Literasi Kesehatan Digital Remaja dalam Menghadapi Misinformasi Kesehatan di Media Sosial: Analisis Literatur Alpin Humawa1*. Sry Ade Muhtya Gobel2. Siti Maryam L. Ngabito3. Sri Wulan Baeda4 Program Vokasi Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2,3,4 Received : 12/02/2025 Revised : 18/03/2025 Accepted : 21/05/2025 Published : 31/05/2025 A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Abstract: Beragamnya arus informasi kesehatan di media sosial mendorong remaja berada pada posisi rentan terhadap misinformasi, terutama ketika kemampuan evaluasi sumber belum berkembang optimal. Kajian literatur ini menelaah temuan empiris terbaru mengenai kapasitas literasi kesehatan digital remaja dalam menghadapi informasi yang menyesatkan, dengan menyoroti kecenderungan bahwa akses informasi yang luas tidak diimbangi dengan keterampilan verifikasi. Analisis terhadap publikasi terkini menunjukkan bahwa TikTok dan Instagram menjadi ruang dominan penyebaran konten kesehatan yang tidak akurat, sementara kemampuan menilai kredibilitas, memahami konteks, serta mengenali manipulasi visual masih terbatas. Di sisi lain, intervensi yang melibatkan pendekatan partisipatif, seperti peer-led digital health education, terbukti meningkatkan ketahanan remaja dalam memilah informasi. Gambaran ini menegaskan pentingnya promosi kesehatan digital yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kapasitas kritis remaja agar mampu menavigasi ekosistem informasi yang semakin kompleks. Phone*: 6282217827443 Keywords: Literasi Kesehatan Digital. Remaja. Misinformasi. Media Sosial. Promosi Kesehatan Corresponding Author: Author Name*: Alpin Humawa Email*: alpinhunawa5@gmail. DOI: Pendahuluan Berdasarkan laporan We Are Social . Indonesia memiliki 139 juta pengguna media sosial atau setara 49,9% dari total populasi (Ajzen, 1. , dengan durasi rata-rata penggunaan media sosial mencapai 3 jam 11 menit per hari (Hagger & Hamilton, 2. untuk pengguna internet usia 16-64 tahun. Penetrasi media sosial yang tinggi ini menunjukkan bahwa platform digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk kelompok Survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika . menunjukkan indeks literasi digital Indonesia berada pada kategori sedang dengan skor 3,54 dari skala 1-5 (Vosoughi et al. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun akses dan penggunaan media sosial sudah sangat tinggi, kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi digital secara kritis dan bertanggung jawab masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam konteks konsumsi informasi kesehatan di kalangan remaja (Ngabito et al. , 2024. Gobel et al. , 2. Dalam konteks global, penelitian BMC ___________ How to Cite: Humawa. Gobel. Ngabito. , & Baeda. Literasi kesehatan digital remaja dalam menghadapi misinformasi kesehatan di media sosial: Analisis literatur. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Public Health (Purnamasari, 2. mencatat bahwa 67% remaja di negara berkembang memperoleh informasi kesehatan pertama kali dari media sosial, bukan dari tenaga kesehatan profesional. Fakta ini memperlihatkan transformasi besar dalam perilaku pencarian informasi kesehatan, sekaligus menandai munculnya tantangan serius berupa misinformasi kesehatan yang meluas di ruang digital. Urgensi penelitian mengenai literasi kesehatan digital pada remaja muncul seiring meningkatnya dampak negatif dari paparan misinformasi kesehatan di media sosial. Selama pandemi COVID-19, misinformasi mengenai vaksinasi, obat alternatif, dan gaya hidup AusehatAy tanpa dasar ilmiah menyebar luas di kalangan remaja, memengaruhi persepsi dan perilaku kesehatan mereka (Rudianto, 2022. Adil, 2. Di Indonesia, fenomena ini bahkan meluas hingga pascapandemi, dengan maraknya konten kesehatan berbasis opini tanpa referensi ilmiah di platform seperti TikTok dan Instagram. Hal ini menjadi ancaman bagi upaya promosi kesehatan yang berbasis bukti . vidence-based health promotio. , sebab remaja merupakan kelompok usia yang sedang membangun pola pikir kritis dan kebiasaan hidup jangka panjang. Oleh karena itu, pemahaman mengenai tingkat dan determinan literasi kesehatan digital di kalangan remaja menjadi aspek yang sangat mendesak untuk diteliti. Sejumlah penelitian terdahulu telah menyoroti pentingnya literasi digital sebagai komponen penentu dalam perilaku kesehatan masyarakat, namun fokusnya masih terbatas. Misalnya, penelitian oleh (Khairi et al. , 2025. Mancone, 2. menelaah literasi digital mahasiswa dalam konteks perilaku hidup bersih dan sehat, sementara Sukamto . mengkaji literasi digital tenaga kesehatan dalam mengenali hoaks medis. Sebaliknya, studi global oleh (Dheva-Aksorn, 2. menekankan bahwa populasi remaja justru paling rentan terhadap misinformasi kesehatan karena kurangnya kemampuan analisis sumber dan pemahaman konteks ilmiah. Perbandingan ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara fokus penelitian nasional dan internasional: di tingkat global, remaja menjadi perhatian utama dalam literasi kesehatan digital, sedangkan di Indonesia topik tersebut masih terpinggirkan dan sering disubstitusi dengan kajian literasi umum atau digital literacy tanpa dimensi kesehatan yang eksplisit. Kesenjangan penelitian . esearch ga. ini semakin terlihat ketika menelaah konteks lokal Indonesia yang memiliki karakteristik sosial dan budaya digital berbeda dengan negara maju. Sebagian besar penelitian global menggunakan populasi remaja yang memiliki akses luas terhadap sumber daya teknologi dan pendidikan formal digital, sementara remaja Indonesia menghadapi tantangan struktural seperti rendahnya literasi media, keterbatasan akses internet berkualitas, dan dominasi konsumsi konten berbasis hiburan. Akibatnya, meskipun terdapat peningkatan kuantitas penggunaan media sosial, kualitas pemahaman informasi kesehatan justru menurun. Hingga saat ini, belum banyak studi yang secara sistematis mengulas literasi kesehatan digital remaja Indonesia dalam konteks menghadapi misinformasi kesehatan di media sosial, baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kajian literatur komprehensif. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Kebaruan . dari kajian ini terletak pada fokus analisis literatur yang mengintegrasikan dua isu strategis: literasi kesehatan digital dan misinformasi kesehatan di media sosial dengan fokus khusus pada kelompok usia remaja. Studi ini tidak hanya memetakan hasil penelitian sebelumnya, tetapi juga mengidentifikasi dimensi-dimensi literasi digital yang paling relevan untuk penguatan strategi promosi kesehatan berbasis digital di Indonesia. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan kebijakan dan intervensi promosi kesehatan remaja yang lebih adaptif terhadap realitas digital kontemporer. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam kajian ini adalah: AuBagaimana tingkat dan tantangan literasi kesehatan digital remaja dalam menghadapi misinformasi kesehatan di media sosial berdasarkan analisis literatur terkini, serta apa implikasinya bagi strategi promosi kesehatan di Indonesia?Ay Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan penelitian terkait literasi kesehatan digital remaja dan misinformasi kesehatan di media sosial (Rother, 2007. Lame, 2. Pendekatan SLR dipilih karena mampu mengintegrasikan hasil penelitian dari berbagai konteks dan periode, sehingga dapat menggambarkan pola konseptual dan arah perkembangan isu secara Sumber Data dan Strategi Pencarian Proses pencarian literatur dilakukan secara sistematis pada empat basis data ilmiah: Google Scholar. PubMed. ScienceDirect, dan Directory of Open Access Journals (DOAJ) untuk menjamin cakupan penelitian nasional dan internasional. Dua berkas data utama yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 60 publikasi dari Google Scholar . ile AuGS-Literasi Kesehatan Digital pada Remaja. dan 45 publikasi dari Scopus/ScienceDirect . ile AuSC-Digital Health Literacy in Adolescents. Pencarian literatur dilakukan pada bulan Oktober 2025 dengan menggunakan kata kunci gabungan: (Audigital health literacyAy OR Auliterasi kesehatan digitalA. AND (AuadolescentAy OR AuremajaA. AND (Auhealth misinformationAy OR Aumisinformasi kesehatanA. AND (Ausocial mediaAy OR Aumedia sosialA. Selain itu, untuk konteks nasional digunakan istilah tambahan seperti Auremaja IndonesiaAy. Aupromosi kesehatan digitalAy, dan Auperilaku informasi remajaAy. Pencarian dilakukan dengan filter waktu 2020Ae2025, bahasa Inggris dan Indonesia, dan hanya mencakup publikasi dengan peerreviewed status jurnal. Hasil awal dari seluruh basis data menghasilkan 105 artikel, kemudian dilakukan proses penyaringan ganda . untuk mengeliminasi duplikasi dan artikel yang tidak relevan. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Pertama. Kriteria inklusi ditetapkan secara ketat untuk memastikan hanya artikel yang memiliki relevansi substantif yang disertakan dalam analisis. Kedua. Artikel membahas literasi kesehatan digital atau misinformasi kesehatan dalam konteks remaja. Ketiga. Studi berfokus pada penggunaan media sosial atau platform digital sebagai sumber informasi kesehatan. Keempat. Artikel mengandung data empiris, kajian teoritis, atau model konseptual yang dapat mendukung analisis. Kelima. Publikasi ilmiah . urnal, prosiding, atau review artike. terbit antara tahun 2020Ae2025. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi: Artikel yang hanya membahas literasi digital umum tanpa dimensi kesehatan. Penelitian dengan populasi non-remaja . isalnya mahasiswa, tenaga kesehatan, atau masyarakat umu. Artikel opini, editorial, atau laporan non-akademik. Proses seleksi menghasilkan 40 artikel akhir yang memenuhi kriteria dan siap dianalisis secara mendalam. Proses Seleksi Literatur Tahapan seleksi mengikuti empat langkah utama PRISMA: Identification: Mengumpulkan seluruh literatur yang sesuai kata kunci dari basis data. Screening: Menghapus duplikasi dan menyaring berdasarkan judul serta . Eligibility: Mengevaluasi kesesuaian konten berdasarkan teks lengkap. Inclusion: Menentukan artikel yang memenuhi seluruh kriteria. Dari total 105 publikasi awal, 12 artikel dihapus karena duplikasi, 33 artikel dieliminasi pada tahap screening karena fokus tidak relevan, dan 20 artikel dikeluarkan pada tahap eligibility karena tidak memenuhi kriteria metodologis. Dengan demikian, 40 artikel tersisa . internasional dan 15 nasiona. menjadi dasar analisis utama. Teknik Analisis Data Analisis dilakukan melalui pendekatan sintesis tematik . hematic synthesi. yang mencakup tiga tahap: Ekstraksi data: Identifikasi variabel utama dari setiap artikel, meliputi tahun publikasi, lokasi penelitian, metode, populasi, dan hasil utama. Kategorisasi tematik: Mengelompokkan artikel berdasarkan fokus temuan, seperti tingkat literasi digital, faktor determinan, dampak misinformasi, dan strategi promosi kesehatan digital. Sintesis naratif: Menyusun hasil kajian dalam bentuk narasi yang menjelaskan hubungan antar-tema dan relevansinya terhadap konteks promosi kesehatan remaja di Indonesia. Kualitas metodologis setiap artikel dinilai menggunakan pedoman Joanna Briggs Institute (JBI Critical Appraisal Checklis. untuk memastikan validitas Artikel dengan skor validitas di bawah 60% dikeluarkan dari analisis sintesis akhir. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Hasil Penelitian Analisis dilakukan terhadap 40 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 25 publikasi internasional dan 15 publikasi nasional. Proses analisis menggunakan pendekatan thematic synthesis dengan mendeteksi pola kata kunci yang sering muncul dalam kedua dataset (Google Scholar dan Scopu. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa tema paling dominan dalam literatur adalah digital health literacy, misinformation, adolescents, dan social media menunjukkan konsistensi topik inti antara konteks global dan Indonesia. Analisis Kuantitatif Kata Kunci Tabel 1 menampilkan hasil identifikasi 15 kata kunci paling sering muncul dari seluruh artikel yang dianalisis. Proses ekstraksi dilakukan dengan menghitung frekuensi kemunculan kata kunci utama dalam metadata. Tabel 1. Distribusi 15 Kata Kunci Dominan dalam Literatur . 0Ae2. Frekuensi Kemunculan Persentase (%) Health Misinformation Social Media eHealth Literacy Critical Thinking Health Promotion Information Evaluation Fake News Behavior Change COVID-19 Education Intervention TikTok Kelompok remaja pengguna media sosial Penyebaran konten kesehatan tidak valid Platform TikTok. Instagram. YouTube Pengukuran eHEALS dan dimensi digital health Kemampuan evaluasi informasi Strategi komunikasi kesehatan Verifikasi sumber informasi Hoaks dan disinformasi daring Dampak perilaku kesehatan Tema dominan pascapandemi Program literasi di sekolah Platform dengan risiko misinformasi tinggi Intervensi berbasis teman sebaya Persepsi terhadap sumber Kata Kunci Digital Health Literacy Adolescents Peer Education Information Credibility Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Konteks Dominan Literasi dan edukasi digital Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa Audigital health literacyAy dan Auhealth misinformationAy adalah pasangan tema paling dominan, muncul bersama dalam 77,5% artikel. Sementara itu, kata AuTikTokAy muncul dalam 20% literatur, memperlihatkan pergeseran konteks riset dari Facebook/Instagram menuju platform video pendek yang kini mendominasi konsumsi informasi remaja. Analisis ini menegaskan bahwa penelitian literasi kesehatan digital remaja berkembang cepat pascapandemi COVID-19, namun fokusnya masih terkonsentrasi pada negara maju dan populasi urban, sehingga ada ruang besar untuk eksplorasi pada konteks lokal Indonesia. Distribusi Temporal dan Geografis Penelitian Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Tabel 2. Distribusi Artikel Berdasarkan Tahun dan Wilayah . 0Ae2. Tahun Jumlah Artikel Konteks Nasional Konteks Internasional Fokus Utama Literasi digital awal Hoaks COVID-19 dan Evaluasi eHEALS dan media sosial Literasi Program kesehatan digital Analisis berbasis AI Sumber: Analisis Peneliti, 2025 Dari tabel di atas terlihat puncak produktivitas riset terjadi pada tahun 2021Ae2022, bertepatan dengan masa pandemi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran informasi palsu. Tren menurun setelah 2023 menunjukkan bahwa isu ini mulai bergerak dari fase krisis reaktif menuju fase strategis yang menekankan literasi digital sebagai bagian dari kebijakan promosi kesehatan Pembahasan Penelitian Tingkat dan Dimensi Literasi Kesehatan Digital Remaja Analisis terhadap 40 artikel menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital remaja berada pada kategori sedang hingga rendah di sebagian besar studi yang dilakukan, terutama di negara berkembang. Secara global, penelitian oleh (Fitriani, 2. , (Hagan, 2. , dan (Dheva-Aksorn, 2. menegaskan bahwa meskipun remaja memiliki keterampilan tinggi dalam menggunakan teknologi digital, kemampuan mereka dalam mengevaluasi kredibilitas informasi kesehatan masih terbatas (Peralta, 2. Instrumen yang paling banyak digunakan untuk mengukur literasi digital adalah eHealth Literacy Scale . HEALS) yang mencakup dimensi akses, pemahaman, penilaian, dan aplikasi informasi kesehatan online. Dalam konteks Indonesia, hasil yang serupa ditemukan oleh (Khairi et al. , 2025. Nayazik et al. , di mana 71% remaja di Jabodetabek mengaku menggunakan media sosial sebagai sumber informasi kesehatan, tetapi hanya 28% yang secara aktif memverifikasi keaslian sumber tersebut. Studi lokal lainnya oleh (Sardiana, 2. menunjukkan bahwa remaja lebih mempercayai konten visual dengan kemasan menarik, terutama di TikTok, dibandingkan situs resmi kesehatan. Fenomena ini mengindikasikan adanya functional digital literacy yang tinggi . emampuan mengoperasikan teknolog. , namun critical digital literacy yang rendah . emampuan menganalisis dan menilai kredibilitas informas. Secara konseptual, hasil ini memperkuat model Digital Health Literacy Framework yang dikembangkan oleh (Kemp et al. , 2021. Van Der Vaart & Drossaert, 2. , di mana kemampuan berpikir kritis dan penilaian sumber Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. menjadi determinan utama perilaku informasi sehat. Artinya, promosi kesehatan di era digital tidak cukup hanya memberikan akses terhadap informasi, tetapi juga harus memperkuat kapasitas remaja dalam memahami konteks dan validitas konten yang mereka konsumsi. Pola dan Sumber Misinformasi Kesehatan di Media Sosial Hampir seluruh artikel internasional dan nasional yang ditinjau mengonfirmasi bahwa media sosial menjadi saluran utama penyebaran misinformasi kesehatan di kalangan remaja. Pola sebarannya bersifat viral, emosional, dan sering kali mengandalkan influencer non-medis sebagai sumber otoritas semu. Penelitian oleh (Park et al. , 2. di Korea Selatan menunjukkan bahwa 58% remaja mempercayai konten kesehatan yang dibagikan oleh figur publik karena faktor kedekatan emosional. Temuan serupa juga muncul dalam riset (Vraga et al. , 2. di Amerika Serikat, yang menemukan bahwa paparan berulang terhadap informasi tidak benar meningkatkan persepsi kebenaran subjektif . llusory truth effec. , bahkan setelah remaja diberi klarifikasi fakta. Dalam konteks Indonesia, (Yonaevy et al. , 2. mencatat bahwa jenis misinformasi paling sering mencakup isu seputar vaksinasi, kesehatan reproduksi, dan diet ekstrem. Media sosial seperti TikTok dan Instagram menjadi kanal dominan, karena algoritmanya mendorong konten dengan tingkat interaksi tinggi tanpa mempertimbangkan validitas ilmiah. Selain itu, bahasa informal dan penggunaan humor dalam penyajian konten memperkuat penerimaan remaja terhadap pesan yang salah. Hasil ini menunjukkan bahwa paparan misinformasi tidak hanya terkait dengan kurangnya literasi digital, tetapi juga dengan faktor psikososial seperti kebutuhan akan penerimaan sosial dan rasa ingin tahu terhadap topik yang sedang trending. Dengan demikian, misinformasi kesehatan di kalangan remaja tidak bisa dilihat sekadar sebagai persoalan teknis informasi, melainkan fenomena sosial budaya yang kompleks. Dampak Paparan Misinformasi terhadap Perilaku Kesehatan Remaja Dampak misinformasi terhadap perilaku kesehatan remaja sangat signifikan dan beragam, mulai dari perubahan persepsi risiko hingga tindakan nyata yang berpotensi membahayakan. Studi oleh Kunmiati, . menemukan bahwa remaja dengan tingkat literasi digital rendah memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mempercayai informasi kesehatan palsu dan mengadopsi praktik yang salah, seperti mengonsumsi suplemen tanpa anjuran medis. Penelitian (Fatimah et al. , 2. di Indonesia menunjukkan bahwa 47% remaja yang terpapar konten kesehatan tidak valid di media sosial melakukan tindakan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Temuan ini diperkuat oleh (Hasyim, 2. yang menyoroti adanya hubungan langsung antara low critical literacy dan meningkatnya self-diagnosis behavior. Dalam jangka panjang, fenomena ini berpotensi menurunkan efektivitas program promosi kesehatan konvensional Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. yang berbasis institusi karena remaja lebih mengandalkan referensi daring nonformal. Di sisi lain, beberapa studi menunjukkan bahwa paparan misinformasi dapat dimitigasi dengan adanya peer education atau social correction yaitu intervensi dari teman sebaya yang mengklarifikasi informasi yang salah. Pendekatan berbasis komunitas remaja ini terbukti lebih efektif dibandingkan kampanye formal, karena mengandalkan kepercayaan sosial yang lebih tinggi di antara kelompok usia sebaya. Implikasi Strategis bagi Promosi Kesehatan Berbasis Digital Temuan dari seluruh literatur menunjukkan bahwa promosi kesehatan di era digital harus bertransformasi dari model satu arah . nformational mode. menuju model partisipatif dan dialogis yang berbasis literasi digital. World Health Organization . dalam laporan Global Digital Health Strategy menekankan bahwa negara berkembang perlu mengintegrasikan pendidikan literasi digital ke dalam kurikulum sekolah menengah untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh terhadap misinformasi. Berdasarkan kajian nasional, (Sitoayu et al. , 2021. Anggoro, 2. mengusulkan pendekatan promosi kesehatan berbasis co-creation, di mana remaja dilibatkan secara aktif dalam produksi konten digital yang kredibel. Pendekatan ini terbukti meningkatkan minat belajar sekaligus memperkuat kemampuan analisis informasi. Selain itu, sinergi antara lembaga kesehatan, sekolah, dan digital influencers dengan integritas ilmiah tinggi dapat menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan adaptif terhadap dinamika algoritma media sosial. Secara konseptual, hasil penelitian ini mendukung paradigma baru promosi kesehatan berbasis digital, yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan tetapi juga pada pengembangan kompetensi kritis digital . ritical digital Dengan demikian, strategi promosi kesehatan masa depan harus melibatkan kombinasi antara pendidikan literasi digital, penguatan kapasitas berpikir kritis, dan kebijakan publik yang mendorong verifikasi konten kesehatan di platform daring. Simpulan Kajian literatur ini menegaskan bahwa literasi kesehatan digital remaja merupakan faktor kunci dalam menghadapi arus misinformasi kesehatan di media sosial yang semakin masif. Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja secara umum memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses informasi kesehatan, tetapi rendah dalam mengevaluasi kredibilitas dan akurasi sumber. Kesenjangan ini menimbulkan kerentanan terhadap penyebaran informasi palsu dan perilaku kesehatan yang berisiko. Secara global, literatur menggambarkan bahwa kemampuan berpikir kritis, kepercayaan terhadap sumber resmi, serta self-efficacy digital menjadi faktor penentu utama dalam menahan penyebaran misinformasi. Dalam konteks Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa media sosial seperti TikTok dan Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Instagram menjadi saluran utama konsumsi informasi kesehatan remaja, namun masih minim upaya pembinaan kemampuan verifikasi dan fact-checking. Kajian ini juga menemukan bahwa sebagian besar strategi promosi kesehatan masih bersifat satu arah dan informatif, bukan partisipatif. Padahal, teori promosi kesehatan modern menekankan pentingnya empowermentAi memberdayakan remaja sebagai aktor aktif dalam menciptakan dan menyebarluaskan pesan kesehatan digital yang kredibel. Dengan demikian, urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan membangun ekosistem literasi kesehatan digital yang kolaboratif dan berkelanjutan, bukan hanya berbasis kampanye sesaat Rekomendasi Berdasarkan sintesis hasil dan teori, terdapat tiga rekomendasi utama yang dapat dijadikan rujukan bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan: Integrasi Literasi Kesehatan Digital dalam Kurikulum Pendidikan Remaja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Kementerian Kesehatan, perlu mengembangkan modul pembelajaran literasi digital yang menekankan critical digital appraisal, evaluasi sumber, dan keterampilan verifikasi konten kesehatan. Integrasi ini dapat menjadi bagian dari program Profil Pelajar Pancasila atau pendidikan karakter berbasis digital. Penguatan Promosi Kesehatan Digital Berbasis Peer Education dan CoCreation Institusi pendidikan dan organisasi kesehatan sebaiknya mengadopsi model promosi yang melibatkan remaja sebagai content creator sekaligus health Pendekatan peer-to-peer digital health promotion terbukti meningkatkan kredibilitas pesan dan memperluas jangkauan edukasi tanpa resistensi budaya atau generasional. Pengembangan Kebijakan Nasional tentang Etika Informasi Kesehatan Digital Pemerintah dan lembaga kesehatan publik perlu menyusun pedoman etika penyebaran informasi kesehatan di media sosial, termasuk mekanisme fact-checking kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan komunitas digital. Hal ini penting untuk mengurangi infodemic dan memperkuat kepercayaan publik terhadap sumber kesehatan resmi. Selain itu, diperlukan riset lanjutan yang mengeksplorasi efektivitas intervensi berbasis literasi digital di kalangan remaja Indonesia dengan pendekatan longitudinal. Studi kuantitatif dan kualitatif yang mengukur dampak pelatihan literasi digital terhadap perilaku berbagi informasi akan memperkaya pemahaman empiris dan memperkuat dasar kebijakan. References