R. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. FRAUD HEXAGON THEORY DALAM MENDETEKSI FRAUDULENT FINANCIAL STATEMENT Oleh: Rita Sugiarti Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI Email: ritasugiarti1201@gmail. ABSTRACT Fraudulent financial statement is an important issue in the business world. So that theories related to fraud are also always researched and developed. The latest development of fraud theory is the discovery of Fraud Hexagon Theory by Vousinas . This study aims to prove empirical evidence regarding the effect of Fraud Hexagon Theory on fraudulent financial statement. The hypotheses in the study is built based on that theory. Public listed companies included in the building construction sub-sector became research samples which were then selected based on purposive sampling, the final sample amounted to 15 companies with 5 years of research . Firm-Yea. Balance panel data obtained was processed using E-Views Version 10. The results prove that external pressure, opportunity, and collution have a significant positive effect on fraudulent financial statement. While internal pressure, rationalization, capability, and arrogance do not affect fraudulent financial The results of this study are expected to provide benefits to the company as a consideration in decision making, especially related to financial statement Keywords: Financial Statements. Fraud Hexagon Theory. Fraudulent Financial Statements Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. ABSTRAK Kecurangan laporan keuangan masih menjadi isu penting dalam dunia bisnis. Sehingga teori-teori yang berkaitan dengan fraud juga selalu diteliti dan mengalami Perkembangan terbaru dari teori fraud adalah ditemukannya Fraud Hexagon Theory oleh Vousinas . Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bukti empiris mengenai pengaruh Fraud Hexagon Theory terhadap kecurangan laporan keuangan. Hipotesis dibangun berdasarkan teori tersebut. Perusahaan go public yang termasuk dalam sub sektor konstruksi bangunan menjadi sampel penelitian yang kemudian dipilih berdasarkan purposive sampling, sampel akhir berjumlah 15 perusahaan dengan 5 tahun penelitian . PerusahaanTahu. Balance data panel yang diperoleh diolah menggunakan E-Views Versi 10. Hasil penelitian membuktikan bahwa pressure eksternal, opportunity, dan collution berpengaruh positif signifikan terhadap fraud laporan keuangan. Sedangkan pressure internal, rationalization, capability, dan arrogance tidak berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama berkaitan dengan kecurangan laporan keuangan. Kata Kunci: Fraud Hexagon Theory. Fraud Laporan Keuangan. Laporan Keuangan PENDAHULUAN Fraud masih menjadi salah satu masalah yang terus ada dalam organisasi. Fraud merupakan masalah global yang dihadapi oleh semua organisasi di seluruh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) pada tahun 2020 mendefinisikan fraud sebagai tindakan penipuan atau pemberian informasi keliru yang dilakukan secara sengaja oleh individu atau organisasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan menyebabkan kerugian finansial bagi pihak lain (ACFE Global, 2. (Bancin & Baihaqi, 2. menyatakan bahwa fraud adalah tindakan illegal yang sengaja dilakukan oleh satu atau lebih individu dengan menyembunyikan kebenaran yang merugikan orang lain. Fraud dapat dilakukan dengan berbagai jenis. ACFE mengelompokkan fraud dalam tiga bagian utama yaitu penyalahgunaan aset . sset misappropriatio. , korupsi . , dan kecurangan laporan keuangan . raudulent financial statemen. Kecurangan laporan keuangan adalah tindakan yang sengaja dilakukan atau kelalaian yang mengakibatkan salah saji material sehingga menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan (Bancin & Baihaqi, 2. Fraud dapat terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan ACFE tahun 2020. Indonesia memiliki 36 kasus fraud yang terjadi sepanjang tahun 2019. Dengan jumlah tersebut. Indonesia menduduki negara R. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 tertinggi dengan kasus fraud terbanyak di Asia Pasifik (ACFE, 2. Meskipun demikian, (Ruankaew, 2. menyatakan bahwa sebelum melakukan upaya untuk mengurangi fraud, diperlukan identifikasi untuk mengetahui penyebab seseorang melakukan fraud dengan mengetahui siapa, kapan, dan bagaimana fraud tersebut Banyak teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab seseorang melakukan fraud. Salah satu teori yang paling banyak dikutip adalah Fraud Triangle Theory (FTT) yang kemudian mengalami perkembangan secara Perkembangan terbaru dari FTT adalah dengan diperkenalkannya Fraud Hexagon Theory (FHT) oleh Georgios L. Vousinas tahun 2019. FHT menambahkan satu faktor tambahan yaitu Collusion atau kolusi. Menurutnya kolusi merupakan salah satu faktor penting yang dapat memotivasi seseorang untuk melakukan fraud. Kolusi itu sendiri mengacu pada kerjasama dua orang atau lebih untuk melakukan penipuan dengan tujuan yang tidak baik dan merugikan pihak lain (Vousinas. Dengan adanya praktik kolusi, seseorang akan lebih mudah dalam mengakses informasi-informasi penting perusahaan karena memiliki AulinkAy yang dijadikan sebagai jembatan untuk melakukan fraud demi memperkaya dirinya Meskipun, praktik fraud semakin meluas dan memiliki dampak yang signifkan, penelitian-penelitian mengenai fraud juga mengalami peningkatan (Free. Literatur review yang dilakukan oleh beberapa peneliti bertujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan teori fraud berjalan misalnya (Free, 2015. Homer, 2020. Ruankaew, 2. (Ruankaew, 2. mengatakan bahwa isu yang berkaitan dengan fraud selalu meningkat dari waktu ke waktu dan dapat terjadi pada setiap perusahaan sehingga teori fraud masih dianggap topik penting dalam penelitian untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada perusahaan agar terhindar dari fraud. (Homer, 2. menyarankan untuk melakukan pengujian teori fraud secara empiris. Beberapa penelitian empiris sebenarnya telah dilakukan untuk menguji teori fraud misalnya (Bancin & Baihaqi, 2023. Duffin & Djohan, 2022. Fitriyah & Novita, 2021. Khamainy et al. , 2022. Maryani et al. , 2022. Mohamed et , 2021. Omukaga, 2020. Ramadhan, 2020. Umar et al. , 2. Namun, hasil penelitian empiris yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang beragam. Lebih lanjut, (Vousinas, 2. telah mengembangkan model fraud yang berfungsi sebagai tolok ukur teoritis namun pada penelitiannya tidak dilakukan pengujian secara Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tambahan bukti empiris mengenai penerapan komponen-komponen Fraud Hexagon Theory dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. KAJIAN PUSTAKA Fraud Triangle Theory (FTT) Fraud Triangle Theory pertama kali diperkenalkan oleh Donald Cressey Menurut teori ini, seseorang dapat melakukan kecurangan karena tiga alasan yaitu pressure, opportunity, dan rationalization. Pressure mengarah pada tekanan yang dimiliki seseorang karena adanya kebutuhan baik yang berkaitan dengan keuangan maupun non-keuangan. Kondisi yang mendesak inilah yang memunculkan keberanian untuk melakukan kecurangan. Opportunity muncul karena adanya sistem pengendalian atau tata kelola yang tidak efektif sehingga memungkinkan seseorang untuk melakukan fraud (Abdullahi & Mansor, 2. Rationalization merupakan pemikiran yang mengarah pada pembenaran atau seseorang yang merasa tindakannya benar saat melakukan fraud. (Omukaga, 2. menjelaskan bahwa pelaku fraud akan AumembingkaiAy sebuah rasionalisasi dan mencoba membenarkan bahwa perilaku tidak etis bukan kegiatan criminal. Fraud Diamond Theory (FDT) Perkembangan pertama dari FTT adalah munculnya FDT. FDT pertama kali diperkenalkan oleh Wolfe dan Hermanson dalam CPA Journal pada bulan Desember 2004. (Wolfe & Hermanson, 2. menyatakan bahwa meskipun pressure selalu berdampingan dengan opportunity dan rationalization, namun fraud tidak akan terjadi tanpa adanya elemen keempat yaitu Capability. Capability berarti kapasitas atau kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan fraud. Dengan kata lain, pelaku fraud harus memiliki skill dan ability dalam melakukan tindak kecurangan. Fraud Pentagon Theory Crowe Horwath pada tahun 2011 mengembangkan FPT dengan menambahkan satu elemen lain yang dapat membuat seseorang melakukan fraud. Elemen tersebut adalah Arrogance. Arrogance merupakan sebuah sikap superioritas yang dimiliki seseorang sehingga menimbulkan keserakahan dan mereka percaya bahwa aturan dalam perusahaan tidak berlaku baginya (Binus, (Nindito, 2. menyatakan bahwa tingkat arogansi adalah suatu kondisi dimana suatu manajemen atas kesombongannya tidak mematuhi pengendalian internal yang ada pada suatu perusahaan karena alasan status dan jabatan. Teori fraud menurut (Horwath, 2. ini dikenal dengan Fraud Pentagon Theory (FPT). Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 Fraud Hexagon Theory (FHT) Fraud Hexagon Theory merupakan perkembangan terbaru dari teori fraud yang telah ada sebelumnya yaitu fraud triangle theory (Cressey, 1. , fraud diamond theory (Wolfe & Hermanson, 2. , fraud pentagon theory (Horwath. FHT dikembangkan dan diperkenalkan oleh (Vousinas, 2. FHT menambahkan satu elemen tambahan yaitu collusion, sehingga FHT terdiri dari 6 elemen utama yaitu Stimulus (Pressur. Opportunity. Rationalization. Capability. Ego (Arroganc. , dan Collusion. Collusion merujuk pada perjanjian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk melakukan penipuan dan tindakan tidak baik sehingga dapat memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri dan merugikan orang lain (Binus, 2. Pengaruh Pressure terhadap Fraudulent Financial Statement Setiap perusahaan tentu memiliki target-target yang akan dicapai termasuk salah satunya adalah target keuangan. Semakin besar target keuangan yang diharapkan maka semakin besar pressure yang dihadapi manajemen atau karyawan dalam perusahaan tersebut. Secara teoritis, seseorang akan melakukan berbagai cara untuk keluar dari pressure tersebut termasuk melakukan fraud (Akbar, 2. Manajemen dapat mencapai kinerja maksimal dengan melakukan tindakan oportunistik yaitu kecurangan laporan keuangan demi mencapai target keuangan yang diharapkan (Devi et al. , 2. Manajemen juga dituntut untuk mengelola aset dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan besar dan menghasilkan return yang tinggi bagi investor. Aset yang dikelola biasanya menunjukkan tingkat stabilitas keuangan. Perusahaan yang memiliki total aset yang besar lebih mampu memberikan tingkat return yang tinggi kepada investor. Jika total aset perusahaan menurun maka dapat menyebabkan investor kehilangan minat karena dianggap kondisi perusahaan tidak stabil dan tidak dapat berjalan dengan baik (Achmad et , 2. Tingkat pressure yang dihadapi manajemen tidak hanya berasal dari kondisi internal perusahaan, tetapi juga berasal dari eksternal. Tekanan eksternal terjadi ketika bisnis mengalami kesulitan membayar utang kredit berisiko tinggi. Semakin besar risiko kredit yang dihadapi perusahaan, semakin sulit kreditor memberi Hal tersebut dapat memberikan tekanan bagi manajemen agar bisa menjaga tingkat utang yang dimiliki sehingga perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam melunasi kewajibannya. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pressure berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan ((Priharta et al. , 2. (Omukaga, 2. (Umar et al. , 2. (Fitriyah & Novita, 2. (Bancin & Baihaqi, 2. Semakin besar pressure yang dihadapi maka semakin besar kemungkinan seseorang melakukan fraud (Mohamed et al. , 2. Namun (Achmad et al. , 2. menemukan bahwa hanya tekanan eksternal yang dapat Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 mendorong manejemen melakukan fraud, sedangkan tekanan internal yaitu target dan stabilitas keuangan tidak berpengaruh. H1a : Tekanan internal berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan H1b : Tekanan eksternal berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan Pengaruh Opportunity terhadap Fraudulent Financial Statement Opportunity atau peluang biasanya muncul dari lemahnya sistem pengendalian internal atau tata kelola yang tidak efektif sehingga memungkinkan seseorang untuk melakukan (Abdullahi & Mansor, 2015. Haqq & Budiwitjaksono. Hal tersebut dapat terjadi karena manajemen beranggapan jika sistem pengendalian internal lemah maka pengawasan dan peraturan yang berlaku didalam perusahaan tidak begitu ketat sehingga mereka dapat dengan leluasa melakuan fraud tanpa khawatir tindakannya akan terdeteksi. Untuk mengejar kepentingan sendiri, seorang individu akan melakukan fraud jika mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya atau ketika ada pengawasan yang lemah dalam sebuah perusahaan (Devi et al. , 2. Banyak manajemen perusahaan yang melakukan manipulasi laporan keuangan karena mereka tidak diawasi dengan baik. Beberapa peneliti telah membuktikan adanya pengaruh opportunity terhadap kecurangan laporan keuangan misalnya (Bancin & Baihaqi, 2023. Duffin & Djohan, 2022. Fitriyah & Novita, 2021. Khamainy et al. , 2022. Maryani et al. , 2. Secara teoritis dapat disimpulkan bahwa dengan sistem control yang lemah biasanya mengarah pada lemahnya pengawasan atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan sehingga memungkin mereka untuk bertindak sesuai dengan kepentingannya masing-masing bukan untuk kepentingan perusahaan. H2 : Opportunity berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan Pengaruh Rationalization terhadap Fraudulent Financial Statement Elemen ketiga dari fraud hexagon theory adalah adanya rasionalisasi. Konsep ini berpendapat bahwa seseorang yang bertindak tidak etis akan AumembingkaiAy semacam rasionalisasi yang menerima segala bentuk perilaku kecurangan atau tidak Seorang individu yang melakukan kecurangan biasanya memiliki pemikiran atau rasionalissasi yang memandang bahwa tindakan fraud yang mereka lakukan adalah AulegalAy dan bukan merupakan sesuatu yang menyimpang. Pelaku kecurangan juga akan membenarkan tindakannya sebagai sesuatu yang etis. Dengan kata lain, rasionalisasi memungkinkan pelaku fraud melihat tindakan ilegalnya dapat diterima (Ruankaew, 2. (Mohamed et al. , 2021. Umar et al. menemukan adanya pengaruh signifikan variable rasionalisasi terhadap fraud laporan keuangan. Fraud laporan keuangan dapat terjadi jika pelaku memiliki R. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 rasionalisasi yang beranggapan bahwa tindakan curang yang dilakukan sah-sah saja dan bukan merupakan sesuatu yang dianggap salah. H3 : Rasionalisasi berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan Pengaruh Capability terhadap Fraudulent Financial Statement Menurut (Wolfe & Hermanson, 2. capability dalam hal ini dapat berupa posisi, kecerdasan, paksaan dan lain sebagainya yang dapat memperkuat mereka dalam bertindak atau pengambilan keputusan. Seseorang dengan capability dapat dengan mudah memahami pengendalian internal yang diterapkan dalam perusahaan yang kemudian mereka akan menganalisis kelemahan dan menggunakannya untuk merencanakan tindakan fraud. (Umar et al. , 2. berpendapat bahwa karywan dengan capability yang baik dapat menembus pengendalian internal, menciptakan strategi untuk melakukan fraud dan mampu mengendalikan situasi social yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Pendapat tersebut didukung oleh (Mohamed et al. , 2. yang menyatakan pelaku fraud cukup pandai dalam mengenali dan memanipulasi kerentanan pengendalian internal perusahaan dengan memanfaatkan posisi, fungsi, atau akses yang mereka miliki. Pendapat tersebut juga kemudian dibuktikan dengan hasil penelitiannya yang menemukan bahwa capability yang dimiliki dapat mendorong seseorang melakukan fraud laporan keuangan. Hasil penelitian serupa juga diperoleh beberapa peneliti misalnya (Devi et al. , 2021. Omukaga, 2. Dapat disimpulkan bahwa kecurangan laporan keuangan dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki skil dan kemampuan untuk melakukannya. H4 : Capability berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan Pengaruh Arrogance terhadap Fraudulent Financial Statement Menurut FPT, terdapat satu faktor tambahan yang memicu seseorang untuk melakukan fraud yaitu Arrogance. (Ramadhan, 2. menyatakan fraud dapat terjadi karena adanya keserakahan dan arogansi untuk memenuhi gaya hidup yang Seorang individu yang memiliki sifat narsistik lebih cenderung melakukan fraud karena keserakahan mereka untuk mendominasi dan mempertahankan harga diri (Vousinas, 2. Lebih lanjut, (Mohamed et al. , 2. menyatakan bahwa seseorang yang miliki tingkat ego dan kepercayaan diri yang tinggi ingin selalu tampil lebih unggul dengan melakukan berbagai cara termasuk melakukan fraud. Semakin tinggi tingkat arogansi yang dimiliki maka akan semakin memungkinkan seseorang untuk melakukan fraud karena dengan arogansi dan superioritas yang dimiliki dapat membuat sistem pengendalian internal perusahaan tidak berlaku baginya karena status dan jabatan yang dimiliki (Haqq & Budiwitjaksono, 2. Beberapa peneliti telah membuktikan adanya pengaruh arrogance terhadap fraud Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 laporan keuangan sebagaimana yang dinyatakan oleh (Bawekes et al. , 2018. Mohamed et al. , 2. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa arrogance berpengaruh positif terhadap fraud laporan keuangan. H5 : Arrogance berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan Pengaruh Collution terhadap Fraudulent Financial Statement Collution atau kolusi merupakan faktor terbaru yang ditambahkan dalam teori Menurut (Vousinas, 2. , berdasarkan fraud triangle theory individu yang melakukan fraud biasanya bertindak secara individual, namun penipuan-penipuan besar seperti Enron. Worldcom dan Parmalat, membenarkan bahwa kolusi merupakan elemen utama dalam banyak penipuan dan kejahatan kerah putih. Kebanyakan penipuan tersebut melibatkan banyak anggota organisasi. Kolusi itu sendiri merupakan perjanjian antara dua orang atau lebih untuk melakukan penipuan yang mana satu pihak bertindak untuk pihak lain demi memperoleh keuntungan pribadi. Perusahaan yang memiliki koneksi yang kuat dapat memperoleh keistimewaan yang dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan (Achmad et al. , 2. Dengan adanya kolusi, manajemen perusahaan juga dapat memanfaatkan kenyamanan dan hak Istimewa dalam melakukan kecurangan dan manipulasi pelaporan keuangan. Beberapa peneliti seperti (Aviantara, 2021. Duffin & Djohan, 2022. Khamainy et al. , 2. menemukan adanya pengaruh kolusi dengan fraud laporan keuangan. Perusahaan yang memiliki banyak koneksi misalnya dengan pemerintah akan lebih memungkinkan untuk melakukan H6 : Collution berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Sampel penelitian adalah perusahaan yang termasuk dalam sub sektor kontruksi bangunan Bursa Efek Indonesia yang terdiri dari 21 perusahaan, namun hanya 15 perusahaan yang memenuhi kriteria yaitu memiliki kelengkapan data yang dibutuhkan. Tahun penelitian mulai dari 2017 sampai 2021. Analisis data terdiri dari statistik deskriptif, pengujian model estimasi, uji multikolinearitas, dan uji hipotesis. Model penelitian yang digunakan sebagai berikut. EMit = 0 1INTit 2EKSit 3OPPit 4RATit 5CAPit 6ARRit 7COLit A Di mana EM merupakan variabel dependen yang menjelaskan Manajemen INT merupakan variabel yang menjelaskan Tekanan internal. EKS sebagai variabel yang menjelaskan Tekanan eksternal. OPP merupakan variabel yang menjelaskan Peluang. RAT merupakan variabel yang menjelaskan Rasionalisasi. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 CAP merupakana vairiabel yang menjelaskan Kapabilitas. ARR merupakan variabel yang menjelaskan Arogan. COL merupakan variabel yang menjelaskan Kolusi. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Setelah data penelitian terkumpul, kemudian data diolah menggunakan EViews versi 10. Tabel 1 adalah statistik deskriptif atas data yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan tabel tersebut, dapat terlihat nilai EM terendah -1,40, tertinggi 1,27, dan rata-rata -0,0856. Nilai INT diperoleh nilai minimal -0,86, maksimal 7,15 dengan rata-rata 0,1641. EKS memiliki nilai minimal 0,00, maksimal 0,50 dan rata-rata 0,1547. OPP nilai minimal 0,25, maksimal 1,00, dan rata-rata 0,6540. Sedangkan RAT. CAP. ARR, dan COL merupakan variabel dummy yang nilai minimalnya adalah 0 dan maksimal 1. Tabel 1. Statistik Deskriptif EM (Y) INT (X1. EKS (X1. OPP (X. RAT (X. CAP (X. ARR (X. COL (X. Range Min. Max. Sum 2,67 -1,40 1,27 -6,42 8,02 -0,86 7,15 12,31 0,50 0,00 0,50 11,60 1,75 0,25 1,00 49,05 Sumber: Data diolah peneliti . Mean -0,0856 0,1641 0,1547 0,6540 0,16 0,63 0,87 0,89 Std. Dev 0,40786 0,86932 0,12272 0,30892 0,369 0,487 0,342 0,311 Uji Multikolinearitas Berikut adalah hasil Uji Multikolinearitas dalam penelitian ini. Tabel 2. Uji Multikolinearitas Variabel INT EKS RAT VIF Variabel 1,395085 CAP 1,061122 ARR 1,166104 COL 1,158824 Sumber: Data diolah peneliti. VIF 1,212797 1,077300 1,125203 Berdasarkan tabel diatas, nilai VIF masing-masing variabel tidak ada yang lebih dari 10 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi gejala multikolinearitas. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 Uji Hipotesis Sebelum melakukan pengujian hipotesis, penelitian ini telah melakukan pengujian model estimasi dengan menghasilkan Common Effect Model sebagai model estimasi terbaik yang dapat digunakan sebagai analisis. Selanjutnya, hasil pengujian hipotesis ditampilkan dalam tabel berikut ini. Tabel 3. Hasil Pengujian Hipotesis Variabel Coef. Sig. Constant 6,6995 INT -0,341196 0,3858 EKS 0,181193 0,0013*** OPP 0,467884 0,0015*** RAT 0,281866 0,0505 CAP -0,032532 0,7082 ARR -0,015011 0,8663 COL 0,373027 0,0090*** Adjusted R-Squared 0,2667 Prob (FStatistic. 0,000*** Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa INT . ekanan interna. menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,3858 > 0,05 yang berarti tekanan internal tidak mempengaruhi perusahaan dalam melakukan fraud laporan keuangan. Variabel EKS . ekanan eksterna. memiliki nilai signifikansi 0,0013 < 0,05 dengan koefisien sebesar 0,181193 yang berarti tekanan eksternal mempengaruhi perusahaan melakukan fraud, semakin besar tekanan eksternal yang didapatkan perusahaan maka semakin memungkinkan perusahaan untuk memanipulasi laporan keuangan. Kemudian, variabel OPP . menunjukkan nilai signifikansi 0,0015 dengan koefisien 0,467884 yang berarti rasionalisasi berpengaruh positif terhadap fraud laporan keuangan. Untuk nilai signifikansi variabel RAT . sebesar 0,0505. CAP . sebesar 0,7082, dan ARR . sebesar 0,8663 yang mana ketiga nilai tersebut lebih besar dari nilai probabilitas = 0,05 sehingga variabel rationalization, capability, dan arrogance tidak berpengaruh terhadap fraud laporan keuangan. COL . menunjukkan nilai signifikansi 0,0090 dan koefisien sebesar 0,3730 yang berarti bahwa collution berpengaruh positif terhadap kecurangan laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan. Dari tabel diatas juga terlihat nilai Adjusted R-Square sebesar 0,2667 yang berarti variabel independen yang digunakan dalam penelitian mempengaruhi variabel dependen sebesar 26,67% sedangkan sisanya 73,33% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 Pengaruh Tekanan Internal terhadap Fraud Laporan Keuangan Nilai signifikansi untuk variabel tekanan internal sebesar 0,3858 > 0,05 yang berarti tekanan internal tidak berpengaruh terhadap fraud yang dilakukan Hasil penelitian ini mendukung penelitian (Achmad et al. , 2. dan (Khamainy et al. , 2. yang menunjukkan bahwa stabilitas keuangan tidak mempengaruhi terjadinya kecurangan laporan keuangan. Ketika kondisi keuangan tidak stabil atau terganggu, manajer perusahaan sampel tidak serta merta memanipulasi laporan keuangan untuk meningkatkan daya tarik pihak eksternal atas perusahaan (Achmad et al. , 2. Perusahaan mungkin akan berupaya untuk menstabilkan kondisi keuangan yang dimiliki. Stabilitas keuangan yang merupakan proksi dari tekanan internal, dalam penelitian ini, diukur dengan melihat seberapa besar perubahan aset yang dimiliki. Tinggi atau rendahnya persentase perubahan total aset tidak menunjukkan bahwa perusahaan melakukan kecurangan laporan keuangan tetapi dapat dikarenakan penerapan strategi yang dilakukan oleh manajemen dalam mengelola asetnya (Khamainy et al. , 2. Ketika perubahan aset dianggap terlalu besar, perusahaan akan berupaya untuk lebih menstabilkannya ditahun-tahun berikutnya. Kemungkinan lainnya adalah bahwa perusahaan diawasi dengan baik oleh dewan komisaris sehingga ketika kondisi keuangan perusahaan berada dalam kondisi yang kurang baik, manajer perusahaan tidak memiliki celah untuk melakukan kecurangan laporan keuangan dan justru akan memperbaiki Pengaruh Tekanan Eksternal terhadap Fraud Laporan Keuangan Hasil analisis data menunjukkan bahwa tekanan eksternal berpengaruh positif signifikan terhadap fraud laporan keuangan. Semakin besar tekanan eksternal yang dihadapi perusahaan maka semakin memungkinkan perusahaan dalam melakukan fraud laporan keuangan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian (Achmad et al. Khamainy et al. , 2022. Lailatuddzikriyyah, 2021. Priharta et al. , 2. menemukan bahwa tekanan eksternal yang diproksikan dengan rasio leverage dapat digunakan untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Perusahaan yang memiliki tekanan eksternal yang tinggi yang berasal dari risiko kredit tinggi . tang yang besa. akan mendorong manajemen untuk memanipulasi laporan keuangan. Hal tersebut dikarenakan manajemen tidak ingin terlihat AuburukAy dan berusaha menunjukkan citra positif dimata kreditor demi mendapatkan tambahan dana. Pengaruh Opportunity terhadap Fraud Laporan Keuangan Nilai signifikansi variabel Opportunity sebesar 0,0015 < 0,05 yang berarti opportunity yang diproksikan dengan ineffective monitoring berpengaruh positif siginifikan terhadap fraud laporan keuangan. Hasil penelitian ini mendukung (Bancin & Baihaqi, 2023. Fitriyah & Novita, 2021. Maryani et al. , 2. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 Monitoring perusahaan yang tidak efektif tentunya akan memberikan celah kepada manajemen dalam melakukan segala tindakan negative yang dilakukan. (Maryani et al. , 2. menyebutkan bahwa monitoring yang lemah memungkinkan manajemen melakukan kecurangan termasuk kecurangan laporan keuangan. Hal tersebut dikarenakan manajemen lebih leluasa dalam bertindak dan merasa tidak ada yang mengawasi segala tindakan yang dilakukan sehingga kecurangan yang dilakukan kecil kemungkinan untuk dideteksi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengawasan yang tidak efektif dapat mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan kecurangan laporan keuangan demi memperkaya diri mereka sendiri. Pengaruh Rationalization terhadap Fraud Laporan Keuangan Penelitian ini tidak dapat membuktikan pengaruh rationalization terhadap fraud laporan keuangan yang terlihat dari nilai signifikansi sebesar 0,051 > 0,05. Rasionalisasi diukur dengan melihat ada tidaknya perubahan auditor atau KAP pada perusahaan sampel. Hasil penelitian ini mendukung (Achmad et al. , 2023. Bancin & Baihaqi, 2023. Fitriyah & Novita, 2021. Haqq & Budiwitjaksono, 2019. Khamainy et al. , 2022. Lailatuddzikriyyah, 2021. Maryani et al. , 2. yang menemukan bahwa perubahan auditor tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Perusahaan yang mengganti auditornya tidak berarti perusahaan akan melakukan manipulasi laporan keuangan. Perubahan auditor yang dilakukan oleh perusahaan disebabkan karena perusahaan ingin mengurangi biaya audit dan memperbaiki tata kelola perusahaan (Achmad et al. , 2. Kemudian, menurut (Khamainy et al. , 2. perusahaan yang mengganti auditornya bukan karena untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor sebelumnya melainkan ingin mematuhi peraturan yang diterapkan oleh pemerintah. Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13/POJK. 03/2017 tahun 2017 tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam Kegiatan Jasa Keuangan Pasal 16 Ayat 1 mengatur bahwa jangka waktu penggunaan jasa audit dibatasi yaitu satu akuntan public . hanya dapat memberikan jasa audit paling lama tiga tahun buku pelaporan secara berturut-turut (OJK, 2. Sehingga dengan adanya peraturan tersebut, pergantian auditor tidak ada kaitannya dengan kecurangan laporan keuangan yang dilakukan oleh Pengaruh Capability terhadap Fraud Laporan Keuangan Hasil penelitian ini menemukan bahwa pergantian direksi tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan yang sejalan dengan (Achmad et al. , 2023. Duffin & Djohan, 2022. Haqq & Budiwitjaksono, 2019. Khamainy et al. , 2022. Maryani et al. , 2. Hal sebaliknya justru terjadi yaitu semakin jarang direksi diganti maka semakin baik kemampuannya dalam mengelola dan mempertahankan R. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 kinerja perusahaan. (Khamainy et al. , 2. menyebutkan bahwa pergantian direksi juga justru bermakna baik karena direksi yang baru dapat meningkatkan kinerja dari direksi yang lama dan bukan untuk melakukan kecurangan laporan keuangan. Menurut (Achmad et al. , 2. banyak faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan mengganti direksi misalnya adanya pengunduran diri dari direksi itu sendiri atau terjadi kematian direksi yang lama sehingga perusahaan mau tidak mau harus merekrut kembali direksi yang baru, atau bisa juga karena perusahaan kurang puas dengan kinerja direksi yang ada sehingga berusaha untuk meningkatkan kinerja dan kualitas perusahaan dengan merekrut direksi yang lebih baik atau lebih kompeten dari sebelumnya. Pengaruh Arrogance terhadap Fraud Laporan Keuangan Variabel Arrogance tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan yang sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Duffin & Djohan, 2022. Fitriyah & Novita, 2021. Khamainy et al. , 2022. Lailatuddzikriyyah. Maryani et al. , 2. yang menemukan bahwa jumlah foto CEO dalam laporan tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Tidak peduli seberapa banyak foto CEO dalam laporan tahunan, tidak menunjukkan tingkat arogansi CEO karena biasanya gambar atau foto yang ada dalam laporan tahunan akan mengikuti template yang sudah ditentukan (Duffin & Djohan, 2. (Fitriyah & Novita, 2. menyatakan bahwa jumlah foto CEO dalam laporan tahunan tidak dapat dianggap sebagai bentuk keserakahan CEO tetapi justru menunjukkan prestasi yang telah dicapai oleh CEO, semakin banyak prestasi yang dicapai berarti semakin baik kinerjanya. Lebih lanjut, semakin banyak foto CEO yang ditampilkan dalam laporan tahunan dapat menunjukkan semakin tinggi tingkat kepercayaan diri CEO yang akan memberikan dampak positif bagi perusahaan. Pengaruh Collution terhadap Fraud Laporan Keuangan Nilai signifikansi variabel collution sebesar 0,0090 < 0,05 dengan nilai signifikansinya 0,3730 yang berarti bahwa kolusi berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh (Khamainy et al. , 2022. Lailatuddzikriyyah, 2021. Sari & Nugroho, 2. Perusahaan yang memperoleh kerja sama dengan proyek pemerintah akan berupaya untuk berperan serta dalam proyek tersebut (Sari & Nugroho, 2. Untuk mendapat penilaian citra yang baik, perusahaan akan berusaha menyajikan laporan keuangan yang baik dengan cara memanipulasi laporan keuangan. Sebuah perusahaan akan mendapat kesempatan kerja sama dengan pemerintah jika perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik dan stabil. Hal tersebut yang mendorong dan memotivasi perusahaan melakukan kecurangan laporan keuangan misalnya dengan window-dressing laporan keuangan untuk memastikan bahwa Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 295-311 pemerintah memberikan nilai yang baik dan perusahaan dapat memenangkan penawaran yang diberikan. SIMPULAN Berdasarkan hasil pengujian statistic dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dari tujuh hipotesis yang dibangun hanya tiga hipotesis yang diterima sedangkan empat lainnya ditolak. Variabel Tekanan Eksternal (Pressur. Opportunity . neffective monitorin. , dan Collution terbukti berpengaruh positif signifikan pada kecurangan laporan keuangan. Sedangkan variabel lainnya yaitu tekanan internal, rationalization . erubahan audito. , capability . erubahan dewan direks. , dan arrogance . umlah foto CEO dalam laporan tahuna. tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur terutama berkaitan dengan pengaruh teori fraud terbaru yaitu Fraud Hexagon Theory pada fraud laporan Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, terdapat perbedaan pengukuran untuk fraud hexagon theory antar peneliti dan belum terbukti pengukuran mana yang terbaik. Penelitian berikutnya dapat menguji kembali fraud hexagon theory dengan menggunakan pengukuran yang lain. Kedua, sampel yang digunakan dalam penelitian ini relative sempit, penelitian berikutnya dapat menguji dengan memperluas sampel penelitian. Ketiga, kurangnya literatur yang digunakan sebagai dasar teori, penelitian berikutnya dapat menambahkan jumlah literatur mengenai Fraud Hexagon Theory terutama yang berkaitan dengan fraud laporan keuangan. Sugiarti / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. DAFTAR PUSTAKA