JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 OPTIMALISASI KINERJA KEUANGAN MELALUI GREEN ACCOUNTING: MODERASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY I Gusti Ayu Komang Tri Puspa Oktaviani 1. Lukman Effendy2 1,2 Program Studi Akuntansi. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia e-mail: oktatripuspa@gmail. com, lukman. effendy@unram. Diterima:15-04-2025 Disetujui:29-04-2025 Abstrak Tujuan penelitian ini yakni menguji penerapan Green accounting dalam mengeksplorasi kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia dengan mempertimbangkan peran Corporate Social Responsibility (CSR) dalam mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Penelitian ini menerapkan metode pendekatan kuantitatif dengan teknis analisis regresi data panel pada perusahaan manufaktur selama periode 2019-2023. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sebanyak 390 sampel dari 78 perusahaan selama 5 tahun. Green Accounting dinilai dengan penilaian PROPER, kinerja keuangan dinilai dengan analisis rasio keuangan (ROA), dan Corporate Social Responsibility (CSR) dinilai dengan penilaian GRI Standards. Temuan ini mengindikasikan yakni Green Accounting berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan, begitu pula Corporate Social Responsibility (CSR). Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa implementasi Green Accounting tidak hanya berdampak langsung terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga diperkuat oleh peran moderasi Corporate Social Responsibility (CSR). Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa sinergi praktik ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan mampu mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Kata kunci: Green Accounting. Kinerja Keuangan. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Abstract The purpose of this study is to test the application of Green Accounting in exploring the financial performance of manufacturing companies in Indonesia by considering the role of Corporate Social Responsibility (CSR) in achieving sustainable growth. This study applies a quantitative approach method with panel data regression analysis techniques on manufacturing companies during the period In this study, the author used 390 samples from 78 companies for 5 years. Green Accounting is assessed by the PROPER assessment, financial performance is assessed by financial ratio analysis (ROA), and Corporate Social Responsibility (CSR) is assessed by the GRI Standards These findings indicate that Green Accounting has an effect on the company's financial performance, as well as Corporate Social Responsibility (CSR). This study contributes by showing that the implementation of Green Accounting not only has a direct impact on improving the company's financial performance, but is also strengthened by the moderating role of Corporate Social Responsibility (CSR). These findings provide empirical evidence that the synergy of environmentally friendly practices and corporate social responsibility can drive sustainable business growth. Keywords: Green Accounting. Financial Performance. Corporate Social Responsibility JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 77 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Pendahuluan Indonesia merupakan sebuah bangsa yang sedang berkembang serta mempunyai banyak sumber daya alam melimpah, tetapi menghadapi berbagai kesulitan dalam meraih pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Meskipun sumber daya alam yang dimiliki memiliki potensi besar untuk mendukung kemajuan ekonomi, pemanfaatan sumber daya yang dikelola dengan tidak baik bisa mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan serta memperburuk ketimpangan sosial-ekonomi. Perekonomian Indonesia semakin berkembang dengan pesat, namun dampak dari aktivitas industri terhadap lingkungan semakin terasa. Antara lain, lonjakan populasi yang sulit dikendalikan, kerusakan ekosistem, polusi lingkungan, serta penurunan kualitas lingkungan (Ramadhani et al. , 2. Masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan masih menjadi sorotan utama di Indonesia hingga saat ini. Nurfatimah . menemukan bahwa aktivitas industri pertambangan di Kabupaten Bantaeng menyumbang 87% terhadap pencemaran lingkungan. Prastiwi et al. juga menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan di industri berpolusi belum efektif dalam menanggulangi emisi karbon. Sementara itu. Hanifa . mengungkap bahwa limbah industri dari PT SUJ telah merusak ekosistem laut di Ciwandan. Temuantemuan ini menegaskan perlunya peningkatan regulasi dan praktik bisnis berkelanjutan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam konteks ini. Green accounting merupakan salah satu konsep yang relevan untuk mengatasi dampak lingkungan akibat kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan (Wijayanti & Dondoan, 2. Dalam dunia akuntansi Green accounting merupakan suatu pendekatan yang melibatkan perhitungan dan pencatatan atas biaya yang dikeluarkan untuk upaya pencegahan serta biaya yang timbul sebagai akibat aktivitas operasional perusahaan yang mempengaruhi keadaan masyarakat dan lingkungan sekitar (Suyudi et al. , 2. Menurut Nianty . Implementasi green accounting dapat mendukung perusahaan guna memperbaiki kemampuannya dalam mengatasi isu-isu lingkungan yang ada. kemampuan dalam mengurangi permasalahan lingkungan yang dihadapi. Pada studi ini Green accounting diukur menggunakan indikator PROPER. Indeks PROPER oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia, memberi peringkat pada bisnis berdasarkan seberapa baik mereka mematuhi peraturan lingkungan hidup, maka dari itu perusahaan dengan peringkat tinggi biasanya memiliki citra perusahaan yang baik (Anisah et al. , 2. PROPER digunakan sebagai indikator Green Accounting karena mencerminkan sejauh mana perusahaan mengintegrasikan aspek lingkungan kedalam aktivitas operasional dan pelaporan mereka. PROPER men gevaljuasi kinerja lingkungan perusahaan berdasarkan kepatuhan terhadap peraturan, pengelolaan limbah, efisiensi energi, dan konservasi sumber daya, yang sejalan dengan prinsip-prinsip Green Accounting. Beberapa studi telah menggunakan peringkat PROPER sebagai proksi untuk mengukur penerapan Green Accounting, karena perusahan yang berpartisipasi dan meraih peringkat tinggi dalam PROPER cenderung telah mengimplementasikan praktik akuntansi lingkungan yang baik. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Niandari & Handayani, 2. menunjukkan bahwa perusahaan peserta PROPER menunjukkan penerapan Green Accounting yang signifikan. Penerapan Green accounting tidak hanya berperan sebagai langkah awal dalam menyelesaikan isu-isu lingkungan yang timbul dari kegiatan perusahaan, tetapi juga mampu memberikan kinerja lingkungan yang apabila dikelola secara optimal berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap performa keuangan perusahaan (Lestari et al. , 2. dan (Lusiana et al. , 2. Apabila perusahaan mengintegrasikan biaya-biaya terkait lingkungan ke dalam penyusunan laporan keuangan, maka perusahaan mampu menemuka kesempatan guna meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya dan membantu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, serta memperbaiki citra perusahaan di mata para pemangku kepentingan (Budi & Zuhrotun, 2. Menurut Ramadhani et al. , . , konsumen masa kini menunjukkan tingkat kecerdasan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam memilih produk atau layanan dan semakin berkembang dalam mengelola cara berfikir. Seperti halnya, konsumen JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 78 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 cenderung lebih mempercayai produk dari suatu perusahaan yang menerapkan Green accounting dengan baik dan benar yang akan terus meningkatkan citra perusahaan (Zhou et , 2. Hal ini menjadi krusial karena kinerja perusahaan kini tidak diukur hanya dengan pencapaian laba, tetapi juga dengan kemampuannya untuk memperhatikan faktor sosial dan lingkungan yang sangat penting dalam lingkungan bisnis modern. Nianty, . , mengasumsikan bahwa hubungan tersebut menunjukkan bahwa Green accounting dapat berperan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kinerja keuangan, yang menjadi tolak ukur utama keberhasilan operasional dan daya saing di era modern saat ini. Di indonesia. Green accounting merupakan hal yang relatif baru, sementara kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup dalam dunia bisnis semakin diperhatikan. Banyak perusahaan di Indonesia yang mulai mengadopsi konsep Corporate Socila Responsibility (CSR) sebagai bagian dari strategi berkelanjutan (Ramadhani et al. , 2. Penerapan konsep Corporate Social Responsibility mampu menyediakan data yang sesuai sebagai pemanfaatan dalam praktik Green accounting dan mampu mengakomodasi perusahaan dalam mengintegrasikan pertimbangan lingkungan sosial kedalam evaluasi kinerja keuangan (Asti & Aulia, 2. seperti meningkatkan transparansi informasi dan kepercayaan investor (Zhao & Sahari, 2. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi dampak implementasi Green accounting terhadap kinerja keuangan perusahaan di Indonesia, selain itu studi ini juga akan membuat analisis apakah kaitan antara green accounting dan kinerja keuangan oleh CSR mampu memperkuat serta bertindak menjadi variabel moderasi. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi hubungan antara green accounting dan kinerja keuangan perusahaan, dengan hasil yang beragam. Oktadifa & Widajantie, . menemukan bahwa penerapan green accounting dan kinerja lingkungan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas perusahaan, yang diukur dengan Return on Assets (ROA). Demikian pula, penelitian oleh (Nengsih et al. , 2. menunjukkan bahwa green accounting berpengaruh signifikan terhadap ROA, meskipun kinerja lingkungan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Namun, studi oleh Nianty et al. , . mengindikasikan bahwa akuntansi lingkungan tidak secara langsung memengaruhi kinerja keuangan, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kinerja lingkungan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kinerja keuangan. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan dalam literatur terkait penggunaan PROPER sebagai proksi green accounting dan hubungannya dengan kinerja keuangan, khususnya di sektor industri padat karya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji pengaruh green accounting, yang diukur melalui indeks PROPER, terhadap kinerja keuangan perusahaan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai green accounting dan corporate social responsibility (CSR) telah menunjukkan bahwa keduanya memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati & Effendy, . menemukan bahwa green innovation berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan dan keberlanjutan lingkungan di sektor perhotelan di Pulau Gili. Lombok Utara . Sementara itu. Naukoko et al. , . dalam menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan dapat meningkatkan kualitas pengungkapan CSR, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi legitimasi perusahaan di mata pemangku kepentingan. Namun, terdapat kesenjangan dalam literatur terkait peran CSR sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara green accounting dan kinerja keuangan. Sebagian besar studi sebelumnya lebih fokus pada peran CSR sebagai variabel independen, bukan sebagai variabel moderasi yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara green accounting dan kinerja keuangan. Novelty yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah dengan mengkaji peran Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara green accounting dan kinerja keuangan perusahaan. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana Corporate Social Responsibility (CSR) dapat mempengaruhi efektivitas penerapan green accounting dalam meningkatkan kinerja JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 79 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 keuangan perusahaan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kesenjangan dalam literatur yang ada tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan dalam merancang strategi keberlanjutan yang lebih efektif Untuk mendasari hubungan antara variabel yang diteliti dalam penelitian ini, digunakan teori legitimasi sebagai landasan teoritis. Teori ini relevan karena mampu menjelaskan mengapa perusahaan terdorong untuk menerapkan green accounting dan melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan, guna memperoleh pengakuan dan penerimaan dari masyarakat. Teori legitimasi menyatakan bahwa perusahaan perlu menjalankan operasionalnya berdasarkan aturan serta norma yang ada di masyarakat agar bisa diterima secara sosial (Kholmi & Nafiza, 2. Teori ini termasuk salah satu pendekatan yang dapat mendorong perusahaan untuk menyusun dan menyajikan laporan keberlanjutan. Berdasarkan teori legitimasi, perusahaan dituntut untuk senantiasa memastikan bahwa tindakan dan operasionalnya telah sesuai dengan nilai, batasan, dan norma yang telat ditetapkan di masyarakat. (Angelina & Nursasi, 2. Oleh karena itu. Green Accounting yang dievaluasi melalui kinerja lingkungan, seperti yang diukur melalui PROPER, dipandang dapat memperkuat citra positif perusahaan, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, dan pada akhirnya mendorong peningkatan kinerja Korporasi seringkali menggunakan Green accounting dan Corporate Social Responsibility (CSR) akan memperoleh legitimasi sosial, yang akan meningkatkan citra dan kinerja keuangan perusahaan (Zhou et al. , 2. Konsep perjanjian sosial antara perusahaan dan masyarakat merupakan dasar teori legitimasi. Ketika perusahaan berhasil memperoleh legitimasi, maka citra dan reputasinya akan meningkat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan dan berdampak positif terhadap kinerja Dengan demikian, green accounting dapat memengaruhi kinerja keuangan perusahaan baik secara langsung maupun melalui jalur legitimasi sosial yang Jika suatu perusahaan mengabaikan peraturan lingkungan dalam kegiatan operasionalnya, seperti melindungi lingkungan, hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan, serta masyarakat dapat menolak perusahan karena memiliki tata kelola yang Selain teori legitimasi, penelitian ini juga menggunakan teori stakeholder sebagai landasan untuk menjelaskan hubungan Green accounting dan kinerja keuangan. Teori stakeholder menyatakan bahwa keberhasilan jangka panjang perusahaan bergantung pada kemampuannya memenuhi ekspetasi seluruh pemangku kepentingan, seperti investor, suppliers, pemerintah, pelanggan, masyarakat, dan lingkungan (Wijaya et al. , 2. Dalam konteks ini, penerapan green accounting menjadi strategi perusahaan untuk menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab lingkungan, yang dapat memperkuat kepercayaan dan dukungan dari para stakeholder. Secara logis, ketika perusahaan memperhatikan kepentingan lingkungan melalui Green Accounting, hal ini menciptakan citra positif yang meningkatkan loyalitas konsumen, mempererat hubungan dengan mitra bisnis, dan mengurangi risiko regulasi. Semua hal tersebut pada akhirnya dapat mendorong peningkatan efisiensi, akses pendanaan, dan daya saing yang berdampak langsung pada peningkatan kinerja keuangan. Penelitian oleh Oktadifa & Widajantie, . menunjukkan bahwa penerapan green accounting dan kinerja lingkungan memiliki pengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan yang diukur dengan Return on Assets (ROA). Putri et al. , . menjelaskan yakni Green accounting telah terbukti berdampak positif secara signifikan terhadap kinerja keuangan, maka mampu digunakan menjadi acuan ketika pengambilan Keputusan pengelolaan lingkungan dan Upaya untuk mencegah adanya dampak negatif dari aktivitas perusahaan. Dianty & Nurrahim, . mengungkapkan bahwa perusahaan yang menggunakan Green accounting akan menarik perhatian investor karena menunjukkan apakah mereka peduli dengan dampak lingkungan dari kegiatan operasional perusahaan, ini merupakan bentuk tanggungjawab perusahaan JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 80 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 kepada investor yang berfokus pada nilai keuangan dan nilai lingkungan. Dengan demikian, teori stakeholder secara kuat mendukung hipotesis pertama. H1: Green accounting berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Penelitian ini menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) mampu memoderasi hubungan antara Green Accounting dan kinerja keuangan perusahaan. Artinya, pengaruh positif Green Accounting terhadap kinerja keuangan akan menjadi lebih kuat apabila perusahaan juga memiliki tingkat pengungkapan CSR yang tinggi. CSR berfungsi sebagai alat komunikasi eksternal perusahaan kepada pemangku kepentingan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dijalankan. Ketika CSR dijalankan secara efektif, hal ini meningkatkan citra perusahaan, memperkuat kepercayaan publik, dan pada akhirnya memberikan keuntungan kompetitif yang berdampak pada peningkatan kinerja keuangan (Sunarjo et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan teori legitimasi yang menekankan pentingnya perusahaan menjaga keselarasan antara aktivitas operasional dan ekspektasi sosial untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Penelitian oleh Maflikha et al. , . menunjukkan bahwa CSR dapat memoderasi pengaruh Green Accounting terhadap nilai perusahaan, meskipun dalam konteks tertentu CSR justru dapat mengurangi pengaruh signifikan Green Accounting terhadap nilai perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk tidak hanya fokus pada pelaporan lingkungan melalui Green Accounting, tetapi juga secara aktif menjalankan dan melaporkan program CSR sebagai strategi Serta penelitian Alifah & Mustikawati, . menjelaskan yakni Auvariabel Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki dampak positif terhadap kinerja keuangan, serta mampu memperkuat hubungan positif antara green accounting dan kinerja keuanganAy. H2: Corporate Social Responsibility mampu memoderasi hubungan antara Green Accounting dan Kinerja Keuangan. Green accounting (X) Kinerja Keuangan (Y) Corporate Social Responsibility (Z) Gambar 1. Kerangka Konseptual Metode Penelitian kuantitatif menjadi metode yang digunakan dalam jenis studi ini dengan metode pengumpulan data yang bersifat sekunder. Menurut Sugiyono . mengemukakan yakni metode kuantitatif merupakan teknik penelitian berlandas pada paham filasafat positivisme dan digunakan guna meneliti populasi atau sampel tertentu. Penulis mengumpulkan data melalui data sekunder yang memuat laporan keuangan serta laporan keberlanjutan perusahaan manufaktur yang dikumpulkan berdasarkan situs resmi perusahaan serta Bursa Efek Indonesia (BEI). Data ini kemudian akan diolah dan dianalisis menggunakan Eviews 12. Semua perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI dari 2019-2023 adalah populasi studi ini yang berjumlah 164 perusahaan. Untuk memilih sampel, peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dilakukan dengan memilih perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu. Variabel penelitian yang digunakan meliputi variabel terikat, yakni kinerja keuangan yang dihitung dengan Return On Assets (ROA). JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 81 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 yaycaycayca yaAyceycycycnEa Rumus perhitungan Return On Asset (ROA) adalah ycIycCya = ycu 100% data ini ycNycuycycayco yaycyceyc diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan. Variabel bebas, yakni penerapan Green accounting yang dihitung dengan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkunga. yang diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. PROPER memberikan skor berdasarkan kepatuhan dan upaya perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Peringkat PROPER dikodekan secara numerik dengan skala: Emas . Hijau . Biru . Merah . , dan Hitam . Adapun variabel moderasi yaitu. Corporate Social Responsibility (CSR) yang dihitung dengan indeks GRI Standards. Indeks ini dihitung dengan membandingkan jumlah item Corporate Social Responsibility (CSR) yang diungkapkan dalam laporan keberlanjutan perusahaan dengan total item yang disyaratkan dalam standar GRI seperti berikut, ycUycn yaycIycIya = . Dimensi Corporate Social Responsibility (CSR) mencakup aspek lingkungan, ycu sosial, dan ekonomi, seperti pengelolaan energi, air, emisi, hak asasi manusia, keterlibatan masyarakat, dan dampak ekonomi. Setelah menerapkan kriteria tersebut, peneliti berhasil mengumpulkan 390 sampel dari 78 perusahaan pada periode 2019-2023. Alat analisis yang digunakan yaitu regresi data panel guna mengetahui dampak Green accounting terhadap kinerja keuangan, serta uji moderasi guna meneliti apakah Corporate Social Responsibility (CSR) memoderasi . emperkuat atau memperlema. hubungan antara Green accounting dan kinerja keuangan. Menurut (Madany et al. , 2. , data panel yakni gabungan berdasarkan data lintas tempat . ross sectio. serta data lintas waktu . ime serie. Adapun persamaan regersi data panel pada penelitian ini yakni: Persamaan regresi pertama Y1 = 1X1 EN. Persamaan regresi kedua Y2 = 1X1 2Z1 EN . Persamaan regresi ketiga Y3 = 1X1 2Z1 3X1Z1 EN . Keterangan: Y = Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur di Indonesia = Konstanta = Intercept X = Green Accounting Z = Corporate Social Responsibility (CSR) EN = Error Hasil dan Pembahasan Tujuan dari statistik deskriptif adalah guna menjelaskan tujuan penelitian berdasarkan data sampel atau populasi. Statistik deskriptif mengenai penelitian ini ditunjukkan di tabel 1: Tabel 1. Hasil Statistik Deskriptif Minimu 3,00 0,02 0,10 Maximu 5,00 0,49 0,90 Mea 4,09 0,23 0,43 Std. Deviation 0,73 0,09 0,15 0,41 4,54 1,79 0,79 Green accounting (X) Kinerja Keuangan (Y) Corporate Social Responsibility (Z) Green Accounting*Corporate Social Responsibility Valid N . Sumber: Data diolah Eviews 12, 2025 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 82 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa ukuran sampel (N) pada penelitian ini menggunakan 390 sampel. Menurut hasil analisis statistik deskriptif yang dilakukan pada variabel Green accounting (X), nilai mininumnya sebesar 3. 00, nilai maximumnya sebesar 00, nilai rata-ratanya sebesar 4. 09 serta nilai standar deviasinya adalah 0. Kemudian nilai minumum Kinerja Keuangan (Y) mencapai 0. 02, nilai maximum mencapai 0. 49, rata-rata 23 serta nilai standar deviasi mencapai 0. Lalu hasil rata-rata mencapai 0. serta nilai standar deviasi mencapai 0. kemudian, nilai minimun Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai variabel moderasi sebesar 0. 41, nilai maximumnya mencapai 54, nilai rata-ratanya mencapai 1. 79, lalu nilai standar deviasinya mencapai 0. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa penerapan Green Accounting cenderung tinggi, kinerja keuangan perusahaan relatif stabil, dan aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) menunjukkan variasi yang cukup besar, dan terdapat variasi yang signifikan dalam tingkat keterlibatan perusahaan pada Corporate Social Responsibility (CSR), sehingga mendukung pentingnya pengujian lebih lanjut terhadap hubungan variabel dan pengaruh variabel tersebut. Menurut hasil analisis statistik deskriptif, variabel Green accounting mempunyai nilai rata-rata mencapai 4. 09 dengan nilai standar deviasi mencapai 0. 73, kondisi tersebut membuktikan yakni perusahaan tersebut menerapan Green accounting pada tingkat yang realtif tinggi. Kemudian, kinerja keuangan mempunyai hasil yakni 0. 23 beserta nilai standar deviasi yang mencapai 0. 09, yang mengindikasikan bahwa kinerja keuangan perusahaan dalam sampel bervariasi tetapi masih dalam rentang yang relatif stabil. Serta CSR menghasilkan yakni 0. 43 beserta nilai standar deviasi yang mencapai 0. 15, kondisi tersebut membuktikan yakni tingkat keterlibatan perusahaan pada aktivitas CSR cukup bervariasi. Secara keseluruhan, hasil ini memberikan gambaran awal bahwa perusahaan pada umumnya cukup peduli terhadap aspek lingkungan melalui Green Accounting, memiliki kinerja keuangan yang relatif merata, serta menunjukkan tingkat keterlibatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang masih beragam. Uji metode estimasi dengan menguji ketiga model, yakni Common Effect Model. Fixed Effect Model dan Random Effect Model. Selanjutnya Uji yang digunakan termasuk uji chow, uji hausman serta uji lagrange multiplier (LM). Adapun hasil uji metode estimasi model, yaitu: Tabel 2. Hasil Uji Metode Estimasi Model Estimasi Model Probabilitas Uji Chow 0,0011 Uji Hausman Uji LM 0,0000 Sumber: Data diolah Eviews 12, 2025 Hipotesis H0 ditolak H0 diterima H0 ditolak Model Terpilih Fixed Effect Model Random Effect Model Random Effect Model Temuan uji metode estimasi model menggunakan 3 . uji yang meliputi temuan uji chow membuktikan yaitu Fixed Effect Model (FEM) merupakan hasil model yang terpilih dibandingkan terhadap Cammon Effect Model (CEM), kondisi ini terbukti dengan hasil nilai probabilitas 0,0011 < 0,05. Selanjutnya, melihat temuan uji hausman menerangkan bahwa model yang terpilih ialah Random Effect Model (REM) dibandingkan dengan FEM), hal ini dibuktikan dengan nilai probabilitas 0,0564 > 0,05. Karena belum menemukan model yang terbaik dari kedua pengujian tersebut maka dilakukan uji Lagrange Multiplier (LM) harus Hasil uji LM menunjukkan model yang terpilih adalah REM lebih tepat dibandingkan dengan CEM, kondisi tersebut terbukti dengan nilai probabilitas 0,0000 < 0,05. Temuan hasil dari pemilihan model REM ialah model yang paling cocok bagi penelitian Dampak Green accounting dan moderasi Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia tahun 2019-2023 bisa dilihat dengan hasil terbaik yaitu REM yakni: JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 83 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Tabel 3. Hasil Random Effect Model (REM) Variabel Coefficient t-statistic Probabilitas Green accounting (X) 0,076504 Corporate Social Responsibility 0,409730 (Z) Green Accounting*CSR 0,045568 Sumber: Data diolah Eviews 12, 2025 6,534937 0,0000 3,427053 0,0007 1,719569 0,0086 Adjusted Rsquare 0,532790 Random Effect Model (REM) merupakan model yang terpilih pada data panel bagi penelitian ini. Menurut (Afandi & AAoyun, 2. , uji asumsi klasik tak dibutuhkan pada analisa data sebab penggunaan data panel mampu mengurangi kemungkinan adanya bias dalam informasi, variasi serta degree of freedom dalam hasil analisis. Uji asumsi klasik tidak dilakukan, maka uji t-statistik berfungsi guna mengetahui hasilnya dengan menggunakan = Dari hasil uji t-statistik terlihat yakni variabel X (Green Accountin. bernilai probabilitas t-statistik 0. 0006 < 0,05 yang menunjukkan yakni Variabel X (Green Accountin. berpengaruh terhadap variabel Y (Kinerja Keuanga. dan variabel moderasi (Green accounting dan Corporate Social Responsibilit. memiliki nilai probabilitas t-statistik 0. 0086 < 0,05 menunjukkan yakni variabel Z (Corporate Social Responsibilit. berpengaruh terhadap peningkatan moderisasi hubungan antara Variabel X (Green Accountin. dengan variabel Y . inerja keuanga. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan yakni variabel X (Green accountin. serta variabel Z (Corporate Social Responsibilit. memiliki kemampuan dalam mendefinisikan variabel Y . inerja keuanga. melalui model yang bersifat moderat. Hal tersebut tercermin dari nilai Adjusted R-suared sebesar 53,27% sisanya 46,73% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan penelitian, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa Green Accounting berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia terbukti diterima. Green accounting terbukti berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia. Hasil ini sejalan dengan studi yang milik (AyoolaAkinjobi, 2. Selain itu, perusahaan yang memperhatikan lingkungan cenderung memiliki citra positif di mata konsumen dan investor, yang pada gilirannya berdapampak pada peningkatan kinerja keuangan. Hal ini diperkuat oleh temuan Putri et al. , . yang mengindikasikan adanya dampak Green accounting terhadap kinerja keuangan, serta studi milik Dianty & Nurrahim . yang menjelaskan yakni penerapan Green accounting menarik perhatian investor. Kondisi ini dikarenakan perusahaan dinilai memiliki tanggung jawab terhadap dampak lingkungan dari aktivitas operasionalnya, sehingga tak hanya menekankan pada nilai finansial semata, namun pada nilai lingkungan. Kesamaan utama dari penelitian ini dengan studi terdahulu adalah pada pengakuan terhadap pentingnya green accounting sebagai alat strategis dalam pengelolaan lingkungan yang berdampak pada peningkatan kinerja finansial. Namun, perbedaan terletak pada konteks objek studi. Ayoola-Akinjobi, . meneliti sektor energi di Nigeria, sementara penelitian ini berfokus pada sektor manufaktur di Indonesia. Pratiwi dan Suripto . memasukkan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol dan menemukan bahwa pengaruh green accounting signifikan hanya pada perusahaan besar. Sementara itu. Simon et al. meneliti peran green accounting dalam konteks good corporate governance sebagai pemoderasi, yang memperkuat pengaruhnya terhadap kinerja keuangan. Studi lain seperti yang dilakukan oleh Pratiwi & Suripto, . menambahkan bahwa green accounting tidak hanya berdampak pada profitabilitas, tetapi juga pada nilai perusahaan jangka panjang, sesuatu yang tidak dibahas secara mendalam dalam penelitian ini. Dalam konteks teori, hasil penelitian ini mengonfirmasi teori legitimasi dan teori Penerapan green accounting memperlihatkan bahwa perusahaan peduli JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 84 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 terhadap norma dan harapan sosial, sehingga memperoleh dukungan publik dan legitimasi Di sisi lain, teori stakeholder terkonfirmasi karena menunjukkan bahwa perusahaan yang responsif terhadap isu lingkungan cenderung mendapat dukungan dari stakeholder utama seperti konsumen dan investor, yang berdampak positif pada kinerja Dengan demikian, kedua teori tersebut dapat digunakan secara sinergis untuk menjelaskan hubungan antara green accounting dan kinerja keuangan. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis kedua terbukti berpengaruh. Salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan mampu diwujudkan melalui implementasi CSR, yang juga berperan sebagai faktor pendorong dalam penerapan konsep Green accounting. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa dengan bahwa CSR mampu mengatur keterkaitan antara Green accounting dengan kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia selama periode 2019 hingga 2023 dalam rangka mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Ketika semakin tinggi tingkat pelaksanaan CSR dalam suatu perusahaan, menjadikan kinerja keuangannya juga cenderung meningkat, sekaligus berkontribusi ketika membangun citra positif perusahaan. Hal ini, sejalan dengan teori legitimasi dan teori stakeholder, dimana perusahaan perlu memperoleh dukungan dari masyarakay dan memenuhi harapan para pemangku kepentingan agar tetap berkembang. Temuan ini sejalan dengan penelitian milik Asti & Aulia . , yang menjelaskan yakni CSR bisa memperkuat hubungan antara Green accounting dengan kinerja keuangan karena CSR mampu menciptakan nilai jangka panjang untuk pemegang saham, karyawan, konsumen serta masyarakat. Hal serupa juga dikemukakan oleh Alifah & Mustikawati . , yang menarik simpulan yakni Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan serta memperkuat hubungan positif antara Green accounting dan kinerja keuangan perusahaan. Kesimpulan dan Saran Penelitian ini menyimpulkan yakni penerapan Green accounting berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Penerapan Green Accounting membantu perusahaan dalam mengelola biaya lingkungan secara efisien dan meningkatkan reputasi serta kepercayaan stakeholder, yang akan berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan. Temuan studi ini juga membuktikan yakni keberadaan Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi variabel moderasi yang bisa mempererat keterkaitan antara Green accounting dengan kinerja keuangan perusahaan manufaktur di Indonesia periode tahun 2019-2023. Perusahaan yang aktif dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) cenderung lebih mampu memaksimalkan manfaat Green Accounting karena mendapat dukungan yang lebih luas dari stakeholder, sehingga mempercepat pencapaian tujuan pertumbuhan keberlanjutan. Secara praktis, hal ini mendorong manajemen untuk menjadikan Green Accounting sebagai strategi strategi investasi jangka panjang, dan secara teoritis, hasil penelitian ini memperkaya teori stakeholder dan legitimacy dengan menunjukkan bahwa akuntabilitas sosial dan lingkungan berperan penting dalam mencapai keberlanjutan perusahaan. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, cakupan penelitian yang hanya berfokus pada perusahaan di Indonesia. Penerapan Green accounting sangat membutuhkan investasi besar dalam sistem akuntansi baru. Tidak semua perusahaan mampu menerapkan Green accounting akibat keterbatasan dana dan sumber daya manusia. Selain itu, masih banyak variabel lain yang belum dikaji yang mungkin berpengaruh, seperti tekanan regulasi, budaya organisasi, atau digitalisasi sistem akuntansi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan wilayah kajian dan dapat berfokus pada bagaimana cara mengembangkan model implementasi yang lebih efisien dan terjangkau. Daftar Pustaka