JURNAL Al-Manaj Volume 5. Nomor 2 Desember 2025 P-ISSN: 27752062 E-ISSN: 27758729 IMPLEMENTASI POAC DALAM BIDANG KEAGAMAAN. SOSIAL, DAN EKONOMI SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI MANAJEMEN MASJID RAYA BAITURRAHMAN SEMARANG Ariana Suryorini1. Puji Retno Lestari2. Andini Purna Dita Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Email: ariana_suryorini@walisongo. Kata kunci Abstrak POAC. Manajemen masjid. Keagamaan. Sosial. Ekonomi Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi prinsip manajemen POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. dalam pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman Semarang yang mencakup tiga bidang utama, yaitu keagamaan, sosial, dan ekonomi. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bidang keagamaan, manajemen masjid berhasil menyusun program yang adaptif terhadap karakteristik jamaah yang mayoritas musafir, dengan kegiatan rutin seperti salat berjamaah, kultum, tadarus, serta peringatan hari besar Islam yang dilaksanakan secara terstruktur. Dalam bidang sosial, masjid menunjukkan kepedulian nyata terhadap umat melalui programprogram seperti jumat berkah, santunan duafa, zakat fitrah, donor darah, dan khitan massal, dengan pengelolaan yang kolaboratif antara pengurus. UPZ, dan organisasi remaja masjid (IKAMABA). Sementara itu, pada bidang ekonomi, masjid mengelola aset produktif seperti food court, ballroom, walking space, dan area parkir yang disewakan kepada pelaku usaha dan institusi mitra. Pelatihan UMKM dan pelaksanaan bazar Ramadhan menunjukkan komitmen masjid terhadap pemberdayaan ekonomi umat. Implementasi prinsip POAC secara komprehensif telah memperkuat profesionalisme pengelolaan masjid dan menjadikan Masjid Raya Baiturrahman Semarang sebagai pusat ibadah sekaligus pusat layanan sosial dan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan di tengah masyarakat perkotaan. Keywords POAC. Mosque Management. Religious. Social. Economic Abstract This research aims to analyze the implementation of POAC management principles (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. in the management of the Baiturrahman Grand Mosque in Semarang which covers three main areas, namely religious, social and economic. The research approach uses descriptive qualitative methods with data collection techniques through observation, in-depth interviews and The research results show that in the religious sector, mosque management has succeeded in developing programs that are adaptive to the characteristics of the congregation, the majority of whom are travelers, with routine activities such as congregational prayers, cults, tadarus, and commemoration of Islamic holidays which are carried Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 out in a structured manner. In the social sector, the mosque shows real concern for the people through programs such as Friday blessings, donations to the poor, zakat fitrah, blood donations, and mass circumcision, with collaborative management between the management. UPZ, and the mosque youth organization (IKAMABA). Meanwhile, in the economic sector, the mosque manages productive assets such as food courts, ballrooms, walking spaces and parking areas which are rented to business actors and partner institutions. MSME training and the implementation of the Ramadhan bazaar demonstrate the mosque's commitment to the economic empowerment of the community. Comprehensive implementation of POAC principles has strengthened the professionalism of mosque management and made the Baiturrahman Grand Mosque in Semarang a center of worship as well as a center for social services and sustainable economic empowerment in urban Pendahuluan Islam secara umum terbagi ke dalam tiga dimensi utama, yaitu akidah, akhlak, dan Dimensi akidah mengajarkan prinsip keimanan kepada Allah, akhlak menjadi standar moral yang mengarahkan perilaku umat, sementara syariah mencakup seperangkat aturan yang mengatur hubungan vertikal dengan Allah . ablum minalla. Ketiga pilar tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif tanpa adanya sarana penunjang, seperti masjid dan musala, yang menjadi tempat pembinaan spiritual dan sosial umat Islam secara terpadu (Effendi and Saifudin 2022, h . Masjid dalam sejarah Islam memegang peranan sangat strategis, sejak zaman Rasulullah SAW, masjid berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pelayanan sosial, peradilan, hingga pertahanan dan perencanaan dakwah Islam (Susanto 2015, h . Dalam konteks modern, fungsi masjid berkembang semakin luas dan kompleks. Masjid tidak hanya sebagai simbol spiritualitas, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat secara sosial dan ekonomi yang brbasis pada kebutuhan masyarakat (Uya. Ulfah, and Sukari 2. Menurut Sutarmadi (Sutarmadi 2. , masjid idealnya berperan dalam tiga sektor utama, yaitu: . pendidikan agama dan keilmuan. penguatan hubungan sosial dan komunitas jamaah, serta . pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya diposisikan sebagai tempat ibadah ritual, melainkan juga sebagai pusat transformasi masyarakat. Namun, kenyataannya banyak masjid megah di Indonesia yang tidak diiringi oleh manajemen yang baik, sehingga kegiatan keagamaan dan sosial ekonominya menjadi stagnan. Sebaliknya, terdapat pula masjid sederhana dengan aktivitas yang sangat padat, menunjukkan bahwa keberhasilan manajemen masjid lebih ditentukan oleh kualitas pengelolaan dan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dari pada oeh kemewahan fisik bangunan semata. Salah satu contoh nyata dari upaya pengembangan manajemen masjid dapat dilihat pada Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Masjid yang berlokasi di jantung Kota Semarang ini tidak hanya menjadi ikon religius dan wisata religi, tetapi juga menjalankan berbagai program keagamaan, sosial, dan ekonomi. Kegiatan seperti salat berjamaah, pengajian, tadarus, santunan. ZIS, kajian umum, peringatan hari besar Islam, pembinaan mualaf, donor darah, khitan massal, bazar Ramadhan dan lain-lain. Di sisi ekonomi, pemanfaatan ruang publik di sekitar masjid untuk kegiatan produktif seperti food court dan walking space menunjukkan Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 adanya inovasi dalam pemberdayaan ekonomi dalam manajemen masjid (Hakim. Safitri, and Susanto 2. Optimalisasi manajemen masjid merupakan topik yang relevan dalam pengelolaan tempat ibadah di era modern. Masjid saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Pengelolaan masjid yang adaptif, profesional, dan terstruktur sangat dibutuhkan agar mampu menjawab tantangan Manajemen yang baik memungkinkan masjid menyelenggarakan kegiatan keagamaan secara rutin, menjalankan program sosial yang menjangkau masyarakat luas, serta mengelola aset secara produktif untuk mendukung kemandirian finansial. Sebaliknya, manajemen yang lemah dapat menurunkan kualitas layanan keagamaan dan sosial yang diberikan kepada jamaah (M Yusuf 2. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan pendekatan manajerial yang sistematis dan terstruktur. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah prinsip POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. dalam manajemen masjid. Penerapan prinsip POAC terbukti dapat meningkatkan efektifitas fungsi-fungsi masjid secara multidimensi, baik dalam aspek ibadah, sosial maupun ekonomi, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian (Wibowo et , 2. yang menemukan bahwa pengelolaan masjid berbasis POAC mampu mengintergrasikan program keagamaan, sosial dan ekonomi secara berkelanjutan, terutama melalui kegiatan pemberdayaan jamaah, pelatihan keterampilan, dan tata kelola zakat yang Penelitian (Hizbullah. Muhammad. Haidir & Harahap, 2. menunjukkan bahwa masjid yang dikelola secara terarah mampu menjalankan peran strategis sebagai pusat Studi mereka di Masjid Al-Muhajirin. Bandar Klippa, menegaskan pentingnya penguatan fungsi ibadah, pengajian tematik, kegiatan sosial, serta pendekatan dakwah kontektual yang melibatkan masyarakat secara aktif dan partisipatif. Hal ini memperlihatkan bahwa keberhasilan pengelolaan masjid ditentukan oleh perencanaan program yang relevan, keterlibatan jamaah, serta manajemen yang responsif terhadap kebutuhan jamaah. Berdasarkan pendahuluan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis impelementasi POAC dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi sebagai upaya optimalisasi manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Fokus kajian diarahkan untuk menggambarkan bagaimana masjid ini mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen modern dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembinaan keagamaan sekaligus pemberdayaan masyarakat secara holistik. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai fenomena yang ditelit. Tempat penelitian ini berada di Masjid Raya Baiturrahman Semarang yang berlokasi di tengah kota Semarang di Jl. Pandanaran No. Semarang-50134. Jawa Tengah. Masjid ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakteristik strategis dan multifungsi yang mempresentasikan peran masjid dalam bidang keagamaan dan sosial ekonomi di kawasan perkotaan. Jenis penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat terkait optimalisasi manajemen masjid dalam dua bidang utama, yaitu keagamaan dan sosial ekonomi. Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk narasi deskriptif berdasarkan data yang dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Setiawan, 2. Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 Penelitian ini memanfaatkan dua jenis sumber data, yakni data primer dan data Data primer diperoleh secara langsung melalui proses wawancara lapangan dengan pengelola Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah yaitu ketua bidang takmir masjid Dr. Multazam Ahmad. Ketua bidang sosial dan budaya Drs. HM. Nur Fawzan Ahmad. A, kepala bagian rumah tangga Ahmad Setiawan. Si Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Wawancara dilakukan secara terstruktur untuk menggali informasi terkait praktik manajemen masjid, strategi optimalisasi kegiatan, serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program-program keagamaan dan sosial ekonomi. Sementara itu, data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan dan data dukung lainnya. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kualitatif deskriptif. Dalam pendekatan ini, penelitian terlebih dahulu melakukan proses pengumpulan data melalui observasi dan wawancara, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara sistematis dengan pendekatan interpretatif. Hasil analisis tersebut kemudian disusun dalam bentuk naratif deskriptif dan dikaitkan dengan teori manajemen POAC. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai pola manajemen masjid dalam mendukung fungsi keagamaan, sosial, dan ekonomi secara optimal. Analisis data penelitian data penelitian didapatkan dari beberapa tahapan dengan mengumpulkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis interaktif yaitu proses aktivitas dalam meneliti data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang akan direduksi, disajikan dan disimpulkan adalah data yang diperoleh melalui teknik metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi yang berkaitan dengan fakta lapangan (Hasan, 2. Hasil dan Pembahasan Implementasi prinsip manajemen POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. dalam bidang keagamaan, sosial, dan ekonomi menunjukkan optimalisasi manajemen yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan responsif terhadap kebutuhan Dalam bidang keagamaan, pengelolaan dilakukan oleh bidang ketakmiran dengan pembagian struktur menjadi bagian takmir, dakwah, dan peringatan hari besar Islam. Kegiatan keagamaan dilaksanakan secara rutin dan terprogram, meliputi peringatan hari besar Islam . ahun baru hijriah, maulid Nabi Muhammad SAW, halalbihalal, nuzulul qurAoan, salat Idul Fitri dan Idul Adh. , peningkatan amalan ubudiyah . alat rawatib, salat jumat, menyebar luaskan naskah khotbah dalam bentuk buleti. , kegiatan amalan Ramadhan . engajian menjelang berbuka puasa dan buka bersama, salat tarawih dan ceramah Ramadhan, tadarus Al-QurAoan, kuliah subuh, salat qiyamul lai. , dan pembinaan peningkatan kualitas umat . afsir al-qurAoan, kajian umum, studi ilmu qiraatul qurAoan baiturrahman semarang (STIQQBAS), kajian hikam, tablig akbar, pembinaan muala. Program-program ini disusun secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan kondisi jamaah yang mayoritas merupakan musafir dan masyarakat umum. Perencanaan dilakukan secara fleksibel dan menyesuaikan waktu kegiatan agar tidak mengganggu aktivitas jamaah Strategi perencanaan kegiatan mempertimbangkan spek waktu, kebutuhan spiritual, serta kenyamanan jamaah agar aktivitas amalan ubudiyah dapat terlaksana secara maksimal. Program ubudiyah yang rutin dilaksanakan meliputi salat rawatib berjamaah lima waktu, salat jumat dengan imam yang merupakan hafidz, serta penyebaran buletin khotbah jumat sebagai media dakwah bil kitabah. Kultum bakda subuh juga menjadi kegiatan rutin harian. Dalam bulan Ramadhan. Masjid Raya Baiturrahman Semarang menyelenggarakan berbagai kegiatan Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 intensif seperti pengajian menjelang berbuka, buka puasa bersama lebih dari 500 paket per hari, salat tarawih dan ceramah Ramadhan, tadarus Al-QurAoan bil ghoib, kuliah subuh dengan tema kekinian, hingga salat qiyamul lail di malam ganjil dengan imam yang ditentukan secara Selain itu momen-momen keislaman juga dirayakan dengn penuh kekhidmatan, seperti peringatan tahun baru hijriah, maulid Nabi Muhammad SAW, nuzulul qurAoan, halalbihalal, serta penyelenggaraan salat Idul Fitri dan Idul Adha yang dilaksanakan di Lapangan Pancasilan Simpang Lima Semarang dengan pengaturan tempat yang tertib dan Dalam upaya peninngkatan kalitas umat. Masjid Raya Baiturrahman Semarang juga aktif mengadakan kajian tafsir Al-QurAoan setiap satu bulan sekali. Kajian umum setiap satu bulan sekali, studi ilmu qiraatul qurAoan (STIQQBAS) dalam satu minggu sekali, kajian hikam bertema kekinian yang menarik minat generasi muda, setiap satu minggu sekali, serta tablig akbar yang merupakan acara tahunan yang mengangkat tema spiritua kontekstual. Perhatian juga diberikan kepada pembinaan muallaf melalui kerja sama dengan komisi pembinaan mualaf MUI Provinsi Jawa Tengah. Program ini telah membina lebih dari sepuluh mulaf dari berbagai latar belakang kebangsaan dan keyakinan dengan pendekatan yang intensif dan Data mualaf tersebut tercatat dengan baik sebagai wujud akuntabilitas dan transparan. Dari sisi pengorganisasian. Masjid Raya Baiturrahman telah menetapkan struktur dan sistem yang jelas. Imam dan muadzin dipilih berdasarkan kompetensi seperti hafalan AlQurAoan, kualitas pelafalan dan kualitas suara. Jadwal kegiatan disusun serta dipublikasikan secara berkala, baik melalui media sosial maupun buletin masjid, agar jamaah dapat mengikuti dan berpartisipasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pendekatan jamaah sentris, seperti pemendekan zikir dan doa, penyediaan lift untuk difabel dan lansia, penitipan barang, dan pengelolaan kegiatan yang konsisten dan berorientasi pada kenyamanan. Upaya meningkatkan partisipasi jamaah dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, seperti tempat wudhu dan toilet yang bersih, serta suasana masjid yang nyaman dan tertib, strategi lainnya adalah menjalin kerja sama dengan dai dan ustadz yang kompeten untuk menyampaikan materi dakwah yang relevan dan menyentuh berbagai kalangan. Evaluasi terhadap program keagamaan dilakukan secara berkala melalui rapat rutin dan pengawasan internal dari tim pengawas khusus, di mana hasil evaluasi dijadikan dasar untuk menyempurnakan pelaksanaan kegiatan berikutnya. Pengurus juga menjalin kerja sama dengan dai, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk mengisi materi dakwah, sehinggakonten yang disampaikan tetap relevan, kontekstual, dan menjangkau seluruh kalangan jamaah. Dengan semua upaya tersebut. Masjid Raya Baiturrahman Semarang mampu menjadi pusat pembinaan keagamaan yang inklusif, profesional dan berorientasi pada pelayanan terbaik kepada umat. Masjid Raya Baiturrahman Semarang telah mengembangkan berbagai program sosial sebagai wujud implementasi fungsi masjid dalam pemberdayaan umat dan pelayanan Program-program ini dikelola oleh bidang sosial dan dikoordinasikan bersama unit pengumpulan zakat (UPZ) serta organisasi remaja masjid (IKAMABA). Dalam pelaksanaannya, pendekatan manjerial berbasis POAC . lanning, organizing, aztuating, controlin. diterapkan secara konsisten untuk memastikan bahwa setiap program sosial dapat berjalan tepat sasaran, efektif dan berkelanjutan. Perencanaan kegiatan sosial disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat dan respons terhadap situasi darurat yang ada, seperti bencana banjir di Grobogan dan Demak, serta krisis air bersih di Boyolali. Masjid Raya Baiturrahman Semarang memberikan bantuan berupa sembako, makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan sebagai bentuk tanggap bencana dan solidaritas keumatan. Selain itu. Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 program jumat berkah yang diadakan setiap pekan menjadi daya tarik bagi jamaah salat jumat, dengan menyajikan konsumsi gratis berupa nasi kotak, air mineral, serta the hangat atau es teh. Program ini ditunjukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, meningkatkan kehadiran jamaah, serta memperkuat ukhuwah islamiyah. Pada bulan Ramadhan. Masjid Raya Baiturrahman Semarang rutin menyelenggarakan kegiatan bakti sosial dengan sasaran utama kaum duafa, karyawan internal yayasan, tukang becak dan ojek online sekitar masjid, serta jamaah majelis taklim. Bantuan berupa paket sembako dan santunan tunai menjangkau 400 penerima manfaat. Program yang diwujudkan melalui kegiatan AuBerbagi Cinta MuharamAy dan AuBingkisan Berkah RamadhanAy. Dalam konteks kepedulian internal. Masjid Raya Baiturrahman Semarang melalui yayasan juga memberikan bantuan pendidikan kepada keluarga kurang mampu yang bergabung dalam lungkungan yayasan, serta memberikan santunan kepada keluarga pengurus yang mengalami musibah, baik sakit maupun meninggal dunia. Program ini mencerminkan kepedulian menyeluruh yang tidak hanya berorientasi pada publik eksternal, tetapi juga mengayomi internal lembaga. Salah satu program unggulan dalam bidang sosial adalah kegiatan donor darah rutin yang dilaksanakan setiap jumat di minggu pertama setiap bulan. Bertempat di lantai dasar masjid, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari jamaah, pengurus, dan masyarakat sekitar. Tujuannya tidak hanya untuk mendukung ketersediaan darah di PMI, tetapi juga menumbuhkan jiwa kemanusiaan di kalangan umat. Selain itu, masjid juga menyelenggarakan kegiatan AuKhitan SehatAy sebagai rangkaian peringatan milad Masjid Raya Baiturrahman Semarang dengan 120 peserta dari Kota Semarang dan sekitarnya. Kegiatan ini difasilitasi leh tenaga medis dari RSI Sultan Agung dan dilengkapi dengan bingkisan dan uang saku. Distribusi zakat fitrah juga menjadi bagian integral dalam strategi sosial masjid. Melalui sistem pendataan dan verifikasi yang melibatkan masjid-masjid sekitar, zakat yang dihimpun dari para muzaki disalurkan secara langsung kepada sekitar 400 fakir miskin dan dhuafa pada malam 1 Syawal. Transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama dalam pengelolaan ZIS (Zakat. Infak. Sedeka. , sehingga kepercayaan jamaah dapat terjaga dengan baik. Dalam aspek pengorganisasian, kegiatan sosial dijalankan secara kolaboratif antara pengurus masjid. UPZ, dan organisasi kepemudaan masjid. Peran aktif IKAMABA menjadi indikator bahwa Masjid Raya Baiturrahman Semarang juga berkomitmen terhadap regenerasi pengurus serta pelibatan anak muda dalam kegiatan sosial. Sementara dari sisi pelaksanaan, kegiatan dijalankan secara disiplin dengan alur yang jelas dan tenaga kerja yang terkoordinasi. Setiap kegiatan didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala untuk meningkatkan efektivitas program ke depan. Komunikasi antar bidang, meskipun sempat menjadi tantangan, telah ditingkatkan melalui rapat tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan YPKPI. Implementasi manajemen sosial di Masjid Raya Baiturrahman Semarang mencerminkan pemahaman yang mendalam terhadap peran masjid sebagai pusat layanan umat. Evaluasi program dilakukan secara periodik oleh tim pengawas yayasan dan dijadikan acuan dalam menyusun perencanaan berikutnya. Dengan adanya sinergi internal antar bidang dan potensi untuk memperluas kerja sama dengan lembaga eksternal, masjid ini memiliki peluang besar untuk memperluas jangkauan penerima manfaat dan memperkuat loyalitas jamaah. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat transformasi sosial yang adaptif dan kontributif bagi masyarakat luas. Sementara itu, dalam bidang ekonomi, optimalisasi dilakukan melalui pengelolaan aset produktif dan program pemberdayaan masyarakat. Masjid Raya Baiturrahman mengelola Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 beberapa unit usaha seperti penyewaan ballroom, walking space, food court, parkir, serta pelaksanaan bazar Ramadhan, dan pemberdayaan ekonomi umat melalui UMKM. Perencanaan dalam pengelolaan ekonomi masjid dirancang untuk menciptakan kemandirian finansial dan membangun ekosistem usaha syariah yang berpihak pada kepentingan umat. Perencanaan ini mencakup pemanfaatan aset masjid untuk penyewaan ballroom sebagai ruang pernikahan, seminar, dan acara resmi lainnya. Ballroom tersebut disewakan dengan tarif Rp21. 000,00 untuk lima jam acara, serta tersedia paket akad nikah sederhana dengan tarif Rp2. 000,00. Setiap layanan dilengkapi fasilitas penunjang, menciptakan nilai tambah bagi jamaah dan masyarakat umum. Kegiatan ekonomi dijalankan melalui unit-unit usaha seperti food court, walking space, dan area parkir. Terdapat tujuh unit food court yang disewakan kepada pelaku UMKM dengan tarif tahunan antara Rp20. 000,00 hingga Rp22. 000,00. Walking space masjid juga dimanfaatkan untuk kerja sama penyewaan ruang dengan institusi seperti Bank Muamalat. Biro Umrah. LPPOM Jateng, dan Koperasi Dana Muslim, yang menghasilkan pendapatan tetap tahunan hingga ratusan juta rupiah. Selain itu, area parkir dikelola secara profesional dengan pendapatan tahunan Rp55. 000,00, sekaligus mendukung kenyamanan pengunjung dan kelancaran ibadah. Pelaksanaan berbagai kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan yang melibatkan partisipasi jamaah, mitra usaha, dan pengurus masjid. Salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi yang signifikan adalah pelatihan usaha bagi pelaku UMKM, seperti yang dilakukan untuk Ibu Sri di Gunungpati. UPZ memberikan bantuan bahan produksi, pelatihan manajemen keuangan, serta pelatihan digital marketing guna meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha. Pelaksanaan kegiatan bazar Ramadhan juga menjadi ajang pemberdayaan ekonomi yang rutin diadakan setiap tahun. Bazar ini melibatkan pelaku UMKM yang menjual aneka kebutuhan Ramadhan di pelataran masjid, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus mempererat interaksi sosial jamaah. Dalam hal pendanaan. Masjid Raya Baiturrahman Semarang memperoleh pemasukan dari berbagai sumber, termasuk kotak amal salat jumat dan mingguan yang menghasilkan Rp541. 300 per tahun dan menjadi sumber dana terbesar. Sumber lain seperti infak dan sedekah harian menyumbang Rp67. 000 per tahun, yang digunakan secara fleksibel untuk operasional masjid dan bantuan sosial. Dana yang diterima dikelola secara transparan dengan pemisahan antara dana profit dan non-profit, serta dipertanggungjawabkan melalui laporan Masjid juga menjalin kerja sama strategis dengan pihak ketiga, seperti CV. Amazon dalam pengelolaan kebersihan dan keamanan masjid. Sebanyak 11 petugas kebersihan dan 9 petugas keamanan disediakan oleh mitra profesional tersebut. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi modernisasi tata kelola masjid yang menekankan pada efisiensi operasional tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Masjd Raya Baiturrahman Semarang juga melakukan sistem evaluasi tahunan yang diselenggarakan oleh yayasan pengelola (YPKPI). Evaluasi ini bertujuan untuk menilai efektivitas pengelolaan ekonomi masjid serta merespons tantangan yang muncul, seperti fluktuasi daya beli pada masyarakat. Selain itu, pelaporan keuangan dilakukan secara terbuka dan berkala untuk menjaga akuntabilitas terhadap jamaah. Keberhasilan implementasi POAC dalam bidang ekonomi ini mencerminkan kapasitas kelembagaan Masjid Raya Baiturrahman dalam memadukan fungsi ibadah dengan fungsi pemberdayaan ekonomi secara terukur dan Tidak hanya menciptakan kemandirian ekonomi masjid, tetapi juga membuka peluang kerja, ruang usaha, dan pelatihan bagi umat. Dalam jangka panjang, pengurus berharap dapat melibatkan tenaga profesional di bidang ekonomi, pemasaran, dan teknologi Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 untuk menjawab tantangan modern dan meningkatkan daya saing program pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid. Implementasi POAC dalam Bidang Keagamaan Implementasi prinsip manajemen POAC . lanning, organizing, actuating, controllin. dalam bidang keagamaan di Masjid Raya Baiturrahman Semarang menunjukkan suatu sistem manajerial yang terstruktur, sistematis, dan adaptif terhadap kebutuhan jamaah. Planning (Perencanaa. Pengurus masjid menetapkan tujuan utama yakni untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas spiritual umat, menciptakan atmosfer religius yang kondusif, serta menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ubudiyah dan edukasi keagamaan. Program yang dirancang mencakup peringatan hari besar Islam . ahun baru hijriah, maulid Nabi Muhammad SAW, halalbihalal, nuzulul qurAoan, salat Idul Fitri dan Idul Adh. , peningkatan amalan ubudiyah . alat rawatib, salat jumat, menyebar luaskan naskah khotbah dalam bentuk buleti. , kegiatan amalan Ramadhan . engajian menjelang berbuka puasa dan buka bersama, salat tarawih dan ceramah Ramadhan, tadarus Al-QurAoan, kuliah subuh, salat qiyamul lai. , dan pembinaan peningkatan kualitas umat . afsir al-qurAoan, kajian umum, studi ilmu qiraatul qurAoan baiturrahman semarang (STIQQBAS), kajian hikam, tablig akbar, pembinaan muala. Hal ini sejalan dengan pandangan (Handoko, 2. yang menekankan bahwa perencanaan merupakan landasan utama dalam proses manjerial yang menetukan arah kegiatan organisasi secara menyeluruh. Pengurus juga mempertimbangkan karakteristik jamaah, mayoritas musafir dan karyawan, sehingga durasi zikir dan doa disesuaikan agar tidak mengganggu waktu kerja. Faktor pendukukung perencanaan yaitu lokasi Masjid Raya Baiturrahman Semarang strategis di pusat Kota Semarang, fasilitas yang lengkap dan terawat dengan baik, dan sumber daya manusia yang sudah Adapun hambatannya yaitu beberapa pengurus memiliki kesibukan lain di luar tugas kemasjidan, sehingga waktu yang tersedia untuk mengawasi dan merencanakan kegiatan menjadi terbatas dan Masjid Raya Baiturrahman belum memiliki jamaah tetap, sebagian besar jamaah bersifat temporer. Program kegiatan yang ada di Masjid Raya Baiturrahman Semarang dibuat dalam bentuk harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Pihak takmir masjid menyusun program kegiatan yang fleksibel namun terstruktur dengan baik, serta mempertimbangkan efektivitas kegiatan dan partisipasi jamaah (Yan Hanif Jawangga, 2. Organizing (Pengoganisasia. Struktur kepengurusan terbagi kedalam bidang-bidang khusus seperti ketakmiran, dakwah, dan peringata hari besar Islam. setiap bidang memiliki pembagian tuas sesuai keahlian, misalnya imam harus hafidz, dan muadzin harus memiliki suara yang merdu dan tartil. Tugas disesuaikan dengan kompetensi, dan pengurus diberi wewenang penuh untuk melaksanakan program dengan tetap mempertanggungjawaban ke ketua bidang keagamaan. Proses ini sejalan dengan pendapat (Nurhadi, 2. yang menyatakan bahwa pembagian kerja dan tanggung jawab harus disesuaikan dengan kapasitas dan kompetensi sumber daya yang dimiliki Jadwal kegiatan disusun secara teratur dan disebarkan melalui media sosial dan website resmi YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Kegiatan keagamaan dilaksanakan dengan pendekatan jamaah-sentris, seperti pemendekan doa dan zikir agar tidak mengganggu aktivitas jamaah lainnya. Upaya peningkatan partisipasi jamaah juga dilakukan melalui kerja sama dengan dai, akademisi, dan tokoh Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 masyarakat untuk menyampaikan dakwah yang kontekstual dan menyentuh seluruh Koordinasi antar bidang dilakukan melalui rapat rutin serta komunikasi informal antar bidang untuk menjaga konsistensi dan efisiensi pelaksanaan program. Actuating (Pelaksanaa. Dilakukan melalui pemberian instruksi langsung oleh ketua takmir kepada ketua divisi dan pelaksana teknis. Instruksi ini menyangkut penentuan tema kegiatan, penjadwalan pengisi kajian, dan arahan teknis pelaksanaan ibadah, termasuk imbauan kedisiplinan waktu bagi imam dan muadzin. Pengurus juga memberikan motivasi dalam bentuk penghargaan moril seperti ucapan terimakasih dan secara materiil berupa insentif kepada imam, muadzin, dan narasumber pengajian. Dalam hal ini, menekankan pentingnya actuating sebagai proses untuk mengarahkan dan mendorong seluruh elemen organisasi agar dapat bekerja dengan semangat dan loyalitas tinggi (Yan Hanif Jawangga, 2. Selain itu, disediakan fasilitas pendukung seperti konsumsi, ruang istirahat, serta sarana ibadah yang bersih dan nyaman. Dari segi kepemimpinan, pengurus menerapkan gaya partisipatif dan transformasional, yang ditunjukkan melalui musyawarah dalam pengambilan keputusan, pendelegasian tugas dan kepercayaan, serta keteladanan dalam ibadah dan pelayanan umat. Kepemimpinan transformasional mampu membangun visi bersama dan semangat kolektif dalam mencapai tujuan organisasi (Mulyadi, 2. Pengurus juga memanfaatkan media sosial seperti instagram dan facebook untuk menyampaikan informasi kegiatan, serta membuka ruang partisipasi jamaah melalui kritik, saran, dan keterlibatan langsung. Ini sesuai dengan pendapat (Jahar, 2. yang menjelaskan bahwa pemanfaatan media sosial dalam komunikasi organisasi keagamaan memperkuat hubungan dua arah anatara pengelola dan jamaah. Controlling (Pengawasa. Tahap controlling dilaksanakan melalui penetapan standar pelaksanaan kegiatan, seperti kriteria imam, muadzin, kebersihan fasilitas, keteraturan waktu, serta tingkat kehadiran jamaah. Evaluasi dilakukan secara berkala dalam rapat internal pengurus, untuk menilai capaian tujuan, kualitas pelaksanaa, serta respons jamaah. Jika ditemukan kekurangan, maka pengurus segera mengambil tindakan korektif seperti mengganti narasumber, menyesuaikan jadwal, atau memperbaik sarana Masukan dari jamaah juga menjadi rujukan dalam menyempurnakan kegiatan selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan untuk mengontrol, tetapi juga untuk menyempurnakan pelaksanaan kegiatan (Yan Hanif Jawangga, 2. Keberhasilan implementasi POAC dalam bidang keagamaan ini dapat dilihat dari sejumlah indikator. Pertama, program keagamaan terlaksana secara konsisten dan terjadwal, seperti salat berjamaah, kuliah subuh, dan lainnya. Kedua, tingkat partisipai jamaah terus meningkat, khuunya saat Ramadhan dan tablig akbar, meskipun masjid tidak memiliki jamaah tetap tetapi jamaah yang hadir dan mengikuti kegiatan di Masjid Raya Baiturrahman Semarang semakin meningkat disetiap kegiatannya. Ketiga, program keagamaan memberi dampak nyata seperti pembinaan mualaf dan pembelajaran agama bagi siswa sekolah sekitar agar melaksanakan salat berjamaah di masjid terutama pada salat zuhur. Keempat. Masjid Raya Baiturrahman Semarang menjadi rujukan utama kegiatan keagamaan di Jawa Tengah. Terakhir, sistem manajemen yang terdokumentasi dan terstruktur, seperti jadwal kegiatan, laporan evaluasi, dan struktur organisasi, menunjukkan bahwa proses manajerial telah berjalan profesional dan berkelanjutan. Hal Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 ini dikuatkan oleh pendapat (Amidhan, 1. bahwa keberhasilan pengelolaan masjid ditentukan oleh sistem yang terorganisasi dan terdokumentasi secara baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa prinsip POAC telah diimplementasikan secara efektif dalam pengelolaan bidang keagamaan Masjid Raya Baiturrahman Semarang, yang menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pelayanan spiritual yang berdaya guna. Implementasi POAC dalam Bidang Sosial Masjid Raya Baiturrahman Semarang tidak hanya menjalankan fungsi ibadah, tetapi juga secara aktif mengimplementasikan fungsi sosial sebagai bagian dari penguatan peran masjid dalam kehidupan masyarakat. Berbagai program sosial dilaksanakan secara konsisten untuk meningkatkan kesejahteraan, solidaritas, dan kepedulian terhadap umat. Optimalisasi fungsi sosial ini dilakukan dengan menerapkan prinsip POAC sehingga pengelolaan program menjadi terarah, sistematis dan responsif terhadap kebutuhan riil Menurut (Handoko, 2. penerapan POAC sangat penting dalam memastikan efektivitas organisasi karena mampu menyatakan tujuan, strategi, pelaksanaan, dan pengawasan secara terpadu. Planning (Perencanaa. Pengurus masjid menetapan tujuan utama kegiatan sosial, yakni menghadirkan pelayanan sosial yang konsisten, profesional, dan berdampak nyata. Program dirancang dengan menganalisis potensi jamaah, situasi sosial, serta kondisi darurat seperti bencanan alam atau krisis ekonomi. Misalnya, dalam merespons bencana banjir di Grobogan dan Demak serta krisis air bersih di Boyolali. Masjid Raya Baiturrahman menyalurkan bantuan berupa sembako, makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan. Selain itu, program jumat berkah yang diadakan setiap pekan menjadi daya tarik jamaah salat jumat dengan membagikan konsumsi gratis seperti nasi kotak dan teh Perencanaan ini juga mencakup kegiatan Ramadhan seperti santunan duafa, bakti sosial, serta program AuBerbagi Cinta MuharamAy dan AuBingkisan Berkah RamadhanAy yang menjangkau hingga 400 penerima manfaat. Kemudahan dan hambatan juga diidentifikasi, seperti potensi dari peran aktif remaja masjid (IKAMABA) dan kerja sama dengan UPZ Masjid Raya Baiturrahman, sementara hambatannya adalah lemahnya koordinasi lintas bidang dan kurangnya dokumentasi Kegiatan sosial yang dilakukan meliputi jumat berkah, bantuan bencana banjir dan lain-lain, bakti sosial, santunan dan kepedulian, donor darah, khitan sehat, dan distribusi zakat fitrah. Strategi perencanaan yang berbasis kebutuhan dan situasi aktual masyarakat akan meningkatkan efektivitas program sosial masjid secara signifikan (Yan Hanif Jawangga, 2. Organizing (Pengorganisasia. Masjid Raya Baiturrahman Semarang menerapkan sistem pembagian tugas secara proporsional dan kolaboratif. Tim sosial bertanggung jawab merancang dan mengoordinasikan program. UPZ fokus pada penghimpunan dana, dan organisasi remaja masjid (IKAMABA) menangani pelaksanaan teknis di lapangan, seperti distribusi bantuan dan publikasi kegiatan. Pengorganisasian dilakukan dengan menempatkan personel sesuai kapasitas dan minat, sebagaimana terlihat dalam penyaluran zakat fitrah yang melibatkan UPZ dalam pengumpulan dan bidang sosial dalam pendistribusian. Kegiatan ini melibatkan sekitar 400 fakir miskin dan dhuafa Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 yang telah melalui proses pendataan dan verifikasi. Efektivitas suatu organisasi sosial bergantung pada sejauh mana struktur kerja dikelola secara tepat dan mampu mengakomodasi peran serta potensi semua anggota. Pengurus Masjid Raya Baiturrahman juga memperkuat koordinasi lintas bidang melalui rapat rutin serta pelibatan aktif generasi muda sebagai bentuk regenerasi kepengurusan yang berkelanjutan (Mulyadi, 2. Actuating (Pelaksanaa. Pengurus memberikan arahan teknis secara langsung kepada tim pelaksana sebelum kegiatan berlangsung. Program sosial dilakukan melalui arahan langsung dari pengurus kepada tim pelaksana, yang dilengkapi dengan petunjuk teknis pelaksanaan dan pembagian tugas operasional. Misalnya, dalam program AuKhitan SehatAy yang diadakan dalam rangka milad masjid, pengurus memastikan pelayanan medis berjalan tertib, peserta hadir tepat waktu, dan konsumsi tersedia dengan baik. Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta dari berbagai wilayah dan difasilitasi oleh tenaga medis dari RSI Sultan Agung. Motivasi diberikan dalam bentuk orientasi hasil, seperti dampak program sosial bagi masyarakat. Kepemimpinan yang diterapkan bersifat partisipatif dan transformasional, dimana pengurus menjadi teladan langsung dan mendorong keterlibatan generasi muda. Gaya ini terbukti efektif dalam membangun solidaritas dan semangat kontribusi sosial (Mulyadi, 2. Komunikasi antar pengurus dan jamaah dilakukan melalui berbagai media, melalui dari pengumuman salat, spanduk, media sosial, hingga website resmi YPKPI Masjid Raya Baiturrahman (Jahar, 2. Koordinasi selama pelaksanaan program dijalankan secara aktif. Misalnya, saat kegiatan khitan massal, pengurus memastikan peserta datang tepat waktu, pelayanan medis tertib, dan konsumsi tersedia. Monitoring dan evaluasi dilakukan saat kegiatan berlangsung dan menjadi dasar untuk penyesuaian operasional di lapangan. Pendekatan koordinatif ini sangat penting untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai tujuan awal. Controlling (Pengawasa. Melalui evaluasi program secara berkala dengan memperhatikan indikator keberhasilan seperti jumlah penerima manfaat, efektivitas penggunaan anggaran, dan umpan balik dari masyarakat. Rapat evaluasi tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan YPKPI menjadi forum penting untuk meninjau efektivitas kegiatan, mengidentifikasi kendala, serta menyusun strategi perbaikan. Salah satu hasil evaluasi tersebut adalah perbaikan SOP distribusi bantuan serta peningkatan sistem Dokumentasi yang rapi dan administratif menjadi bukti keseriusan dalam menjaga akuntabilitas program. (Amidhan, 1. menyatakan bahwa keberhasilan program sosial di masjid sangat ditentukan oleh sistem pengawasan yang profesional dan terstruktur. Keberhasilan implementasi POAC dalam bidang sosial di Masjid Raya Baiturrahman Semarang tercermin dari lima indikator utama. Pertama, konsistensi program sosial seperti jumat berkah, donor darah, dan khitan massal. Kedua, meningkatnya partisipasi jamaah dan remaja masjid dalam pelaksanaan kegiatan sosial. Ketiga, kebermanfaatan program yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Keempat, peran masjid sebagai rujukan utama kegiatan sosial di Jawa Tengah. Kelima, sistem manajemen program sosial yang terdokumentasi dengan baik dan dapat dievaluasi secara berkala. Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 Dengan semua itu. Masjid Raya Baiturrahman telah berhasil mewujudkan pengelolaan sosial yang adaptif, inklusif, dan berbasis kebutuhan umat. Implementasi prinsip POAC yang menyeluruh memperlihatkan kedewasaan manajerial masjid, serta memperkuat fungsinya sebagai agen perubahan sosial yang relevan dan kontributif dalam kehidupan masyarakat perkotaan masa kini. Implementasi POAC dalam Bidang Ekonomi Masjid Raya Baiturrahman Semarang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memainkan peran strategis dalam pengembangan ekonomi umat. Fungsi ini diwujudkan melalui pengelolaan aset produktif, kerja sama eksternal, serta pemberdayaan masyarakat sekitar. Optimalisasi manajemen ekonomi ini dijalankan dengan menerapkan prinsip POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. , yang memungkinkan pendekatan sistematis dan objektif terhadap pengelolaan ekonomi masjid. Sejalan dengan pandangan (Amidhan, 1. masjid idealnya menjadi pusat pemberdayaan umat dalam aspek sosial-ekonomi, tidak sebatas sebagai sarana ibadah ritual. Planning (Perencanaa. Masjid Raya Baiturrahman Semarang menetapkan tujuan utama berupa kemandirian ekonomi berbasis pemanfaatan aset produktif dan pemberdayaan Tujuan tersebut dirumuskan secara spesifik, terukur, terencana dan berorientasi jangka panjang. Seperti dijelaskan oleh (Handoko, 2. , perencanaan merupakan landasan utama yang akan menentukan arah efektivitas, dan efisiensi dari keseluruhan proses manajerial untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Masjid merancang strategi dengan menganalisis potensi aset dan kondisi eksternal, termasuk perubahan daya beli masyarakat. Sumber-sumber pendapatan yang diidentifikasi meliputi infak, sedekah, kotak amal, bazar Ramadhan, serta pengelolaan unit usaha seperti food court, penyewaan ballroom, walking space, dan area parkir. Potensi ini diperkuat oleh lokasi masjid yang strategis dan aset yang memadai. Perencanaan usaha juga memperhatikan aspek kebutuhan umat dan potensi Ballroom disewakan dengan paket komersial (Rp21. 000 untuk 5 ja. serta paket akad sederhana (Rp2. , dilengkapi fasilitas seperti AC. LCD, dan ruang VIP. Di sisi lain, tujuh unit food court disewakan kepada pelaku UMKM dengan tarif tahunan Rp20Ae22 juta, sementara kerja sama strategis dengan Bank Muamalat. LPPOM Jateng, biro umrah, dan koperasi menghasilkan pemasukan tetap dari walking space. Area parkir yang dikelola secara profesional menghasilkan Rp55. 000 per tahun. Untuk memperkuat kapasitas masyarakat, masjid menyusun rencana pelatihan UMKM dan digital marketing, seperti yang dilakukan terhadap Ibu Sri di Gunungpati, serta melakukan evaluasi berkala untuk mengukur dampak pemberdayaan ekonomi terhadap mustahik yang telah menjadi muzaki (Yan Hanif Jawangga, 2. Namun, terdapat pula hambatan seperti turunnya daya beli masyarakat dan keterbatasan SDM yang profesional. Oleh karena itu, pengurus menyusun langkah strategis berupa pelatihan UMKM, kerja sama dengan lembaga keuangan syariah, serta evaluasi berkala untuk mengukur dampak program (Yan Hanif Jawangga, 2. Organizing (Pengorganisasia. Tugas pengelolaan ekonomi dikoordinasikan oleh bidang rumah tangga Tugas dan wewenang dibagi sesuai kompetensi masing-masing unit. Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 mencakup pengelolaan ballroom, walkung space, food court, parkir, pelatihan UMKM, dan bazar Ramadhan. (Mulyadi, 2. menyebutkan bahwa pembagian tugas yang proporsional dan berbasis kompetensi merupakan kunci efektivitas dalam organisasi nirlaba. Pengurus menugaskan individu yang berpengalaman dalam operasional unit ekonomi dan menjalin kemitraan dengan pihak profesional seperti CV Amazon yang menyediakan 11 petugas kebersihan dan 9 petugas keamanan. Kegiatan ekonomi juga dikoordinasikan secara berkala melalui rapat internal, terutama menjelang kegiatan besar seperti bazar Ramadhan yang melibatkan pelaku UMKM untuk menjual produk di pelataran masjid. Actuating (Pelaksanaa. Pelaksanaan kegiatan ekonomi melibatkan arahan teknis dari ketua bidang rumah tangga dan didasarkan pada prosedur standar. Motivasi kepada pelaksana diwujudkan dalam bentuk pelatihan usaha, bantuan alat produksi, serta pendampingan Pemberdayaan seperti ini terbukti lebih efektif dalam mendorong partisipasi masyarakat karena bersifat aplikatif dan berorientasi pada hasil langsung (Yan Hanif Jawangga, 2. Gaya kepemimpinan yang diterapkan bersifat partisipatif dan transformasional, sebagaimana dijelaskan oleh (Mulyadi, 2. , di mana pemimpin memberi teladan, menginspirasi, dan membuka ruang komunikasi dua arah. Komunikasi ini dilakukan melalui rapat koordinasi, laporan terbuka, serta transparansi kepada jamaah dan mitra. Kegiatan seperti bazar Ramadhan, penyewaan walking space, serta pelatihan UMKM dilaksanakan secara disiplin dan melibatkan kerja sama lintas sektor dengan pendekatan sinergis. Controlling (Pengawasa. Pengawasan dilakukan dengan menetapkan indikator keberhasilan ekonomi masjid, seperti peningkatan pendapatan tahunan, jumlah pelaku UMKM yang berdaya, serta efektivitas pemanfaatan aset. Masjid melakukan audit internal dan menyelenggarakan evaluasi tahunan melalui Yayasan YPKPI. Apabila ditemukan hambatan, seperti penurunan pendapatan atau fluktuasi daya beli masyarakat, pengurus segera menerapkan langkah korektif seperti peningkatan promosi digital, perbaikan manajemen aset, atau diversifikasi program usaha. (Jahar, 2. menyatakan bahwa sistem pengawasan berbasis data dan akuntabilitas publik akan meningkatkan kepercayaan masyarakat serta memperkuat legitimasi organisasi. Pendanaan yang diperoleh, seperti dari kotak amal jumat dan mingguan senilai Rp541. 300 per tahun dan infak/sedekah harian Rp67. 000, dikelola secara terpisah antara dana profit dan non-profit, lalu dilaporkan secara berkala kepada jamaah sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas. Keberhasilan optimalisasi ekonomi Masjid Raya Baiturrahman Semarang tampak dari lima indikator utama. Pertama, kegiatan ekonomi berjalan secara konsisten dan terjadwal, seperti penyewaan ballroom dan bazar Ramadhan. Kedua, partisipasi masyarakat dan pelaku UMKM meningkat dengan keterlibatan langsung di food court dan walking space. Ketiga, program pemberdayaan memberikan dampak konkret bagi pelaku usaha lokal. Keempat, masjid menjadi rujukan publik dalam pengembangan ekonomi berbasis masjid. Kelima, pengelolaan dilaksanakan secara profesional dengan dokumentasi dan evaluasi berkala yang menggambarkan sistem manajemen yang akuntabel dan adaptif (Amidhan. Dengan menerapkan prinsip POAC secara menyeluruh. Masjid Raya Baiturrahman telah menunjukkan kemampuan institusional dalam menyelaraskan visi Ariana Suryorini. Puji Retno Lestari. Andini Purna Dita Implementasi Poac dalam Bidang Keagamaan. Sosial, dan Ekonomi sebagai Upaya Optimalisasi Manajemen Masjid Raya Baiturrahman Semarang Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 02 Desember 2025 : Hal 121-135 ibadah dengan misi ekonomi umat. Manajemen ekonomi yang berlandaskan nilai syariah, didukung tata kelola modern dan kolaborasi lintas sektor, menjadikan masjid bukan hanya sebagai pusat keagamaan, melainkan juga sebagai pilar transformasi sosialekonomi umat di tengah kehidupan perkotaan yang dinamis dan kompetitif. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan prinsip POAC dalam pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman Semarang telah berjalan secara optimal dan profesional pada tiga bidang utama. Pertama, dalam bidang keagamaan, masjid menyusun program-program ibadah, dakwah, dan edukasi keagamaan secara terstruktur dan fleksibel, menyesuaikan kebutuhan spiritual jamaah yang mayoritas musafir dan masyarakat umum. Kegiatan seperti salat berjamaah, kultum, kajian tafsir, serta peringatan hari besar Islam dilaksanakan secara rutin dan terdokumentasi dengan baik. Kedua, pada bidang sosial, masjid telah berhasil mengimplementasikan berbagai program yang berfokus pada kesejahteraan dan kemanusiaan, seperti zakat, santunan, donor darah, khitan sehat, serta bantuan bencana. Program-program tersebut dikelola dengan prinsip kolaborasi antara pengurus. UPZ, dan IKAMABA, serta dilengkapi sistem evaluasi yang berorientasi pada dampak langsung terhadap masyarakat. Ketiga, dalam bidang ekonomi, masjid menunjukkan kemandirian melalui pengelolaan aset produktif seperti penyewaan ballroom, food court, walking space, dan area parkir. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemasukan bagi masjid, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan bagi pelaku UMKM melalui pelatihan dan dukungan sarana Pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan dan profesional, dengan pemisahan dana profit dan non-profit serta pelaporan berkala kepada jamaah. Secara keseluruhan, prinsip POAC telah berhasil diimplementasikan secara terpadu dalam ketiga bidang tersebut. Hal ini menjadikan Masjid Raya Baiturrahman Semarang sebagai institusi yang mampu mengintegrasikan fungsi ibadah, sosial, dan ekonomi secara efektif. Masjid tidak hanya hadir sebagai pusat spiritual, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi umat yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika masyarakat modern. Referensi