DOI: https://doi. org/10. 33479/jtiumc. Jurnal Sains dan Aplikasi Keilmuan Teknik Industri (SAKTI) Journal of Industrial Engineering: Application and Research Volume 03 No. 01 Ae June 2023 Journal homepage: w. ISSN: 2829-8519 . Ae ISSN: 2829-8748 . Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis Chika Aurelia1, . Sunday Noya1, . Teguh Oktiarso1, . Author Affiliations 1Program Studi Teknik Industri. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Ma Chung JL. Vila Puncak Tidar Blok N-01. Malang. Indonesia, 65151 Author Emails . chikaaurelia2650@gmail. alexander@machung. oktiarso@machung. Received 10 April 2023 / Revised 19 April 2023 / Accepted 01 May 2023 / Published 06 June 2023 Abstract. PT Torabika Eka Semesta is a company producing healthy drinks and food. The existence of factories and various products certainly requires effectiveness and efficiency at work. The productivity level in the company is quite good, as seen from the achievement of the output target from January to December 2023 above 80%. The achievement of the output target can be caused by several things, such as off-production machines, delays in starting production, and output fluctuations. The purpose of doing productivity analysis is to discover the problems that affect productivity. The productivity analysis uses three methods: the Objective Matrix (OMAX), the Fault Tree Analysis (FTA), and the Analytical Hierarchy Process (AHP). The OMAX method is designed to calculate productivity values. The FTA method is used to identify how a problem can occur at the highest level in a system. The AHP method is used to calculate the weighting of each indicator. The results of the AHP method obtained values of 0. 1888, 0. 4121, 0. 1252, 0. 1728, 0. 1011 for indicator 1 to indicator 5 Then, using the OMAX method, the productivity values of 1. 640, 1. 415, 6. 665, 5. 548, 2. 371, 1. 227, 2. 470, 2. 089, 1. 387, 1. 591, 1. 396 were obtained from January 2022 to January 2023. Based on the calculation results, it is known that defect/rework output, machine stop time and late start of production are indicators that have deficient performance. Implementation was performed by attaching a "Cello Replacement Instructions" sticker to the machine. The implementation results showed an increase in productivity value in January by 1. Keywords: Analysis of productivity. Analytical hierarchy process. Fault tree analysis. Objective matrix Pendahuluan PT Torabika Eka Semesta merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang memproduksi minuman dan makanan sehat. PT Torabika Eka Semesta memiliki beberapa pabrik pada dua wilayah yang berbeda yaitu di Cikupa dan Balaraja. Pada wilayah Cikupa terdapat beberapa pabrik diantaranya yaitu ground II, instant, creamer, dan glucose. Sementara itu untuk pabrik yang berada di Balaraja terdapat beberapa pabrik, diantaranya yaitu health food, instant, creamer, pellet dan Citation Format: Aurelia. Noya. , & Oktiarso. Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis. Jurnal Sains dan Aplikasi Keilmuan Teknik Industri (SAKTI), 3. , 33-48. https://doi. org/10. 33479/jtiumc. Aurelia et al. Dalam setiap pabrik terdapat beberapa departemen diantaranya yaitu seperti warehouse, produksi, quality control. PPIC. IRGA, dan purchasing. Terdapat beberapa contoh produk yang diproduksi pada PT Torabaika Eka Semesta, dimana pada pabrik yang berwilayah di Cikupa memproduksi diantaranya yaitu Torabika Capucino. Torabika Creamy Latte. Torabika dua, dan sebagainya. Sedangkan pada pabrik Health Food yang berlokasi di Balaraja memproduksi beberapa produk diantaranya seperti Energen. Drink BengBeng, dan Champion. Perusahaan tersebut telah banyak menghasilkan produk yang menjadi pelopor dibagiannya masing Ae masing, seperti contohnya yaitu Torabika creamy latte yang menjadi pelopor coffee latte dengan sajian gula yang terpisah, dan Energen sebagai pelopor minuman sereal. Dengan adanya produk-produk yang beragam serta pabrik yang banyak, tentu memerlukan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Dalam menilai efektivitas dan efisiensi diperlukan adanya pengukuran produktivitas. Sejauh ini, efektivitas pada PT Torabika Eka Semesta sudah cukup baik dan efisien dilihat dari target output yang dicapai selama bulan Januari hingga Desember diatas 80%. Berdasarkan wawancara terdapat beberapa hal yang mempengaruhi pencapian target output diantaranya seperti mesin produksi yang off, dan keterlambatan start produksi. Selanjutnya, yaitu adanya fluktuasi output yang cukup sering merupakan salah satu hal mengapa perhitungan mengapa analisis produktivitas perlu untuk Menurut Sijoatmodjo & Hadi . suatu unit bisnis atau industri dapat dikatakan memiliki tingkat produktivitas yang baik jika sumber daya . aktor dari produks. yang ada mampu dikelola dengan baik. Analisis perhitungan produktivitas perlu untuk dilakukan guna untuk mengetahui dan mengevalusi indikator apa saja yang perlu untuk dikembangkan agar nilai produktivitas dapat meningkat. Terdapat beragam macam metode yang dapat digunakan untuk menganalisis produktivitas beberapa diantaranya yaitu. metode American Productivity Center (APC), metode objective matrix (OMAX), metode pengukuran David J. Sumant, dan metode POSPAC. Dalam penelitian pengukuran produktivitas kali ini akan menggunakan metode objective matrix (OMAX). Metode tersebut digunakan karena dapat secara ringkas mengkombinasikan beberapa kriteria yang penting pada produktivitas ke dalam suatu bentuk yang sistematis dan saling berkaitan. Penggunaan metode OMAX dapat berguna untuk mengetahui kriteria maupun hal- hal yang memiliki pengaruh secara besar terhadap indeks nilai produktivitas. Pada tahapan untuk mengidentifikasi masalah yang mempengaruhi produktivitas dapat dengan menggunakan metode fault tree analysis (FTA). Metode tersebut diterapkan untuk mendapatkan strategi implementasi yang dapat meningkatkan produktivitas. Dalam penggunaan metode objective matrix (OMAX) diperlukan adanya pembobotan pada setiap kriteria atau rasio produktivitas yang sudah dilakukan. Dalam pembobotan indikator akan digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Adanya penggunaan metode AHP dapat berguna untuk menentukan prioritas/bobot terhadap kriteria yang nantinya akan ditentukan (Wijaya & Purnomo, 2. Penelitian ini memiliki harapan agar bisa meningkatkan produktivitas pada para karyawan yang ada di PT Torabika Eka Semesta, dimana nantinya jika indeks produktivitas dapat meningkat maka output produk yang dikeluarkan juga dapat mencapai target secar maksimal. Metode Pada bagian metode penelitian akan diuraikan langkah Ae langkah sistematik, metode, serta pemecahan masalah yang dilaksanakan selama penelitian analisis produktivitas karyawan pada pabrik health food Balaraja divisi produksi. Dengan adanya metodologi penelitian dapat berfungsi agar tahapan analisis produktivitas karyawan mampu terlaksana secara terstruktur. Berikut merupakan metode-metode yang digunakan pada penelitian ini: Metode Objective Matrix (OMAX) Model metode OMAX pertama kali ditemukan oleh Prof. James L. Ringgs pada tahun 1980 yang merupakan seorang ahli produktivitas di Departement of Industrial Engineering at Oregon Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis State University (Avianda et al. , 2. Model metode OMAX pertama kali ditemukan oleh Prof. James L. Ringgs pada tahun 1980 yang merupakan seorang ahli produktivitas di Departement of Industrial Engineering at Oregon State University (Avianda et al. , 2. Model Objective Matrix (OMAX) merupakan suatu sistem pengurangan produktivitas parsial yang nantinya dapat dikembangkan dengan tujuan untuk memonitor produktivitas sesuai dengan kriteria produktivitas yang telah ditentukan. Tentunya dari setiap kriteria yang tentukan terdapat target yang ingin dicapai. Pencapaian target dapat diraih jika disertakan dengan perbaikan-perbaikan yang perlu untuk diterapkan. Menurut Rachmawati . terdapat beberapa bagian yang ada pada model OMAX diantaranya yaitu kriteria produktivitas, performansi, level, target, performansi standard, skor, bobot, dan indikator pencapaian. Kriteria produktivitas pada model objective matrix bermaksud sebagai kriteria yang dapat menunjukkan kegiatan serta faktor Ae faktor yang dapat menunjang produktivitas. Umumnya kriteria produktitvitas dinyatakan dalam bentuk rasio. Performansi sendiri merupakan bagian yang disusun dengan besaran pencapaian pada tiap kriteria yang ditentukan. Bagian level pada model objective matrix akan berupa angka yang memiliki arti sebagai penunjuk tingkat performansi dari setiap pengukuran di tiap kriteria. Pada bagian target akan diisikan terkait dengan pencapaian yang ingin dicapai dalam waktu dekat secara realistis. Performansi standard merupakan bagian tempat pengukuran kriteria produktivitas mulai dilakukan. Skor dapat ditentukan dengan berdasarkan nilai pengukuran produktivitas berada. Bobot merupakan bagian yang dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa setiap kriteria yang ada memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap tingkat produktivitas. Bagian lainnya yang ada pada model objective matrix yaitu nilai yang nilai yang didapatkan dengan berdasarkan rumus berikut : ycAycnycoycaycn O ycycoycuyc ycu ycaycuycaycuyc Gambar 1 merupakan gambar susunan struktur dasar pada model objective matrix (OMAX). Gambar 1 Struktur Dasar OMAX (Sumber : Rachmawati, 2. Aurelia et al. Dengan adanya perhitungan yang sudah dilakukan dalam penentuan nilai dalam objective matrix, maka dapat ditentukanlah nilai indeks produktivitas. Berikut merupakan rumus yang dapat digunakan dalam menghitung indeks produktivitas. yaycuyccyceycoyc ycEycycuyccycycoycycnycycnycycayc: ycuycnycoycaycn ycyyceycuycaycaycyycaycnycaycu. Oeycuycnycoycaycn ycyyceycuycaycaycyycaycnycu . cOe. ycu 100% ycuycnycoycaycn ycyyceycuycaycaycyycaycnycu . cOe. Tahapan Metode OMAX Model objective matrix (OMAX) pada awalnya dikembangkan oleh James L. Riggs yang dimana ia berpendapat bahwa produktivitas merupakan suatu hasil yang didapatkan dari beragam sumber kinerja yang berlainan. Terkait dengan konsep yang digunakan dalam metode objective matrix (OMAX) yaitu penggabungan sejumlah kriteria hasil kinerja kelompok ke dalam sebuah matriks (Nurdin, 2. Pada penerapannya terdapat tiga jenis tahapan yang ada pada model produktivitas objective matrix (OMAX) (Waluyo, 2. , diantaranya yaitu: Defining Adanya kriteria produktivitas pada bagian atas matrix yang berguna sebagai pembanding. Kriteria yang dipilih tidak boleh berkaitan antara satu dengan yang lain serta berupa faktor yang dapat diukur. Kriteria yang tetapkan perlu untuk dipertimbangkan secara mantang karena hal tersebut akan dikembangkan. Qualifying Tingkatan pencapaian suatu kriteria produktivitas akan ditunjukkan dengan menggunakan skala. Total terdapat 10 skala, dimana nilai 3 menunjukkan matrix pengukuran dimulai. Jika hasil kurang dari hasil minimum yang ada makan nilai kan dianggap nol. Setelah pengukuran pada setiap unit sudah dilakukan maka perlu untuk disertakan dan dikembangkan pada masukan dalam empat basis tingkatan, diantaranya A Tingkat 0 Merupakan tingkat rasio terendah bagi semua kriteria produktivitas pada akhir Pada tingkat ini dapat berupa data kondisi terburuk di masa lalu yang pernah A Tingkat 3 Merupakan performance standard yang didapatkan dari hasil pengukuran unjuk kerja pada kondisi normal yang direkap saat disusunnya skala pengukuran. A Tingkat 8 Merupakan rasio harapan, dimana berupa hasil pengukuran yang realistis yang ingin dicapai dalam kurun waktu yang dapat diduga. A Tingkat 10 Merupakan target yang ingin dicapai yang berbeda pada sebelumnya dalam kurun waktu periode tertentu. Tingkatan selain tingkat 0, 3, 8, dan 10 dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut (Rumapea, 2. yayceycyceyco 3Oeyayceycyceyco 0 3Oe0 yayceycyceyco 8Oeyayceycyceyco 3 yayceycyceyco . = 8Oe3 yayceycyceyco 10Oeyayceycyceyco 8 yayceycyceyco 9 = 10Oe8 yayceycyceyco . = . Monitoring Performance indicator merupakan dasar perhitungan dari metode OMAX, hasil perhitungan tersebut nantinya akan berada di paling bawah matrix. Pada tahapan ini diperlukan untuk melakukan perhitungan score, bobot dan nilai. Score didapatkan dari hasil pengkonversian setiap nilai performance yang dicapai. Bobot akan ditentukan sesuai dengan tingkatan kepentingan masing Ae masing indikator yang telah ditetapkan oleh Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis Bobot berguna untuk menunjukkan hubungan pada setiap indikator Pada bagian nilai didapatkan dari hasil perhitungan antara score dikalikan dengan bobot. Berdasarkan perhitungan tersebut, nilai akan dijumlah sehingga didapatkan performance indicator untuk periode tertentu. Metode Analytical Hierarchy Process Dikutip dari Taylor . metode analytical hierarchy process (AHP) merupakan metode yang digunakan sebagai jalan alternatif dalam mengambil suatu keputusan serta memilih kriteria Ae kriteria yang terbaik. Terdapat dua prinsip pada metode analytical hierarchy process (AHP) diantaranya yaitu decomposition dan comparative judgment. Decomposition sendiri merupakan memiliki makna yaitu membuat hirarki, dimana dalam sistem yang kompleks akan diuraikan menjadi sederhana. Comparative judgement memiliki pengertian sebagai penilaian pada suatu kriteria dan alternatif. Terdapat beberapa tahapan dalam proses analytical hierarchy process (AHP), diantaranya sebagi berikut: Menentukan permasalah serta menetapkan tujuan Menyusun masalah yang ditemukan ke dalam hierarki dengan guna masalah dapat dilihat dan diamati secara detail dan terukur. Menyusun prioritas pada setiap elemen masalah yang ditentukan pada hierarki. Melaksanakan uji konsistensi pada perbandingan antara elemen yang telah ditentukan pada tingkat hierarki. Dalam menetapkan nilai indeks dan rasio uji konsistensi dapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yaycuycuycycnycycyceycuycayc yaycuyccyceycu . = . uIycoycaycoyc Oe yc. /ycu yaycuycuycycnycycyceycuycayc ycIycaycycnycu . aycI) = yaycuycuycycnycycyceycuycayc yaycuyccyceycu yaycuyccyceycoyc ycIycaycuyccycuyco yaycuycuycycnycycyceycuycayc Kelebihan analytical hierarchy process (AHP) salah satunya yaitu dalam analisanya validitas diperhitungkan sampai dengan batas toleransi inkonsistensi dari beberapa kriteria serta pilihan alternatif yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh pengambil keputusan. Sementara itu untuk kekurangan metode analytical hierarchy process (AHP) salah satunya yaitu metode ini sangat bergantung pada persepsi atau penafsiran dari seorang ahli dalam memberikan penilaian. Metode Fault Tree Analysis (FTA) Pada umumnya metode FTA merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisis suatu kegagalan yang ada di sebuah sistem, dan kemudian sistem tersebut akan di analisis berdasarkan kondisi yang ada (Anthony dan Noya, 2. Menurut Djamal & Azizi . , pada tahap awal analisis menggunakan metode fault tree analysis (FTA) yaitu mengidentifikasi cara suatu masalah dapat terjadi pada level tertinggi . op even. di suatu sistem. Dilanjutkan dengan sketsa ilustrasi komponen sistem . asic even. Bersumber dari ilustrasi yang sudah digambarkan dapat dilihat hubungan antara basic event dengan top event yang dimana hubungan tersebut dapat dijelaskan pada gerbang logika. Terdapat beberapa simbol yang digunakan dalam penggunaan metode fault tree analysis (FTA). Simbol Ae simbol yang ada memiliki kegunaan untuk menggambarkan hubungan yang terjadi antara setiap kejadian pada suatu sistem. Gambar 2 merupakan simbol Ae simbol umum yang digunakan: Aurelia et al. Gambar 2 Simbol dalam Metode Fault Tree Analysis (FTA) (Kawalo,2. Kelebihan metode Fault Tree Analysis (FTA) yaitu dalam mengindentifikasi suatu masalah perhatian akan dipusatkan pada efek dari masalah yang ada. Metode fault tree analysis (FTA) berguna untuk mengetahui arah jalan suatu masalah pada sistem yang kompleks. Kekurangan metode fault tree analysis (FTA) yaitu dalam analisis metode tersebut hanya terdapat dua keadaan saja diantaranya yaitu berhasil atau gagal, serta dalam metode fault tree analysis (FTA) tidak ada jaminan bahwa semua penyebab suatu masalah sudah dilibatkan atau belum. Pengukuran Produktivitas Pengukuran produktivitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, diantaranya yaitu produktivitas operasional dan produktivitas finansial (Blocher et al. , 2. Diketahui bahwa produktivitas operasional merupakan rasio unit output terhadap unit input dengan satuan dalam Menurut Suprijotomo . , untuk menghitung produktivitas dapat menggunakan rumus sebagai berikut: ycEycycuyccycycoycycnycycnycycayc = ycuycycycyycyc ycu 100% ycnycuycyycyc Gaspersz . mengatakan bahwa terdapat manfaat yang didapatkan dari pengukuran produktivitas pada suatu perusahaan, diantaranya yaitu. organisasi dapat mengetahui serta melihat efisiensi dalam hal penggunaan sumber daya guna produktivitas meningkat. Hasil pengukuran dapat membuat organisasi bisa merancang sumber daya yang digunakan agar mampu menjadi lebih efektif serta efisien dengan perencanaan jangka pendek maupun dalam waktu lama. Hasil dan Pembahasan Penetapan Parameter Kriteria Dilandasi dari hasil diskusi dan wawancara dengan department head produksi dan mentor maka ditetapkan data primer atau indikator yang diambil akan berasal dari data Six Big Loses (SBL). Data Six Big Loses (SBL) merupakan hal Ae hal yang mempengaruhi operasi produksi menjadi tidak normal. Pada data SBL yang saya dapatkan dibagi dalam 7 bagian, diantaranya yaitu late start/ early stop, technical breakdown, setup and adjustment, idling & minor stoppages, reduced speed, defects and reworks, dan production order. Berikut merupakan indikator-indikator yang akan digunakan pada penelitian ini: Indikator 1 = Kuantitas output dihasilkan Kuatitas target output Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis Kuantitas output rework Indikator 2 = Kuatitas output dihasilkan Kuantitas output dihasilkan Jumlah tenaga kerja Total waktu late start produksi Indikator 4 = Total waktu ideal produksi Total waktu mesin berhenti Indikator 5 = Total waktu ideal produksi Indikator 3 = Nilai Produktivitas Parameter Kriteria Hasil data parameter kiriteria yang didapatkan selanjutnya akan dihitung produktivitasnya sesuai dengan indikator yang sudah ditetapkan. Data pengukuran produktivitas nantinya akan digunakan pada tabel Objective Matrix (OMAX). Tabel 1 merupakan tabel data produktivitas pada setiap indikator: Tabel 1 Data Produktivitas Indikator Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Indikator 1 (A/B) 1,0094 1,0063 1,0120 1,0145 1,0084 1,0133 1,0187 1,0040 1,0101 0,9996 0,9781 0,9537 Indikator 2 (C/A) 1,5076 1,4390 0,1890 0,2197 1,0300 1,2639 1,6013 0,8617 1,1856 1,4338 1,2638 1,4211 Indikator (A/D) 0,7060 1,0029 1,4902 1,6809 0,6960 0,5029 0,4219 1,1559 1,1507 0,8792 1,1531 1,1715 3 Indikator 4 (E/F) 0,7732 1,5310 0,1945 0,3378 1,0453 0,9501 0,7019 1,2414 1,1992 0,9522 1,4614 1,6127 Indikator 5 (G/F) 0,9677 2,0524 0,2709 0,2364 0,6914 0,6987 0,3190 0,9812 1,3922 0,9804 1,5137 1,9042 Penetapan Bobot Setiap Kriteria Berdasarkan dari hasil kuisioner yang didapatkan maka dapat dilakukan perhitungann pembobotan menggukan metode analytical hierarchy process (AHP). Tahapan pertama, yaitu hasil skala perbandingan pada kuisioner akan direkap ke dalam matriks perbandingan. Hasil skala perbandingan akan berupa bilangan desimal dengan total 4 angka dibelakan koma. Tabel 2 merupakan matriks perbandingan hasil jawaban kuisioner: Tabel 2 Tabel Matriks Perbandingan Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Jumlah Indikator 1,0000 0,1111 8,0000 7,0000 7,0000 23,1111 Indikator 9,0000 1,0000 0,1429 0,1250 0,1429 10,4107 Indikator 0,1250 7,0000 1,0000 1,0000 1,0000 10,1250 Indikator 0,1429 8,0000 1,0000 1,0000 0,2000 10,3429 Indikator 0,1429 7,0000 1,0000 5,0000 1,0000 14,1429 Tahapan selanjutnya yaitu menentukan matriks normalisasi dan eigen vector. Matriks normalisasi didapatkan dengan membagi antara nilai yang ada pada setiap sel dengan total jumlah Aurelia et al. nilai masing-masing indikator. Berikut contoh perhitungan matriks normalisasi untuk indikator 1,0000 Indikator 1 vs Indikator 1 = 23,1111 = 0,0433 0,1111 Indikator 2 vs Indikator 1 = 23,1111 = 0,0048 8,0000 Indikator 3 vs Indikator 1 = 23,1111 = 0,3462 7,0000 Indikator 4 vs Indikator 1 = 23,1111 = 0,3029 7,0000 Indikator 5 vs Indikator 1 = 23,1111 = 0,3029 Selanjutnya, eigen vector didapatkan dari hasil perhitungan rata Ae rata pada masing Ae masing Tabel 3 merupakan tabel matriks normalisasi beserta nilai eigen vector: Tabel 3 Tabel Matriks Normalisasi Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Eigen Vector 0,0433 0,8645 0,0123 0,0138 0,0101 0,1888 0,0048 0,0961 0,6914 0,7735 0,4949 0,4121 0,3462 0,0137 0,0988 0,0967 0,0707 0,1252 0,3029 0,0120 0,0988 0,0967 0,3535 0,1728 0,3029 0,0137 0,0988 0,0193 0,0707 0,1011 Pelaksanaan Uji Konsistensi Tahapan pertama dalam uji konsistensi yaitu menentukan vektor bobot dan vektor konsistensi. Masing-masing nilai sel pada matriks perbandingan akan dikalikan dengan nilai eigen vector masing-masing indikator yang sudah diketahui. Berikut merupakan cara perhitungan untuk vektor jumlah bobot: Indikator 1 vs Indikator 1 = 0,1888 ycu 1,0000 = 0,1888 Indikator 1 vs Indikator 2 = 0,4121 ycu 9,0000 = 3,7092 Indikator 1 vs Indikator 3 = 0,1252 ycu 0,1250 = 0,0157 Indikator 1 vs Indikator 4 = 0,1728 ycu 0,1429 = 0,0247 Indikator 1 vs Indikator 5 = 0,1011 ycu 0,1429 = 0,0144 Selanjutnya, jika perhitungan vektor jumlah bobot pada setiap sel sudah dilakukan maka akan didapatkan vektor bobot dari setiap indikator. Tabel 4 merupakan tabel vektor bobot: Tabel 4 Tabel Vektor Bobot Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Vektor Bobot Indikator 1 0,1888 3,7092 0,0157 0,0247 0,0144 3,9527 Indikator 2 0,0210 0,4121 0,8764 1,3822 0,7076 3,3993 Indikator 3 1,5104 0,0589 0,1252 0,1728 0,1011 1,9684 Indikator 4 1,3216 0,0515 0,1252 0,1728 0,5054 2,1765 Indikator 5 1,3216 0,0589 0,1252 0,0346 0,1011 1,6414 Tahapan selanjutnya untuk dapat menghitung consistency ratio diperlukan untuk mengetahui nilai rata-rata konsistensi (A) dan nilai consistency index. Nilai rata- rata konsistensi didapatkan dari rata-rata total nilai vektor konsistensi pada setiap indikator. Vektor konsistensi dapat diketahui dengan membagi nilai vektor bobot suatu indikator dengan total nilai rata-rata vektor jumlah bobot di setiap indikator yang ada. Berikut merupakan perhitungan nilai rata-rata vektor jumlah bobot: Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis 0,1888 3,7092 0,0157 0,0247 0,0144 = 0,7905 0,0210 0,4121 0,8764 1,3822 0,7076 Indikator 2 = = 0,6799 0,5104 0,0589 0,1252 0,1728 0,1011 Indikator 3 = = 0,3937 1,3216 0,0515 0,1252 0,1728 0,5054 Indikator 4 = = 0,4353 01,3216 0,0589 0,1252 0,0346 0,1011 Indikator 5 = = 0,3283 Indikator 1 = Tabel 5 merupakan tabel vektor konsistensi: Tabel 5 Tabel Vektor Konsistensi Avg Vektor bobot Vektor Konsistensi 0,7905 3,9527 5,0000 0,6799 3,3993 5,0000 0,3937 1,9684 5,0000 0,4353 2,1765 5,0000 0,3283 1,6414 5,0000 Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka didapatkan nilai rata Ae rata konsistensi (A) sebagai berikut: yuI= 5,0000 5,0000 5,0000 5,0000 5,0000 = 5,0000 Tahapan selanjutnya yaitu menghitungan consistency index. Berikut perhitungannya: yaycuycuycycnycyceycuycayc yaycuyccyceycu . = 5,0000 Oe 5 5Oe1 Jika nilai rata Ae rata konsistensi (A) dan consistency index sudah didapatkan maka dapat dilakukan perhitungan untuk consistency ratio. Karena terdapat total 5 indikator, maka akan dipilih nilai index random consistency (IR) untuk ukuran 5 yaitu sebesar 1,12. Berikut merupakan perhitungan consistency ratio (CR) : yaycuycuycycnycyceycuycayc ycIycaycycnycu . aycI) = 1,12 = 0% Berdasarkan hasil uji konsistensi yang sudah dilakukan dapat disipulkan bahwa nilai eigen vector yang sudah ditentukan pada tahapan sebelumnya dapat digunakan sebagai pembobotan. Hal tersebut dikarenakan hasil nilai consistency ratio didapakan sebesar 0 % atau lebih kecil dari 10%. Tabel 6 merupakan tabel bobot untuk setiap indikator Tabel 6 Tabel Bobot Setiap Indikator Indikator Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Bobot nilai 0,1888 0,4121 0,1252 0,1728 0,1011 Penetapan Level Pada Objective Matrix Pada objective matrix umunya terdapat empat jenis level yang berbeda yaitu level 0, level 3, level 8, dan level 10. Level 0 merupakan nilai pencapaian terendah perusahaan dalam suatu jangka Level 3 merupakan nilai standar perusahaan dalam suatu jangka waktu yang ditentukan. Aurelia et al. Pada level 3 untuk indikator 1 dan 3 perhitungan dilakukan dengan merata-rata total jumlah seluruh nilai pada setiap indikator di bulan Januari 2022 hingga Desember 2022. Sedangkan untuk indikator 2,4, dan 5 nilai pada level 3 ditentukan dari perusahaan berdasarkan standar yang ada. Pada Level 8 merupakan target yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Pada indikator 1 dan 3 nilai level 8 ditetapkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yayceycyceyco 8 = ycAycnycoycaycn ycIycycaycuyccycayc . ycu 2% ycAycnycoycaycn ycIycycaycuyccycayc . selanjutnya pada indikator 2,4 dan 5 nilai level 8 ditentukan oleh perusahaan, pada level 10merupakan target lainnya yang ingin dicapai oleh perusahaan. pada indikator 1 dan 3 nilai pada level 10 ditetapkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yayceycyceyco 10 = ycAycnycoycaycn ycIycycaycuyccycayc . ycu 4% ycuycnycoycaycn ycoycaycu Dengan menggunakan rumus yang sudah diketahui maka didapatkanlah nilai level-level tersebut pada setiap indikator. Tabel 7 merupakan tabel nilai setiap indikator pada masing-masing level: Tabel 7 Tabel Level Setiap Indikator Level Level 10 Level 9 Level 8 Level 7 Level 6 Level 5 Level 4 Level 3 Level 2 Level 1 Level 0 Indikator 1 1,0588 1,0406 1,0224 1,0184 1,0144 1,0104 1,0064 1,0023 0,9861 0,9699 0,9537 Indikator 2 0,1008 0,1404 0,1800 0,1940 0,2080 0,2220 0,2360 0,2500 0,7004 1,1509 1,6013 Indikator 3 1,7210 1,3710 1,0210 1,0170 1,0130 1,0089 1,0049 1,0009 0,8079 0,6149 0,4219 Indikator 4 0,1008 0,1404 0,1800 0,1940 0,2080 0,2220 0,2360 0,2500 0,7042 1,1585 1,6127 Indikator 5 0,1008 0,1404 0,1800 0,1940 0,2080 0,2220 0,2360 0,2500 0,8508 1,4516 2,0524 Pengukuran Indeks Produktivitas Nilai indeks produktivitas didapatkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ycuycnycoycaycn ycyycycuycc ycaycycoycaycu ycycaycayc ycnycuycnOeycuycnycoycaycn ycyycycuycc ycaycycoycaycu ycyceycayceycoycycoycuycyca ycu 100% ycuycnycoycaycn ycyycycuycc ycaycycoycaycu ycyceycayceycoycycoycuycyca Tabel 8 merupakan tabel dan grafik hasil nilai produktivitas dan indeks produktivitas: Tabel 8 Tabel Nilai dan Indeks Produktivitas Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Oktober November Desember Nilai Prod 1,640 1,415 6,665 5,548 2,371 1,716 2,227 2,470 2,089 1,387 1,591 1,396 Index Prod -0,1374 3,7119 -0,1676 -0,5727 -0,2762 0,2981 0,1088 -0,1541 -0,3360 0,1466 -0,1221 Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis Nilai Produktivitas Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Oct Nov Des Gambar 3 Grafik Nilai Produktivitas Index Prod . %) 4. Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Oct Nov Des Gambar 4 Grafik Indeks Produktivitas Identifikasi Masalah Dalam tahapan identifikasi masalah akan digunakan traffic light system. Traffic light system suatu metode yang dapat digunakan untuk mempermudah dalam memahami pencapaian setiap bulannya dengan adanya bantuan dari 3 jenis warna yaitu merah, kuning, dan hijau. (Novita, et al. Pada tabel traffic light system akan berisikan pencapaian setiap indikator di setiap Nilai indikator di setiap bulannya akan dibandingkan dengan nilai dari level 0 hingga level 10 yang sudah ditentukan. Warna merah akan menunjukkan adanya penilaian yang kurang baik dan berada dibawah target perusahaan. Warna kuning akan menandakan bahwa pencapaian indikator sudah cukup walaupun memang belum mencapai target maksimum. Warna hijau menyatakan bahwa pencapaian sudah sangat baik hal tersebut dikarenakan nilai sudah mencapai target maksimum. Tabel 9 merupakan tabel traffic light system berdasarkan pencapaian indikator di setiap bulan. Tabel 9 Tabel Traffic light system Januari Februari Maret April Mei Indikator 1 (A/B) 1,0094 1,0063 1,0120 1,0145 1,0084 Indikator 2 (C/A) 1,5076 1,4390 0,1890 0,2197 1,0300 Indikator 3 (A/D) 0,7060 1,0029 1,4902 1,6809 0,6960 Indikator 4 (E/F) 0,7732 1,5310 0,1945 0,3378 1,0453 Indikator 5 (G/F) 0,9677 2,0524 0,2709 0,2364 0,6914 Aurelia et al. Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator 1 (A/B) 2 (C/A) 3 (A/D) 4 (E/F) 5 (G/F) Juni 1,0133 1,2639 0,5029 0,9501 0,6987 Juli 1,0187 1,6013 0,4219 0,7019 0,3190 Agustus 1,0040 0,8617 1,1559 1,2414 0,9812 September 1,0101 1,1856 1,1507 1,1992 1,3922 Oktober 0,9996 1,4338 0,8792 0,9522 0,9804 November 0,9781 1,2638 1,1531 1,4614 1,5137 Desember 0,9537 1,4211 1,1715 1,6127 1,9042 Merah Kuning Hijau Berdasarkan hasil diketahui bahwa indikator yang mempengaruhi nilai produktivitas pada line 1 departemen produksi pabrik health food yaitu indikator 2, indikator 4, dan indikator 5. Analisis Permasalahan Fault tree analysis merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi resikoresiko yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kegagalan (Hanif, et all 2. Tujuan dari metode fault tree analysis adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat menimbulkan suatu masalah . op even. Ketiga masalah yang sudah diidentifikasi akan ditetapkan sebagai top event di setiap fault tree diagram yang akan dirancang. Gambar 5, 6, dan 7 merupakan rancangan fault tree untuk masing-masing indikator : Kuantitas output defect/rework Gambar 5 Fault Tree Output Defect dan Rework Analisis Produktivitas PT Torabika Eka Semesta Menggunakan Metode Objective Matrix dan Fault Tree Analysis Waktu Mesin Berhenti Gambar 6 Fault Tree Output Waktu Mesin Berhenti Waktu Late Start Produksi Gambar 7 Fault Tree Output Waktu Late Start Produksi Implementasi Usulan Perbaikan Implementasi yang dilakukan pada pabrik health food pada bagian produksi line 1 dengan cara menempelkan sticker AuPetunjuk Penggantian CelloAy. Cello merupakan packaging material Aurelia et al. yang ada pada mesin dan selalu digunakan untuk mengemas produk. Implementasi tersebut dipilih karena hal tersebut belum ada dan dibutuhkan oleh para karyawan yang berada di departemen produksi line 1 pabrik health food. Sticker AuPetunjuk Penggantian CelloAy ditempelkan pada bagian bawah mesin Topack . igh spee. Total terdapat 17 sticker yang dipasangkan pada mesin high speed. Implementasi dilaksanakan pada hari Sabtu 24 Desember 2022. Tahapan implementasi akan belangsung selama 1 bulan lebih 1 minggu, yang dimana kegiatan tersebut akan berakhir pada akhir bulan Januari 2023. Isi dan design pada sticker AuPetunjuk Penggantian CelloAy dikonsultasikan dengan Production Department Head via WhatsApp selama 3 hari untuk menyesuaikan isi yang ada pada sticker petunjuk sesuai dengan cara-cara penggantian cello secara aktual di lapangan. Gambar 8 merupakan hasil akhir gambar design sticker yang dipasang pada mesin tersebut: Gambar 8 Sticker Implementasi Kesimpulan Nilai produktivitas yang tidak menentu dapat disebabkan oleh 3 bagian yaitu adanya fluktuasi output, target output yang tidak terpenuhi secara keseluruhan dan jumlah tenaga kerja. Berdasarkan hasil perhitungan setelah implementasi diketahui bahwa adanya perbedaan kenaikan nilai produktivitas di bulan Januari sebesar 0,2165 dibandingkan di bulan Desember. Tetapi jika dibandingkan pada bulan Januari 2022 maka terdapat penurunan nilai produktivitas sebesar 0,0270 di bulan Januari 2023. Adanya kenaikan atapun penurunan pada setiap performance, nilai indikator dan nilai produtivitas tidak dapat simpulkan sepenuhnya akibat dari adanya implementasi yang telah dilakukan. Kecilnya peningkatan nilai produktivitas yang dicapai dapat dikarenakan pelaksanaan implementasi yang tidak menyeluruh terhadap masalah yang ada pada perusahaan serta faktor eksternal perusahaan yang tidak dapat dikontrol. Daftar Pustaka