Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika FAKTOR DEMOGRAFI DAN RESILENSI: POTRET IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTOIMUN Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 1,2,3 Fakultas Psikologi. Universitas Surabaya ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: Nov 2025 Approved: Nov 2025 Published: Dec 2025 Resilience in mothers who have children with autoimmune diseases is an important factor in supporting the psychological and physical well-being of the child. This study aimed to examine the relationship between demographic factors and the level of resilience in mothers in Indonesia. A total of 131 mothers were selected using purposive sampling and measured with the 25-item Connor-Davidson Resilience Scale . and a demographic questionnaire covering age, education, occupation, marital status, number of children, number of children with autoimmune conditions, and living arrangement. Statistical analyses included regression analysis, chi-square tests, and difference tests . test/ANOVA) to assess the relationship between demographic variables and resilience. The results indicated that maternal age (NA = 11. p < . , living arrangement (NA = 5. p = . , and number of children with autoimmune conditions (NA = 4. = . were significantly associated with resilience levels. These findings emphasize the important role of family support and household structure in shaping mothersAo psychological adaptation capacity. Practical implications include the development of educational programs, family interventions, and adaptive coping strategies to strengthen caregiver resilience. Future research is suggested to explore the mediating role of social support and self-efficacy in building resilience. Keywords: autoimmune diseases. demographic factors. Alamat Korespondensi: Jl. Raya Kalirungkut. Surabaya E-mail: S159123004@student. setiasih@staff. andrian@staff. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 INFO ARTIKEL ABSTRAK Sejarah Artikel Diterima: November 2025 Disetujui: November 2025 Dipublikasikan: Desember 2025 Resiliensi pada ibu yang memiliki anak dengan penyakit autoimun merupakan faktor penting dalam mendukung kesejahteraan psikologis dan fisik anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara faktor demografi dengan tingkat resiliensi pada ibu di Indonesia. Sebanyak 131 ibu dipilih menggunakan purposive sampling dan diukur dengan Skala Resiliensi Connor-Davidson . yang berjumlah 25 item serta kuesioner demografi mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, jumlah anak, jumlah anak dengan autoimun, dan status tempat tinggal. Analisis statistik meliputi analis regresi, uji chi-square dan uji beda . -test/ANOVA) untuk menilai hubungan antara variabel demografi dengan resiliensi. Hasil menunjukkan bahwa usia ibu (NA = 11,491. p < . , status tempat tinggal (NA = 5,782. p = . , dan jumlah anak dengan autoimun (NA = 4,006. p = . memiliki hubungan signifikan dengan tingkat resiliensi. Temuan ini menekankan peran penting dukungan keluarga dan struktur rumah tangga dalam membentuk kapasitas adaptasi psikologis ibu. Implikasi praktis mencakup pengembangan program edukasi, intervensi keluarga, dan strategi coping adaptif untuk memperkuat resiliensi ibu caregiver. Penelitian lanjut disarankan mengeksplorasi peran mediasi dukungan sosial dan self-efficacy dalam membangun Kata Kunci: penyakit autoimun. faktor demografi. PENDAHULUAN Penyakit autoimun merupakan patologi kronis yang terjadi akibat hilangnya toleransi imunologis terhadap antigen diri, sehingga menimbulkan kerusakan sistemik atau spesifik organ. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada populasi umum. Pada anak, penyakit autoimun kerap memiliki riwayat keluarga, yang menunjukkan adanya kecenderungan genetik (Ashournia et al. , 2. Diagnosis dini dan strategi manajemen yang komprehensif menjadi penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak dengan penyakit autoimun, terutama karena komitmen perawatan bersifat jangka panjang dan berdampak pada pendapatan keluarga, pembagian tanggung jawab domestik, literasi kesehatan, hingga keterampilan pengasuhan. Berbagai tantangan yang dihadapi keluarga meliputi kesulitan finansial, keterbatasan akses layanan kesehatan, stigma, diskriminasi, tuntutan aktivitas kehidupan sehari-hari, social support yang tidak memadai, serta isolasi sosial. Kondisi ini membebani caregiver secara signifikan (Simpson & Jones, 2. , terlebih karena penyakit autoimun membutuhkan perawatan jangka panjang (Mazzone et al. , 2019. Miller, 2023. Warrilow & Morton, 2. Dalam konteks Indonesia, budaya patriarki menempatkan perempuan khususnya ibu sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak dan pekerjaan domestik. Norma sosial memperkuat persepsi bahwa ibu adalah pihak yang paling memahami kondisi kesehatan anak, termasuk penyakit kronis seperti Akibatnya, ibu menghadapi beban psikologis yang lebih besar dibandingkan ayah. Motherhood sebagai konstruksi universal mengandaikan keterlibatan ibu dalam pemeliharaan keluarga dan pendidikan anak (Yoshina Siautta et al. , 2020. Marques et al. , 2. Dalam budaya Indonesia, anak dipandang sebagai aset keluarga dan sumber kebanggaan, sehingga penyakit pada anak dapat memperbesar tekanan emosional bagi ibu. Penelitian menunjukkan bahwa ibu merespons stres secara lebih emosional dibandingkan ayah, yang cenderung fokus pada dukungan finansial dan logistik (Lindstrym et al. , 2. Menurut Teori Attachment Bowlby . , hubungan emosional yang aman antara ibu dan anak menjadi dasar regulasi emosi. Pada anak Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 dengan penyakit kronis, hubungan yang aman semakin penting dalam menghadapi rasa sakit dan ketidakpastian penyakit. Resiliensi ibu turut menciptakan lingkungan emosional yang stabil, sementara stres pada anak diketahui memicu flare autoimun melalui aktivasi proinflamasi dan disregulasi imun. Lingkungan rumah yang bebas konflik seringkali diciptakan oleh ibu yang resilien dapat menurunkan stres anak dan menstabilkan sistem imun. Kondisi ini menunjukkan bahwa keluarga, khususnya ibu, memerlukan kemampuan adaptif yang kuat. Kemampuan beradaptasi ini dikenal dengan istilah resiliensi, yaitu kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri dari situasi sulit (Reivich & Shatte, 2002. Garmezy. Luthar et al. , 2000. Gavidia-Payne et al. , 2015. Suzuki et al. , 2015. Widyawati et al. , 2. Individu yang resilien mampu menghadapi stres berulang termasuk penyakit kronis dan menemukan kekuatan psikologis untuk tetap berfungsi adaptif (Lee et al. , 2. Orang tua yang resilien juga dapat mempertahankan hubungan positif dengan anak dan memberikan dukungan emosional yang lebih memadai (Gavidia-Payne et al. , 2015. Harper, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang tua dengan resiliensi tinggi memiliki kompetensi yang lebih baik dalam merawat anak, baik dalam aspek fisik maupun mental (Lou et al. , 2. Resiliensi membantu mencapai keseimbangan psikologis dan fisiologis bahkan di bawah tekanan tinggi (Azizah et al. , melalui interaksi sinergis antara individu dan lingkungan (Luthar et al. , 2000. Rutter, 2. Namun, penelitian tentang resiliensi ibu yang merawat anak dengan penyakit autoimun masih sangat terbatas terutama di Indonesia. Beberapa studi global seperti Lovell et al. dilakukan pada artritis idiopatik juvenil dan Ashournia et al. pada lupus sistemik juvenil umumnya berfokus pada karakteristik klinis . enis diagnosis, durasi penyakit, aktivitas inflamas. dan dampaknya terhadap kualitas hidup anak, bukan pada ketahanan psikologis pengasuh. Berdasarkan Cohn et al. terhadap 58 studi internasional menemukan bahwa hanya 12% yang melaporkan data spesifik tentang resiliensi orang tua, dan hampir semuanya berasal dari negara berpenghasilan Di Indonesia, belum ada penelitian yang secara empiris mengkaji hubungan antara faktor demografi dan tingkat resiliensi ibu pengasuh anak autoimun, padahal konteks seperti usia, struktur keluarga, pengdidikan, dan keterbatasan akses dukungan formal sangat memengaruhi beban pengasuhan. Oleh karena itu, penelitian penting untuk dilakukan yang bertujuan untuk: . menggambarkan tingkat resiliensi pada ibu yang memiliki anak dengan penyakit autoimun di Indonesia, dan . menganalisis hubungan antara faktor demografi yang meliputi usia ibu, status tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status pernikahan, jumlah anak, dan jumlah anak dengan kondisi autoimun dengan tingkat resiliensi. Berdasarkan literatur perkembangan dan teori sistem keluarga, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Terdapat Pengaruh yang Signifikan antara Faktor-Faktor Demografi dengan Tingkat Resiliensi pada Ibu yang Memiliki Anak Menderita Autoimun. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Partisipan direkrut menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria ibu yang memiliki anak dengan diagnosis klinis penyakit autoimun dan terlibat dalam pengasuhan sehari-hari. Total terdapat 131 ibu yang direkrut melalui beberapa komunitas orang tua dengan anak autoimun di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner self report yang terdiri atas: . Data demografis . sia ibu, pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, status pernikahan, jumlah anak, jumlah anak dengan autoimun, jenis autoimu. Skala resiliensi menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale oleh Connor & Davidson . yang berisi 25 item dengan = 0,89. Untuk konteks Indonesia. CD-RISC telah melalui proses adaptasi budaya dan uji validitas konstruk, menunjukkan factor loading yang memadai, korelasi item total yang baik, serta struktur faktor yang konsisten dengan literatur internasional. Kuesioner disebarkan secara daring melalui Google Form dan sebagian secara luring. Pada awal pengisian, partisipan diminta menyetujui lembar informed consent. Data dianalisis menggunakan analisis regression, crosstabs dan uji beda. Seluruh analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 27. Analisis dilakukan menggunakan SPSS for windows version 27. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran karakteristik demografis dan sosial responden yang menjadi subjek penelitian ini dirangkum secara ringkas dalam tabel di bawah ini. Tabel 1. Profil Demografi Partisipan . Profil Demografis Deskripsi Frekuensi Prosentase Cerai Hidup Status Pernikahan Menikah 19-24 Tahun 24-29 Tahun 29-34 Tahun 34-39 Tahun Usia Ibu 39-44 Tahun 44-49 Tahun 49-54 Tahun 54-59 Tahun SMP/ Sederajat SMA/SMK/Sederajat Pendidikan Ibu Diploma Tidak Bekerja Pekerjaan Ibu Wiraswasta Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Profil Demografis Penghasilan Ibu Tabel 1. Profil Demografi Partisipan . Deskripsi Frekuensi Pegawai Swasta Pegawai Negeri Lainnya <3 juta 3 juta < 5 juta 5 juta < 7 juta >7 juta Hal 132-150 Prosentase Penelitian ini melibatkan 131 ibu yang merawat anak dengan penyakit autoimun. Berdasarkan status pernikahan, mayoritas responden berada dalam kondisi menikah . ,9%), sementara sisanya berstatus cerai hidup . ,1%). Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar peran pengasuhan dijalankan dalam konteks keluarga dengan pasangan. Dilihat dari kategori usia, responden paling banyak berada pada rentang usia 29Ae34 tahun . ,6%), diikuti usia 34Ae39 tahun . ,2%) dan 24Ae29 tahun . ,1%). Hanya sebagian kecil yang berada pada usia sangat muda . Ae24 tahu. maupun usia di atas 44 tahun. Pola ini mengindikasikan bahwa mayoritas ibu pengasuh berada pada tahap dewasa awal hingga dewasa madya, fase yang umumnya ditandai dengan peran keluarga yang kuat dan tuntutan kehidupan yang relatif kompleks. Berdasarkan tingkat pendidikan, lebih dari setengah responden merupakan lulusan SMA/SMK atau sederajat . ,7%). Sebagian lainnya memiliki pendidikan tinggi . ,4%) diploma, . ,9%) S1, dan . ,5%) S2, sementara hanya 1,5% dengan pendidikan SMP atau lebih rendah. Temuan ini memperlihatkan bahwa mayoritas ibu memiliki tingkat pendidikan menengah ke atas, yang berpotensi berkaitan dengan tingkat literasi kesehatan dan kemampuan mengakses sumber daya coping. Pada aspek pekerjaan, sebagian besar responden bekerja sebagai wiraswasta . ,9%), diikuti pegawai swasta . ,4%) dan ibu rumah tangga/tidak bekerja . ,8%). Hanya sebagian kecil yang merupakan pegawai negeri . ,1%). Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tetap terlibat dalam aktivitas ekonomi, baik untuk menopang kebutuhan keluarga maupun sebagai bentuk peran produktif yang dapat berdampak pada aspek psikologis dan resiliensi. Dari sisi ekonomi, mayoritas responden memiliki pendapatan di < 3 juta rupiah per bulan . ,2%). Sebanyak 22,9% memiliki pendapatan pada rentang 3 juta sampai < 5 juta, 4,6% memiliki pendapatan pada rentang 5 juta < 7 juta dan hanya 2,3% yang memiliki pendapatan > 7 juta rupiah. Dominasi pendapatan rendah ini mengindikasikan adanya potensi tekanan finansial dalam keluarga yang merawat anak dengan kondisi kronis, yang pada gilirannya dapat berinteraksi dengan tingkat resiliensi ibu dalam menjalankan fungsi pengasuhan jangka panjang. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Profil Demografis Status Tempat Tinggal Ibu Jumlah Anak Jumlah Anak autoimun Tabel 2. Profil Demografi Partisipan . Deskripsi Frekuensi Tinggal bersama keluarga inti Tinggal dengan keluarga besar 1 Anak 2 Anak 3 Anak >3 anak 1 Anak 2 Anak Hal 132-150 Prosentase Berdasarkan tabel diatas, status tempat tinggal sebagian besar ibu tinggal bersama keluarga inti . ,0%), sedangkan 26,0% tinggal bersama keluarga besar. Komposisi ini menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasus, tanggung jawab pengasuhan anak dengan penyakit autoimun dijalankan dalam struktur keluarga inti. Dilihat dari jumlah anak, mayoritas responden memiliki dua anak . ,5%), diikuti oleh mereka yang memiliki satu anak . ,5%). Hanya sebagian kecil yang memiliki tiga anak . ,9%) atau lebih dari tiga anak . ,1%). Sementara itu, hampir seluruh responden . ,2%) hanya memiliki satu anak yang didiagnosis autoimun, dan hanya 0,8% yang memiliki dua anak dengan kondisi Hal ini menegaskan bahwa dalam mayoritas kasus, pengalaman caregiving berkaitan dengan satu anak yang sakit, meskipun intensitas pengasuhan pada anak dengan penyakit kronis sering kali tetap tinggi terlepas dari jumlah anak yang terdampak. Variabel Kategori Resiliensi Rendah Sedang Tinggi Tabel 3. Tingkat Resiliensi Rentang Nilai X<33. 33OX<66. Frekuensi Presentase Berdasarkan kategorisasi jawaban responden, dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu dengan anak penyintas autoimun berada pada kategori resiliensi sedang, yaitu sebanyak 94 orang . ,8%). Sementara itu, ibu yang memiliki tingkat resiliensi tinggi berjumlah 37 orang . ,2%). Tidak ditemukan responden yang berada pada kategori resiliensi rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki kemampuan adaptasi psikologis yang cukup baik dalam menghadapi kondisi anaknya yang mengalami autoimun. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 Tabel 4. Hasil Uji Regresi antara Resiliensi dan Demografi Asosiasi yaya Resiliensi Ae Usia Ibu Resiliensi Ae Status Tempat Tinggal Resiliensi Ae Jumlah Anak Autoimun Resiliensi Ae Status Pernikahan Resiliensi Ae Pendidikan Ibu Resiliensi Ae Pekerjaan Ibu Resiliensi Ae Penghasilan Ibu Resiliensi Ae Jumlah Anak Hasil uji regresi yang disajikan pada Tabel . menunjukkan bahwa hanya beberapa faktor demografi yang memiliki asosiasi signifikan dengan tingkat resiliensi pada ibu yang memiliki anak dengan penyakit autoimun. Variabel usia ibu menunjukkan hubungan yang signifikan dengan resiliensi (XA = 0. F = 11. 491, p < . , yang mengindikasikan bahwa peningkatan usia berkaitan dengan meningkatnya tingkat resiliensi. Selain itu, status tempat tinggal juga signifikan (XA = 0. F = 5. 782, p = . , di mana model menunjukkan bahwa variasi resiliensi turut dipengaruhi oleh apakah ibu tinggal bersama keluarga inti atau keluarga besar. Variabel berikutnya yang signifikan ialah jumlah anak dengan kondisi autoimun (XA = 0. F = 4. 006, p = . menandakan adanya perbedaan resiliensi berdasarkan jumlah anak yang mengalami kondisi Sementara itu, variabel lain seperti status pernikahan . = . , pendidikan ibu . = . , pekerjaan ibu . = . , penghasilan ibu . = . , dan jumlah anak . = . tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan terhadap tingkat resiliensi. Tabel 5. Tabulasi Silang antara Resiliensi dan Usia Ibu Kategori Resiliensi Usia Ibu 19-24 24-29 29-34 34-39 39-44 44-49 49-54 54-59 Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Sedang Tinggi Total Berdasarkan hasil tabulasi silang antara usia ibu dan tingkat resiliensi, terlihat bahwa sebagian besar responden dalam semua kelompok usia berada pada kategori resiliensi sedang. Kelompok usia dengan frekuensi tertinggi pada kategori resiliensi sedang adalah ibu berusia 29Ae34 tahun . , diikuti oleh kelompok usia 34Ae39 tahun . dan kelompok usia 24Ae29 tahun . Sementara itu, pada kategori resiliensi tinggi, proporsi terbesar ditemukan pada kelompok Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 usia 34Ae39 tahun . dan 29Ae34 tahun . Meskipun jumlah responden pada usia yang lebih tua relatif kecil, terdapat ibu berusia 44Ae59 tahun yang menunjukkan resiliensi tinggi yaitu masing-masing 1 responden pada rentang usia 44Ae49, 49Ae54, dan 54Ae59 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan usia tidak selalu berkorelasi negatif dengan resiliensi, dimana pengalaman hidup yang lebih panjang dapat menjadi sumber coping adaptif. Tabel 6. Tabulasi Silang antara Resiliensi dan Status Tempat Tinggal Status tempat tinggal Kategori Resiliensi Tinggal bersama Tinggal dengan keluarga inti keluarga besar Sedang Tinggi Total Total Berdasarkan tabulasi silang antara status tempat tinggal dan tingkat resiliensi, ditemukan bahwa mayoritas responden dalam kedua kategori tempat tinggal memiliki tingkat resiliensi Pada ibu yang tinggal bersama keluarga inti, sebanyak 70 orang berada pada kategori resiliensi sedang dan 27 orang pada kategori resiliensi tinggi. Sementara itu, pada ibu yang tinggal dengan keluarga besar, terdapat 24 orang dengan resiliensi sedang dan 10 orang dengan resiliensi Ibu yang tinggal bersama keluarga inti menunjukkan jumlah resiliensi tinggi yang lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal dengan keluarga besar. Temuan ini memberikan indikasi bahwa tinggal dalam keluarga inti tidak selalu identik dengan beban emosional yang lebih tinggi justru struktur keluarga inti dapat menyediakan stabilitas relasional dan kontrol lingkungan yang mendukung adaptasi psikologis. Tabel 7. Tabulasi Silang antara Resiliensi dan Jumlah Anak yang Menderita Autoimun Jumlah anak autoimun Kategori Resiliensi Total 1 Anak 2 Anak Sedang Tinggi Total Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu dalam penelitian ini memiliki satu anak dengan penyakit autoimun, sementara hanya satu responden yang memiliki dua anak dengan kondisi serupa. Pada kelompok ibu dengan satu anak penyandang autoimun, sebagian besar menunjukkan tingkat resiliensi sedang yaitu 94 orang, sedangkan 36 orang menunjukkan resiliensi tinggi. Adapun satu-satunya ibu yang memiliki dua anak dengan autoimun termasuk dalam kategori resiliensi tinggi. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Demografi Usia Status Tempat Tinggal Ibu Jumlah Anak Status Pernikahan Pendidikan Ibu Pekerjaan Ibu Penghasilan Ibu Jumlah Anak Tabel 8. Hasil Uji Beda Berdasarkan Demografi Kelompok 19-24 Tahun 24-29 Tahun 29-34 Tahun 34-39 Tahun 39-44 Tahun 44-49 Tahun 49-54 Tahun 54-59 Tahun Tinggal bersama keluarga Tinggal dengan keluarga 1 Anak 2 Anak Cerai Hidup Menikah SMP/ Sederajat SMA/SMK/Sederajat Diploma Tidak Bekerja Wiraswasta Pegawai Swasta Pegawai Negeri Lainnya <3 juta 3 juta < 5 juta 5 juta < 7 juta >7 juta 1 Anak 2 Anak 3 Anak >3 anak Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Hal 132-150 Mean Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 Hasil uji beda berdasarkan karakteristik demografi yang tersaji pada tabel diatas menunjukkan bahwa hanya beberapa variabel yang terdapat perbedaan yang signifikan . <0. Uji statistik memperlihatkan bahwa status tempat tinggal ibu memiliki perbedaan yang signifikan terhadap tingkat resiliensi . = 0. Ibu yang tinggal bersama keluarga inti memiliki mean sebesar 63. sedangkan ibu yang tinggal dengan keluarga besar memiliki mean sebesar 59. 15, yang menunjukkan bahwa tinggal bersama keluarga inti berkaitan dengan tingkat resiliensi yang lebih Selain itu, jumlah anak autoimun juga menunjukkan perbedaan yang signifikan . = 0. Ibu yang memiliki satu anak autoimun menunjukkan mean 62. 00, sementara ibu yang memiliki dua anak autoimun memiliki mean resiliensi 79. Demografi pendidikan ibu turut menunjukkan perbedaan yang signifikan . = 0. , dengan variasi mean yang cukup mencolok antara kategori Ibu dengan tingkat pendidikan SMP memiliki mean tertinggi yaitu 126. 75, sementara ibu dengan pendidikan SMA/SMK memiliki mean 59. 28, pendidikan Diploma 74. 66, pendidikan S1 66. 05, dan pendidikan S2 115. Perbedaan rentang mean ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memberi kontribusi terhadap variasi resiliensi yang dilaporkan. Sementara itu, beberapa variabel lain seperti usia, status pernikahan, pekerjaan ibu, penghasilan, serta jumlah anak tidak menunjukkan perbedaan nilai mean resiliensi yang signifikan . > 0. Hasil penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika resiliensi pada ibu yang merawat anak dengan penyakit autoimun dalam perspektif faktor demografis. Hasil kategorisasi (Tabel . menunjukkan bahwa tidak ada satupun ibu dalam kategori resiliensi rendah. Seluruh partisipan berada pada rentang sedang dan tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa ibu yang merawat anak dengan penyakit autoimu meskipun berada dalam kondisi stresor kronis memiliki kapasitas coping psikologis yang tetap bekerja, sejalan dengan penelitian terdahulu bahwa pada caregiver penyakit kronis paparan stres jangka panjang tidak selalu menurunkan resiliensi, tetapi dapat memproduksi adaptive recalibration (Koenig, 2012. Pargament, 2. Karena tidak ada kelompok dengan resiliensi rendah, maka ketika beberapa variabel demografis tidak signifikan secara statistik, bukan berarti variabel tersebut tidak relevan, tetapi bisa karena profil sampel yang sudah berada pada baseline adaptasi tertentu sehingga efek variabel demografis bersifat buffered atau dimediasi faktor lain. Temuan menunjukkan bahwa ketiga variabel demografis yang dianalisis yaitu usia ibu, status tempat tinggal, dan jumlah anak dengan autoimun seluruhnya memiliki pengaruh yang signifikan dengan tingkat resiliensi. Artinya, ketahanan psikologis ibu dalam menghadapi tuntutan pengasuhan anak dengan autoimun tidak hanya dipengaruhi oleh faktor intrapsikis, tetapi berakar kuat pada kondisi struktural dan konteks ekologis di mana ibu hidup dan menjalankan perannya. Temuan ini memberikan dukungan empiris bahwa resiliensi caregiver merupakan produk interaksi antara karakteristik individu . , struktur keluarga . onfigurasi tempat tingga. , dan konteks beban pengasuhan . umlah anak yang saki. , bukan konstruk intrapsikis yang berdiri sendiri. Distribusi frekuensi memperlihatkan bahwa kelompok usia 29Ae39 tahun, yang dapat dikategorikan dalam fase dewasa madya, memiliki proporsi resiliensi tinggi yang lebih besar dibandingkan kelompok usia yang lebih muda . Ae24, 24Ae. Temuan ini sejalan dengan kajian perkembangan yang menekankan bahwa kematangan psikologis dan pengalaman hidup yang lebih Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 luas pada usia menengah meningkatkan kemampuan regulasi emosi, kemampuan penilaian ulang kognitif, dan penggunaan coping strategy yang lebih adaptif (Lee et al. , 2013. Luthar et al. , 2. Dalam konteks caregiving dengan anak autoimun, individu pada fase dewasa madya umumnya sudah menginternalisasi peran parental dan pengelolaan tanggung jawab keluarga sehingga dapat merespon stresor dengan strategi problem-focused coping maupun emotion-focused coping yang lebih efektif (Reivich & Shatte, 2. Temuan menunjukkan pegaruh signifikan antara status tempat tinggal dan resiliensi dengan proporsi resiliensi tinggi yang lebih besar pada ibu yang tinggal bersama keluarga inti dibandingkan keluarga besar. Berdasarkan kerangka ekologi dan teori sistem keluarga menekankan bahwa kualitas interaksi dalam mikrosistemlah yang menentukan efektivitas dukungan (Bronfenbrenner, 1979. Minuchin, 1. Dalam keluarga inti, peran dan batasan lebih jelas, serta keputusan pengasuhan cenderung lebih terkoordinasi antar orangtua sehingga mengurangi ambiguitas peran dan konflik intrafamilial yang sering menjadi sumber stres kronis. Sebaliknya, keluarga besar dapat menghadirkan dinamika sosial yang kompleks masuknya banyak aktor decision-making, perbedaan nilai, dan tekanan normative yang justru meningkatkan beban psikologis bagi ibu pengasuh (Simpson & Jones, 2. Selain itu. House . menegaskan bahwa dukungan sosial memiliki dimensi yaitu instrumental, emosional, penghargaan, dan informasi yang efektivitasnya bergantung pada kesesuaian jenis dukungan dengan kebutuhan Kehadiran keluarga besar tidak otomatis memastikan dukungan instrumental atau emosional yang tepat bisa jadi intervensi yang tidak selaras sehingga menurunkan perasaan otonomi ibu dan memicu ketegangan. Oleh karena itu, hasil pada (Tabel . dapat dibaca sebagai bukti bahwa struktur keluarga yang lebih sederhana . dapat memfasilitasi lingkungan perawatan yang lebih kondusif bagi pengembangan coping strategy adaptif dan, pada akhirnya, resiliensi yang lebih tinggi. Mayoritas responden memiliki satu anak dengan autoimun, analisis menunjukkan bahwa jumlah anak autoimun berkorelasi signifikan dengan tingkat resiliensi (Tabel . Kemudian pada ibu dengan dua anak autoimun, yang menunjukkan resiliensi tinggi menggambarkan kemungkinan mekanisme stress-induced adaptation yaitu paparan berulang terhadap tuntutan caregiving dapat memacu pengembangan sumber daya adaptif baik intrapersonal seperti kemampuan problem solving maupun eksternal seperti akses jaringan dukungan sehingga resiliensi tumbuh dari pengalaman adaptif yang berulang (Lee et al. , 2. Berdasarkan teori sistem keluarga, penyakit kronis pada anggota keluarga memicu reorganisasi peran dan tanggung jawab (Minuchin, 1. Ketika anak adalah pihak yang sakit, ibu sering mengambil peran sentral sehingga tuntutan emosional dan instrumental meningkat, yang kemudian merangsang pembentukan strategi adaptif yang memperkuat resiliensi. Dengan demikian, meski angka kasus lebih dari satu anak autoimun jarang, signifikansi yang ditemukan dapat merefleksikan proses adaptasi keluarga yang intens ketika beban caregiving meningkat. Hasil uji beda pada Tabel . menunjukkan bahwa dari sejumlah karakteristik demografi yang diuji, hanya beberapa variabel yang berhubungan signifikan yaitu status tempat tinggal, jumlah anak autoimun, dan pendidikan ibu. Pertama, status tempat tinggal ibu menunjukkan perbedaan Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 yang signifikan. Berdasarkan teori sistem keluarga (Bronfenbrenner, 1. struktur keluarga inti biasanya menawarkan interaksi emosional yang lebih terfokus, stabilitas relasional, serta mekanisme koordinasi dan kontrol stres yang lebih sederhana dibandingkan dengan keluarga besar yang mungkin menghadapi lebih banyak dinamika interpersonal dan konflik peran . isalnya, persaingan peran, pembagian tanggung jawab yang lebih komplek. Studi oleh Gutierrez-Baena. Gilart, dan Romero-Grimaldi . menemukan bahwa faktor seperti hubungan keluarga . amily cohesio. dan kesiapan perawatan sangat memprediksi resiliensi pada pengasuh dewasa. Selain itu, penelitian pada perawat dan caregiver stroke menunjukkan bahwa family resilience dipengaruhi oleh pendidikan pengasuh dan kesehatan mereka berperan sebagai mediator dalam mengurangi beban pengasuhan. Dengan demikian, tinggal dalam keluarga inti mungkin memberikan ruang protektif bagi ibu untuk mengembangkan dan mempertahankan resiliensi Kedua, jumlah anak dengan kondisi autoimun juga menghasilkan perbedaan resiliensi yang Secara intuitif, beban ganda . ua anak dengan penyakit kroni. bisa diperkirakan menurunkan resiliensi, tetapi hasil ini justru menunjukkan kemungkinan adanya resiliensi adaptif yang kuat. Ketika stresor semakin besar dan berulang, beberapa individu mengembangkan coping strategy yang lebih efektif atau sumber daya internal yang lebih kuat, seperti optimisme, self-efficacy, atau keterampilan manajemen stres. Hal ini sesuai dengan pendekatan bahwa resiliensi bukanlah sifat statis tetapi proses dinamis (Lazarus & Folkman, 1. Ketiga, pendidikan ibu. Variasi mean ibu dengan pendidikan SMP/sederajat sangat tinggi . ean = 126,. , diikuti ibu dengan pendidikan S2 . , lalu diploma . S1 . , dan SMA/SMK . Bukan hanya pendidikan tinggi saja yang lebih tinggi untuk resiliensi, melainkan pendidikan rendah (SMP) juga menunjukkan mean tinggi. Ibu dengan pendidikan sangat rendah bisa saja mengembangkan strategi resiliensi yang sangat kuat karena menghadapi tantangan hidup yang lebih berat sejak awal, membentuk kapasitas coping yang tinggi sebagai respons adaptif. Di sisi lain, ibu dengan pendidikan sangat tinggi (S. mungkin memiliki akses literasi, kontrol kognitif, dan sumber daya sosial ekonomi yang juga mendukung resiliensi. Studi terkini mendukung pentingnya self-efficacy, kohesi keluarga, dan dukungan sosial sebagai prediktor resiliensi, lebih dari sekadar status pendidikan formal (Broll, et al. , 2. Sementara itu, variabel lain seperti usia ibu . = . , status pernikahan . = . , pekerjaan ibu . = . , penghasilan . = . , dan jumlah anak total . = . tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam uji beda. Ini bisa diinterpretasikan bahwa faktor-faktor demografi tersebut mungkin tidak secara langsung memengaruhi resiliensi psikologis dengan cara yang dapat ditangkap melalui uji beda atau bahwa efek dari faktor-faktor ini lebih kompleks, bisa dimediasi atau dimoderasi oleh variabel lain . isalnya dukungan sosial, self-efficacy, kesiapan Sebagai contoh, penelitian di Thailand menemukan bahwa prediktor resiliensi termasuk self-esteem, dukungan keluarga, dan fungsi keluarga lebih dominan daripada faktor demografi sederhana seperti usia atau pekerjaan (Kummabutr, et al. , 2. Secara statistik status pernikahan tidak menunjukkan asosiasi. Literatur menunjukkan bahwa kehadiran pasangan tidak otomatis menghasilkan dukungan berkualitas yang memperkuat Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 resiliensi melainkan yang menjadi aspek penting adalah kualitas dukungan pasangan seperti shared parenting atau dukungan emosional bukan sekadar status pernikahan (Lindstrym et al. Lou et al. , 2. Dalam banyak kasus, pasangan yang secara formal hadir namun tidak terlibat secara emosional/instrumental tidak memberikan proteksi yang diharapkan. Oleh karena itu, tidak adanya asosiasi pada level status pernikahan disebabkan kualitas dukungan pasangan dalam pernikahan sangat beragam dan hal ini tidak bisa terlihat hanya dari kategori AumenikahAy atau Aucerai hidupAy. Pendidikan dan pekerjaan tidak menunjukkan asosiasi signifikan . = . 233 dan p = . begitu pula penghasilan . = . Meskipun secara teoretis pendidikan dan pendapatan berkaitan dengan literasi kesehatan dan akses sumber daya yang semestinya memfasilitasi coping dan pengelolaan layanan kesehatan, literatur juga menunjukkan bahwa faktor-faktor ini tidak selalu berkorelasi langsung dengan resiliensi psikologis (Connor & Davidson, 2. Bahkan, individu dengan pendapatan rendah namun memiliki dukungan sosial kuat dan religiusitas tinggi dapat menunjukkan resiliensi yang setara atau lebih baik dibanding kelompok berpenghasilan tinggi tanpa dukungan sosial (Koenig, 2012. Pargament, 1. Resiliensi pada ibu yang merawat anak dengan penyakit autoimun merupakan konstruksi psikologis yang kompleks, dibentuk oleh interaksi antara faktor individu, struktur keluarga, dan konteks sosial ekologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa usia, status tempat tinggal, jumlah anak dengan autoimun, dan pendidikan ibu memegang peran penting dalam membentuk kapasitas adaptif ini. Dari perspektif perkembangan, individu pada fase dewasa madya cenderung memiliki pengalaman hidup yang lebih luas dan kematangan psikologis yang lebih tinggi, yang memungkinkan penggunaan strategi regulasi emosi dan coping adaptif yang lebih efektif (Lee et , 2013. Luthar et al. , 2. Pengalaman pengasuhan yang berulang pada kelompok ini meningkatkan kemampuan penilaian kognitif ulang dan strategi problem-focused maupun emotion-focused coping, yang berkontribusi pada penguatan resiliensi dalam menghadapi tuntutan pengasuhan anak dengan penyakit kronis (Reivich & Shatty, 2002. Lou et al. , 2. Struktur keluarga terbukti menjadi faktor protektif yang signifikan. Kehidupan dalam keluarga inti cenderung memberikan kejelasan peran dan koordinasi pengasuhan yang lebih baik, sehingga menurunkan ambiguitas peran dan potensi konflik intrafamilial, sesuai dengan kerangka ekologi Bronfenbrenner . dan teori sistem keluarga Minuchin . Sementara kehadiran keluarga besar tidak selalu menjamin dukungan efektif, karena kompleksitas dinamika sosial, perbedaan nilai, dan tekanan normatif dapat memicu stres tambahan bagi ibu pengasuh (Simpson & Jones, 2. Selain itu, efektivitas dukungan sosial sangat bergantung pada kesesuaian jenis dukungan dengan kebutuhan penerima, baik dukungan instrumental maupun emosional (House. Broll et al. , 2. Oleh karena itu, lingkungan keluarga inti dapat menciptakan kondisi mikrosistem yang lebih kondusif untuk pengembangan coping adaptif dan resiliensi psikologis. Jumlah anak dengan penyakit autoimun juga memicu adaptasi psikologis yang unik. Paparan stresor yang berulang dapat menumbuhkan mekanisme stress-induced adaptation, di mana ibu mengembangkan sumber daya intrapersonal seperti problem-solving, optimisme, dan self-efficacy, serta memanfaatkan sumber daya eksternal melalui jaringan dukungan (Lee et al. , 2013. Miller. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 Dalam kerangka sistem keluarga, penyakit kronis pada anggota keluarga menuntut reorganisasi peran dan tanggung jawab, yang pada gilirannya mendorong pembentukan strategi adaptif yang memperkuat resiliensi ibu (Minuchin, 1985. Widyawati et al. , 2. Pendidikan ibu juga terbukti berperan dalam membentuk kapasitas resiliensi. Baik ibu dengan pendidikan rendah maupun tinggi dapat menunjukkan resiliensi tinggi melalui jalur yang berbeda. pendidikan tinggi mungkin memfasilitasi literasi, kontrol kognitif, dan akses sumber daya sosialekonomi, sementara pendidikan rendah dapat memicu strategi coping adaptif sejak dini sebagai respons terhadap tantangan hidup yang berat (Broll et al. , 2025. Kummabutr et al. , 2. Hal ini menegaskan bahwa resiliensi bukan sekadar hasil pendidikan formal, tetapi lebih dipengaruhi oleh pengalaman hidup, self-efficacy, dan dukungan sosial yang dimiliki. Sementara itu, variabel demografis lain seperti status pernikahan, pekerjaan, penghasilan, dan jumlah anak total tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan. Literatur mengindikasikan bahwa kualitas dukungan sosial, khususnya dukungan pasangan dan keluarga, lebih determinan dibandingkan status pernikahan formal atau pekerjaan semata (Lindstrym et al. , 2017. Lou et al. , 2. Demikian pula, penghasilan tidak selalu berkorelasi langsung dengan resiliensi, karena individu dengan dukungan sosial kuat dan motivasi internal tinggi dapat menunjukkan resiliensi yang setara atau bahkan lebih baik dibanding individu berpenghasilan tinggi tanpa dukungan sosial (Koenig, 2012. Pargament. Secara konseptual, temuan ini menegaskan bahwa resiliensi caregiver adalah proses adaptif dinamis yang terbentuk dari interaksi antara karakteristik individu, konteks keluarga, dan tuntutan Faktor struktural dan ekologis seperti konfigurasi keluarga, pengalaman hidup, dan beban caregiving dapat memperkuat atau memfasilitasi pengembangan sumber daya adaptif psikologis, sementara variabel demografi sederhana tidak selalu menjadi prediktor langsung. Temuan ini memberikan implikasi bahwa intervensi untuk meningkatkan resiliensi perlu memfokuskan pada pemberdayaan strategi coping adaptif, peningkatan kualitas dukungan sosial, dan penciptaan lingkungan keluarga yang mendukung, bukan sekadar mengandalkan faktor demografis atau pendidikan formal. Temuan utama penelitian ini konsisten dengan banyak temuan terdahulu yang menempatkan resiliensi sebagai konstruk multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, keluarga, dan sosial. Seperti penelitian oleh Lou et al. menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki resiliensi tinggi mampu menunjukkan kompetensi merawat anak yang sakit kronis, termasuk perhatian terhadap aspek mental anak. Temuan bahwa usia madya berhubungan dengan resiliensi tinggi menguatkan hasil kajian yang menekankan peran kematangan psikologis sebagai faktor protektif (Luthar et al. , 2000. Reivich & Shatte, 2. Keterkaitan tempat tinggal keluarga inti dengan resiliensi mengonfirmasi pentingnya kualitas mikrosistem keluarga (Bronfenbrenner, 1. serta batasan struktur keluarga (Minuchin, 1. dalam menentukan adaptasi psikologis. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, pertama teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling pada komunitas tertentu menyebabkan partisipan yang terlibat cenderung memiliki karakteristik yang relatif seragam dalam hal kesadaran terhadap penyakit dan akses pada dukungan sosial berbasis komunitas. Hal ini berpotensi menghasilkan bias karena ibu Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 yang tidak terhubung dengan komunitas yang kemungkinan memiliki tingkat resiliensi lebih rendah tidak terwakili dalam data. Kedua, penggunaan kuesioner self report meningkatkan risiko bias sosial dan keinginan memberikan jawaban yang dianggap dapat diterima secara normatif, terutama pada topik sensitif seperti ketahanan psikologis. Ketiga, desain penelitian cross sectional membatasi kemampuan untuk mengamati dinamika resiliensi sebagai proses yang berkembang seiring waktu, sehingga hubungan yang ditemukan bersifat asosiatif, bukan kausal. Keempat, penelitian belum mempertimbangkan variabel mediator atau moderator kunci seperti religiusitas, dukungan pasangan, pola coping, atau beban medis objektif, padahal faktor-faktor ini secara teoritis berperan kuat dalam mempengaruhi resiliensi caregiver. Berdasarkan keterbatasan tersebut, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain longitudinal atau mixed-methods guna menangkap perubahan resiliensi dalam lintasan waktu serta menangkap aspek kualitatif pengalaman emosional ibu secara lebih mendalam. Penggunaan teknik probability sampling atau perluasan lokasi rekrutmen di luar komunitas formal dapat meningkatkan representativitas data. Selain itu, memasukkan variabel psikososial seperti dukungan keluarga, keterlibatan spiritual, stigma sosial, serta tingkat keparahan penyakit anak sebagai mediator atau moderator akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai mekanisme terbentuknya resiliensi. Intervensi berbasis temuan ini juga direkomendasikan untuk diarahkan bukan hanya pada ibu sebagai individu, melainkan pada sistem yang lebih luas yang selaras dengan pendekatan ekologi perkembangan, sehingga penguatan resiliensi tidak berhenti pada pelatihan individu, tetapi bergerak menuju perubahan lingkungan yang menopangnya. SIMPULAN Hasil menunjukkan bahwa tidak ada responden yang berada pada kategori resiliensi rendah, mayoritas berada pada kategori resiliensi sedang dan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa para ibu memiliki kapasitas adaptasi psikologis yang relatif terjaga meskipun menghadapi stres pengasuhan jangka panjang akibat kondisi kronis anak. Uji asosiasi menunjukkan bahwa variabel usia ibu, status tempat tinggal, dan jumlah anak yang menderita autoimun memiliki hubungan signifikan dengan tingkat resiliensi. Sementara itu, karakteristik lain seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status pernikahan, jumlah anak secara keseluruhan, serta keterlibatan dalam komunitas dan kegiatan sosial tidak menunjukkan adanya asosiasi. Dengan demikian, ketahanan psikologis ibu tampak lebih dipengaruhi oleh faktor usia dan konfigurasi struktur keluarga daripada faktor sosioekonomi atau partisipasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada responden yang berada pada kategori resiliensi rendah, dengan mayoritas ibu berada pada kategori resiliensi sedang dan tinggi, menunjukkan kapasitas adaptasi psikologis yang relatif terjaga meskipun menghadapi stresor kronis sebagai pengasuh anak dengan penyakit autoimun. Temuan juga menegaskan bahwa faktor demografis tertentu seperti status tempat tinggal, jumlah anak dengan autoimun, dan pendidikan ibu memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat resiliensi, menekankan pentingnya konteks keluarga dan pengalaman pengasuhan dalam pembentukan ketahanan psikologis. Hasil ini mendorong perlunya Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 program intervensi dan dukungan yang mempertimbangkan struktur keluarga, kapasitas coping, dan pengalaman adaptif ibu, misalnya melalui konseling keluarga, pelatihan strategi coping adaptif, dan pembangunan jejaring dukungan sosial yang sesuai. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi peran mediator dan moderator, seperti dukungan sosial, self-efficacy, atau religiusitas, serta membandingkan resiliensi antara pengasuh dengan anak autoimun versus anak dengan kondisi kronis lain, untuk memperkuat pemahaman mekanisme adaptasi psikologis caregiver secara lebih komprehensif. Rosita Yuniati1*. Setiasih2. Andrian Pramadi3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 2 Desember 2025 Hal 132-150 DAFTAR PUSTAKA