Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal. iahn-gdepudja. Volume 7 Nomor 2. November 2024 Hakikat Pendidikan H. R Tilaar dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Progresivisme Toha Pratama Universitas Gadjah Mada pratama@mail. Abstract Keywords: Philosophy of education. Tilaar. Progresivism R Tilaar interprets the function of education as an agent of According to him, education process must be democratic, respectful to the rights of students and has a transformative character. The function of education as a carrier of values of openness and tolerance is one of the topics in the philosophy of progressive The method used in this study is hermeneutics with Tilaar's thoughts of education as the main object. The approach being used over Tilaar's thoughts were pursued with factual and historical method to read TilaarAos thoughts using the concept of progressivism in philosophy of education. The methodical elements being used in this research are hermenutics, induction-deduction, internal coherence and reflective description to review the nature of education as an important element in culture, the function of education and the relationship between student and teacher in education process. The researchAos result can be pointed out as follows: Tilaar formulates the vision and mission of national education by looking nature of education itself, and consider how the function of supporting elements in the learning process, such as teachers, pupils, schools and the curriculum can interact harmoniously and this thinking is in line with the main points in the philosophy of progressive education. It can be concluded that the educational thinking of Tilaar has the style of progressivism because its basics idea highly reflects the spirit of openness and critical philosophy. This also shows that the idea Tilaar has relevance in the preparation of education policy in Indonesia. Abstrak Kata kunci: filsafat pendidikan. R Tilaar. R Tilaar menafsirkan fungsi pendidikan sebagai agen perubahan. Proses pendidikan harus berjalan secara demokratis, menghormati hak anak didik dan bersifat transformatif. Fungsi pendidikan sebagai pembawa nilai-nilai keterbukaan dan toleransi merupakan salah satu bahasan dalam filsafat pendidikan aliran progresivisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika filosofis dengan objek utama pemikiran pendidikan Tilaar. Pendekatan yang ditempuh terhadap Tilaar menggunakan model penelitian historis faktual untuk membaca pemikiran beliau menggunakan dalam perspektif Adapun unsur-unsur metodis yang digunakan ialah hermeneutika, induksi-deduksi, koherensi intern dan deskripsi reflektif untuk meninjau hakikat pendidikan sebagai unsur penting dalam kebudayaan, fungsi pendidikan dan relasi guru murid dalam proses pendidikan. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Tilaar merumuskan visi dan misi pendidikan nasional dengan mencari hakikat pendidikan itu sendiri serta memikirkan bagaimana fungsi elemen-elemen pendukung dalam proses pembelajaran seperti guru, murid, sekolah dan kurikulum dapat saling berinteraksi dengan harmonis dan pemikiran ini sangat sejalan dengan pokok-pokok utama dalam filsafat pendidikan aliran progresivisme. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendidikan Tilaar memiliki corak aliran progresivisme karena dasar-dasar utamanya sangat mencerminkan semangat keterbukaan dan kritis. Pendahuluan Pendidikan merupakan faktor utama untuk membangun peradaban suatu bangsa. Masyarakat suatu bangsa memperoleh pengetahuan, semisal dari mana asal-usul dan tujuan hidupnya melalui pendidikan. Kesadaran akan arti penting pendidikan dapat menentukan kualitas kesejahteraan dan masa depan masyarakat. Tanpa pendidikan, bisa dipastikan manusia akan kehilangan hidup dan tujuan. Hal tersebut setidaknya dinyatakan oleh Pembayun dalam Pendidikan Berwawasan Kebangsaan: AuPendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan fondasi utama untuk membangun peradaban sebuah bangsaAy (Pembayun, 2008:i. Pendidikan sekalipun dianggap sebagai tiang pembangun peradaban bangsa, nyatanya masalah yang terkandung di dalamnya masih terbilang AuluasAy dan muncul dari berbagai aspek diIndonesia. Mulai dari kekurang-merataan sarana dan prasarana diberbagai wilayah, kualitas pengajar yang terbilang belum sama dalam standar kompetensi hingga metode pengajaran di sekolah yang masih meletakkan guru sebagai pusat belajar,oleh karenanya secara tidak langsung membuat siswa menjadi pasif dan kurang berkembang sebagai pribadi yang kritis. AuBagi yang benar-benar mengabdi . ada pembebasa. harus menolak konsep pendidikan gaya bank secara menyeluruh, menggantikannya dengan konsep tentang manusia sebagai makhluk yang sadar akan Mereka harus meninggalkan tujuan pendidikan sebagai usaha tabungan dengan menggantinya dengan penghadapan pada masalah-masalah manusia dalam hubunganya dengan duniaAy (Freire, 1972: . Konsep tersebut diungkapkan oleh Freire, yang menyoroti model pembelajaran dengan menjadikan siswa sebagai subjek pasif yang hanya terus dibekali teori, namun minim bersentuhan dengan masalah-masalah kehidupan yang tengah terjadi. Realitas tersebut rupanya tak luput pula dari sorotan H. Tilaar, seorang pemerhati pendidikan Indonesia. Tilaar menafsirkan fungsi pendidikan sebagai agen perubahan. Proses pendidikan harus berjalan secara demokratis, menghormati hak anak didik dan bersifat transformatif. Tilaar juga menekankan tentang pentingnya proses pendidikan sebagai aktivitas dialogis yang memungkinkan dialog antar-subjek ataupun antara subjek-objek dan kesepakatan-kesepakatan yang ada di dalam lingkungan masyarakat. Peran guru pun turut Tilaar soroti. AuGuru dalam masyarakat modern adalah seorang profesional, karena ia mengemban misi suatu industri-strategis dasar. Guru dalam masyarakat itu adalah seorang Resi dalam arti yang modern. Ia menguasai sains dan teknologi, ia membawa peserta didik kepada pengenalan sains dan tekologi ituAy (Tilaar, 2012a: 178-. Tilaar turut pula menawarkan solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia berdasarkan pada keadaan Indonesia yang terdiri dari keberagaman, seperti budaya, suku, agama, bahasa dan gaya hidup. Tilaar menjabarkan solusi tersebut dalam pendidikan multikulturalisme demi menghadapi globalisasi. Pendidikan multikultural yang tanpa meleburkan kebudayaan masing-masing etnis, tetapi menerima percampuran dari masingmasing budaya yang dimiliki oleh etnis di dunia (Tilaar, 2012b: 859 dan 2012c: . Berdasar pada kekhasan yang Tilaar usung, yaitu kemampuannya untuk menyoroti masalah faktual pendidikan di Indonesia, namun tetap menjagarealitas Indonesia sebagai kesatuan dari beragam perbedaan, maka peneliti berkeinginan untuk mengupas lebih dalam tentang pemikiran Tilaar. Penulis berasumsi bahwa dengan pemikiran Tilaar, setidaknya benang merah permasalah pendidikan di Indonesia setidaknya akan dapat sedikit diurai. Di samping itu, asumsi yang muncul adalah memang masih sedikitnya peneliti lain yang mengupas konsep pemikiran Tilaar. Hal tersebut dibuktikan dalam daftar keaslian penelitian. Sebagai usaha untuk menulis sebuah tulisan filosofis, penulis perlu untuk memasukkan pandangan filsafat pendidikan dalam mengupas pemikiran Tilaar, sehingga ke-khas-an dari konsep Tilaar tersebut dapat lebih terbaca secara terang. Aliran dari filsafat pendidikan yang peneliti ambil adalah aliran progresivisme, dikarenakan progres sebagaimana akar kata dari progresivisme, yang mengisyaratkan bahwa terjadi hal yang selalu dinamis di dalamnya, menurut peneliti sejalan dengan semangat pendidikan yang dibawa Tilaar. Tilaar menghendaki adanya perubahan konsep pendidikan dari yang sebelumnya siswa bersifat pasif, menjadi lebih aktif dengan mengadakan dialog antarsubjek maupun antara subjek-objek, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal tersebut kiranya senada cara pembekalan pengetahuan yang terbaik untuk siswa sebagaimana yang disuarakan oleh aliran pendidikan progresivisme, yaitu mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategistrategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini (Jalaludin, 2007: . Ciri khas aliran progresivisme sebagai the liberal road of cultural, peneliti harap pula mampu untuk mengupas lebih tajam pemikiran Tilaar. The liberal road of culture berarti nilai-nilai yang dianut filsafat ini bersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka . pen minde. , dan menuntuk pribadi para penganutnya untuk selalu bersikap penjelajah, dan peneliti, guna mengembangkan pengalaman mereka (Arifin, 1987:. Tilaar pentingnya konsep multukulturalisme untuk terlibat dalam konsep pendidikan, artinya tidak bebas mutlak, namun cenderung bebas yang berdasar pada ke-khas-an kultural masing-masing wilayah. Selain itu, ciri lain semangat pendidikan Tilaar adalah menawarkan demokrasi pendidikan dan ingin beranjak dari konsep pendidikan konvensional nan pasif. Titik penting konsep pendidikan Tilaar salah satunya adalah penekanan dialog bukan hanya antar-subjek, melainkan juga subjekobjek . Metode Penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Bahan dan materi penelitian ini akan diperoleh melalui penelusuran pustaka, yaitu bahan-bahan kepustakaan yang terkait dengan tema yang diangkat dalam penelitian ini. Bahan kepustakaan dikumpulkan dari berbagai sumber yang relevan, sehingga kajiannya selalu terarah sesuai tema. Bahan penelitian ini dapat dikategorikan dalam dua kategori, yakni bahan yang bersumber dari data primer dan bahan yang bersumber dari data sekunder. Jalan penelitian digunakan untuk mengarahkan langkah-langkah yang harus diambil dalam melakukan penelitian ini. Adapun langkah yang diambil dalam penelitian ini berjalan berdasarkan tahap demi tahap, yaitu tahap persiapan, pembahasan dan penulisan secara sistematis disertai dengan koreksi penulisan. Adapun unsur-unsur metodis yang digunakan mengacu pada buku yang ditulis oleh Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair yang berjudul Metodologi Penelitian Filsafat . 4: 41-. , yaitu : Hermeneutika penulis berusaha menangkap dan mengolah filsafat pendidikan H. Tilaar. Induksi-Deduksi induksi adalah penulis berusaha mencari dan merumuskan tentang filsafat pendidikan H. Tilaar, sedangkan deduksi digunakan untuk merumuskan landasan filosofis filsafat pendidikan H. Tilaar. Koherensi Intern penulis mencari keselarasan filsafat pendidikan H. Tilaar dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat saat ini di Indonesia. Deskripsi penulis menguraikan seluruh pemahaman yang didapat secara teratur. Hasil dan Pembahasan Pemikiran Pendidikan Menurut H. R Tilaar Hakikat Manusia dalam Ontologi Filsafat Pendidikan Tilaar Hakikat manusia dalam pemikiran Tilaar bukanlah subjek yang terpisah dari Baginya kepribadian manusia adalah proses yang muncul dari interaksi antar manusia dan pembentukan identitas pribadi harus selalu berkaitan dengan tujuan masyarakat yang lebih luas (Tilaar, 2002: . Pandangan Tilaar menunjukkan bahwa ia memandang manusia sebagai mahluk sosial karena bahkan sejak lahir manusia selalu hidup bermasyarakat dan membutuhkan orang lain. Dalam AuPendidikan. Kebudayaan dan Masyarakat Madani IndonesiaAy . Tilaar merumuskan pandangannya mengenai konsep manusia Indonesia. Bersandar pada pemikiran E. Bloch. Tilaar meyakini bahwa manusia bukanlah suatu diktum atau titik yang sempurna melainkan sesuatu yang terus menerus dalam proses menjadi (Tilaar, 2012: . Hakikat manusia terdiri dari berbagai dimensi . , baik religius, budaya dan politis yang semuanya harus diakomodir pencariannya dalam proses pendidikan. Selain itu, intelegensi manusia dipandang bukan hanya sebagai kemampuan intelektual tapi juga kemampuan untuk hidup bermasyarakat atau civic intellegence (Tilaar, 2012: . , sehingga dalam proses pendidikan manusia perlu didorong untuk menemukan kemampuannya dan kemampuan sesama sehingga tercipta keselarasan dalam masyarakat. Berdasar pandangan bahwa hakikat manusia ialah multidimensional maka pendidikan ialah proses pembelajaran secara menyeluruh yang bukan hanya terkait transimisi pengetahuan intelektual tapi juga emosional agar mampu berinteraksi secara harmonis dengan masyarakat. Manusia juga harus dihargai keunikannya (Tilaar, 2012: . karena semua manusia memiliki potensi positif yang harus dikembangkan secara optimal. Dengan demikian pendidikan bukanlah untuk mencetak manusia untuk memiliki kemampuan secara sama rata, melainkan memberi kesempatan pada manusia untuk berkembang secara utuh. Epistemologi dalam Filsafat Pendidikan Tilaar Bagi Tilaar, hakikat ilmu selalu terkait dengan sistem pengetahuan tertentu. Obyektivitas ilmu tidak diterima begitu saja secara bulat-bulat melainkan secara kritis selalu dikontekstualisasikan dengan kondisi pengetahuan di jamannya. Ilmu, menurut Tilaar tidaklah bebas nilai (Tilaar, 2012: . Pandangan Tilaar tentang standardisasi pendidikan nasional dapat memberi kita pemahaman atas landasan epistemologi yang dipahaminya. Standaridisasi pendidikan nasional tidak boleh berpusat pada satu kekuasaan mutlak melainkan harus berangkat dari paradigma yang berakar pada keinginan pengembangan peserta didik. Paradigma tersebut menurutnya harus berlandaskan epistemologi yang intergratif artinya, bertolak pada epistema ekonomi . ebagai pengembangan sumber daya manusi. , epistema politik . engedepankan peserta didik sebagai anggota nation-state dalam konstruksi masyaraka. , epistema kebudayaan . engakomodir segala bentuk kebudayaan untuk dapat hidu. dan epistema pedagogis . elihat proses pendidikan sebagai proses pemerdekaan manusia untuk menjadi mahluk bermora. (Tilaar, 2012: . Pandangan epistemologis filsafat pendidikan Tilaar sangat berhubungan dengan pandangan ontologisnya tentang hakikat manusia sebagai mahluk sosial dan dapat dikatakan bahwa Tilaar sangat konsisten dalam membangun filsafat pendidikannya. Aksiologi dalam Filsafat Pendidikan Tilaar Bagi Tilaar, pendidikan adalah proses pemberdayaan dan pembudayaan (Tilaar, 2010: Tentu saja ini masih sejalan dengan pandangan ontologis dan epistemologis Tilaar atas pendidikan sebagaimana telah dipaparkan dalam bagian sebelumnya. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup manusia sehingga pengembangan nilai-nilai dalam proses belajar harus mencakup intelegensia emosional, intelegensi estetis dan intelegensia interpersonal. Selain itu, landasan aksiologis yang ada dalam pandangan filsafat pendidikan Tilaar sangat berhubungan dengan landasan aksiologis Indonesia sebagai negara bangsa yakni Pancasila. Dalam pemikiran-pemikirannya. Tilaar selalu mengedepankan pentingnya menciptakan masyarakat madani yang multikultural. TIlaar percaya bahwa pendidikan nasional memiliki hubungan erat terhadap pembangunan bangsa sehingga sistem pendidikan yang kondusif harus berdasarkan Pancasila. Penyelenggaran pendidikan berhubungan dengan intergrasi bangsa, artinya secara aksiologis ia harus mampu melibatkan nilai-nilai multikultural dalam kebudayaan Indonesia. Menurut Tilaar, karakter bangsa Indonesia merupakan: Ausuatu konstruksi budaya tentang sikap hidup . ara berpikir dan bertinda. dari setiap individu bangsa Indonesia yang multikultural terpancar dari nilai-nilai budaya/ideologi nasional Indonesia. Pancasila dalam menghadapi perubahan globalAy (Tilaar, 2012: . Proses Pendidikan Berbasis Kebudayaan R Tilaar telah banyak memaparkan pandangan kritisnya terkait pendidikan di Indonesia. Dari beberapa karyanya, dapat ditemui beberapa pernyataan tentang pentingnya pendidikan yang berkarakter kebangsaan menurut Tilaar. Dalam pandangannya. Tilaar menegaskan bahwa sejak masa awal kemerdekaan hingga masa kini sistem kurikulum yang diterapkan oleh bangsa Indonesia masih kurang tepat. Sistem pendidikan di Indonesia dinilai kerap mengabaikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam budaya bangsanya sendiri. Nilainilai seperti etika, moral, dan jiwa kreatif dinilai tidak diperhitungkan dalam penerapan kurikulum di Indonesia. Kritiknya terhadap kurikulum di Indonesia tidak berhenti di situ. Menurutnya, pendidikan Indonesia dewasa ini masih menganut pada sistem pendidikan kolonial. Hal ini dinilai tidak dapat mengembangkan kreativitas peserta-didik. Hal tersebut bahkan telah mematikan berpikir kritis dan kreativitas peserta-didik. Hal ini dapat terlihat pada pelaksanaan sistem ujian nasional, sebuah usaha standardisasi untuk seluruh Indonesia. Pemberlakuan kebijakan itu dinilai dapat menghambat daya berpikir kritis dan kreatif siswa. Menurut Tilaar, dengan lahirnya sekolah-sekolah bertaraf internasional dengan world class education ini mencerminkan neoliberalisme juga telah masuk ke bidang pendidikan. Pendidikan didefinisikan oleh Tilaar sebagai suatu proses manusiawi berupa tindakan komunikatif dialogis transformatif antara peserta didik dan pendidik yang bertujuan etis yaitu membantu pengembangan kepribadian peserta didik seutuhnya dalam konteks lingkungan alamiah dan kebudayaan yang berkeadaban (Tilaar, 2012: 1. Kekayaan budaya Indonesia, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan pertama-tama untuk masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri, malah justru diabaikan. Kurikulum yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia seringkali abai dalam memandang kekayaan alam dan budaya sendiri, sehingga akibatnya dimanfaatkan oleh bangsa lain. Pengertian yang semacam ini tentu saja berpengaruh secara sistemik terhadap bagaimana Tilaar memandang konsepnya dan segala hal yang menyusunnya terkait dengan pemikiran pendidikan yang dipergunakannya. Selanjutnya. Tilaar memandang bahwa proses pendidikan yang komunikatif-dialogis. Artinya, proses komunikatif dalam pendidikan merupakan proses yang berjalan secara dua arah, bukan se-arah. Sedangkan yang dimaksud dengan proses dialogis ialah sebuah proses pendidikan yang di dalamnya terjadi proses dialog yang terjadi dalam aktivitas pendidikan itu sendiri, bukan dari luar. Proses pendidikan mesti menempatkan tujuannya pada kebutuhan pribadi yang sedang berkembang, kepada sesama manusia, dan kepada dunia luar atau alam tempat ia tumbuh berkembang. Proses komunikasi dalam proses pendidikan ini bersifat dialogis, dia tidak berasal dari ruang hampa, melainkan terjadi dalam ruang manusiawi, termasuk alam sekitarnya. Proses macam ini tidak akan terjadi jika proses komunikasi yang terjadi merupakan proses komunikasi yang se-arah. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana corak pemikiran filsafat pendidikan aliran progresivisme terlihat jejaknya. Seperti yang telah diutarakan dalam bab sebelumnya, aliran progresivisme memiliki prinsip yang sama. John Dewey, salah satu tokoh penting dalam aliran progresivisme memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sarana sosialisasi (Ahmadi, 2014: . Aliran pendidikan progresivisme memiliki karakter yang mengedepankan fleksibilitas dalam berjalanannya proses pendidikan. Sehingga dalam merumuskan kurikulum pendidikan, ia memiliki sikap keterbukaan terhadap pembaruan, perubahan, dan perbaikan yang disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi pada masanya. Adapun aliran ini meyakini bahwa pendidikan harus bertujuan untuk melatih kemampuan subjek didiknya untuk memecahkan persoalan kehidupan yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan sekitar. Pada sebuah pemikiran yang dituangkan pada buku yang berjudul AuKebijakan PendidikanAy yang ditulis oleh H. Tilaar dan Riant Nugroho . , tercantum beberapa pokok pemikiran yang menjadi inspirasi dan melatari cara berpikir Tilaar terkait dengan pendidikan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah. Paulo Freire. Amartya Sen. John Dewey, dan beberapa tokoh pemikir dan aktivis pendidikan yang tidak asing bagi dalam dunia pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara dan Romo Mangun. Dapat terlacak dengan mudah di sana, bahwa pokok pemikiran Tilaar tidak berbeda jauh dengan pokok pemikiran yang diungkapkan oleh para pemikir sebelumnya, yang pada bab sebelumnya tercatat sebagai para pemikir pendidikan beraliran progresivisme. Tilaar meyakini bahwa pendidikan adalah sebuah proses untuk memerdekakan indidvidu dalam kehidupan Pandangan Tilaar tentang Kebijakan Pendidikan Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, bahwa pendidikan memiliki peranan besar dalam proses memerdekakan individu, maka proses dalam berjalannya pendidikan mestilah memiliki prinsip yang tidak terlepas dari hal tersebut. Sebelum melangkah lebih jauh lagi, perlu kiranya penulis menjelaskan tentang logika yang mengatur berjalannya penyusunan kebijakan dalam sistem pendidikan kita. Tilaar telah menjelaskan banyak hal tentang pentingnya penyusunan kebijakan dalam negara ini, khususnya dalam buku Kebijakan Pendidikan . Hal ini tentunya terkait dengan bagaimana kita hidup sebagai warga negara di suatu negara tertentu, di mana proses pendidikan diatur dan dikuasai oleh aparatur negaranya. Maka dalam hal ini. Tilaar banyak menyoroti kebijakan dan latar belakang yang mendasari pembuatan kebijakan tersebut agar dapat dilihat bagaimana konteks yang mendasari terbentuknya kebijakan di negara ini, serta kritik terhadapnya. Tilaar . 2: . menerangkan bahwa kebijakan pendidikan harus memiliki peranan dalam mengembangkan pribadi dan masyarakat. Ia tidak hanya bisa berguna pada individu, tapi berguna pada masyarakat sekitarnya. Kebijakan pendidikan haruslah menghargai hak individu dan mendorongnya untuk berbuat sesuatu yang berguna pada masyarakat. Kebijakan pendidikan tidak boleh menghalangi kemerdekaan individu, dan kebijakan pendidikan juga harus menghargai aspek sosial di mana individu tersebut hidup. Selain itu kebijakan pendidikan harus memiliki sifat Keterbukaan yang dimaksud di sini adalah dapat mengakomodasi suara masyarakat, dapat melihat dan peka terhadap kebutuhan masyarakat. Maka dari itu kebijakan pendidikan harus lahir dari situasi masyarakat dan struktur negara yang demokratis. Kebijakan pendidikan yang elitis tidak akan memberikan sistem pendidikan yang baik, dia akan akan mengkhianatai hakikat pendidikan itu sendiri. Atas dasar beberapa kritik yang telah diutarakan oleh Tilaar, beliau memberikan beberapa gagasan yang dinilainya cocok untuk diterapkan dalam fungsinya membenahi sistem pendidikan di Indonesia (Tilaar, 2012: . Adanya kemandegan dalam pendidikan nasional dinilai oleh Tilaar terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah pandangan yang terlalu formalistis. Sebuah pandangan yang menganggap dunia dan entitas masyarakat tidak berubah, statis. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap kebijakan pendidikan yang diterapkan, ia akan bersifat dekontekstual. Berkenaan dengan hal itu, proses pendidikan tidaklah boleh terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat. Seperti halnya yang terkandung dalam nilai-nilai kebudayaan. Hubungan pendidikan dan kebudayaan tentu saja lekat dan tidak dapat dipisahkan. Pendidikan dan kebudayaan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang mempengaruhi proses berjalan keduanya. Ada tiga lingkup masalah yang terkandung di dalamnya. yang pertama adalah masalah tata kehidupan manusia . uman orde. , masalah proses kemanusiaan . uman proces. , masalah tujuan hidup manusia . uman grow. Ditambah lagi dengan pendapat Brameld . 7: . yang menjelaskan empat ciri dari keteraturan hidup . di dalam kebudayaan manusia, yaitu: Keteraturan hidup dilahirkan dari keteraturan fisik, biologis, dan sosial. Kebudayaan melingkupi seluruh keteraturan hidup manusia . ll embracin. Keteraturan di dalam kebudayaan tidak bersifat statis tetapi dinamis. Keteraturan kehidupan di dalam masyarakat dicapai dalam memajukan kebebasan hidup manusia di dalam masyarakat. Keteraturan tersebut merupakan nilai yang diyakini dan dimiliki dalam suatu kebudayaan atau di dalam kehidupan bersama. Dalam hal ini, pendidikan berfungsi sebagai penyemaian, pengembangan, dan perwujudan nilai-nilai tersebut dalam suatu hidup bersama dalam masyarakat. Dengan demikian, semakin jelas kini bagaimana pendidikan dan kebudayaan sangat terkait dan berhubungan. Pemanusiaan Dalam Pandangan Pendidikan Tilaar Ditinjau dari Perspektif Progresivisme Dalam prinsip kebudayaan, prinsip pemanusiaan sangat ditekankan. Unesco menerangkan dalam laporannya, bahwa proses pendidikan bukan hanya tranmisi ilmu pengetahuan, melainkan berhubungan juga dengan nilai-nilai mengenai hidup bersama dan prinsip untuk menjadi manusia beradab. Prinsip pendidikan yang seperti ini menurutnya dapat diterapkan dan diakses oleh semua masyarakat dari seluruh lapisan. Metodologi pendidikan tidak melulu dengan peralatan canggih dan mahal dalam sekolah. Tapi lebih kepada bagaimana menciptakan suasana belajar yang menumbuhkan daya kritis dan ingin tahu serta secara langsung berhadapan dengan kenyataan hidup di sekitarnya. Hal ini dapat kita temui pada metode pendidikan yang telah lebih dulu dipraktikkan oleh Romo Mangun dan Ki Hajar Dewantara. Pada pemikiran terkait hal ini maka dapat diamati bagaimana prinsip pendidikan yang coba dianut dan diterapkan oleh Tilaar memeiliki kemiripan dan beririsan dengan prinsip pendidikan dalam aliran Dalam pandangan aliran progresif, pokok terpenting dalam pendidikan adalah memanusiakan manusia. Kedekatan dengan kehidupan nyata dan pengalamana sehari-hari penting adanya. Peserta didik tidaklah berguna meski sekolah setinggi apapun jika tidak mampu mengatasi persoalan keseharian yang nyata dihadapinya. Lantas, bagaimana yang terjadi dengan pendidikan nasional yang ada di Indonesia? Tilaar melihat bahwa pendidikan nasional telah kehilangan arah, telah kehilangan fundamennya, yaitu Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana pemerintah lebih mengedapankan intelektulisme semata, dan melupakan pembentukan karakter dan kepribadian manusia Indonesia yang utuh. Pendidikan telah berubah menjadi pengajaran. Tilaar mengungkapkan bahwa pendidikan nasional mesti didasarkan pada kebudayaan nasional. Sementara kebudayaan adalah merupakan hal yang harus dilihat secara dinamis, maka pendidikan pun tidak dapat dianggap sebagai hal yang statis. Hal ini sama persis sebagaimana yang diungkapkan dalam prinsip pendidikan aliran progresivisme. Selanjutnya Tilaar menerangkan bahwa dalam melakukan pembangunan nasional ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu: Pendidikan berdasarkan kebudayaan sendiri Perkembangan kebudayaan Indonesia menuju kebudayaan Indonesia tidak tertutup terhadap perubahan-perubahan global yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Perkembangan kebudayaan tetap di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia. Hal ini berarti perkembangan kebudayaan Indonesia diarahkan pada kesejahteraan umat manusia Kesimpulan Berdasarkan aliran filsafat pendidikan progresivisme, pemikiran H. R Tilaar terkait dengan pendidikan, sangatlah relevan dengan pendidikan di Indonesia. Tilaar memandang hakikat subjek dalam pendidikan . eserta didi. sebagai mahluk sosial yang potensinya tidak bisa disamaratakan dan memiliki keunikan masing-masing. Fungsi pendidikan berdasarkan landasan ontologis ini ialah untuk mendorong potensi manusia tersebut untuk dapat mengembangkan kehidupan bermasyarakat. Tilaar memandang pengetahuan sebagai instrumen dalam pendidikan yang menyangkut bukan hanya pengetahuan intelektual tapi juga pengetahuan emosional, estetis dan sosial kemasyarakatan. Ia juga memandang bahwa pengetahuan tidak bersifat absolut melainkan harus dikonstruksi secara kritis sesuai perkembangan jaman sehingga pandangan epistemologi dalam filsafat pendidikan Tilaar sangat bercorak epistemologi sosial. Pemikiran filsafat pendidikan Tilaar memandang nilai-nilai dalam pendidikan harus dapat disesuaikan dengan kebutuhan negara bangsa dalam menghadapi persaingan global. Nilai-nilai yang harus muncul dalam proses pendidikan harus mampu mengakomodir kolaborasi antara muatan lokal dengan perkembangan global. Daftar Pustaka