Jurnal MAHSEER. Vol 4 No 2 Juli 2022 hal 01-08 Jurnal MAHSEER. Vol 4 No 2 Juli 2022 Hal 01-08 e-ISSN: 2809-8234. p-ISSN : 2809-8374 Received 25 Mei 2022 / Revised 31 mei 2021 / Accepted 03 Juni 2022 Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan https://jurnal. id/index. php/MAHSEER Performa Produksi Benih Gurami (Osphronemus gouram. dengan Pemijahan Alami [Performance of Gouramy (Osphronemus gouram. Seed Production with Natural Spawnin. Annisa Bias CahyanuraniA. Aldho Firmanda Trisna Putra Program Studi Teknik Budidaya Perikanan. Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo Jl. Raya Buncitan KP 1. Buncitan. Sidoarjo. Jawa Timur 61254 e-mail: annisacahyanurani@gmail. ABSTRAK Usaha pembenihan ikan gurami masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Kegiatan produksi pada pembenihan gurami dapat dilakukan melalui pemijahan secara alami dan buatan. Pemijahan buatan diketahui masih memiliki tingkat keberhasilan yang rendah, sehingga kegiatan pembenihan gurami melalui pemijahan alami masih berpeluang untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kinerja pembenihan gurami dengan pemijahan alami. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara serta partisipasi langsung dalam kegiatan pembenihan gurami. Pembenihan gurami melalui pemijahan alami selama penelitian memiliki performa yang baik mulai dari derajat pembuahan, derajat penetasan dan tingkat kelangsungan hidup larva. Total telur yang dihasilkan pada 11 kolam produksi, sejumlah 657 butir,. Telur yang dihasilkan berkisar antara 1. 086 Ae 4. 233 butir. Derajat pembuahan . ertilitation rat. memiliki rata-rata FR yaitu 90% dengan kisaran FR 84- 98%, derajat penetasan . atching rat. berkisar antara 77 Ae 99% dengan rata-rata 87% dan tingkat kelangsungan hidup larva . urvival rat. setelah 7 hari menetas berkisar antara 70 Ae 97% dengan rata-rata 85%. Kata penting : Produksi benih. Gurami. Osphronemus gouramy. Pemijahan Alami ABSTRACT Gouramy hatchery business still has a chance to be developed. Production on gouramy hatchery can be done through natural and artificial spawning. Artificial spawning is known to still have a low success rate, so that gouramy hatchery activities through natural spawning still have the opportunity to be studied. This study aims to see the performance of gouramy hatchery with natural spawning. The research method used is a survey method, data is collected through observation, documentation, interviews and direct participation in gouramy hatchery activities. Gouramy hatchery through natural spawning during the study had good performance starting from the degree of fertilization, the degree of hatching and the survival rate of the larvae. A total of 28,657 eggs were produced in 11 production The eggs produced ranged from 1,086 Ae 4,233 eggs. The fertilization rate (FR) has an average of 90% with an FR range of 84-98%, the hatching rate (HR) ranges from 77 Ae 99% with an average of 87% and the survival rate (SR) of larvae after 7 days of hatching ranges from 70 Ae 97% with an average of 85%. Key words : Fish seed production. Gouramy. Osphronemus gouramy. Natural Spawning Annisa Bias Cahyanurani. Performa Produksi Benih Gurami (Osphronemus gouram. dengan Pemijahan Alami Pendahuluan Gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang telah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sejak tahun 1802, gurami (Osphronemus gouram. dikenal sebagai ikan hias dan ikan konsumsi (Puspitasari, 2. Budidaya gurami memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan untuk memenuhi permintaan masyarakat (Sari et al. , 2. Sejalan dengan pengembangan usaha budidaya gurami yang semakin luas, maka kebutuhan induk dan benih juga semakin Cara pembenihan yang baik dan benar dapat dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil produksi benih sehingga (Amriawati, 2020. Pratama et al. , 2. Peningkatan permintaan benih gurami menunjukkan bahwa usaha pembenihan dikembangkan, akan tetapi ada beberapa permasalahan yang timbul seperti tingginya tingkat kematian, rendahnya fekunditas telur, rendahnya derajat pembuahan, daya tetas telur dan tingkat kelangsungan hidup yang masih rendah serta beragamnya ukuran benih pada pemeliharaan di kolam (Budiana & Rahardja, 2019. Pratama et al. Pratama & Mukti, 2. Salah satu aktivitas pada kegiatan Proses pemijahan adalah proses perkawinan antar ikan jantan dan ikan betina yang mengeluarkan sel telur dari betina, sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh . Pemijahan gurami dapat dilakukan secara alami maupun buatan (Murtidjo, 2. Pemijahan secara alami menggunakan 3 metode pemijahan, yaitu pemijahan massal, kolam bersekat dan pasangan 1:1 (BPBAT Jambi, 2. Sementara itu. Arfah et al. melaporkan bahwa pemijahan secara buatan pada ikan gurami dengan penyuntikan ovaprim telah dapat dilakukan, akan tetapi tingkat keberhasilannya masih sangat Sehingga kegiatan pembenihan gurami melalui pemijahan alami masih berpeluang untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kinerja pembenihan gurami dengan pemijahan alami melalui parameter derajat pembuahan telur, derajat penetasan telur dan tingkat kelangsungan Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari Ae Maret 2020 di kolam usaha milik bapak Yohanes Tony Wijaya. Desa Purwomartani. Kecamatan Kalasan. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Metode survei yaitu metode penyelidikan untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual serta memaparkan tentang objeknya (Roosinda et , 2. Data yang diperlukan, dokumentasi, wawancara serta partisipasi langsung dalam kegiatan pembenihan Deskripsi Kegiatan Pembenihan Persiapan Kolam Pemijahan Persiapan kolam pemijahan meliputi perbaikan konstruksi, persiapan sarang, pengisian air, kemudian pemupukan. Agar proses pemijahan gurami dapat berlangsung lebih cepat, perlu menyediakan tempat kerangka sarang . yang terbuat dari keranjang plastik dan bahan pembuat sarang yaitu serabut kelapa. Pemasangan sosog diletakkan sekitar 20-30 cm di bawah permukaan air kolam. Masing-masing kolam pemijahan diberi satu sosog. Induk betina membutuhkan satu sarang untuk meletakkan Setelah pemasangan sosog dan sarang pada kolam kemudian dilakukan pengisian air dengan ketinggian air 1 meter dengan luas kolam 3x3 m. Jurnal MAHSEER. Vol 4 No 2 Juli 2022 hal 01-08 Seleksi Induk Siap Pijah Induk gurami harus berasal dari populasi gurami yang pertumbuhannya paling menonjol dibandingkan dengan yang lainnya karena untuk menghasilkan benih yang berkualitas diperlukan induk yang berkualitas pula (Rejeki et al. , 2. Unit Usaha milik Bapak Tony dilakukan seleksi induk siap pijah sebelum proses pemijahan dilakukan, adapun perbedaan induk jantan dan betina siap pijah dapat dilihat dari fisik tubuh dan gerakan ikan (Tabel . Tabel 1. Ciri Induk Gurami Siap Pijah Induk Jantan Induk Betina Dahi menonjol, bibir bawah tebal Umur >2,5 tahun Dahi kurang menonjol, bibir bawah tipis Pangkal sirip dada Bentuk ekor Umur >2,5 tahun Berat >1,9 kg Berat > 2,5 kg Sehat tidak cacat Perut meruncing Sehat tidak cacat Perut membulat Agresif Agresif Pangkal dada terang keputihan Bentuk ekor rata Pemijahan Setelah proses seleksi induk siap pijah, kemudian induk ditebar pada kolam pemijahan pada pagi atau sore hari, karena pada pagi atau sore hari suhu berkisar antara 26 Ae 300C suhu seperti ini menyesuaikan dengan suhu asli di alamnya, serta untuk mengurangi stress pada induk. Padat tebar untuk proses pemijahan adaah 1Ae2 ekor/m2 dengan perbandingan induk jantan dan betina yaitu 1:3. Induk gurami akan memijah dalam waktu 2 minggu setelah proses penebaran pada kolam pemijahan. Gurami akan memijah apabila induk betina merangsang induk jantan untuk memijah. Apabila induk jantan mencium aroma yang dikeluarkan betina, maka induk jantan akan mulai untuk membuat sarang yang di tandai dengan berkurangnya jumlah serabut kelapa sebagai bahan sarang yang diletakkan di kolam pemijahan. Waktu untuk penyusunan sarang berkisar 2 hari. Proses pemijahan berlangsung setelah sarang sempurna Induk jantan tidak mengawini betina secara bersamaan tetapi secara bergantian sehingga tidak terjadi perebutan sarang. Terjadinya proses pemijahan dapat ditandai dengan munculnya minyak di permukaan air dan aroma amis disekitar sarang. Pemanenan Telur Pengambilan telur tidak boleh terlambat agar telur tidak menetas di kolam Jika terlambat, telur yang menetas pada kolam pemijahan larva gurami akan menyebar dan tingkat kehidupannya Pemanenan telur diakukan setelah Proses pemanenan telur dilakukan pada pagi atau sore hari agar suhu udara tidak terlalu tinggi (>320C) (Pratama et al. , 2. Cara pemanenan telur dilakukan dengan meraba sarang, jika sarang berbentuk bulat tertutup penuh dan ada beberapa butir telur yang keluar dari sarang menandakan pemijahan telah selesai dan berhasil. Pengambilan sarang dilakukan secara hati-hati agar telur tidak menyebar atau masih utuh di dalam Sarang tersebut dimasukkan kedalam ember yang berisi air kolam pemijahan lalu dipisahkan antara sarang dengan telurnya. Setelah proses pemanenan telur, telur dibersihkan atau dipisahkan dari kotoran pada air media yang terbawa dari kolam pemijahan, karena mempengaruhi oksigen terlarut dan kandungan amonia sehingga dapat menyebabkan kegagalan Annisa Bias Cahyanurani. Performa Produksi Benih Gurami (Osphronemus gouram. dengan Pemijahan Alami Penetasan Telur Telur yang ditetaskan adalah telur yang telah terbuahi. Telur yang telah terbuahi berwarna kuning bening, transparan, dan Sedangkan berkualitas rendah/mati berwarna putih kusam/pucat. Perbedaan telur yang dibuahi dengan telur yang tidak dibuahi dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Perbedaan Telur Dibuahi dan Telur Tidak Dibuahi Persiapan media penetasan dilakukan dengan cara membersihkan area media penetasan, mengambil telur yang rusak dan menjaga suhu lingkungan pada kisaran 27Ae Wadah yang digunakan untuk proses penetasan telur adalah bak plastik berkapasitas 30 liter dengan ketinggian air 15Ae20 cm tanpa aerasi. Telur gurami akan menetas 36 Ae 48 jam setelah pemijahan. Tiap wadah ditebar rata rata 1. 500 Ae 4. Telur akan menetas dengan sempurna jika kualitas telur bagus dan kualitas air Pengamatan dilakukan secara langsung dengan cara mengambil beberapa sampel telur sejumlah 5 butir dan diamati dalam selang waktu 12 jam sekali. Setelah itu dilakukan perhitungan terhadap telur yang Telur yang menetas selanjutnya dipelihara pada bak penetasan hingga 7 hari, hal ini dikarenakan pada tahap awal pemeliharaan larva, gurami masih memiliki cadangan makanan berupa egg yolk. Setelah 7 hari, selanjutnya dilakukan perhitungan tingkat kelangsungan hidup pada larva gurami sebelum dipindahkan pemeliharaan larva. Parameter yang Diamati Parameter yang diamati untuk melihat kinerja pembenihan Derajat Pembuahan Telur (Fertilitation Rat. Derajat pembuahan merupakan persentase telur yang dibuahi dari telur yang Telur yang telah dibuahi berwarna kuning mengkilap, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih Derajat pembuahan telur dihitung berdasarkan rumus berikut menurut Arfah et . , sebagai berikut: Keterangan: SR = Derajat Pembuahan Telur (%) = Jumlah telur yang dibuahi . Qo = Jumlah telur yang diovulasikan . Derajat Penetasan Telur (Hatching Rat. Derajat penetasan adalah persentase jumlah telur yang menetas dari sejumlah telur yang dibuahi. Telur yang menetas ditandai dengan gerakannya yang memutar dipermukaan air, sedangkan telur yang tidak menetas berwarna kuning keruh dan tenggelam didasar substrat. Menurut Arfah et al. , daya tetas telur dihitung menggunakan rumus: Keterangan: HR = Daya Tetas Telur (%) = Jumlah telur yang menetas . = Jumlah telur yang dibuahi . Tingkat Kelangsungan Hidup / Survival Rate (SR) Jurnal MAHSEER. Vol 4 No 2 Juli 2022 hal 01-08 Tingkat kelangsungan hidup pada penelitian ini menunjukkan persentase larva yang hidup dari sejumlah telur yang menetas setelah berumur tujuh hari. Penghitungan tingkat kelangsungan hidup dihitung berdasarkan rumus menurut Arfah et al. = Tingkat kelangsungan hidup (%) = Jumlah larva hidup setelah pemeliharaan 7 hari . = Jumlah telur yang menetas . Analisa Data Data yang sudah diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisa deskriptif kuantitatif dan kemudian data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar. Hasil Derajat Pembuahan Telur (Fertilitation Rat. Hasil pengamatan yang dilakukan pada 11 kolam produksi, menghasilkan total telur 657 butir,. Telur yang dihasilkan berkisar antara 1. 086 Ae 4. Derajat pembuahan . ertilitation rat. tersebut selama pengamatan disajikan pada Rata-rata FR yaitu 90% dengan kisaran FR 84- 98%. Derajat Penetasan Telur (Hatching Rat. Telur yang telah dibuahi selanjutnya diletakkan di bak penetasan dengan kapasitas 30 liter. Proses perkembangan telur diamati setiap 12 jam sekali seperti pada tabel 3. Berdasarkan pengamatan telur yang menetas memiliki derajat penetasan (HR) berkisar antara 77 Ae 99% dengan ratarata 87%. Derajat penetasan telur tersebut selama pengamatan disajikan pada tabel 4. Tabel 2. Derajat Pembuahan Telur selama Penelitian Nomor Terbuahi Kolam . A 15 Jumlah Tidak Terbuahi . Jumlah FR Telur Tabel 3. Pengamatan Perkembangan Telur Jam Perubahan bentuk Telur berubah bentuk menjadi bulat agak lonjong terdapat embrio. Terdapat gerakan pada telur setiap 5 detik sekali Mulai terbentuk garis putih pada Telur menetas, terdapat ekor tipis Tabel 4. Derajat Penetasan Telur selama Penelitian Nomer Telur Kolam Terbuahi . A10 A15 A20 A23 A40 A45 Jumlah 25726 Telur Menetas . HR % Annisa Bias Cahyanurani. Performa Produksi Benih Gurami (Osphronemus gouram. dengan Pemijahan Alami Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rat. Tingkat kelangsungan hidup larva setelah 7 hari menetas berkisar antara 70Ae97% dengan rata-rata 85%. Tingkat kelangsungan hidup selama pengamatan disajikan pada Tabel 5. Tingkat Kelangsungan Hidup Nomor Kolam Telur Menetas . Larva yang Hidup setelah 7 hari . SR % A10 A15 A20 A23 A40 A45 Jumlah Pembahasan Total telur yang dipanen dari 11 kolam produksi, menghasilkan total telur sejumlah 657 butir. Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata satu pasang induk yang memijah menghasilkan satu sarang. Satu sarang dapat 086 Ae 4. 233 butir telur, sedikit banyaknya telur dipengaruhi oleh faktor umur induk dan ukuran induk, selain itu kondisi mempengaruhi kualitas telur. Menurut Fasya et al. , jumlah telur dipengaruhi oleh umur induk gurami, lebih lanjut faktor lain yang mempengaruhi antara lain kematangan gonad, panjang dan bobot ikan serta faktor eksternal seperti musim, kualitas air dan pakan (Kusmini et al. , 2018. Harianti, 2. Hasil perolehan telur ini dalam kisaran yang Menurut standar SNI : 01- 6485. 3 Ae 2000, produksi telur pada induk betina berkisar antara 1. 500 Ae 2. 500 butir/kg induk Selain itu, seekor induk gurami mampu menghasilkan telur sebanyak 2. 000 Ae 000 butir tergantung varietasnya (MaAoarif, 2. Telur gurami akan menetas 36 Ae 48 jam setelah pemijahan. Selain derajat penetasan telur, pada penelitian dilakukan pengamatan terkait proses perkembangan telur yang diamati selang 12 jam sekali. Menurut Lucas et al. , telur gurami menetas rata-rata setelah 30 jam. Proses perkembangan telur dalam 12 jam awal merupakan awal perkembangan embrio, sementara pada 12Ae24 jam telur mengalami pergerakan yang merupakan proses perkembangan calon organ tubuh, hingga menetas setelah 36Ae48 jam. Sari et al. meneliti perkembangan embrio pada 3 subspesies gurami yang berbeda, dimana dalam 12 jam awal perkembangan telur melewati fase pembelahan sel, blastula dan gastrula. Setelah 21Ae23 jam, memasuki tahap perkembangan calon organ tubuh . dan akan menetas setelah 40Ae44 jam. Berdasarkan pengamatan telur yang menetas memiliki derajat penetasan (HR) berkisar antara 77Ae99% dengan rata-rata Daya tetas terendah terdapat pada kolam A 10, secara keseluruhan daya tetas gurami selama penelitian tergolong tinggi. Daya tetas telur yang rendah dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor Faktor internal lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas indukan yang digunakan sementara faktor eksternal dapat dipengaruhi oleh kualitas air terutama suhu, penanganan saat pemanenan telur dan embrio yang tidak mampu melakukan metabolisme untuk berkembang (Pratama et al. , 2018. Hertami, 2017. Rimalia dan Kisworo, 2019. Velandro et al. , 2. Setelah dipelihara dalam bak penetasan. Larva ikan ini masih memiliki kuning telur sebagai cadangan makanan. Setelah 7 hari, tingkat berdasarkan pengamatan berkisar antara 70 Ae 94%, dengan rata-rata SR 85%. Secara Jurnal MAHSEER. Vol 4 No 1 Januari 2022 hal 17-26 keseluruhan nilai SR selama pengamatan sudah sesuai dengan standar SNI : 01- 6485. Ae 2000, dimana sintasan larva berkisar antara 80-95%. Bila pemijahan buatan, pemijahan alami memiliki performa yang lebih baik. Penelitian Arfah et . melaporkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan hidup larva dari pemijahan buatan 76,82%. Tingkat kelangsungan hidup dipengaruhi oleh faktor biotik dan faktor Menurut Firmansyah et al. faktor biotik yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup terdiri dari umur dan kemampuan ikan dalam penyesuaian dengan lingkungannya, sedangkan dari faktor abiotik terdiri dari ketersedian pakan dan kualitas air. Simpulan Pembenihan gurami melalui pemijahan alami selama penelitian memiliki performa yang baik mulai dari derajat pembuahan, derajat penetasan dan tingkat kelangsungan hidup larva. Total telur yang dihasilkan pada 11 kolam produksi, sejumlah 28. 657 butir,. Telur yang dihasilkan berkisar antara 1. Ae 4. 233 butir. Derajat pembuahan . ertilitation rat. memiliki rata-rata FR yaitu 90% dengan kisaran FR 84- 98%, derajat penetasan (HR) berkisar antara 77 Ae 99% rata-rata kelangsungan hidup larva setelah 7 hari menetas berkisar antara 70 Ae 97% dengan rata-rata 85%. DAFTAR PUSTAKA