Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENINJAUAN KAWASAN TERUMBU KARANG DAN INFRASTRUKTUR DI PULAU KELAGIAN BESAR SEBAGAI PENUNJANG EKOWISATA BAHARI Ardhita Rahma Azzahra. Ahmad Herison*A. Anma Hari KusumaA. Yuda Romdania4 1,2,4 Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lampung AProgram Studi S1 Perikanan dan Ilmu Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35134 *Email Correspondence: ahmad. herison@eng. ABSTRAK Potensi wisata yang ada di setiap daerah memiliki peluang besar untuk dikembangkan, salah satunya Pulau Kelagian Besar yang letaknya berdekatan dengan Pulau Pahawang mempunyai terumbu karang yang potensial untuk kegiatan ekowisata. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji lebih lanjut kesesuaian serta daya dukung kawasan wisata tersebut yang disertai pula dengan peninjauan infrastruktur. Penelitian ini menggunakan analisis Indeks Kesesuaian Wisata. Daya Dukung Kawasan & peninjauan infrastruktur menggunakan parameter 3A sebagai acuan untuk merencanakan pembangunan infrastruktur pendukung. Dari hasil analisis diperoleh kesesuaian wisata snorkeling dan diving pada stasiun 3 adalah 2,265 dan 2,475 . Luas area pemanfaatan pada stasiun ini seluas 2,71 ha untuk kegiatan snorkeling dan 11,3 ha untuk diving. peninjuan menemukan bahwa keadaan infrastruktur pendukung yang ada di pulau sudah cukup baik, meski demikian pengembangan lanjutan masih perlu dilakukan. Kesimpulan adalah pada stasiun 3 memiliki kategori kesesuaian S2 . dengan daya tampung wistatawan untuk ekowisata snorkeling sebanyak 109 orang/hari dan diving sebanyak 452 orang/hari, saran infrastruktur pendukung yang dapat dibangun sebagai penunjang ekowisata pulau antara lain, gazebo, coffee shop dan fish market. Kata Kunci: Pariwisata. Pahawang. Snorkeling. Daya Dukung Kawasan. Indeks Kawasan Wisata ABSTRACT The tourism potential that exists in each region has a great opportunity to be developed, one of which is Kelagian Besar Island, which is located adjacent to Pahawang Island, which has potential coral reefs for ecotourism activities. The study's objectives were to evaluate the tourism area's stability and carrying capacity in addition to reviewing its infrastructure. This research uses the analysis of the tourism suitability index, area supportability & infrastructure review using 3A parameters as a reference for planning and supporting infrastructure development. From the results of the analysis obtained, the suitability of snorkeling and diving tourism at station 3 is 2,265 and 2,475. The area of utilization at this station is 2,71 ha for snorkeling activities and 11,3 ha for diving. The review found that the state of the existing supporting infrastructure on the island is quite good. however, further development still needs to be done. The conclusion is that station 3 is in the appropriate category (S. with a tourist capacity for snorkeling ecotourism of 109 people per day and diving of 452 people per day. Supporting infrastructure suggestions that can be built to support island ecotourism include gazebos, coffee shops, and fish markets. Keywords: tourism. area carrying capacity. tourism area index Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Dalam 50 tahun terakhir, industri pariwisata telah tumbuh menjadi salah satu sektor terbesar di seluruh dunia, memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian dan kesempatan kerja global. (Parlindungan et al. , 2. Pariwisata merupakan salah satu sektor industri yang signifikan dengan potensi pengembangan yang besar (Setyaningrum et al. , 2. Pembangunan pariwisata dengan konsep yang berkelanjutan sudah dikenal luas dalam pengembangan pariwisata (Wibowo et al. , 2. Beberapa literatur secara eksplisit menyatakan pariwisata berkelanjutan sebagai ekowisata yang difungsikan untuk mendukung pelestarian kawasan (Campbell, 2002. Hakim, 2004. Fitriawati et al. , 2. Konsep ekowisata dapat dikatakan menghubungkan antara perjalanan wisata alam dengan visi konservasi dan kecintaan terhadap lingkungan. Konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan ini tidak hanya menunjang konservasi terhadap lingkungan namun juga berkontribusi pada pelestarian budaya (Priono, 2012 dalam Aziz et al. , 2. MuAotashim . menyatakan bahwa ekowisata adalah upaya pelestarian alam dan lingkungan yang disajikan sebagai tujuan pariwisata, yang turut berdampak pada perekonomian lokal. Sehingga dapat dikatakan bahwa bukan hanya pemandangan alam nan indah dan masih asli yang ditawarkan oleh ekowisata, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar, melindungi ekosistem, dan meningkatkan taraf hidup warga lokal di sekitarnya atau di destinasi ekowisata tersebut (Mukhlis et al. , 2. Berbagai jenis sektor pariwisata dapat ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Potensi wisata yang ada di setiap daerah memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi beragam produk wisata, salah satunya berupa ekowisata. Sebagai sebuah negara kepulauan. Indonesia dianugerahi wilayah pesisir yang meliputi daerah dari Sabang hingga Merauke. Di setiap wilayah pesisir terdapat beragam daya tarik yang membuatnya memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata yang menarik. (Prayogi, 2. Dampak dari kondisi geografis tersebut juga membuat Indonesia memiliki identitas yang kuat dalam hal keberagaman alam, terutama dalam sektor pariwisata yang menyuguhkan berbagai atraksi ekowisata laut yang menarik. Lampung menjadi salah satu provinsi yang ikut andil menyumbang potensi kekayaan dan keindahan bahari. Potensi wisata tersebut berada di Kabupaten Pesawaran yang banyak dikenal luas dengan objek wisata alam salah satunya berupa keindahan akan laut dan pulaunya. Dari sekian banyak lokasi wisata. Pulau Kelagian Besar menjadi salah satu rekomendasi untuk dijelajahi dan dijadikan sebagai rekomendasi ekowisata bahari. Menurut Sasongko . ekowisata bahari dibagi dalam beberapa zona yaitu area daratan . , laut, dan dasar laut. Potensi keindahan sebuah pulau tak hanya dapat dinikmati dari daratan . saja, namun kekayaan laut dan dasar lautnya juga layak diperhitungkan. Kegiatan ekowisata bahari yang dapat dipilih untuk menikmati keindahan laut dapat berupa snorkeling dan diving. Snorkeling dan diving menjadi aktivitas yang banyak dipilih untuk menikmati keelokan terumbu karang yang tumbuh di dasar laut. Snorkeling merupakan aktivitas wisata perairan yang dilakukan di atas air tanpa perlu menyelam atau menggunakan peralatan scuba, dimana tujuannya adalah untuk menikmati pemandangan indah di bawah laut. (Panra et. al, 2. Sedangkan diving atau yang dalam bahasa indonesia disebut selam adalah aktivitas dalam air menggunakan peralatan selam . cuba divin. untuk berbagai tujuan seperti olahraga, dan rekreasi (Panra et. al, 2. Pulau Kelagian Besar memiliki keindaan laut yang potensial untuk ekowisata. Hal ini didasari fakta bahwa lokasi pulau ini berdekatan dengan objek wisata Pulau Pahawang Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 (Novriandi et. al, 2. yang terkenal akan keindahan terumbu karang di dasar lautnya. Mungkin terumbu karang yang berada di Pulau Kelagian Besar dapat dikembangkan menjadi lokasi ekowisata bahari berupa snorkeling dan diving. Tetapi potensi tersebut harus dikaji lebih lanjut baik dari segi kawasan, daya, dukung dan infrastruktur. Sehingga diperlukan analisis dan pengembangan terkait infrasruktur agar penerapan konsep ekowisata dapat berjalan dengan baik tanpa merusak objek kawasan wisata yang dituju. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji lebih lanjut kesesuaian serta daya dukung kawasan wisata tersebut yang disertai pula dengan peninjauan infrastruktur guna menunjang keberlangsungan ekowisata bahari di Pulau Kelagian Besar. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di perairan Pulau Kelagian Besar. Kabupaten Pesawaran. Gambar 1 menampilkan pengamatan data lapangan yang sesuai dengan stasiun penelitian. Stasiun pengamatan ditempatkan dengan ditentukan dengan menggunakan pendekatan purposive sampling, yang merupakan metodologi untuk mengumpulkan sampel berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap mendefinisikan populasi. Prosedur dan Instrumen Penelitian Survei terumbu karang dilakukan dengan bantuan Self Contained Underwater Breathing Apparatus, memanfaatkan metode pengamatan berupa Line InterceptTransect (LIT). Parameter yang diamati terdiri atas ikan karang, jenis life form dan persentase tutupan karang. Proses pengambilan data di dalam air menggunakan kertas anti air dan juga under water camera. Selain itu dilakukan pula pengukuran kualitas air yang meliputi. perairan, kecepatan arus, dan kedalaman. Kecepatan arus diukur menggunakan alat bantu sederhana yang tebuat dari botol dan tali, sedangkan kecerahan perairan menggunakan alat bantu berupa secchi disk. Adapun luasan karang akan dianalisa menggunakan software snap yang nantinya digambar dengan bantuan Arcgis. Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Gambar 1. Peta Stasiun Pengamatan di Pulau Kelagian Besar Sumber : Google Earth Analisis Kesesuaian Untuk mengetahui tingkat kesesuaian kawasan perlu dilakukan analisis Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sesuai dengan peruntukannya (Sari et al. , 2. Analisis tingkat kesesuaian dilaksanakan dengan menilai parameter yang memengaruhi kesesuaian aktivitas snorkeling dan diving (Panra et al. , 2. Konteks yang sesuai untuk pertumbuhan pariwisata ini melibatkan penilaian dampak lingkungan, mengelola dan mengatur lingkungan untuk memastikan lokasi pariwisata selaras dengan lingkungannya. Hal tersebut merupakan konteks utama yang harus diperhatikan dalam penilaian kesesuain sebuah kawasan wisata. Penilaian sebuah kawasan mempertimbangkan berbagai parameter untuk dapat diklasifikasikan sesuai kapasitasnya. Setiap parameter yang digunakan untuk menilai suatu kawasan pasti berbeda dengan parameter kawasan yang lainnya. Kesesuaian sebuah kawasan ini didapatkan melalui penentuan kelas atau nilai kawasan dan juga sistem guna yang dihubungan pada potensi wilayahnya. Kesesuaian ekowisata snorkeling bergantung pada tujuh faktor sedangkan diving hanya enam faktor. Secara rinci, parameter kesesuaian ekowisata snorkeling dan diving dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1. Parameter Ekowisata Snorkeling Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Parameter Bobot Tutupan Karang(%) 0,375 <25 >50-75 >75 Kecepatan Arus . m/d. 0,07 >50 >30-50 >15-30 Kecerahan Perairan (%) 0,15 <20 20-<50 >80 Kedalaman Terumbu Karang. 0,15 >30. >20-30 >15-20. 3-<6 Jenis Life form 0,135 `4-7 <7-12 >12 Jenis Ikan Karang 0,12 <20 20-<50 >100 Lebar hamparan datar karang . Sumber : Yulianda, 2019 0,07 <20 >100-500 >500 Tabel 2. Parameter Ekowisata Diving Parameter Bobot Tutupan Karang(%) 0,375 <25 >50-75 >75 Kecepatan Arus . m/d. 0,07 >50 >30-50 >15-30 Kecerahan Perairan (%) 0,15 <20 20-<50 >80 Kedalaman Terumbu Karang. 0,15 >30. >20-30 >15-20. 3-<6 Jenis Life form 0,135 `4-7 <7-12 >12 0,12 <20 20-<50 >100 Jenis Ikan Karang Sumber : Yulianda, 2019 Analisis kesesuaian ekowisata snorkeling dan diving dilakukan dengan menggunakan formula sesuai Yulianda . sebagai berikut : IKW = Ocycuycuycnycn=1(Bi x S. Keterangan: IKW : S1 : Sangat sesuai (IKW>2,. S2 : Sesuai . -2,. S3 : Tidak Sesuai . -O. TS : Sangat Tidak sesuai (<. : Nilai parameter ke-i . obot x sko. : Nilai sebuah parameter ke-i Analisis Daya Dukung Setiap pulau yang ada memiliki karakteristik lokasi dan daya dukung yang erbeda satu sama lain. Daya dukung kawasan wisata merupakan jumlah maksimal individu yang dapat memanfaatkan area tersebut tanpa merusak lingkungan, menurunkan kualitas sosial, budaya, maupun ekonomi (Retraubun et al. , 2. Jumlah pengunjung yang ada dan dapat diterima suatu lokasi dpat bergantung pada aktivitas yang akan dilakukan dan sumber daya alam yang tersedia disana. Hal ini dihitung dengan menggunakan formula berikut (Yulianda, 2. Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 DDK = K x Lp / Lt x Wt / Wp Keterangan: DDK : Daya dukung kawasan : Kemampuan ekologis pengunjung : Unit area tergunakan : Luas area : Durasi yang diberikan kawasan untuk kegiatan wisata per hari : Durasi yang digunakan pengunjung untuk suatu kegiatan Suatu wilayah memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan gangguan dari luar yang dikatakan sebagai ketahanan ekologis. (Liu-Lastres et al. , 2. Potensi ekologis pengunjung saat berwisata dapat diukur berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan dan area, seperti yang tercantum dalam Tabel 3 merujuk pada Yulianda. Tabel 3. Potensi Ekologis Pengunjung dan Prediksi Waktu Jenis Kegiatan Unit Area (L. Snorkeling Diving 500 m2 2000 m2 Sumber : Yulianda, 2019 Oc Pengunjung (K) Wt . Wp . Analisis Infrastruktur Pembentukan produk wisata secara umum bergantung pada tiga faktor: aksesibilitas, fasilitas di lokasi . , dan atraksi wisata (Ramadhani et al. , 2. Ketiga faktor tersebut erat kaitannya dengan infrastruktur pulau. Hal ini dikarenakan pembangunan infrastruktur dapat mencakup ketiga aspek tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan parameter 3A untuk menganalsis infrastruktur yang ada di Pulau Kelagian Besar. Ketiga parameter tersebut terdiri atas : Atraksi. Amenitas, dan Aksesibilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Tutupan Karang dan Jenis Life form Tutupan komunitas karang yang dijumpai di statiun 3 didominasi oleh jenis life form Coral Heliopora sebesar 48%. Jenis life form yang ditemui tidak begitu banyak, yakni hanya 7 jenis yang terdiri atas Coral Heliopora (CH). Coral Mushroom (CM). Coral Submassive (CS). Acropora Coral Branching (ACB). Coral Encrusting (CE). Coral Branching (CB), dan Coral Foliose (CF). Total presentase tutupan karang pada stasiun ini menyentuh angka 87%. Senhingga dinyatakan bahwa stasiun tersebut masuk dalam kategori baik untuk kegiatan ekowisata. Tingkat produktivitas dan aktivitas biota di sekitar karang berkorelasi positif dengan persentase tutupan karang di perairan. Karena nilai estetika yang tinggi, terumbu karang dapat digunakan sebagai lokasi wisata bahari. (Ramlan et al. , 2. Terumbu Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 karang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang jika berada dalam lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya (Munua et al. , 2. Penampakan persentase tutupan dasar karang dan jenis life form ini secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Presentase Tutupan Karang Jenis Life form Coral Heliopora (CHL) Coral Mushroom (CMR) Coral Submassive (CS) Acropora Branching (ACB) Coral Encrusting (CE) Coral Branching (CB) Coral Foliose (CF) Total Sumber : Data hasil pengamatan Persentase (%) Stasiun 3 Untuk kategori snorkeling lebar hamparan datar karang pada lokasi ini tergolong dalam kategori tidak sesuai. Hal ini karena hasil pengukuran hanya menunjukkan lebar hamparan datar karang hanya sebesar 15 m. Jenis Ikan Jenis ikan karang yang teridentifikasi pada stasiun 3 sebanyak 12 spesies dari 7 famili yang berbeda. Jumlah dan jenis ikan yang ada di satu lokasi akan berbeda dengan lokasi lainnya. Hal ini berkaitan dengan tutupan dan variasi jenis terumbu yang tumbuh di lokasi perairan tersebut berada. Spesies ikan yang ada di stasiun 3 dapat dilihat pada Tabel 5. Kondisi Perairan Kondisi perairan berperan besar terhadap kesehatan terumbu karang dan juga perkembangan ekowisata bahari. Kecerahan perairan yang diperoleh bernilai sangat baik sebesar 100%. Nilai kecerahan dapat dipengaruhi oleh kedalaman perairan. Untuk lokasi ini kedalaman perairan berkisar antar 4-5 m. Nilai kedalaman ini diklasifikasikan dalam kategori sesuai dengan bobot 2. Kedalaman yang diperlukan untuk kegiatan snorkeling dan diving berbeda . Kecepatan arus rata-rata pada stasiun 3 adalah sebesar 13,3 cm/s. Baik kategori snorkeling dan diving nilai kecerahan dan kecepatan arus ini baik untuk kegiatan ekowisata. Menurut kategori Yulianda . , kecepatan arus dinilai sesuai jika hasil yang didapat tidak lebih dari 15 cm/s. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa kondisi perairan pada stasiun ini tergolong sesuai. Rekapitulasi kondisi perairan dapat diamati pada Tabel 6. Tabel 5. Jenis Ikan Karang Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 Famili Acanthuridae Apogonidae Haemulidae Lutjanidae Pomacentridae Scaridae e-ISSN : 2620-9322 Spesies Acanthurus auranticavus Ctenochaetus Striatus Ostorhinchus compressus Pterapogon kauderni Zoramia leptacantha Plectorhinchus vittatus Abudefduf vaigiensis Chrysiptera cyanea Pomacentrus moluccensis Chlorurus sordidus Scarus sordidus Siganus argenteus Siganidae Sumber : Data hasil pengamatan Tabel 6. Kondisi Perairan Stasiun 3 Parameter 1 Kecepatan arus 2 Kecerahan perairan 3 Kedalaman Satuan Sumber : Data hasil pengamatan Stasiun 4 Indeks Kesesuaian Wisata Hasil analisis kesesuaian ekowisata bahari snorkeling menunjukkan nilai IKW sebesar 2,265 dengan kategori sesuai (S. Sementara itu, untuk ekowisata diving nilai IKW yang didapat juga tergolong dalam kategori sesuai (S. dengan nilai 2,475. Kecepatan arus, kecerahan perairan, dan juga persentase tutupan karang yang ada di stasiun 3 menjadi faktor utama dari kesesuian yang diperoleh. Indeks kesesuaian wisata pulau untuk ekowisata snorkeling dapat diamati pada Tabel 7. Sedangkan kesesuaian untuk ekowisata diving ditinjau lebih lanjut di Tabel 8. Pesentase tutupan karang yang ada memang menyumbang bobot yang besar bagi kesesuaian wisata. Namun jenis dan variasi life form penyusunnya masih tergolong Beberapa metode rehabilitasi terumbu karang dapat dilakukan untuk menambah jenis life form yang ada di stasiun 3. Rehabilitasi yang dilakukan dapat berupa transplantasi maupun pembuatan karang palsu. Dengan bertambahnya life form, jenis ikan karang akan diharapkan bertambah dan membuat stasiun 3 menjadi kategori sangat Pemilihan metode dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan analisis terumbu secara lebih lanjut. Tabel 7. Indeks Kesesuaian Snorkeling Parameter Tutupan Karang (%) Kecepatan Arus . Kecerahan Perairan (%) Kedalaman Terumbu Karang . Jenis Life form Bobot (B) 0,375 0,07 0,14 Hasil Pengukuran 13,279 Skor (S) (SxB) 1,125 0,21 0,29 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 Jenis Ikan Karang Hamparan Datar Karang . Jumlah nilai Kategori Sumber : Hasil analisis IKW e-ISSN : 2620-9322 0,145 0,07 0,14 2,265 Sesuai Tabel 8. Indeks Kesesuaian Diving Parameter Bobot (B) Hasil Pengukuran Skor (S) (SxB) 0,375 0,07 0,15 1,125 0,21 0,45 Kedalaman Terumbu Karang. 0,15 Jenis Life form 0,135 0,27 Jenis Ikan Karang 0,12 0,12 Tutupan Karang (%) Kecepatan Arus . Kecerahan Perairan (%) Jumlah nilai Kategori Sumber : Hasil analisis IKW 2,475 Sesuai Daya Dukung Kawasan Wisata Analisis daya dukung difokuskan pada pengembangan pariwisata laut yang berkelanjutan melalui pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh sumber daya di pesisir, pantai, serta pulau-pulau kecil (Febriana et al. , 2. Berdasarkan hasil analisis daya dukung kawasan di stasiun 3 Pulau Kelagian Besar menunjukkan bahwa maksimum 452 pengunjung dapat melakukan diving dan 109 pengunjung dapat melakukan snorkeling di lokasi tersebut. Jumlah pengunjung tersebut dapat dijadikan rekomendasi dalam upaya pengembangan ekowisata bahari tanpa merusak kelestarian sumber daya alam dan Sehingga keindahan alam yang ada tetap lestari. Daya dukung kawasan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk mengatur jumlah wisatawan demi mempertahankan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan di daerah tersebut agar tetap harmonis, sehingga ekowisata bahari dapat berjalan tanpa merusak ekosistem. Tabel 9 memperlihatkan perhitungan dari daya dukung kawsan stasiun 3 Pulau Kelagian Besar. Tabel 9. Daya Dukung Ekowisata Bahari di Pulau Kelagian Besar Jenis Kegiatan Ekowisata Snorkeling Ekowisata Diving Sumber : Hasil analisis DDK Luas . DDK . rg/har. Infrastruktur Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Untuk mewujudkan kawasan ekowisata yang nyaman dan memiliki daya saing, perencanaan dan pembangunan infrastruktur menjadi sesuatu yang perlu mendapatkan Hal tersebut juga berkaitan dengan kenyamanan dan kemanan pengunjung saat mengunjungi lokasi wisata. Penelitian ini menggunakan komponen pariwisata 3A unutk menilai kelayakan dan kelengkapan infrastruktur yang ada di lokasi sebagai berikut: Atraksi Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa keindahan Pulau Kelagian Besar masih terjaga keasrian dan kelestariannya. Salah satu faktor yang membuat kondisi pulau tetap terjaga karena kawasan tersebut termasuk dalam wilayah TNI Angkatan Laut untuk melakukan latihan militer. Masyarakat setempat bahkan kerap menyebut Pulau Kelagian Besar sebagai Pulau Marinir. Dengan demikian, atraksi tidak dapat dikembangkan dan maksimalkan di wilayah ini. Aksesibilitas Aksesibilitas menekankan kemudahan wisatawan mencapai destinasi. Jalan menuju lokasi cukup bagus meski ada beberapa titik yang rusak. Wisatawan dapat menempuh perjalanan darat sekitar 1 jam dari pusat kota ke dermaga Ketapang, lalu melanjutkan dengan transportasi laut seperti kapal kayu atau speed boat yang disewa sesuai Amenitas Pulau Kelagian Besar masih minim amenitas. Terdapat satu musholla kecil, 25 toilet di lima titik, dan 10 kantin yang dikelola oleh masyarakat. Ada juga 10 tempat sampah dari bekas tong air. Tidak ada toko souvenir di pulau, tetapi wisatawan bisa membelinya di dermaga Ketapang yang memiliki area parkir luas. Berdasarkan analisis 3A yang telah dilakukan, dapat diketahui secara rinci terkait keadaan infrastrukur pendukung yang ada di Pulau Kelagian Besar. Dari amenitas yang ada tergolong cukup baik, namun masih perlu penambahan dan perbaikan di beberapa Pembangunan infrastruktur harus memperhatikan detail terkait material maupun keadaan lokasi. Hal ini didasarkan fakta bahwa pulau ini masuk kedalam area militer TNI Angkatan Laut dan digunakan sebagai tempat latihan. Sehingga jenis bangunan yang dipilih tergolong semi permanen dengan material kayu dan bambu. Tabel 10. Parameter Wisata 3A Pulau Kelagian Besar Dimensi Atraksi Aksesibilitas Amenitas Indikator Keindahan Alam Keindahan Buatan (Miniatur. Arsitektur Bangunan. Tata Ruan. Akses Jalan Kemudahan Transportasi Tempat Informasi Ketersediaan jumlah toilet Lokasi Objek Wisata Petunjuk Arah Toko Souvenir Area Parkir Toilet Tempat Ibadah Pengamatan Sangat Baik Tidak ada Cukup Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Baik Tidak ada Tidak ada Baik Kurang baik Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Tempat Sampah Tempat Makan Sumber : Hasil pengamatan lapangan Baik Baik Rekomendasi Infrastruktur Rekomendasi terkait infrastruktur yang ditawarkan untuk dibangun di pulau dapat dilakukan dengan mempertimbangan hasil analisis parameter di atas. Selain mengetahui kesesuaian pulau sebagai destinasi ekowisata, penelitian ini juga difokuskan untuk mengkaji lebih lanjut infrastruktur pulau yang telah tersedia serta merekomendasikan infrastruktur pendukung yang dapat menunjang kegiatan ekowisata di Pulau Kelagian Besar. Rencana pengembangan infrastruktur yang akan disarankan untuk dibangun adalah sebagai berikut: Gazebo Salah satu sarana yang dicari oleh wisatawan saat berkunjung adalah tempat untuk beristirahat sambil menikmati keindahan pulau. Gazebo menjadi salah satu infrastruktur yang sesuai untuk dibangun. Berdasarkan pengamatan gazebo telah disediakan, namun kondisinya kurang baik dan tidak nyaman. Untuk memberi fasilitas yang layak bagi pengunjung maka diberikan saran berupa desain gazebo yang dpat dilihat pada Gambar 2. Coffee Shop Banyak sekali variasi infrastruktur pendukung yang dapat dibangun di suatu pulau, salah satunya adalah coffee shop. Infrastruktur ini dibangun sebagai pelengkap dan daya tarik baru yang dapat ditawarkan di pulau. Pengunjung dapat menikmati keindahan alam yang ada sambil menikmati minuman dan makanan yang disediakan di coffee shop. Desain tampak coffee shop yang disarankan dapat dilihat pada Gambar Fish Market Saat mengunjungi destinasi wisata, kuliner yang ada merupakan salah satu daya tarik yang bisa memberikan nilai tambah. Bahan baku untuk meembuat hidangan yang enak haruslah segar agar cita rasa yang dihasilkan memuaskan. Dengan dibangunnya pasar ikan, pengunjung dapat merasakan experience membeli bahan baku secara langsung dan memasaknya di kantin yang disediakan di pulau. Desain rencana dari pasar ikan dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 2. Tampak Gazebo Jurnal Industri Pariwisata Vol 7. No. 2, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Gambar 3. Tampak Coffee Shop Gambar 4. Tampak Fish Market KESIMPULAN Kesimpulan adalah stasiun 3 Pulau Kelagian Besar memiliki kategori kesesuaian S2 . untuk ekowisata snorkeling dan diving dengan nilai 2,265 dan 2,475. Daya dukung kawasan ekowisata snorkeling stasiun 3 dapat menampung maksimal 109 orang Sedangkan untuk ekowisata diving, maksimal wistawan yang dapat ditampung sebesra 452 orang/hari. Sarana dan prasarana yang dapat diperbaiki atau dibangun antara lain gazebo, coffee shop dan fish market. Dengan dibangunnya sarana tersebut diharapkan dapat membantu menambah daya tarik dan daya jual Pulau Kelagian Besar. DAFTAR PUSTAKA