JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Juni 2024 Volume 11 Nomor 1 Kesenian Beluk Kampung Cirangkong. Desa Cikeusal. Kecamatan Tanjungjaya. Kabupaten Tasikmalaya: Bentuk dan Struktur Pertunjukan Grup Candralijaya Rizkia Fahira. Denden Setiadji. Budi Dharma Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya Jl. Tamansari No. KM 2,5. Mulyasari. Kec. Tamansari. Kab. Tasikmalaya. Jawa Barat 46196 E-mail: rizkiafahira2000@gmail. ABSTRAK Kesenian Beluk merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Beluk merupakan seni vokal tanpa instrumen masyarakat Sunda yang memiliki ciri khas suara yang unik karena dalam lantunan suaranya melengking dan meliuk-liuk sehingga dalam lantunannya memiliki nada yang tinggi sekitar 7-9 oktaf. Pada awalnya Beluk ini diperuntukan sebagai media komunikasi sekaligus media hiburan masyarakat saat ketika saat berladang, namun dengan seiring perkembangan zaman seni Beluk kini dipertunjukan di kalangan masyarakat umum untuk mengisi acara-acara tertentu dengan fungsi sebagai media hiburan khususnya di Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini secara spesifik meneliti kesenian Beluk di Grup Candralijaya dengan tujuan untuk mendeskipsikan bagaimana bentuk dan struktur kesenian Beluk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu dengan mengumpulkan beberapa hasil yang dilakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi, dan teknik analisis data. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah Bentuk dan Struktur pertunjukan kesenian Beluk grup Candralijaya ini memiliki tiga bagian dalam pertunjukannya yaitu bagian pembuka, bagian isi dan bagian penutup. Kata kunci: Beluk. Bentuk dan Struktur Pertunjukan. Grup Candralijaya Jurnal Awilara. ABSTRACT Art Outs is a traditional art originating from West Java. Beluk is a vocal art without instruments from the Sundanese people which has a unique sound characteristic because in the chant the voice is shrill and twisted so that in the chant it has a high pitch of around 7-9 octaves. At first Beluk is intended as a communication medium as well as a medium for entertainment for the people during farming, but with the development of the artistic era now it is performed among the general public to fill certain events with the function of being a medium of entertainment, especially in Cirangkong Village. Cikeusal Village. Tanjungjaya District. Tasikmalaya Regency. This research specifically examines art Beluk in the Candralijaya Group with the aim of describing the form and structure of Beluk. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach, namely by collecting several results using several data collection techniques in the form of observation, interviews, literature study, documentation and data analysis techniques. The results obtained in this research are the form and structure of artistic performances Beluk. The Candralijaya group has three parts in its performance, namely the opening part, the content part and the closing part. Keyword : Beluk. Candralijaya Group. Form and Structure of Beluk Jurnal Awilara. 63 A. PENDAHULUAN Kesenian merupakan sebuah dari kebudayaan yaitu sebagai pedoman hidup bagi Kesenian adalah salah satu unsur dari kebudayaan yang umumnya berkembang mengikuti program perubahan yang terjadi pada kebudayaan masyarakat, sehingga menjadi kenyataan bahwa kesenian ini sebagai unsur budaya dan tidak dapat terlepas dari kebudayaan itu sendiri, oleh karena itu kesenian tidak dapat menghindari dari perubahan yang terjadi pada kebudayaan yang meliputinya (Kayam, 1. Selain itu kesenian juga tidak terlepas dari kesenian-kesenian di daerah, kesenian daerah merupakan suatu perwujudan budaya yang memiliki prinsip dan nilai-nilai luhur yang harus dijungjung tinggi keberadaannya. Karena itu di dalam perkembangan kebudayaan perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengamalkan nilai- nilai kebudayaan daerah. Supaya seni daerah itu tidak hilang maka diperlukan adanya pewarisan budaya kepada generasi muda agar tumbuh rasa cinta terhadap kesenian daerahnya. Kesenian daerah ini tidak terlepas dari tradisi yang dimana tiap daerah memiliki tradisinya masing-masing, tradisi tersebut biasanya turun temurun seperti yang diungkapkan (Irianto, 2. bahwa kesenian tradisional ada dan berkembang melalui tradisitradisi suatu masyarakat serta untuk menopang dan mempertahankan kolektivitas sosial. Dari banyaknya kesenianAekesenian yang berkembang di daerah, salah satu kesenian yang ada di Jawa Barat terutama di Tasikmalaya adalah kesenian Beluk. Kebanyakan masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya masih menjungjung tinggi leluhurnya, oleh karena itu kesenian di Tasikmalaya biasanya tidak terlepas dari nilai-nilai dan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Nilai tradisi tersebut dijadikan dasar dalam sebuah unsur- unsur pertunjukan seni Beluk seperti harus menyajikan sesajen dan kemenyan sebelum berlangsungnya pertunjukan. Pada umumnya sejarah kesenian Beluk ini tidak hanya ada di Tasikmalaya saja tetapi ada juga di beberapa daerah lain di Jawa Barat seperti di daerah Banten, yang dimana kesenian ini sering juga dipakai sebagai kepentingan komunikasi, hiburan dan politik yang juga mirip seperti kesenian Beluk yang ada di Tasikmalaya. Kesenian ini juga sering digunakan oleh masyarakat Salah satu daerah yang masih menganut pada tradisi leluhurnya yaitu di Kampung Cirangkong. Desa Cikeusal. Kecamatan Tanjungjaya. Kabupaten Tasikmalaya di daerah ini memiliki kesenianbuhun yaitu kesenian Beluk sawah/Eok kesenian ini merupakan kesenian yang masih ada sampai saat ini dan masih aktif digunakan di Kampung Cirangkong. Masyarakat Jurnal Awilara. 64 kampung Cirangkong sudah mengenal kesenian ini karena biasanya kesenian ini sering dipakai untuk acara-acara hajatan seperti 40 hari kelahiran bayi, acara sunatan, dan acara-acara peringatan lainnya. Kesenian Beluk merupakan seni vokal tanpa iringin instrumen khas dari masyarakat sundayang sangat langka. Kata Beluk merupakan singkatan dari kata AuBAy yangberarti Besar dan Au ElukAy yang artinya Gorowok atau dalam bahasa Indonesia yaitu berteriak dalam arti kata ini bahwa Beluk itu teriakan tanda atau pemberitahuan kepada tetangga kampung. Menurut (Soepandi, 1. seni Beluk ini merupakan sajian sekar berirama bebas atau merdeka yang ornamen surupanya tinggi melengking. Seni Beluk berkaitan erat dengan seni sastra khususnya sastra wawacan yang menggunakan pupuh, biasanya terdiri atas pupuh kinanti, asmarandana ,dangdanggula, sinom, pangkur, lambang, ladrang, magatru dan pupuh Salah satu ciri khas dari seni Beluk ini yaitu lengkingan suara yang bernotasi tinggi dan suara yang meliukAeliuk. (Soepandi, 1. menyatakan bahwa Beluk merupakan bentuk seni suara bebas dengan pupuh sebagai sumber rumpaka yang banyak dinyanyikan dengan nada yang Kesenian Beluk ini lahir ditengah-tengah masyarakat Sunda yang dikenal sebagai masyarakat agraris atau peladang. Sehingga, banyak yang berpendapat bahwa kesenian Beluk ini awalnya adalah sarana komunikasi antar petani dan peladang. Pada awalnya kesenian Beluk ini hanya dipergunakan untuk media hiburan dan komunikasi, tetapi dengan perkembangan waktu kesenian Beluk ini menjadi sebuah seni pertunjukan ataupun hajat lembur yang sering dipergunakan masyarakat untuk acara 40 hari kelahiran bayi, acara sunatan, pernikahan dan acara peringatan lainnya, terutama di Kampung Cirangkong. Berkaitan dengan kesenian Beluk yang berada di Kampung Cirangkong. Desa Cikeusal. Kecamatan Tanjungjaya disana terdapat Grup yang bernama Candralijaya yang dimana Grup ini dipimpin oleh Bapak H. Ipin Saripin. Ama,Pd yaitu seorang guru yang sangat mencintai kesenian peninggalan karuhun pada tahun 1883. Nama Candralijaya ini diambil dari salah satu tokoh masyarakat yang mengembangkan kesenian Beluk yaitu Mbah Candrali dan dari sebuah nama lapangan sepak bola di Kampung Cirangkong yaitu Candralijaya atas gagasan H. Ipin Saripin. AMa. Pd selaku pimpinan sanggar. Selain mengembangkan seni Beluk, grup ini sering menampilkan terebang gebes, lais, rengkong, tutunggulan, bahkan debus. Grup Candralijaya kerap sesekali tampil dipanggung hajatan, atau panggung pertunjukan kesenian di sekitar Jurnal Awilara. 65 Tasikmalaya bahkan sampai ke Kota Jakarta. Pertunjukan seni Beluk ini biasanya dilakukan pada malam hari diawali dengan menyajikan sesajen dan kemenyan sebelum berlangsungnya acara. Seni Beluk inidimainkan oleh 12-13 orang dengan pembagian peran yang berbeda-beda. Seni Beluk dipimpin oleh seorang dalang, tugas seorang dalang adalah membacakan kalimat yang ada dalam wawacan, wawacan tersebut ditulis dalam aksara arab pegon tetapi dengan bahasa sunda. Dalang bertugas membacakan bait demi bait cerita yang ada di dalam wawacan tersebut kemudian melantunkannya dengan suara yang tinggi dan yang lain mengikutinya. Diantara beberapa pemain ada yang disebut tukang meuli, tukang naekeun. Biasanya tukang meuli melantunkan sesuai kekuatan lantunan tinggi nada suaranya sedangkan tukang naekeun yaitu penembang yang lantunan suaranya lebih tinggi dari penembang yang pertama. Dari setiap akhir bait pupuh dalam cerita tersebut diselingi dengan elokan secara serempak atau rampak yang disebut AumadakeunAy atau ngagongkeun. Kesenian Beluk di kampung Cirangkong ini memiliki keunikan dalam seni vokal yang sulit unutk ditiru generasiAegenerasi muda salah satunya nada yang tinggi dan melengking serta meliukAeliuk. Seni ini dibawakan dan dilantunkan dengan suara setinggi 7 Ae 8 oktaf. Sehingga, tak heran apabila anakAeanak muda mengalami hambatan dan kesulitan untuk belajar kesenian ini terutama anak muda di kampung Cirangkong, mereka kesulitan untuk menirukan nada yang tinggi sehingga untuk saat ini belum ditemukan generasi penerus kesenian Beluk. Seni Beluk biasannya sering disajikan oleh orang tua yang sudah lanjut usia dan memiliki latar belakang sebagai seorang petani. Beluk ini dipergunakan sebagai media komunikasi dan hiburan ketika mereka sedang suntuk pada saat membajak sawah, panen, dan kegiatan lainnya, mereka meyakini bahwa Beluk ini ketika dilantunkan atau disyairkan memiliki energi untuk memanggil para leluhurnya sehingga dapat memberikan kekuatan pada saat mereka bekerja. Meskipun kesenian ini memiliki keunikan dan ciri khas jika dibandingkan dengan jenis kesenian vokal tradisi Sunda lainnya, namun sayang tetapi masih banyak orang yang tidak tahu dengan kesenian buhun ini. Seiring perkembangan zaman dalam segala aspek, kesenian menjadi salah satu aspek budaya yang juga terdampak sehingga saat ini semakin banyak orang yang tidak mengetahui kesenian Beluk khususnya di Kabupaten Tasikmalaya. Minimnya eksistensi inilah yang menjadi salah satu faktor kesenian Beluk sulit berkembang. Mengingat kondisi masyarakat Jurnal Awilara. 66 pemilik kesenian tersebut juga kini memiliki tingkat kesadaran yang rendah untuk melestarikan warisan budaya seni Beluk. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan lebih mendalam tentang kesenian Beluk sehingga diharapkan dapat mendukung eksistensi kesenian Beluk. Untuk itu peneliti mengangkat penelitian dengan judul AuBentuk dan struktur Kesenian Beluk Grup Candralijaya Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya kabupaten Tasikmalaya. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi yang alami. Penelitian kali ini harus memiliki wawasan luas untuk bertanya, menganalisis dan mengkontruksikan objek ke arah mana fokus yang akan diteliti supaya menjadi jelas. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan variabel atau kondisi apa yang ada dalam suatu situasi dilapangan, dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka. Teknik pengumpulan data yang diperlukan adalah teknik pengumpulan data yang paling tepat,biasanya disusun dengan baik sehingga benar-benar tepat sesuai dengan apa yang Teknik ini dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memperoleh data dari seluruh masalah penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian yaitu mendapatkan data. Observasi adalah mencari mengumpulkan data atau fakta mengenai gejala tertentu secara langsung dengan alat-alat pengamatan indera. Dalam mencatat fakta atauteknik tertentu. Dalam hal observasi bertujuan sebagai studi pendahuluan untuk mengenal, mengamati, dan mengidentifikasi masalah yang akan diteliti, baik pengamatansecara langsung. Wawancara adalah proses dimana memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewawancara dengan informan yang dilakukan secara berkali-kali. Wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan data pendukung mengenai masalah yang akan diteliti untuk melengkapi penulisan, dan hasil temuan sebagai bahan acuan dengan cara memberikan berbagai pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada informan merupakan pertanyaan yang sesuai dengan pedoman wawancara dan observasi, setelah melalui tahap tersebut, data telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Jurnal Awilara. 67 Analisa data yang digunakan dalam penelitian yaitu mereduksi data Menurut (Sugiyono, 2. Aumereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada halhal yang penting, dicari tema dan polanyaAy. Sehingga data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan akan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data. Selanjutnya peneliti melakukan kegiatan triangulasi yang merupakan pengecekan atau memeriksa kembali data yang diperoleh oleh peneliti untuk memastikan bahwa data tersebut Dari semua data yang telah didapatkan peneliti melakukan penyusunan laporan hasil penelitian yang dilakukan secara sistematis untuk menghasilkan data dan informasi penelitian yang objektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mendapatkan beberapa temuan tentang bagaimana bentuk dan struktur penyajian kesenian Beluk di Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya. Namun sebelum membahas hal tersebut tentu penting untuk kita mengetahui gambaran umum dan sejarah singkat kesenian Beluk yang akan dibahas secara lebih rinci ke dalam beberapa poin sebagai berikut. Gambaran Umum Kesenian Beluk Pada tahun 1969 telah berdiri Sanggar yang bernama Candralijaya yang dimana ini merupakan sebuah Sanggar Seni yang didirikan oleh bapak H. Ipin Saripin Ama. Pd beliau merupakan salah satu orang yang dipercaya oleh Eyang Candrali untuk memegang dan meneruskan kesenian-kesenian salah satunya seni Beluk. Pada awalnya kesenian Beluk ini lahir di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat atau masyarakat Sunda yang dimana mayarakatnya sebagian besar berlatarbelakang sebagai masyarakat agraris yang memiliki mata pencaharian sebagai peladang . erhuma/petan. Di Kampung Cirangkong, kondisi daerah yang biasanya digunakan untuk berladangmemiliki jarak yang cukup berjauhan. Oleh sebab itu, untuk melakukan komunikasi para petani atau peladang harus menggunakan suara yang berfrekuensi tinggi . agar dapat terdengar dan dan komunikasi dapat terjalin dengan baik. Namun seiring perkembangan zaman kesenian Beluk Jurnal Awilara. 68 ini mengalami pergeseran fungsi yaitu sebagai hiburan dan sering dipertunjukan di acara-acara tertentu misalnya acara 40 hari kelahiran bayi, khitanan dan acara-acara lainnya. Pada dasarnya kesenian Beluk ini merupakan sastra wawacan yang dilagukan menggunakann pupuh seperti pupuh kinanti, asmarandana, pangkur, sinom dan pupuh lainnya. Mengenai sebuah wawacan. Rosidi mengemukakan bahwa wawacan ialah hikayat yang ditulis dalam bentuk puisi tertentu yang dinamakan danding. Danding ialah ikatan puisi yang sudah Adapun, secara harfiah wawacan berasal dari kata wawacan atau babacaan, yang berarti segala sesuatu yang dibaca dalam hal ini bentuk tulisan. Namun demikian jika dilihat dari sejarah tulisannya, naskah Beluk ini sendiri awalnya banyak ditulis menggunakan tulisan Arab Pegon (Aksara Arab yang dimodifikasi ke dalam bahasa Sund. Pada umumnya teks wawacan ini sudah didokumentasikan ke dalam sebuah buku ataupun naskah yang dimana proses pewarisannya dilakukan melalui tradisi tulis dengan cara penyalinan. Sehingga, pertunjukannya para seniman Beluk biasa menggunakan bantuan buku untuk membaca lirik . yang disesuikan dengan langgam pupuh. Kesenian Beluk biasanya disajikan oleh satu atau sekelompok orang sebagai . alang/juru il. , tukang meuli, tukang ngajual, dan tukang naekeun dan beberapa orang yang melantunkannya dalam bentuk nyanyian . Menurut beberapa narasumber, nama kesenian Beluk juga identik dengan teknik vokal yang digunakan dalam kesenian Beluk yakni suara yang dieluk-eluk. Dalam arti, suara pemain Beluk ini keras dan panjang. Sehingga ciri khas yang membedakan kesenian Beluk ini dengan jenis kesenian tradisi Sunda lainnya adalah seni suara menggunakan nada-nada yang tinggi tanpa diiringi instrumen musik tertentu . Jurnal Awilara. 69 Bentuk Penyajian Kesenian Beluk Dalam setiap pertunjukannya, seni Beluk memiliki ciri khas tersendiri yang dimana keunikan tersebut lahir dari sebuah suara . yang tidak biasa. Menurut (Soepandi, 1. seni Beluk merupakan sajian sekar irama bebas atau sekar irama merdeka yang ornamen surupan-nya tinggi dan melengking. Dengan keunikan tersebut, suara Beluk tidak dapat ditirukan oleh sembarang orang. Beluk ini dilantunkan/dinyanyikan dengan suara yang meliuk-liuk serta sangat melengkinglengking bahkan suara yang dikeluarkan mencapai 7-9 oktaf. Dalam bentuk pertunjukan kesenian Beluk tidak ini tidak hanya ditampilkan diatas panggung tetapi dapat dilakukan didalam rumah dengan cara duduk bersila . hanya beralaskan karpet. Pemain Beluk diposisikan duduk berjajar atau melingkar bersama keluarga yang mengundang pemain Beluk atau yang menggelar hajat/ acara. Seni Beluk dalam pertunjukannya masing berpegang teguh pada tradisi dan budayaleluhurnya . Pada setiap pertunjukannya selalu menyajikan sesajen dan kemenyan. Sesajen disini merupakan makanan, minuman dan yang lainya yang di peruntukan untuk para leluhur . yang ada di Kampung Cirangkong. Beberapa perlengkapan sesajenantara lain : Kemenyan, batok kelapa dan arang. Kegiatan ritual ini wajib dilakukan sebelum memulai pementasan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidakdiinginkan. Setelah menyiapkan sesajen para pemain Beluk berdoAoa bersama untuk kelancaran pertunjukan. Pertunjukan Beluk biasanya dimulai pada malam hari sekira pukul 19. 00 s/d pagi hari. Pada bagian pertama Beluk dipimpin oleh seorang dalang . ukang il. yang dimana bertugas untuk membacakan wawacan yang ditulis menggunakan Arab Pegon berbahasa Sunda. Orang yang bertugas menjadi seorang dalang harus fasih dalam membaca huruf Arab serta harus mengetahui guru lagu atau patokan-patokan pupuh. Setelah dibacakan oleh seorang dalang kemudian dilantukan oleh pemain Beluk lainnya secara bergiliran. Selain itu para pemain Beluk harus memiliki kualitas suara yang bagus serta menguasai semua pupuh termasuk cara menembangkannya. Kegiatan pertunjukan seni Beluk ini berlangsung terus menerus sampai pagi hari sesuai dengan wawacan yang dibacakan hingga Jurnal Awilara. 70 Struktur Penyajian Kesenian Beluk Penyajian Beluk p a d a acara syukuran panen padi pada jaman dahulu biasanya dilakukan dengan tata cara yang dilakukan dengan turun-temurun dari generasi ke generasi. Pertunjukan seni Beluk dalam penyajiannya selalu bergantung kepada wawacan yang akan dibawakan yang disesuaikan dengan tema dan tujuan pertunjukan. Lakon cerita dari naskah wawacan yang dibawakan dalam setiap penyajian seni Beluk mengandung makna tersendiri yang juga berkaitan dengan dunia supranatural dan hal-hal mistis. Hal itulah yang menyebabkan adanya prosesi sesajen yang bertujuan untuk membentengi pertunjukan dengan hal-hal mistis. Sebab, menurut para seniman jika prosesi sesajen ini tidak dilakukan seringkali memberikan dampak pada seniman Beluk yang seringkali kesurupan dan tidak sadarkan diri saat menyajikan Beluk. Adapun sesajen yang dimaksud yaitu sebuah persembahan kepada para leluhur berupa makanan dan minuman yang disinyalir merupakan AukesukaanAy para leluhur disaat mereka masih Sesajen tersebut disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang sengaja diundang pada pertunjukan Beluk. Kendati demikian, seiring perkembangan zaman terjadi pada prosesi sesajen. Saat ini masyarakat hanya melakukan prosesi doa tanpa menyajikan sesajen berupa makanan ataupun minuman untuk para leluhur. Hal ini berkaitan juga perkembangan ilmu pengetahuan dan penguasaan ilmu keagamaan masyarakat yang mulai menghindari tradisi buhun yang berbau kepercayaan animisme dan dinamisme. Menjelang pelaksanaan penyajian Beluk, ada beberapa persiapan yang biasa dilakukan. Para pemain Beluk biasanya mempersiapkan diri dan harus mempersiapkan beberapa perlengkapan yaitu, buku wawacan yang digunakan, dan memeriksa anggota atau para pemain Beluk yang akan melakukan pertunjukan. Walaupun kesenian Beluk sekarang telah bergeser sebagai sarana hiburan, namun dalam konteks teknis penyajiannya masih ada beberapa aturan yang digunakan secara turun-temurun yang diwariskan oleh leluhurnya. Berikut ini dijelaskan secara lebih lengkap tentang struktur pertunjukan yang meliputi bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup. Jurnal Awilara. 71 a. Bagian Pembuka Dalam penyajian kesenian Beluk para pemain Beluk biasanya sering bermain di dua tempat yaitu di dalam rumah atau diatas panggung, tergantung pada kebutuhan acara yang di gelar. Ketika seni Beluk dimainkan di dalam rumah biasanya para pemain Beluk menggunakan posisi duduk, sebaliknya apabila seni Beluk berada di atas panggung posisi pemain Beluk berdiri. Bagian pembuka diawali dengan ritual atau pembacaan doa kepada para leluhur yang sudah tiada yakni dimulai dari Eyang Candrali. Syekh Abdul Muhyi, dan sesepuh pemain Beluk lainnya . Prosesi ini ditandai dengan pembakaran kemenyan yang bertujuan untuk membuka ruang komunikasi dengan Audunia lainAy agar pemain Beluk dapat meminta izin dan memberikan penghormatan kepada leluhur sebelum mementaskan kesenian Beluk serta meminta restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kelancaran dalam pertunjukan. Bagian Isi Setelah melakukan kegiatan doa bersama kepada para leluhur selanjutnya pertunjukan Pada awalnya pertunjukan seni Beluk ini dimulai oleh juru Beluk . yang membaca wawacan atau pembacaan prolog. Dalam bagian ini, lagu yang disajikan yaitu pupuh sinom. Adapun salah satu contoh naskah pupuh yang digunakan pada pembukaan adalah sebagai berikut. AuSinomAy Ti payun nyanggakeun alamKa para tamu nu sumping Ti tebihna ti caketna Istri pameget ge sami Ti para kanca sim abdi Mugi ageung nya panuhunTina sanes kanten rumaos Sisip ti harta jng harti Para tamu pamuga janteun uninga Peryogi sadaya uninga Terebang gebes anu asli Dokapna ti pakidulan Kampung Cirangkong kawanti Patilasan para bupati Sukapura nu kacatur Jurnal Awilara. 72 Nya Raden Wangsa harita Waktos jumeneng bupati Tasikmalaya nu kawentar ayeuna Selanjutnya, naskah wawacan yang dibacakan oleh juru ilo dilagukan oleh juru tembang secara bergiliran dengan suara yang diawali dengan nada yang sedang hingga suara dengan nada paling tinggi meliuk-liuk dan melengking-lengking. Berdasarkan hasil pengamatan, pada setiap akhir kalimat wawacan kerap diselingi dengan alok secara bersamaan atau disebut Pertunjukan ini berlangsung secara berulang-ulang dengan durasi 30-60 menit. Hasil dari penelitian, diketahui bahwa pupuh yang digunakan dalam Beluk ini merupakan pupuh sinom dan pangkur yang dapat dilihat pada notasi berikut. Gambar 1. Notasi Beluk . upuh sino. umber: Dokumentasi pribadi Rizkia Fahira, 2. Jurnal Awilara. 73 Gambar 1 Notasi Beluk (Pupuh Pangku. (Sumber: Dokumentasi pribadi Rizkia Fahira, 2024 Lagu pupuh pangkur dan sinom seperti tampak pada notasi di atas merupakan contoh notasi Beluk yang sering dipakai dalam pertunjukan. Menurut informasi yang didapatkan dari narasumber dan seniman Beluk, selain ke dua jenis pupuh tersebut pada zaman dahulu pertunjukan Beluk juga seringkali mengambil wawacan dengan lagu-lagu pupuh buhun lain seperti pupuh asmarandana dan dangdanggula. Jurnal Awilara. 74 c. Bagian Penutup Tidak adanya ketentuan bahwa satu wawacan harus diselesaikan dalam satu malam, membuat penutupan pertunjukan Beluk menjadi lebih fleksibel dan kondisional. Terlebih untuk pertunjukan Beluk dalam konteks hiburan acara tertentu, penutupan pertunjukan Beluk sangat tergantung dari permintaan dan acara yang dilakukan. Kendati demikian, menuju bagian penutup pertunjukan Beluk biasanya ditandai dengan dalang . ukang il. yang mulai mengakhiri cerita wawacan yang dibawakan dengan menyimpulkan isi cerita dan menyelipkan nasihat atau pesan moral sesuai dengan wawacan yang dibawakan. Sebagai bagian pamungkas, para seniman Beluk biasanya menutup pertunjukan dengan memberikan salam hormat kepada para penonton. Pemain Kesenian Beluk Pertunjukan seni Beluk dilakukan oleh para pemain Beluk yang sering disebut juru ilo, tukang ngajual, tukang meuli tugas para pemain disini yaitu melantunkan nada yang meliuk-liuk yang dimulai dengan nada dasar yang sedang sampai ke nada yang tinggimelengking-lengking 7-9 oktaf. Kesenian ini memiliki beberapa istilah dan pembagian tugas untuk para pemainnya diantaranya Tukang ilo . Tukang ilo ini bisa disebut orang yang bertugas membacakan wawacan tanpa dinyanyikan/dilantunkan. Biasanya pemain ini memiliki fungsi yang sama dengan pembaca Wawacan ini dibacakan perbaris dengan tempo yang sedang dan artikulasi yang Tukang ngajual Tukang ngajual yaitu orang yang menyanyikan bagian wawacan yang sebelumnya telah dibacakan oleh tukang ilo, pemain ini memainkan dengan menyanyikan tanpa ornamen-ornamen atau dengan kata lain hanya dengan nada dasar yang tidak terlalu tinggi dan tanpa improvisasi nada. Jurnal Awilara. 75 c. Tukang meuli Tukang meuli merupakan salah satu pemain yang diberi tugas untuk melanjutkan nyanyian atau lagu yang sebelumnya telah disajikan oleh tukang ngajual. Tukang naekeun Tukang naekeun merupakan pemain yang bertugas untuk melanjutkan dan menaikan suara yang dinyanyikan oleh tukang meuli dengan nada yang tinggi. Sesuai dengan perannya masing-masing, para pemain kesenian Beluk biasanya menyajikan cerita yang dibawakan dengan cara bergiliran. Oleh sebab itu kesenian ini dimainkan dalam waktu Waktu Pertunjukan Waktu pertunjukan kesenian Beluk biasanya dilakukan pada malam hari, yaitu setelah waktu isya. Pertunjukan Beluk biasanya dilakukan semalaman suntuk, mulai pukul 19. 00 s/d Namun, dalam kondisi dan kebutuhan tertentu terutama apabila wawacan yang dibawakan belum selesai biasanya dilanjutkan pada malam berikutnya. Waktu pertunjukan Beluk dalam konteks hiburan juga biasanya sangat bergantung pada permintaan. Tidak menutup kemungkinan jika ada orang yang meminta untuk melakukan pertunjukan Beluk itu dilakukan selama beberapa hari maka akan dilakukan namun dengan spesifik waktu di malam hari. Tempat Pertunjukan Kesenian Beluk tidak memerlukan panggung khusus untuk dipertunjukan. Tak jarang para seniman Beluk melakukan penyajian dan pertunjukan Beluk di dalam rumah dengan posisi duduk Para penonton pun berada tidak jauh dari pemain dan menyaksikan secara santai. Kendati begitu, kesenian Beluk yang dipertunjukan untuk kebutuhan hiburan juga memungkinkan dipertunjukan di panggung. Terutama jika kesenian Beluk dipertunjukan pada acara-acara syukuran atau hajat lembur atau acara politik dan acara desa, pertunjukan Beluk biasa ditampilkan di panggung dengan posisi para pemain berdiri. Jurnal Awilara. 76 Busana Busana atau pakaian yang dipakai para seniman saat mempertunjukan Beluk tidak terlalu Namun, para seniman seringkali menggunakan busana khusus yang biasa digunakan masyarakat Sunda buhun atau masyarakat Sunda lama yang kini juga telah melekat menjadi identitas masyarakat Sunda yang lebih dikenal sebagai pakaian adat masyarakat suku Sunda Pangsi yang terdiri dari, baju kampret . , celana pangsi, iket . kat kepal. Gambaran kostum atau busana pangsi yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3. Kostum/ Busana yang digunakan para seniman saat pertunjukan Beluk Sumber: https://esqnews. id/berita/filosofi-pangsi-pakaian-adat-sunda Jurnal Awilara. 77 b. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di lapangan, peneliti memperoleh kesimpulan tentang bagaimana bentuk dan struktur pertunjukan Kesenian Beluk di Kampung Cirangkong. Desa Cikeusal. Kecamatan Tanjungjaya. Kabupaten Tasikmalaya. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa seni Beluk merupakan kesenian buhun yang sangat unik dalam seni vocal. Mesekipun kesenian ini sudah sangat jarang ditemui, namun dalam segi pertunjukannya kesenian Beluk ini masih aktif dalam pertunjukannya. Merujuk pada rumusan masalah yaitu mengenai bentuk dan struktur penyajian kesenian Beluk Grup Candralijaya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam pertunjukannya. Grup Candralijaya mempunyai tahapan-tahapan yang dilakukan ketika memulai sebuah pertunjukan salah satunya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagianpertama/pembuka, bagian isi dan bagian Dalam bagian pertama dilakukan dengan membaca doa bersama kepada leluhur, bagian kedua isi yang dimana isi tersebut dimulainya ngaBeluk secara bergiliran dan saling sambung menyambung, dan dibagian akhir diakhiri dengan penutup yaitu menutup salam dengan hormat kepada para penonton. Dari hasil penelitian ini juga peneliti memperoleh temuan yang dimana kesenian Beluk ini mengalami beberapa perubahan salah satunya dalam segi bentuk pertunjukannya. Berbeda dengan pada jaman dahulu yang dimana kesenian ini dilakukan oleh beberapa orang tetapi sekarang hanya tersisa dua orang pemain. Hal ini diakibatkan belum adanya generasi untuk kesenian Beluk. Namun kesenian ini tetap aktif walaupun dengan kurangnya generasi penerus tetapi masih ada salah satunya bapak Usuf dan bapak Aleh yang masih aktif dalam pementasan Beluk. Jurnal Awilara. DAFTAR PUSTAKA