Society: Community Engagement and Sustainable Development Vol 2 No 1 DOI https://doi. org/10. 62515/society (ISSN : 3089-3992 and E-ISSN : 3089-3. Pelatihan Pembuatan Ecobrick dan Kerajinan dari Sampah Plastik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan di Kecamatan Talun Sopidi1. Syibromilisi2 1UIN SIBER Syekh Nurjati Cirebon 2STIT Buntet Pesantren 1Email : sopidioppo69@gmail. 2Email : syibro@stit-buntetpesantren. Article History: Received: 3 Maret 2025 Reviced: 7 Maret 2025 Accepted: 31 Maret 2025 Abstract The problem of plastic waste is a crucial issue that requires creative and participatory handling, especially in semi-urban areas such as Talun District. Cirebon Regency. This community service aims to increase community environmental awareness through training in ecobricking and crafts from plastic waste. https:// The method used is a participatory method through a org/10. Participatory Action Research approach involving 30 participants from various villages. Training activities included socialization, ecobricking practice, and plastic waste handicraft Keywords: Ecobrick. Plastic Waste, workshop. Results showed a significant increase in knowledge, skills, and changes in community attitudes towards waste Environmental In addition to the ecological impact, this activity Awareness. Training, also opened up opportunities for creative economic development. Creative Economy Therefore, this training can be used as a model for sustainable environmental education and socio-economic empowerment. Kata kunci: Abstrak Ecobrick. Sampah Plastik. Permasalahan sampah plastik menjadi isu krusial yang Kesadaran Lingkungan, memerlukan penanganan kreatif dan partisipatif, terutama di Pelatihan. Ekonomi wilayah semi-urban seperti Kecamatan Talun. Kabupaten Kreatif Cirebon. Pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat melalui pelatihan pembuatan ecobrick dan kerajinan dari sampah Metode yang digunakan adalah metode partisipatif melalui pendekatan Participatory Action Research dengan melibatkan 30 peserta dari berbagai desa. Kegiatan pelatihan meliputi sosialisasi, praktik pembuatan ecobrick, serta workshop kerajinan tangan dari sampah plastik. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Selain dampak ekologis, kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif. Oleh karena itu, pelatihan ini dapat dijadikan model edukasi lingkungan yang berkelanjutan dan berdaya guna secara sosial How To Cite This Article: Sopidi, dan Syibromilisi. Pelatihan Pembuatan Ecobrick dan Kerajinan dari Sampah Plastik untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan di Kecamatan Talun. Society: Community Engagement and Sustainable Development. Vol. 2 (No. , 52-. Pendahuluan Permasalahan sampah, khususnya sampah plastik, telah menjadi isu lingkungan yang mendesak di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kecamatan Talun. Kabupaten Cirebon. Sampah plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai secara alami dan dapat mencemari tanah, air, serta rantai makanan manusia apabila tidak dikelola dengan baik. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang (KLHK, 2. Penggunaan botol plastik semakin marak di masyarakat. Dibalik itu terdapat fakta bahwa penggunaan botol plastik memiliki dampak yang sangat buruk terhadap residu lingkungan karena proses penguraian botol plastik bisa memakan waktu 450 000 tahun. Pada bidang arsitektur, cara menjaga bumi dapat dilakukan dengan mendesain bangunan yang ramah lingkungan (Istiana Adianti & Nurina V. Ayuningtyas, 2. Tingginya produksi sampah plastik yang tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat dalam pengelolaannya menyebabkan meningkatnya risiko pencemaran Di wilayah pedesaan dan semi-urban seperti Kecamatan Talun, pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait pengelolaan sampah secara kreatif dan berkelanjutan masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan edukatif dan partisipatif dalam membentuk kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik yang ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan ini adalah melalui pelatihan pembuatan ecobrick dan kerajinan tangan dari sampah Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik nonbiologis yang bersih dan kering, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan alternatif yang ramah lingkungan (Gitt, 2. Selain membantu mengurangi volume sampah plastik, ecobrick dan kerajinan daur ulang juga memiliki nilai ekonomis yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan. Melalui kegiatan pelatihan yang terstruktur, masyarakat tidak hanya dibekali dengan keterampilan teknis, tetapi juga diajak untuk memahami dampak jangka panjang dari pencemaran sampah plastik serta pentingnya menjaga lingkungan Menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui aktivitas praktis seperti ini telah terbukti efektif dalam mengubah perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan (Nugraheni & Prasetyo, 2. Pelatihan pembuatan ecobrick dan kerajinan dari sampah plastik di Kecamatan Talun diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dalam membangun kesadaran ekologis sekaligus menciptakan peluang ekonomi kreatif berbasis Berbagai macam sampah seperti botol plastik, sachet, plastik kemasan dijadikan satu dengan tahapan dan proses yang sesuai sehingga terpenuhi kualitasnya untuk dijadikan bahan rancangan ataupun bangunan. Dengan pengaplikasian eco-brick ini diharapkan mampu mengurangi besaran jumlah sampah plastik dan botol minuman untuk kemudian dapat menjadi hal yang lebih bermanfaat serta mengedukasi masyarakat tentang bahaya sampah plastik dan memberikan pelatihan terkait pemanfaatan sampah plastik agar dapat berguna Oleh karena itu, kegiatan ini relevan untuk dikaji dan dijadikan model dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik secara mandiri dan inovatif. Kajian Teori Indonesia bahkan telah mengatur sampah dalam peraturan perundangundangan, yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan Pengelolaan sampah ini bukan hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga mencakup aspek-aspek yang lain, seperti manajemen, pembiayaan, regulasi, pelibatan masyarakat sebagai penghasil sampah, pihak swasta dan lain-lain (Hendra, 2. Jika kita perhatikan, negara-negara maju di dunia, pengelolaan sampah sering didefinisikan sebagai kontrol terhadap timbulan sampah, mulai dari pembuangan akhir dengan penanganan-penanganan terbaik untuk kesehatan, ekonomi, estetika, lingkungan, teknis, konservasi, dan juga terhadap sikap Keberhasilan pengelolaan sampah dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya didasarkan pada aspek teknis saja, tetapi juga mencakup aspek-aspek Tidak mudah melaksanakan sistem pengelolaan yang baik, perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti teknik sipil, perencanaan kota, ekonomi, lain-lain. Pertambahan penduduk yang demikian pesat di daerah perkotaan . telah mengakibatkan meningkatnya jumlah timbulan sampah. Dari studi dan evaluasi yang telah dilaksanakan di kota-kota di Indonesia, dapat diiden tifikasi masalahmasalah pokok dalam pengelolaan persampahan kota, antara lain: 1. Bertambah kompleksnya masalah persampahan sebagai konsekuensi logis dari pertambahan penduduk kota. Peningkatan kepadatan penduduk menuntut pula peningkatan metode/pola pengelolaan sampah yang lebih baik. Keheterogenan tingkat sosial budaya penduduk kota menambah kompleksnya permasalahan. Situasi dana serta prioritas penanganan yang relatif rendah dari pemerintah daerah merupakan masalah umum dalam skala nasional. Pergeseran teknik penanganan makanan, misalnya menuju ke pengemas yang tidak dapat terurai seperti plastik. Keterbatasan sumber daya manusia yang sesuai yang tersedia di daerah untuk Pengembangan persampahan yang bergerak sangat lambat. Partisipasi masyarakat yang pada umumnya masih kurang terarah dan terorganisir secara baik. Konsep pengelolaan persampahan yang kadangkala tidak cocok untuk diterapkan, serta kurang terbukanya kemungkinan modifikasi konsep tersebut di lapangan (Damanhuri dan Tri, 2. Metode Metode yang digunakan adalah metode partisipatif melalui pendekatan participatory action research dengan melibatkan 30 peserta dari berbagai desa. Proses ini melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses identifikasi masalah, pelaksanaan solusi, dan evaluasi dampaknya. Kegiatan dilakukan dalam beberapa tahap: Observasi awal untuk mengidentifikasi kondisi pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Talun. Sosialisasi dan pengenalan konsep ecobrick dan kerajinan dari sampah plastik kepada warga melalui forum RT/RW dan komunitas lokal. Pelatihan intensif selama 3 hari meliputi: Teori tentang dampak sampah plastik Praktik membuat ecobrick Workshop kerajinan tangan . as, pot, hiasan, dl. Monitoring dan evaluasi pascapelatihan melalui kuesioner dan wawancara mendalam untuk melihat perubahan pengetahuan, sikap, dan tindakan warga. Pameran hasil kerajinan sebagai media apresiasi dan penyebaran dampak ke lingkungan sekitar. Peserta kegiatan adalah 30 warga dari 3 desa berbeda di Kecamatan Talun, terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda karang taruna, dan kader lingkungan. Hasil dan Pembahasan Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Lingkungan Kegiatan pelatihan menunjukkan bahwa pendekatan edukatif melalui praktik langsung sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap dampak negatif sampah plastik. Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan sebelum dan sesudah pelatihan, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik secara berkelanjutan. Sebelum pelatihan, mayoritas peserta hanya memandang sampah sebagai masalah kebersihan, bukan sebagai ancaman ekologis. Namun setelah pelatihan, peserta mulai memahami bahwa sampah plastik yang tidak terkelola dapat mencemari tanah, air, dan berdampak pada kesehatan manusia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan ditengahtengah isu mengenai meningkatnya limbah sampah plastik di bumi yang belum dapat terpecahkan masalahnya dengan baik. Hasil ini sejalan dengan temuan Nugraheni & Prasetyo . yang menyatakan bahwa pendekatan berbasis aksi dan praktik nyata dapat merangsang kesadaran lingkungan lebih efektif dibandingkan penyuluhan verbal semata. Pelatihan diawali dengan pengenalan sampah plastik dan bahayanya bagi tubuh manusia maupun lingkungan. Pengolahan sampah menggunakan metode ecobrick tergolong mudah, bahan yang diperlukan berupa sampah plastik. Sampah plastik dipilah menjadi dua, sampah halus seperti plastik AokresekAo dan sampah kasar seperti pembungkus makanan, plastik minyak goreng, mie instan, dan lain Agar dapat digunakan, sampah-sampah ini dibersihkan dari sisa-sisa bahan seperti makanan, minyak dan sabun kemudian keringkan. Selain kedua sampah tersebut, siapkan juga botol plastik bekas air mineral yang telah dibersihkan dan dikeringkan untuk media. Alat-alat yang diperlukan adalah gunting dan bambu ukuran 2x40 cm untuk memadatkan sampah plastik di dalam botol. Hasil dari pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat mendorong penurunan jumlah sampah plastik tidak terolah yang berimplikasi terhadap semakin besarnya kesadaran lingkungan para peserta pelatihan. Peningkatan Keterampilan Teknis Masyarakat Melalui pelatihan intensif selama tiga hari, peserta mendapatkan keterampilan teknis dalam pembuatan ecobrick dan kerajinan dari sampah plastik. Ecobrick menjadi salah satu solusi konkret dalam memanfaatkan sampah plastik non-biodegradable yang selama ini hanya menumpuk di lingkungan. Selain itu, keterampilan membuat kerajinan tangan dari bahan bekas memberikan alternatif produktif bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pemuda karang taruna, untuk menciptakan produk yang bernilai ekonomis. Partisipasi aktif peserta dalam setiap sesi menunjukkan adanya minat dan kesiapan untuk menerapkan keterampilan ini di rumah masing-masing. Bahkan, beberapa peserta menyatakan akan membentuk kelompok kecil untuk melanjutkan produksi kerajinan secara kolektif. Perubahan Sikap dan Perilaku Perubahan sikap masyarakat tercermin dalam respons positif terhadap kegiatan monitoring pascapelatihan. Berdasarkan wawancara mendalam, mayoritas peserta mengaku mulai memilah sampah di rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengajak anggota keluarga untuk turut serta dalam kegiatan daur ulang. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi berdampak terhadap pembentukan perilaku baru yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Perubahan perilaku ini merupakan indikator awal keberhasilan program dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat, sebagaimana dikemukakan Gitt . , bahwa keberlanjutan proyek ecobrick sangat bergantung pada transformasi perilaku individu dan kolektif terhadap pengelolaan sampah. Penguatan Nilai Ekonomi dan Sosial Selain aspek lingkungan, pelatihan ini juga berkontribusi terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Produk kerajinan yang dihasilkan, seperti tas belanja, pot bunga, dan hiasan dinding, berpotensi untuk dipasarkan di tingkat lokal. Dalam pameran hasil karya yang diadakan pada akhir kegiatan, masyarakat sekitar menunjukkan ketertarikan dan memberikan apresiasi terhadap kreativitas para Hal ini membuka peluang untuk membentuk unit usaha mikro berbasis kerajinan daur ulang sebagai sumber pendapatan tambahan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi media edukasi, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan dan kolaborasi antarkelompok masyarakat. Tidak hanya itu dengan adanya bahaya plastik bagi lingkungan dan kesehatan ini semakin menyadarkan manusia untuk menjaga ekosistem lingkungan. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik adalah dengan mengolahnya menjadi produk lain yang bernilai guna bahkan bernilai jual. Kesimpulan Pelatihan pembuatan ecobrick dan kerajinan dari sampah plastik secara signifikan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik secara kreatif dan berkelanjutan. Peserta menjadi lebih memahami dampak negatif dari pencemaran plastik serta peran aktif yang dapat mereka ambil dalam solusi lingkungan. Keterampilan teknis yang diberikan dalam pelatihan terbukti mampu diadopsi secara langsung oleh peserta, ditunjukkan dengan antusiasme dan partisipasi aktif dalam praktik pembuatan ecobrick dan kerajinan tangan. Ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis praktik lebih efektif dibanding penyuluhan Perubahan perilaku masyarakat pascapelatihan menjadi indikator penting keberhasilan kegiatan. Peserta mulai melakukan pemilahan sampah, mengurangi plastik sekali pakai, dan menunjukkan keinginan untuk mengembangkan aktivitas daur ulang secara berkelanjutan di lingkup rumah tangga maupun komunitas. Nilai ekonomi dari produk kerajinan yang dihasilkan membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan, khususnya bagi ibu rumah tangga dan kelompok pemuda. Pelatihan ini tidak hanya menyasar aspek ekologis, tetapi juga sosial-ekonomi masyarakat lokal. Pelatihan serupa perlu dilanjutkan dan diperluas jangkauannya ke desa-desa lain di Kecamatan Talun maupun wilayah sekitarnya untuk menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat. Penguatan kapasitas lokal menjadi kunci dalam pengelolaan sampah secara mandiri. Adapun saran dari kegiatan pengabdian ini Dukungan dari pemerintah daerah dan stakeholder lingkungan sangat dibutuhkan, baik dalam bentuk fasilitas, kebijakan insentif, maupun kemitraan dengan sektor swasta agar kegiatan daur ulang dan produksi ecobrick dapat berkembang secara berkelanjutan dan tidak terhenti sebagai kegiatan satu kali. Pembentukan komunitas ecobrick dan kelompok usaha kerajinan daur ulang perlu difasilitasi pascapelatihan sebagai bentuk keberlanjutan dan penguatan jejaring sosial. Ini juga akan mendorong munculnya inovasi baru serta saling berbagi pengetahuan antar warga. Evaluasi berkala dan pendampingan lanjutan menjadi penting untuk memastikan bahwa perubahan sikap dan perilaku masyarakat terus berjalan serta termonitor dengan baik, sehingga pelatihan tidak hanya menghasilkan dampak jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Daftar Pustaka