Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-20 Rinda Handayani a,1,*. Mrr. Ratna Endang Widuatie b,2. Universitas Jember. Jember. Indonesia Universitas Jember. Jember. Indonesia handayani@unej. 2 ratnaendang. sastra@unej. * Corresponding Author. Rinda Handayani Received 30 April 2025. accepted 25 Mei 2025. published 15 Juni 2025 KEYWORDS ABSTRACT This study analyzes the significant ecological transformation in the Besuki region due to plantation expansion in the early 20th century. This research reveals how Besuki, as the center of plantation production during the colonial period, experienced ecological changes such as deforestation to land clearing for This research uses historical methods to reconstruct past events. This study aims to analyze . how plantation activities in Besuki have changed the ecological landscape of Besuki Residency. Deforestation until the emergence of settlements in Besuki Residency. Besuki. Ecology. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Semua kegiatan sistem ekonomi perkebunan merupakan suatu praktek kapitalisme yang berwujud sebagai berbagai perusahaan perkebunan (Aprianto, 2018: . Dengan diberlakukannya Agrarische Wet dan Agrarische Besluit, negara berhak atas kepemilikan tanah termasuk menjual dan memberikan hak Sistem ekonomi mengalami perubahan di bawah kebijakan liberal dengan membawa transformasi setelah dasawarsa 1870. Transformasi ekonomi tersebut sejalan dengan perubahan sosial dan politik Kaum liberal menganut gagasan yang mengizinkan usaha dagang swasta sehingga bebas membuka perkebunan dan kepemilikan individu di Hindia Belanda. Proses kepemilikan tanah bermula dari tanah yang disewakan kepada tuan tanah swasta yang membuka perusahaan dan perkebunan (Hellwig, 2007:16-. Masuknya Perkebunan di Hindia Belanda membawa pengaruh dan perubahan di berbagai wilayah. Salah satu wilayah yang mengalami perubahan akibat aktivitas perkebunan adalah Karesidenan Besuki. Karesidenan Besuki terdiri dari empat wilayah yaitu Banyuwangi. Bondowoso. Jember dan Panarukan . ekarang Situbond. (Nawiyanto, 2005: . Karesidenan Besuki telah dikenal dengan perkebunan sejak masa kolonial. Hal tersebut tercermin dari Broersma yang meyebutkan bahwa Besuki sebagai daerah ekspor perkebunan terbesar di Jawa (Broersma, 1. Perkebunan menjadi awal munculnya dua basis ekonomi penduduk yang ada di Jawa yakni sistem ekonomi modern dan tradisional (Hudiyanto, 2. Hadirnya pemilik modal dari Eropa memberikan warna baru bagi struktur sosial masyarakat di Hindia Belanda. Adapun ciri tersebut meliputi adanya dominasi, eksploitasi, diskriminasi dan dependensi (Winarni, 2. Seperti yang dikemukakan oleh Niel bahwasanya dengan adanya himpitan Sistem Tanam Paksa, pemerintah Hindia Belanda juga mengembangkan pengelolaan tanaman perkebunan seperti tebu, kopi, tembakau, teh dan lain-lain (Niel, 1972: 101-. Kajian mengenai masalah perkebunan telah dibahas oleh beberapa sejarawan. Adapun karya Nawiyanto Agricultural Development in a Region of Java: Besuki, 1870-Early 1990s. Di dalam buku tersebut 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. membahas mengenai perkebunan secara umum dan perkebunan tembakau secara khusus. Hasil dari kajian tersebut yaitu kehadiran serta perkembangan perkebunan di wilayah Karesidenan Besuki seperti Panarukan. Bondowoso. Jember dan Banyuwangi (Nawiyanto, 2. Studi dari Edy Burhan membahas mengenai asal-usul tembakau, pertumbuhan dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat (Burhan, 1. Kehadiran sistem perkebunan membawa perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat Jember dan sekitarnya. Di sisi lain kehadiran sistem perkebunan menimbulkan struktur sosial baru. Studi Nawiyanto tentang Perkebunan menyoroti tentang pertanian di wilayah Jember selama periode akhir. Berbagai tanaman diperkenalkan oleh kapitalis barat yaitu dari tembakau, tebu hingga Perkebunan Jember mengalami beberapa tahapan mulai dari ekspansi pada 1870 hingga kemunduran pada 1930. Perkebunan di Jember juga menguraikan faktor-faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen. Studi ini dapat menjadi rujukan yang relevan untuk melihat dinamika perkebunan di salah satu wilayah Karesidenan Besuki yaitu Jember (Nawiyanto, 2. Dengan berfokus pada wilayah Karesidenan Besuki, studi ini diharapkan dapat memperkaya studi lokal Karesidenan Besuki yang berlatar belakang perkebunan. Studi ini tidak hanya memperkaya wawasan mengenai lingkup lokal, tetapi juga dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman lebih luas mengenai sejarah nasional. Urgensi penelitian ini dapat dilihat dari beberapa segi. Pertama, penelitian ini akan menjadi bagian penting dalam pengembangan sejarah perkebunan di Indonesia. Sebagian besar permasalahan dalam studi sejarah perkebunan mengenai komoditi perkebunan, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat perkebunan maupun konflik atas kepemilikan tanah. Sedangkan hubungan antara pembukaan lahan perkebunan dengan aspek lingkungan belum banyak mendapat perhatian dari Oleh karena itu, kajian ini akan mengisi kekosongan studi tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu langkah-langkah penelitian yang mengarah pada penulisan sejarah yang tidak dapat dilakukan jika tidak memiliki sumber dari masa lampau yang diteliti (Gottschalk, 1986: . Metode sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Sumber yang digunakan dalam penelitian berupa sumber primer dan sekunder. Sumber primer berupa foto, surat kabar dan laporan penelitian yang diperoleh dari situs delpher maupun KITLV. Setelah data ditemukan kemudian dilakukan kritik intern yang bertujuan untuk meneliti keaslian sumber . dan dilakukan pula kritik ekstern yang bertujuan untuk meneliti kredibilitas sumber. Setelah dilakukan kritik mengenai data yang ditemukan, dilakukan interpretasi untuk menganalisis sumber. Setelah itu dilakukan tahapan yaitu historiografi atau penulisan sejarah. Hasil dan Pembahasan 1 Komoditi Perkebunan Besuki Singkatnya, apa yang dimulai pada masa-masa awal kolonialisme Belanda sebagai industri 'perkebunan' yang khas telah berubah pada paruh kedua abad kesembilan belas menjadi industri yang merupakan gabungan dari pertanian, modal serta manajemen Barat (G. Knight: 1. Melalui berbagai aktivitasnya, manusia berperan sebagai agen perubahan lingkungan (Nawiyanto, 2012: . Penerapan sistem ekonomi berbasis perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas ekspor, tetapi juga menjadi pilar utama perekonomian, terutama di wilayah Jawa. Komoditi perkebunan tumbuh subur di wilayah Karesidenan Besuki salah satunya adalah tebu. Tebu tumbuh di tanah milik petani pribumi melalui kontrak Ausewa tanahAy. Tebu ditanam pada bulan April hingga Juli dan dipanen pada tahun berikutnya pada bulan Mei hingga Oktober. Seluruh lahan tebu harus mendapatkan aliran irigasi karena tebu membutuhkan suplai air yang banyak. Hasil panen Rinda Handayani. Mrr. Ratna Endang Widuatie (Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . tebu diangkut ke pabrik-pabrik gula sehingga mengubah lanskap pedesaan di wilayah pabrik gula (Elson. Namun disisi lain. Pemerintah kolonial telah mengontrak pengusaha swasta untuk mengolah tebu di pabrik-pabrik gula. Para buruh perempuan diberikan tugas untuk pemangkasan pucuk, penanaman, pengairan atau penyiangan. Sementara itu, pekerja anak turut dilibatkan untuk membasmi serangga atau melakukan pekerjaan serupa (Elson, 1986: 185-. Industri tebu merupakan salah satu proyek eksploitasi besar bagi penduduk di Jawa. Para petani menempatkan sebagian besar lahan padi desa mereka untuk ditanami tebu. Konsep ikatan ekologis timbal balik antara kedua tanaman tersebut didasarkan pada dua aspek budidaya tebu. Pertama, tebu memerlukan tanah yang subur dan dalam serta irigasi yang dikontrol secara tepat. Kedua, tebu sebagai tanaman perkebunan tidak cocok untuk monokultur jangka panjang. Dengan demikian, lahan yang dikembangkan untuk budidaya tebu juga tersedia untuk tanaman padi (Jennifer Alexander and Paul Alexander,1979: . Daerah-daerah dengan penanaman tebu yang lebih ekstensif, kombinasi penanaman tebu wajib dilakukan oleh petani. Hal tersebut membuat tuntutan akan tenaga kerja dari pemerintah kolonial maupun elit pribumi mengalami peningkatan. Peningkatan tenaga kerja tambahan terjadi selama musim tanam padi dan tebu (Jennifer Alexander and Paul Alexander, 1. Mobilisasi tenaga kerja dari Pulau Madura salah satunya ke wilayah Jember, karena tidak cukup tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian (Aprianto, 2018: . Banyaknya penduduk yang terlibat dalam pertanian adalah akibat dari politik kolonial yang mementingkan usaha perkebunan untuk komoditas ekspor (Kuntowijoyo, 2018: . Arus masuk migran membuka jalan bagi pengembangan pertanian di bawah sistem budidaya, yang membuat ekonomi Besuki lebih terintegrasi erat dengan jaringan komersial yang lebih luas (Nawiyanto, 2007: . Para tenaga kerja yang berasal dari Pulau Madura berupaya untuk mencari mata pencaharian yang lebih baik penghasilannya. Proses datangnya kaum imigran dari Pulau Madura dari Pelabuhan Sumenep (Madur. melintasi selat Madura dan tiba di beberapa Pelabuhan di pesisir utara seperti di Pelabuhan Jangkar dan Panarukan yang keduanya berada di wilayah Situbondo (Aprianto: 2018, . Proses masuknya para imigran dari Pulau Madura ke Jember salah satunya dikarenakan faktor kesuburan (Aprianto, 2018: . Kesuburan tanah di Jember disebabkan oleh adanya erupsi gunung api di masa lalu karena letusan tersebut dapat meremajakan kesuburan tanah. Selain karena faktor erupsi, kesuburan tanah di wilayah Jember dibentuk karena aktivitas sedimentasi di aliran Sungai. Proses tersebut membentuk aliran alluvial yang subur (Nawiyanto, 2018: . Selain tebu, komoditi perkebunan yang ditanam di Besuki yaitu tembakau. Para perempuan turut menjadi pekerja di industri tembakau seperti menyortir tembakau berdasarkan warna, panjang dan ketebalan hingga ketipisan (Soerabaijasch Handelsblad, 1. Puluhan perempuan Madura sibuk menumpuk tandan tembakau sekaligus menjaga agar tandan dalam kondisi hangat. Daun tembakau ditumpuk, diletakkan di bawah atau di atas di tumpukan baru, sehingga semua tandan terfermentasi secara merata (Soerabaijasch Handelsblad, 1. Tembakau menjadi komoditas terpenting pada masa Salah satu pusat ketiga pengolahan tembakau Eropa adalah Besuki. Di antara berbagai komoditas perkebunan, tembakau menjadi komoditi paling penting di Besuki. Hal ini terlihat dari kontribusi karesidenan Besuki sebagai pusat perkebunan tembakau, dengan ekspor melalui pelabuhan Panarukan pada periode 1911-1915 mencapai 20 persen dari total ekspor pulau Jawa (Nawiyanto, 2005: Produksi tembakau oleh pengusaha Eropa terbagi menjadi dua jenis, yaitu tembakau dari tanah sewa jangka pendek dan tanah sewa dengan hak erfpacht (Nawiyanto, 2005: 58-. Tembakau dari tanah sewa jangka pendek ditanam di lahan kering . dan lahan basah . , dengan masa sewa umumnya lima tahun dan peluang perpanjangan yang cukup besar. Dalam sistem ini, petani menanam tembakau untuk para pengusaha Eropa, yang kemudian membeli hasil panen tersebut. Hubungan ini menunjukkan bahwa pengusaha Eropa bukanlah pemilik perkebunan, melainkan pembeli hasil produksi tembakau (Nawiyanto, 2000: . Rinda Handayani. Mrr. Ratna Endang Widuatie (Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. Pengusaha Perkebunan memilih untuk mengambil alih tembakau pasca panen dibandingkan dengan menyediakan bibit. Jenis tembakau yang ditanam di deerah ini adalah tembakau jenis na-oogst. Tembakau na-oogst adalah jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau setelah panen padi (Winarni, 2. Pengusahaan perkebunan yang dilakukan oleh Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD) atas nama George Birnie yang membuka lahan Perkebunan di Ketajek I dan II merupakan tindakan yang tidak hanya semata untuk membuka lahan Perkebunan, tetapi sekaligus dalam rangka akumulasi kapital (Aprianto. 2018: . Konsumsi domestik yang digemari yaitu tembakau rajangan, (Stroomberg, 2018: . Selain komoditi tembakau, pekebunan di Besuki juga menghasilkan komoditi kopi. Pengolahan kopi pada 1928 terdapat di Besuki. Pasuruan dan Kediri sebanyak 76 persen dari total kopi di Hindia Belanda dihasilkan dari wilayah ini (Ferwerda, 1. Ketika kegiatan ekonomi produksi semakin meningkat dan diiringi oleh peningkatan konsumen internasional secara otomatis akan mengingkatkan kegiatan di Perkebunan (Aprianto, 2018: . Pemuliaan tanaman telah terkonsentrasi terutama pada peningkatan kopi Robusta dan juga pada kopi Arabica. Pemuliaan tanaman kopi dilakukan terutama di stasiun percobaan Besuki (Ferwerda, 1. Kopi merupakan hasil perkebunan yang sangat diminati pada masa itu. Permintaan kopi melonjak sesuai dengan kegunaannya yang sangat bermanfaat. Perubahan lanskap bukan hanya mengubah hutan menjadi perkebunan kopi namun juga dapat ditandai dengan adanya perusahaan-perusahaan baru yang muncul di daerah Kalibaru. Antara tahun 1910 dan 1920, sekitar 180. 000 hektar lahan pertanian baru Meskipun skala ekspansi menurun antara tahun 1920 dan 1930, lebih dari 50. 000 hektar lahan tambahan tetap ditambahkan selama dekade tersebut. Kalibaru menjadi pusat utama perluasan ini, dengan sebagian lainnya terjadi di sekitar Grajagan. Pada tahun 1930-an, ekspansi lebih lanjut menghasilkan tambahan 18. 000 hektar lahan baru. Sekitar 2. 500 hektar lahan pertanian dibuka di Bajulmati dan Sanggaran. Banyuwangi, oleh Federasi Perkumpulan Buruh yang berbasis di Surabaya, untuk menempatkan para buruh yang menganggur dari Surabaya (Nawiyanto, 2012: . 2 Perubahan Ekologi Besuki Dalam istilah ekologis, sistem pertanian memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Salah satu konsekuensi umum adalah bahwa sampai tingkat tertentu semuanya mengubah lingkungan alam hingga lanskap buatan manusia (Nawiyanto, 2007: . Perubahan ekologi di Besuki erat kaitannya dengan aktivitas perkebunan. Para migran terutama dari pulau Madura dan beberapa bagian Tengah dan Jawa Timur memainkan peran utama dalam proses ekspansi. Peran dominan dari Migran Madura diamati hingga sekitar tahun 1900 dan membentuk proses bertahap ekspansi ke selatan dari distrik pesisir utara ke bagian pedalaman wilayah tersebut. Proses ini mengubah area yang luas yang membentang dari Panarukan. Bondowoso dan ke bagian utara Jember menjadi daerah yang didominasi oleh orang-orang Madura (Nawiyanto, 2007:. Penjelasan tentang kegagalan memanfaatkan tanah atau tenaga kerja petani perkebunan ini sebagian Kurangnya tenaga kerja di beberapa wilayah pada awal abad kesembilan belas tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lahan yang luas. Salah satu komoditi padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja dalam proses pengolahannya adalah tebu. (G. Knight: 1. Setelah proses panen, lahan pertanian yang telah ditanami tebu akan dibiarkan sebagai upaya untuk peremajaan alami bagi kesuburan Lahan yang dikembangkan untuk budidaya tebu akan disediakan pula untuk tanaman padi dengan pola rotasi. Meskipun pada awalnya sawah petani dialokasikan untuk penanaman tebu, dalam jangka panjang lahan juga disdiakan untuk pertanian padi. Konsep ikatan ekologis timbal balik antara kedua tanaman tersebut didasarkan pada dua aspek budidaya tebu: tebu memerlukan tanah yang subur dan dalam serta irigasi yang terkontrol dengan tepat, dan tidak cocok untuk monokultur jangka panjang. (Jennifer Alexander and Paul Alexander: 1. Selain faktor degradasi lahan, masalah lingkungan lain yang terjadi adalah akibat dari aktivitas Hasil teknologi yang diterapkan di sektor industri, pertanian transportasi dan komunikasi Rinda Handayani. Mrr. Ratna Endang Widuatie (Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . meempengaruhi perubahan ekologi (Rahmadi, 2021: . Bagi Perusahaan perkebunan ketersediaan berbagai sarana dan prasarana sangat penting. Coster mengemukakan bahwa bentuk kerusakan tanah subur sebagai akibat darai tertutupnya material erosi berupa pasir, kerikil, dan batuan dari bukit yang dibabat dan dijadikan sebagai permukiman (Donner, 1. Namun ancaman lain yang melanda selain degradasi lahan adalah antara tahun 1918-1919 keadaan kesehatan rakyat begitu memprihatinkan karena serangan wabah influenza dan pes yang melanda hampir seluruh wiayah Hindia Belanda (Handayani. Guna mendukung kebijakan swastanisasi Perkebunan, maka di berbagai tempat di mana Perkebunan hadir, didirikanlah berbagai fasilitas (Handayani dan Amini, 2. Berbagai fasilitas dibangun salah satunya adalah fasilitas Kesehatan karena Periode 1900-an dapat dikatakan sebagai periode terburuk dalam masalah kesehatan karena berjangkitnya beberapa penyakit seperti koleradisentri dan cacar sehingga menyebabkan kematian penduduk (Handayani, 2. Kondisi infrastruktur yang buruk mendorong pemerintah kolonial mengambil berbagai langkah untuk memperbaiki jalan dan jembatan (Nawiyanto, 2018: . Salah satu kawasan yang berkembang menjadi pusat perkebunan adalah Karesidenan Besuki, yang meliputi kota-kota seperti Jember. Bondowoso. Situbondo, dan Banyuwangi (Winarni, et al. , 2020: . Selain kemajuan dalam transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan, pembangunan infrastruktur irigasi juga menjadi salah satu bentuk modernisasi yang terlihat di wilayah Besuki. Hal tersebut mendorong serangkaian pembukaan lahan di Besuki sebagai upaya untuk Pembangunan infrastruktur. Secara keseluruhan, gambarannya suram karena sebagian besar wilayah Jawa telah mengalami erosi tanah, penggundulan hutan, dan penebangan perkebunan yang tidak terkendali (D. de Vries, 1. Eksploitasi hutan yang dilakukan untuk mengubah lahan menjadi lahan perkebunan membabat habis pohon-pohon yang memiliki lanskap pegunungan di Kalibaru. Banyuwangi. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab banjir di Kalibaru karena minimnya reboisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial (De Indische courant, 04-09-1. Gambar 1. Banjir Melubangi Jalan di Krikilan antara Banyuwangi dan Kalibaru Sumber: digitalcollections. nl, 1930 Pada pertengahan abad ke-19, wilayah Besuki masih dianggap sebagai salah satu daerah di Jawa yang memiliki hutan terluas dan secara demografis merupakan wilayah dengan populasi paling sedikit. Secara ekonomi, wilayah Besuki juga dipandang kurang signifikan dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari Jawa. Pengintegrasian wilayah Besuki ke dalam kekuasaan Belanda dan terciptanya stabilitas politik membuka peluang untuk perluasan eksploitasi ekonomi. Hal ini terutama terlihat pada pembukaan perkebunan-perkebunan kolonial, baik yang dikelola oleh negara melalui Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelse. maupun oleh pihak swasta sejak tahun 1870 (Nawiyanto, 2. Rinda Handayani. Mrr. Ratna Endang Widuatie (Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. 3 Munculnya Permukiman di sekitar Perkebunan Hadirnya ekonomi Perkebunan telah menjadikan Karesidenan Besuki menjadi salah satu wilayah yang menarik perhatian bagi pemerintah kolonial Belanda. Munculnya permukiman di Karesidenan Besuki sebagai akibat dari perkebunan karena masyarakat pendatang memasuki wilayah tersebut sehingga mulai membuat koloni baru. Para pendatang yang berasal dari Madura dan Jawa membuat perumahan dan membuat koloni sehingga membuat desa di sekitar perkebunan. Hal tersebut membuat desa di sekitar perkebunan mengalami perkembangan yang pesat. Para imigran Madura dan Jawa di daerah baru membentuk pola pemukiman seperti daerah asalnya. Masyarakat Madura dikenal memiliki pola permukiman berkelompok. Bentuk permukiman yang menjadi pola masyarakat Madura yaitu menjang sehingga membentuk formasi halaman yang memanjang (Arifin, 1989: . Karesidenan Besuki mengalami pertumbuhan penduduk tahunan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di Jawa secara keseluruhan lebih dari tiga persen pada 1890-1900 (Nawiyanto. Proses migrasi terus berlangsung hingga awal abad XX di Besuki. Perpindahan penduduk ke karesidenan Besuki melalui bermacam-macam saluran, seperti perdagangan, ekspedisi militer dan sebagai tenaga kerja (Sutjipto, 1983: . Perpindahan penduduk Madura semakin lama semakin besar karena perusahaan-perusahaan mulai bermunculan di Besuki. Keberhasilan dalam usaha pertanian dan perkebunan memaksa lahirnya kota-kota baru di Karesidenan Besuki. Salah satunya adalah Jember yang pada awalnya merupakan Kawasan yang kecil dan terisolir. Pengembangan kota yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial dengan Pembangunan jalan (Nuriansyah, et. all: 2. Memasuki abad ke-20, pemerintah kolonial semakin menghapuskan sistem kerja wajib, kecuali untuk konstruksi jalan dan irigasi. Dibangunnya kereta api memudahkan untuk mengangkut dan membawa barang dagangan sehingga dengan mudah untuk melabarkan sayap bisnisnya (Handayani & Amini, 2. Bahkan pada1912 kerja wajib secara resmi dihapuskan sepenuhnya (Burger, 1957, hlm. Dengan demikian, pendatang Jawa dan Madura yang datang ke Jember relatif bebas dari berbagai kewajiban yang menyita waktu dan energi mereka, sehingga mereka bisa lebih fokus pada mengatur pemukiman dengan mengacu pada tradisi dan budaya asal mereka. Dengan demikian, pembangunan desa di Jember pada dasarnya sangat kompleks karena berkaitan dengan kebijakan politik, kebijakan ekonomi, dan budaya yang dibawa oleh pendatang baru migran. Kedatangan migran memberikan sentuhan sosial-budaya yang unik pada penduduk yang jarang sehingga berkembang menjadi bentuk yang lebih modern (Widuatie & Winarni, 2. Pola sebaran migran di Jember sangat dipengaruhi oleh sistem perkebunan swasta. Perkebunan membutuhkan tenaga kerja terampil sesuai dengan komoditas yang dibudidayakan, artinya akan ada hubungan antara kondisi alam, jenis tanaman, dan keberadaan pendatang. Keterampilan pertanian yang berbeda dari masyarakat Jawa dan Madura akhirnya membuat mereka ditempatkan di lokasi yang berbeda, sesuai dengan budidaya tanaman perkebunan. Di sisi lain, pemerintah kolonial yang ingin menciptakan iklim ekonomi yang stabil mengatur pendatang sedemikian rupa sehingga desa berciri Jawa cenderung ditemukan di bagian selatan Jember dan desa berciri Madura sebagian besar terletak di bagian utara Jember (Widuatie & Winarni, 2. Simpulan Karesidenan Besuki dikenal sebagai wilayah penghasil perkebunan. Berbagai hasil komoditi perkebunan seperti tembakau, kopi dan berbagai jenis tanaman pertanian. Kegiatan ekonomi masa kolonial membuat Besuki dari yang semula berupa hutan kemudian bertransformasi menjadi wilayah perkebunan penghasil berbagai komoditi perkebunan. Namun, transformasi landskap pertanian membawa konsekuensi terhadap perubahan lingkungan salah satunya adalah deforestasi. Selain itu, munculnya perkebunan turut mengubah landskap Karesidenan Besuki menjadi area permukiman. Area permukiman penduduk muncul sebagai akibat dari arus migrasi para pekerja perkebunan salah satunya adalah di wilayah Jember. Dampak dari perubahan ini sangat signifikan, baik secara lingkungan maupun Rinda Handayani. Mrr. Ratna Endang Widuatie (Transformasi Lanskap: Pembukaan Perkebunan di Besuki terhadap Ekologi pada Awal Abad ke-. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . sosial-ekonomi. Dari sisi lingkungan, pembukaan lahan menyebabkan degradasi lahan sehingga menimbulkan bencana salah satunya adalah banjir. Resapan air yang berkurang akibat minimnya vegetasi alami menyebabkan peningkatan risiko bencana banjir dan erosi tanah di sekitar kawasan perkebunan. Dengan demikian, perubahan ekologis di Karesidenan Besuki akibat kolonialisasi ekonomi mencerminkan dampak kompleks dari kebijakan kolonial terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal. Pemahaman terhadap sejarah ini penting untuk merancang kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan di masa kini. References