementasi model pemasaran RACE menggunakan tes tersebut untuk mengukur seberapa besar peningkatan pemahaman, keterampilan, atau pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan ini. Selain itu, untuk menilai apakah suatu program pelatihan atau metode pembelajaran efektif dalam mencapai tujuannya. Hasil Pre-Test dan Post-Test Implementasi Model Pemasaran RACE Axis Title Series1 Pre-Test Post-Test Gambar 5. Peningkatan Kapasitas Pemasaran setelah Kegiatan Pelathan Implementasi Strategi Pemasaran Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA Hasil Pre-Test dan Post-Test Implementasi Model Pemasaran RACE Pre-Test Post-Test Gambar 6. Hasil Pre-Test dan Post-Test Pelatihan Implementasi Model Pemasaran RACE Berdasarkan gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta menunjukkan peningkatan hasil dari pre-test dan post-test pelatihan implementasi strategi pemasaran model RACE. Mitra mampu menyerap materi pelatihan dan pendampingan dengan tingkat 77,88%, sehingga mereka dapat memahami manajemen strategi pemasaran dan menjangkau serta memperluas pasar. Perubahan ini menunjukkan bahwa peserta pelatihan implementasi model pemasaran RACE memperoleh pengetahuan sebagai hasil dari partisipasi mereka dalam kegiatan ini. Materi yang diberikan kepada peserta selama sesi pelatihan juga terbukti meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka. Uji perbedaan sampel berpasangan . aired sample t-tes. dilakukan untuk menguji ada tidaknya perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan ini. Uji perbedaan sampel berpasangan menguji perbedaan antara dua sampel yang berpasangan yang memiliki subjek yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda. Model uji perbedaan ini digunakan untuk memeriksa model penelitian sebelum dan sesudah implementasi. Metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas suatu perlakuan adalah paired sample t-test (Seran et al. , 2. Hasil analisis pre-test dan post-test dengan menggunakan paired sample t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kedua pengukuran . ebelum dan sesudah perlakua. Tabel 1. Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest Pre-Test Post-Test Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. ,150 ,200 ,965 ,784 ,150 ,200* ,934 ,316 Sumber: Data diolah peneliti, 2025 Hasil pengujian distribusi data pre-test dan post-test responden menggunakan statistik uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansi . -valu. uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05 pada data pre-test, yang menunjukkan bahwa asumsi normalitas Oleh karena itu, paired t-test dapat dilakukan secara parametrik. Tabel 2. Uji Hipotesis Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Std. 95% Confidence Deviation Error Interval of the Mean Difference Lower Upper Sig. Volume 6. Nomor 1. Maret . | eISSN: 2775-2054 Rahmat Riwayat Abadi, dkk. / Implementasi Model Strategi Pemasaraan Race Pada KelompokA Paired Samples Test Pair Pre-Test 6,267 Post-Test 3,515 ,907 -8,213 -4,320 6,906 ,000 Sumber: Data diolah peneliti, 2025 Tabel 2 menunjukkan nilai signifikansi yu= 0,05, sehingga disimpulkan bahwa signifikansinya adalah < 0,05. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini memiliki dampak signifikan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil penelitian ini memberikan pengaruh positif terhadap partisipan, yang menghasilkan peningkatan pemahaman dan pengetahuan tentang strategi pemasaran model RACE. SIMPULAN Penerapan teknologi seperti mesin jahit obras dan setrika uap pada usaha konveksi BUMDes merupakan langkah yang sangat relevan dan strategis, serta berpotensi memberikan multiplier effect. Secara ekonomi, teknologi ini meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi yang tercermin dari peningkatan omzet dan ekspansi usaha. Secara sosial, penerapan teknologi ini menciptakan lapangan kerja, memicu efek berganda ekonomi, dan mendorong inklusi sosial. Selain itu. BUMDes merasakan dampak yang signifikan akibat peningkatan kapasitas produksi karena diberikan perlengkapan berupa mesin jahit obras dan setrika uap. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kapasitas produksi sebesar 23,53%. Selain aspek produksi, penerapan strategi pemasaran dengan model RACE pada kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan usaha sebesar 77,88% setelah dilakukan analisis hasil pre-test dan post-test. Dari kegiatan ini, pengelola BUMDes dan masyarakat mulai. memperoleh pemahaman tentang konsep pemasaran digital dan teknologi yang dapat digunakan untuk mempromosikan produk, . membuat pesan persuasif yang menarik yang menarik pembeli, dan . membuat akun media sosial yang dikelola oleh pengelola BUMDes dan digunakan untuk mempromosikan dan mensosialisasikan produk BUMDes. DAFTAR PUSTAKA