PEMEROLEHAN BAHASA PADA PENGUCAPAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI DESA PAYAMAN Septi Ayu Widia Ningrum Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia e-mail: 202333039@std. Kustina Puji Astuti Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia e-mail: 202333066@std. Zumroh Kusuma Darmasari Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia e-mail: 202333068@std. Qurrotu AAoyunina Fais Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia e-mail: 202333071@std. Rani Setiawaty Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia e-mail: rani. setiyawaty@umk. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi serta memahami bentuk dan faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan bahasa pada anak sekolah dasar di Desa Payaman. Dengan pendekatan kualitatif dan metode naratif, penelitian ini mendalami pengalaman anak dalam proses pembelajaran bahasa yang dilakukan seorang anak di Desa Paryaman. Teknik pengumpulan data melibatkan observasi, pencatatan, dan perekaman, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan metode padan pragmatis. Hasil penelitian ini adalah terdapat faktor yang memengaruhi yaitu faktor internal mencakup keterbatasan kemampuan artikulasi anak pada tahap perkembangan tertentu, dan faktor eksternal meliputi kurangnya perhatian dan stimulasi verbal dari lingkungan keluarga serta ditemukan fenomena substitusi bunyi . epuluh, keluar, kerbau, keluarga , suara, rumah, memang, sendo. , penghilangan bunyi . , dan penggantian bunyi . us, kucing, mobil, duit, dan rama. pada pada huruf konsonan maupun vokal. Tetapi terdapat kata yang dapat diucapkan dengan benar yaitu gendong, awan, cinta, dan senyum. Interaksi verbal yang intensif, penggunaan metode bermain, dan pemberian contoh pengucapan yang benar dapat membantu memperbaiki kemampuan berbahasa anak. Kata Kunci: artikulasi, interaksi, pemerolehan, pengucapan Page | 144 PENDAHULUAN Manusia penggunaan bahasa dalam kehidupannya. Manusia memanfaatkan bahasa melalui perjalanan pemerolehan bahasa. Sejak anak usia dini, orang tua dan guru menjadi peran penting dalam memahami perkembangan bahasa anak sehingga dapat membantu dan meningkatkan kemampuan bahasa anak (Lestari, 2. Bahasa merupakan alat komunikasi yang dimiliki manusia sejak lahir. Bahasa pertama dalam proses penguasaan bahasa anak adalah bahasa ibu. Melalui berbahasa, anak akan dapat mengembangkan kemampuan baik kognitif maupun sosial dengan berkumpul dengan teman sebaya yang merupakan usaha mereka untuk menonjolkan diri dalam kehidupan sosial sehingga anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa (Supriadi. Pemerolehan bahasa ialah suatu proses kemampuan berbahasa untuk menggunakan kata pada pemahaman dan Dengan pemerolehan bahasa antar manusia dapat saling memahami apa yang sedang dibahas ketika sedang berkomunikasi satu sama lain (Damayanti, dkk, 2. Pemerolehan bahasa terdapat dua faktor nurture dan nature. Kedua faktor tersebut terdapat perbedaan yakni nature adalah pemerolehan bahasa ada dari anak tersebut lahir, sedangkan nurture adalah pemerolehan bahasa didasarkan alam lingkungannya (Dewi, 2. Pemerolehan anak dari lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah sangatlah berbeda. Anak dapat belajar lebih dari dapat dipengaruhi dari lingkungan keluarga yang berpengetahuan bahasa, mendidik anak, dan melakukan kebiasaan berbahasa yang dilakukan orang tuanya dalam komunikasi seharihari. Hal tersebut berbeda dengan anak yang terbiasa mendengarkan kata yang tidak sesuai dan kurang memberikan pemahaman yang benar baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun Sama permasalahan yang terdapat di Desa Payaman, tepatnya pada anak kelas 2 yang berusia 8 tahun yang bersekolah di SD Negeri 1 Payaman dengan kendala pemerolehan kata dalam pengucapan konsonan maupun vokal. Subjek dipilih karena terdapat masalah pada anak dan dilihat dari latar belakang yang sesuai dengan isu tersebut. Kendala yang dialami dapat menghambat anak dalam memahami Penelitian yang dilakukan (Supriadi, 2. mengungkapkan bahwa anak usia 7-8 tahun seharusnya sudah menguasai struktur sintaksis dan dapat membuat kalimat yang lengkap pada saat Penelitian yang dilakukan oleh (Mahajani & Muhtar, 2. dengan judul "Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia Sekolah Dasar" menyoroti bahwa perkembangan bahasa pada anak melibatkan kombinasi faktor yang saling berinteraksi secara kompleks. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa anakanak tidak sekadar mempelajari struktur bahasa, tetapi juga menangkap arti dari kata dan kalimat yang mereka ucapkan baik bahasa Indonesia. Jawa. Sunda, dan Inggris. Ini menandakan bahwa perkembangan bahasa merupakan proses yang kompleks, di mana anak-anak berperan aktif dalam memahami serta menerapkan bahasa sesuai dengan konteks sosial di sekitar Page | 145 Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian (Nafisah, 2. dengan judul Pemerolehan Bahasa Indonesia Anak Usia pemahaman bahasa sangat dipengaruhi oleh perasaan takut yang mereka miliki, maka proses pemerolehan bahasa kedua menjadi terhambat. Anak-anak yang terlibat dalam interaksi sosial yang kaya, baik dengan guru maupun teman sebaya, menunjukkan perkembangan kemampuan berbahasa yang lebih baik. Lingkungan sosial dan pendidikan memiliki peran signifikan dalam mendukung proses pemerolehan bahasa anak. Dengan demikian, hubungan antara berbagai aspek dalam penguasaan bahasa menjadi penting untuk diperhatikan dalam pengajaran kepada anak usia sekolah dasar. Menangkap pola-pola ini memungkinkan pendidik untuk menciptakan pendekatan pengajaran yang lebih inovatif, sekaligus mendorong kemajuan bahasa anak secara Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi perlu didasari dengan pembelajaran yang baik melalui proses (Nasution. Salim mengemukakan bahwa perkembangan pemerolehan bahasa yang dimiliki oleh anak usia dini dipengaruhi oleh cara didikan orang tuanya, misalnya dalam pola komunikasi, mengajak diskusi, dan motivasi guna meningkatkan semangat mereka. Dengan demikian, peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan mengeksplorasi serta memahami bentuk dan faktor-faktor yang dapat memengaruhi pemerolehan bahasa pada anak sekolah dasar di Desa Payaman. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Dardjowidjojo (Fatmawati, 2. , istilah pemeroleh dalam istilah bahasa inggris adalah acquisition, yaitu penguasaan bahasa yang dipelajari dari bahasa ibunya yang dilakukan oleh anak secara natural. Pemerolehan bahasa mendapatkan kemampuan menghasilkan, menangkap dan menggunakan kata tersebut untuk memahami dan komunikasi (Zukhi, 2. Definisi yang lain dikemukakan oleh Krashen (Fatmawati, 2. bahwa pemerolehan bahasa sebagai "the product of a subconscious process very similar to the process children undergo when they acquire their first languageAy. Dengan kata lain pemerolehan bahasa adalah proses anak-anak memperoleh bahasa pertama atau proses bagaimana seseorang berbahasa. Menurut Ihsan pemerolehan bahasa terjadi secara alami, tanpa disadari, dan berkembang seiring dengan pertambahan usia, perkembangan alat-alat artikulasi, kematangan kognitif, dan lingkungan di mana anak tumbuh. Proses ini dimulai dengan tangisan saat lahir, kemudian berkembang menjadi penggunaan suku kata, kata, dan kalimat, hingga akhirnya anak dapat menghasilkan bahasa dengan jumlah leksikon yang tak terbatas untuk berkomunikasi. Pemerolehan bahasa dapat dilihat kemampuan berbahasa anak setiap hari, bagaimana anak memproses kemahiran Menurut teori behaviorisme menyoroti perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan . dan reaksi . Membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan merupakan perilaku bahasa yang efektif. Reaksi ini akan menjadi suatu Page | 146 kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan (Fatmawati, 2. Hal tersebut berkaitan dengan kebiasaan yang didengarkan oleh anak mengenai bunyi-bunyi yang ada disekitarnya dan reaksi yang diberikan untuk kata yang diucapkan oleh anak. Interaksionisme adalah pemerolehan bahasa adalah hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Hal ini dibuktikan oleh berbagai penemuan yang telah dilakukan oleh Howard Gardner (Fatmawati, 2. yang mengatakan bahwa anak telah dibekali berbagai kecerdasan sejak lahir. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan bahasa anak (Fatmawati. Ketika anak belajar bahasa melalui interaksi dengan orang dewasa, anak akan mempelajari redaksi kata dan kalimat serta struktur kalimat itu sendiri. Anak tidak hanya meniru dan memaknai arti kalimat tersebut, melainkan juga mempelajari struktur kalimat yang diucapkan oleh orang dewasa khususnya ibu (Fatmawati, 2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa anak adalah proses anak-anak dalam memperoleh bahasa baik dari kebiasaan interaksi dengan orang lain dan respon dari lingkungan itu sendiri. Anak-anak pada usia 7-8 tahun umumnya sudah mengenal huruf dan suku kata dengan baik, sedangkan siswa kelas 3-4 mampu menganalisis kata baru. Siswa kelas 5-6 mulai bergerak dari kemampuan decoding menuju pemahaman kalimat. Faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa anak menurut Mursid (Anggraini, 2. yakni faktor internal dan faktor Faktor internal . berkaitan dengan hal-yang yang ada pada individu itu sendiri seperti genetika dan pengaruhnya, sedangkan faktor ekternal . adalah faktor yang berada di luar individu pengalaman hidup, kesehatan lingkungan, nutrisi, istirahat, tidur, olahraga, status kesehatan, dan iklim atau cuaca. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Payaman. Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Peneliti melakukan penelitian pemerolehan bahasa anak sekolah dasar usia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD di Desa Payaman. Pengambilan data ini dilakukan pada tanggal 28 Ae 29 November 2024 dengan subyek penelitian anak kelas 2 bernama Fahri umur 8 tahun yang sekolah di SD Negeri 1 Payaman. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan naratif. Namun dalam penelitian ini peneliti fokus menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Pendekatan naratif adalah untuk menganalisis pemerolehan bahasa anak usia sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan di Desa Payaman, dengan pendekatan kualitatif naratif untuk mempelajari cara anak-anak usia sekolah dasar memperoleh Sumber data dalam peneltian ini adalah sumber data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi mendalam dengan seorang anak bernama Fahri siswa kelas 2 berusia 8 tahun yang bersekolah di SD Negeri 1 Payaman, dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan bahasa dan konteks sosial yang melingkupinya. Selain itu ada data sekunder yang diperoleh melalui melalui dokumen-dokumen pendukung yang representatif, seperti catatan perkembangan bahasa anak yang terperinci dan rekaman percakapan anak dengan Page | 147 orangtuanya. Teknik pengumpulan data pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan. Menurut Kristanto (Supriadi, 2. menjelaskan bahwa observasi adalah suatu proses di dahului dengan pengamatan kemudian pencatatan yang bersifat sistematis, logis, objektif, dan rasional terhadap berbagai macam sebenarnya, maupun situasi buatan. Teknik observasi ini digunakan agar penelitian ini dapat dilihat secara langsung keadaan anak di Desa Payaman mengenai pemerolehan bahasa anak usia 8 tahun tepatnya di kelas 2 yang bernama Fahri. Melalui mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Yusuf (Makbul, 2. , wawancara adalah percakapan yang secara langsung yang dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara . mengajukan pertanyaan . memberikan jawaban atas pertanyaan itu untuk menggali informasi. Wawancara ini dilakukan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang di pedoman . Teknik memperoleh data dan informasi dari narasumber terkait pemerolehan bahasa anak sekolah dasar usia 8 tahun di Desa Payaman. Selain itu, dengan wawancara peneliti dapat mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari narasumber. Dokumentasi adalah metode untuk mengumpulkan data dan informasi yang tercatat dalam bentuk buku, arsip, keterangan yang dapat memperkuat penelitian (Imaratul, 2. Proses melibatkan rekaman, pemantauan, dan Rekaman percakapan anak digunakan untuk mendokumentasikan pola, struktur kalimat anak dan catatan lapangan guna mencatat fenomena kebahasaan yang muncul selama proses Menurut Arikunto (Makbul, 2. , instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti mengumpulkan data agar kegiatan dipermudah olehnya. Instrumen yang digunakan oleh peneliti di Desa Payaman tepatnya pada anak kelas 2 usia 8 tahun yang bersekolah di SD Negeri 1 Payaman menggunakan Menurut Sudaryanto . yang dikutip Dwi & Zulaeha . , metode padan adalah metode analisis data yang menggunakan alat penentu dari luar bahasa yang sedang dianalisis. Berikut langkah sistematis yang digunakan untuk mengolah data yang sudah dikumpulkan. Penyusunan dan Pengurutan Data Penyusunan dan pengurutan seluruh data yang telah terhimpun dari hasil data yang diperoleh observasi, wawancara, dan dokumentasi. Klasifikasi Data Tahap selanjutnya adalah klasifikasi data yaitu dengan mengelompokkan data yang setiap data diberi pengkodean dan kategorisasi yang spesifik. Tahap klasifikasi data pada penelitian ini adalah dengan membedakan kata yang tidak sesuai dan kata yang sesuai dengan Page | 148 ejaan yang tepat untuk mengetahui pemerolehan bahasa yang dapat diucapkan oleh anak tersebut. Analisis Data dengan Metode Padan Pada tahap ini dilakukan kajian yang mendalam terhadap setiap elemen data secara individual. Hasil dari analisis data mencantumkan poin- poin utama dari masing-masing kategori data dilanjutkan berkelanjutan untuk menghasilkan kategorisasi yang lebih detail. Penarikan Kesimpulan Proses ini diakhiri dengan perumusan kesimpulan final yang menghasilkan temuan penelitian mengenai eksplorasi dan analisis pemerolehan bahasa pada anak seklah dasar di Desa Payaman yang komprehensif dan jelas. Penyajian Hasil Data Untuk memastikan penyajian hasil data peneliti menggunakan teknik tianggulasi secara menyeluruh dengan tujuan untuk metodologis, dan interpretatif dalam penelitian kualitatif (Mekarisce, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Berdasarkan hasil observasi dan wawancara informan kurang adanya perhatian dari keluarga karena kesibukan orang tua yang bekerja menyebabkan kurangnya stimulasi verbal yang intensif, sehingga menghambat proses pemerolehan Peneliti mengklasifikasikan data sesuai dengan hasil observasi dalam mengetahui pemerolehan bahasa dari pengucapan huruf konsonan dan vokal. Berikut ini bentuk pemerolehan bahasa dari hasil observasi berdasarkan Tabel. 1 Bentuk Pemerolehan Bahasa Berdasarkan Ejaannya Kata Kucing Bus Mobil Duit Ramai Sepuluh Keluar Kerbau Keluarga Suara Rumah Memang Sendok Gendong Awan Cinta Senyum Bunyi yang . cU] . lOa. emaU] . ndiU] . Eint. Bunyi yang . coU] . lOwa. maU] . ndiU] . Eint. Berdasarkan tabel di atas. Fahri telah mampu mengucapkan sejumlah kata dengan jelas dan baik, di antaranya adalah kata: gendong, awan, cinta, dan senyum. Namun, terlihat juga ada beberapa bentuk kesalahan pada pengucapan kata dengan kesalahan pengucapan vokal yaitu kucing. coU], bus-. , mobil-. , duit. , dan ramai-. Anak belum bisa mengucapkan beberapa huruf konsonan yaitu dengan kata sepuluh. lOwa. , kerbau. , keluarga-. , suara. , memang. maU], dan sendok-. 2 Pembahasan Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak-anak, khususnya dalam pengucapan huruf konsonan dan vokal, mengalami beberapa tantangan yang disebabkan oleh faktor internal dan Faktor internal meliputi Page | 149 keterbatasan kemampuan artikulasi anak pada tahap perkembangan tertentu, sementara faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga dan pola interaksi Substitusi bunyi Salah satu pola utama yang ditemukan adalah substitusi bunyi. Anak-anak menggantikan bunyi konsonan atau vokal tertentu yang sulit diucapkan dengan bunyi lain yang lebih mudah diproduksi. Misalnya: Keluar menjadi . lOwa. , karena bunyi AurAy pada akhir kata lebih kompleks dibandingkan bunyi AuwAy. Sendok menjadi . , di mana bunyi "c" dianggap lebih sederhana oleh anak-anak. Fenomena ini mencerminkan bahwa anakanak pada tahap ini cenderung memilih strategi penyederhanaan bunyi untuk mempermudah pengucapan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulaiman . , yang menyatakan bahwa substitusi bunyi adalah bagian dari proses perkembangan fonologis pada anak. Penghilangan Bunyi Penghilangan bunyi adalah fenomena lain yang sering terjadi, khususnya pada konsonan akhir atau vokal di tengah kata. Contohnya: Kerbau menjadi . , dengan penghilangan bunyi Au. Ay di akhir Duit menjadi . , di mana vokal tengah digantikan dengan vokal yang lebih familiar bagi anak. Penghilangan bunyi ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk mengabaikan elemen fonologis yang dianggap lebih kompleks atau tidak terlalu penting dalam komunikasi sehari-hari. Penggantian Bunyi Yang terjadi akibat kemiripan bunyi atau preferensi anak terhadap bunyi yang lebih sederhana, seperti . Faktor Lingkungan keluarga Kurangnya perhatian dan interaksi verbal dari keluarga menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan atau kesalahan dalam pemerolehan bahasa. Kesibukan orang tua yang bekerja membuat anak-anak kurang mendapatkan stimulasi verbal yang memadai. Lingkungan yang kurang mendukung ini menyebabkan anak tidak memiliki cukup kesempatan untuk mendengar dan meniru pengucapan kata yang benar. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa proses pemerolehan bahasa pada anak yang dialami oleh anak kelas 2 bernama Fahri di Desa Paryaman, khususnya dalam pengucapan huruf konsonan dan vokal, dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup keterbatasan kemampuan artikulasi anak pada tahap perkembangan tertentu, sementara faktor eksternal meliputi kurangnya perhatian dan stimulasi verbal dari lingkungan keluarga. Meskipun pengucapan, beberapa kata seperti gendong, awan, cinta, dan senyum dapat diucapkan dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan kata-kata tertentu dalam interaksi seharihari pengucapan yang benar. Fenomena ini memberikan gambaran bahwa pemerolehan bahasa pada anak memerlukan dukungan yang optimal dari lingkungan sekitar, khususnya keluarga dan Beberapa langkah yang Page | 150 dilakukan untuk membantu perkembangan bahasa anak meliputi: Meningkatkan interaksi verbal: Orang tua dan pengasuh dapat melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari untuk melatih pengucapan kata dengan Menggunakan Aktivitas bermain sambil berbicara dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan artikulasi Memberikan contoh yang benar: Orang dewasa di sekitar anak perlu konsisten memberikan pengucapan kata yang benar sebagai referensi bagi anak. Kesalahan dalam pengucapan bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena ini merupakan bagian dari proses perkembangan bahasa. Namun, dengan perhatian dan stimulasi yang tepat, anak-anak kemampuan berbahasa yang optimal sesuai DAFTAR PUSTAKA