Vol 2 No. 1 Januari 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 81 - 88 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/wfrw62 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BEBICARA SISWA MELALUI PENERAPAN METODE STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SDN 11 CILEGON Aizahwa Nur Safitri a*. Desty Endrawati Subrotob Muhammad Baehaki c. Laily Fauziyah d . Ririn Maharani e a Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Aizahwans@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Provinsi Banten b Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Guru Sekolah Dasar, desty2. subroto@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Provinsi Banten / Pendidikan Guru Sekolah Dasar, mohammadbaehaki983@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Provinsi Banten d Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Guru Sekolah Dasar, lailyfauziyah50@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Provinsi Banten e Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Guru Sekolah Dasar, ririnmaharani265@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Provinsi Banten Korespondensi c Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan ABSTRACT Students lack of speaking ability is the background of this research. The goal is to improve students speaking skills through learning Indonesian by using the Student Facilitator and Explaining method. The approach used in this research is a descriptive qualitative approach to explain and explain in more detail related phenomena and examine more deeply from relevant references. Based on the observation, population of this study is 50 students in grade V of SDN 11 Cilegon. Students were more enthusiastic about learning to speak after using the method applied by the researcher, especially when explaining the picture. Thus. The implementation of the SAFAE method. method to students provides positive and significant results in the Indonesian language learning process. In conclusion, the implementation of this method in Indonesian language learning consistently improved student performance across sessions, as reflected in the increasing percentage of successful learning outcomes. Keywords: Method. Phenomena. Reference. Student Speech. Abstrak Kurangnya kemampuan siswa dalam berbicara menjadikan latar belakang pada penelitian ini. Tujuannya yaitu untuk meningatkan kemampuan berbicara siswa melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan strategi Student Facilitator and Explaining. cara yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif guna menjelaskan serta menerangkan lebih rinci terkait fenomena serta mengkaji lebih dalam dari rujukan yang relevan. Berdasarkan hasil pengamatan, populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 11 Cilegon yang berjumlah 50 siswa. Siswa lebih antusias dalam pembelajaran berbicara setelah menggunakan metode yang diterapkan oleh peneliti terutama saat menerangkan gambar. Dengan demikian, penerapan pembelajaan Student Facilitator and Explaining kepada siswa memberikan dampak positif dan signifikan terhadap proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Kesimpulannya, penerapan metode ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara konsisten meningkatkan kinerja siswa di semua sesi, sebagaimana tercermin dari meningkatnya persentase hasil belajar yang berhasil. Kata Kunci: Metode. Fenomena. Rujukan. Berbicara Siswa. Received November 25, 2024. Revised Desember 1, 2024. Accepted Januari 20, 2025. Published Januari 25, 2025 Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 PENDAHULUAN Pendidikan adalah salah satu pilar utama dalam mewujudkan suatu nilai-nilai kebangsaan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan murid, membantu mereka mengenali jati diri, serta membentuk karakter melewati tahap pembelajaran yang produktif, inovatif, tepat guna dan menarik. Untuk meraih orientasi ini dibutuhkan kegiatan belajar yang optimal dan produktif, terutama dalam pemahaman Bahasa Indonesia di tingkat SD. Sekolah menjadi fondasi utama bagi terciptanya masyarakat yang maju dan berkembang. Menurut Ulfah . , pendidikan adalah proses pembentukan karakter individu yang dilakukan secara sistematis dan sistemik. Secara sistematis, pendidikan dilaksanakan melalui tahapan yang terencana dan Sementara itu, secara sistemik, pendidikan melibatkan berbagai lingkungan, seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang saling melengkapi untuk mendukung pengembangan kepribadian peserta Firmansah et al. menambahkan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai upaya membantu peserta didik mengembangkan potensi mereka, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan dan kemajuan di masa depan. Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong manusia terus berkembang, menjadi individu yang berakal, dan memiliki identitas diri yang kuat. Menurut John S. Brubacher, sebagaimana dikutip oleh Helmawati, pendidikan adalah proses pengembangan suatu kemampuan manusia karena kebiasaan positif dan didukung oleh media pembelajaran, sehingga pendidikan dapat membantu individu, bermanfaat untuk individunya maupun individu lain guna mencapai sebuah tujuan (Ashari Hamzah et al. , 2. Belajar adalah proses berkelanjutan yang menjadi inti dari pelaksanaan pendidikan di setiap jenjang. Pengalaman belajar siswa menentukan pencapaian tujuan yang akan diperoleh baik dari lingkungan sekolah maupun keluarga. Oleh karena itu, pendidik perlu memiliki pemahaman mendalam mengenai esensi belajar, termasuk berbagai aspek, bentuk, dan manifestasinya, untuk mendukung proses pembelajaran secara Kemampuan berbicara yang baik menjadi salah satu elemen penting dalam keberhasilan belajar. Kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran banyak dialami oleh siswa yang belum memiliki kemampuan berbicara yang baik. Menyadari pentingnya belajar dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, berbagai langkah telah diambil untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi penyediaan fasilitas belajar, pelatihan guru untuk meningkatkan kompetensi, pelatihan penggunaan metode pembelajaran, pengadaan media pembelajaran, serta berbagai inisiatif lainnya yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga pendidikan. Menurut Hoerudin, 2021 dalam proses belajar Bahasa Indonesia siswa harus memiliki empat keterampilan anatara alain adalah mendengarkan, berkomunikasi, mempelajari, dan mencatat. Tetapi observasi ini terutama berkonsentrasi pada keterampilan berbicara. Menurut Hoerudin, 2010 keterampilan berbicara memiliki peran signifikan karena menjadi indikator kemampuan komunikatif siswa yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, di mana siswa diharapkan dapat berkomunikasi secara efektif untuk menciptakan interaksi yang baik selama kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kemampuan berbicara memungkinkan siswa untuk menyampaikan informasi atau menyatakan ketidakpahaman terhadap materi pelajaran, meskipun praktik tersebut masih jarang terlihat dalam pembelajaran sehari-hari. Secara umum, keterampilan berbicara dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menyampaikan pemikiran kepada orang lain memakai komunikasi langsung, sehingga maksud yang disampaikan mudah di mengerti dengan jelas oleh pendengar (Riris Nurkholidah Rambe et al. , 2. Bahasa merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia. Sihabuddin, sebagaimana dikutip oleh Hoerudin . , menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antarindividu yang memungkinkan manusia sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi. Selain itu, menurut Hoerudin . bahasa adalah alat komunikasi terbaik, karena dapat menyampaikan pikiran dan perasaan, baik yang konkret maupun abstrak. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kemampuan berkomunikasi yang baik menjadi semakin penting. Orang yang mahir berbahasa cenderung cepat memahami dan memberikan informasi, secara langsung ataupun tertulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting yaitu berbicara. Keberhasilan seseorang dalam karier, misalnya, sering kali bergantung pada kemampuan berbicara. Oleh karena itu, pembelajaran berbicara seharusnya termasuk kedalam pembelajaran untuk melatih siswa menguasai keterampilan ini. Di era JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 81 - 88 Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 globalisasi, kemampuan berbicara dalam bahasa Indonesia menjadi semakin penting, mengingat semakin banyaknya interaksi lintas budaya dan bahasa (Ely Trianasari et al. , 2. Menurut Djago Tarigan . , berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyampaikan pesan secara lisan, yang melibatkan penggunaan bahasa lisan atau komunikasi verbal untuk menyampaikan pesan secara langsung dan personal. Menurut KBBI edisi ketiga, seperti yang dikutip oleh Hoerudin . , keterampilan didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Dalam konteks bahasa, keterampilan mencakup kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan, seperti menulis, membaca, mendengarkan, dan Hoerudin . juga menegaskan bahwa berbicara dan bahasa merupakan dua hal yang saling terkait, karena berbicara selalu menggunakan bahasa sebagai sarana utama. Sementara itu. Tarigan . mendefinisikan berbicara sebagai kemampuan untuk mengucapkan bunyi yang digunakan untuk mengungkapkan dan menyampaikan pikiran, ide, serta perasaan. Berbicara adalah keterampilan yang memerlukan latihan terus-menerus. Tanpa latihan, seseorang yang cenderung pendiam akan terus merasa ragu untuk menyampaikan pendapatnya (Arifudin, 2. Dalam praktiknya, siswa sering kali mengalami kesulitan saat diminta oleh guru untuk mendongeng atau menceritakan kembali sebuah cerita di depan kelas. Hambatan-hambatan tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap materi, kesulitan dalam menyampaikan ide, kurangnya pengalaman berbicara di depan umum, atau rendahnya rasa percaya diri. Dengan demikian, siswa dapat menyampaikan ide atau cerita secara terstruktur dan bermakna. Jika sebelumnya guru lebih dominan berbicara sementara siswa hanya mendengarkan, menyimak, dan mencatat, maka peran guru kini harus lebih banyak Siswa perlu didorong untuk saling berinteraksi, berargumentasi, berdebat, dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran (Hidayat et al. , n. Berbicara memerlukan latihan terus-menerus. Tanpa latihan, seseorang yang cenderung pendiam akan terus merasa ragu untuk menyampaikan pendapatnya (Arifudin, 2. Dalam praktiknya, siswa sering kali menghadapi kesulitan saat diminta oleh guru untuk menceritakan kembali sebuah cerita di depan kelas. Kendala yang dihadapi bisa berupa kurangnya pemahaman terhadap materi, kesulitan dalam mengungkapkan ide, kurangnya pengalaman berbicara di depan umum, atau rendahnya rasa percaya diri. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk mendukung pengembangan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian, siswa dapat menyampaikan ide atau cerita secara terstruktur dan bermakna. Jika sebelumnya guru lebih dominan berbicara sementara siswa hanya mendengarkan, menyimak, dan mencatat, kini peran guru seharusnya lebih banyak mendengarkan. Siswa perlu didorong untuk saling berinteraksi, berargumentasi, berdebat, dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran (Yentri Nitatistik Nehe, 2023, n. Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining adalah metode di mana siswa berperan sebagai fasilitator dan menyampaikan atau mempresentasikan hasil ringkasan mereka, yang biasanya berupa peta konsep, kepada siswa lainnya. (SMA Negeri & Xvi, 2. Menurut Agus Suprijono . alam Puspita, 2. , metode ini memungkinkan siswa untuk membuat peta konsep atau diagram sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan hasil belajar juga mendorong siswa untuk berpikir kreatif, memfasilitasi pertukaran informasi yang lebih menarik dan mendalam, serta membantu membangun rasa percaya diri dalam mempresentasikan karya mereka. Menurut Imas Kurniasi dan Berlin Sani . alam Sudrajat, 2. , model pembelajaran Student Facilitator and Explaining terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dengan penjelasan dan demonstrasi oleh guru. Selanjutnya, siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan kembali materi kepada teman-temannya, dan proses tersebut diakhiri dengan penjelasan mendalam dari guru mengenai materi tersebut. Cara ini dimaksudkan guna membimbing murid dengan tujuan mampu menyampaikan ide atau gagasan mereka di depan kelas. Hasil penelitian mengenai pengaruh model SFAE ini efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara Berdasarkan berbagai pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa model ini berfokus pada siswa, melatih mereka untuk mempresentasikan ide atau pendapat di depan teman sekelas, serta mendukung kreativitas dan hasil belajar mereka melalui pembuatan peta konsep atau diagram. Upaya Peningkatan Kemampuan Bebicara Siswa Melalui Penerapan Metode Student Facilitator And Explaining Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sdn 11 Cilegon (Aizahwa Nur Safitr. Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 Ada beberapa alasan mengapa model SFAE relevan dan penting diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pertama, model ini berfokus pada siswa . tudent-centere. , yang memberikan mereka peran aktif dalam proses pembelajaran. Kedua, model ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbicara dan menyampaikan pendapat atau gagasan mereka di depan teman-teman sekelas (Yuliani dan Cecep Wahyu Hoerudin, 2. Menurut Shoimin . alam Aminulloh, 2. , model ini sangat tepat digunakan oleh guru karena dapat membantu siswa mengembangkan berbagai keterampilan, seperti berbicara, mendengarkan, dan memahami materi secara mendalam. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih interaktif, kreatif, dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Penyampaian materi oleh guru perlu metode yang sesuai dengan kondisi kelas atau karakteristik siswa agar pembelajaran lebih menarik. Namun, sejauh ini masih ada yang memakai cara tradisional yakni berfokus pada guru, sementara siswa sekadar menerima informasi. Demikian, perlu penerapan belajar yang menjadikan murid sebagai subjek produktif dalam proses belajar, dengan peran guru sebagai fasilitator. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah Student Facilitator and Explaining (SFAE). Menurut Taniredja . alam Simbolon, 2. , model SFAE memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan ide atau pendapat mereka kepada teman sekelas. Dalam model ini, guru mendorong siswa untuk mengungkapkan gagasan mereka berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh dari materi yang telah Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan aktif siswa, tetapi juga melatih keterampilan berbicara dan kemampuan berbagi pemahaman. Rendahnya kualitas hasil belajar sering kali terlihat dari prestasi siswa yang belum memenuhi standar kompetensi (Fitria, 2. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, hal ini dapat terlihat dari kendala pada aspek kebahasaan, seperti pelafalan bunyi yang kurang tepat, kesalahan intonasi, dan pemilihan kata yang tidak sesuai. Banyak siswa melakukan kesalahan saat berbicara di depan kelas karena mereka terbiasa melafalkan bunyi bahasa secara keliru tanpa mendapat koreksi. Selain itu, masalah intonasi dan pemilihan kata sering terjadi karena siswa jarang berlatih berbicara secara formal dengan menggunakan intonasi dan kosakata yang tepat. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang efektif, seperti model SFAE, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara siswa, tetapi juga membantu memperbaiki kebiasaan berbahasa mereka agar lebih akurat dan tepat. Masalah ini semakin diperburuk oleh masih dominannya penggunaan metode pembelajaran tradisional, seperti ceramah, yang minim memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan ide, pendapat, atau perasaan mereka. Pendekatan yang monoton membuat siswa menjadi pasif karena guru jarang menggunakan variasi dalam model pembelajaran atau membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Akibatnya, peran guru menjadi terlalu dominan, yang membuat siswa merasa bosan dan berdampak pada penurunan prestasi belajar mereka. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, permasalahan semakin kompleks karena banyaknya materi yang harus dipelajari serta metode penyampaian guru yang kurang menarik. Hal ini menyebabkan siswa kesulitan memahami pelajaran, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia sering kali dianggap sebagai tantangan, untuk menemukan solusi yang efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa melalui pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan melibatkan partisipasi aktif siswa. Model pembelajaran adalah rencana atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau tutorial (Trianto, 2. Menurut Fairus Sintawati et al. , berbicara merupakan aktivitas penting dalam kehidupan manusia, karena melalui berbicara seseorang dapat menyampaikan keinginan atau gagasan yang ada dalam pikirannya. TINJAUAN PUSTAKA 1 Pembelajaran Bahasa Indonesia Dan Kemampuan Berbicara Menurut Hoerudin . , keterampilan berbicara mempunyai fungsi penting selaku indikator kemampuan komunikasi siswa, dimana keterampilan pembelajaran bahasa indonesia ada 4 aspek yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Salah satu aspek yang dibahas yaitu aspek berbicara, sehingga keterampilan ini sangat krusial dalam proses pembelajaran, karena siswa diharapkan dapat berkomunikasi dengan baik untuk menciptakan interaksi yang efektif selama kegiatan belajar mengajar. Selain itu, keterampilan berbicara JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 81 - 88 Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 memungkinkan siswa untuk menyampaikan informasi atau mengungkapkan ketidakpahaman mereka terhadap materi pelajaran, meskipun hal ini masih jarang ditemukan dalam praktik pembelajaran. 2 Metode Student Facilitator And Explaining (SFAE) Student Facilitator and Explaining (SFAE) adalah model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dengan tujuan meningkatkan pemahaman mereka tentang materi (Shoimin. Menurut Hoerudin . , model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan ide atau pendapat mereka kepada teman sekelas mereka. Ini telah terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan berbicara siswa sekaligus mendorong mereka untuk mengekspresikan pikiran mereka secara Salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang berfokus pada kerangka kerja tertentu yang dimaksudkan untuk memengaruhi pola keterlibatan siswa dan meningkatkan pemahaman mereka tentang materi adalah Fasilitator Siswa dan Model Pembelajaran Menjelaskan. (Fairus Sintawati. Ratih Ayu Wulandari. Peni Astuti. Ulinuha Dahlina. Desty Subroto, n. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi metode Fasilitator dan Penjelasan Mahasiswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai upaya peningkatan kemampuan berbicara siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Menurut Ulfah . , penelitian deskriptif-analitis adalah studi empiris yang mengkaji fenomena atau isu spesifik dalam konteks kehidupan Sumber informasi diperoleh dari sumber utama dan pendukung. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Pendekatan kualitatif, menurut Bogdan dan Taylor . ikutip dalam Arifudin, 2. , yaitu observasi yang membuat informasi rinci berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku yang dapat diamati. Dikutip dari Rahayu . , metode ini melibatkan pengkodean dan transkripsi data untuk mempermudah interpretasi dan pengambilan kesimpulan. cara mengumpulkan infomasi yang dipakai observasi ini begitu untuk memastikan keabsahan ilmiah. Teknik ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi, sebagaimana didefinisikan oleh Hanafiah . , adalah proses penelitian yang dilakukan secara langsung terhadap fenomena yang akan diteliti. Dengan metode ini, peneliti dapat mengamati dan merasakan kondisi dan suasana subjek penelitian secara langsung (Haris, 2. Fokus observasi dalam penelitian ini adalah penerapan metode Student Facilitator and Explaining dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Metode wawancara yaitu diterapkan dalam riset ini yaitu wawancara sistematis, mengikuti pedoman yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertanyaan wawancara dirumuskan berdasarkan kebutuhan informasi yang relevan dan dirancang untuk mendapatkan data empiris yang diperlukan (Hoerudin, 2. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan catatan atau dokumen tertulis yang ada (Ulfah, 2. Istilah "dokumentasi" berasal dari kata "dokumen", mengacu pada materi tertulis. Dalam metode ini, peneliti memeriksa berbagai item tertulis, seperti buku, majalah, notulen rapat, dan buku harian. Moleong . eperti dikutip dalam Fitria, 2. menjelaskan bahwa dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui tinjauan arsip dan dokumen. Strategi ini digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan subjek penelitian. Dalam konteks penelitian ini, dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai penerapan metode Fasilitator Mahasiswa dan Penjelasan dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Menurut Muhadjir . eperti dikutip dalam Hoerudin, 2. , analisis data adalah proses mengumpulkan, mencari, dan menyusun temuan penelitian secara sistematis melalui observasi dan wawancara, sehingga peneliti dapat fokus pada topik yang diselidik. Temuan tersebut kemudian diproses, diklasifikasikan, dan disajikan untuk digunakan oleh orang lain. Table1. Jenis Pertanyaan Jawaban Bagaimana kondisi 1. Siswa kurang percaya Pra wawancara diri dan bingung berbicara siswa?. Menyusun kata-kata. Apa metode yang 2. Metode ceramah dan digunakan saat ini?. tanya jawab. Kesimpulan Siswa membutuhkan metode pembelajaran Upaya Peningkatan Kemampuan Bebicara Siswa Melalui Penerapan Metode Student Facilitator And Explaining Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sdn 11 Cilegon (Aizahwa Nur Safitr. Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 Selama Pasca Bagaimana respons 1. metode SFAE?. Apa tantangan dalam 2. Siswa merasa lebih percaya diri dan senang berdiskusi. Beberapa siswa masih malu berbicara di depan kelas. Bagaimana kemampuan siswa?. Apakah metode ini Siswa percaya diri saat Ya,metode memberikan manfaat besar bagi siswa. Metode kurang efektif keterampilan berbicara. Metode ini efektif keaktifan siswa. Dukungan tambahan diperlukan untuk siswa yang pemalu. Peningkatan signifikan Metode HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah mengumpulkan nilai hasil belajar siswa langkah berikutnya adalah memeriksa apakah metode pengajaran SFAE mempengaruhi keterampilan berbicara murid setelah mengumpulkan hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sebelum dan setelah diterapkan. Menurut Nursiah . ikutip oleh Nurbaeti, 2. Siswa yang mahir berbicara akan lebih mudah dipahami oleh Menurut Pateda . ikutip oleh Hoerudin, 2. , kesalahan berbicara dapat disebabkan oleh pelafalan bunyi yang salah, pemilihan kalimat atau penyebutan yang kurang pas, menggunakan kata yang tidak jelas, mengungkapkan gagasan yang kurang jelas, dan kesalahan dalam rangkaian kata. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa berbicara aktif dan menyampaikan pesan atau informasi secara lisan adalah solusi untuk masalah ini. Keputusan untuk menerapkan pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) didasarkan dari fakta bahwa model ini belum digunakan dan dianggap sesuai untuk menangani masalah yang dihadapi sekolah. 1 Model Student Facilitator And Explaining (SFAE) Gaya pebelajaran aktif SFAE adalah pendekatan kolaboratif yang memungkinkan guru untuk mengurangi dominasi peran mereka dalam proses pembelajaran. Dengan menerapkan kerja sama, siswa diharapkan dapat secara aktif memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui pengalaman mereka sendiri (Heryati. Pendapat ini sejalan dengan Shoimin . ikutip oleh Supriani, 2. , yang menyatakan bahwa SFAE adalah bentuk pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi antar siswa, dengan tujuan utama meningkatkan penguasaan materi. Penerapan model ini juga bertujuan untuk memperbanyak pengalaman belajar siswa dan meningkatkan motivasi mereka, yang pada gilirannya mendorong keaktifan dalam proses pembelajaran. Suprijono . ikutip oleh Hanafiah, 2. menjelaskan bahwa model SFAE melibatkan siswa dalam mempresentasikan ide atau pendapat mereka kepada teman-teman sekelas. Metode ini efektif dalam melatih keterampilan berbicara siswa, memungkinkan mereka untuk menyampaikan ide, gagasan, atau pendapat secara mandiri. Sementara itu. Uno . ikutip oleh Ulfah, 2. menyebutkan bahwa SFAE membantu siswa menguasai berbagai keterampilan, seperti berbicara, pemahaman terhadap teks bacaan, serta menerima ide dan mengembangkan kemampuan komunikasi. Dari definisi diatas, disimpulkan bahwa Student Facilitator and Explaining (SFAE) adalah model pembelajaran interaktif yang mendorong murid untuk menampilkan hasil pemikiran atau masukan mereka mengenai topik pembelajaran kepada teman-teman sekelas, sehingga meningkatkan keterampilan berbicara dan interaksi mereka. 2 Keterampilan Berbicara Kemampuan seseorang dalam ranah tertentu diperoleh dalam belajar dan pelatihan yang efektif, serta kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dikenal sebagai keterampilan (Arifudin, 2. Menurut Asri & Saud, dikutip oleh Ulfah . , keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 81 - 88 Aizahwa Nur Safitri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 81 Ae 88 untuk menggunakan bahasa untuk membaca, menulis, mendengarkan, atau berbicara, yang diperoleh melalui Salah satu keterampilan berbahasa yang produktif adalah berbicara, di mana pembicara dapat menyampaikan ide, pikiran, atau perasaan kepada orang lain. Sebagaimana dikutip oleh Fairus Sintawati. Ratih Ayu Wulandari. Peni Astuti. Ulinuha Dahlina, dan Desty Endrawati Subroto . , berbicara adalah keterampilan dalam mengucapkan bunyi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyampaikan, dan mengungkapkan pikiran, ide, dan perasaan. Menurut Tarigan . , keterampilan ini sangat perlu bagi murid, dalam kehidupan mereka selalu terlibat dalam komunikasi verbal, termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Ngalimun . ikutip dalam Mawati, 2. menyatakan bahwa keterampilan berbicara sangat perlu untuk menciptakan kerjasama dan interaksi dua arah, di mana bahasa berfungsi menjadi alat komunikasi. Aktivitas berbicara di dalam kelas memiliki peran sebagai sarana komunikasi dua arah. Berdasarkan berbagai pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk merangkai kata dan membagikan informasi, ide, atau rasa kepada orang lain. 3 Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia Pembelajaran bahasa untuk Tingkat SD bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Pembelajaran ini meliputi keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Menurut Rahman . , pembelajaran bahasa sangat utama karena kemampuan dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting bagi seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah (Hadiansah, 2. Negah . ikutip dalam Siregar, 2. mengatakan bahwa kemampuan berbahasa memengaruhi perkembangan emosi, perilaku, dan hubungan sosial anak. Maksud pembelajaran bahasa Indonesia yaitu mendukung murid menjadi lebih berkembang dalam berbicara secara efektif, baik secara verbal maupun tulisan. Menurut Fatimah . ikutip dalam Supriani, 2. harapan pembelajaran ini yaitu membuat murid menghargai karya sasta Indonesia. Bahasa Indonesia diajarkan dalam empat aspek: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Sehingga. Bahasa dapat digunakan sebagai alat komunikasi lisan dan tulisan di berbagai lembaga pendidikan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi selama pembelajaran, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran SFAE dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan memberikan kesempatan bagi siswa kelas V SD Negeri 11 Cilegon untuk menyampaikan ide atau pendapat mereka mengenai materi yang sedang dipelajari di depan kelas, sementara guru menilai keterampilan berbicara siswa saat mereka mengemukakan pendapat tersebut. Terbukti bahwa pembelajaran bahasa Indonesia melalui metode SFAE dapat meningkatkan aktivitas dan proses belajar siswa serta meningkatkan keterampilan berbicara mereka. Sebagai rekomendasi, peneliti menyarankan agar guru, terutama pendidik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia agar lebih kreatif dalam menerapkan metode pembelajaran yang inovatif guna mendukung proses pembelajaran dan meningkatkan partisipasi siswa. Selain itu, guru perlu memperhatikan situasi dan kondisi siswa agar harapan pembelajaran dapat terwujud dengan maksimal. Contohnya yaitu diterapkan adalah model belajar SFAE, yang dapat mengaktifkan murid, baik untuk individu maupun juga dalam kelompok, selama proses pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA