Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 5 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya WISATA GOA PINDUL SEBAGAI DAYA TARIK MINAT WISATAWAN: STUDI TENTANG KARAKTERISTIK. DAN MOTIVASI NaAoumi Berliana1. Robertus Saptoto2. Thasia Merita3 Usaha Perjalanan Wisata . Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta. Jl. Laksda Adisucipto No. Nologaten. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 e-mail: saptotosekolah@gmail. com, berliana@gmail. Abstrak Goa Pindul di Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta, merupakan salah satu destinasi unggulan dalam geowisata yang menggabungkan unsur petualangan dan edukasi di lingkungan karst. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik demografis serta motivasi kunjungan wisatawan, sekaligus mengidentifikasi segmentasi perilaku mereka berdasarkan orientasi perjalanan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam studi ini, dengan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi lapangan. Temuan menunjukkan bahwa motivasi wisatawan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: kebutuhan relaksasi dari rutinitas, pencarian pengalaman dan pengetahuan baru, dorongan akan sensasi dan petualangan, serta motivasi sosial untuk mempererat kebersamaan. Setiap kategori mencerminkan pola perilaku dan kesadaran lingkungan yang bervariasi. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar pengelolaan wisata Goa Pindul menerapkan strategi berbasis segmentasi yang adaptif, guna meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung sekaligus memperkuat prinsip keberlanjutan dalam pengembangan pariwisata alam. Kata Kunci: geowisata, perilaku wisatawan, segmentasi, motivasi kunjungan, keberlanjutan pariwisata Abstract Goa Pindul, located in Gunungkidul Regency. Yogyakarta, has emerged as a notable geotourism destination that integrates adventure-based and educational experiences within a karst landscape. This study aims to examine the demographic characteristics and motivational drivers of visitors, while also identifying behaviorbased segmentation patterns. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through indepth interviews by 10 informans, participant observation, and supplementary documentation. The findings reveal four dominant motivational dimensions: the desire to escape routine, the pursuit of knowledge and novel experiences, the attraction to adventure and thrill, and the intention to strengthen social bonds. Each segment exhibits distinct behavioral orientations and varying levels of environmental awareness. The study highlights the importance of adaptive, segment-specific management strategies to optimize visitor experiences and support sustainable destination development. These insights are expected to contribute to more targeted policy interventions and strategic planning for geotourism in karst regions. Keywords: geotourism, tourist behavior, segmentation, travel motivation, tourism sustainability PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata alam berkembang seiring dengan meningkatnya ketertarikan wisatawan terhadap pengalaman yang berhubungan dengan alam, petualangan, dan pembelajaran lingkungan. Salah satu jenis wisata alam yang semakin populer adalah wisata gua, yang termasuk dalam kategori geowisata (Wall, 2. Wisata gua tidak hanya menawarkan keindahan formasi geologis dan nilai estetik, tetapi juga memiliki nilai edukasi, rekreasi, dan kearifan budaya lokal yang kaya (Newsome. , & Dowling, 2005. Pforr & Megerle, 2. Di Indonesia, khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta, salah satu destinasi wisata gua yang paling terkenal adalah Goa Pindul. Kondisi ini menggambarkan bahwa keberhasilan suatu destinasi wisata dalam menarik kunjungan tidak hanya ditentukan oleh keunikan aktivitas utama seperti cave tubing yang menjadi daya tarik khas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung lainnya yang secara tidak langsung membentuk pengalaman wisata secara keseluruhan. Oleh karena itu, elemen-elemen seperti lokasi yang strategis, kemudahan akses menuju destinasi, kualitas interaksi antara wisatawan dan pemandu lokal, serta ketersediaan fasilitas yang memadai. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 5 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya menjadi aspek integral yang turut menentukan keputusan wisatawan untuk memilih dan merekomendasikan destinasi tersebut (Ruiz-Ballesteros & Ramyrez, 2. Ciri khas Gua Pindul meliputi kehadiran speleothem seperti stalaktit berukuran besar, formasi pilar kapur, serta struktur menyerupai tirai dan jamur. Speleothem tersebut terbentuk melalui akumulasi mineral karbonat hasil proses perkolasi air selama ribuan hingga jutaan tahun. Selain potensi geologinya, kawasan sekitar gua juga menyimpan nilai budaya lokal, seperti rumah tradisional berbahan kayu dan aktivitas kerajinan masyarakat yang masih lestari hingga saat ini. Melalui kombinasi nilai geologi dan budaya tersebut, kawasan Gua Pindul telah dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis konservasi dan edukasi. Pemerintah daerah menetapkan kawasan ini sebagai bagian dari taman wisata kabupaten, sekaligus mendukung pengembangan geowisata berkelanjutan di kawasan karst Gunung Sewu. Gua Pindul merupakan salah satu gua yang cukup representatif dalam menampilkan bentuk bentang alam karst bawah tanah. Gua ini memiliki panjang sekitar 350 meter dan lebar sekitar 5 meter, dengan tinggi mencapai 7 meter pada beberapa bagian. Suhu di dalam gua cenderung stabil, berkisar antara 22 hingga 25AC sepanjang tahun. Gua ini dialiri oleh sungai bawah tanah, yang dimanfaatkan sebagai jalur wisata cave tubing, menjadikannya sebagai salah satu destinasi geowisata populer di Indonesia. Namun, penelitian yang mengkaji karakteristik demografis wisatawan, motivasi berkunjung, serta dampaknya terhadap perilaku dan kepuasan pengunjung masih terbatas (Kim et al. , 2. , terutama dalam konteks wisata gua seperti Goa Pindul. Padahal, pemahaman mendalam tentang profil dan motivasi wisatawan sangat penting untuk pengelolaan destinasi wisata alam yang berkelanjutan, baik dari segi pelestarian lingkungan maupun peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: Menganalisis motivasi utama wisatawan dalam mengunjungi Goa Pindul Meneliti kecenderungan perilaku wisatawan berdasarkan motivasi mereka, sebagai dasar untuk segmentasi pasar yang lebih tepat. Dengan memahami karakteristik dan motivasi wisatawan Goa Pindul, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengelola destinasi dan pemerintah daerah dalam merancang strategi promosi, pengembangan atraksi, serta upaya pelestarian lingkungan yang terintegrasi dan METODE Lokasi Penelitian Gua Pindul terletak di Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia, dan merupakan bagian dari kawasan karst Gunung Sewu yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Kawasan ini dikenal memiliki sistem karst yang luas dan kompleks, terbentuk dari batuan kapur berumur Miosen yang berasal dari sekitar 15Ae20 juta tahun yang lalu. Proses pelarutan batu kapur oleh air hujan selama jutaan tahun telah membentuk berbagai morfologi khas karst, seperti gua-gua bawah tanah, sungai subterranean, dolina, serta stalaktit dan stalagmit. Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif (Sugiyono, 2. yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap karakteristik wisatawan, motivasi dalam mengunjungi destinasi, serta perilaku yang ditunjukkan selama kegiatan wisata di Gua Pindul Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi secara holistik pandangan, pengalaman, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh wisatawan dalam konteks lingkungan alam dan sosial budaya setempat (Creswell, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama. Pertama, wawancara mendalam . n-depth intervie. dilakukan terhadap 10 wisatawan untuk menggali persepsi mengenai Gua Pindul, termasuk motivasi kunjungan, pengalaman yang diperoleh, serta harapan terhadap pengelolaan Kedua, dilakukan observasi partisipatif, di mana peneliti secara langsung mengamati perilaku wisatawan dalam berbagai tahapan kegiatan wisata, mulai dari saat briefing keselamatan, penggunaan perlengkapan, hingga saat menyusuri lorong gua. Observasi ini bertujuan untuk menangkap ekspresi dan pola interaksi antar wisatawan serta keterlibatan mereka dalam aktivitas wisata. Ketiga. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 5 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya mengumpulkan dokumentasi berupa foto, video, dan materi promosi yang tersedia di lokasi, serta informasi dari pemandu dan pengelola wisata sebagai bahan pendukung data utama. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan analisis tematik (Braun. , & Clarke, 2021. Thomas & Harden, 2. Proses ini diawali dengan mereduksi data dari hasil wawancara dan observasi, kemudian dilanjutkan dengan pemberian kode untuk mengelompokkan data berdasarkan kategori yang muncul, seperti motif pelarian dari rutinitas, keingintahuan terhadap pengalaman baru, keinginan untuk bersosialisasi, serta dorongan untuk memperoleh pengetahuan. Selanjutnya, kode-kode tersebut dikembangkan menjadi tema-tema utama yang diinterpretasikan untuk menggambarkan pola umum perilaku dan motivasi wisatawan Gua Pindul. Untuk menjamin keabsahan data, maka diterapkan strategi triangulasi sumber dan metode (Carter et al. , 2. yaitu dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi data juga dilakukan melalui proses konfirmasi kepada informan guna memastikan kebenaran interpretasi peneliti terhadap pernyataan yang diberikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengkaji secara mendalam karakteristik, dorongan, dan kecenderungan perilaku wisatawan yang mengunjungi Gua Pindul, salah satu destinasi unggulan geowisata di Gunungkidul. Yogyakarta. Melalui pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dengan pengunjung, pengamatan langsung selama kegiatan cave tubing, serta dokumentasi pendukung di lapangan. Gambar 1. Motivasi Wisatawan di Gua Pindul Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi wisatawan dalam melakukan kunjungan ke Gua Pindul dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama, yaitu: keinginan untuk melepaskan diri dari rutinitas, hasrat memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru, dorongan untuk bersosialisasi, serta pencarian pengalaman unik atau tidak biasa. Setiap kategori tersebut mencerminkan orientasi dan preferensi wisata yang berbeda, dipengaruhi oleh latar belakang sosial, usia, serta tujuan kunjungan. Kelompok pertama adalah wisatawan yang mengunjungi Gua Pindul untuk beristirahat dari kesibukan harian. Mayoritas dari mereka adalah individu berusia matang yang datang bersama keluarga. Mereka menganggap aktivitas menyusuri gua sebagai bentuk relaksasi dan rekreasi ringan. Keterlibatan mereka dalam aspek edukatif dan pelestarian gua terbilang minim, dengan fokus utama pada kenyamanan dan hiburan. Kelompok kedua terdiri atas wisatawan yang memiliki minat tinggi pada pembelajaran dan eksplorasi alam. Sebagian besar dari mereka adalah generasi muda, mahasiswa, atau profesional yang aktif mencari informasi sebelum melakukan perjalanan. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap pengetahuan geologi, proses terbentuknya gua, dan pentingnya konservasi. Kelompok ini cenderung mengapresiasi program interpretatif serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan edukatif. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 5 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya Kelompok ketiga adalah mereka yang tertarik pada sensasi dan hal-hal baru. Aktivitas seperti cave tubing dipandang sebagai pengalaman petualangan yang menyenangkan dan memacu adrenalin. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pengalaman, meskipun keterlibatan dalam isu pelestarian masih bergantung pada sejauh mana edukasi diberikan. Sementara itu, kelompok keempat mencerminkan wisatawan yang menjadikan kunjungan ke Gua Pindul sebagai momen kebersamaan sosial. Mereka biasanya datang secara berkelompok, baik dari komunitas, instansi, maupun organisasi. Aktivitas wisata digunakan untuk memperkuat relasi dan interaksi antar anggota kelompok. Fokus utama mereka adalah kebersamaan dan suasana menyenangkan, bukan pada nilai edukasi atau konservasi lingkungan. Secara umum, wisatawan merasa puas terhadap pengalaman berwisata di Gua Pindul, terutama terkait pelayanan, keindahan alam, dan fasilitas. Namun, keinginan untuk melakukan kunjungan ulang lebih besar ditunjukkan oleh kelompok yang memiliki motivasi edukatif dan eksploratif, sementara kelompok dengan tujuan hiburan semata cenderung tidak memiliki minat tinggi untuk kembali. Tingkat kesadaran terhadap pentingnya konservasi gua juga bervariasi antar kelompok. Wisatawan dengan orientasi pengetahuan menunjukkan pemahaman yang baik mengenai pentingnya pelestarian lingkungan, sedangkan kelompok lain masih melihat gua sebatas sebagai objek rekreasi semata. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pengelolaan wisata Gua Pindul dilakukan secara tersegmentasi, dengan merancang program dan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok pengunjung. Strategi berbasis pengalaman yang berorientasi pada nilai edukasi dan pelestarian diharapkan mampu membangun keterlibatan jangka panjang wisatawan terhadap pelestarian lingkungan serta keberlanjutan pariwisata alam. Gambar 2. Papan Edukasi Wisatawan di Gua Pindul Gambar 3. Aktivitas Wisatawan di Gua Pindul Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 5 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa wisatawan Gua Pindul memiliki beragam motivasi yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu: wisatawan yang mencari jeda dari rutinitas harian, wisatawan yang ingin memperoleh pengetahuan serta pengalaman baru, pengunjung yang tertarik pada hal-hal baru dan menantang, serta wisatawan yang lebih mengutamakan aspek kebersamaan sosial dalam kunjungan mereka. Masing-masing kelompok menunjukkan perbedaan dalam pola perilaku, minat terhadap konservasi, serta minat untuk berkunjung kembali. Wisatawan yang memiliki motivasi edukatif dan eksploratif umumnya lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan dan menunjukkan ketertarikan yang tinggi pada aspek interpretatif dari destinasi. Sebaliknya, kelompok yang berorientasi pada hiburan dan interaksi sosial cenderung menempatkan nilai edukatif sebagai hal sekunder. Perbedaan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang adaptif dalam pengelolaan destinasi, yang mampu menjawab kebutuhan dan harapan dari tiap segmen wisatawan secara tepat. DAFTAR PUSTAKA