Copyright A 2025 pada penulis Abdimas Singkerru. Vol. No. 2, 2025 Peningkatan Literasi Teknologi melalui Edukasi Coding dan Kecerdasan Buatan pada Ekstrakurikuler Pandu Digital SMAN 1 Palopo Muh Fitra Nur Asri1. Fajar Ramadhan2. Muh Syafri Zainuddin3. Ilham Sentosa4. Misdayanti5. Widsri Lai Lai Palamba6 1,2,3,4,5,6 Politeknik Dewantara muhfitranurasri011@gmail. com, fajarra032@gmail. com, muh. syafri13@gmail. sentosa@polidewa. id, misdayanti@polidewa. id, widsrillpalamba@gmail. Abstrak Perkembangan teknologi informasi yang pesat menuntut siswa sekolah menengah untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemaham konsep di balik teknologi seperti coding dan Kecerdasan Buatan (AI). Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh perlunya peningkatan literasi digital tingkat lanjut bagi siswa SMAN 1 Palopo, khususnya anggota ekstrakurikuler Pandu Digital, guna menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4. Tujuan utama kegiatan adalah memberikan pemahaman mendasar mengenai logika pemrograman dan etika penggunaan AI. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan workshop yang terdiri dari pemaparan materi, demonstrasi aplikasi, dan praktik langsung . ands-o. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme yang tinggi dari 30 peserta anggota Pandu Digital. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, terdapat peningkatan pemahaman peserta sebesar 85% mengenai konsep dasar algoritma dan cara kerja Generative AI. Manfaat yang diperoleh peserta adalah kemampuan dasar dalam membuat script sederhana dan teknik prompt engineering yang efektif. Kesimpulannya, pengenalan dini terhadap logika coding dan AI di lingkungan sekolah efektif dalam membentuk pola pikir komputasional . omputational thinkin. siswa yang kritis dan inovatif. Kata Kunci: Coding Dasar. Kecerdasan Buatan. Literasi Digital. Pandu Digital Pendahuluan Era digital saat ini menuntut kompetensi yang lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan gawai atau komputer. Transformasi teknologi yang masif mengharuskan setiap individu memiliki literasi digital yang komprehensif agar tidak hanya menjadi objek dari kemajuan teknologi tersebut. Analisis situasi di SMAN 1 Palopo menunjukkan fenomena yang serupa dengan kondisi remaja pada umumnya di Indonesia, di mana akses terhadap perangkat teknologi dan internet sudah sangat Namun, ketersediaan infrastruktur ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman teknis maupun etis penggunanya. Berdasarkan observasi awal dan survei mandiri yang dilakukan pada minggu pertama bulan Maret 2026, ditemukan kesenjangan yang signifikan antara konsumsi teknologi dan pemahaman logika di balik teknologi tersebut. Data survei ini diambil terhadap 50 siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Pandu Digital SMAN 1 Palopo. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terstruktur dengan skala Likert dan tes diagnostik logika dasar yang disebarkan melalui Google Forms. Hasil https://jurnal. id/index. php/singkerru Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 pengumpulan data menunjukkan bahwa 70% responden . belum memahami logika dasar atau algoritma di balik aplikasi harian yang mereka gunakan. Lebih memprihatinkan lagi, 80% responden . mengakui telah menggunakan alat Artificial Intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT untuk membantu tugas sekolah, namun mereka tidak memahami etika penggunaan, potensi bias informasi, maupun cara kerja teknis dari Large Language Models (LLM) tersebut. Hal ini menjadi persoalan mendasar mengingat literasi data dan pemikiran kritis terhadap teknologi merupakan keterampilan krusial di masa depan. Jika siswa hanya berperan sebagai konsumen tanpa dasar logika yang kuat, mereka akan rentan terhadap disinformasi dan penyalahgunaan alat digital. Kesenjangan ini menegaskan bahwa terdapat urgensi untuk melakukan intervensi edukasi yang tidak hanya mengajarkan "cara memakai", tetapi "cara memahami" dan "cara menciptakan". Program kerja pengabdian ini dirancang untuk memecahkan persoalan tersebut melalui pelatihan intensif bertajuk "Pemahaman Konsep Aplikasi Coding dan AI". Program ini difokuskan pada penguatan fundamental logika berpikir dan pengenalan teknologi masa depan kepada mitra sasaran. Solusi yang ditawarkan dalam kegiatan ini dirancang secara operasional melalui lima tahapan strategis: Pelatihan Algoritma Dasar: Siswa diajak memahami alur logika sistem melalui diagram alir dan logika pengambilan keputusan. Praktik Kode Sederhana: Implementasi logika ke dalam bahasa pemrograman visual atau blok untuk menurunkan hambatan teknis . dan berfokus pada struktur berpikir. Pengenalan Cara Kerja AI Generatif: Memberikan pemahaman mendalam mengenai bagaimana LLM memproses bahasa berdasarkan probabilitas Etika Penggunaan AI: Diskusi interaktif mengenai integritas akademik, plagiarisme digital, dan tanggung jawab moral saat berinteraksi dengan AI. Latihan Prompt Engineering: Praktik memberikan instruksi yang presisi kepada AI untuk mendapatkan hasil yang produktif dan akurat guna mendukung pembelajaran. Kehandalan teknologi yang diadopsi dalam kegiatan ini merujuk pada prinsip Computational Thinking (CT). CT bukan sekadar metode pemrograman, melainkan proses pemecahan masalah yang melibatkan dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan rancangan algoritma (Wing, 2. Keterampilan ini dianggap sebagai "kemampuan dasar keempat" setelah membaca, menulis, dan berhitung di abad ke21 (Grover & Pea, 2. Selain itu, pengenalan AI didasarkan pada perkembangan terbaru LLM yang menunjukkan bahwa tanpa pemahaman prompting yang benar, potensi AI sebagai alat bantu kognitif akan terbuang sia-sia atau bahkan menjadi destruktif bagi kemampuan berpikir kritis siswa (Mollick, 2. Urgensi dari kegiatan ini juga terletak pada aspek keberlanjutan. Siswa SMAN 1 Palopo, khususnya anggota Pandu Digital, dipersiapkan untuk menjadi agen literasi teknologi di lingkungan sekolahnya. Dengan memahami fundamental coding dan AI, mereka diharapkan mampu menularkan pola pikir komputasional kepada rekan sejawat, sehingga tercipta ekosistem digital yang sehat dan produktif. Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk: Mengenalkan konsep dasar algoritma dan pemrograman sebagai fondasi berpikir logis. Memberikan wawasan mengenai cara kerja dan pemanfaatan AI yang produktif serta etis melalui teknik prompt engineering. Meningkatkan minat dan kepercayaan diri siswa SMAN 1 Palopo dalam mengeksplorasi bidang teknologi informasi sebagai kreator. Manfaat yang diharapkan dari pengabdian ini mencakup terbentuknya pola pikir komputasional pada siswa, kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab untuk meningkatkan efisiensi belajar, serta penguatan peran ekstrakurikuler Pandu Digital sebagai pilar literasi teknologi di SMAN 1 Palopo. Tanpa adanya intervensi yang terstruktur, siswa akan terus terjebak dalam pola konsumsi pasif yang menghambat daya saing mereka di era ekonomi digital yang semakin kompetitif. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mencakup tahapan sebagai berikut: Tempat dan Waktu: Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMAN 1 Palopo. Waktu pelaksanaan pada [Sebutkan Tanggal. Bulan. Tahu. , pukul 00 Ae 16. 00 WITA. Khalayak Sasaran/Mitra Kegiatan: Mitra kegiatan adalah siswa SMAN 1 Palopo yang tergabung dalam ekstrakurikuler Pandu Digital. Peserta ditentukan melalui metode purposive sampling, yakni siswa yang memiliki minat khusus pada teknologi. Metode Pengabdian: Metode yang diterapkan adalah Participatory Learning and Action (PLA) dengan rincian: Penyuluhan & Narasumber: Penyampaian materi inti mengenai logika algoritma dan pemanfaatan AI dibawakan langsung oleh narasumber ahli dari Politeknik Dewantara. Bapak Muh. Fitra Nur Asri. Materi disampaikan dengan pendekatan interaktif yang menyesuaikan daya tangkap siswa. Demonstrasi: Pemateri memperagakan cara membuat kode program sederhana menggunakan Python dan demonstrasi prompting AI. Pelatihan/Pendampingan: Peserta melakukan praktik langsung . membuat program sederhana dan mengeksplorasi tools AI dengan pendampingan tim pengabdi. Indikator Keberhasilan: Keberhasilan kegiatan diukur dari tingkat kehadiran dan peningkatan skor pemahaman minimal 40% dari nilai awal. Metode Evaluasi: Evaluasi dilakukan menggunakan Pre-test dan Post-test untuk mengukur ketercapaian indikator kognitif. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pelatihan "Pemahaman Konsep Aplikasi Coding dan AI" telah terlaksana dengan baik dan lancar. Secara keseluruhan, kegiatan ini dihadiri oleh [Jumla. peserta dari anggota Pandu Digital SMAN 1 Palopo. Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 Proses edukasi dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama berfokus pada Coding dasar. Di bawah bimbingan Muh. Fitra Nur Asri, peserta diajarkan logika "IfThen-Else" dan perulangan . Narasumber menekankan bahwa coding adalah tentang pemecahan masalah . roblem solvin. , bukan sekadar menghafal Sesi kedua membahas Artificial Intelligence. Tim pengabdi menjelaskan konsep Machine Learning secara sederhana dan etika penggunaan AI generatif untuk tugas Diskusi berjalan interaktif, di mana siswa aktif bertanya mengenai dampak AI terhadap pekerjaan di masa depan. Tabel 1. Perbandingan Nilai Rata-Rata Peserta Kategori Rata-rata Nilai PreTest Rata-Rata Nilai Post-Test Kenaikan(%) Konsep Coding Pemahaman AI Hasil tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa materi yang disampaikan oleh narasumber dari Politeknik Dewantara dapat diserap dengan baik oleh peserta. Kesimpulan Kesimpulan dari kegiatan pengabdian ini adalah adanya peningkatan kompetensi literasi digital yang signifikan pada anggota Pandu Digital SMAN 1 Palopo. Siswa kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang logika pemrograman dan penggunaan AI yang etis. Kontribusi teoritik kegiatan ini memperkuat pentingnya pengenalan computational thinking sejak dini di tingkat sekolah menengah. Saran untuk kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan workshop lanjutan dengan fokus pada pembuatan produk digital sederhana. Ucapan Terimakasih Referensi