Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37. Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Available online: https://journal.mahesacenter.org/index.php/jipsi Diterima: April 2021; Direview April 2021; Disetujui: April 2021 DOI: 10.34007/jipsi.v1i1.34 Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu The Variety of Riau Batik Aesthetics on the Values and Traditions of the Malay Culture Desy Ratna Syahputri Keguruan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Indonesia Abstrak Selama ini batik di identikkan sebagai identitas masyarakat Jawa. Tidak banyak orang mengetahui tentang batik Melayu-Riau yang sempat redup eksistensinya seiring dengan hilangnya Kerajaan Daek Lingga dan Kerajaan Siak pada tahun 1824-1911 M. Batik Melayu dan tradisi Melayu memiliki hubungan yang sangat kuat, dimana segala aspek kebudayaan dan kesenian mengadopsi nilai-nilai budaya yang terkandung dari masyarakatnya. Ras Melayu merupakan kelompok masyarakat yang memluk gaman islam, hal ini mempengaruhi segala aspek kehidupan hingga pada karya seninya. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis ragam estetika baik segi motif maupun pola batik Melayu Riau masa kini dengan nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan library research. Adapun hasil dari penelitian ini adalah regenerasi ragam estetika motif batik Melayu Riau masa kini yang mengadopsi 2 jenis pola yakni pola tabir dan pola tabur. Adapun pola tabir adalah pola vertikal, memanjang dan bermakna transcendental. Sedangkan pola tabur belum je;as filosofinya, dengan visualisasi motif bertumpuk dan padat. Kata Kunci: Ragam Motif, Pola, Batik Riau, Nilai tradisi dan Budaya Melayu Abstract Batik has been identified as the identity of the Javanese people. Not many people know about Riau-Malay batik, which had a dim existence with the loss of the Daek Lingga and Siak Kingdoms in 1824-1911 AD. Malay batik and Malay traditions have a very strong relationship, where all aspects of culture and art adopt values. the culture contained in the society. The Malay race is a group of people who embraces Islam, this affects all aspects of life to the work of art. The purpose of this paper is to analyze the various aesthetics both in terms of motifs and patterns of present-day Riau Malay batik with the values adopted in society. This research uses descriptive qualitative research methods with data collection techniques through observation, interviews, documentation and library research. The result of this research is the regeneration of the aesthetic variety of present-day Riau Malay batik motifs which adopt 2 types of patterns, namely the veil pattern and the sow pattern. The veil pattern is a vertical, elongated and transcendental meaning. Meanwhile, the sowing pattern is not clear in its philosophy, with the visualization of stacked and dense motifs. Keywords: Variety of Motifs, Patterns, Riau Batik, Malay Cultural Values How to cite: Syahputri. D.R. (2021). Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu. Jurnal Penddikan dan Penciptaan Seni, 1(1): 27-37 *E-mail: desy.ratna.2002518@students.um.ac.id ISSN 2550-1305 (Online) 27 Desy Ratna Syahputri, Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu PENDAHULUAN Batik adalah simbol tradisionalisasi yang sarat dengan pengharapan dan doa, erat akan kebudayaan dan falsafah kehidupan, berkualitas estetik, dan berfungi sosial (Sunarya, 2012). Kain tradisional ini tidak di dinilai esteikanya saja, namun batik dimensi spiritual dan dimensi translingual, yang menunjukkan tingkat kebudayaan bangsa Indonesia yang sudah sangat tinggi (Widagdo, 1997). Selama ini kegiatan berkesenian membatik tidak dapat dipisahkan dengan nafas kehidupan masyarakat Jawa. Kendati demikian penemuan artefak memunculkan fakta bahwa batik tidak hanya terdapat di pulau jawa. Ada banyak daerah diluar pulau Jawa yang melestarikan kebudayaan membatik, misalnya batik Melayu-Riau. Jika di telaah lebih dalam keberadaan batik Melayu Riau sudah ada sejak jaman dahulu. Berawal dari zaman Kerajaan Daik Lingga dan Kerajaan Siak. Salah satu kerajaan Melayu ini berdiri dari tahun 1824-1911 Masehi. Para bangsawan dan kalangan istana di zaman tersebut telah lama mengenal sebuah kerajinan dalam bentuk batik cap. Sesuai namanya, proses pembuatan kerajinan batik ini berbeda dengan batik yang beredar di Pulau Jawa. Mereka menggunakan cap yang terbuat dari bahan perunggu ataupun buahbuahan alih-alih menggunakan lilin dan canting Eksistensi batik Melayu Riau kian memudar seiring dengan hilangnya kerajaan Daik Lingga dan Kerajaan Siak. Batik ini kemudian mengelamai pergeseran dari cap menggunakan telepuk. Telepuk secara garis besar merupakan gambar bebungaan atau tumbuhan yang dihadirkan sebagai motif di atas kertas atau kain. Meski kini telepuk sudah jarang dipakai namun pola tumbuhan tetap digunakan untuk motif batik Melayu Riau hingga sekarang (Enita, 2017) Sejak kepunahan batik Melayu-Riau, pada tahun 1985 pemerintah Provinsi Riau kembali mengangkat kerajinan batik dengan memberi masyarakat pelatihanpelatihan untuk membuat batik. Meski begitu, metode yang dipakai bukan lagi menggunakan cap. Mereka memakai cara konvensional membuat batik yang hampir serupa dengan batik Jawa, yakni menggunakan canting dan lilin. Seperti umunya batik mengacu pada metoda pewarnaan kain dengan menggunakan malam atau lilin untuk mencegah terjadinya pewarnaan pada kain di bagian tertentu. Teknik ini dikenal sebagai Wax Resist Dyeing (Ma’ruf, 2015). Pemerintah yang berusaha meregenerasi eksistensi batik melalui motif khas Riau yang terinspirasi dari tradisi Melayu. Batik Riau tergolong unik, karena lebih menggambarkan tumbuhan. Hal ini didasari pada kebudayaan Melayu Riau yang kental dengan nilai-nilai islami.Menurut Gaspersz dalam Pujiyanto (2020), Islam merupakan identitas komunitas Melayu, orang yang "masuk Islam" berarti menjadi "orang Melayu ", atau" menjadi Malayan "berarti" masuk Islam ". Integrasi agama, tradisi, dan seni di budaya Melayu menjadikan aspek kehidupan terintegrasi ke dalam kehidupan komunitas Melayu. Salah satunya adalah seni dengan nilai-nilai budaya lokal yang mengandung ideologi yang dianut. System komunitas dan keyakinan tetap bertahan meski terjadi globalisasi. Hal ini yang mempengaruhi visualisasi motif Melayu Riau berusaha untuk tidak menggambar binatang manusia ataupun mahluk hidup lainnya. Batik Melayu Riau tidak dapat dipisahkan dari tradisi, pola sosial, dan sistem pemerintahan. Unsur dan hasil budayanya melekat pada bahasa, sastra, seni, kerajinan, dan teknologi yang mengarah pada kearifan budaya lokal Melayu yang terus berlanjut (Pujiyanto, 2020). Usaha pemerintah dalam meregenerasi batik Melayu Riau melaui 28 Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37 kegiatan pelatihan membatik sudah melewati masa baru, kini batik Melayu Riau lahir dengan banyak perubahan baik dari motif hingga teknik. Kendati demikian nilai seni batik Riau berusaha tetap dipertahankan (Akapurlaura, 2020). Nilai dan tradisi masyarakat melayu yang mempengaruhi hampir segala aspek kehidupan termasuk berkesenian batik. Ragam esteika batik Melayu Riau menverminkan nafas islami sesuai dengan syariar islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah. Hal ini melatarbelakangi penulisan artikel ini, melihat regenerasi batik Melayu Riau masa kini dengan cerminan budaya lokal dan nilai transcendental. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Sumber data yang diperoleh menggunakan teknik oengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dokumen dan study literature yang relevan. Creswell (2015: 31) mengemukakan dalam ciri khusus penelitian kualitatif adalah mengeksplorasi permasalahan dan mengembangkan pemahaman terperinci tentang fenomena sentral. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis Ragam estetika motif batik Melayu Riau terhadap nilai budaya Melayu. Wawancara dan observasi dilakukann kepada pihak yang bersangkutan yang mengetahui tentang kebudayaan Melayu Riau, meliputi Dekranasda, LAM (Lembaga Adat Melayu dengan Bapak Mustafa), dinas kebudayaan daerah Riau dan pengrajian batik Gerai Semat Tembaga milik Bapak Amrun melalui perantara. Adapun dokumen diperoleh dari kumpulan literature naskah lama tentang kebudayaan Melayu-Riau dan berbagai teori pendukung yang relevan dengan penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya Pemerintah Dalam Meregenerasi Batik Melayu Riau Menurut Zainal (2013) dalam bukunya The Treasure Of Riau Malay Handicraft, untuk menghidupkan kembali kerajinan batik, Pemprov Riau telah berusaha mengidentifikasi dan mengembangkan batik dengan memberikan pelatihan membatik kepada masyarakat sejak saat itu. Batik yang diregenerasi saat ini bukan laagi batik cap telepuk namun sejenis batik yang memiliki kemiripan dengan batik Jawa. Menggunakan canting (pulpen kecil berisi lilin leleh), tetapi motifnya murni Melayu Riau. Dari pelatihan membatik muncul tiga pengrajin batik terkemuka di Provinsi Riau / Pekanbaru, yaitu: 1. Ny. Sudirah, dengan usahanya bernama Batik Lancang Kuning (batik lukis) 2. Bu Tanjung, dengan bisnisnya Batik Tanjung Sari (batik lukis) 3. Ibu Yuliar Rofa'I, dengan bisnisnya Batik Selerang (batik printing) 4. Selain itu, pada tahun 1998, Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Riau Provinsi di bawah Hj. Titiek Murniati Soeripto juga mengembangkan batik, yaitu pada waktu memproduksi batik printing. 5. Kemudian pada tahun 2003 di bawah pimpinan Ibu Hj. Mardalena Saleh, Dewan Kerajinan Daerah Provinsi Riau mengembangkan batik tulis dengan batik cap. Namun tidak bertahan lama, karena batik Riau tidak punya motif khusus dan pengerjaannya tidak berbeda dengan pembuatan batik Jawa, sehingga dilupakan. Pembatikan pada tahun 2004 dibawah pimpinan ketua dra. Hj. Septina Primawati Rusli, M.M., Dewan Kerajinan Daerah menghidupkan kembali batik dengan pola baru. Pada desain batik tersebut terlihat lebih unik seperti batik Riau. Batik ini memiliki perbedaan dengan daerah lain. Atas inisiatif ketua, dan tangan-tangan terampil dari seorang pengrajin yang juga anggota dari pengurus dewan yaitu H. Encik Amrun Salmon, banyak 29 Desy Ratna Syahputri, Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu upaya dan percobaan dilakukan untuk membuat motif baru dari pola dicat / oleskan (Salmon, 1989). Batik Riau kini telah menyebar ke seluruh Provinsi Riau bahkan meluas ke luar Riau. Secara resmi diluncurkan di "Cenderahati Riau 2005" pada 14-16 Maret 2005. Saat ini batik Riau yang lebih dikenal dengan sebutan batik tabir sudah ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat di Provinsi Riau. Batik Riau berkembang tidak hanya di Pekanbaru tetapi juga di Kabupaten Siak, disebut batik tabor; Sedangkan batik di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Rokan Hulu menggunakan motif khas daerah masing-masing Ragam Hias Motif di Pengaruhi oleh Tradisi Melayu Gambar. 1 Desain Motif Batik Melayu Riau Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Dalam pandangan Geertz (1992), berbagai fenomena yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat dapat terungkap lewat berbagai makna kultural. Guslinda (2016) memaparkan bahwa Kebudayaan adalah pola-pola makna yang diwujudkan dan ditransmisikan secara terus menerus dalam bentuk simbolis. Simbol pada hakikatnya ada dua yaitu: a. Simbol yang berasal dari alam yang terwujud melalui konsepsi-konsepsi dan struktur sosial, b. Simbol yang berasal dari luar yang berwujud sebagai kenyataan-kenyataan sosial. Konsep kehidupan masyarakat Melayu Riau idenntik dengan nilai-nilai spiritualitas yang di pengaruhi oleh masuknya agama islam. Setiap simbol yang terdapat dalam keseharian masyarakat Melayu merupakan cerminan dari Al-Qur’an dan sunnah-sunnah islam. Hal ini yang mempengaruhi visualisasi motif ragam hias Melayu Riau yang menghadirkan banyak gubahan, distorsi dan stilasi pada bentuk-bentuk kehidupan. Menurut Eni (2016) motif batik Melayu-Riau banyak menggunakan stilasi dari ragam hias alam seperti tumbuhan-tumbuhan, hewan, alam dan benda angkasa. Hal ini disebabkan karena mayorittas masyarakat Melayu Riau adalah penduduk muslim yang menghindari keberhalaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Azhar (2020), bahwa corak ragam hias yang paling lazim adalah berbentuk kaligrafi (khat) yang diambil dari AlQur’an dan dikombinasikan dengan latar dunia tumbuh-tumbuhan (floralistik) dengan kombinasi pola geometris seperti bentuk kubus, lingkaran dan wajak (Malik dkk, 2004). Seni ragam hias Islam tidak mempergunakan penggambaran makhluk hidup dunia, baik itu binatang maupun dunia manusia (antropomorphik). Ada beberapa motif batik yang masih menghadirkan bentuk hewan namun motif tersebut dipilih berdasarkan kriteria 30 Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37 tertentu, misalkan hewan lebah masih di pakai karena dipandang membawa kebermanfaatan. Motif lebah diperbolehkan karena anggapan ini sejalan dengan realita bahwa lebah memakan makanan yang bersih dan membuang kotoran yang dapat bermanfaat bagi mahluk hidup lainnya. Penggambaran sosok lebah tidak digambarkan sebagai wujud yang sesungguhnya namun mengalami distorsi. Dapat disimpulkan bahwa penghadiran motif mahluk hidup pada motif batik Melayu-Riau di wakilkan melalui pendistorsian dan stilasi floralistik yang mewakili visualisasi motif serta merupakan sebuah simbolisasi kultur dan budaya yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Riau. Gambar.2 Pola Bergaris Memanjang Pada Motif Batik Melayu Riau Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Pola ragam hias yang dihadirkan dalam desain batik Melayu riau secara konvensional adalah bentuk vertical. Hal ini juga digunakan pada desain pelaminan. Dari proses penciptaan motfi yang ada dilakukan perulangan yang membentuk pola memanjang yang di beri nama tidak jauh dari nama aslinya. Banyak motif-motif baru yang diciptakan dari pengembangan motif tradisional atau motif yang telah ada sebelumnya, antara lain: bungo kesumbo, bunga tanjung, bunga cempaka, bunga matahari, kaluk berlapis, dan lain-lain. Batik Riau ini tumbuh berkembang dan diberi nama “Batik Tabir”. Regenerasi Pola dan Ragam Estetika Motif Batik Melayu Riau Batik berasal dari era keemasan Kesultanan Daik Lingga dan Siak. Pada saat itu, semacam kerajinan tangan yang dikenal di kalangan bangsawan istana dalam bentuk dari "batik cap" atau biasa di sebut Blok Stamping. Teknik ini dibuat dari perunggu atau bahan yang mudah di ukir untuk membuat motif. Setiap balok memiliki motif yang berbeda-beda (Zainal dkk, 2013). Block stamping terbuat dari kayu lunak yang diukir untuk dijadikan cap motif. Untuk hal-hal tertentu bisa juga dibuatkan stemple buah keras seperti kentang. Ini pasti sekali pakai atau tidak permanen, dan motif dibatasi pada ukuran buah. Untuk membuat motif batik, sebagian balok dicelupkan ke dalam pewarna lalu pada alas kain dicap demikian motif yang telah terkandung tersebut pewarna ditransfer ke kain. Menurut Mustafa (Lembaga Adat Melayu) batik Melayu Riau kini terbagi menjadi 2 daerah yang terpecah yakni daerah Riau daratan dan Riau kepulauan. Teknik blok stamping atau telepuk hanya boleh digunakan oleh daerah kepulauan Riau dan telah di HKI kan, hal ini yang membuat masyarakat daratan Riau tak lagi menggunakan teknik tersebut dan beralih menggunakan teknik konvensional berupa pencantingan. Teknik konvensional telah dikembangkan sejak bangkitnya batik di daerah Riau melalui pelatihan-pelatihan oleh pemerintah Provinsi. Kendati demikian eksistensi motif Melayu selalu dipertahakan sesuia akar tradisi masyarakatnya. 31 Desy Ratna Syahputri, Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu Batik tulis Riau memiliki karakteristik pewarnaan yang cerah seperti kuning, emas, merah dan hijau (Fonda, 2020). Batik riau memiliki kecenderungan warna yang cerah dan lembut. Melalui penuangan symbol visual tersebut batik mengungkapkan keratifitas dan spiritualitas (Fonda,2020). Pewarnaan batik biasanya menggunakan warna-warna kuning atau perak sedangkan kain dasarnya adalah sutra atau bahan halus lainnya yang berwarna hitam (gelap). System dan simbolisisasi warna yang terkandung pada batik Melayu tak jauh berbeda dengan batik Jawa yang memiliki filosofi tertentu. Batik Melayu memandang warna merah sebagai symbol keberanian, hijau sebagai symbol ketentraman, kuning dan emas sebagai symbol kemewahan dan kejayaan (Enita, 2017). Zainal (2013) dalam buku The Treasure Of Riau Malay Handicraft menjelaskan perkembangan desain tradisional telah menghasilkan lebih banyak motif, namun tidak meninggalkan akar tradisi motif itu terbentuk. Diantaranya : (1) bungo kesumbo (bixa orellana), (2) bunga tanjung (ceri Spanyol), (3) bunga cempaka (magnolia champaca), (4) bunga matahari (bunga matahari), (5) kaluk berlapis (lapisan lekukan) dan lain-lain. Batik Riau terus berkembang dan sekarang dikenal dengan sebutan “batik tabir”. Berikut berapa motif yang sudah dipatenkan yang dikembangkan antara lain: . 1. Cempaka Gading. 2. Tabir Dewangga 3. Muda Bangsawan. 4. Mercu GemalaBunga 5. Kesumbo dll Peoses kreatif yang terjadi pada batik Melayu merupakan sebuah desain yang lahir dari tradisi dan keadaan sosial masyarakatnya. Pembatik atau yang bis akita sebut sebagai creator menuangkan berbagai ide gagasan melalui cara pandang yg unik dan dapat dipertanggungjaawabkan (Pujiyanto, 2018). Krattifitas dan nilai-nilai ini menghasilkan ide untuk diimplementsikan seperti yang dipaparkan oleh Kartajaya (2018) bahwa kreatifitas merupakan penggunaan sumber daya dan nilai-nilai yang sudah ada untuk mleahirkan kembali suatu inovasi antara ide dan implementasinya. Ide kreatif tersebut perlu mendapatkan apresiasi dengan cara melindungi karya cipta melalui HKI. Beberapa motif batik melayu Riau yang sudah di hak patenkan sebagai berikut : Gambar 3. Motif Batik Melayu Riau yang Sudah Memiliki HKI Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Keterangan : 32 Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37 a. Gambar a merupkan motif batik Tabir Dewangga dengan motif dasar bunga semangat b. Gambar b merupakan motif batik Cempaka Gading dengan motif dasarnya diadopsi dari bunga cempaka c. Gambar c adalah motif batik Muda Bangsawan yang menggunakan motif dasar bunga kesumba d. Gambar d merupakan motif batik Mercu Gemala yag menggunakan motif dasar bunga mengkanang Gambar. 4 Motif Batik Melayu Riau Yang Sudah D HKI-kan Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Pemegang hak cipta : DEWAN KERAJINAN DAERAH PROVINSI RIAU (DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI RIAU) Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru Jenis ciptaan : Desain Motif Judul : BATIK TABIR "KEMBANG PENUH WAJIK BERSAMBUNG” Nomor dan tanggal pendaftaran : 036237, 30 November 2007 Deskripsi : Kain batik kembang penuh Untung baik rezeki bersambung Batik ini merupakan harapan atas rezeki yang terus mengalir untuk si pemakainya. Gambar. 4 Motif Batik Melayu Riau Yang Sudah D HKI-kan Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Pemegang hak cipta : DEWAN KERAJINAN DAERAH PROVINSI RIAU (DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI RIAU) Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru 33 Desy Ratna Syahputri, Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu Jenis ciptaan : Desain Motif Judul : BATIK TABIR "MEKAR KESUMA DAUN BERTINDIH" Nomor dan tanggal pendaftaran : 036241, 30 November 2007 Deskripsi : Karena senyum tuah prun datang Beroleh rezeki tindih menindih Menggambarkan attitude yang baik akan gterpancar pada wajah melalui innerbeauty, seseorang yang membawa positif vibes akan mendapatkan banyak rejeki entah itu kolega atau hubungan baik dengan oranglain atau rejeki lainnya. Kebaikan semacam ini juga tertuang pada Al-Qur’an dan sunnahnya, mengingat masyarakat Melayu hidup berlandaskan ajaran agama islam. Gambar. 4 Motif Batik Melayu Riau Yang Sudah D HKI-kan Sumber : The Treasure Of Riau Malay Handicraft Pemegang hak cipta : DEWAN KERAJINAN DAERAH PROVINSI RIAU (DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH PROVINSI RIAU) Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru Jenis ciptaan : Desain Motif Judul : BATIK TABIR "KESUMA MEKAR BERTANGKU” Nomor dan tanggal pendaftaran : 036234, 30 November 2007 Deskripsi : Budi halus muka berseri Hidup berarti kemudian surgauwi Desain motif ini menggambarkan nilai luhur budaya melayu tentang budi pelerti dan ahlak yang baik akan mengantarkan manusia kepada TuhanNya Adapun beberapa motif batik yang dicipakan oleh Bapak Amrun pengrajin batik Gerai Semat Tembaga 34 Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37 Gambar.5 Motif Batik Tabur Sumber : Dokumentasi Pribadi Penelitian Motif diatas merupakan motif Gerai Semat Tembaga dengan menggunakan pola Tabur. Pola tabur sering digunakan para pembatik Riau dengan visualisis motif yang bertumpuk-tumpuk. Menurut bapak Amrun batik tabur bisa digunakan pembatik dikeseluruhan daerah Riau baik daratan maupun Kepulauan, penggunaan warna merah pada batik tabur di atas melambangkan keberanian dan kecenderungan warna ungu merupakan symbol dari nilai spiritualitas yang tinggi. Gambar.6 Desaim Motif Tabur Daratan Riau Sumber : Dokumentasi Penelitian Dari ragam estetika batik diatas, pola batik di daerah Melayu Riau dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yakni pola tabir dan tabur. Menurut Dekranasda daerah Riau tidak ada pembatasan maupun spesifikasi tertentu dalam penggunaan kedua pola tersebut. Yang menjadi pembeda adalah batik tabir lebih memiliki arah perulangan menurun maupun vertikal. Ini memiliki filosofi bahwa manusia memiliki hubungan kuat secara transcendental dengan TuhanNya. Hal ini sejalan dengan penelitian Gesper mengenai budaya melayu bahwa islam adalah nafas dan cerminan masyarakat Melayu, bahwa menjadi orang Melayu sudah tentu adalah muslim. Disini terjadi itegrasi antara agama, tradisi daan seni dalam tadisi Melayu ke dalam kehidupan sosial kebudayaannya. Sementara itu pola Tabur, yang merupakan perulangan tumpuk bertumpuk pada visualisasi motif nya. Motif bertumpuk menggambarkan solidaritas dan sikap sosial 35 Desy Ratna Syahputri, Ragam Estetika Batik Riau terhadap Nilai dan Tradisi Budaya Melayu masyarakat Melayu Riau yang hidup berdampingan dan berlomba-lomba dalam kebaikan menuju alam transcendental. Nilai yan g tertanam dalam pola tabir dan tabur ini merupakan hubungan antara 3 penjuru, yakni hubungan tuhan dengan manusia yang dituangkan dalam arah vertikal, hubungan manusia dengan manusia merupakan visualisasi pola tabur yang menggamarakan keadaan manusia satu dengan manusia lainnya dan manusia dengan alam melalui penggambaran motif batik floralistik. Maka nilai yang paling utama pastinya berpandukan hubungan antara manusia dengan Tuhan, apa juga yang ditegah oleh Tuhan menjadi perkara yang mesti dielakkan oleh manusia. Sebaliknya apa yang diperintahkan-Nya perlu dilaksanakan sebaik mungkin. Tuhan telah memaklumkan apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk manusia. Nilai-nilai yang dinyatakan-Nya itu berhubung dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya (Rashid, 2005). SIMPULAN Eksistensi ragam motif Melayu Riau sangat identik dipengaruhi oleh budaya dan tradisi islam. Mengingat bangsa Melayu adalah masyarakat islam. Hal ini mempengaru ragam hias dan motif batik yang berada di daerah Melayu Riau. Motif batik yang ada merupakan distorsi dan stilasi dari bentuk floralistik seperti benda alam, tumbuhtumbuhan, dan benda angkasa. Sangat jarang ditemukan batik dengan motif mahluk hidup. Hal ini dilakukan untuk menghindari keberhalaan. Adapun motif lainnya juga mengadopso motif kaligrafi yang bersumber dari Al-Qur’an dikombinasikan dengan motif tumbuh-tumbuhan. Dalam visualisasi bentuknya, estetika ragam batik Riau bisa dibedakan menajdi 2 pola, yakni pola tabur dan tabir. Kedua pola ini bisa digunakan oleh siapapun. Pola batik Melayu tabur cenderung pada visualisasi motif yang bertumpuk dan rapat sedangkan pola tabir dengan penggambaran motif vertikal, memanjang maupun menurun. Dipercayai pola tabir memiliki filosofi transendental yang berkaitan dengan kehidupan manusia dengan Tuhan (ke arah atas). DAFTAR PUSTAKA Azhar, Ali dan Rasyid, Sandi Abd. (2020). Dalam Senarai Kesejarahan Bumi Lancang Kuning. Bantul : TrussmediaGrafika Creswell, John. (2015). Riset Pendidikan: Perencanaan, Pelaksanaan, Dan Evaluasi Riset Kualitatif & Kuantitaif. Edisi Kelima. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yogyakarta : Russmedia Grafika Enita, Ria. (2016). Kajian Batik Tulis Riau. Open library Telkom University. Fonda, Hendry. (2020). Klasifikasi Batik Riau dengan Menggunakan Convolutional Neural Networks (CNN). Jurnal Imu Computer. Vol. 9 No. 1 (2020) Geertz, Clifford. (1992). Tafsir Kebudayaan, Yogyakarta, Kanisius. Guslinda dan Kurniaman, Otang. (2016). Perubahan Bentuk, Fungsi dan Makna Tenun Songket Siak Pada Masyarakat Melayu Riau. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Volume 5. Nomor 1 ,April – September 2016. ISSN: 2303-1514. Kartajaya, Hermawan. (2018). Planet OMNI: The New Yin Yang of Business, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 109 Malik, Abdul, Tenas Effendy, Hasan Junus dan Auzar Thaher. (2004). Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau. Yogyakarta. Adicita. Ma’ruf, Farid Dkk. (2015).Modifikasi Alat Pencelup Batik Secara Mekanispada Proses Pembuatan Batik Tulisguna Meningkatkan Kualitas Warna. Jurnal Teknika STTKD Vol.2, No. 1, Juli 2015. Sunarya, Yan Yan. (2012). Inventaris Sebuah Kain Tradisional. Bandung : Bandung Institute of Technology. Researchgate. 36 Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni, 1(1) 2021: 27-37 Widagdo (1997) “Sekilas Tekstil Indonesia”, Makalah Seminar Desain Tekstil Indonesia 2000, FSRD ITB Pujiyanto. (2018). Jiwa Entrepreneurship Penggerak Desain, Jurnal Andharupa, Volume 04 Nomor 02, Agustus 2018, 241. Pujiyanto,dkk. (2021). The Creativity of Designing Batik Serumpun Melayu Through IndonesianMalaysian Cultural Acculturation. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, Series Volume Number 534 Proceedings of the 5th International Conference on Arts Language and Culture (ICALC 2020) Rashid, Noriati. A. (2005). Nilai Kesantunan Dalam Konteks Sosiobudaya Masyarakat Melayu. Jurnal Pengajian Melayu, Jilid 15. Salmon, Encik. (1989). Batik Cap. Riau. Indonesia Zainal, Rusli, dkk. (2013). The Treasure Of Riau Malay Handicraft. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa 37