EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Volume 6. Nomor 3. November 2025 E-ISSN. Website: https://ejurnal. id/edukasitematik DOI: https://doi. org/10. 59632/edukasitematik. Implementasi Prinsip-Prinsip Deep Learning dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar Implementation of deep learning principles in elementary school education Ulfa Nur Fauziah1. Arman2. Syafira Ramadani3. Laelatul Mahfuroh4. Mai Fika Adetia5. Dwi Sutari6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung, indonesia1,2,3,4,5,6 Email Korespondensi: auziahulfa962@gmail. comuO Histori Artikel Masuk: 27-10-2025 | Diterima: 29-11-2025 | Diterbitkan: 30-11-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Meaningful. Joyful, dan Mindful Learning dalam pembelajaran berbasis Deep Learning di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus yang dilaksanakan di UPT SD Negeri 1 Pringsewu Barat. Lampung, selama SeptemberAeOktober 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala sekolah dan guru, observasi proses pembelajaran, dan analisis dokumen. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meaningful Learning terwujud melalui strategi pengaitan materi dengan pengalaman nyata siswa. Joyful Learning tampak dari suasana kelas yang menyenangkan dan interaktif, sedangkan Mindful Learning terlihat dari praktik refleksi siswa dan guru terhadap proses belajar. Integrasi ketiga pendekatan tersebut menghasilkan pengalaman belajar yang lebih mendalam, relevan, dan holistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis Deep Learning dengan mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dasar yang lebih adaptif dan humanis. Kata kunci: Pembelajaran Mendalam. Pembelajaran Bermakna. Pembelajaran Menyenangkan. Pembelajaran Berkesadaran Abstract This study aims to describe the implementation of Meaningful. Joyful, and Mindful Learning in Deep Learning-based learning in primary schools. The study used a qualitative case study approach conducted at UPT SD Negeri 1 Pringsewu Barat. Lampung, during SeptemberAeOctober 2025. Data were collected through interviews with the principal and teachers, observation of the learning process, and document analysis. The data were analysed through reduction, data presentation, and conclusion drawing, with data validity tested through source and method triangulation. The results showed that Meaningful Learning was realised through strategies that linked the material to the students' real experiences. Joyful Learning was evident from the pleasant and interactive classroom atmosphere, while Mindful Learning was seen in the students' and teachers' reflection practices on the learning process. The integration of these three approaches resulted in a more profound, relevant, and holistic learning experience. This study concluded that Deep Learning-based learning, which integrates these three dimensions, can improve the quality of basic learning to be more adaptive and humanistic. Keywords: Deep Learning. Meaningful Learning. Joyful Learning. Mindful Learning This is an open acacess article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Pendekatan deep learning dalam pendidikan menawarkan peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan penuh kesadaran bagi peserta didik sekolah Model ini tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep, tetapi juga mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Dengan demikian, siswa mampu memahami materi secara mendalam serta mengaitkannya dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (Putri & Sulastri, 2. Oleh karena itu, pembelajaran mendalam berfungsi sebagai saluran peningkatan pemahaman konseptual dan perolehan kompetensi praktis di pendidikan dasar. CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 3. November 2025 Penerapan joyful learning dalam kerangka deep learning menekankan pentingnya menciptakan suasana kelas yang interaktif, penuh rasa percaya, dan menyenangkan, sehingga mendorong motivasi siswa untuk aktif belajar (Robinson & Kakela, 2. Integrasi pengalaman belajar yang menggembirakan dengan pemahaman bermakna terbukti meningkatkan keterlibatan siswa dan efektivitas proses belajar (Jeet & Pant, 2. Upaya ini sejalan dengan transformasi pendidikan yang menuntut pembelajaran lebih humanis dan adaptif serta mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan (Sargiotis, 2. Namun, dalam praktik di sekolah dasar, masih terdapat kendala, terutama dalam merumuskan strategi instruksional yang menghubungkan konsep teori dengan pengalaman hidup siswa. Sesuai perspektif Ausubel, kebermaknaan belajar sangat bergantung pada kemampuan siswa mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang ada (Nurhasanah et al. , 2. Pendekatan hafalan dan instruksi satu arah masih digunakan, sehingga pemahaman mendalam sulit dicapai dan pembelajaran terasa kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tantangan lain yang muncul ialah menghadirkan suasana kelas yang benar-benar Meskipun hal ini penting untuk motivasi, banyak sekolah menghadapi beban kurikulum padat, keterbatasan media belajar, dan metode pengajaran yang monoton (Singh, 2014. Jeet & Pant, 2. Akibatnya, keterlibatan aktif siswa berkurang, padahal hal tersebut inti dalam pembelajaran bermakna dan menyenangkan. Aspek meaningful learning yang menekankan keterlibatan emosional dan sosial juga kurang diperhatikan, disebabkan kurangnya strategi keterlibatan, keterampilan guru dalam memfasilitasi kolaborasi, dan dukungan lingkungan belajar yang terbatas (Al Hussaini et al. , 2. Jika permasalahan ini berlanjut, kualitas pembelajaran berpotensi menurun signifikan. Siswa akan kesulitan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata, sehingga pembelajaran tetap dangkal dan tidak memberikan pemahaman mendalam (Nurhasanah et al. , 2. Ketiadaan suasana belajar menyenangkan mengurangi motivasi intrinsik dan meningkatkan risiko kebosanan serta sikap apatis (Singh, 2014. Jeet & Pant, 2. Dampaknya, keterampilan sosial, komunikasi, dan kolaborasi yang penting di abad ke-21 tidak berkembang optimal (Al Hussaini et al. , 2. Meaningful, joyful, dan mindful learning merupakan tiga pendekatan saling melengkapi dalam menciptakan proses pembelajaran utuh di sekolah dasar. Meaningful learning menghubungkan pengetahuan baru dengan sebelumnya sehingga pemahaman mendalam tercapai. Joyful learning menekankan suasana belajar yang menyenangkan dan mengurangi tekanan, sementara mindful learning mengacu pada keterlibatan emosional, sosial, dan pengalaman autentik yang memberi makna lebih luas bagi siswa (Jeet & Pant, 2. Integrasi ketiganya di bawah kerangka deep learning berpotensi mengubah proses pendidikan menjadi lebih bermakna dan relevan dengan realitas siswa. Kelebihan penerapan strategi ini mencakup peningkatan motivasi intrinsik, penguatan keterampilan abad ke-21 seperti kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta literasi dasar melalui pengalaman belajar yang menyenangkan (Gelizon, 2. Pembelajaran yang aktif dan playful terbukti efektif menumbuhkan partisipasi serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademik dan sosial (Nesbitt, 2. Pelaksanaan dapat melalui integrasi permainan pendidikan, pembelajaran proyek, media inovatif, dan ruang kelas yang mendorong interaksi Dengan demikian, lembaga pendidikan dasar menjadi ruang perkembangan yang melengkapi siswa dengan pengalaman signifikan, menyenangkan, dan memuaskan untuk masa depan Meskipun banyak penelitian menyoroti meaningful dan joyful learning, masih ada celah terutama dalam integrasi ketiga konsep utamaAimeaningful, joyful, dan mindful learningAidalam satu kerangka utuh deep learning. Studi terdahulu cenderung fokus pada aspek psikologis dan CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 3. November 2025 motivasional, tanpa memadukan kedalaman pemahaman konseptual dan pembangunan keterampilan sosial secara bersamaan (Jeet & Pant, 2023. Gelizon, 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi ketiga dimensi pembelajaran ke dalam kerangka deep learning di sekolah dasar. Penelitian tidak hanya membahas penciptaan suasana belajar menyenangkan, tetapi juga mengelola pengalaman belajar bermakna secara emosional dan sosial untuk meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan sosial dan kognitif (Cronqvist. Pendekatan ini menawarkan model pembelajaran komprehensif berorientasi pada pemahaman mendalam dan kesiapan siswa menghadapi tantangan global. Urgensi penelitian didasarkan pada kebutuhan meningkatkan kualitas pendidikan yang tidak hanya akademik, tetapi juga holistik. Pendekatan konvensional yang menekankan hafalan menghambat pemahaman mendalam (Nurhasanah et al. , 2. Kebermaknaan pembelajaran penting untuk membangun fondasi pengetahuan jangka panjang dan keterampilan berpikir kritis serta kreatif (Jeet & Pant, 2. Lanskap pendidikan kontemporer menghadapi tantangan besar untuk mempersiapkan siswa menghadapi abad ke-21. Suasana pendidikan yang kaku berisiko mengurangi motivasi dan keterlibatan siswa (Singh, 2014. Cronqvist, 2. Oleh karena itu, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna penting untuk pengembangan keterampilan sosial, emosional, dan kolaboratif yang relevan dengan kebutuhan global (Robinson & Kakela, 2006. Al Hussaini et al. Penelitian ini menawarkan pendekatan pembelajaran komprehensif yang mengintegrasikan meaningful, joyful, dan mindful learning untuk mendukung transformasi pendidikan dasar ke arah yang lebih adaptif, humanis, dan berkelanjutan (Sargiotis, 2025. Nesbitt, 2. Penelitian terdahulu menunjukan bahwa strategi pembelajaran dalam deep learning berdampak signifikan pada kualitas proses dan hasil belajar. Misalnya. Putri dan Sulastri . menunjukkan bahwa model deep learning di Indonesia mengintegrasikan penguasaan materi dan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan kreativitas, menjadikan pembelajaran relevan dan mendalam. Jeet dan Pant . menemukan pengintegrasian joyful dan meaningful learning meningkatkan keterlibatan dan kemampuan kolaborasi serta komunikasi. Robinson dan Kakela . menegaskan suasana kelas yang menyenangkan memperkaya pengalaman belajar, sementara Cronqvist . menekankan pentingnya rasa senang untuk motivasi dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, integrasi strategi meaningful, joyful, dan mindful learning dalam deep learning memiliki potensi besar dalam mentransformasi pembelajaran di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali secara mendalam implementasi meaningful, joyful, dan mindful learning dalam kerangka deep learning di sekolah dasar. Studi kasus dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang komprehensif dan kontekstual terhadap fenomena pembelajaran, sesuai dengan teori yang menyebut deep learning sebagai jembatan untuk menumbuhkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis yang relevan bagi peserta didik (Putri & Sulastri, 2024. Jeet & Pant, 2. Landasan teoritis metode studi kasus merujuk pada model yang dikembangkan oleh Yin, yang menekankan pentingnya analisis holistik dan konteks sosial budaya dalam memahami praktik pendidikan secara mendalam. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2025 di UPT SD Negeri 1 Pringsewu Barat. Kabupaten Pringsewu. Lampung. Lokasi ini dipilih karena sekolah sedang mengembangkan inovasi pembelajaran berorientasi pada penguatan keterampilan abad ke-21 melalui pendekatan deep learning. Informan penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru pengampu mata pelajaran, dan sejumlah siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 3. November 2025 dalam implementasi pembelajaran deep learning. Kehadiran peneliti dalam konteks ini adalah sebagai pengamat-partisipan, berinteraksi langsung dengan proses pembelajaran untuk memperoleh data yang kaya dan mendalam. Teknik pengumpulan data utama adalah wawancara mendalam yang dipandu oleh pedoman wawancara terstruktur secara fleksibel sehingga memungkinkan eksplorasi isu penting terkait pembelajaran bermakna, menyenangkan, dan penuh kesadaran. Selain itu, dokumen pendukung seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), catatan hasil belajar siswa, dan observasi kelas juga dimanfaatkan sebagai data sekunder untuk melengkapi dan memvalidasi temuan wawancara. Rincian teknik pengumpulan data ini mencakup pencatatan rekaman suara wawancara, transkripsi verbatim, serta pencatatan lapangan untuk mengamati interaksi di kelas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis kualitatif Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif, dengan fokus pada pola-pola yang berkaitan dengan penerapan meaningful, joyful, dan mindful learning dalam konteks deep learning. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dengan melibatkan kepala sekolah, guru, dan dokumen sebagai sumber data yang berbeda. Triangulasi metode juga dilakukan dengan memadukan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Selain itu, pendekatan member checking digunakan dengan mengonfirmasi hasil sementara kepada informan kunci guna memastikan validitas interpretasi data. Pelibatan refleksi kritis peneliti juga dimanfaatkan untuk meminimalkan bias dan menguatkan kredibilitas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil analisis tematik dari wawancara dan observasi di UPT SD Negeri 1 Pringsewu Barat menunjukkan Implementasi prinsip-prinsip deep learning dalam pembelajaran di sekolah dasar berjalan secara sistematis dan terintegrasi. Sekolah menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya menitikberatkan pencapaian akademik, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna dan berkesadaran. Kebijakan sekolah mendukung hal ini melalui pelatihan guru, pendampingan kepala sekolah, dan penyediaan sarana pembelajaran aktif serta Dalam aspek Meaningful Learning, guru menghubungkan materi kurikulum dengan realitas hidup siswa agar pengetahuan tidak hanya sementara tetapi menjadi bagian struktur kognitif mereka, misalnya mengaitkan konsep coding dengan fitur Meta AI di aplikasi WhatsApp. Penilaian diagnostik awal juga diterapkan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kompetensi siswa. Pada dimensi Joyful Learning, suasana kelas ditandai oleh interaksi aktif, semangat, dan kolaborasi yang tinggi dengan metode seperti permainan edukatif, eksperimen, dan media visual Kepala sekolah mendukung guru dalam menciptakan inovasi pembelajaran yang menggembirakan sehingga meningkatkan motivasi dan antusiasme siswa. Untuk Mindful Learning, guru dan sekolah menanamkan kesadaran reflektif melalui sesi refleksi akhir pembelajaran, memfasilitasi siswa memahami proses belajar dan emosi mereka, yang kemudian diintegrasikan dalam evaluasi kelembagaan melalui refleksi guru dan supervisi pembelajaran secara sistematis. Ini membantu memantau aspek afektif dan sosial siswa secara Pembahasan Penerapan Meaningful Learning sesuai dengan teori Ausubel yang menekankan keterkaitan pengetahuan baru dengan struktur kognitif lama, memperlihatkan bahwa guru berhasil mengintegrasikan konsep akademik dengan pengalaman sehari-hari siswa (Nurhasanah et al. , 2. CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 3. November 2025 Ini memperkuat relevansi deep learning sebagai upaya pembelajaran kontekstual yang mendalam (Putri & Sulastri, 2. Praktik asesmen diagnostik turut memperkuat keselarasan dengan filosofi student-centered learning yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif. Dimensi Joyful Learning berfungsi sebagai katalisator keterlibatan kognitif dan emosional siswa yang berkesinambungan. Aktivitas pembelajaran yang ceria dan kolaboratif sesuai dengan pandangan Jeet dan Pant . dan mendukung hasil Cronqvist . yang menilai kegembiraan sebagai faktor motivasional utama. Suasana kelas yang menyenangkan juga memperkuat hubungan guru-siswa serta membentuk ruang belajar produktif dan aman (Robinson & Kakela, 2. Penguatan kolaborasi siswa melalui aktivitas kelompok mendukung keterampilan abad ke-21 yang esensial (Al Hussaini et al. , 2. , guna mengatasi jenuh akibat beban kurikulum (Nesbitt, 2. Peran guru sebagai fasilitator kreatif juga menwujudkan pendidikan humanis berpusat pada peserta didik, sejalan dengan Gelizon . Mindful Learning menjadi pilar penting untuk reflektivitas siswa sekaligus guru. Praktik refleksi meningkatkan metakognisi siswa serta kesadaran emosional dan sosial mereka, mendukung pembelajaran berkelanjutan yang adaptif (Winje & Lyndal, 2020. Putri & Sulastri, 2. Keterlibatan guru dalam refleksi dan supervisi berkontribusi pada peningkatan profesionalitas dan kualitas pembelajaran (Al Hussaini et al. , 2. Hubungan interpersonal yang empatik dan humanis yang terbangun antara guru dan siswa mencerminkan konsep ruang belajar yang mendukung perkembangan karakter dan kesadaran diri (Robinson & Kakela, 2006. Sargiotis, 2. Dengan demikian, integrasi mindful learning memperkuat paradigma pembelajaran holistic yang menyeimbangkan dimensi kognitif, afektif, dan sosial. Secara teoretis, penelitian ini mengonfirmasi bahwa kombinasi Meaningful. Joyful, dan Mindful Learning dalam kerangka deep learning menciptakan model pembelajaran yang kohesif dan berorientasi pada perkembangan holistik peserta didik. Model ini bukan hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga motivasi, keterampilan sosial-emosional, dan kesiapan menghadapi tantangan global masa depan. Ini merupakan kontribusi penting bagi literatur pendidikan dasar dan menawarkan arahan implementasi praktis dalam pengembangan kualitas pembelajaran yang adaptif, humanis, dan berkelanjutan. PENUTUP Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi Meaningful. Joyful, dan Mindful Learning dalam kerangka pembelajaran berbasis Deep Learning di SD Negeri 1 Pringsewu Barat berhasil menciptakan sistem pembelajaran yang holistik dan berorientasi pada pengembangan kognitif, afektif, dan sosialemosional peserta didik. Kontribusi utama penelitian terletak pada pengembangan model pembelajaran yang adaptif dan humanis, yang sekaligus membekali siswa keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kesadaran diri. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain cakupan lokasi yang hanya satu sekolah sehingga temuan belum sepenuhnya dapat digeneralisasi. Selain itu, data penelitian berbasis kualitatif lebih menekankan pemahaman mendalam tanpa pengujian kuantitatif terhadap efektivitas model pembelajaran. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan studi komparatif di berbagai sekolah dengan pendekatan mixed methods untuk menguji validitas dan efikasi integrasi ketiga dimensi pembelajaran ini secara lebih luas. Selain itu, eksplorasi lebih lanjut dapat fokus pada peran teknologi pendidikan dalam mendukung penerapan deep learning yang bermakna, menyenangkan, dan berkesadaran secara berkelanjutan. Pemangku kepentingan, termasuk guru dan pembuat kebijakan, diharapkan mendorong pengembangan kompetensi pedagogik yang menyiapkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup dengan karakter reflektif dan motivasi intrinsik kuat. Dengan dukungan kebijakan dan inovasi CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 3. November 2025 pembelajaran yang konsisten, pendidikan dasar dapat berfungsi sebagai fondasi strategis dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan global dengan pemahaman mendalam dan kesadaran kritis. DAFTAR PUSTAKA