VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 70 - 79 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR GUNUNG RINTIH Paulinus Tibo1*. Paulus Halek. Bere2. Thomas Natalisa Tarigan3 1,2,3 STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan Email: paulinustibo@gmail. com1, halekbere@gmail. com2, thomastarigan21@gmail. Abstrak : Riset ini terarah pada peran guru sebagai salah satu faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan siswa. Guru yang profesional dapat membina dan menghasilkan siswa yang aktif dan kreatif sehingga dapat menghasilkan siswa dengan tingkat kreativitas belajar yang tinggi. Untuk meningkatkan kreativitas siswa, guru harus memahami makna kreativitas belajar agar tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan, aktif, dan kreatif. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan yang menjadi informan adalah guru pendidikan agama Katolik, peserta didik. Guru Kelas dan Kepala Sekolah. Proses analisis data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Berdasarkan temuan lapangan, guru pendidikan agama Katolik di SD Negeri 101856 Gunung Rintih telah perannya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pendorong kreativitas dan penasihat mampu menumbuhkan kreativitas belajar yang lebih baik di kalangan siswa. Peserta didik berani tampil di depan kelas atau bertanya ketika guru menjelaskan, serta siswa yang berani mengambil setiap resiko belajar dan aktif serta kreatif di lingkungan sekolah. Guru disarankan terus meningkatkan perannya secara professional sehingga mereka mampu menjadi budaya mutu belajar di sekolah. Kata kunci: Guru. Kreativitas Belajar. Peserta Didik. Abstract : This research is focused on the role of teachers as one of the factors that influence student success. Professional teachers can foster and produce active and creative students so that they can produce students with high levels of learning creativity. To increase student creativity, teachers must understand the meaning of learning creativity in order to create a fun, active, and creative learning environment. The researcher used a qualitative approach. This research was conducted using observation, interview, and documentation, and the informants were Catholic religious education teachers, students, class teachers, and school principals. The data analysis process uses triangulation techniques and source triangulation. Based on the field findings. Catholic religious education teachers at SD Negeri 101856 Gunung Rintih have played their roles as educators, teachers, mentors, creativity boosters, and advisors able to foster better learning creativity among students. Students dare to perform in front of the class or ask questions when the teacher explains, as well as students who dare to take every learning risk and are active and creative in the school environment. Teachers are advised to continue to improve their roles professionally so that they can create a culture of quality learning in schools. Keywords: teacher, learning creativity, learners. PENDAHULUAN Pendidikan Agama Katolik di sekolah dasar memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter, spiritualitas dan kreativitas peserta didik. Namun, dalam era perkembangan teknologi dan informasi saat ini, tantangan dalam menjaga minat dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran agama menjadi semakin kompleks (Konfrensi Wali Gereja, 1. Salah satu tantangan utama adalah memastikan agar proses pembelajaran agama Katolik tetap menarik dan relevan bagi siswa di tengahtengah beragam distraksi modern. Pendidikan adalah sarana yang dengannya potensi belajar ilmiah siswa ditingkatkan dan kepribadian mereka dibentuk menjadi cerdas dan inventif (Tobing et al. , 2. Pendidikan adalah proses dimana peserta didik mempersiapkan generasi masa depan. Tujuan pendidikan meliputi penggambaran nilai-nilai kehidupan yang baik, luhur, tepat, benar, dan indah. Oleh karena itu, tujuan pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu memberikan arah bagi semua kegiatan pendidikan dan berfungsi sebagai tujuan bagi semua usaha pendidikan (Dewantara, 1. Pada tingkat sekolah dasar, perkembangan kreativitas menjadi aspek penting dalam Kreativitas tidak hanya membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengekspresikan keyakinan dan nilai-nilai spiritual secara unik (Paulinus Tibo, 2. Namun, masih terdapat kendala dalam memperkuat kreativitas belajar siswa dalam konteks pelajaran agama Katolik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran yang kreatif dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa dan memperkuat pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, termasuk dalam konteks pelajaran agama. Studi oleh Amabile . mengungkapkan bahwa kreativitas dapat ditingkatkan melalui lingkungan yang mendukung, stimulasi kognitif, dan kebebasan dalam berekspresi. Namun, dalam konteks pembelajaran agama Katolik, masih kurangnya penelitian yang secara khusus mengeksplorasi peran guru dalam merangsang kreativitas belajar siswa di sekolah dasar(Amabile, 1. Tugas seorang guru adalah untuk memberi petunjuk, pendidikan, pengetahuan dan keterampilan kepada siswa. Guru bertanggung jawab atas hasil belajar siswa dan merupakan faktor keberhasilan proses pembelajaran sehingga tidak terlepas dari tanggung jawab seorang guru demi mewujudkan peserta didik sebagai insan yang cerdas dan kreatif (Sele, 2. Peran guru sangat penting dalam mengajar dan mendidik siswa, serta dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas siswa dan pendidik tergantung pada kualitas guru. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional pendidikan agar dapat menjalankan tanggung jawab dan perannya dengan baik (Ona Sastri Lumban Tobing, 2. Guru Pendidikan Agama Katolik adalah seorang guru yang mengajar pendidikan agama Katolik di sekolah-sekolah. Untuk menjadi pendidik profesional, guru agama Katolik harus memiliki pengetahuan yang luas dan karakter yang kokoh (Paulus VI, 1. Pendidikan Agama Katolik adalah pendidikan yang mengutamakan keimanan seorang siswa. Dalam pendidikan agama Katolik, seorang siswa diharapkan dapat mempertanggungjawabkan iman dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agama Katolik. Untuk meningkatkan kreativitas belajar siswa, guru pendidikan agama Katolik perlu mengarahkan siswa untuk berpikir lebih kreatif dengan mendampingi Ketidakmampuan siswa untuk berpikir kreatif terhambat oleh kurangnya perhatian dari seluruh stake holder baik orang tua, guru, dan lingkungan sekolah (Erikson Simbolon. Paulinus Tibo. Rudi Hironimus Matondang, 2. Kendala yang dihadapi dalam upaya meningkatkan kreativitas belajar siswa dalam pembelajaran agama Katolik di sekolah dasar termasuk kurangnya pendekatan pembelajaran yang inovatif, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya pemahaman tentang bagaimana mengintegrasikan kreativitas ke dalam kurikulum agama Katolik (Paulinus Tibo, 2. Tanpa upaya yang tepat untuk mengatasi kendala-kendala ini, potensi kreativitas belajar siswa dalam pembelajaran agama Katolik mungkin tidak tergali sepenuhnya. Kendala tersebut dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk kurangnya pendekatan pembelajaran yang inovatif dan interaktif, keterbatasan sumber daya yang mendukung pembelajaran agama Katolik yang kreatif, serta kurangnya pemahaman tentang peran guru Pendidikan Agama Katolik dalam merangsang kreativitas siswa. Tanpa penanganan yang tepat terhadap kendala-kendala ini, potensi kreativitas belajar peserta didik dalam pembelajaran agama Katolik di sekolah dasar dapat terhambat (Yulis & Goa, 2. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menyelidiki lebih lanjut tentang peran guru Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan kreativitas belajar peserta didik di sekolah dasar. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran guru dalam merangsang kreativitas siswa, dapat dikembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan relevan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran agama Katolik di sekolah dasar. Smith . dalam risetnya menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat merangsang kreativitas belajar siswa dalam konteks agama (Smith, 2. Selain itu, penelitian oleh Jones et al. menyoroti pentingnya memberikan kebebasan ekspresi kepada siswa dalam pembelajaran agama untuk meningkatkan kreativitas mereka. Temuan-temuan ini akan menjadi dasar untuk melanjutkan penelitian lebih lanjut tentang peran guru Pendidikan Agama Katolik dalam merangsang kreativitas belajar siswa di sekolah dasar (Jones. Brown. , & Garcia, 2. Kreativitas adalah pencapaian unik yang memerlukan transformasi bahan atau elemen yang ada menjadi sesuatu yang bermakna dan berguna, mengidentifikasi cara untuk memecahkan masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan ide-ide baru, dan mengenali kemungkinan mencapai kesuksesan. Untuk mahir dalam segala hal diperlukan pembelajaran, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan (H. Mulyasa, 2. Namun berdasarkan temuan observasi awal di sekolah siswa kurang kreatif dalam belajar, interaksi antara guru dan siswa mengalami kendala, pemahaman yang rendah, perkembangan belajar siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah dan kurang bimbingan dan dukungan orangtua ketika belajar di rumah. Realita ini diperlukan peran seorang guru agama Katolik untuk mendampingi peserta didik lebih maksimal baik dalam aspek pendidikan, pengajar, membimbing, mendorong kreativitas belajar siswa, dan peran sebagai penasihat (Tobing et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengeksplorasi lebih lanjut tentang peran guru Pendidikan Agama Katolik dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa di sekolah dasar. Studi ini akan memperdalam pemahaman tentang praktik-praktik yang efektif dalam merangsang kreativitas belajar siswa dalam konteks pembelajaran agama Katolik. Dengan demikian, diharapkan dapat dikembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan relevan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran agama Katolik di sekolah METODE Metode dalam riset ini menggunakan pendekatan kualitatif (Sugiyono, 2. Dalam pendekatan ini peneliti menggunakan teknik pengamatan langsung lapangan, wawancara dengan informan secara langsung dan mengumpul berbagai dokumen yang sesuai dengan kebutuhan dalam riset ini. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan mulai bulan Februari sampai bulan Juli 2023. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Gunung Rintih yang memfokuskan pada peserta didik beragama Katolik. Pengumpulan data dilakukan selama proses pembelajaran pendidikan agama Katolik di sekolah sesuai jadwal yang ditetapkan oleh sekolah. Proses penyajian data melalui reduksi data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung tentang peran guru PAK dan perilaku kreativitas peserta didik di sekolah (Tagliaro et al. , 2. Reduksi data juga berdasarkan data wawancara kepada Guru PAK dan peserta didik dan juga didukung dengan data-data dokumentasi yang diperoleh peneliti sesuai muatan analisis data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik (Moleong, 2. Proses analisis ini dilakukan baik kepada guru PAK, teman sejawat dan juga kepada peserta didik. Sedangkan triangulasi teknik digunakan berdasarkan 3 unsur teknik pengumpulan data yang menjadi kekhasan pendekatan kualitatif. Informan yang menjadi sasaran dalam riset ini berjumlah 13 orang terdiri dari guru agama Katolik 1 orang. Peserta didik, kepala sekolah 11 orang dan guru kelas di SD Negeri Gunung Rintih 1 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Guru Berperan sebagai Pendidik Guru adalah pendidik yang berperan sebagai figur, panutan, dan model bagi siswa dan Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki seperangkat kualitas pribadi, termasuk tanggung jawab, otoritas, kemandirian, dan disiplin (Tibo & Lumban Tobing, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan AS Maret 2023 ditemukan bahwa Guru Pendidikan Agama Katolik di SD Negeri Gunung Rintih bertanggung jawab mendidik siswa. Guru mendidik siswa dengan menunjukkan sikap positif terhadap mereka, misalnya dengan berpakaian rapi, sopan dan berwibawa, serta datang tepat waktu, sehingga siswa dapat meniru perilakunya (SPK), 2. Guru selain berperan sebagai pendidik juga menunjukan teladan hidup bagi peserta didik. Berdasarkan hasil wawancara kepada guru sebagai infroman pada April 2023 tentang upaya yang lakukan guru untuk menunjukkan peran guru sebagai model bagi peserta didik ditemukan bahwa AuGuru menegaskan peran mereka sebagai model dan teladan bagi peserta didik dengan tindakan sederhana namun penting. Mereka tiba di sekolah tepat waktu dan menyambut peserta didik dengan ramah. Dengan konsistensi dalam perilaku ini, guru menjadi contoh yang positif bagi peserta didik. Ay Tak hanya itu, guru juga menunjukkan tanggung jawabnya dengan datang tepat waktu ke sekolah dan menggantikan rekan sesama guru yang absen. Tindakan ini menjadi teladan bagi peserta didik, karena mereka melihat dedikasi guru dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian, peserta didik diharapkan akan meniru sikap yang bertanggung jawab seperti yang telah ditunjukkan oleh guru mereka. Contoh lain yang ditunjukan adalah Guru Pendidikan Agama Katolik telah menunjukkan perilaku yang menjadi teladan bagi para peserta didik dengan kesediaannya untuk membimbing dan mengajarkan hal-hal baik kepada Mereka tidak hanya memberikan pengajaran, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memulai pelajaran, guru selalu memulainya dengan doa, menunjukkan kesabaran dalam pengajaran, dan tidak menggunakan kekerasan fisik saat terjadi kesalahan, melainkan mengarahkan peserta didik ke arah yang lebih baik. Selain itu, guru juga mencontohkan kebaikan dengan kedisiplinan, seperti datang tepat waktu dan berpakaian rapi saat berada di sekolah (Guru PAK, 2. Guru Berperan sebagai Instruktur Guru sebagai pengajar adalah guru yang memberikan pembelajaran dan memiliki tanggung jawab terhadap siswa. Tugas guru adalah mengarahkan perkembangan apa yang tidak diketahui siswa, sehingga siswa dapat berkembang dengan mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya. Dalam wawancara dengan seorang guru (SG) April 2023 dapat disimpulkan bahwa Guru Pendidikan Agama Katolik sebagai instruktur di SD Negeri Gunung Rintih ditunjukkan dengan cara guru mengajar di kelas. Sebelum memulai pelajaran, guru berusaha menguasai materi, metode, dan teknik pengelolaan kelas serta mempersiapkan semua bahan ajar. misalnya guru pendidikan agama Katolik menyalin materi yang akan diberikan kepada siswa dan memberikan tugas tambahan di rumah, proses belajar dilakukan dengan permainan, diskusi kelompok, tanya jawab, dan memberikan proyek kepada peserta didik (Guru PAK. Guru Berperan sebagai Mentor Sebagai seorang mentor, guru harus bekerja dengan baik dan membangun komunikasi, kerjasama dengan murid-muridnya, karena hubungan komunikasi yang baik memiliki dampak yang signifikan pada setiap aspek pembelajaran siswa. Selanjutnya guru memiliki berbagai hak dan kewajiban yang harus direncanakan dan dilaksanakan. Setiap pelajaran memiliki tujuan, keinginan, kebutuhan, dan rencana yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Temuan observasi pada Maret 2023 menggambarkan bahwa peran guru pendidikan agama Katolik di SD Negeri Gunung Rintih adalah membimbing siswa dengan mengajarkan tata cara beribadah yang benar di gereja Katolik agar mereka semakin dekat dengan Tuhan. Selain membimbing siswa dalam perkembangan akademiknya, guru juga membimbing perkembangan spiritual siswa. Selama proses belajar guru menggunakan berbagai metode dan teknik pembelajaran melalui diskusi, game. Tanya jawab, memberikan penugasan dan proyek bagi siswa untuk dikerjakan di rumah. Dalam wawancara dengan Guru PAK tentang bagaimana upaya guru dalam mebangun pemahaman kepada peserta didik ditemukan bahwa AuKetika peserta didik belajar, peserta didik dapat belajar dengan bersungguh-sungguh dan dapat belajar sambil bermain. Peserta didik diharapkan bertanya ketika ada pelajaran yang tidak dimengerti dan bertanya kesimpulannya. Peserta didik juga dapat mengembangkan kreativitas dengan mengikuti les atau belajar secara berkelompok. Itu akan mengembangkan pengetahuan peserta didikAy hal lain juga ditemukan peran guru sebagai pembimbing adalah Memberikan bimbingan akademik: Guru membantu peserta didik dalam memahami materi pelajaran, memberikan penjelasan tambahan, dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar. Memberikan bimbingan pribadi: Guru memberikan perhatian dan peduli terhadap perkembangan pribadi dan emosional peserta didik, serta memberikan nasihat dan dukungan dalam menghadapi masalah pribadi atau sosial. Memfasilitasi pengembangan keterampilan: Guru membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan seperti berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan bekerja sama dalam tim. Mengarahkan dalam pengambilan keputusan: Guru membimbing peserta didik dalam memahami konsekuensi dari pilihan yang diambil serta membantu mereka dalam proses pengambilan keputusan yang tepat. Menjadi teladan: Guru menunjukkan contoh yang baik dalam perilaku, etika, dan nilai-nilai moral, sehingga menjadi model yang diikuti oleh peserta didik (Guru PAK. Guru sebagai Pendorong Kreativitas Peran guru sebagai penggerak kreativitas sangat penting untuk pembelajaran, dan guru harus menunjukkan proses kreatif. Sebagai pendidik yang kreatif, ia menyadari bahwa kesadaran ini mendukung, membimbing, dan meninggikan semua aktivitasnya. Oleh karena itu, guru selalu mencari cara-cara kreatif untuk mendidik siswa agar siswa menganggap mereka kreatif dan dapat meniru tindakan mereka (Ulya, 2. Guru pendidikan agama Katolik merangsang kreativitas belajar siswa dengan mendorong aktif berpikir dan bertindak, misalnya dengan mendorong siswa belajar di luar kelas untuk menghindari kebosanan. Guru menggunakan alat peraga untuk mengajar, mengajar siswa sampai ia mampu, memperhatikan kehadiran siswa, dan sabar terhadap siswa. Guru memainkan peran penting karena, dengan bantuan mereka, siswa dapat menjadi lebih terlibat di dalam kelas (Ona Sastri Lumban Tobing, 2. Dalam wawancara dengan guru PAK tentang cara membangun kreativitas belajar peserta didik di sekolah pada bulan Maret 2023 ditemukan bahwa Sebagai guru selalu berusaha dengan berbagai strategis demi menumbuhkan kreativitas belajar peserta didik di sekolah dasar dalam pelajaran Pendidikan Agama Katolik sambil memperdalam pemahaman mereka tentang ajaran dan nilai-nilai agama Katolik. Hal-hal yang sering dilakukan di sekolah adalah Menyediakan ruang untuk diskusi dan refleksi dengan cara menciptakan suasana kelas yang terbuka untuk diskusi dan refleksi tentang nilai-nilai agama Katolik serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan menyampaikan ide-ide kreatif mereka. Menggunakan media visual dan audiovisual dengan cara memanfaatkan gambar, video, atau audio untuk mengilustrasikan konsep-konsep agama Katolik secara menarik dan memikat. Hal ini dapat merangsang imajinasi peserta didik dan membantu mereka memahami dengan lebih baik. Melibatkan permainan peran dan dramatisasi dengan cara mengorganisir permainan peran atau dramatisasi cerita-cerita atau ajaran agama Katolik. Peserta didik dapat berperan sebagai tokoh-tokoh dalam cerita tersebut, yang akan membantu mereka merasakan dan memahami nilainilai yang diajarkan. Mendorong proyek-proyek kreatif dengan cara guru memberikan tugas-tugas proyek yang memungkinkan peserta didik untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang ajaran agama Katolik melalui karya seni, tulisan, atau presentasi multimedia. Contohnya, peserta didik dapat diminta membuat mural tentang kisah-kisah Alkitab atau membuat video pendek tentang nilai-nilai Kristiani. Menyediakan kesempatan untuk bertanya dan mengeksplorasi: Guru dapat mendorong peserta didik untuk bertanya dan mengeksplorasi konsep-konsep agama Katolik yang menarik bagi mereka. Ini dapat dilakukan melalui diskusi kelompok, penelitian mandiri, atau eksperimen kecil. Memberikan umpan balik positif karena sangat penting bagi guru untuk memberikan pujian dan umpan balik positif terhadap ide-ide kreatif peserta didik. Ini akan meningkatkan kepercayaan diri mereka dan mendorong mereka untuk terus berpikir kreatif (Guru PAK, 2. Guru Berperan sebagai Pembimbing Guru berfungsi sebagai pembimbing bagi siswa meskipun tidak memiliki pelatihan formal sebagai pemandu dan tidak mengharapkan untuk melakukannya. Guru cenderung percaya bahwa bimbingan melibatkan pembahasan secara berlebihan, seolah-olah berusaha mengatur kehidupan orang oleh karena itu, mereka tidak suka melakukan fungsi ini. Sedangkan menjadi guru pada level ini berarti menjadi penasihat dan membangun kepercayaan bagi peserta didik agar lebih percaya diri dan menunjukkan kreativitas dalam belajar (Paulinus Tibo, 2. Guru pendidikan agama Katolik memberikan bimbingan kepada siswa selama proses pembelajaran, memecahkan masalah yang melibatkan siswa atau keluarganya, dan mengarahkan dan menasehati siswa agar berperilaku baik. Dalam wawancara dengan Guru pendidikan agama Katolik tentang perannya sebagai pembimbing bagi peserta didik di sekolah ditunjukan dengan beberapa contoh seperti: Guru memberikan panduan dan arahan kepada siswa tentang materi pelajaran agama Katolik, dan nilai-nilai yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Membantu siswa memahami tujuan pembelajaran dan merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya. Memfasilitasi diskusi kelas yang menggali pemahaman siswa tentang materi pendidikan agama Katolik, mendorong mereka untuk berbagi pandangan mereka sendiri, dan merangsang refleksi pribadi tentang nilai-nilai agama dan penerapannya dalam kehidupan seharihari. Menyediakan materi tambahan, sumber belajar, dan referensi kepada siswa untuk mendukung pemahaman mereka tentang ajaran agama Katolik. Mereka membantu siswa mengeksplorasi lebih dalam konsep-konsep agama melalui bahan bacaan, video, atau sumber-sumber online. Memberikan dukungan kepada siswa dalam proses pembelajaran, memberikan umpan balik konstruktif tentang kinerja mereka, dan membantu mereka mengatasi kesulitan atau kebingungan yang mungkin timbul dalam memahami materi pelajaran agama Katolik. Mendorong siswa untuk mengembangkan pemikiran kritis dan analitis tentang ajaran agama Katolik, mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai agama yang mereka pelajari. Menunjukkan contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama Katolik, seperti kesabaran, kasih sayang, kerja keras, dan integritas. Mereka menjadi model bagi siswa dalam cara mereka berinteraksi, berkomunikasi, dan memperlakukan orang lain dalam konteks kehidupan seharihari. Membimbing siswa dalam menerapkan ajaran agama Katolik dalam tindakan sosial dan pelayanan kepada orang lain. Mereka merencanakan kegiatan pelayanan masyarakat atau kegiatan amal yang memungkinkan siswa untuk menerapkan nilai-nilai agama Katolik dalam tindakan nyata dalam bentuk kegiatan Aksi Puasa Pembangunan, aksi sosial kepada siswa yang berduka dan kepada guru serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah (Guru PAK, 2. Kreativitas Belajar Peserta Didik di Sekolah Dasar Negeri 10185 Gunung Rintih Sifat Orisinal Sifat orisinal sebagai sesuatu yang baru dan unik disebut sebagai sesuatu yang diciptakan begitu saja tanpa sepengetahuan siapa pun, masih baru, dan belum diperoleh siapa pun. Kreativitas ditunjukkan dengan pengenalan sesuatu atau aktivitas baru. Hal ini biasanya dianggap sebagai karya kreatif yang belum pernah ada sebelumnya, luar biasa, dan dapat diapresiasi oleh publik (Nur Ghufron, 2. Siswa di SD Negeri Gunung Rintih mendapatkan kepercayaan diri untuk bertanya kepada gurunya jika ada yang kurang dipahami, serta mendapat bantuan dalam kesulitan belajar. Guru menawarkan bimbingan sehingga orang tua dapat membantu memecahkan masalah. Karena mereka memiliki keberanian untuk bertanya kepada guru tentang hal-hal yang tidak mereka pahami dan sama-sama berusaha mencari solusi dari suatu masalah, maka dapat disimpulkan bahwa siswa sudah memiliki sense of reasoning yang baik (I. 1-I. 11 (Informan Peserta Didi. , 2. Menemukan atau Membuat Sesuatu yang Baru Menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru adalah tindakan yang menghasilkan konsep atau objek baru yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah. biasanya, individu kreatif tidak akan kesulitan dengan ini. Ketika dihadapkan dengan masalah, orang yang kreatif cenderung menemukan solusi baru (Nur Ghufron, 2. Guru agama mempengaruhi atau mendorong siswa dengan masalah atau pertanyaan yang mereka berikan jawaban. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang baru dan berharga (Tibo & Lumban Tobing, 2. Dalam wawancara dengan para peserta didik sebagai informan pada bulan Maret 2023 tentang cara guru membentuk jiwa kreatif anak untuk membantu peserta didik dalam menemukan ide yang baru ditemukan bahwa Guru memberikan tantangan-tantangan kreatif yang merangsang imajinasi dan pemikiran kritis anak-anak. Misalnya, diberi tugas untuk menemukan solusi kreatif atas masalah-masalah sehari-hari atau membuat karya seni yang unik. Temuan lain yang diperoleh dalam wawancara adalah Guru mendorong peserta didik untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan alternatif dalam menyelesaikan suatu masalah atau mencapai suatu tujuan. Ini membantu melatih keterampilan pemikiran lateral dan menumbuhkan keberanian dalam bereksperimen dengan ide-ide baru. Dalam Observasi oleh peneliti juga ditemuakn bahwa Guru memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi ide-ide mereka sendiri tanpa terlalu banyak batasan. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri secara kreatif dan mengembangkan kepercayaan diri dalam kemampuan mereka. Selain itu guru memberikan apresiasi kepada peserta didik yang berani menjawab, bertanya dan memberikan argumentasi logis tentang materi pembelajaran yang disampaikan baik oleh guru maupun oleh teman-temannya. Guru menghargai dan memuji setiap ide yang diusulkan oleh peserta didik, meskipun ide tersebut terdengar aneh atau tidak konvensional. Hal ini membantu meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dan merangsang mereka untuk terus menciptakan ide-ide baru. Guru mendorong kolaborasi antar peserta didik dalam menciptakan ide-ide baru dengan berbagi dan mendiskusikan ide-ide mereka satu sama lain. Diskusi kelompok dapat merangsang pertukaran ide dan memunculkan inspirasi baru dari perspektif yang berbeda-beda dan juga guru menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dan merangsang di kelas, seperti menyediakan materi-materi seni dan mainan konstruksi yang dapat memicu imajinasi anak-anak (I. 1-I. 11 (Informan Peserta Didi. , 2. Produk Berguna atau Bernilai Produk yang bermanfaat atau bernilai adalah suatu karya yang merupakan hasil proses kreatif dan harus memiliki fungsi tertentu, seperti lebih nyaman, lebih mudah digunakan, menyederhanakan, memfasilitasi, mendorong, mendidik, mengurangi hambatan, dan menghasilkan hasil yang lebih baik atau lebih (Nur Ghufron, 2. Banyak produk yang berguna dan berharga telah diperoleh siswa, seperti pelajaran guru, seperti yang diungkapkan siswa, yang percaya bahwa pelajaran guru mereka sangat berguna dan berharga. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada bulan April 2023 tentang perubahan yang terjadi pada diri peserta didik mengenai kreativitas belajar peserta didik SD Negeri Gunung Rintih antara lain: Siswa mengalami peningkatan dalam kemampuan mereka untuk berpikir kreatif. Mereka menjadi lebih terampil dalam menemukan solusi alternatif, melihat situasi dari berbagai sudut pandang, dan menghasilkan ideide yang baru dan inovatif. Siswa menjadi lebih terbuka terhadap ekspresi diri mereka sendiri, baik dalam bentuk seni, tulisan, maupun diskusi. Mereka merasa lebih percaya diri untuk menyampaikan ide-ide dan pandangan mereka tentang isu-isu agama dan moral. Siswa juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Mereka belajar untuk mengevaluasi berbagai argumen, mempertanyakan keyakinan mereka sendiri, dan memahami dasar-dasar kepercayaan agama dengan lebih mendalam. Siswa menjadi lebih kreatif dalam menemukan solusi atas masalah-masalah moral dan etis yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar untuk menerapkan nilai-nilai agama Katolik dalam konteks kehidupan nyata dan mengambil keputusan yang sesuai dengan keyakinan mereka. Siswa juga mengembangkan empati dan toleransi terhadap orang lain yang mungkin memiliki keyakinan atau latar belakang agama yang berbeda. Mereka belajar untuk menghargai keberagaman dan memahami perspektif orang lain dengan lebih baik. Hal ini memang pada kenyataannya di sekolah ini peserta didik berasal dari berbagai latar belakang agama dan juga budaya serta golongan latar belakang pendidikan. Siswa mengembangkan kreativitas dalam ibadah dan pelayanan agama mereka. Mereka belajar untuk mengekspresikan iman dan pengabdian mereka kepada Tuhan dengan cara yang unik dan berarti bagi mereka sendiri dan komunitas mereka. ekspresi ini ditunjukan dengan berdoa sesuai ajaran agama masing-masing dan diatur secara bergiliran memimpin doa bersama di pagi hari dan apel pagi (I. 1-I. (Informan Peserta Didi. , 2. Rasa Ingin Tahu Rasa ingin tahu selalu termotivasi untuk belajar lebih banyak dan selalu mengajukan pertanyaan yang menunjukkan kreativitas siswa di kelas (Husna Handayani, 2. Dalam hal pembelajaran, rasa ingin tahu siswa ditunjukkan dengan kenyataan bahwa ketika mereka diberi tugas, mereka bertanya kepada guru bagaimana mereka akan mengerjakan. Mereka telah menunjukkan melalui tindakan ini bahwa mereka ingin tahu dan memperoleh pengetahuan baru. Berdasarkan temuan observasi dan wawancara kepada informan pada bulan April 2023 tentang indikator rasa ingin tahu peserta didik akan proses pembelajaran pendidikan agama Katolik di sekolah adalah Siswa aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan rasa ingin tahu mereka tentang konsep-konsep agama, cerita-cerita Alkitab, atau ajaran Katolik lainnya. Siswa mencari informasi tambahan tentang topik-topik agama Katolik di luar materi yang diajarkan di kelas, baik melalui buku, internet, atau sumber-sumber lainnya. Siswa aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas tentang topik-topik agama Katolik, memberikan kontribusi dengan pendapat, pertanyaan, atau pengamatan yang menunjukkan minat mereka yang dalam. Siswa menunjukkan inisiatif untuk mengembangkan aktivitas mandiri yang terkait dengan agama Katolik, seperti berdoa sebelum mulai pembelajaran, nyanyi bersama lagu-lagu rohani saat pembelajaran agama Katolik dan aktif dalam kegiatan sekolah minggu di Gereja (Peneliti, 2. Siswa tidak hanya menerima informasi yang diberikan oleh guru, tetapi juga mencoba mencari jawaban sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran mereka, baik melalui refleksi pribadi atau diskusi dengan teman-teman. Siswa terbuka untuk bereksperimen dengan ide-ide baru dan mempertanyakan hal-hal yang mungkin bertentangan dengan keyakinan atau pemahaman mereka sebelumnya, menunjukkan bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencari pemahaman yang lebih dalam. Siswa mengekspresikan minat mereka terhadap ajaran agama Katolik melalui berbagai bentuk ekspresi kreatif, seperti menulis doa untuk orangtua, membuat karya seni dengan menggambar orang kudus dan mengenakan Rosario (I. 1-I. 11 (Informan Peserta Didi. Imajinatif Seseorang yang imajinatif memiliki pemikiran berupa imajinasi atau fantasi. Seseorang yang kreatif harus mampu membayangkan hal, ide, dan metode yang belum pernah diperoleh sebelumnya (Husna Handayani, 2. Memiliki sifat imajinatif, yaitu kemampuan untuk menunjukkan atau membayangkan hal-hal yang tidak ada atau tidak pernah terjadi, menggunakan imajinasi tetapi membedakan antara fantasi dan kenyataan Siswa di SD Negeri Gunung Rintih cukup imajinatif dan berani bertanya. Kreativitas ditunjukkan ketika seseorang dapat menemukan kreasi baru, yang mengharuskannya untuk sering bertanya dan memiliki keberanian untuk maju dan tampil di depan kelas. Dalam wawancara pada bulan Maret 2023 kepada peserta didik tentang kemampuan imajinasi ketika menerima pelajaran agama Katolik di kelas menunjukkan bahwa siswa menggunakan imajinasi mereka untuk menjelajahi dan menginterpretasikan materi pelajaran Agama Katolik dengan cara yang kreatif dan pribadi, seperti menulis puisi untuk orangtua, melakukan aktivitas menggambar dan mewarnai gambar-gambar orang kudus seperti gambar Yesus, gambar Bunda Maria, gambar patung dan gambar Roh Kudus dalam rupa burung merpati. Pada tahap ini siswa dapat menggunakan kreativitas mereka untuk menggambar atau melukis interpretasi visual tentang konsep-konsep agama Katolik yang mereka pelajari. Mereka membuat ilustrasi tentang kisah-kisah Alkitab dalam bentuk drama singkat, simbol-simbol agama, dan peralatan liturgy dalam Gereja Katolik (I. 1-I. 11 (Informan Peserta Didi. Berani Mengambil Resiko Berani mengambil resiko artinya tidak takut gagal atau kritik dan tidak ragu-ragu karena hal-hal yang ambigu, non-konversi, atau kurang terstruktur (Husna Handayani, 2. Siswa di SD Negeri Gunung Rintih sudah memiliki keberanian untuk mengambil risiko, seperti menjadi sukarelawan untuk memimpin doa di depan kelas, serta mengajukan pertanyaan, berani memberikan argumentasi kepada guru dan melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan guru dengan tanggung jawab serta siap menerima kritikan, atau punishment dari guru ketika ada kesalahan atau kekeliruan yang dilakukannya. Dalam Observasi Maret 2023 kepada peserta didik ditemukan bahwa beberapa peserta didik menunjukan sikap berani mengambil kemungkinan-kemungkinan resiko yang dilakukannya, sperti siswa tersebut menunjukkan keberanian untuk mengambil risiko dengan mengeksplorasi ide-ide baru, mengemukakan pendapat mereka sendiri, atau mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap yang terbuka dan ingin belajar secara aktif, bahkan jika itu berarti menghadapi ketidakpastian atau tantangan dalam proses pembelajaran. contoh perilaku peserta didik lainnya seperti: Seorang siswa berani mengambil risiko dengan mengajukan pertanyaan yang menantang dalam kelas tentang cerita Alkitab yang berbeda dengan agama lain. Seorang siswa lainnya berani mengambil risiko dengan mengemukakan pendapat atau sudut pandang yang berbeda dengan mayoritas di kelas, meskipun menjadi bahan lelucon bagi teman-temannya. Berani mengambil risiko dengan menerapkan ajaran atau nilai-nilai agama Katolik dalam kehidupan nyata mereka di luar lingkungan kelas. Seperti bertanya kepada teman yang beragama lain mengapa tidak puasa, mengapa tidak ke gereja, dan mengapa tidak berdoa di kelas sebelum memulai dan mengakiri pembelajaran (Peneliti, 2. KESIMPULAN Guru memiliki pemahaman tentang perannya sebagai pendidikan agama Katolik dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa di SDN Gunung Rintih. Guru juga memenuhi tanggung jawabnya sebagai pendidik yang bertanggung jawab, disiplin dan dapat menjadi panutan bagi siswanya. Keteladanan ini ditunjukkan dengan ketepatan waktu guru ke kelas, menunjukan penampilan yang baik dan menarik serta melaksanakan pengajaran dengan kreatif. Sebagai tenaga pendidik professional guru pendidikan agama Katolik telah melakukan berbagai upaya sesuai dengan perannya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pendorong kreativitas dan penasihat bagi peserta didik. Peran yang secara konsisten dilakukan mampu membangun dan mengembangkan kreativitas peserta didik peserta didik mampu menunjukan sifat originalitas dalam kreativitas belajar, mampu menunjukan atau melakukan sesuatu yang baru sebagai bentuk inovasi siswa, merasakan manfaat pembelajaran sebagai sesuai yang bernilai, menunjukan rasa ingin tahu, memiliki imajinatif yang baik dan berani menerima tantangan dan ambil resiko dari setiap kegiatan yang dilakukan. Guru pendidikan agama Katolik secara konsisten mengimplementasikan perannya dalam menumbuhkan kreativitas belajar peserta didik. Peserta didik terus berusaha meningkatkan kreativitas belajar demi mewujudkan budaya mutu. Perlu dukungan berkelanjutan oleh stakeholder . epala sekolah, teman sejawat dan orangtu. DAFTAR PUSTAKA