E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Daya Saing Kopi Indonesia di Pasar Internasional Dalam 3 Dekade Terakhir Ernes Septina Azizi Prodi Agribisnis. Fakultas Sains &Teknologi. Universitas Putra Bangsa. Abstrak Kopi menjadi komoditas unggulan yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi, terutama dalam mendukung peningkatan ekspor non-migas di Indonesia dan sebagai penghasil devisa negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dalam 3 dekade terakhir atau selama periode 1989Ae2019. Metode analisis yang digunakan adalah Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD), dan X-Model Potential Export Product. Hasil analisis daya saing dengan metode RCA menunjukkan bahwa tidak semua kode HS untuk kopi Indonesia dan negara pesaing memiliki keunggulan komparatif, kopi Indonesia memiliki daya saing kuat untuk kode HS 090111 tetapi tidak berdaya saing kuat untuk kode HS lain. Hasil dari metode EPD menunjukkan bahwa untuk semua kode HS kopi Indonesia dan negara pesaing memiliki posisi rising star atau memiliki daya tarik positif dan pangsa pasar yang meningkat. Hasil dari metode X-Model Potential Export Product menunjukkan bahwa Indonesia dan negara pesaing memiliki perkembangan pasar kopi yang optimis untuk kode HS 090111 dan memiliki perkembangan pasar yang potensial untuk kode HS 090112, 090121, 090122, dan 090190. Dari hasil analisis Porter Diamond diperoleh hasil bahwa Negara Indonesia memiliki keunggulan pada faktor kondisi yaitu sumberdaya alam dan memiliki kelemahan pada IPTEK, sumber daya manusia dan sumber daya modal. Kata Kunci: daya saing. EPD. Porter Diamond. RCA Abstract Coffee is one of the most important commodities that have an important role in economic growth, especially in supporting the increase of non-oil exports in Indonesia and as a foreign exchange earner. The purpose of this article is to analyze competitiveness of Indonesian coffee in international market in the last 3 decades or during period 1989Ae2019. Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD). X-Model Potential Export Product and Diamond PorterAos is used to analysis competitiveness. The results of the analysis of competitiveness using the RCA method show that not all HS codes for Indonesian coffee and competing countries have comparative advantage. Indonesian coffee has strong competitiveness for HS code 090111 but has no strong competitive power for other HS The results of the EPD method show that for all HS codes Indonesian coffee and competing countries have a rising star position or have positive appeal and increased market The results of the X-Model Potential Export Product method show that Indonesia and competing countries have optimistic coffee market developments for HS code 090111 and have potential market developments for HS codes 090112, 090121, 090122, and 090190. From the results of Porter Diamond's analysis, the results obtained that the State of Indonesia has E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. advantages in terms of condition factors, namely natural resources and has weaknesses in science and technology, human resources and capital resources. Keywords: competitiveness. EPD. Porter Diamond. RCA Pendahuluan Potensi pembangunan pertanian di Indonesia sangatlah besar, baik untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Salah satu subsektor pertanian yang perlu dikembangkan yaitu tanaman perkebunan. Kontribusi tanaman perkebunan terhadap PDB sebesar 3,30 % pada tahun 2018 (BPS, 2. Menurut data BPS, pada tahun 2019, komoditas yang masuk dalam kategori perkebunan besar adalah minyak sawit, biji sawit, gula tebu, karet kering, teh, kopi, coklat, tembakau, dan kulit kina. Dari sejumlah komoditas perkebunan tersebut, kopi merupakan salah satu komoditas dari subsektor perkebunan yang memiliki trend permintaan dan konsumsi yang cukup tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri walaupun nilai ekspornya dari tahun ke tahun cenderung fluktuatif namun mengalami peningkatan dari US$ 550,0 juta pada tahun 2018 menjadi US$ 1. 618,9 juta pada tahun 2019. Sektor kopi global telah berkembang pesat sejak 1990 karena produksi telah meningkat lebih dari 65% dan penggerak utama pertumbuhan kopi yaitu meningkatnya konsumsi di negara berkembang dan negara penghasil kopi (ICO, 2. Menurut ICO . Indonesia merupakan negara pengekspor kopi terbesar keempat di pasar internasional setelah Brazil. Vietnam, dan Kolombia. Nilai ekspor kopi pada tahun 2017 / 2018 mencapai US$ 20 miliar bahkan pendapatan industri kopi beberapa kali lebih tinggi dan diperkirakan melampaui US$ 200 miliar (Samper. Daniele dan Luciana, 2. Tabel 1. Perkembangan Nilai Ekspor Kopi di 4 Negara Penghasil Utama di Dunia Nilai Ekspor Kopi Dunia (Juta US$) Eksporter Brazil Vietnam Colombia Indonesia Sumber : Indonesian Eximbank . E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Sebagai salah satu negara eksportir kopi terbesar di dunia, maka indonesia memiliki pangsa pasar yang tinggi terhadap kopi. Banyaknya eksportir kopi di dunia juga menjadi tantangan bagi Indonesia untuk dapat menguasai pangsa pasar ekspor dimana terdapat negara Brazil. Vietnam dan Kolombia yang menjadi pesaing utama dalam ekspor kopi. Daya saing kopi Indonesia menjadi suatu hal penting untuk memulihkan krisis ekonomi yang melanda negara Indonesia. Kopi diharapkan mampu meningkatkan devisa negara dan memberikan lapangan pekerjaan masyarakat Indonesia. Sehingga analisis daya saing indonesia di pasar internasional perlu dilakukan dan salah satu kebaruan dari artikel ini yaitu analisis dilakukan selama 30 tahun Metode Metode Dasar Dan Lokasi Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analitis. Metode tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana daya saing kopi Indonesia di pasar Pengumpulan data dilakukan secara online karena data yang digunakan adalah data sekunder dengan rentang waktu pengumpulan data dari bulan maret Ae mei 2021. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder periode 1989 Ae 2019 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari beberapa sumber. Data yang digunakan berupa data panel yaitu gabungan data time series dan cross section selama 30 tahun untuk negara eksportir utama yaitu Brazil. Kolombia. Vietnam dan Indonesia serta negara tujuan yaitu Amerika Serikat. Jepang. Italia. Jerman. Belanda. Perancis. Malaysia . 9 Ae 2. Data-data sekunder dalam penelitian ini mencakup data ekspor impor dari United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrad. International Coffee Organization (ICO). International Trade Center (ITC), selain itu terdapat juga dari berbagai sumber E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. pendukung seperti Badan Pusat Statistika (BPS). Kementerian Pertanian. Kementerian Perdagangan. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) dan lain-lain. Metode Analisis Data Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah Revealed Comparative Advantage (RCA). Export Product Dynamic (EPD), dan X-Model Potential Export Product. Analisis daya saing dianalisis menggunakan software Microsoft Excel. Revealed Comparative Advantage (RCA) Daya saing dianalisis dengan membandingkan empat eksportir utama untuk komoditas Eksportir utama untuk komoditas kopi yaitu Brazil. Vietnam. Kolombia dan Indonesia. Perumusan RCA eksportir utama untuk komoditas kopi pada periode 1989 Ae 2019 di pasar internasional adalah sebagai berikut (Saboniene ,2. ycUyco/ycUyc RCA =ycOyco/ycOyc Keterangan : Xk = Nilai ekspor kopi dari negara eksportir Xt = Nilai ekspor total semua komoditas dari negara eksportir Wk = Nilai ekspor kopi di dunia Wt = Nilai ekspor total semua komoditas di dunia Apabila nilai RCA lebih dari satu menunjukkan bahwa komoditas ekspor kopi mengalami peningkatan relatif dibandingkan dengan rata-rata dunia, sehingga pangsa di pasar dunia Sebaliknya, jika nilai RCA kurang dari satu artinya kinerja komoditas ekspor kopi mengalami kemunduran relatif dibandingkan dengan kinerja ekspor rata-rata dunia. Export Product Dynamic (EPD) EPD digunakan untuk mengetahui posisi daya saing ekspor kopi. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat kedinamisan produk di pasar. Komoditi yang akan diestimasi daya saingnya dalam penelitian ini adalah kopi Indonesia, dan akan menempati salah satu dari empat kuadran pada Gambar 1. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Lost Rising star Retreat Falling star Gambar 1. Matriks daya tarik dan kekuatan bisnis pada EPD (Sumber : Estherhuizen, 2. Keterangan : Sumbu x : tingkat pertumbuhan kekuatan ekspor . Sumbu y : tingkat pertumbuhan daya tarik pasar . Rising star adalah posisi pasar tertinggi yang ditandai oleh pangsa pasar suatu negara atas kopi yang berkembang cepat. Lost Opportunity adalah kondisi paling tidak diinginkan oleh suatu negara karena pada posisi tersebut terjadi penurunan pangsa pasar untuk komoditi Falling Star juga tidak menguntungkan bagi suatu negara karena pangsa pasarnya meningkat tapi bukan pada kopi yang dinamis di pasar dunia. Retreat adalah kondisi dimana kopi Indonesia tidak diinginkan lagi di pasar. Adapun perhitungan matematis untuk menentukan pangsa ekspor dan pangsa produk adalah sebagai berikut : Untuk menentukan sumbu X . ertumbuhan kekuatan ekspo. Ocycyc=1 ycU . cOya ) yc ycu 100% Oe Ocycyc=1 ya ycU . cOya ) ycOe1 ycu 100% ya ycN Untuk menentukan sumbu Y . ertumbuhan daya tarik pasa. Ocycyc=1 ycU . cOycN ) yc ycu 100% Oe Ocycyc=1 ycN ycU . cOycN ) ycOe1 ycu 100% ycN ycN Keterangan : = Nilai ekspor kopi negara eksportir ke pasar internasional E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. = Nilai total ekspor kopi dunia ke pasar internasional = Nilai ekspor total negara eksportir di pasar internasional = Nilai total ekspor dunia T= Jumlah tahun analisis t = tahun ke t = tahun sebelumnya X-Model Potential Export Product X-Model Potential Export Product merupakan metode yang menggabungkan antara metode RCA dan EPD. Tujuan digunakannya metode ini yaitu untuk melakukan klasterisasi produk yang memiliki potensi pengembangan tinggi di negara negara Klasterisasi dilakukan untuk (Destumingsih, 2. Hasil dan Pembahasan Analisis Daya Saing Kopi Indonesia di Pasar Internasional Analisis daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dilakukan dengan menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif pada lima produk kopi dengan kode HS 090111 . enis kopi robusta, arabika, yang tidak disangrai dan tidak dikurangi kadar kafeinny. HS 090112 . enis kopi robusta, arabika, tidak disangrai tetapi kadar kafeinnya dikurang. HS 090121 . enis kopi robusta, arabika, disangrai, dan kadar kafeinnya dikurang. HS 090122 . enis kopi robusta, arabika, disangrai dan dikurangi kadar kafeinny. , dan HS 090190 . enis pengganti kopi yang mengandung kopi, sekam dan selaput kop. Analisis daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dianalisis menggunakan RCA. EPD, dan X-Model Potential Export Product. Analisis RCA Analisis RCA dilakukan untuk mengukur keunggulan komparatif suatu negara di pasar Nilai RCA digunakan untuk membandingkan posisi daya saing kopi Indonesia dengan negara-negara eksportir utama komoditas kopi di pasar internasional. Nilai RCA yang semakin tinggi menunjukkan suatu negara memiliki keunggulan komparatif yang lebih besar dan berdaya saing kuat dibandingkan negara lain. Hasil perhitungan RCA di empat negara E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. eksportir kopi di pasar internasional berdasarkan lima kode HS yang dianalisis dari tahun 1989 Ae 2019 dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil analisis RCA pada Tabel 1. dari tahun 1989 sampai tahun 2019 menunjukkan bahwa keempat negara tersebut memiliki daya saing pada kopi dengan kode HS 090111 karena nilai RCA nya lebih dari satu. Dari keempat negara tersebut Kolombia merupakan negara yang paling berdaya saing tinggi dibandingkan tiga negara pesaing lainnya karena rata-rata nilai RCA untuk Negara Kolombia sebesar 56,63 atau dengan arti lain Kolombia merupakan negara yang memiliki keunggulan komparatif paling besar sebagai eksportir kopi di pasar Posisi terkuat kedua yaitu Negara Vietnam dengan nilai RCA rata-rata sebesar 17,37 artinya daya saing kopi di Negara Vietnam untuk kode HS 090111 kuat karena nilai RCA lebih dari satu. Posisi daya saing terkuat ketiga yaitu Negara Brazil dengan nilai RCA rata-rata sebesar 17,26. Brazil merupakan negara eksportir yang menempati urutan pertama pada ekspor komoditas kopi tetapi daya saingnya masih kalah dengan negara Kolombia dan Vietnam. Negara Indonesia berada di posisi ke-empat dengan nilai rata-rata RCA sebesar 4,56. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa daya saing ekspor Indonesia kuat karena nilai RCA lebih dari satu tetapi masih kalah dibandingkan dengan tiga negara pesaing lainnya. Hal tersebut juga membuktikan bahwa Indonesia memiliki nilai ekspor dan volume ekspor yang lebih kecil dibandingkan negara pesaing lainnya yaitu Brazil. Kolombia dan Vietnam. Tabel 1. Nilai rata-rata RCA Empat Negara Eksportir Kopi untuk kode HS 090111. HS 090112. HS 090121. HS 090122. HS 090190 tahun 1989 Ae 2019. Nilai RCA Kode HS Indonesia Brazil Kolombia Vietnam Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade, 2. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Nilai RCA untuk kode HS 090112 dari tahun 1989 sampai dengan 2019 untuk keempat negara eksportir pada Tabel 1 dapat dikatakan tidak memiliki daya saing yang kuat karena pada keempat negara nilai RCA kurang dari satu. Negara Vietnam memiliki nilai rata-rata RCA terbesar yaitu 0,20 artinya walaupun Vietnam menempati posisi pertama dengan nilai RCA tertinggi pada kode HS tersebut Vietnam tetap tidak memiliki keunggulan komparatif untuk kopi dengan kode HS 090112. Posisi kedua untuk perolehan nilai RCA bagi kode HS 090112 yaitu Negara Indonesia dengan nilai rata-rata 0,07 dan posisi ketiga ditempati Vietnam dengan nilai RCA 0,06, dan posisi keempat ditempati oleh Brazil dengan nilai rata-rata RCA 0,00. Hal ini berarti Indonesia. Vietnam dan Brazil tidak memiliki keunggulan komparatif pada kopi dengan kode HS tersebut. Analisis RCA untuk kode HS 090121 dapat dilihat pada Tabel 1. Kolombia memiliki nilai RCA paling besar diantara negara pesaingnya yaitu sebesar 0,30. Angka tersebut memiliki arti bahwa Kolombia tidak berdaya saing secara komparatif untuk kopi dengan kode HS tersebut. Posisi kedua ditempati oleh Negara Brazil dengan nilai rata-rata RCA sebesar 0,06 yang artinya Negara Brazil juga tidak berdaya saing secara komparatif untuk kopi dengan kode HS tersebut. Indonesia dan Vietnam menempati posisi yang sama karena memiliki nilai rata-rata RCA yang sama yaitu sebesar 0,02 yang berarti bahwa Indonesia dan Vietnam juga tidak berdaya saing secara komparatif untuk kopi kode HS tersebut. Nilai RCA untuk komoditas kopi kode HS 090122 dapat dilihat pada Tabel 1. Negara Kolombia dan Vietnam menempati posisi pertama dengan nilai RCA yang sama yaitu 0,01 dengan kata lain Kolombia dan Vietnam tidak unggul secara komparatif atau tidak berdaya saing kuat. Indonesia dan Brazil menempati posisi kedua dengan nilai 0,00 yang artinya Indonesia dan Brazil juga tidak unggul secara komparatif atau tidak berdaya saing kuat karena nilai RCA kurang dari satu. Pada Tabel 1. Jenis kopi lain yang dianalisis menggunakan RCA yaitu kopi dengan kode HS Untuk kode HS tersebut nilai rata-rata RCA Negara Indonesia paling tinggi dibandingkan negara pesaing yaitu 0,02 tetapi angka tersebut memiliki arti bahwa Indonesia tidak berdaya saing secara komparatif karena nilai RCA kurang dari satu. Kolombia berada di E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. bawah Indonesia dengan rata-rata nilai RCA 0,01. Brazil dan Vietnam memiliki nilai rata-rata RCA yang sama yaitu 0,00. Kolombia. Brazil dan Vietnam juga tidak memiliki daya saing yang kuat atau tidak unggul secara komparatif karena nilai RCA kurang dari satu. Menurut Kementerian Perdagangan . Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif dan tidak berdaya saing kuat di pasar internasional untuk kode HS 090112, 090121, 090122, dan 090190 dikarenakan Indonesia belum meningkatkan nilai tambah ekspor produk kopi dengan kode HS tersebut. Indonesia dan Brazil merupakan negara eksportir kopi yang memiliki keunggulan komparatif paling kecil dibandingkan Kolombia dan Vietnam. Dari nilai RCA yang sudah dijelaskan untuk kelima kode HS. Kolombia merupakan negara eksportir yang memiliki nilai RCA paling tinggi. Hal ini berarti Kolombia merupakan negara yang memiliki keunggulan komparatif paling besar di pasar internasional dibandingkan dengan negara pesaing lainnya. Analisis RCA menggambarkan gambaran bahwa ekspor komoditas kopi secara keseluruhan untuk Negara Brazil menempati peringkat pertama dari besarnya volume dan nilai ekspor. Jika dianalisis dalam kode HS yang lebih khusus seperti yang telah digambarkan pada tabel-tabel sebelumnya. Brazil belum memiliki keunggulan secara komparatif dan daya saingnya masih kurang kuat jika dibandingkan dengan Negara Kolombia. Kopi Indonesia dan negara pesaing untuk kode HS 090111 berdaya saing kuat karena memiliki nilai RCA lebih dari satu. Untuk kode HS lain yang diteliti yaitu 090112, 090121, 090122, dan 090190 daya saing kopi baik untuk Negara Indonesia maupun negara pesaing tidak berdaya saing kuat atau tidak unggul secara komparatif karena memiliki nilai RCA kurang dari 1. Analisis EPD Metode lain yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dari sisi keunggulan kompetitif yaitu EPD (Export Product Dynami. Metode ini dapat digunakan untuk membandingkan kinerja ekspor diantara negara-negara di seluruh dunia dengan melihat posisi pangsa pasar yang dimiliki oleh komoditas tersebut. Daya saing atau keunggulan kompetitif komoditas kopi yang dianalisis menggunakan EPD dapat menentukan keberlanjutan ekspor bagi tiap negara eksportir. Posisi eksportir kopi di pasar internasional dibagi menjadi empat kuadran yaitu kuadran I rising star, kuadran II falling star. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. kuadran i lost opportunity, dan kuadran IV retreat. Tabel 2 menunjukkan posisi pasar eksportir kopi berdasarkan perhitungan menggunakan metode EPD periode ekspor 1989 Ae Tabel 2. Posisi eksportir utama kopi (HS 090. di pasar internasional tahun 1989 Ae 2019 Nilai EPD Negara Eksportir Daya Tarik Posisi Pasar Pertumbuhan Ekspor Pasar Rising Star Indonesia 0,00094720 0,00028913 Rising star Brazil 0,00496753 0,00038623 Rising star Kolombia 0,00246789 0,00006810 Rising star Vietnam 0,00231830 0,00045625 Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Tabel 3. Posisi eksportir utama kopi (HS 090. di pasar internasional tahun 1989 Ae 2019 Nilai EPD Negara Eksportir Posisi Pasar Pertumbuhan Ekspor Daya Tarik Pasar Indonesia 0,00000040 0,00028913 Rising star Brazil 0,00000000 0,00038623 Rising star Kolombia 0,00001009 0,00006810 Rising star Vietnam 0,00005200 0,00045625 Rising star Sumber: Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Hasil perhitungan EPD dalam Tabel 2 dan 3 untuk keempat negara eksportir kopi utama yaitu Indonesia. Brazil. Kolombia, dan Vietnam menunjukkan bahwa pada komoditas kopi dengan kode HS 090111 dan kode HS 090112 keempat negara tersebut bernilai positif untuk pertumbuhan ekspor dan daya tarik pasarnya sehingga berada pada posisi Rising Star. Hal tersebut berarti keempat negara memiliki pertumbuhan ekspor yang positif dan daya tarik pasar yang meningkat. Dapat juga diartikan keempat negara tersebut mengalami peningkatan pangsa pasar sehingga keempat negara tersebut bertahan dalam perdagangan kopi di pasar internasional untuk kode HS 090111 dan kode HS 090112. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Posisi eksportir utama kopi (HS 090. di pasar internasional tahun 1989 Ae 2019 Nilai EPD Negara Daya Tarik Posisi Pasar Eksportir Pertumbuhan Ekspor Pasar Rising Star Indonesia 0,00000992 0,00028913 Rising star Brazil 0,00001050 0,00038623 Rising star Kolombia 0,00008643 0,00006810 Rising star Vietnam 0,00002726 0,00045625 Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Tabel 4. Hasil perhitungan EPD dalam Tabel 4 dan 5 untuk keempat negara eksportir kopi utama yaitu Indonesia. Brazil. Kolombia, dan Vietnam menunjukkan bahwa pada komoditas kopi dengan kode HS 090121 dan kode HS 090122 keempat negara tersebut bernilai positif untuk pertumbuhan ekspor dan daya tarik pasarnya sehingga berada pada posisi Rising Star. Hal tersebut berarti, keempat negara untuk kopi dengan kode HS 090121 dan HS 090122 dapat bertahan dalam perdagangan kopi di pasar internasional karena pertumbuhan ekspornya positif serta daya tarik pasar yang meningkat. keempat negara memiliki pertumbuhan ekspor yang positif dan daya tarik pasar yang meningkat atau dengan kata lain kinerja untuk perdagangan ekspor kopi berjalan cepat dan dinamis. Tabel 5 Posisi eksportir utama kopi (HS 090. di pasar internasional tahun 1989 Ae 2019 Nilai EPD Negara Daya Tarik Posisi Pasar Eksportir Pertumbuhan Ekspor Pasar Rising Star Indonesia 0,00000000 0,00028913 Rising star Brazil 0,00000011 0,00038623 Rising star Kolombia 0,00000130 0,00006810 Rising star Vietnam 0,00001082 0,00045625 Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Hasil perhitungan EPD dalam Tabel 6 untuk keempat negara eksportir kopi utama yaitu Indonesia. Brazil. Kolombia, dan Vietnam menunjukkan bahwa pada komoditas kopi dengan kode HS 090190 keempat negara tersebut bernilai positif untuk pertumbuhan ekspor dan daya tarik pasarnya sehingga berada pada posisi Rising Star atau dalam kondisi pasar yang cukup Hal tersebut membuktikan bahwa komoditas kopi untuk kode HS 090190 negara E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. Indonesia dan negara pesaing memperoleh pangsa pasar yang bertumbuh cepat . ast-growing Tabel 6. Posisi eksportir utama kopi (HS 090. di pasar internasional tahun 1989 Ae 2019 Nilai EPD Negara Daya Tarik Posisi Pasar Eksportir Pertumbuhan Ekspor Pasar Rising Star Indonesia 0,00000124 0,00028913 Rising star Brazil 0,00000006 0,00038623 Rising star Kolombia 0,00000023 0,00006810 Rising star Vietnam 0,00000059 0,00045625 Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Dari tabel-tabel yang sudah digambarkan pada hasil analisis EPD maka dapat disimpulkan bahwa untuk seluruh kode HS kopi yang diteliti yaitu HS 090111, 090112, 090121, 090122, dan 090190 baik Negara Indonesia maupun negara pesaing memiliki posisi pasar Rising star. Posisi tersebut memiliki arti pertumbuhan ekspor kopi terus meningkat seiring dengan meningkatnya daya tarik pasar di pasar internasional. Hal tersebut juga menegaskan bahwa kondisi perdagangan kopi Indonesia dan negara pesaing memiliki daya saing yang tinggi atau berada pada posisi yang paling diinginkan. X-Model Potential Export Products Berdasarkan hasil analisis metode RCA dan EPD yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dilakukan klasterisasi potensi komoditas kopi Indonesia di pasar internasional. Metode yang digunakan untuk melakukan klasterisasi yaitu X-Model Potential Export Products. Pengklasterisasiannya didapat dengan mempertimbangkan nilai dari RCA dan EPD yang kemudian dapat diketahui apakah komoditas kopi tersebut memiliki potensi yang tinggi atau tidak di pasar internasional. Hasil estimasi analisis X-Model Potential Export Product untuk periode ekspor komoditas kopi di Negara Indonesia dan Pesaing 1989 sampai tahun 2019 dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Hasil Estimasi X-Model Potential Export Product untuk kopi Indonesia dan Negara Pesaing di pasar internasional periode tahun 1989 Ae 2019. Kopi dengan kode HS 090111 Negara RCA EPD X-Model Potential Export Product 4,56 Rising Star Indonesia Pengembangan Pasar Optimis 17,26 Rising Star Brazil Pengembangan Pasar Optimis E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. 56,63 Rising Star Pengembangan Pasar Optimis 17,37 Rising Star Pengembangan Pasar Optimis Kopi dengan kode HS 090112 Negara RCA EPD X-Model Potential Export Product 0,07 Rising Star Indonesia Pengembangan Pasar Potensial 0,00 Rising Star Brazil Pengembangan Pasar Potensial 0,20 Rising Star Kolombia Pengembangan Pasar Potensial 0,06 Rising Star Vietnam Pengembangan Pasar Potensial Kopi dengan kode HS 090121 Negara RCA EPD X-Model Potential Export Product 0,02 Rising Star Indonesia Pengembangan Pasar Potensial 0,06 Rising Star Brazil Pengembangan Pasar Potensial 0,30 Rising Star Kolombia Pengembangan Pasar Potensial 0,02 Rising Star Vietnam Pengembangan Pasar Potensial Kopi dengan kode HS 090122 Negara RCA EPD X-Model Potential Export Product 0,00 Rising Star Indonesia Pengembangan Pasar Potensial 0,00 Rising Star Brazil Pengembangan Pasar Potensial 0,01 Rising Star Kolombia Pengembangan Pasar Potensial 0,01 Rising Star Vietnam Pengembangan Pasar Potensial Kopi dengan kode HS 090190 Negara RCA EPD X-Model Potential Export Product 0,02 Rising Star Indonesia Pengembangan Pasar Potensial 0,00 Rising Star Brazil Pengembangan Pasar Potensial 0,01 Rising Star Kolombia Pengembangan Pasar Potensial 0,00 Rising Star Vietnam Pengembangan Pasar Potensial Sumber : Analisis Data Sekunder (UN Comtrade. Trade Map 2. Kolombia Vietnam Tabel 7 menunjukkan bahwa untuk keempat negara eksportir utama komoditas kopi yaitu Indonesia. Brazil. Kolombia, dan Vietnam memiliki potensi pengembangan pasar yang optimis untuk kode HS 090111. Keempat negara tersebut memiliki nilai RCA lebih dari satu dan posisi EPD rising star. Hasil X-Model Potential Export Products untuk kopi dengan kode HS 090112, kode HS 090121, kode HS 090122, dan kode HS 090190 memiliki hasil yang sama yaitu untuk keempat negara (Indonesia. Brazil. Kolombia dan Vietna. dan keempat kode HS yang disebutkan tadi potensi pengembangan pasarnya potensial karena semua nilai RCA nya kurang dari satu dan posisi EPD nya rising star. Hasil analisis X-Model Potential Export Product menunjukkan bahwa untuk kode HS 090111 memiliki pengembangan pasar yang optimis dilihat dari nilai RCA lebih dari satu dan posisi EPD Rising Star. Untuk kode HS lainnya yaitu 090112, 090121, 090122, dan 090190 E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. menunjukkan bahwa Negara Indonesia dan negara pesaing memiliki pengembangan pasar yang potensial dilihat dari nilai RCA kurang dari satu dan posisi EPD Rising Star. Kesimpulan Dari hasil analisis daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dapat disimpulkan bahwa posisi daya saing ekspor kopi Indonesia di pasar internasional untuk analisis RCA kode HS 090111 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang kuat tetapi nilai RCA nya paling rendah diantara tiga negara pesaing utamanya. Untuk kode HS 090112, 090121, 090122, dan 090190 menunjukkan nilai RCA kurang dari 1 untuk negara Indonesia dan pesaingnya maka dapat dikatakan bahwa kopi dengan kode HS tersebut tidak memiliki daya saing yang Berdasarkan nilai EPD dapat disimpulkan bahwa posisi pasar komoditas kopi Indonesia di pasar internasional berada pada posisi Rising Star untuk semua kode HS. Negara pesaing Indonesia yaitu Brazil. Kolombia, dan Vietnam juga memiliki posisi pasar yang sama yaitu berada pada posisi Rising Star. Hal tersebut berarti Negara Indonesia dan pesaing memiliki daya tarik yang positif dan pangsa pasar yang meningkat. Hasil dari X-Model Potential Export Product daya saing kopi Indonesia dan negara pesaing di pasar internasional memiliki pengembangan pasar yang optimis untuk kode HS 090111 dan memiliki pengembangan pasar yang potensial untuk HS 090112, 090121, 090122, dan 090190. Berdasarkan pada simpulan yang telah diuraikan saran yang penulis ajukan yaitu Daya saing ekspor kopi Indonesia sebaiknya ditingkatkan dengan meningkatkan volume ekspor dalam komoditas kopi untuk setiap kode HS, selain itu produktivitas kopi Indonesia juga perlu ditingkatkan dengan melakukan peremajaan pada tanaman kopi agar dapat memenuhi permintaan luar negeri karena produktivitas kopi Indonesia tergolong masih rendah. Sumber Daya manusia juga harus ditingkatkan dengan cara penerapan sistem Good Agriculture Practice (GAP). Pemerintah perlu memberikan modal lebih banyak dan merata untuk usahatani kopi agar petani kopi dapat meningkatkan produksinya. Perlu adanya peningkatan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terutama untuk pengolahan pascapanen kopi karena sebagian besar petani belum memahami bagaimana teknik pengolahan pasca panen yang Selain itu, petani kopi sebaiknya membentuk kelompok tani dan mengikuti pelatihanpelatihan agar dapat mengolah hasil panennya sendiri serta meningkatkan produksi. Rakyat juga bisa membuat usaha kecil atau menengah pengolahan kopi yang membeli dalam bentuk E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 3 No. 1 2023 | Hal. biji kemudian diolah dan dijual kembali dalam bentuk bubuk bahkan dapat membuat warung pojok kopi yang khas dan unik dengan proses seduh sederhana. Daftar Pustaka