EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 E-ISSN 2746-8011 Website: https://ejurnal. id/edukasitematik DOI: https://doi. org/10. 59632/edukasitematik. Keefektifan Model Inquiry Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Siswa Kelas V Sekolah Dasar Effectiveness of the Inquiry Learning Model on the Critical Thinking Skills of Mathematics of Grade V Elementary School Students Anisa Vira Afara Dewi1. Budiharti2 Universitas PGRI Yogyakarta. Indonesia1,2 Email Korespondensi: anisaviraafara@gmail. Histori Artikel Masuk: 02-06-2025 | Diterima: 27-06-2025 | Diterbitkan: 31-07-2025 Abstrak Penelitian eksperimen ini dimaksudkan mengetahui perbedaan kemampuan siswa berpikir kritis antara Inquiry Learning dan Langsung (Direct Instructio. sebagai model pembelajaran, serta mengetahui efektivitas model Inquiry Learning pada proses pembelajaran Matematika materi Data. Jenis penelitian kuantitatif eksperimen menggunakan desain Non-Equivalen Control Group. 41 siswa sebagai populasi, dengan sampel 21 siswa V-A dan 20 siswa V-B di SD Negeri Bibis. Metode pengumpulan data adalah tes. Hasil yang diperoleh memberi kesimpulan Inquiry Learning efektif untuk peningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis Matematika kelas V, khususnya pada materi Data. Hal tersebut terlihat dari adanya perbedaan kedua kelompok . ksperimen dan kontro. Dibuktikan rata-rata hasil kemampuan siswa berpikir kritis eksperimen adalah pretest 56,19 dan posttest 85,66. Adapun hasil kemampuan siswa dalam berpikir kritis untuk kelas kontrol pretest 49 dan posttest 70,85. Teknik analisis data melalui Independen Sample T-Test. Dengan model pembelajaran Inquiry Learning lebih efektif nilai Sig. 0,000 < . Kata Kunci: Matematika. Model Pembelajaran. Inquiry Learning. Berpikir Kritis Abstract This experimental study was intended to determine the differences in students' critical thinking abilities between Inquiry Learning and Direct Instruction as learning models, and to determine the effectiveness of the Inquiry Learning model in the Mathematics learning process of Data material. The type of quantitative experimental research used the Non-Equivalent Control Group design. 41 students as the population, with a sample of 21 V-A students and 20 V-B students at Bibis State Elementary School. The data collection method was a test. The results obtained concluded that Inquiry Learning is effective in improving students' critical thinking abilities in Mathematics in grade V, especially on Data material. This can be seen from the differences between the two groups . xperimental and contro. It was proven that the average results of students' critical thinking abilities in the experiment were pretest 56. 19 and posttest 85. The results of students' critical thinking abilities for the control class were pretest 49 and posttest 70. An Independent Samples T-Test was employed for data analysis, the value is more effective Sig. 0,000 < . Keywords: Mathematics. Learning Model. Inquiry Learning. Critical Thinking This is an open acacess article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Pendidikan sebagai kunci agar mengoptimalkan mutu SDM dalam kemajuan suatu negara. Dengan memiliki SDM yang baik tentu saja didasari oleh nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan dalam masyarakat. Selain itu, pendidikan juga mampu membentuk karakter dan keterampilan individu agar dapat bersaing dalam pasar global (Sanga & Wangdra, 2. Dalam konteks pendidikan. Matematika memegang peranan vital dalam membangun dasar serta mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, dan sistematis pada para siswa. Dalam (Ultra Gusteti, 2. Murtianto mengemukakan Matematika adalah sarana untuk berpikir, berinteraksi, dan alat dalam menyelesaikan masalah. Keterampilan dalam bernalar, berpikir logis, berinovasi, menyelesaikan masalah, serta keterampilan matematis lainnya bisa diperoleh melalui matematika. Proses belajar matematika memberi ruang kepada setiap siswa agar terlibat aktif, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pandangan demi meningkatkan keterampilan CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 matematis mereka. Kualitas pembelajaran perlu diperbaiki agar dapat memaksimalkan hasil belajar siswa, terutama dalam bidang Matematika. Sejalan dengan (Muna & Fathurrahman, 2. Pembelajaran Matematika akan mempersiapkan siswa membiasakan agar berpikir secara logis, terstruktur dan kritis serta kreatif. Ketika guru memberikan sebuah tantangan kepada siswa, mereka akan berusaha untuk mencari solusi baik secara mandiri maupun dalam kerja sama kelompok. Kemampuan Berpikir secara Kritis/Critical Thinking Skills (CTL) adalah keahlian yang diperlukan oleh seseorang untuk mengenali masalah dan selanjutnya menemukan solusi secara Menurut (Fahrudin et al. , 2. Melalui kemampuan berpikir kritis, individu dapat menyesuaikan, merevisi, mengelola, serta menyempurnakan pola pikirnya, sehingga mampu mengambil keputusan yang lebih akurat dan rasional. Menurut (Putri Salsabilah et al. , 2. mengacu pada pendapat Facione, terdapat empat indikator kemampuan berpikir kritis dalam konteks matematis, . interpretation atau penafsiran, . analysis atau analisis, . evaluation atau menilai, dan . inference atau kesimpulan. Menurut (Rizky Anisa et al. , 2. Level berpikir secara kritis berada dalam kategori rendah disebabkan oleh minimnya efektivitas dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Permasalahan dalam sektor pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar, salah satu contohnya adalah kurangnya kemampuan berpikir kritis di kalangan siswa, di mana mereka belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan di bidang ini. Menurut (Inggriyani et al. Salah satu penyebab yang dapat berdampak pada proses pengajaran dan hasil pembelajaran bahwa seorang siswa belum menjangkau kemampuan berpikir secara kritis dengan memadai. Sepanjang tahapan pembelajaran berlangsung, dibutuhkan suatu model pembelajaran untuk menciptakan proses yang efektif. Menurut Kemp (Magdalena et al. , 2. , model pembelajaran adalah aktivitas yang disusun dan dilaksanakan oleh pendidik bersama siswa dengan tujuan untuk mengoptimalkan pencapaian hasil belajar, baik dari segi efektivitas maupun efisiensi. Menurut (Fahrudin et al. , 2. model pembelajaran konvensional dalah proses pembelajaran yang cenderung monoton dan lebih banyak mengandalkan ceramah, di mana penyampaian materi masih berpusat pada guru. Menurut (Widya Prastiwi et al. , 2. untuk menciptakan atmosfer kelas yang baik melalui suatu model pembelajaran, seorang guru sebaiknya merancang dan membuat rencana yang memungkinkan Proses belajar mengajar terlaksana melalui interaksi yang lebih dinamis dan Penerapan model pembelajaran turut memberikan ruang bagi peserta didik agar terlibat secara lebih intensif serta mempercepat pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran dan penguasaan pengetahuan baru. Hal serupa juga ditemukan di SD Negeri Bibis, di mana hasil observasi menunjukkan adanya permasalahan yang sama, yaitu penyampaian materi pembelajaran yang masih didominasi model pembelajaran dimana guru memiliki peran dominan. Kondisi ini mengakibatkan rendahnya minat siswa terhadap proses belajar mengajar. Siswa memiliki anggapan bahwa Matematika mata pelajaran yang rumit menyebabkan tingkat penguasaan siswa terhadap materi dalam Matematika rendah, serta terbatasnya kemampuan siswa berpikir kritis. Perlu adanya model pembelajaran yang berguna untuk menunjang skill dalam berpikir kritis yang dimiliki siswa. Dalam (Prasetiyo & Rosy, 2. menurut Hamdayama AuModel inquiry learning artinya ikut berpartisipasi saat mengajukan pertanyaan, menggali informasi, serta melakukan proses penyelidikanAy. Siswa diharapkan berperan aktif dalam mengajukan pertanyaan dan berupaya menemukan jawaban secara mandiri. Dengan demikian, siswa terdorong untuk mengembangkan keingintahuan serta mengasah kemampuan siswa berpikir kritis secara mandiri. Fenomena ini juga sangat memungkinkan bagi tiap siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya serta menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mereka. Menurut (Rizky Anisa et al. , 2. Kemampuan berpikir secara kritis oleh siswa berada ditingkat yang sangat rendah disebabkan oleh tidak efektifnya proses belajar yang dilakukan. Salah satu tantangan yang ditemui dalam bidang pendidikan di tingkat sekolah dasar, adalah CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 Minimnya kemampuan berpikir kritis siswa, masih tampak bahwa mereka belum sepenuhnya menguasai keterampilan dibidang ini. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti agar mengetahui sejauh mana perbedaan kemampuan siswa berpikir kritis terhadap Matematika kelas V di SDN Bibis yang dibelajarkan model Inquiry Learning dengan mereka yang menggunakan model Direct Instruction, sekaligus menilai efektivitas model Inquiry Learning dalam mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis materi Data Matematika kelas V SDN Bibis. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan metode eksperimen, dengan rancangan berbentuk Quasi Eksperimental. Metode eksperimen desain Quasi Eksperimental terdapat 2 kelas yang terlibat, kelas sebagai eksperimen dan kelas sebagai kontrol. Menggunakan rancangan Nonequivalent Control Group sebagai dasar pemilihan sampel. Seluruh siswa di kelas V SDN Bibis menjadi populasi, sampel yang digunakan adalah 21 siswa kelas V-A . dan 20 siswa kelas V-B . Metode pengumpulan data berupa tes. Tes Pretest-Posttest diberikan kepada kedua kelas guna mengukur perbedaan hasil belajar akibat dua perlakuan berbeda. Tahap berikutnya uji prasyarat, berupa uji normalitas dan homogenitas. Dilanjutkan pengujian hipotesis Independent Sample T-Test. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Dalam melaksanakan penelitian dihasilkan data kuantitatif, melalui pretest-postest kemampuan berpikir secara kritis oleh siswa materi Data pada Matematika. Uji Normalitas Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Merujuk pada hasil perhitungan uji normalitas Shapiro Wilk dari hasil tes sebelum pelaksanaan treatment pada kelas kontrol untuk kemampuan berpikir kritis yaitu diperoleh hasil = 0,098 dan kelas eksperimen diperoleh hasil = 0,169. Kemudian, setelah diberikan treatment pada kelas kontrol diperoleh nilai = 0,052 dan untuk kelas eksperimen diperoleh = 0,092. Berdasarkan tabel di atas, masing-masing variabel menunjukkan nilai p > 0,05 disimpulkan sebaran data mengikuti distribusi CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 Uji Homogenitas Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Hasil uji Levene untuk kemampuan berpikir kritis menunjukkan bahwa untuk kedua variabel memiliki nilai Sig. Levene 0,089 > dari nilai signifikasi 0,05. Dikarenakan dalam nilai signifikansi melebihi 0,05, terbukti bahwa homogenitas dapat dikatakan variabelnya homogen. Dengan demikian, data tersebut memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut dengan Uji Independent Sample Test. Uji t Independen Sampel Test Tabel 3. Uji t menggunakan Independent Sample Test Dengan Sig. -taile. 0,000 < . pada tabel, artinya Inquiry Learning dan Direct Instruction memiliki perbedaan efektivitas signifikan guna meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis materi Data Matematika siswa kelas V di SD Negeri Bibis Tahun Ajaran 2024/2025. Hasil penelitian mengungkapkan adanya perbedaan signifikan kemampuan siswa untuk berpikir kritis mengikuti Inquiry Learning . elas eksperime. dan siswa mengikuti model pembelajaran Direct Instruction . elas kontro. sebagai model pembelajaran. Dilihat dari hasil analisis terhadap rata-rata kelas eksperimen pada saat pretest memperoleh nilai 56,19. Setelah pretest proses pembelajaran materi data dilaksanakan menggunakan Inquiry Learning sebagai model pembelajaran hasil rata-ratanya meningkat menjadi 85,66. Nilai posttest kelas eksperimen yang CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 menerapkan Inquiry Learning sebagai model pembelajaran telah mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran. Tabel 4. Kriteria Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (Anas Sudijono, 2. Hasil uji kategorisasi juga membuktikan bahwa kelas eksperimen pada saat pretest sebagian besar kecenderungan nilai pretest prestasi belajar materi data dalam kategori nilai maksimal > 50 sebanyak 14 siswa . ,66%) dari jumlah 21 siswa perolehan nilai tersebut termasuk dalam klasifikasi cukup dan 18 siswa masih dibawah KKTP. Namun, setelah menerapkan model pembelajaran Inquiry Learning menghasilkan nilai posttest dengan kategori nilai maksimal > 85, sebanyak 15 siswa . ,43%) perolehan nilai tersebut termasuk dalam klasifikasi baik sekali. 6 siswa lainnya memperoleh nilai dibawah 85 namun diatas KKTP. Kondisi ini berbeda dengan kelas yang model pembelajarannya Direct Instruction. Saat pretest sebagian besar kecenderungan nilai pretest prestasi belajar materi data dalam kategori nilai maksimal > 50, sebanyak 9 siswa dari jumlah siswa sebanyak 20 siswa . %) perolehan nilai tersebut termasuk kedalam klasifikasi cukup. setelah pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Direct Instruction menghasilkan nilai posttest dengan kategori nilai maksimal > 85, sebanyak 2 siswa . %) perolehan nilai tersebut termasuk dalam klasifikasi baik sekali namun terdapat 7 siswa yang nilainya belum memenuhi standar KKTP, dengan nilai KKTP yang ditetapkan PENUTUP Kemampuan siswa berpikir kritis antara kelompok Inquiry Learning dengan Direct Instruction terdapat perbedaan yang signifikan, hasil dari uji hipotesis kemampuan siswa berpikir kritis materi Data pembelajaran Matematika, memperoleh nilai signifikasi Sig. -taile. , berarti tingkat signifikasi lebih rendah dari yang telah ditetapkan yaitu 0,05. Model pembelajaran Inquiry Learning menunjukkan efektivitas lebih tinggi dibandingkan model Direct Instruction dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis di kelas V SDN Bibis materi Data, ditunjukkan kelas eksperimen menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan rata-rata posttest 85,66, melampaui kelas kontrol yang hanya memperoleh rata-rata 70,85. DAFTAR PUSTAKA