JURNAL PENGABDIAN WIDYA DHARMA Volume 04 No. 02 Agustus 2025 E ISSN 2962-3758 TRANSFORMASI PEMBELAJARAN INTERKULTURAL MELALUI ENGLISH TALK CLUB (ETC): PENINGKATAN BERBICARA MAHASISWA ASING Inayatul Ulya1. Sarlita D. Matra2 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Pekalongan E-mail: inyatul. fkipunikal@gmail. Article Info ARTICLE HISTORY Received: 16/07/2025 Reviewed: 17/07/2025 Revised: 22/07/2025 Accepted: 01/08/2025 DOI: 54840/widharma. Abstrak Di masa transformasi global, kemampuan berbicara Bahasa Inggris menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa untuk menunjang komunikasi internasional dan pengembangan Namun, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan berbahasa lisan karena minimnya praktik dan interaksi nyata. Kegiatan English Talk Club (ETC) hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kendala tersebut melalui pendekatan pertukaran budaya. Program PkM ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa lokal, memfasilitasi pertukaran budaya antar mahasiswa, dan membentuk komunitas belajar bahasa yang aktif dan berkelanjutan Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, pelaksanaan diskusi tematik mingguan, pendampingan, evaluasi, dan Kegiatan ini melibatkan 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa anggota ETC Universitas Pekalongan dan mahasiswa asing dari Mariano Marcos State Univeristy. Filipina. Hasil kegiatan PkM menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri dan kelancaran berbicara mahasiswa, serta motivasi tinggi dari mahasiswa asing untuk mempraktikkan Bahasa Inggris dan mengenal budaya lokal. ETC berkembang secara organik melalui media daring dan partisipasi aktif mahasiswa lintas program studi. Dapat disimpulkan bahwa ETC merupakan strategi efektif dalam pembelajaran Bahasa berbasis komunitas dan budaya. Keywords: transformasi, interkultural. ETC, berbicara. PENDAHULUAN Di tengah dinamika global yang terus berkembang, kemampuan berbahasa Inggris menjadi keterampilan yang sangat penting bagi mahasiswa untuk mendukung komunikasi internasional dan pengembangan karier. Bahasa Inggris berperan sebagai bahasa pengantar dalam berbagai bidang akademik, profesional, dan sosial. Namun, masih banyak mahasiswa mengalami kendala dalam mengembangkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris karena minimnya kesempatan praktik langsung dan interaksi dengan penutur asli. Inayatul Ulya. Sarlita D. Matra/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Kehadiran mahasiswa asing di lingkungan kampus membuka peluang strategis untuk pertukaran budaya sekaligus berlatih Bahasa Inggris dalam konteks komunikasi nyata. English Talk Club (ETC) merupakan salah satu kegiatan yang di selenggarakan oleh Lembaga Bahasa Universitas Pekalongan yang menggabungkan pembelajaran bahasa dan interaksi budaya dalam bentuk diskusi santai dan interaktif. Kegiatan ini tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa lokal, tetapi juga memperkaya wawasan lintas budaya. Terdapat 40 % mahasiswa anggota ETC masih kurang percaya diri dan kurang lancar dalam berbicara Bahasa Inggris, yang dipengaruhi oleh kurangnya praktik dan interaksi nyata. Di sisi lain, mahasiswa asing juga membutuhkan media untuk memperkenalkan budaya mereka dan berlatih bahasa lokal. Permasalahan utama adalah bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran bahasa yang efektif dan inklusif dengan memanfaatkan potensi pertukaran budaya. Tujuan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini yaitu: . meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa lokal melalui interaksi dengan mahasiswa asing, . memfasilitasi pertukaran budaya yang memperkaya pemahaman antar peserta, dan . membangun komunitas belajar bahasa yang aktif dan berkelanjutan. Manfaat dari kegiatan ini yaitu: . meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan wawasan budaya mahasiswa lokal, . melatih mahasiswa asing berbahasa lokal dan berbagi budaya, dan . mendukung internasionalisasi pendidikan dan mempererat kerjasama lintas budaya. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran bahasa Menurut Goh & Burns . , kemampuan berbicara meningkatkan secara signifikan melalui pembelajaran yang melibatkan interaksi dan praktik langsung. Sementara itu, penelitian oleh Li dan Zhang . menekankan pentingnya kegiatan berbasis pertukaran budaya untuk meningkatkan motivasi belajar bahasa asing. Selain itu, studi oleh Kim dan Lee . menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran inklusif dan santai seperti ETC membantu mengurangi kecemasan berbicara mahasiswa dan meningkatkan partisipasi aktif. Pentingnya pertukaran budaya juga diungkap oleh Deardorff . , yang menekankan peran interaksi budaya dalam membangun kompetensi antarbudaya dan kemampuan berbahasa. Dengan demikian. ETC dapat mengembangkan pemahaman budaya. Kegiatan English Talk Club sebagai forum interaktif memungkinkan terjadinya praktik berbicara dalam konteks nyata serta pengembangan kesadaran budaya (Chen & Yang, 2. Penelitian terdahulu secara umum menyoroti pentingnya komunikasi lintas budaya sebagai sarana untuk membangun pemahaman, toleransi, dan kerja sama antar individu dari latar belakang Studi seperti yang dilakukan oleh Mudrik & Fawwaz . dan Muhtarom et. menekankan bahwa komunikasi antar budaya sangat krusial di era globalisasi, dan mampu mendorong empati serta menghapus stereotip. Dalam konteks ini, kegiatan English Talk Club (ETC) memiliki relevansi kuat karena melibatkan mahasiswa asing yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa lokal melalui diskusi berbahasa Inggris, sehingga mendorong pembelajaran bahasa sekaligus pemahaman lintas budaya. Berikutnya, penelitian Sunata . dan Azzahra & Samatan . menunjukkan bagaimana budaya memengaruhi komunikasi dan bagaimana hambatan seperti perbedaan bahasa dapat menghambat interaksi yang efektif. Namun, dengan strategi komunikasi yang tepat, kesalahpahaman budaya dapat dikurangi. Hal ini memperkuat urgensi program ETC sebagai wahana interaktif yang tidak hanya mengembangkan keterampilan berbicara dalam Bahasa Inggris, tetapi juga membekali mahasiswa dengan strategi komunikasi yang efektif dalam konteks lintas budaya, termasuk dalam penyelesaian konflik dan penguatan kerjasama. Inayatul Ulya. Sarlita D. Matra/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Berbagai penelitian seperti Lingga et al. Pasaribu et al. , dan Andriansyah et . mendukung gagasan bahwa pertukaran budayaAimelalui program seperti Pertukaran Mahasiswa MerdekaAimembantu mahasiswa memahami keberagaman, meningkatkan toleransi, dan membentuk karakter inklusif. Kegiatan ETC sejalan dengan nilai-nilai tersebut karena mempertemukan mahasiswa asing dan lokal dalam ruang belajar informal yang mendukung pertukaran nilai budaya. ETC bukan hanya forum belajar bahasa, tetapi juga sarana, eksplorasi budaya yang memperkuat pengalaman belajar lintas bangsa dan antar etnis. Penelitian Sabina & Sugito . dan Malinda & Najicha . menekankan pentingnya diplomasi budaya dan kewaspadaan terhadap dampak negatif westernisasi. Kegiatan ETC secara implisit menjalankan fungsi diplomasi budaya dengan mempromosikan budaya lokal kepada mahasiswa asing, sembari membuka ruang dialog tentang budaya mereka. Dengan pendekatan ini, mahasiswa lokal tidak hanya terpapar budaya asing, tetapi juga didorong untuk memperkenalkan dan membanggakan budayanya, yang secara tidak langsung menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas budaya nasional di tengah globalisasi. Kegiatan PkM yang dilakukan oleh tim pelaksana menawarkan pendekatan baru dengan mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Inggris dan diplomasi budaya dalam satu kegiatan berbasis komunitas. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya bersifat deskriptif atau evaluatif terhadap program formal seperti Pertukaran Mahasiswa Merdeka. PkM ini mengkaji kegiatan informal dan terstruktur ringan (ETC) sebagai medium pertukaran budaya yang langsung dan berbasis pertisipatif aktif. Kebaruan terletak pada peran mahasiswa asing bukan hanya sebagai subjek belajar, tetapi juga agen budaya dalam interaksi dua arah, yang tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris tetapi juga memperkaya pengalaman lintas budaya secara praktis dan kolaboratif dalam lingkungan kampus. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan metode partisipatif. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan kampus dengan peserta sebanyak 60 mahasiswa, terdiri dari anggota ETC Universitas Pekalongan dan mahasiswa asing dari Mariano Marcos State. Filipina. Kegiatan PkM ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan, yaitu Sosialiasi: mengundang anggota ETC dan mahasiswa asing untuk bergabung ke dalam English Talk Club. Pelaksanaan ETC: dilakukan sekali dalam sepekan, setiap pertemuan berdurasi 90 menit dengan tema diskusi berbeda yang mengangkat budaya dan kehidupan sehari-hari. Tim PkM memandu diskusi dan memberikan umpan balik. Pendampingan: Tim PkM melakukan monitoring dan memberikan motivasi peserta untuk aktif berbicara. Evaluasi: melakukan pre-test dan post-test kemampuan berbicara melalui kuesioner dan Refleksi dan Pelaporan: membahas hasil kegiatan dan rekomendasi untuk pengembangan kegiatan selanjutnya. Tim PkM melakukan observasi selama sesi ETC dan merekam kegiatan ETC sebagai bahan analisis kualitas komunikasi dan kepercayaan peserta dalam berbicara. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan English Talk Club (ETC) sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Lembaga Bahasa Universitas Pekalongan menunjukkan capaian positif dalam menjawab ketiga tujuan yang telah ditetapkan. Hasil pengamatan, wawancara, dan evaluasi partisipan menunjukkan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa UNIKAL dan mahasiswa asing dalam ETC memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa lokal, serta pemahaman lintas budaya. Inayatul Ulya. Sarlita D. Matra/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Gambar 1. Kegiatan ETC Gambar 2. Diskusi Interkultural Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan kegiatan ETC yang diikuti oleh mahasiswa Universitas Pekalongan dan mahasiswa asing. Mereka berdiskusi membahas topik yang telah ditentukan oleh tim PkM. Tujuan pertama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa Universitas Pekalongan melalui interaksi langsung dengan mahasiswa asing. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif mahasiswa lokal dalam percakapan berbahasa Inggris. Sebelum kegiatan dimulai, berdasarkan data awal, 40% mahasiswa ETC mengalami kendala dalam berbicara karena rasa kurang percaya diri dan terbatasnya pengalaman berbicara. Setelah mengikuti rangkaian diskusi dan aktivitas kelompok, sebagian besar peserta menunjukkan kemajuan dalam hal kelancaran berbicara, penggunaan kosakata yang lebih variatif, dan peningkatan keberanian untuk menyampaikan pendapat dalam Bahasa Inggris. Mahasiswa menyatakan bahwa keberadaan mahasiswa asing sebagai partner diskusi memberikan motivasi tambahan untuk berbicara dan mendengarkan secara aktif. Aktivitas permainan bahasa, simulasi peran, dan diskusi tematik terbukti efektif sebagai media pembelajaran yang menyenangkan namun tetap bermakna. Sedangkan tujuan kedua dari kegiatan PkM ini adalah memfasilitasi pertukaran budaya yang memperkaya pemahaman antar peserta. Dalam praktiknya, sesi ETC tidak hanya berfokus pada penggunaan bahasa, tetapi juga melibatkan tema-tema diskusi yang berkaitan dengan budaya lokal dan internasional seperti makanan tradisional, tradisi perayaan hari besar, pendidikan, dan etika sosial. Kegiatan seperti Culture Sharing Session dan Language Swap memberi ruang kepada mahasiswa asing untuk memperkenalkan budaya asal mereka, sementara mahasiswa lokal juga menyampaikan nilai-nilai budaya Indonesia. Interaksi ini memperkuat kesadaran budaya, toleransi, dan empati antar peserta. Beberapa mahasiswa lokal mengaku bahwa mereka memperoleh wawasan baru dan menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan budaya. Selanjutnya, tujuan ketiga dari kegiatan PkM ini adalah membentuk komunitas belajar bahasa yang aktif dan berkelanjutan. Pasca kegiatan, sebanyak 70% peserta menyatakan ketertarikan untuk melanjutkan kegiatan ETC secara rutin. Mahasiswa dari berbagai program studi mulai aktif merekomendasikan kegiatan ini kepada reka-rekannya. Selain itu, terbentuknya grup daring (WhatsApp Grou. memungkinkan peserta melanjutkan diskusi di luar sesi tatap Beberapa mahasiswa juga menyatakan keinginan untuk menjadi fasilitator atau mentor untuk sesi-sesi mendatang. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa kepemilikan dan semangat kolaboratif dalam komunitas ETC. Komitmen lanjutan dari Lembaga Bahasa Universitas Pekalongan untuk mendukung kegiatan ini menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan program. Inayatul Ulya. Sarlita D. Matra/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Hasil kegiatan PkM melalui program ETC menunjukkan relevansi yang kuat dengan berbagai temuan dalam penelitian terdahulu mengenai pembelajaran bahasa dan pertukaran Sejalan dengan Goh & Burns . serta Kim & Lee . , peningkatan kemampuan berbicara mahasiswa dalam kegiatan ini terjadi melalui interaksi langsung dalam suasana yang inklusif dan menyenangkan, yang terbukti mampu mengurangi kecemasan dan meningkatkan partisipasi aktif. Selain itu, motivasi belajar yang tumbuh akibat keterlibatan mahasiswa asing sebagai mitra diskusi mendukung temuan Li & Zhang . mengenai pengaruh positif pertukaran budaya dalam pembelajaran bahasa asing. Kegiatan seperti Culture Sharing Session dan Language Swap mendukung gagasan Deardorf . bahwa interaksi budaya secara langsung membangun kompetensi antarbudaya dan kemampuan komunikasi lintas budaya. Temuan PkM ini juga memperkuat argumen Mudrik & Fawwaz . dan Muhtarom et al. bahwa komunikasi antarbudaya menjadi sarana penting untuk menumbuhkan empati dan mengurangi stereotip. Dengan menghadirkan lingkungan belajar informal yang mendorong keterbukaan, toleransi, dan kolaborasi. ETC juga sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter inklusif sebagaimana disampaikan oleh Lingga et al. dan Pasaribu et al. Bahkan, peran ETC sebagai wahana diplomasi budaya yang memperkenalkan budaya lokal kepada mahasiswa asing mengukuhkan urgensi menjaga identitas nasional di Tengah arus globalisasi, sebagaimana ditegaskan oleh Sabina & Sugito . serta Malinda & Najicha . KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan PkM melalui English Talk Club (ETC) telah berhasil menjadi wadah efektif dalam mendukung peningkatan kemampuan berbicara mahasiswa asing sekaligus mendorong terjadinya pertukaran budaya. Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, mahasiswa asing tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan Bahasa Inggris secara aktif, tetapi juga memperluas wawasan mereka terhadap budaya lokal maupun budaya peserta lainnya. Interaksi yang dibangun selama kegiatan ETC menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan diskusi terbuka dapat menjadi metode yang efektif dalam pengembangan kompetensi lisan dan interkultural mahasiswa. Saran dari kegiatan PkM ini yaitu kegiatan ETC sebaiknya dilaksanakan secara berkelanjutan dengan topik-topik yang lebih variatif dan kontekstual untuk menjaga motivasi dan keterlibatan peserta. Perlu adanya pelatihan singkat bagi fasilitator atau mentor agar mereka mampu mengelola diskusi secara interaktif dan inklusif, melibatkan lebih banyak mahasiswa lokal guna memperkaya dinamika pertukaran budaya dan memperkuat hubungan sosial antarbangsa di lingkungan kampus, dan evaluasi berkala dan umpan balik dari peserta sangat penting untuk menyempurnakan konsep kegiatan dan memastikan relevansi dengan kebutuhan pembelajar. DAFTAR PUSTAKA