Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 MODEL TATAKELOLA PARIWISATA BERBASIS KOLABORATIF DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN COLLABORATIVE BASED TOURISM GOVERNANCE MODEL IN SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT Cecep Wahyudin1*. Robby Firliandoko2. Nadia Amalia3. Agra Alfin Zulfa4 1,2,3,4Program Studi Administrasi Publik. Universitas Djuanda. Jl. Tol Ciawi No. Ciawi. Bogor. Jawa Barat 16720. Indonesia *Korespondensi: Cecep Wahyudin. Email: cecep. wahyudin@unida. (Diterima: 16-04-2024. Ditelaah: 10-Juni-2024. Disetujui: 26-09-2. ABSTRACT Tourism has great potential to improve the economy, create jobs, and support the development of various regions. However, improper tourism management can cause problems such as environmental degradation, excessive tourism and unequal economic benefits. Therefore, it is essential that collaborativebased tourism management can be effective in developing sustainable tourism. This research aims to identify collaborative-based tourism governance research in tourism development. The output of this research is to provide recommendations for a collaborative-based tourism governance model to impact tourism development in the Tenjolaya sub-district. Bogor Regency. The research method used was descriptive qualitative with 28 informants from the sub-district government and the Tenjolaya tourism awareness group. After the data was collected using data collection techniques through observation, interviews, field notes, analytical memos, and document elicitation, the researcher continued the analysis of the data obtained and then confirmed it using data validity techniques. The research results show that tourism governance in Tenjolaya has implemented collaborative governance even though it is still local, so every indicator still needs to be optimally fulfilled using the good tourism governance model and the public-private partnership model. Thus, tourism governance in Tenjolaya must focus on good tourism collaboration so that tourism goals in Tenjolaya can be achieved based on fulfilling indicators that support good tourism governance, good tourism development and good tourism sustainability. Keywords: Collaborative Governance. Tourism Sustainability. Tourism Development. Tourism Governance. ABSTRAK Kepariwisataan mempunyai potensi besar dalam meningkatkan perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan mendukung pembangunan berbagai daerah Namun, pengelolaan pariwisata yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah seperti degradasi lingkungan, pariwisata yang berlebihan, dan manfaat ekonomi yang tidak merata. Oleh karena itu, sangatlah penting pengelolaan pariwisata berbasis kolaboratif dapat efektif dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengidentifikasi penelitian tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan pariwisata dengan output dalam penelitian ini yaitu memberikan rekomendasi model tatakelola pariwisata berbasis kelobaratif sihingga akan berdampak pada pengembangan pariwisata yang ada di kecamatan tenjolaya kabupaten bogor. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan jumlah informan 28 orang yang terdiri dari pihak pemerintah kecamatan dan kelompok sadar wisata tenjolaya. Setelah data terkumpul dengan Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, catatan lapangan dan memo analitik serta elisitasi dokumen maka peneliti melanjutkan analisa pada data yang telah di dapatkan kemudian dikonfirmasikan dengan teknik keabsahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa tatakelola pariwisata di tenjolaya sudah menerapkan tatakelola yang kolaboratif walaupun masih bersifat lokal sehingga belum terpenuhi secara optimal setiap indikator pada penggunaan model good tourism governance dan model public private partnership. Dengan demikian, tatakelola pariwisata di tenjolaya harus berfokus pada good tourism collaboration sehingga dapat tercapainya tujuan kepariwisataan di tenjolaya yang berlandaskan pada pemenuhan indikator-indikator yang mendukung good tourism governance, good tourism development dan good tourism sustainability. Kata kunci: Collaborative Governance. Keberlanjutan Pariwisata. Pengembangan Pariwisata. Tatakelola Pariwisata. Wahyudin, et al. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Wahyudin. Firliandoko. Amalia. , & Zulfa. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan. Jurnal Governansi, 10. : 147-164. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan suatu destinasi wisata yang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah dan dapat mengentaskan angka kemiskinan di daerah. Dengan adanya pengembangan terhadap pariwisata berkelanjutan maka menjadi peluang bagi masyarakat setempat dalam mengurangi pengangguran dan dapat membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dapat meningkatkan pendapatan pada masyarakat daerah. Oleh karena itu, pengelolaan pariwisata harus dikelola dengan sangat baik sehingga dapat mendatangkan kebermanfaatan. Namun, pengelolaan pariwisata yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah seperti degradasi lingkungan, pariwisata yang berlebihan, dan manfaat ekonomi yang Oleh pengembangan pengelolaan pariwisata yang efektif dan berkelanjutan sangatlah Salah pengelolaan pariwisata yang berbasis Pendekatan ini menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pemerintah, sektor swasta, masyarakat local dan LSM, dalam pengelolaan Melalui kerja sama ini, berbagai pihak dapat berkontribusi dalam perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan pariwisata dengan tujuan saling menguntungkan dan Hal demikian sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi proses tata kelola. Ketiga aktor tersebut adalah pemerintah, swasta, dan masyarakat (Abidin, 2013. Wahyudin. Apriliani, et al. Wahyudin. Subagdja, et al. , 2. Ketiga subjek ini saling berkolaborasi dalam proses pengelolaan negara. Pemerintah bukan lagi satu-satunya entitas yang memerlukan aktor lain karena terbatasnya kapasitas pemerintah. Pihak swasta dengan dukungan finansialnya harus mampu Dalam hal ini pihak swasta tidak diperbolehkan untuk melindungi kepentingannya, yakni hanya keuntungan pribadi. Sebagaimana hasil penelitian yang menyatakan bahwa dalam tatakelola pariwisata harus dilakukan secara bersamasama untuk mencapai pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di suatu daerah (Apriliani et al. , 2018, 2023. Kedasi Silayar. Ika Sartika, 2. Kecamatan Tenjolaya yang terletak di Kabupaten Bogor. Jawa Barat, merupakan kawasan dengan potensi wisata yang Adapun potensi pariwisata yang ada di daerah tenjolaya terdiri dari tiga kelompok pariwisata. Pertama, wisata budaya/religi yang ada di kecamatan tenjolaya seperti pemanfaatan cagar budaya yaitu wisata situs cibalay dan arca domas. Kedua, wisata alam yang ada di kecamatan tenjolaya seperti pemanfaatan keindahan alam yaitu terdapatnya berbagai macam curug meliputi curug ciampea, curug cipeuteuy, curug hiji, curug ciputri, curug kiara, curug sawer, wisata air telaga ciburial, sungai, perkebunan, perhutanan. Ketiga, wisata buatan yang ada di kecamatan tenjolaya dalam pemanfatan-pemanfaatan sumber daya alam yang ada seperti kolam renang aldepos, camping ground tenjolaya. Namun, potensi-potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal sehingga masih kurangnya ketertarikan wisatawan untuk mengunjungi destinasi wisata yang ada di tenjolaya karena belum adanya pengembangan Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 pariwisata yang berkelanjutan dalam pengelolaan potensi destinasi wisatanya. Sedangkan potensinya, pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya harus didukung dengan pengelolaan yang baik dan Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mengidentifikasi penelitian tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan pariwisata dengan output dalam penelitian ini yaitu memberikan rekomendasi model tatakelola pariwisata berdampak pada pengembangan pariwisata berkelanjutan yang ada di kecamatan tenjolaya kabupaten bogor. Dengan demikian, penelitian ini akan membawa manfaat yang sangat besar dengan adanya kolaboratif antara pelibatan pemerintahan, masyarakat dan sektor swasta bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan serta akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat lokal, lingkungan hidup, dan perekonomian. MATERI DAN METODE Dalam menggunakan kerangka konseptual model Good Tourism Governance menurut Sunaryo, . yang terdiri dari 10 prinsip dan model kemitraan pemerintah dan swasta . ublic private partnershi. menurut Franco & Estevyo, . yang terdiri dari 7 prinsip, konsep-konsep ini menjadi acuan dalam perancangan model tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan pariwisata di kecamatan tenjolaya kabupaten bogor. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, mtode deskriptif digunakan wawancara secara mendalam mengenai tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif di tenjolaya, kemudian pendekatan kualitatif dilakukan wawancara kepada informan dengan teknik purposive sampling yang terdiri dari 28 orang, 2 orang informan dari pihak pemerintahan tenjolaya dan 26 orang dari pihak pokdarwis, informan penelitian tersebut dapat dianggap mampu menjawab pertanyaan peneliti mengenai tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan wisata di tenjolaya. Kemudian, untuk memperkuat hasil penelitian peneliti menggunakan dua sumber data yaitu data primer dan data setelah data terkumpul dengan Teknik observasi, wawancara, catatan lapangan dan memo analitik serta elisitasi dokumen maka peneliti melanjutkan analisa pada data yang telah di dapatkan kemudian dikonfirmasikan dengan teknik keabsahan data (Abdussamad, 2022. Afrizal, 2016. Harahap, 2020. Imanina, 2020. Utama & Mahadewi, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pontensi wisata yang ada di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor sangat menjanjikan dalam mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika dilakukan pengelolaan yang sangat baik. Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor terdiri dari 7 desa, dari 7 desa tersebut setelah dilakukan identifikasi maka dapat ditemukan 3 desa yang memiliki potensi wisata menjanjikan diantaranya wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan untuk dilakukan pengembangan wisata. Sebagaimana Sekretaris Kecamatan Tenjolaya memaparkan bahwa: AuAPotensi untuk tempat wisata locusnya nanti bisa dari desa tersebut karena 3 desa ini potensial wisata ada aldepos kalau Tapos 1 arcadomas Tapos 2 ada gunung Malang itu gambaran awal nyay (Sumber: Wawancara pada tanggal 18 Januari Berdasarkan bersama sekretaris kecamatan tenjolaya dapat diketahui bahwa terdapat 3 desa yang Wahyudin, et al. mempunyai potensi wisata, diataranya: Desa Tapos 1. Desa Tapos 2 dan Desa Gunung Malang. Selanjutnya potensi wisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor budaya/religi maupun wisata buatan. Namun dalam pengelolaannya pihak pemerintahan Kecamatan Tenjolaya baru melakukan organisir tatakelola pariwisata secara resmi pada tahun 2023 yang seiring dengan adanya pembentukan kelompok sadar wisata (POKDARWIS) pada tingkat Kecamatan. Sebagaimana hasil wawancara bersama Camat tenjolaya yang menyatakan AuAKelompok Kecamatan Tenjolaya dibentuk pada tahun 2023 yang dimana anggotanya terdiri dari perwakilan masyarakat dari setiap desa dan juga ada keterlibatan dari karang taruna pemerintahan itu biasanya kami melibatkan langsung dari libid sektor kasi ketertiban umum dikawal dengan satpol PP itu yang selalu mendampingi dari kecamatan ini ke karang taruna untuk turun langsung ke lokasi, selain tingkat kecamatan ada juga karang taruna tingkat desa SK nya dari tingkat kepemudaan yang sudah jelas seperti ada kegiatan phbi tentunyay (Sumber: Wawancara pada tanggal 18 Januari 2. Berdasarkan hasil wawancara diatas, kabupaten bogor sudah dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata pada tingkat kecamatan dan desa dengan pelibatan kemitraan yang dilakukan dari pihak pemerintahan, swasta dan keterlibatan masyarakat, sehingga dapat menjadi potensi adanya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Adapun identifikasi potensi wisata tersebut dapat dilihat pada tabel 1 sebagai Tabel 1. Potensi Wisata Nama Desa Desa Tapos Potensi Wisata Curug Ciputri Camping Ground Curug Ciampea Camping Ground Curug Sawer Curug Goong Curug Cipeuteuy Curug Muara Arca Domas (Situs Cagar Buday. Watu Gulung (Tempa Kujang Tradisional & Panah Tradisiona. Wisata Rekreasi (Kolam Renang AlDepos Desa Tapos Desa Curug Gunung Luhur Malang Curug Hiji Talaga Ciburial Kampung Istal Jenis Wisata Wisata Alam & Buatan Wisata Alam & Buatan Wisata Alam Wisata Alam Wisata Alam Wisata Alam Wisata Budaya/Religi Wisata Budaya Wisata Buatan Wisata Alam Wisata Alam Wisata Alam Wisata Budaya Sumber: Hasil Penelitian 2024 Tatakelola kolaboratif menjadi salah satu perwujudan dalam pengembangan pariwisata. Oleh karena itu, tatakelola pariwisata harus dilakukan secara terorganisir sehingga pariwisata yang berkelanjutan. Tatakelola Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 pariwisata di Kecamatan Tenjolaya dikelola Lembaga melakukan kolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat. Dalam memaksimalkan pengelolaan potensi wisata yang ada di kecamatan tenjolaya maka Lembaga pemerintah yaitu pihak Kecamatan Tenjolaya membentuk Kelompok Sadar Wisata yang diharapkan dapat mewujudkan pemanfaatan potensi wisata yang ada diwilayah Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Dengan demikian, peneliti melakukan analisa tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif kepada pihak Pemerintah Kecamatan dan Kelompok Sadar Wisata dengan menerapkan konsep Good Tourism Governance menurut Sunaryo, . dan Public Private Partnership menurut Franco dan Estevyo, . untuk melihat sejauhmana tatakelola pariwisata yang dilakukan sehingga dapat terwujudnya keberlanjutan pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Good Tourism Governance Dalam Pengembangan Pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Pendekatan yang digunakan dalam mengukur tata kelola pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor, dengan menggunakan konsep teori Sunaryo . terdapat 10 Dimensi dalam Tata Kelola Pengembangan kepariwisataan yang baik (Good Tourism Governanc. Partisipasi Masyarakat Terkait Partisipasi Masyarakat mempunyai peran penting dalam pembangunan atau pengawas atau controlling yaitu keikut sertaan dalam menentukan visi, misi dan mengidentifikasi sumber-sumber daya yang akan dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk pengelolaan dan (Ridwanullah et al. , 2. Kemudian, dalam mendukung pengembangan pariwisata alam, buatan dan budaya/religi diperlukan pengukuran dengan keterlibatan partisipasi masyarakat sebagai kontribusi aktif untuk mewujudkan tatakelola pariwisata yang Aspek partisipasi masyarakat dapat menjadi unsur utama dalam tatakelola pariwisata yang baik. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor dapat menjadi suatu penggerak yang menginisiasi untuk melakukan pengembangan pariwisata yang Sebagaimana hasil wawancara dengan wakil ketua dan anggota pokdarwis kecamatan yang mengatakan bahwa adanya antusiasme keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata di kecamatan berkelanjutan maka masyarakat ikut terlibat dalam setiap kegiatannya serta memberikan dukungan kepada pihak pokdarwis dalam melakukan tatakelola pada setiap potensi wisata yang ada di setiap daerah kecamatan tenjolaya. Keterlibatan Segenap Pemangku Kepentingan Keterlibatan Segenap Pemangku Kepentingan mempunyai peran penting dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan, para pelaku dan pemangku kepentingan harus dilibatkan secara aktif dan produktif. Oleh karena itu, kolaborasi pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat diperlukan keterlibatannya sehingga adanya sinergitas dalam pembangunan dan Sebagaimana hasil wawancara dengan anggota pokdarwis yang mengatakan bahwa dalam proses pembangunan dan pengembangan pariwisata di kecamatan tenjolaya sudah adanya keterlibatan dari segenap para pemangku kepentingan Wahyudin, et al. namun masih bersifat terbatas. Oleh keterlibatan kepentingan secara daerah saja namun diperlukan keterlibatan secara menyeluruh mulai dari tingkat daerah, nasional dan international. Dengan demikian, maka keterlibatan dari setiap pemangku kepentingan tersebut harus adanya kolaborasi secara aktif pada setiap kegiatannya sehingga dapat mewujudkan tatakelola pariwisata yang kolaboratif dan Kemitraan Kepemilikan Lokal Kemitraan Kepemilikan Lokal mempunyai peran dalam memberikan dan membuka kesempatan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk masyarakat Seharusnya melalui model kemitraan strategis, secara bersama mengembangkan dan memelihara bersama usaha-usaha kepariwisataan serta restoran, hotel, cinderamata, dan transportasi wisata. Sebagaimana hasil wawancara dengan anggota pokdarwis yang mengatakan masyarakat dalam dalam kegiatan gebrak pasar untuk mewujudkan pengembangan UMKM. Pengembangan ini mempunyai masyarakat sehingga untuk pengelolaan pariwisata, kemitraan dengan masyarakat menjadi indikator yang harus ada. Kondisi dilapangan sendiri saat ini sudah ada beberapa yang menjadi mitra dari masyarakat seperti adanya galeri Baharudin di Kecamatan Tenjolaya yang menyediakan cinderamata khas wilayah tersebut, dihimpunnya umkm-umkm untuk menjadi bagian dari pengembangan kepariwisataan seperti tempat penempa kujang, kemudian kemitraan dengan warga setempat untuk penunjang penyiapan homestay. Pemanfaatan Sumber Daya Secara Berlanjut Pemanfaatan Sumber Daya Secara Berlanjut mempunyai peran program Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif kegiatan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan harus menjamin bahwa sumber daya alam, budaya dan buatan yang ada dapat dipelihara dan diperbaiki dengan menggunakan kriteria-kriteria dan standarstandar internasional yang sudah baku, artinya penggunaan sumber daya dalam pembangunan kepariwisataan harus dapat digunakan secara berkelanjutan dan menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui . secara berlebihan. Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua pokdarwis yang mengatakan bahwa pariwisata yang berkelanjutan maka pokdarwis kecamatan tenjolaya melakukan pengbangunanpembangunan yang dapat mendukung pariwisata seperti menjaga kelestarian budaya sunda. Karena pada dasarnya kekayaan bumi untuk selalu diperhatikan dan membawa nilai edukasi serta ekonomi pengembangan yang dilakukan akan kesejahteraan daerahnya. Mengakomodasikan Aspirasi Masyarakat Mengakomodasikan Aspirasi Masyarakat mempunyai peran dalam program kegiatan kepariwisataan, aspirasi dan tujuan masyarakat setempat hendaknya dapat diakomodasikan agar menimbulkan situasi atau kondisi yang harmonis antara pengunjung/wisatawan, pelaku usaha dan masyarakat setempat. Seperti adanya kerjasama dalam pengembangan atraksi wisata budaya atau cultural tourism partnership yang dapat dilakukan mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan atau manajemen, sampai tahap pemasaran. Sebagaimana hasil wawancara dengan sekretaris pokdarwis yang mengatakan bahwa pokdarwis kecamatan tenjolaya sebelum perencanaan dan pelaksanaan program-program yang dapat mendukung dilaksanakan komunikasi terlebiih dahulu bersama masyarakat setempat melalui Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 pelaksanaannya terdapat kolaborasi yang baik dari setiap kegiatan-kegiatannya untuk dapat berjalan secara tentram, tertib dan harmonis serta masyarakat menjadi faktor pendukung dalam penyediaan akomodasi yang dapat mendukung kebutuhan wisatawan seperti penyediaan transfortasi, oleh-oleh maupun homestay. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan mempunyai dukung lingkungan harus ada dalam pelaksanaannya harus sesuai dan serasi dengan batas-batas kapasitas lokal yang ada Hal itu merupakan sebagai mengembangkan berbagai fasilitas dan kegiatan kepariwisataan yang meliputi daya dukung fisik, biotik, ekonomi, dan sosialbudaya (Ridwanullah et al. , 2. Sebagaimana hasil wawancara dengan sekretaris pokdarwis yang mengatakan bahwa dalam tatakelola pengembangan mendapatkan dukungan dari pihak pemerintah/pengusaha/masyarakat dalam mengembangkan berbagai fasilitas dan Kemudian kecamatan tenjolaya juga merupakan termasuk kawasan hijau dimana banyak kekayaan alam yang sudah jelas ketersediaan unsur abiotik dengan banyaknya geosite, curug dan sungai yang menjadi destinasi wisata dan sebagai penyeimbang lingkungan dan adanya unsur biotik tersedia seperti manusia sebagai penikmat manfaat pemelihara wilayahnya serta tumbuhan dan hewan yang masih banyak seperti masih adanya Lutung. Surili. Owa, pohon pinus, pohon Kiara dan masih banyak lainnya yang tersebar di area tersebut (Ridwanullah et al. , 2. Selain itu dengan pertimbangan budayanya untuk diselalu dikedepankan agar menjadi ciri khas seperti adanya buda sunda serta dalam pembangunan fasilitas dilakukan dan disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan untuk menunjang pariwisata namun pembangunan fasilitas masih terbatas karna tidak banyaknya anggaran yang Monitor dan Evaluasi Monitor Evaluasi Program mempunyai peran dalam pembangunan dan mengawasi/ monitor dan evalusi mencakup beberapa kegiatan yaitu penyusunan pedoman, evaluasi dampak dari kegiatan wisata untuk mengukur dampak pariwisata sampai dengan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi keseluruhan kegiatan. Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua pokdarwis yang mengatakan bahwa dalam tatakelola pengembangan pariwisata dikecamatan tenjolaya belum terdapatnya pedoman untuk wisatawan dan peta wisata sebagai alat monitor bagi penyelenggara Sedangkan pengembangan pariwisata telah dilakukan evaluasi dampak dari adanya kegiatan wisata yang biasa dilakukan pada satu tahun sekali secara terjadwal yaitu pada saat musrembang, namun disaat-saat tertentu evaluasi sesekali dilakukan setiap selesai kegiatan. Akuntabilitas Lingkungan Akuntabilitas Lingkungan mempunyai Sebagaimana hasil wawancara dengan anggota pokdarwis yang mengatakan bahwa destinasi pariwisata yang ada di kecamatan tenjolaya dapat dipertanggung jawabkan lingkungannya baik dalam segi keamanan, kenyamanan dan ketentraman sehingga adanya pemberian kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, adanya peningkatan pendapatan dan lain-lain. Dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan maka diperlukan beberapa aspek yang dapat menunjang dalam pengembangan yang saling berkaitan seperti aspek konservasi dan edukasi yang Wahyudin, et al. sehingga menjadi kesempatan pekerjaan bagi masyarakat untuk menjadi tour guide didesa wisata, pemelihara situs arca domas atau yang lainnya, kemudian aspek budaya yang memerlukan pelestarian budaya setempat menjadi kesempatan pekerjaan bagi masyarakat untuk pemeliharaan dan penempa kujang ataupun yang berkaitan dengan wisata setempat, kemudian aspek akomodasi dimana disini masyarakat pekerjaanya seperti penyedia transfortasi, menjaga villa, pelayan restoran, atau lainnya yang berkaitan. Serta adanya aspek kuliner yang menjadikan kesempatan pekerjaan masyarakat dituntun untuk wilayahnya agar menunjang kegiatan Pelatihan pada Masyarakat Pelatihan Pada Masyarakat Terkait mempunyai peran terkait pembangunan kepariwisataan secara berlanjut selalu pelaksanaan program-program pendidikan dan pelatihan sangat diperlukan untuk menjadi sarana pembekalan masyarakat dan untuk meningkatkan kemampuan bisnis secara vocational dan professional (Ridwanullah et al. , 2. Sebagaimana hasil wawancara dengan anggota pokdarwis yang mengatakan bahwa tatakelola pengembangan pariwisata keterampilan masyarakat yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan namun belum dilaksanakan secara penuh dan konsisten. Dengan demikian maka perlu adanya keterlibatan kolaborasi dari pihak pemerintah, swasta Pembekalan tentang pariwisata untuk penggiat pariwisata biasanya program tersebut dilaksanakan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpa. Kabupaten Bogor, dimana Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif wilayahnya, pembekalan tersebut berkaitan dengan peningkatan pengetahuan SDMnya baik dari segi kreatifitas maupun peningkatan bahasanya untuk mendukung wisatawan mancanegara. Promosi dan Advokasi Nilai Budaya Kelokalan Promosi dan Advokasi Nilai Budaya Kelokalan mempunyai peran programprogram promosi dan advokasi juga dibutuhkan dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan secara berkelanjutan, diantaranya promosi dan advokasi penggunaan jalan, penggunaan lahan, dan kegiatan yang memperkuat karater lanskap . ense of plac. serta identitas budaya masyarakat setempat secara baik. Penggunaan lahan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan tersebut harus bertujuan untuk mewujudkan pengalaman wisata yang berkualitas dan memberikan kepuasan bagi pengunjung atau wisatawan (Ridwanullah et al. , 2. Sebagaimana hasil wawancara dengan anggota pokdarwis yang mengatakan bahwa promosi terhadap destinasi wisata yang ada di kecamatan tenjolaya sudah dilakukan secara online dan ofline. Promosi yang dilakukan secara ofline yaitu melalui sosialisasi ke sekolah sekolah sepertia adanya eduwisata situs arcadomas, wisata budaya penempa kujang maupun wisata lainnya yang dapat mendukung kegiatan sekolah serta promosi dan advokasi kepada masyarakat dengan cara sosialisasi melalui Namun advokasi dan promosi dikalangan masyarakat sekitar harus terus dilakukan agar pemahaman pengembangan pengetahuan dapat menyeluruh. Selain itu, promosi juga dilakukan melalui berbagai media social seperti melalui Instagram (@pokdarwis_tenjolay. , chanel youtube (@pokdarwistenjolay. , . ttps://pokdarwistenjolaya. com/), tiktok (@pokdarwis. serta melalui whatsapp pribadi maupun grup. Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 Public Private Partnership Dalam Pengembangan Pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Pendekatan yang digunakan dalam pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor, dengan menggunakan konsep model Public Private Partnership menurut Franco & Estevyo, . terdapat 7 dimensi, . Persetujuan Secara Formal Persetujuan secara formal pada pokdarwis merupakan suatu legalitas yang menjadi bentuk pengakuan atas pendirian kelompok sadar wisata, sehingga dalam proses implementasinya maka terdapat dukungan secara sah dari setiap kalangan seperti dukungan dari pihak pemerintahan, swasta dan masyarakat. Oleh karena itu, persetujuan secara formal diperlukan untuk memudahkan pokdarwis dalam melakukan tatakelola yang berhubungan dengan terhindarnya dari konflik-konflik yang dapat membawa dampak tidak baik bagi Kemudian, persetujuan secara formal juga merupakan suatu keputusan yang dicapai secara resmi, terakomodir dan terdokumentasi. Sebagaimana hasil wawancara dengan sekretaris pokdarwis yang mengatakan bahwa pokdarwis kecamatan telah memiliki legalitas organisasi untuk tatakelola pengembangan pariwisata di tenjolaya yang dibuktikan dengan terdapatnya surat 147/002/1/Ktps/2024 pembentukan kelompok sadar wisata Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Kemudian mengatakan bahwa mereka telah dilantik mengetahui secara legal serta tertulis yang disahkan oleh camat kecamatan tenjolaya. Deskripsi Tujuan yang jelas Tujuan yang jelas merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh kelompok sadar wisata dalam melakukan tatakelola pariwisata, sehingga dengan adanya tujuan yang jelas menjadi tolak ukur dalam mencapai hasil yang diharapkan melalui suatu kegiatan, proyek maupun inisiatif mengembangkan potensi-potensi yang ada di kecamatan tenjolaya. Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara anggota-anggota mengatakan bahwa dengan dibentuknya kelompok sadar wisata maka berbagai macam potensi pariwisata yang ada di tenjolaya dapat dikembangkan dengan maksimal untuk kesejahteraan masyarakat Oleh karena itu, tatakelola pariwisata di kecamatan tenjolaya oleh pokdarwis yaitu dengan menerapkan Good Government mendukung masyarakat untuk lebih peduli terhadap potensi-potensi wisata yang ada di lingkungan sekitarnya. Selain itu dengan tatakelola pariwisata yang kolaboratif oleh perwujudan percepatan pembangunan dan pengembangan wisata sehingga apa yang menjadi harapan pemerintah maupun pemanfaatan pariwisata. Adapun yang menjadi tujuan utama dalam tatakelola pariwisata oleh pokdarwis yaitu untuk memaksimalkan potensi wisata daerah yang sesuai dengan peraturan daerah nomor 7 tahun 2020 tentang kepariwisataan kabupaten bogor tahun Dengan adanya dasar hukum tersebut maka tatakelola pariwisata kolaboratif yang dilakukan oleh pokdarwis diharapkan dapat membangun fasilisat perekonomian masyarakat yang lebih maju, untuk membangun brending wisata yang ada di tenjolaya, untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, untuk membuka lapangan pekerjaan dan untuk melestarikan kebudayaan di tenjolaya. Kemudian, untuk mewujudkannya maka pokdarwis tenjolaya mempunyai tagline yaitu Auulin ka tenjolaya. Wahyudin, et al. dijamin sagala ayaAy. Dengan adanya tagline penyebarluasan wisata tenjolaya, baik dalam negeri maupun luar negeri. Struktur Organisasi Struktur organisasi merupakan suatu kerangka yang mengatur bagaimana para pelaku pengelolaan pariwisata bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Struktur organisasi ini bertujuan untuk mengatur hubungan, tanggung jawab dan arus informasi antara berbagai pemangku masyarakat lokal, industri pariwisata. LSM dan pemangku kepentingan lainnya, serta sektor swasta lainnya. Dengan struktur organisasi yang kuat dan komprehensif, tata kelola pariwisata yang kolaboratif dapat masyarakat lokal dan mengoptimalkan manfaat ekonomi dan sosial serta lingkungan industri pariwisata. Sebagaimana hasil wawancara dengan angota pokdarwis yang mengatakan bahwa pokdarwis sudah mempunyai struktur organisasi yang jelas yang menjadi dasar pokdarwis dalam melakukan tatakelola pariwisata di tenjolaya. Kepemimpinan Kepemimoinan dalam pengelolaan pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor merupakan sebuah konsep penting dan relevan dalam pengelolaan potensi wisata yang efektif dan Dalam konteks demikian, kepemimpinan mengacu pada kemampuan mengarahkan, mengkoordinasikan dan menginspirasi berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan pariwisata. Sehingga pengelolaan pariwisata kolaboratif harus bersifat inklusif, berorientasi pada tujuan bersama, dan mampu menjalin hubungan baik antar pemangku kepentingan. Oleh karena itu, dalam melakukan tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif pendekatan pengelolaan pariwisata harus Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif kepentingan, seperti pemerintah daerah, masyarakat lokal, pemangku kepentingan pariwisata dan organisasi non-pemerintah (LSM), dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan kebijakan Dengan adanya kerja sama ini, keberlanjutan pariwisata, meminimalkan konflik, dan memaksimalkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan maka pengembangan pariwisata di kecamatan Tenjolaya harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dalam mengidentifikasi dan pemanfaatan potensi pariwisata lokal, pengembangan infrastruktur pendukung, promosi pariwisata yang sesuai, serta perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan budaya. Dengan demikian, kepemimpinan dalam pengelolaan pariwisata kolaboratif di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor harus mengedepankan koordinasi antar kapasitas lokal, menjaga keanekaragaman budaya dan menjaga lingkungan untuk mencapai tujuan pariwisata berkelanjutan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat lokal dan para pimangku kepentingan lainnya. Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua, wakil ketua, sekretaris dan angota pokdarwis yang mengatakan bahwa dalam melakukan tatakelola pariwisata yang dilakukan oleh pokdarwis sudah menerapkan pengelolaan dengan konsep kepemimpnan yang kolaboratif yaitu pengelolan pariwisata di kecamatan tenjolaya sudah melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pelibatan pihak pemerintah mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga tingkat desa. Selain itu, ada juga pelibatan dari kalangan masyarakat yang antuasias dalam pariwisata di tenjolaya. Namun, masih kurangnya dukungan-dukungan dari pihak swasta dalam melakukan pembangunan pariwisata di tenjolaya. Fleksibiltas Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 Fleksibilitas pengelolaan pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor menjadi aspek penting keberlanjutan pariwisatanya. Oleh karena fleksibilitas dalam pengelolaan pariwisata kolaboratif, para pemangku kepentingan di Kabupaten Tenjolaya dapat merancang dan menerapkan strategi pariwisata yang responsif, adaptif, dan berkelanjutan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal dan wisatawan. Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua dan angota pokdarwis yang mengatakan bahwa dalam melakukan pengelolaan pariwisata oleh POKDARWIS kecamatan/desa dilakukan dengan jam kerja fleksibel dan konsisten yang dapat menjadi kekuatan dalam melakukan tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif. Dengan memanfaatkan fleksibelitas dalam tatakelola pariwisata maka terdapat beberapa manfaat yang dapat mendorong pokdarwis dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata yaitu adaptasi terhadap perubahan, respon terhadap keberagaman, keterlibatan masyarakat local, inovasi dan kreatifitas, manajemen krisis serta evaluasi dan pembelajaran. Jaringan Sosial Jejaring sosial dapat menarik kerjasama pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor merupakan aspek penting serta berperan penting dalam meningkatkan kerjasama memfasilitasi pertukaran sumber daya, pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan jaringan sosial yang kuat dan inklusif menjadi elemen penting dalam kerja sama pengelolaan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya. Melalui jaringan sosial yang kuat, para pemangku kepentingan dapat berkolaborasi secara efektif untuk mencapai tujuan pariwisata berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal dan Sebagaimana hasil wawancara dengan ketua, wakil ketua sekretaris dan angota pokdarwis yang mengatakan bahwa jaringan social yang dimiliki oleh pokdarwis sudah ada namun masih dalam lingkup skala kecil sehingga masih diperlukan membentuk jaringan sosial dalam lingkup yang besar untuk membangun kerjasama dengan mitra-mitra yang dapat mendukung dalam mewujudkan pembangunan dan berkelanjutan di tenjolaya serta mitra yang pengembangan pariwisata di tenjolaya masih terbatas serta belum adanya mitra dari swata yang dapat mendukung penuh dalam pengembangan pariwisatanya. Oleh karena itu, perlu adanya pembangunan jaringan social yang lebih luas lagi sehingga dapat menjadi pendukung mengembangkan pariwisata di tenjolaya. Efektifitas dan efisiensi Kinerja Efisiensi dan efektivitas kinerja merupakan dua aspek penting dalam kerjasama pengelolaan pariwisata dalam pengembangan pariwisata di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Kedua aspek ini saling bergantung dan menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan Dalam pengelolaan pariwisata berbasis kemitraan di Kecamatan Tenjolaya, efisiensi dan harus menjadi inti dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan pariwisata. Melalui upaya yang efektif dan efisien, dampak positif yang signifikan dapat tercipta bagi masyarakat lokal, lingkungan hidup, dan industri pariwisata secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas kinerja pengelola berkelanjutan dan inklusif. Wahyudin, et al. Sebagaimana hasil wawancara tentang program pokdarwis yang disampaikan oleh ketua, wakil ketua sekretaris dan angota pokdarwis yang mengatakan bahwa efektifitas dan efisiensi kinerja pokdarwis sudah baik namun masih diperlukannya peningkatan-peningkatan tatakelolanya sehingga apa yang menjadi potensi wisata di tenjolaya dapat dikembangkan dengan maksimal. Karna berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam pengembangan Sedangkan efisiensi kinerja berorientasi pada optimalisasi dalam pemanfaatan waktu, anggaran, dan insfrastruktur dalam mencapai pariwisata yang berkelanjutan seperti optimalisasi sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan pariwisata dan adanya produktifitas dalam penyediaan layanan pariwisata. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Mengembangkan model pariwisata kolaboratif untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan di Tenjolaya. Kabupaten Bogor, penting untuk mempertimbangkan berbagai aspek. Salah satu model pembangunan pariwisata berkelanjutan seperti Community Based Tourism (CBT) semakin banyak diterapkan di Indonesia (Agfianto et al. , 2. Model tersebut masyarakat lokal dalam pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan kelestarian lingkungan (Sya et al. , 2. Dalam pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata dapat menunjukan adanya dampak positif yang dapat meningkatkan ekonomi berbasis kuliner, homestay, dan kerajinan sehingga menguntungkan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat (Bahri et al. , 2. Destinasi yang di dukung sarana dan prasarana dalam pembangunan Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif pariwisata di berbagai daerah telah didorong oleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan berkat adanya partisipasi masyarakat lokal seperti dalam pengelolaan homestay (Syafrini et al. , 2. Oleh karena itu, dalam mewujudkan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan perlu adanya partisipasi aktif dari masyarakat local dalam melakukan pengelolaan tempat wisata (Putra. Selain mewujudkan pariwisata berkelanjutan, juga bergantung pada konsep komunitas, yang menekankan bahwa masyarakat bukan hanya penerima tetapi juga partisipan aktif dalam proses pembangunan (Kurniawan. Kemudian untuk memastikan bahwa masyarakat lokal berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata, pengembangan kearifan budaya juga dianggap sebagai strategi utama (Bhuanaputri et al. , 2. Oleh karena itu, pentingnya kolaborasi kepentingan untuk mewujudkan hasil pariwisata yang berkelanjutan seperti adanya penerapan konsep penthahelix (Rosardi, 2. Model penthahelix menekankan pada adanya keterlibatan dari berbagai aktor diantaranya dunia usaha, pemerintah, komunitas, akademisi, dan media dalam mewujudkan pengembangan pariwisata (Apriliani et al. , 2018. Oka et al. Namun, analisa hasil penelitian tatakelola pariwisata dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor menunjukan perlu adanya peningkatan konsep dalam melakukan kolaborasi. Pendekatan konsep kolaborasi dengan model penthahelix dapat dikembangkan menjadi konsep kolaborasi model hexahelix untuk mencapai tujuan pengembangan pariwisata yang baik dan keberlanjutan pariwisata yang baik. Konsep model hexahelix menekankan pada adanya kolaborasi dari berbagai aktor diantaranya komunitas, pemerintahan, dunia usaha, akademisi, media serta hukum dan regulasi untuk mewujudkan tujuan pariwisata Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 (Candranegara et al. , 2022. Zakaria. Sophian, & Gusriani, 2019. Zakaria. Sophian. Muljana, et al. , 2. Menerapkan dipandang penting untuk membangun tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor, sehingga dapat mencapai pembangunan/pengembangan, keberlanjutan pariwisata yang baik. Dalam mendukung tujuan tersebut, hasil analisa dari penelitian yang dilakukan dengan berdasarkan analisa konsep dasar teori Good Tourism Governance menurut Sunaryo, . yang terdiri dari 10 prinsip, yaitu: partisipasi masyarakat terkait yang belum terlibat secara penuh dalam mendukung pariwisata, keterlibatan segenap pemangku kepentingan masih bersifat terbatas, kemitraan kepemilikan lokal belum optimal, pemanfaatan sumber daya secara berlanjut mengakomodasikan aspirasi masyarakat lingkungan belum dimanfaatkan secara optimal, monitor dan evaluasi belum dilakukan dari keterlibatan setiap aktor, akuntabilitas lingkungan baru dilakukan oleh pokdarwis dan kecamatan serta desa, maksimal, promosi dan advokasi nilai budaya kelokalan masih jarang dilakukan. Selain itu analisa hasil penelitian juga menggunakan konsep dasar teori Public Private Partnership menurut Franco & Estevyo, . yang terdiri dari 7 prinsip, diantaranya: persetujuan secara formal sudah ada, deskripsi tujuan yang jelas sudah ada namun belum tertulis secara legal, kepemimpinan masih terbatas, fleksibiltas sudah diterapkan dalam tatakelola namun peminatan masih terbatas, jaringan social masih dalam lingkup lokal, efektifitas dan efisiensi kinerja belum optimal karena setiap pengelola mempunyai kesibukannya masing-masing. Konsep Good Tourism Governance digunakan untuk analisa standarisasi dalam Public Private Partnership digunakan untuk analisa pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan melihat kedua konsep tersebut, hasil analisa dari penelitian menunjukan bahwa tatakelola pariwisata dalam pengembangan pariwisata di kecamatan tenjolaya kabupaten bogor dapat dikatakan belum optimal, hal ini dapat dibuktikan seperti peminat jumlah pengunjung masih sedikit, sistem administrasi pengunjung belum tersedia, kemitraan yang dilakukan masih terbatas dan pembangunan sarana dan prasarana kepariwisataan belum mendukung secara penuh, sehingga diperlukan optimalisasi setiap indikator dari konsep Good Tourism Governance dan Public Private Partnership. Optimalisasi indikator berdasarkan kedua konsep tersebut, peneliti merumuskan indikator-indikator yang dapat mendukung dalam mencapai tujuan kepariwisataan yaitu mewujudkan tatakelola pariwisata yang baik, mewujudkan pengembangan pariwisata yang baik dan mewujudkan keberlanjutan pariwisata yang baik. Adapun indikator-indikator yang dapat menjadi tolak ukur dalam mencapai tujuan tersebut, yang menjadi faktor keberhasilan dalam tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor diantaranya mempunyai 11 indikator, yaitu: kepemimpinan, kebijakan dan regulasi, struktur organisasi, pengelolaan sumber daya, daya dukung, pemasaran, serta monitor dan evaluasi. Dengan demikian, dapat dirumuskan suatu model tatakelola pariwisata berbasis pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor yang dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut: Wahyudin, et al. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Gambar 1. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan stakeholder menjadi unsur utama dalam Dengan melihat gambar 1 dapat diketahui bahwa ke 11 indikator tersebut Stakeholder yang terlibat aktor-aktor pemerintahan, masyarakat dan swasta yang mewujudkan good tourism collaboration saling berkaitan dalam mendukung berdasarkan konsep hexahelix untuk kepariwisatan sehingga koordinasi dari mencapai tujuan kepariwisataan, yaitu berbagai pihak dapat memfasilitasi dalam mencapai good tourism governance, good kolaborasi antar actor pariwisata. tourism development dan good tourism Indikator-indikator tersebut Indikator kebijakan dan regulasi menjadi prasyarat untuk melakukan menjadi tolak ukur dalam penetapan aturan tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif kepariwisataan sehingga dengan adanya regulasi yang jelas dan regulasi yang berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya mendukung dapat memastikan bahwa adanya keterlibatan dari setiap aktor untuk Kabupaten Bogor. Indikator kepemimpinan menjadi aktor kunci dalam tatakelola pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan Indikator struktur organisasi menjadi pariwisata berkelanjutan di Kecamatan penting karena struktur organisasi yang Tenjolaya Kabupaten Bogor, karena pada terkoordinasi dengan baik diantara para Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 pemangku kepentingan kepariwisataan sehingga dapat menjadi fasilitas koordinasi dan komunikasi yang efektif dari setiap Indikator partisipasi berperan sebagai partisipasi aktif berbagai pihak dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan memperkuat rasa kepemilikan bersama dan meningkatkan keberhasilan kerjasama. Indikator jejaring lintas sektor membangun kolaborasi yang efektif dengan pemerintahan, swasta, akademisi, media, komunitas/masyarakat serta lembagalembaga yang menjadi pendukung dalam kepariwisataan untuk mengintegrasikan perspektif dan sumber daya yang berbeda. Indikator pengelolaan sumber daya merupakan aspek utama dalam pengelolaan sumber daya alam, budaya dab buatan secara berkelanjutan yang dapat menjadi kunci untuk memastikan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Indikator daya dukung menjadi aspek penting untuk memastikan bahwa adanya sumber daya lokal yang memadai seperti infrastruktur, layanan kesehatan, dan transportasi, untuk mengatasi efek dari aktivitas pariwisata. Indikator diversifikasi produk dapat meningkatkan daya tarik destinasi, meningkatkan keberlanjutan pariwisata, dan mengakomodasi kebutuhan beragam wisatawan dengan cara yang positif dan berdampak baik yang mengacu pada pendekatan untuk mengembangkan dan menjual berbagai produk atau pengalaman wisata di suatu tempat dengan destinasi yang berbeda-beda serta mempunyai tujuan untuk mengurangi tekanan pada atraksi utama yang ramai, menarik berbagai jenis wisatawan, meningkatkan pendapatan, dan mendorong pariwisata yang berkelanjutan sehingga adanya variasi pengalaman wisata, overcrowding, meningkatkan pendapatan dan pengembangan berkelanjutan. Indikator akuntabilitas mengacu pada kewajiban dan tanggung jawab untuk bertindak secara transparan, etis, dan bertanggung jawab dalam manajemen, pengelolaan, dan pengembangan industri pariwisata yang berkelanjutan dengan masyarakat lokal, lingkungan, pemerintah. Sehingga akuntabilitas dapat mencakup transparansi, pengelolaan dana dan sumberdaya, lingkungan serta adanya kualitas keamanan dan kenyamanan. Indikator pemasaran merupakan suatu proses yang dirancang secara strategis untuk mempromosikan dan memasarkan destinasi pariwisata ke berbagai target pasar dengan tujuan untuk pengalaman yang baik bagi pengunjung. Dalam pemasaran pariwisata, berbagai strategi dan media komunikasi digunakan untuk mencapai audiens yang tepat dan Adapun konsep pemasaran dalam kepariwisataan dapat melalui branding destinasi, promosi secara offline maupun online, segmentasi pasar, penetrasi penggunaan teknologi dan pengukuran Indikator monitoring dan evaluasi merupakan sistem yang dirancang untuk mengawasi, mengevaluasi, dan menilai kinerja serta pengaruh kegiatan pariwisata terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Dengan adanya monitoring dan evaluasi maka dapat menjamin keberhasilan, efisiensi, keberlanjutan, dan dampak positif dari pengembangan pariwisata. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Hasil analisa penelitian berdasarkan konsep Good Tourism Governance dan Wahyudin, et al. Model Tatakelola Pariwisata Berbasis Kolaboratif Public Private Partnership menunjukan bahwa tatakelola pariwisata yang dilakukan oleh pokdarwis dan pemerintah kecamatan/desa belum optimal hal ini disebabkan karna masih rendahnya pengetahuan SDM dalam melakukan tatakelola pariwisata yang baik dan belum adanya kolaborasi dukungan pembangunan secara penuh dari pihak pemerintahan maupun swasta dalam sarana dan pengembangan pariwisata di tenjolaya sehingga belum terlaksananya dengan optimal pembangunan kepariwisataan di kabupaten bogor yang sesuai dengan peraturan daerah nomor 7 tahun 2020 tentang rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten bogor tahun Sedangkan potensi wisata di tenjolaya cukup beragam yang terdiri dari wisata alam berjumlah 9 potensi, wisata budaya/religi berjumlah 3 potensi, dan wisata buatan berjumlah 3 potensi. Rekomendasi pariwisata berbasis kolaboratif dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor yaitu dengan menerapkan konsep good tourism collaboration yang di dukung dengan konsep hexahelix untuk mencapai tujuan good tourism governance, good tourism development dan good tourism sustainability yaitu dengan menerapkan kepemimpinan, kebijakan dan regulasi, struktur organisasi, partisipasi, jejaring lintas sektor, pengelolaan sumber daya, akuntabilitas, pemasaran, serta monitor dan Kualitatif Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Agfianto. Antara. , & Suardana. Dampak Ekonomi Pengembangan Community Based Tourism Terhadap Masyarakat Lokal Di Kabupaten Malang (Studi Kasus Destinasi Wisata Cafe Sawah Pujon Kidu. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 259Ae282. https://doi. org/10. 24843/jumpa. DAFTAR PUSTAKA