Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru SITI SYAHSUDARMI Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Riau (STIE-RIAU) Jalan H.R. Subrantas No.57 Panam Pekanbaru 28293 Telp (0761) 63237 E-mail: sitisyahsudarmi@lecturer.stieriau-akbar.ac.id Abstract: This study aims to determine the role of triple helix in encouraging the growth of the creative economy and to find out how triple helix formulated efforts to increase competitiveness in the face of MEA in Pekanbaru City. Exploratory research type with a qualitative approach where data collection is done through interviews. The research method with social network analysis was used to determine the relationship between stakeholders, the intensity of coordination, and the distribution of roles among the actors in implementing triple helix as an effort to encourage the growth of the creative industry in the city of Pekanbaru. Keywords: Triple helix, creative economy, SMEs Perkembangan peradaban di era digital mendorong perubahan diberbagai sendi kehidupan. Interaksi antar manusia dalam lingkungan global telah mempengaruhi perubahan karakter, gaya hidup, dan perilaku masyarakat. Dalam dunia usaha, pasar menjadi semakin dinamis, terbuka dan luas dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi. Pada tahun 2016 telah memasuki memasuki era ekonomi baru di kawasan Asia Tenggara yaitu dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). MEA memiliki pola untuk mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas antar negara-negara anggota ASEAN yang terintegrasi, yang memungkinkan adanya kebebasan arus barang, jasa, modal, investasi dan tenaga kerja terampil ke negara-negara anggota ASEAN. World Economic Forum (WEF) melansir sebuah laporan tentang tingkat daya saing negara-negara di dunia (Global Competitiveness Index) tahun 2017-2018. Ratusan negara di dunia dinilai dan teliti, seberapa berkualitas dan mampu bersaing setiap negara. Indonesia termasuk dalam daftar kajian tersebut dan kabar baiknya di tahun ini, Merah Putih mengalami peningkatan peringkat. Sementara indek daya saing negara ASEAN, Singapura diperingkat teratas, Malaysia berada diurutan kedua tertinggi selanjutnya Thailand di posisi ketiga diikuti Indonesia, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini : Sumber: World Economic Forum 2017 – 2018 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) 89 Tabel 1. Peringkat Daya Saing Global Indonesia Tahun 2017 – 2018 Sumber: Laporan Tahunan World Economy Forum 2018 Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 90 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) Gambar 2: Potret Ekonomi Asean Sumber: ASEAN Economic Community, May 2017 Industri yang berkembang di Indonesia saat ini adalah industri kreatif. Definisi berdasarkan UK DCMS Task Force (1998), yaitu merupakan industri yang mempunyai keaslian dari kreatifitas individual, ketrampilan dan bakat, yang memiliki potensi untuk menciptakan kesehjateraan dan peciptaan lapangan pekerjaan melalui generasi dan eksploitasi kekayaan intlektual dan konten. Departemen Perdagangan Republik Indonesia menyusun sebuah rancangan pengembangan industri kreatif mencakup 15 subsektor, yaitu: periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, musik, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan, film, video, dan fotografi, serta kuliner. Dalam perkembangannya, ada penambahan Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) beberapa sektor industri sebagai inkubator industri kreatif, yaitu agrobisnis, dan otomotif yang dimana industri kecil dan menengah banyak mendominasi dan menggerakkan industri kreatif dalam pelaksanaan (Murniati, 2009). Hasil data statistik ekonomi kreatif 2016 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010-2015, besaran PDB ekonomi kreatif naik dari 525,96 triliun menjadi 852,24 triliun (meningkat rata-rata 10,14% per tahun). Sedangkan tiga Negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada tahun 2015 adalah Amerika Serikat 31,72% kemudian Jepang 6,74%, dan Taiwan 4,99%. Untuk sektor tenaga kerja ekonomi kreatif 2010-2015 mengalami pertumbuhan sebesar 2,15%, dimana jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2015 sebanyak 15,9 juta orang. Selain itu, dimulainya era pasar bebas juga membuat peluang dalam industri kreatif menjadi semakin luas. Penting campur tangan pemerintah, kepedulian pemerintah p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) daerah, dan apresiasi masyarakat terutama terhadap kelima pilar utama model pengembangan industri dan ekonomi kreatif, yakni: 1) industry; 2) technology; 3) resources; 4) institution; dan 5) financial intermediary (Mauled, 2010) akan lebih menstimulasi munculnya talenta-talenta baru di daerah. Pihak yang dianggap mampu memberikan bantuan untuk pengembangan industri kreatif yaitu kolaborasi antara intellectuals, government dan business atau yang biasa di sebut dengan konsep Triple Helix. Kolaborasi dari tiga aktor Triple Helix ini dianggap mampu meningkatkan kreativitas, ide dan skill (Etzkowitz, 2008). Selain itu, pengelolaannya secara komprehensif, terintegrasi, dan profesional akan mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif di setiap daerah. Salah satu kota yang sedang merintis menjadi kota kreatif adalah Kota Pekanbaru. Jumlah UMKM di Pekanbaru menjadi jumlah terbanyak dibandingkan dengan jumlah UMKM di kabupaten/kota lainnya di Provinsi Riau. Data Diskop dan UKM Provinsi Riau menyebutkan bahwa Pekanbaru dengan 68.728 UMKM-nya menempati posisi pertama dalam jumlah UMKM. Posisi kedua adalah Kampar dengan jumlah UMKM-nya sebanyak 45.446 UMKM. Inhil dengan 44.891 UMKM menempati posisi ketiga. Selanjutnya, Bengkalis (42.029 UMKM), Rohil (34.036 UMKM), Rohul (27.074 UMKM), Inhu (26.488 UMKM), Siak (22.948 UMKM), Kuansing (21.450 UMKM), Dumai (20.782 UMKM) dam Palalawan dengan 13.824 UMKM-nya menempati posisi juru kunci. Dari sejumlah UMKM yang tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Riau itu, sektor perdagangan dengan 77.156 UMKM menjadi sektor paling diminati dibandingkan dengan jasa (19.656 UMKM), produksi (12.760) dan industri dengan 11.320 UMKM-nya. Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) 91 Untuk menjadi sebuah kota kreatif, tentu diperlukan suatu metode yang bisa memetakan siapa aktor yang berperan aktif atau tidak dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di suatu kota agar bisa menilai suatu kinerja di dalam proses itu. Metode yang bisa digunakan adalah metode social network analysis (SNA). SNA adalah satu alat untuk memetakan hubungan pengetahuan penting antara individu (Pryke, 2004). SNA merupakan pendekatan yang digunakan untuk penelitian social seperti melacak arus informasi vertikal dan lateral, mengidentifikasi sumber-sumber dan tujuan untuk mencari batasan atas resourses (Wellman, 1997), SNA dikembangkan untuk memahami hubungan (ties/edge) dari aktor-aktor (nodes/points) yang ada dalam sebuah sistem dengan 2 fokus, yaitu aktor-aktor dan hubungan antar aktor dalam kontek sosial tertentu. Konsep Triple Helix merupakan interaksi antara universitas, industri dan pemerintah yang dikembangkan pada tahun 1990-an oleh Etzkowitz & Leydesdorff. Konsep ini sering digunakan sebagai kerangka normatif antara peneliti untuk pemahaman interaksi antara aktor kunci dalam inovasi sebuah sistem. Selain itu juga menjadi strategi umum yang digunakan pemerintah dalam mengembangkan inovasi suatu kebijakan. Salah satu klaim utama dari tesis Triple Helix adalah bahwa antara akademisi, industri dan pemerintah menyediakan kondisi yang optimal untuk inovasi (Etzkowitz dan Leydesdorff 2000). p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 92 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) Gambar 2 Konsep Triple Helix Sumber: Etzkowitz dan Leydesdorff (1998, 2000) Kemudian menurut Wishnu dalam APEC CEO Summit 2013 Indonesia, korelasi antara peran universitas, bisnis dan pemerintah dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan ketiga aktor integral dalam konteks publicprivate-partnership terjadi dalam sebuah konsep Triple Helix, yang dikenal dengan istilah ABG atau Academic, Business & Government. Dalam konsep Academic, Business & Government, industri berperan sebagai rumah produksi, sementara pemerintah adalah sumber hubungan kontraktual yang memastikan interaksi dan pertukaran yang stabil, dan universitas sebagai sumber pengetahuan dan teknologi baru. Sinergi dari ketiga sektor ini merupakan prinsip generatif dalam membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan, yang memungkinkan tercapainya integrasi ekonomi yang lebih kompak dan erat. Industri Kreatif berdasarkan UK DCMS Task Force (1998) merupakan industri yang mempunyai keaslian dari kreatifitas individual, keterampilan dan bakat, yang memiliki potensi untuk menciptakan kesehjatraan dan peciptaan lapangan pekerjaan melalui generasi dan eksploitasi kekayaan intlektual dan konten. Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) Industri kreatif merupakan bagian atau subsistem dari ekonomi kreatif. Sebelumnya dikatakan bahwa industri kreatif merupakan bagian atau subsistem dari ekonomi kreatif. Studi Ekonomi Kreatif terbaru yang dilakukan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) pada tahun 2010 mendefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai sebuah konsep yang berkembang berdasarkan aset kreatif yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dengan penjabaran lebih lanjut sebagai berikut: 1. Peningkatan pendapatan, menciptakan lapangan pekerjaan, dan ekspor, mendorong kepedulian sosial, keragaman budaya, dan pengembangan manusia. 2. Menyertakan aspek sosial, budaya, dan ekonomi dalam pengembangan teknologi, Hak Kekayaan Intelektual, dan pariwisata. 3. Kumpulan aktivitas ekonomi berbasis pengetahuan dengan dimensi pengembangan dan keterhubungan lintas sektoral pada level ekonomi mikro dan makro secara keseluruhan. Departemen Perdagangan Republik Indonesia juga menjelaskan manfaat dari adanya industri kreatif sebagai berikut: 1. Memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. 2. Menciptakan iklim bisnis yang positif. 3. Membangun citra dan identitas bangsa. 4. Berbasis kepada sumber daya yang terbarukan. 5. Menciptakan inovasi dan kreativitas merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa. 6. Memberikan dampak sosial yang positif. Teori daya saing yang sering digunakan adalah teori dari Muhardi (2007), yang dimana daya saing operasi merupakan fungsi operasi yang tidak saja p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) berorientasi ke dalam (internal) tetapi juga keluar (eksternal), yakni merespon pasar sasaran usahanya dengan proaktif. Dengan begitu, perusahaan yang tidak mempunyai daya saing tentu akan ditinggalkan oleh pasar. Juga disampaikan oleh Rahman (2017) bahwa daya saing UMKM mengarah kepada kemampuannya dalam bertahan dan berkembang. Hal tersebut terjadi karena tidak memiliki daya saing berarti tidak memiliki keunggulan, dan tidak unggul berarti tidak ada alasan bagi suatu perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang. Daya saing berhubungan dengan bagaimana efektivitas suatu organisasi di pasar persaingan, dibandingkan dengan organisasi lainnya yang menawarkan produk atau jasa-jasa yang sama atau sejenis. Perusahaanperusahaan yang mampu menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas baik adalah perusahaan yang efektif dalam arti akan mampu bersaing. Dimensi daya saing suatu perusahaan sebagaimana dikemukakan oleh Muhardi (2007) dengan mengutip Ward et al. (1998) adalah terdiri dari biaya (cost), kualitas (quality), waktu penyampaian (delivery), dan fleksibilitas (flexibility). Keempat dimensi tersebut lebih lanjut diterangkan oleh Muhardi (2007) lengkap dengan indikatornya sebagai berikut: 1. Biaya 2. Kualitas 3. Waktu penyampaian 4. Fleksibilitas METODE Pеnеlitiаn ini mеrupаkаn pеnеlitiаn ekploratori dеngаn pеndеkаtаn kuаlitаtif. Adapun fokus penelitian sebagai berikut: Implementasi yang dilakukan oleh triple helix (akademisi, bisnis, dan pemerintah) dalam mendorong industri kreatif di Kota Pekanbaru. Hubungan akademisi, bisnis, dan pemerintah dalam mendorong industri kreatif di Kota Pekanbaru. Aktor yang dipengaruh dan aktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan industri kreatif di Kota Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) 93 Pekanbaru. Aktor yang dekat dengan aktor lainnya di dalam jaringan pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Aktor yang menjadi perantara di dalam jaringan pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Temuan gap antara teori dan praktik pada jaringan pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Pekanbaru. Alasan peneliti memilih lokasi penelitian di Kota Pekanbaru dikarenakan Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau sekaligus sebagai pusat pemerintahan yang memiliki pusat kendali terhadap kegiatan perekonomian sebagai indikator pertumbuhan iklim usaha di daerah. Selaras dengan visi Provinsi Riau tahun 2014 – 2019 yaitu “Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Daerah Tujuan Wisata yang Berdaya Saing, Didukung oleh Budaya Melayu dan Ekonomi Kreatif untuk Kesejahteraan Masyarakat” maka potensi Kota Pekanbaru sebagai kota sentra produksi, distribusi dan perdagangan menjadi keniscayaan, peluang ini didukung dengan berkah geografis yang strategis, tersedianya sumber daya human capital dan intelektual yang berlimpah serta sarana dan prasarana yang baik. Tеknik pеngumpulаn dаtа yаng digunаkаn olеh pеnеliti аntаrа lаin: wawancara mendalam kepada pemangku kepentingan dalam konsep triple helix (akademisi, pemerintah, dan dunia usaha), studi literatur dari berbagai sumber dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, metode analisis data yang dipakai adalah social network analysis (SNA). HASIL Peran Triple Helix dalam pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru Peran Pemerintah Kota Pekanbaru Dari hasil penelitian diketahui bahwa peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru adalah sebagai regulator dan juga fasilitator. Kemudian jika dilihat dari nilai atau angka p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 94 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) degree, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru memiliki nilai tertinggi dengan nilai 41 dimana terdapat nilai 21 dari out degree dan nilai 20 dari in degree. Hal ini menunjukkan peran pemerintah sangat sentral karena memiliki nilai keterhubungan yang tinggi. Dari hasil degree tersebut jika dilihat melalui data pertumbuhan yang ada seperti data Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), akan diketahui apakah peran pemerintah sudah cukup atau belum. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam RPJM seperti: a. Data pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru. b. Pengembangan dan pemerataan pembangunan daerah. c. Mendorong percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan menggali potensi dan keunggulan daerah. Pada point pertama diketahui jika pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru pada laporan kinerja tahun 2016 adalah sebesar 6,89%.6 Kemudian persentase capaian sektor industri terhadap total PDRB atas target sebesar 62,71%. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan meningkat. Pada point ke dua diketahui jika jumlah industri yang ada di Kota Pekanbaru pada tahun 2016 adalah sebanyak 404 Kemudian di tahun 2017 jumlah industri meningkat menjadi 496. Hal ini menunjukkan jika terjadi peningkatan jumlah industri dan juga pengembangan pembangunan. Pada point ke tiga dimana dalam mendorong percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan menggali potensi dan keunggulan daerah, Kota Pekanbaru telah memiliki potensi dan keunggulan dimana sub sektor seni tenun, handicraft dan tari kontemporer melayu yang dipilih setelah dilakukan uji petik oleh pemerintah dan stakeholder lainnya. Dengan demikian peran pemerintah Kota Pekanbaru sudah cukup baik pada pelaksanaannya. Kemudian yang perlu dilakukan selanjutnya adalah peningkatan Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) kinerja dari pemerintah sendiri untuk terus mendorong pertumbuhan industri kreatif Kota Pekanbaru agar mampu berdaya saing tinggi. Peran Akademi Kota Pekanbaru Dari hasil penelitian diketahui peran akademisi dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru adalah dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat dan juga melakukan penelitian. Kemudian jika dilihat dari nilai atau angka degree, peran dari akademisi tidak begitu sentral jika dibandingkan dengan pemangku kepentingan lainnya. STIE Riau yang merupakan perwakilan dari akademisi menempati peringkat ke 5 dengan nilai 8 dimana terdapat nilai 4 dari out degree dan nilai 4 dari in degree. Hal ini menunjukkan jika peran akademisi masi belum cukup karena memiliki nilai keterhubungan yang sedikit. Akademisi dan stakeholder lainnya seperti pemerintah dan bisnis dalam Triple Helix pada prinsipnya harus berjalan bersama untuk bisa mencapai tujuan yang di inginkan. Namun dalam hal ini, akademisi Kota Pekanbaru dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif masih belum cukup di tandai dengan perannya yang masih sedikit. Hasil data dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Kreatif yang telah di jelaskan sebelumnya menunjukkan jika peran pemerintah sudah cukup baik. Hal ini tentu berhubungan dengan akademisi dimana mereka juga ikut dalam perumusan kebijakan yang akan diambil. Jika di tarik kesimpulan dari data yang ada, dengan peran yang minim dari akademisi, ternyata sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Lalu jika peran dari akademisi bisa maksimal, tentu hasil yang akan di dapatkan tentu akan lebih dari sebelumnya. Oleh karena itu, sangat diperlukan peningkatan peran dari akademisi dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Kemudian yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melibatkan p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) aktor-aktor akademisi lainnya. Peran Bisnis Kota Pekanbaru Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa peran bisnis dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru adalah menjadi investor dan peran sebagai mentor. Kemudian jika dilihat dari nilai atau angka degree, peran dari bisnis juga cukup sentral sama seperti dari peran pemerintah. Pekanbaru Creative Fusion (PCF) yang merupakan perwakilan dari bisnis menempati peringkat ke 2 dengan nilai 41 dimana terdapat nilai 20 dari out degree dan nilai 21 dari in degree. Hal ini menunjukkan jika peran dari bisnis cukup sentral dan juga berpengaruh besar di dalam jaringan. Kemudian dengan adanya data peningkatan jumlah industri yang ada di Kota Pekanbaru yang telah di jelaskan sebelumnya, menunjukkan jika peran dari bisnis sudah berjalan dengan baik dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Kemudian yang perlu dilakukan selanjutnya adalah peningkatan kinerja dari pelaku bisnis sendiri untuk terus mendorong pertumbuhan industri kreatif Kota Pekanbaru agar mampu berdaya saing tinggi. Upaya Triple Helix dalam merumuskan peningkatan daya saing untuk menghadapi MEA di Kota Pekanbaru Peran Pemerintah Kota Pekanbaru Hasil dari penelitian dapat disimpulkan jika pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata lebih fokus menjadi fasilitator kepada industri-industri kreatif yang ada di Kota Pekanbaru dengan kegiatan pelatihan, magang, maupun sosialisasi yang lebih masif. Kemudian jika dilihat dari nilai atau angka degree, memiliki nilai tertinggi yaitu dengan nilai 41 dimana terdapat nilai 21 dari out degree dan nilai 20 dari in degree. Hal ini menunjukkan jika peran pemerintah sangat sentral karena memiliki nilai keterhubungan yang tinggi dengan aktor-aktor lainnya di dalam jaringan Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) 95 pertumbuhan industri kreatif Kota Pekanbaru.. Kemudian dengan memperhatikan infografis data statistik dan hasil survei ekonomi kreatif tahun 2016, terlihat bahwa ekonomi kreatif mampu memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2015, sektor ini menyumbangkan 852 triliun rupiah terhadap PDB nasional (7,38%), menyerap 15,9 juta tenaga kerja (13,90%), dan nilai ekspor US$ 19,4 miliar (12,88%). Data juga menunjukkan peningkatan kontribusi ekonomi kreatif yang signifikan terhadap perekonomian nasional dari tahun 2010-2015 yaitu sebesar 10,14% per tahun. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi untuk berkembang dan daya saing di masa mendatang. Peran Akademisi Pekanbaru Jika dilihat dari nilai atau angka degree, peran dari akademisi tidak begitu sentral jika dibandingkan dengan stakeholder lainnya. STIE Riau yang merupakan perwakilan dari akademisi menempati peringkat ke 5 dengan nilai 8 dimana terdapat nilai 4 dari out degree dan nilai 4 dari in degree. Hal ini menunjukkan jika peran akademisi masi belum cukup karena memiliki nilai keterhubungan yang sedikit. Diharapkan kedepannya peran akademisi dalam menerima informasi ataupun pemberi informasi bisa lebih besar lagi dari sebelumnya. Peran Dunia Usaha Kota Pekanbaru Dari hasil penelitian dapat disimpulkan jika peran dari bisnis dalam merumuskan peningkatan daya saing industri kreatif untuk menghadapi MEA di Kota Pekanbaru sangat penting. Selain ikut serta dalam pengambil keputusan kebijakan yang akan di jalankan, peran pelaku usaha dalam memajukan industri kreatif sekitarnya juga merupakan peranan penting dalam merumuskan peningkatan daya saing p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 96 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) industri kreatif untuk menghadapi MEA di Kota Pekanbaru. Kemudian jika dilihat dari nilai atau angka degree, peran dari bisnis juga cukup sentral sama seperti dari peran pemerintah. Pekanbaru Creative Fusion (PCF) yang merupakan perwakilan dari bisnis menempati peringkat ke 2 dengan nilai 41 dimana terdapat nilai 20 dari out degree dan nilai 21 dari in degree. Hal ini menunjukkan jika peran dari bisnis cukup sentral dan juga berpengaruh besar dalam merumuskan peningkatan daya saing untuk menghadapi MEA di Kota Pekanbaru. Selanjutnya adalah peningkatan kinerja dari pelaku usaha sendiri untuk terus mendorong pertumbuhan industri kreatif Kota Pekanbaru agar mampu berdaya saing tinggi. Peta social network dari Triple Helix dan aktor yang memiliki peran dan pengaruh pada pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru Degree Network. Aktor atau nodes yang memiliki nilai degree tertinggi diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru dengan 41 hubungan dengan nodes lainnya, (2) Pekanbaru Creative Fusion (PCF) dengan 41 hubungan dengan nodes lainnya, dan (3) Focus Group Discussion (FGD) dengan 11 hubungan dengan nodes lainnya, hal ini menggambarkan bahwa ketiga aktor atau nodes tersebut merupakan aktor atau nodes yang paling sentral. Lalu dari degree network terdapat hasil perhitungan dari in degree dan out degree. Pekanbaru Creative Fusion (PCF) disebut sebagai aktor atau node yang penting karena memiliki nilai in degree tertinggi dengan nilai 21. Hal ini menggambarkan bahwa banyak aktor atau nodes yang berada dalam jaringan tersebut berusaha membuat hubungan dengan Pekanbaru Creative Fusion. Kemudian Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru disebut sebagai aktor atau node yang penting karena memiliki nilai out degree tertinggi dengan nilai 21. Hal ini menggambarkan bahwa aktor atau nodes Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) tersebut merupakan aktor atau nodes yang berpengaruh/mempengaruhi di dalam jarigan karena memiliki kemampuan untuk meberikan dan menyebarkan informasi. Kemudian hasil tadi menunjukkan sebuah gap yang dimana seharusnya Triple Helix antara akademisi, industri dan pemerintah menyediakan kondisi yang optimal untuk inovasi (Etzkowitz dan Leydesdorff 2000). Namun apa yang terjadi di lapangan tidak demikian. Nilai perhitungan dari degree menunjukkan jika peran akademisi itu rendah jika dibandingkan dengan pemerintah maupun bisnis. Hal ini tentu membuat kondisi di dalam jaringan pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru menjadi tidak maksimal. Dengan demikian hal ini perlu menjadi perhatian lebih karena peran akademisi tidak masuk tiga besar dalam perhitungan degree. Dengan kata lain, jaringan pertumbuham industri kreatif di Kota Pekanbaru tidak bisa lagi disebut dengan nama Triple Helix, namun hanya Double Helix. Closeness Centrality Aktor atau nodes yang memiliki nilai closeness centrality tertinggi diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru dengan nilai 0.70125301, (2) Pekanbaru Creative Fusion (PCF) dengan nilai 0.55016212, dan (3) STIE Riau dengan nilai 0.49900999, hal ini menggambarkan bahwa ketiga aktor atau nodes tersebut merupakan aktor atau nodes yang memiliki jarak berdekatan antara satu aktor terhadap aktor yang lainnya dalam suatu jaringan. Hal ini menunjukkan semakin mudah bagi aktor atau nodes tersebut untuk menyebarkan informasi dalam sebuah jaringan pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Hal ini tentu menarik sebab pada perhitungan degree sebelumnya, peran akademisi tidak begitu tampak. Namun pada perhitungan closeness centrality, peran akademisi yang di wakilkan oleh STIE Riau bisa berada di urutan ke tiga di dalam p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Artinya kedekatan dari Triple Helix seperti pemerintah, akademisi dan bisnis di dalam jaringan tersebut sudah merata di tandai dengan masuknya ketiga stakeholder tersebut kedalam tiga besar perhitungan closeness centrality. Betweeness Centrality Aktor atau nodes yang memiliki nilai betweeness centrality tertinggi diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru dengan nilai 0.73496451, (2) Pekanbaru Creative Fusion dengan nilai 0.58792333, dan (3) Program Pemerintah dengan nilai 0.42098756, hal ini menggambarkan bahwa ketiga aktor atau nodes tersebut merupakan aktor atau nodes yang memiliki kapasitas besar dalam memfasilitasi interaksi antar aktor-aktor yang terhubung. Hal ini menunjukkan aktor atau nodes dengan nilai betweeness yang tinggi, tergantung pada sejauh mana aktor atau nodes tersebut diperlukan sebagai link atau penghubung dalam rantai jaringan yang mefasilitasi penyebaran informasi dalam jaringan. Dengan demikian, aktor atau nodes seperti Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru, Pekanbaru Creative Fusion (PCF) dan Program Pemerintah merupakan aktor atau nodes yang diperlukan sebagai link atau penghubung dalam rantai jaringan yang mefasilitasi penyebaran informasi dalam jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru PEMBAHASAN Peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru memiliki peran sebagai regulator dan juga fasilitator. Sedangkan dalam upaya merumuskan pengikatan daya saing terhadap MEA di Kota Pekanbaru, peran pemerintah Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) 97 lebih fokus menjadi fasilitator. Peran akademisi dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru adalah dengan pengabdian dan juga melakukan penelitian. Kemudian dalam upaya merumuskan pengikatan daya saing terhadap MEA di Kota Pekanbaru, peran akademisi adalah dengan melakukan penelitian. Peran dari pelaku usaha dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru adalah menjadi investor. Sedangkan dalam upaya merumuskan pengikatan daya saing terhadap MEA di Kota Pekanbaru, terdapat peran penting individu (pebisnis) dalam menjalankan usaha atau bisnisnya untuk memajukan industri kreatif sekitarnya seperti memiliki intelectual property (IP) dalam bisnis yang dijalankan. Pada perhitungan degree network diketahui bahwa aktor penting yang ada di dalam jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru, (2) Pekanbaru Creative Fusion (PCF), dan (3) Focus Group Discussion (FGD). Adanya gap pada jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru yang dimana peran dari akademisi tidak terlihat pada perhitungan degree network. Kondisi ideal peran dari Triple Helix adalah ketika ketiganya mampu menjalankan perannya dengan maksimal. Dengan kata lain, jaringan pertumbuham industri kreatif di Kota Pekanbaru tidak bisa lagi disebut dengan nama Triple Helix, namun hanya Double Helix. Pada perhitungan closeness centrality diketahui bahwa aktor penting di dalam jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru, (2) Pekanbaru Creative Fusion (PCF), dan (3) p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 98 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) STIE Riau. Hal ini menunjukkan jika peran Triple helix sudah baik karena berada di dalam tiga besar perhitungan closeness centrality di dalam jaringan tersebut. Peran pemerintah diwakili oleh komite, kemudian peran bisnis diwakili oleh PCF, dan peran akademisi diwakili oleh STIE Riau. Pada perhitungan betweeness centrality diketahui bahwa aktor penting di dalam jaringan implementasi Triple Helix dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru diantaranya; (1) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru, (2) Pekanbaru Creative Fusion, dan (3) Program Pemerintah.Hal ini tidak cukup baik ditandai dengan tidak masuknya Triple Helix dalam tiga besar perhitungan betweeness centrality. Peran pemerintah sudah berjalan sangat baik. Kemudian, setelah melihat jumlah degree dan data pertumbuhan RPJM yang ada, peran pemerintah Kota Pekanbaru sudah cukup baik pada pelaksanaannya. Diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya agar peran pemerintah lebih baik dari sebelumnya khusunya dalam memajukan industri kreatif di Kota Pekanbaru. Peran akademisi sudah baik ditandai dengan keikutsertaan pihak akademisi dalam merumuskan kebijakan dengan penelitian yang dilakukan. Namun dalam perhitungan degree menunjukkan jika peran akademisi masi belum cukup karena memiliki nilai keterhubungan yang sedikit. Kemudian yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melibatkan aktor-aktor akademisi lainnya. Diharapkan peran akademisi terus di tingkatkan dengan melakukan penelitian yang bisa membawa kemajuan industri kreatif khususnya di Kota Pekanbaru. Peran bisnis juga sudah sangat baik. Kemudian, setelah melihat jumlah degree, peran bisnis Kota Pekanbaru sudah cukup baik pada pelaksanaannya. Diharapkan peran dari bisnis bisa terus di tingkatkan agar membuat iklim usaha di Kota Pekanbaru menjadi lebih baik dan meningkatkan industri kreatif yang ada. Dalam perhitungan degree network diketahui bahwa aktor pentingnya adalah Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) Komite Ekonomi Kreatif Kota Pekanbaru dan Pekanbaru Creative Fusion (PCF) yang dimana keduanya mewakili dari pemerintah dan bisnis. Sedangkan aktor yang mewakili akademisi tidak berada di dalam urutan 3 besar dalam perhitungan degree network tersebut. Hal ini menunjukkan jika aktor dari akademisi masi kurang sentral di dalam jaringan. Diharapkan terdapat aktor yang mewakili akademisi untuk bisa berada di posisi sentral seperti kedua stakeholder lainnya. Adanya gap yang dimana peran dari akademisi tidak terlihat pada perhitungan degree network. Kondisi ideal peran dari Triple Helix adalah ketika ketiganya mampu menjalankan perannya dengan maksimal. Diharapkan kedepannya akademisi bisa masuk ke dalam tiga besar dalam perhitungan tersebut. Jika yang diperlukan adalah komunikasi atau hubungan dalam bentuk kelembagaan, maka itulah yang diperlukan akademisi saat ini dan kedepannya. Dalam perhitungan closeness centrality diketahui bahwa aktor pentingnya adalah ketiga aktor yang mewakili dari Triple Helix itu sendiri. Diharapkan ketiga aktor yang mewakili Triple Helix ini dapat melakukan tugasnya dengan baik agar ekosistem yang terbagun dalam jaringan terus berkembang pesat dan lebih baik lagi. Dalam perhitungan betweeness centrality diketahui bahwa aktor pentingnya adalah Komite Ekonomi Kreatif Kota Pekanbaru dan Pekanbaru Creative Fusion (PCF) yang dimana keduanya mewakili dari pemerintah dan bisnis. Di sini Program Pemerintah hadir menjadi aktor penting selanjutnya. Sedangkan aktor yang mewakili akademisi tidak berada di dalam urutan 3 besar dalam perhitungan betweeness centrality. Hal ini menunjukkan jika aktor dari akademisi tidak menjadi actor atau node yang memiliki kapasitas besar dalam memfasilitasi interaksi antar aktor-aktor yang terhubung di dalam jaringan. Diharapkan terdapat aktor yang mewakili akademisi untuk bisa berada di posisi tersebut seperti kedua stakeholder p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Peran Triple Helix Dalam Mendorong Ekonomi Kreatif UMKM Di Kota Pekanbaru (Siti Syahsudarmi) lainnya. SIMPULAN Peran triple helix dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif serta untuk mengetahui bagaimana triple helix merumuskan upaya peningkatan daya saing dalam menghadapi MEA di Kota Pekanbaru. Jenis penelitian eksploratori dengan pendekatan kualitatif dimana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Metode penelitian dengan analisis jaringan sosial yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar pemangku kepentingan, intensitas koordinasi, dan distribusi peran diantara pelaku dalam implementasi triple helix sebagai upaya mendorong pertumbuhan industri kreatif di Kota Pekanbaru. DAFTAR RUJUKAN Etzkowitz, H. 2008. The Triple Helix: UniversityIndustry Government Innovation in Action. Routledge. New York. Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. 1995. The Triple Helix - University Industry Government Relations: A Laboratory for KnowledgeBased Economic Development. EASST Review 14, 14-19. Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. 2000. The Dynamics of Innovation: From National Systems and '‘Mode 2'’ to a Triple Helix of University-IndustryGovernment Relations. Research Policy, 29(2), 109-123. Mauled, Moelyono. 2010. Menggerakkan Ekonomi Kreatif Antara Tuntutan dan Kebutuhan. Edisi I. Cetakan I. Jakarta: Rajawali Pers. Muhardi. 2007. Strategi Operasi Untuk Keunggulan Bersaing. Yogyakarta: Garaha Pustaka. Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 2 Juni 2019) 99 Murniati, D.E. 2009. Peran Perguruan Tinggi Dalam Triple Helix Sebagai Upaya Pengembangan Industri Kreatif. Seminar Nasional Peran Pendidikan Kejuruan Dalam Pengembangan Industri Kreatif. Jurusan PTBB FT UNY. Pryke, S. 2004. Analysing construction project coalitions: exploring the application of social network analysis. In Construction Management and Economics, Vol. 22, No. 8. London: Routledge. Rahman, F. (2017). Peran Modal Manusia Dan Modal Investasi Terhadap Nilai Produksi Industri Kecil Di Kota Pekanbaru. Jurnal Benefita: Ekonomi Pembangunan, Manajemen Bisnis dan Akuntansi, 2(1), 1-9. Wellman, B. 1997. An electronic group is virtually a social network. In S. Kiesler (Ed.), Culture of the Internet, Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum. https://www.goodnewsfromindonesia.id/20 17/10/04/tingkat-daya-saingnegara-negara-dunia-tahun-20172018-indonesia-naik-peringkat https://ekbis.sindonews.com/read/1346813/ 33/laporan-wef-2018-daya-saingindonesia-peringkat-451539748549 http://reports.weforum.org/globalcompetitiveness-report-2018/ http://www.bekraf.go.id/downloadable/pdf_ file/170475-data-statistik-danhasil-survei-ekonomi-kreatif.pdf p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356