PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. , 70-80, 2025 URL: https://jurnal. id/prima/issue/view/77722 DOI: https://doi. org/10. 20961/prima. Tanaman Akar Wangi (Vetiveria zizanioides. Linn Nas. Sebagai Teknologi Konservasi Tanah Secara Vegetatif Pada Usahatani Lahan Kering Jaka Suyana* Program Studi Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36A Kentingan Surakarta Indonesia *Corresponding Author : jokosuyonouns@staff. ABSTRAK Usahatani lahan kering secara umum berada di wilayah tengah dan hulu DAS (Daerah Aliran Sunga. serta mempunyai banyak permasalahan, seperti kondisi lahan marginal, rawan erosi, ketersediaan air terbatas, teknologi budidaya terbatas, dan rendahnya pendapatan usahatani. Metode teknologi konservasi vegetatif sangat direkomendasikan di dalam tindakan konservasi tanah dan air (KTA) pada usahatani lahan kering, selain menekan erosi dapat meningkatan produktivitas lahan dan mudah diterapkan petani. Keunggulan tanaman akar wangi selain dapat tumbuh di segala jenis tanah, landskap topografi, dan iklim. tetapi juga memiliki kelemahan diantaranya hasil pangkasan daun akar wangi kurang disukai ternak. Di Pulau Jawa, akar wangi banyak ditanam petani di daerah Garut. Jawa Barat yang dikenal sebagai Akar Wangi varietas Garut dan di Gunung Kidul. Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai Akar Wangi varietas Wonosari untuk diambil akarnya . ahan minyak atsiri dan pengharu. Akar wangi juga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi tanah dan stabilisasi lereng. Akar wangi dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai teknologi KTA yang telah ada, yaitu: ditanam sebagai tanaman pagar (AuhedgesA. , ditanam sebagai strip penguat teras, dan ditanam sebagai tanaman barisan menurut kontur. Tanaman akar wangi setelah umur tertentu dapat dipangkas secara periodik dan dimanfaatkan sebagai bahan mulsa sisa tanaman. Petani di lahan kering dapat menggunakan akar wangi sebagai tanaman konservasi dan rehabilitasi lahan secara mandiri untuk mewujudkan sistem usahatani yang ramah lingkungan. Kata kunci: Akar wangi, mulsa sisa tanaman, strip penguat teras Vetiver Grass as a Vegetative Soil Conservation Technology in Upland Farming ABSTRACT Upland farming systems are usually located in the middle and upstreams of the Watershed as well as has many problems, ie: marginal land conditions, prone to erosion, limited water availability, limited cultivation technology, and low farm income. Vegetative of conservation technology method much recommended in action of Soil and Water Conservation (SWC) on upland farming, apart from reducing erosion, it can increase land productivity and easy applied by farmers. The advantages of the vetiver plant, apart from being able to grow in all soil types, topographic landscapes, and but it also has disadvantages, including the results of pruning the vetiver leaves are not favored by livestock. On the island of Java, vetiver planted by many farmers in the region Garut Regency. West Java Province which is known as vetiver of Garut variety and in Gunung Kidul Regency. Daerah Istimewa Yogyakarta Province which is known as vetiver of Wonosari variety, to take the roots . tsiri oil and fragrance ingredient. Vetiver can also be used as a soil conservation and slope stabilization plant. Vetiver can be used to support various existing SWC technologies, i. planted as a hedge plant (AuhedgeA. , planted as strips of strengthened terrace, and planted as row of plants according to the contour. Vetiver plants after a certain age can be pruned periodically and used as mulch for plant residues. Farmer on upland can use vetiver as a conservation plant and land rehabilitation independently to realize a farming system which is eco-friendly. Keywords: mulch of plant residues, strips of strengthened terrace, vetiver Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 PENDAHULUAN Agroekologi lahan kering sangat beragam karena jenis tanah dan elevasi berbeda, peka erosi, adopsi teknologi rendah, dan ketersediaan modal kecil (Manwan et al. ,1. , sehingga pembangunan di lahan kering lebih kompleks dibanding di lahan sawah. Kendala teknologi petani, sosial ekonomi, dan sumberdaya alam menyebabkan rendahnya kesuburan dan produktivitas lahan. Penurunan karbon tanah di pertanian lahan kering disebabkan oleh musiman, dan interaksi antara keduanya (Qi et , 2. , serta tingkat erosi tanah yang tinggi (Muchane et al. , 2. Pembangunan pertanian di lahan kering bukan saja bertujuan untuk produktivitas lahan, tetapi juga untuk memperbaiki sumberdaya tanah dan air Teknologi konservasi secara vegetatif diharapkan mampu berperan sebagai daya pengembang sistem usahatani lahan kering yang ramah lingkungan. Menurut WOCAT . , tindakan agronomi, vegetatif, struktural, dan teknologi KTA . onservasi tanah dan ai. bertujuan untuk mencegah degradasi lahan dan meningkatkan produktivitas lahan (Suyana et al. , 2. Perlakuan mulsa sisa tanaman dapat mengendalikan percikan air hujan, limpasan, dan aliran massa limpasan (Baptista et al. , 2. mengurangi konsentrasi sedimen dan hilangnya tanah (Sadeghi et al. , 2. , juga mengurangi kehilangan hara dan C-organik terangkut erosi (Suyana & Nugraheni, 2. Baptista et al. menyatakan bahwa metode vegetatif sangat disarankan dalam pelaksanaan KTA karena tidak hanya dapat mengurangi erosi tetapi juga menjamin peningkatan produktivitas lahan, serta biaya yang terjangkau dan mudah diimplementasikan oleh petani (Adimiharja, 2. Noor et al. menyatakan bahwa tanaman akar wangi dapat berperan sebagai tanaman konservasi tanah dan air dan dapat tumbuh baik di tanah kurang subur. Akar wangi atau rumput vetiver (Vetiveria zizanioides. Linn Nas. di kalangan ahli konservasi tanah dan air dunia dikenal sebagai Aysi-rumput ajaibAy (Authe miracle grassA. , karena selain dapat tumbuh di segala medan dan iklim, tanaman ini memiliki banyak fungsi. Tanaman akar wangi dapat tumbuh pada kondisi yang sangat kering . urah hujan sekitar 200 mm/tahu. sampai sangat basah . urah hujan sekitar 3000 mm/tahu. , dengan kisaran suhu tempat tumbuh sangat lebar . A C sampai 50A C). Seluruh bagian tanaman akar wangi berguna bagi manusia. Akarnya untuk membuat minyak atsiri, apabila dibiarkan menghujam ke tanah . ,5 - 1,5 . akar tersebut dapat mengurangi aliran air permukaan dengan membantu memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah. Air yang mengalir juga tersaring oleh akar itu sehingga dapat mengurangi erosi. Daun akar wangi jika dipangkas dan disebarkan dipermukaan tanah akan menjadi mulsa yang menyuburkan tanah, menghalangi tumbuhnya gulma, serta melindungi tanah dari terpaan butirbutir air hujan (The World Bank, 1987. (Gnansounou et al. , 2. Rumput vetiver adalah herba tahunan yang mempunyai daya adaptasi ekologi yang kuat, dapat tumbuh di daerah pertambangan, mempunyai kestabilan, dan kapasitas penyerapan logam berat yang kuat (Ai et al. , 2. Akar wangi yang dalam bahasa Jawa disebut "lara setu", di Indonesia akar wangi banyak ditanam di daerah Kabupaten Garut. Jawa Barat untuk diambil akarnya dan disuling untuk mendapatkan minyak atsiri yang disebut minyak akar wangi . etiter oi. Walaupun produsen minyak akar wangi hanya ada di Pulau Jawa. Indonesia merupakan produsen minyak akar wangi terbesar di dunia (Abdurrachman et , 1. Di Kabupaten Gunung Kidul. Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, akar dari tanaman ini yang sudah dikeringkan dijual sebagai pengharum lemari pakaian sekaligus untuk mengusir ngengat dan kecoa, atau dibentuk kipas tangan untuk mengurangi kegerahan dan mendapatkan bau wangi. Akar wangi mulai dikembangkan sebagai tanaman konservasi di Indonesia oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittana. pada tahun 1988 setelah diperkenalkan oleh Bank Dunia. Tanaman akar wangi sangat baik untuk mendukung berbagai teknologi konservasi yang telah ada, yaitu memanfaatkan strip akar wangi sebagai tanaman pagar (AuhedgesA. Terutama jika digunakan sebagai strip permanen, strip pada bibir teras, strip pada tampingan teras, dan strip pada sistem pertanaman lorong (Dariah et al. , 1. Akar wangi juga dapat digunakan sebagai tanaman rehabilitasi lahan dan stabilisasi lereng (Noor et , 2. , sebagai pengendali erosi/penutup tanah karena mempunyai sistem akar berserabut yang kuat dan dalam, serta tahan terhadap hama Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 dan penyakit (MENLHK RI, 2. , juga efektif dalam pengendalian longsor permukaan pada lereng jalan (Andiyarto & Purnomo, 2. Penggunaan akar wangi dalam upaya memungkinkan petani untuk secara bertahap mengelola lahan mereka dengan memperhatikan lingkungan, sesuai dengan tenaga kerja yang tersedia di keluarga dan kemampuan modal yang dimiliki petani. Teknologi konservasi vegetatif ditekankan karena memerlukan lebih sedikit tenaga kerja dan modal dibandingkan dengan pendekatan teknis sipil . Oleh karena itu, diharapkan petani di lahan kering dapat melakukan rehabilitasi dan konservasi tanah secara mandiri, sehingga dapat mendukung pertanian berkelanjutan. Pemanfaatan akar wangi di dalam tindakan konservasi secara vegetatif, memungkinkan petani dapat melakukan tindakan konservasi dan rehabilitasi lahan secara bertahap. Teknologi konservasi vegetatif lebih diutamakan karena memerlukan lebih sedikit tenaga kerja dan modal dibandingkan dengan teknologi sipil teknis . Oleh karena itu, diharapkan petani dapat mengembangkan sistem rehabilitasi dan konservasi tanah secara mandiri, untuk mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN Artikel ini merupakan Aureview articleAy dari studi literatur, survei lapangan, dan hasil penelitian penulis yang berkaitan tanaman akar wangi sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Survei lapangan telah dilakukan di Desa Kepek. Kecamatan Semin. Kabupaten Gunung Kidul. Akar wangi sebagai tanaman pagar . egetative hedge. menurut kontur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hasil penelitian penulis telah dilakukan di Sendangsari. Batu Warno. Wonogiri pada tahun 2010 dan di Desa Setren. Kecamatan Slogohimo. Kabupaten Wonogiri. Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015/2016. Artikel ini menyajikan manfaat: . akar wangi sebagai tanaman konservasi tanah dan air, serta stabilisasi lereng. akar wangi sebagai strip penguat teras di Desa Kepek. Kecamatan Semin. Kabupaten Gunung Kidul. kombinasi mulsa sisa tanaman dan strip akar wangi sebagai penguat teras di Desa Sendangsari. Kecamatan Batu Warno dan di Desa Setren. Kecamatan Slogohimo. Kabupaten Wonogiri. Artikel ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran berbagai manfaat tanaman akar wangi sebagai tanaman konservasi tanah dan air, khususnya untuk pengelolaan usahatani lahan kering yang ramah lingkungan. HASIL DAN PEMBAHASAN Akar Wangi Sebagai Tanaman Konservasi Menurut The World Bank . , rumput vetiver atau akar wangi (Vetiveria zizanioides. Linn Nas. dapat tumbuh di segala medan dan iklim, serta memiliki banyak fungsi antara lain, yaitu akar wangi sebagai tanaman pagar menurut kontur . etiver grass contour hedge. , vetiver sebagai tanaman pagar penguat teras . rotecting masonry terrace. , akar wangi sebagai tanaman pagar melindungi bendungan dari pendangkalan, serta akar wangi di tanam pada dinding Sebagaimana ditunjukan pada Gambar 1. Seiring waktu rumpun akar wangi . membentuk teras alami . Akar wangi sebagai tanaman pagar penguat teras yang diperkuat tumpukan batu menurut kontur Akar wangi karena sistem akarnya yang kuat dapat dengan mudah menembus ke dasar rister. Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 sehingga dapat digunakan untuk melindungi seluruh permukaan batuan Akar wangi ditanam sebagai tanaman barisan untuk melindungi bendungan dari pendangkalan Akar wangi ditanam pada dinding bendungan Gambar 1. Akar wangi sebagai tanaman pagar penguat teras dan melindungi bendungan dari pendangkalan (Sumber: The World Bank, 1. Manfaat akar wangi sebagai tanaman pagar . egetative hedge. menurut kontur dapat mengakibatkan limpasan permukaan melambat dan menyebar, beban sedimen terendapkan pada barisan tanaman pagar dan air limpasan merembes melalui rumpun tanaman, sehingga sebagian besar air terinfiltrasi ke dalam tanah. Seiring dengan berjalannya waktu menyebabkan terbentuknya teras alami. Sedangkan akar wangi yang ditanam sebagai tanaman barisan untuk melindungi bendungan dari pendangkalan, menyebabkan lumpur/sedimen yang dibawa limpasan dari daerah tangkapan diatasnya akan terperangkap sebelum mencapai bendungan dan melindungi bendungan dari pendangkalan. Pada waktunya, pagar tanaman ini akan membentuk teras yang stabil yang dapat digunakan untuk bercocok tanam atau menanam pohon. Adapun akar wangi yang ditanam pada dinding bendungan bermanfaat untuk konservasi dan stabilisasi lereng. Akar Wangi Sebagai Strip Penguat Teras Di Desa Kepek. Kecamatan Semin. Kabupaten Gunung Kidul Hasil survei lapangan yang dilakukan di Desa Kepek. Kecamatan Semin. Kabupaten Gunung Kidul. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2009. Jenis tanaman akar wangi yang biasa ditanam secara turun-temurun di daerah ini dikenal sebagai akar wangi varietas Wonosari. Tanaman akar wangi di daerah ini dibudidayakan dalam usahatani lahan kering untuk diambil bagian Auakar-nyaAy, akarnya beraroma wangi (MENLHK RI, 2. dan dikeringkan sebagai bahan pernak-pernik kerajian rumah tangga . ipas, telapak meja, sajadah, dan lainny. , dan dijual akar kering yang dapat dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan untuk mendapatkan bau wangi, pengharum almari pakaian, dan pengusir kecoa. Adapun beberapa teknik budidaya akar wangi yang ada, ditunjukan pada Gambar 2. Akar wangi sebagai strip penguat teras ditanam bersama ketela pohon Strip akar wangi yang ditanam di bibir teras yang diperkuat tumpukan batu menurut kontur Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Akar wangi ditanam sebagai tanaman baris . Strip akar wangi yang ditanam di bibir teras 3 bari. menurut kontur yang diperkuat tumpukan batu menurut kontur Gambar 2. Tanaman akar wangi . arietas Wonosar. di Desa Kepek. Kecamatan Semin. Kabupaten Gunung Kidul (Sumber: Jaka Suyana, 2. Tanaman akar wangi memiliki kelemahan diantaranya apabila diambil bagian akarnya, karena tanah harus dibongkar pengambilan hasil akarnya. Untuk tujuan konservasi tanah, pengambilan bagian akar tanaman akar wangi ini tidak dianjurkan atau bahkan tidak boleh dilakukan, mengingat saat tanaman akar wangi dibongkar untuk diambil bagian akarnya menyebabkan tanah digali secara dalam dan merusak bagunan teras . alud tera. , sehingga menyebabkan tanah mudah longsor dan tererosi. Untuk mengantisipasi longsor dan erosi disarankan segera setelah pembongkaran tanaman akar wangi . engambilan aka. pada awal musim hujan bangunan teras harus diperbaiki dan dilakukan penanaman akar wangi dengan bibit yang baru. Tanaman akar wangi apabila digunakan untuk tujuan konservasi tanah disarankan untuk tidak diambil bagian akarnya, tetapi secara periodik setelah umur tertentu tanaman dipangkas, dan hasil pangkasan dimanfaatkan sebagai bahan mulsa sisa tanaman untuk disebarkan dipermukaan tanah . engurangi Jagung ketela pohon dengan teras bangku tradisional erosi tana. , atau sebagai bahan pupuk hijau untuk dibenamkan ke dalam tanah. Tanaman akar wangi juga memiliki kelemahan diantaranya hasil pangkasan daun akar wangi kurang disukai ternak, dan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak harus melalui proses/perlakuan tertentu. Akar Wangi Sebagai Strip Penguat Teras Di Desa Sendangsari. Kecamatan Batu Warno. Kabupaten Wonogiri Perlakuan mulsa batang jagung dan akar wangi . arietas Wonosar. sebagai penguat teras pada sistem usahatani . agung ketela poho. di Latosol Coklat pada kemiringan . %) selama Oktober 2010 s/d Februari 2011 di Desa Sendangsari. Kecamatan Batu Warno. Kabupaten Wonogiri terhadap limpasan permukaan dan erosi (Suyana et al. , 2. disajikan pada Gambar 3 dan Tabel 1. Strip akar wangi di bibir umur 3 minggu Strip akar wangi di bibir teras umur 6 minggu Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Strip akar wangi umur 6 minggu Strip akar wangi di bibir teras umur 14 minggu Gambar 3. Perlakuan mulsa batang jagung dan akar wangi . arietas Wonosar. sebagai penguat teras (Sumber: Suyana dan Muliawati, 2. Tabel pemberian mulsa batang jagung 8 ton/ha strip akar wangi . arietas Wonosar. pada bibir teras mampu menekan limpasan permukaan . ,2%) dan erosi . ,9%) dibandingkan kontrol . umpangsari jagung ketela pohon, dengan teras Sehingga air hujan yang dapat diinfiltrasikan masuk ke dalam tanah meningkat dari 27,1% menjadi 34,5% dari curah hujan . ,1 m. dan dapat menurunkan laju erosi 25,9% dari 43,91 ton/ha/4 bl menjadi 32,68 ton/ha/4 bl. Tabel 1. Kombinasi mulsa dan akar wangi terhadap limpasan permukaan dan erosi (Oktober 2010 Februari 2. Limpasan Erosi Permukaan (%) Tanah Perlakuan (%) . on/h. 3/h. (% CH) Tumpangsari jagung ketela pohon. 43,91 pada teras tradisional . Strip akar wangi . arietas Wonosar. 974,1 32,68 mulsa batang jagung 8 ton/ha. pada teras tradisional Keterangan: besarnya curah hujan selama bulan oktober 2010-pebruari 2011 . penurunan limpasan permukaan dibandingkan kontrol (%) penurunan erosi dibandingkan kontrol (%) Sumber : Suyana dan Muliawati, 2010 Akar Wangi Sebagai Strip Penguat Teras di Setren. Slogohimo. Kabupaten Wonogiri Perlakuan kombinasi mulsa batang jagung dan akar wangi . arietas Garu. sebagai penguat teras pada usahatani lahan kering . di tanah Andosol pada kemiringan . %) pada Lahan Andosol di teras selama Februari s/d Mei 2016 di Setren. Slogohimo. Kabupaten Wonogiri terhadap limpasan permukaan dan erosi (Suyana & Nugraheni, 2. disajikan pada Gambar 4 dan Tabel 2. Akar wangi ditanam di bibir teras sebagai strip penguat teras Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Mulsa batang jagung dosis 0, 4, 8, dan 12 ton/ha . ari kiri ke kana. tanaman kubis umur 3 Kubis dan strip akar wangi umur 3 minggu pada dosis mulsa batang jagung 0, 8, dan 12 ton/ha . ari kiri ke kana. Strip akar wangi ditanam di bibir teras umur 3, 8, dan 10 minggu setelah tanam . ari kiri ke kana. Gambar 4. Perlakuan mulsa dan akar wangi . arietas Garu. sebagai penguat teras (Sumber: Suyana dan Sudaryanto, 2015-2. Tabel 2. Kombinasi mulsa dan akar wangi terhadap limpasan permukaan dan erosi (Februari s/d Mei 2. Limpasan Erosi Permukaan (%) Tanah Perlakuan (%) . on/h. (% CH) Tanaman kubis. pada teras bangku 1212 328,4 51,56 Strip akar wangi . arietas Garu. 1212 298,2 48,17 batang jagung 4 ton/ha. pada teras bangku Strip akar wangi . arietas Garu. 1212 281,2 47,11 batang jagung 8 ton/ha. pada teras bangku Strip akar wangi . arietas Garu. 1212 266,6 37,90 batang jagung 12 ton/ha. pada teras Keterangan: curah hujan bulan Oktober 2010-Februari 2011 . penurunan limpasan permukaan dibandingkan kontrol (%) penurunan erosi dibandingkan kontrol (%) Sumber : Suyana dan Nugraheni, 2022 Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Tabel 2, menunjukkan kombinasi perlakuan mulsa batang jagung 4-12 ton/ha strip akar wangi . arietas Garu. pada bibir teras mampu menekan limpasan permukaan . ,8 - 9,9%) dan erosi . ,6 - 21,9%) dibandingkan kontrol . eras bangku dengan tanaman kubi. Sehingga air hujan yang dapat diinfiltrasikan . asuk ke dalam tana. meningkat dari 74,2% menjadi 75,4 - 76,8% dari curah hujan . 2 m. dan dapat menurunkan laju erosi 8,6 - 21,9% dari 51,56 ton/ha/4 bl menjadi 48,17 - 37,90 ton/ha/4 Sebagai tanaman konservasi, rumput vetiver . kar wang. yang ditanam sebagai strip penguat teras setelah umur tertentu . secara periodik dapat dipangkas untuk digunakan sebagai bahan mulsa . isebarkan dipermukaan tana. , sebagaimana ditunjukan pada Gambar 5. Akar wangi . arietas Garu. di setiap bibir Auteras bangkuAy setelah umur 11 bulan dipangkas setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah dan digunakan sebagai bahan mulsa. Berat segar hasil pangkasan sekitar 26 kg/5 m panjang strip. (Pangkasan ke-1, akar wangi umur 11 bulan setelah tanam. April 2015 s/d Maret 2. Hasil pangkasan strip akar wangi di setiap bibir Auteras bangkuAy dipotong-potong 20-25 cm dan digunakan sebagai mulsa . isebarkan di atas permukaan tana. pada setiap areal Auteras bangkuAy yang dapat ditanami Strip akar wangi umur 2 bulan . etelah dipangkas ke-. dan tanaman kubis umur 2 bulan setelah tanam (Maret-Mei 2. Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Tanaman kubis dan akar wangi umur 3 bulan setelah dipangkas (Maret-Juni 2. Akar wangi . mur 3-4 bula. sudah dapat dipangkas lagi setelah tanaman kubis di panen dan digunakan sebagai bahan mulsa pada pola tanam berikutnya. (Pangkasan ke-2, akar wangi umur 14-15 bulan setelah tanam. April 2015 s/d Juni 2016. 3-4 bulan setelah Pemangkasan ke-1. Maret-Juni 2. Gambar 5. Strip akar wangi . arietas Garu. setelah umur 11 bulan dipangkas dan digunakan sebagai bahan mulsa . isebarkan dipermukaan tana. (Sumber: Suyana dan Sudaryanto, 2015-2. Pemberian mulsa batang jagung sisa panen dan mulsa hasil pangkasan strip akar wangi pada usahatani lahan kering di samping dapat mengurangi erosi dan meningkatkan air infiltrasi ke dalam tanah, apabila digunakan secara berkelanjutan juga dapat meningkatkan hara Adapun kandungan hara N. K, dan COrganik pada jaringan bahan mulsa dari beberapa sisa tanaman dan hasil pangkasan akar wangi disajikan pada Tabel 3. Menurut (Arsyad, 2. , untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah jika diasumsikan untuk menghasilkan 1 kg bahan organik tanah . diperlukan sekitar 10 kg sisa-sisa tanaman segar, maka untuk meningkatkan kandungan 1% bahan organik tanah diperlukan penambahan sisa tanaman 200 ton/ha . erat tanah per ha sampai kedalaman 20 cm, dengan Berat Isi tanah sebesar 1 g/cc adalah 2. 000 to. Kader et al. mulsa sisa tanaman dapat meningkatkan kesuburan tanah pertanian dan produktivitas Tabel 3. Kadar C-Organik. P, dan K dalam jaringan tanaman jagung, akar wangi, jali, jerami padi, dan tembakau Jenis C-Organik Hara N Hara P Hara K Bahan Mulsa (%) (%) (%) (%) Jagung 1,09 1,14 Akar Wangi 0,89 1,06 Jali 0,86 0,75 1,09 Akar Wangi *) 0,88 0,13 1,31 Jerami Padi *) 0,58 0,10 1,38 Tembakau **) 39,37 0,94 0,54 1,52 Sumber : Suyana dan Sudaryanto, 2016 Keterangan: **) Juarsah et al. , 2008 Suyana, 2012 KESIMPULAN Tanaman akar wangi dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai tindakan KTA yang telah ada . elah dilakukan petan. pada sistem usahatani lahan kering. Akar wangi dapat (AuhedgesA. , ditanam sebagai strip penguat teras . ibir tera. dan ditanam sebagai barisan tanaman menurut kontur. Kelemahan tanaman akar wangi dalam mendukung tindakan KTA tidak boleh diambil bagian akarnya . anaman harus dibongkar secara dala. akan merusak bangunan teras dan menyebabkan tanah mudah Tanaman akar wangi setelah umur tertentu dapat dipangkas secara periodik dan digunakan sebagai bahan pupuk hijau . ibenamkan ke dalam tana. dan bahan mulsa Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 sisa tanaman . isebarkan dipermukaan tana. untuk mengurangi erosi dan meningkatkan air yang terinfiltrasi ke dalam tanah. Petani di lahan kering dapat memanfaatkan akar wangi sebagai tanaman konservasi tanah dan rehabilitasi lahan secara mandiri untuk mewujudkan sistem usahatani yang ramah lingkungan. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih kepada Dirjen Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional atas dana penelitian Hibah Penelitian Startegis Nasional Tahun Anggaran 2010 & Hibah Penelitian Startegis Nasional Tahun Anggaran 2015/2016. Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, serta semua pihak yang telah membantu terwujudnya penulisan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA