Indonesian Journal of Educational Development Volume 1 Nomor 3, November 2020 DOI: 10.5281/zenodo.4293721 _________________________________________________________________________ EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AGAMA HINDU Ni Luh Kartini SDN 3 Padangsambian, Kota Denpasar, Indonesia; luhkartinii21@gmail.com Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Hindu melalui penggunaan media gambar. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian kota Denpasar tahun pelajaran 2020/2021. Objek penelitian adalah hasil belajar Agama Hindu. Data hasil belajar Agama Hindu dikumpulkan menggunakan tes hasil belajar. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Kriteria keberhasilan adalah sebagai berikut: (1) nilai rata-rata ulangan harian minimal sebesar KKM=70, dan (2) ketuntasan belajar klasikal minimal 85%. Hasil observasi awal yang dilakukan sebelum tindakan menunjukkan bahwa nilai rerata Agama Hindu hanya mencapai 67,78 dengan ketuntasan secara klasikal 61,54%. Setelah dilakukan penelitian tindakan kelas, pada siklus I nilai rata-rata ulangan harian siswa mencapai 71,84 dengan ketuntasan klasikal 80,77%. Pada siklus I ketuntasan secara klasikal masih di bawah 85% sehingga siklus dilanjutkan ke siklus II. Setelah dilakukan tindakan, pada siklus II, nilai rerata Agama Hindu mencapai 76,19 dengan ketuntasan klasikal mencapai 88,46%. Dengan demikian, penggunaan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar Agama Hindu siswa kelas I SDN 3 Padangsambian tahun pelajaran 2020/2021 dalam dua siklus. Kata Kunci: media gambar, hasil belajar, Agama Hindu Abstract. This classroom action research aims to determine the increase in learning outcomes of Hinduism through the use of image media. The subjects of this study were grade 1 students of SDN 3 Padangsambian, Denpasar city in the 2020/2021 school year. The object of research is the learning outcomes of Hinduism. Hindu religious learning outcomes data were collected using learning outcome tests. The collected data were analyzed descriptively qualitatively. The criteria for success are as follows: (1) the minimum average daily test score is KKM = 70, and (2) classical learning completeness is at least 85%. The results of preliminary observations made before the action showed that the mean value of Hinduism only reached 67.78 with classical completeness of 61.54%. After the classroom action research was carried out, in the first cycle the average value of the students' daily tests reached 71.84 with 80.77% classical completeness. In the first cycle classical completeness was still below 85% so the cycle was continued to cycle II. After taking the action, in cycle II, the mean score of Hinduism reached 76.19 with classical completeness reaching 88.46%. Thus, the use of image media can improve learning outcomes of Hinduism for grade I SDN 3 Padangsambian students in the 2020/2021 school year in two cycles. Keywords: image media, learning outcomes, Hinduism PENDAHULUAN Daryanto (2016) menyatakan bahwa pendidikan pada dasarnya bertujuan membangun dan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan dan kreativitas yang optimal. Salah _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 536 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 satunya target yang paling utama bagi pendidikan modern adalah membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sehingga mampu menghadapi segala tantangan melawan arus globalisasi yang disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dengan memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas maka suatu bangsa akan dapat bersaing serta hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain (Widana, 2019). Oleh karena itu, bidang pendidikan mempunyai peranan penting dalam upaya membentuk sumber daya manusia (SDM) yang handal bagi pembangunan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau pedagogik berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi orang dewasa (Irham & Novan Ardy, 2013). Memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan, mengolah, menalar dan menyajikan dalam ranah konkret dan ranah abstrak mencakup semua sub dalam ranah kognitif, sedangkan mengembangkan prilaku dan ketuhanan mencerminkan semua aktifitas pembelajaran Agama Hindu yang melatih dan mengembangkan baik keterampilan sejarah maupun sikap ilmiah. Dalam bidang pendidikan tidak cukup hanya merevisi kurikulum tetapi harus pula mengacu pada perubahan paradigma berpikir yang fokus pada bagaimana siswa belajar serta bagaimana mencetak kompetensi tenaga pendidik yang profesional (Majid, 2013). Yang lebih penting dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan khususnya dalam pendidikan Agama Hindu perlu di adakan perubahan dari pembelajaran yang bersifat teacher centered ke pembelajaran student centered, yang terbukti masih banyaknya sekolahsekolah yang menerapkan pembelajaran konvensional yang didominasi oleh peran guru dengan metode ceramah sehingga siswa cenderung pasif, hanya mendengar dan mencatat. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang standar proses, menyatakan bahwa guru-guru hendaknya mengoptimalkan peran aktif siswa dalam pembelajaran, memanfaatkan media pembelajaran, dan melakukan interaksi secara aktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan materi pelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa dituntut bekerja dalam kelompok-kelompok kecil atau bekerja mandiri, dalam mempelajari teori dan contoh, mengerjakan tugas-tugas, menggunakan alat-alat bantu, mempelajari atau memilih pustaka. Diharapkan pula guru mengajak siswa secara keseluruhan untuk melakukan diskusi kelas, guru bertugas sebagai fasilitator untuk memberikan bantuan secara klasikal atau individual kepada siswa yang membutuhkan. Salah satu keterampilan mengajar yang berperan penting dalam proses pembelajaran yakni pemilihan media pembelajaran yang tepat, agar dapat meningkatkan aktivitas dan gairah belajar pada siswa karena siswa merasa terlibat dalam pembelajaran maka diharapkan diterapkan media pembelajaran yang inovatif (Nanang et al., 2010). Konsep belajar maupun proses pembelajaran tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan pembelajaran yang dalam implementasinya mengenal banyak istilah untuk _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 537 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 menggambarkan cara mengajar yang akan dilakukan oleh guru. Saat ini, begitu banyak macam media maupun metode pembelajaran yang meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik. Contoh beberapa media tersebut dijadikan sebagai media pengajaran jika dapat membawa pesan-pesan (massages) dalam rangkaian mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian harus ada keterkaitan antara media pembelajaran dan siswa sebagai pengguna. Media pembelajaran adalah alat-alat fisik untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam bentuk buku, film, gambar dan lain sebagainya. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar (Ngalimun, 2014). Media gambar merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa. Sehingga pemakaian media gambar dalam proses pembelajaran Agama Hindu akan membawa suasana yang baru, efektif dan efisien dalam belajar, sehingga perhatian siswa akan terpusat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya (Sukarta, 2020). Media lahir karena penerapan prinsip-prinsip teknologi instruksional, teknologi instruksional lahir karena adanya teknologi pendidikan (Widarta, 2020). Karena media instruksional adalah lahir dari konsekuensi penerapan teknologi instruksional dan yang memanfaatkan media instruksional adalah mereka yang datang dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda tetapi mempunyai kepentingan yang sama yaitu hal-hal yang berhubungan dengan interaksi antara manusia dan proses belajar mengajar, maka timbulah banyak pendapat tentang arti media. Berdasarkan berbagai batasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah segala wujud yang dapat digunakan sebagai sumber belajar yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar mengajar ketingkat yang lebih efektif dan efisien. Selain itu, media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Media mengandung informasi yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain. Informasi dapat dijumpai didalam buku, dalam pita suara, pita video, film atau micro film, semuanya ini adalah media. Begitu halnya dengan bagan, chart, poster, transparasi, dan lain-lain, semua itu adalah media instruksional, karena memuat informasi yang dapat dikomunikasikan kepada siswa (Mudlofir et al., 2017). Rohman (2011) menyebutkan ada enam fungsi pokok dari media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar, keenam fungsi tersebut adalah: (1) penggunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif, (2) penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar ini berarti bahwa media pengajaran _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 538 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru; (3) dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi mengandung pengertian bahwa penggunaan media harus melihat kepada tujuan dan materi pelajaran; (4) penggunaan media pengajaran dalam pembelajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa; (5) penggunam media pengajaran dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru, dan; (6) penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar-mengajar. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan spikomotorik. Hasil belajar yang dicapai peserta didik di pengaruhi olehh dua faktor utanut yakni faktor dari dalam peserta didik itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri peserta didik terutama kemapuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan peserta didik besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki peserta didik, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (Sardiman, 2011). Suprihatiningrum, J. (2013) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan segala upaya yang mengangkut aktivitas otak (proses berpikir) terutama dlam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ismail (2017) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi dalam pembelajaran. Dari sisi guru pembelajaran diakhiri dengan evaluasi hasil belajar. Dari sisi peserta didik, hasil belajar adalah punjak dari proses pembelajaran. Sedangkan pada umumnya setelah belajar seseorang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dibidang pendidikan seperti, penyempurnaan Kurikulum, menetapkan sistem pendidikan nasional, meningkatkan Kelompok Kerja Guru (KKG), menatar guru-guru mata pelajaran, pengadaan bahan ajar, perlengkapan sarana dan prasarana pembelajaran dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas maka akan dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan penggunaan media gambar dalam pembelajaran Agama Hindu untuk meningkatkan hasil belajar Agama Hindu siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian tahun pelajaran 2020/2021. METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian hasil belajar Agama Hindu siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian tahun pelajaran 2020/2021 menggunakan media gambar. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus penelitian dapat digambarkan sebagai berikut. _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 539 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 Gambar 1. Model Pelaksanaan Siklus Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian tahun pelajaran 2020/2021, sedangkan objek penelitian adalah hasil belajar Agama Hindu. Penelitian tindakan ini dikatakan berhasil bila memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) nilai rata-rata ulangan harian minimal sebesar KKM=70, dan (2) ketuntasan belajar klasikal minimal 85%. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Pelaksanaan penelitian tindakan pada siklus I dan siklus II selalu di awali dengan kegiatan perencanaan. Tidak ada perbedaan yang sangat mendasar dalam kegiatan perencanaan pada siklus I maupun siklus II. Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut: (1) menyiapkan materi ajar, (2) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, (3) menyiapkan skenario pembelajaran, (4) menyiapkan media gambar sesuai dengan materi ajar, (5) menyiapkan lembar observasi untuk aktivitas peserta didik, dan (6) menyiapkan tes hasil belajar Agama Hindu. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan pelaksanaan tindakan dilakukan sendiri oleh peneliti sesuai dengan jadwal pelajaran pada siklus I dan siklus II dan skenario pembelajaran yang telah ditetapkan. Seperti pada kegiatan perencanaan, pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang sangat prinsip. Masing-masing siklus dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan, di mana pertemuan ke-1 sampai ke-3 diisi dengan _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 540 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 pelaksanaan tindakan, sedangkan pada pertemuan ke-4 peserta didik diberikan tes hasil belajar untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. Pada pelaksanaan tindakan pada siklus I dijumpai beberapa permasalahan, yaitu sulitnya menarik perhatian siswa untuk fokus pada media gambar. Di samping itu pada siklus I kebanyak siswa bercanda, kurang serius dalam pembelajaran. Kelemahan-kelemahan yang dijumpai pada siklus I disempurnakan pada siklus II. Sehingga secara prinsip, pelaksanaan siklus II sifatnya menyempurnakan hal-hal yang dianggap masih lemah sehingga dalam siklus II dapat diminimalkan. Observasi Kegiatan observasi dilakukan selama pelaksanaan tindakan berlangsung dengan mengenai prilaku/aktivitas siswa yang tampak. Pengamatan terhadap aktivitas belajar peserta didik menggunakan lembar pedoman observasi. Pada tahapan ini peneliti mengamati hal–hal berkaitan dengan aktivitas yang ditunjukkan oleh peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Demikian pula semua kemajuan yang telah dicapai serta kelemahan-kelemahan yang dijumpai dalam setiap siklus dicatat. Hasil observasi dicatat dalam catatan harian sebagai bahan untuk melakukan kegiatan refleksi. Refleksi Kegiatan refleksi dilakukan untuk mengidentifikasikan hasil tindakan, kekurangan serta kendala-kendala yang muncul selama pelaksanaan tindakan siklus I berdasarkan hasil observasi dan evaluasi. Jika setelah evaluasi yang dilakukan terlihat proses pelaksanaan tindakan dan hasil yang dicapai pada siklus I belum sesuai dengan kriteria yang ditetapkan pada penelitian ini, sebagai akibat dari aktivitas peserta didik yang masih kurang aktif, ada kemungkinan situasi ini disebabkan oleh beberapa kendala yang muncul. Hasil Penelitian Setiap akhir pelaksanaan siklus diakhiri dengan tes hasil belajar. Hasil-hasil yang telah dicapai setelah pelaksanaan siklus I dan siklus II dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 1. Data Hasil Penelitian Data Hasil Prasiklus Rerata 67,78 Ketuntasan Klasikal 61,54% Siklus I 71,84 80,77% Siklus II 76,19 88,46% Pada tabel 1 di atas terlihat bahwa sebelum dilaksanakan penelitian tindakan hasil belajar Agama Hindu masih berada di bawah KKM yaitu baru mencapai rerata 67,78 dengan ketuntasan klasikal 61,54%. Setelah pelaksanaan tindakan rerata hasil belajar Agama Hindu meningkat menjadi 71,84 dengan ketuntasan klasikal mencapai 80,77%. Bila dibandingkan dengan kriteria keberhasilan penelitian ternyata belum tercapai, yaitu ketuntasan klasikal masih di bawah 85% sehingga siklus perlu dilanjutkan ke siklus II. Dalam pelaksanaan siklus II, penguatan-penguatan terhadap hasil-hasil yang telah dicapai dalam siklus I dilakukan dengan berbagai cara misalnya memberikan _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 541 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 reward (penghargaan) baik secara material dan moral. Reward secara material diberikan berupa hadiah ringan berupa pulpen dan buku tulis bergambar menarik, sedangkan reward dalam bentuk moril diberikan dalam bentuk pujian, atau sentuhan fisik seperti menepuk pundak siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar diiringi ucapan ‘kamu memang hebat’. Di samping pemberian reward, dalam siklus II juga dilakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kelemahan-kelemahan dan kendala-kendala yang dijumpai pada siklus I. Pemberian reward dan penyempurnaan itu, ternyata bisa meningkatkan hasil belajar Agama Hindu menjadi rerata 76,19 dengan ketuntasan klasikal mencapai 88,46%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar Agama Hindu siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian Kota Denpasar tahun pelajaran 2020/2021 dalam 2 siklus. Keberhasilan yang dicapai melalui penggunaan media gambar dalam pembelajaran Agama Hindu, sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget. Siswa kelas 1 Sekolah Dasar berada dalam tahap operasional konkret. Siswa-siswa dalam tahap operasional konkret memerlukan media untuk bisa mencapai hasil belajar yang optimal. Dengan demikian, dalam pelaksanaan pembelajaran pada siswa kelas 1 SD sangat dianjurkan menggunakan media pembelajaran yang relevan. Gambar-gambar yang digunakan dalam pembelajaran, ternyata sangat menarik perhatian dan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran Agama Hindu. Gambar-gambar Dewata Nawa Sanga dapat dimengerti dengan lebih baik menggunakan media gambar. Warna-warna yang menarik juga menjadi motivasi tersendiri bagi siswa SD tahap awal (Widana et al., 2020). Penyajian materi pembelajaran dengan media gambar dirasakan sangat efektif dan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Materi-materi Agama Hindu yang abstrak dan bersifat keyakinan, dapat dengan mudah dimengerti dan diyakini oleh siswa bila disajikan dengan media gambar. Penggunaan media gambar juga mampu meningkatkan daya ingat siswa dalam kurun waktu yang relatif lama, dibandingkan dengan penyampaian materi hanya bersifat verbal saja (Widana et al., 2019). SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan interpretasi penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar Agama Hindu siswa kelas 1 SDN 3 Padangsambian Kota Denpasar tahun pelajaran 2020/2021 dalam 2 siklus. Pembelajaran menggunakan media gambar sangat sesuai dengan tahap perkembangan kognitif siswa sekolah dasar kelas 1 yang ada dalam tahap operasional konkret. Dengan demikian, sangat dianjurkan untuk menggunakan media gambar dalam penyajian pembelajaran pada kelas awal siswa sekolah dasar. Media gambar dapat meningkatkan daya ingat siswa dalam kurun waktu yang relatif lama. DAFTAR PUSTAKA Daryanto. (2016). Media pembelajaran. Penerbit Gava. _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 542 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 536-543, November 2020 Ismail dan Cici Fatimah. (2011). Pengaruh penggunaaan media LCD dalam pembelajaran ekonomi terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Tapa. [Laporan PTK, Universitas Gorontalo]. Irham, M. & Ardy, N. (2013). Psikologi pendidikan: Teori dan aplikasi dalam proses pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Majid, A. (2013). Strategi Pembelajaran. Remaja Rosdakarya. Mudlofir, Ari, & Rusydiyah. (2017). Desain pembelajaran inovatif. Raja Grafindo Persada. Nanang, Hanafiah, & Cucu Suhana. (2010). Konsep strategi pembelajaran. Refika Aditama. Ngalimun. (2014). Strategi dan model pembelajaran. Aswaja Pressindo. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Purwanto. (2014). Evaluasi hasil belajar. Pustaka Pelajar Rohman, A. (2011). Memahami pendidikan dan ilmu pendidikan. Aswaja Pressindo. Sardiman. (2011). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Rajawali. Sukarta, I. G. K. (2020). Meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Hindu dan budi pekerti siswa kelas XI IPS2 SMA Negeri 1 Marga melalui penerapan teknik megending. Indonesian Journal of Educational Development, 1(2), 170-179. https://doi.org/10.5281/zenodo.4003800 Suprihatiningrum, J. (2013). Strategi pembelajaran teori dan aplikasi. ArRuzz Media. Widana, I. W., Suarta, I. M., & Citrawan, I. W. (2019). Penerapan metode simpang tegar untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penulisan PTK dan artikel ilmiah. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat), 4(1), 365 - 375. https://doi.org/10.21067/jpm.v4i1.3016 Widana, I. W. (2020). The effect of digital literacy on the ability of teachers to develop HOTS-based assessment. Journal of Physics: Conference Series 1503 (2020) 012045, doi:10.1088/1742-6596/1503/1/012045. Widana, I. W., Sumandya, I. W., Sukendra, K., Sudiarsa, I. W. (2020). Analysis of conceptual understanding, digital literacy, motivation, divergent of thinking, and creativity on the teachers skills in preparing hots-based assessments. Jour of Adv Research in Dynamical & Control Systems, 12(8), 459-466, DOI: 10.5373/JARDCS/V12I8/20202612. Widarta, G. M. A. (2020). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jig saw untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Indonesian Journal of Educational Development, 1(2), 131-141. https://doi.org/10.5281/zenodo.4003775 _________________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 543