CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care Penguatan Sikap Anti-Rokok Siswa Melalui Program Edukasi Sekolah di SMP Nusantara Plus Suherman Jaksa, 2Andriyani, 3Reyvinnta Azka Agnaty, 4Rafa Zemy Amalia. Rafida Khalisha, 6Ratna Vanessa, 7Rachma Aulia Alyasar, 8Putri Aulia Setyawati 1,2,3,4,5,6,7,8 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Ahmad Dahlan. Cirendeu. Ciputat. Kota Tangerang Selatan. Banten, 15419 E-mail Korespondensi: suherman@umj. Abstrak Kebiasaan merokok merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang masih tinggi di Indonesia dan berdampak serius terhadap kesehatan individu maupun lingkungan sekitar. Rokok tidak hanya membahayakan perokok aktif, tetapi juga perokok pasif yang terpapar asap rokok, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti gangguan pernapasan, kanker, dan penyakit kardiovaskular. Kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMP Nusantara Plus. Ciputat Timur. Tangerang Selatan, terhadap bahaya merokok serta menumbuhkan sikap anti-rokok di kalangan pelajar. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan interaktif dengan bantuan media visual berupa PowerPoint dan poster, serta evaluasi melalui survei pre-test dan post-test dengan 40 pertanyaan yang mengukur tingkat pengetahuan peserta tentang bahaya merokok. Sebanyak 31 siswa menjadi responden dalam kegiatan ini. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 64,27% sebelum penyuluhan menjadi 75,81% setelah penyuluhan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa edukasi tentang bahaya merokok efektif dalam memperluas pemahaman dan membentuk sikap positif siswa untuk menjauhi rokok. Kegiatan ini diharapkan menjadi model edukasi berkelanjutan di lingkungan sekolah melalui kolaborasi antara pihak sekolah, dinas kesehatan, dan orang tua, serta dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana kampanye kesehatan. Upaya ini menjadi langkah strategis dalam mendukung penurunan prevalensi perokok di kalangan remaja dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara umum. Kata kunci: sikap anti-rokok, edukasi kesehatan, kegiatan sekolah, perilaku siswa, bahaya merokok Abstract Smoking is a public health problem that remains a major concern in Indonesia and has serious impacts on both individual and environmental health. Cigarettes not only harm active smokers but also passive smokers exposed to cigarette smoke, which can cause various diseases such as respiratory disorders, cancer, and cardiovascular disease. This outreach activity aims to increase the knowledge and awareness of students at Nusantara Plus Middle School. East Ciputat. South Tangerang, regarding the dangers of smoking and foster an anti-smoking attitude among students. The method used in this activity is interactive outreach with the help of visual media in the form of PowerPoint and posters, and evaluation through a pre-test and post-test survey with 40 questions that measure the level of knowledge of the participants about the dangers of smoking. A total of 31 students participated in this activity. The analysis results showed an increase in the average knowledge score from 64. 27% before the outreach to 75. 81% after the outreach. This increase indicates that education about the dangers of smoking is effective in broadening students' understanding and forming positive attitudes towards staying away from cigarettes. This activity is expected to become a model for sustainable education in the school environment through collaboration between the school, the health office, and parents, as well as by utilizing digital media as a means of health campaigns. This effort is a strategic step in supporting a reduction in the prevalence of smoking among adolescents and improving the quality of public health in Keywords: anti-smoking attitudes, health education, school activities, student behavior, dangers of smoking PENDAHULUAN Merokok merupakan aktivitas di mana seseorang menghisap gulungan tembakau yang dilapisi daun nipah atau kertas, yang dibakar terlebih dahulu. Asap yang dihasilkan kemudian dihirup ke dalam tubuh dan dikeluarkan kembali. Dalam kehidupan sehari-hari. CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care kita sering menjumpai individu yang merokok di tempat-tempat umum atau bahkan di lingkungan rumah kita sendiri. (Mardiana et al. , 2. Perilaku merokok merujuk pada tindakan individu yang melibatkan proses pembakaran tembakau dan penghirupan zat yang Perilaku ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keputusan untuk merokok, cara menghisap rokok, kedalaman penghirupan, serta frekuensi dan kecepatan aktivitas merokok (Komasari dan Helmi, 2. Selain itu, merokok diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung (Kemkes, 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2. , prevalensi perokok secara global mencapai 20% pada tahun 2016 dari populasi dunia. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh (Adolph, 2. , prevalensi perokok di kawasan Asia Pasifik sebesar 56%. Eropa . %). Amerika . %) dan Afrika serta Timur Tengah . %). Dan prevalensi perokok sekitar 10% di wilayah Asia Tenggara yaitu di Indonesia . ,8%). Filipina . ,28%). Vietnam . ,30%). Thailand . ,89%). Myanmar . ,32%). Malaysia . ,91%). Kamboja . ,22%). Laos . ,72%). Singapura . ,29%) dan Brunei . ,06%). Atlas Tembakau Indonesia . menyatakan prevalensi merokok di Indonesia mencapai 33,8% pada tahun 2018 dari total populasi, dengan peningkatan signifikan pada kelompok usia remaja. Edukasi mengenai bahaya merokok menjadi krusial untuk menekan angka ini. Dari data Global Youth Tobacco Survey (GYTS, 2. Indonesia menunjukkan 19,2% pelajar usia 13-15 tahun menggunakan produk tembakau, dengan 18,8% di antaranya merokok sigaret. Selain itu, menurut (Soerojo. Susilo and Wiyono, 2. , 76,6% pelajar yang merokok membeli rokok dari toko atau kios, dan 60,6% dari mereka tidak dicegah membeli meskipun di bawah umur. Hal ini menekankan pentingnya edukasi dan penegakan regulasi terkait penjualan rokok kepada remaja. Menurut Kementerian Kesehatan faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk merokok yaitu adanya tekanan sosial yang dimana remaja sering kali merokok untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sebaya atau mengikuti tren sosial (Kemenkes, 2. Faktor genetik dan psikologis juga mempengaruhi beberapa individu memiliki kecenderungan genetik atau kondisi psikologis yang membuat mereka lebih rentan untuk mulai merokok. Rokok ini berisiko bagi kesehatan tubuh antara lain menimbulkan Penyakit jantung koroner, stroke, paru-paru, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker, termasuk kanker paru-paru, mulut, tenggorokan, kandung kemih, gangguan kesuburan, merusak gigi, dan menyebabkan bau mulut. Menurut Tirtonegoro . paparan asap rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif tetapi juga bagi perokok pasif. Studi yang dilakukan oleh Munir . mengungkapkan bahwa remaja laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk merokok, dengan prevalensi perilaku merokok yang meningkat seiring bertambahnya usia. Edukasi yang tepat dapat meningkatkan kesadaran remaja akan bahaya merokok bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya. Efektivitas media edukasi dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang bahaya merokok telah diteliti. Penelitian oleh Kasman et al . menunjukkan bahwa penggunaan media leaflet dan video secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap bahaya merokok. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan media edukasi yang tepat CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care dapat mempengaruhi perilaku remaja. Pendidikan kesehatan mengenai bahaya merokok terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja. Studi oleh Alfarisy et al . menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang bahaya merokok, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku mereka terhadap merokok. Implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan sekolah dapat menjadi langkah preventif dalam menurunkan prevalensi merokok di kalangan remaja (Marchel, 2. Penelitian oleh Saptono . menunjukkan bahwa penerapan KTR di sekolah berhasil mengurangi angka perokok pelajar hingga 25% dalam satu tahun. Kombinasi edukasi dan kebijakan yang tegas diperlukan untuk menciptakan lingkungan bebas rokok. Pendekatan edukatif yang komprehensif dan berkelanjutan, didukung oleh kebijakan yang efektif, diharapkan dapat menekan angka prevalensi merokok di kalangan remaja, sehingga tercipta generasi muda yang lebih sehat dan produktif (Halim et al. , 2. METODE Kegiatan penyuluhan ini di awali dengan meminta surat izin penyuluhan kepada Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhmammadiyah Jakarta. Dengan nomor surat 25/F. 10-UMJ/XII/2024, kemudian surat tersebut segera diserahkan kepada SMP Nusantara Plus untuk meminta izin melakukan penyuluhan di sekolah tersebut. Kegiatan penyuluhan kesehatan kepada Masyarakat dilakukan pada tanggal 16 Desember 2024 di SMP Nusantara Plus. Ciputat Tim. Tangerang Selatan. Banten. Sasaran pengabdian ini adalah siswa/siswi SMP Nusantara Plus sebanyak 31 orang. Media penyuluhan menggunakan powerpoint dan poster yang telah dibuat sesuai dengan petunjuk Kementerian Kesehatan RI dan jurnal ilmiah yang dapat dipercaya mengenai bahaya merokok. Tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk mengetahui dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang dampak buruk merokok. Metode yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan kepada siswa/siswi SMP Nusantara Plus adalah metode penyuluhan dengan indikator penilaian kuesioner pre-test dan post-test yang diadaptasi dari kuesioner sebelumnya oleh MaAoruf . yang terdiri dari 40 pertanyaan terkait dengan pengetahuan bahaya merokok. Metode ini dilakukan dengan cara, sebelum kami memberikan penjelasan materi, peserta terlebih dahulu diminta untuk mengisi pre-test dengan memindai barcode melalui google form agar dapat mengetahui tingkat pengetahuan mereka tentang bahaya merokok. Kemudian, materi mengenai risiko bahaya merokok dijelaskan secara singkat dan jelas, sesuai dengan powerpoint dan poster yang telah disiapkan dengan merujuk pada informasi dari Kementerian Kesehatan RI dan jurnal ilmiah yang dapat dipercaya. Dan setelah itu memberikan post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa/siswi setelah mendapatkan penyuluhan. Setelah data pre-test dan posttest terkumpul, kami melakukan olah data dengan menentukan score dan persentase masingmasing responden. Berdasarkan persentase yg didapatkan, kategori tingkat pengetahuan menurut (Arikunto, 2. adalah sebagai berikut: Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya Ou 76-100%. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 60-75%. CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care . Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya O 60%. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penyuluhan yang telah dilakukan maka dokumentasi saat pelaksanaan berlangsung dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 1. Dokumentasi Gambar 2. Dokumentasi Gambar 3. Dokumentasi Berdasarkan hasil pre-test dan post-test pada siswa/siswi SMP Nusantara Plus, presentase rata- rata score pada saat pre-test dan post-test dapat dilihat pada diagram berikut: Gambar 4. Hasil Rata-rata Pre-test dan Post-test Hasil pretest diketahui bahwa pengetahuan responden masih kurang mengenai bahaya merokok. Hal ini terlihat dari rata-rata skor pre-test sebesar 64,27% dari skor keseluruhan sebesar 100%. Responden masih belum memahami sepenuhnya apa yang dimaksud dengan bahaya merokok, betapa pentingnya mengetahui bahaya yang ditimbulkan rokok bagi diri sendiri dan lingkungan, serta bagaimana caranya menghindari rokok. Setelah responden menyelesaikan pre-test, mereka menerima infromasi secara detail tentang bahaya merokok dan cara melindungi diri dari rokok. Setelah memberikan materi tentang bahaya merokok, responden diminta menyelesaikan post- test. Dengan memindai barcode dari Google Formulir. Hasil tes lanjutan menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang bahaya merokok meningkat dibandingkan dengan pre-test. Hal ini terlihat dari rata-rata skor post-tes sebesar 75,81% dari total skor 100%. Berdasarkan hasil Pre-test dan Post-test pada siswa/siswi SMP Nusantara Plus, score rata-rata presentase tingkat pengetahuan pada saat Pre-test dan Post-test dapat dilihat pada tabel berikut: CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care Tabel 1. Presentase Tingkat Pengetahuan Pre-test dan Post-Test Variabel Pengetahuan Pre-Test Frekuensi . Presentase (%) Post-Test Frekuensi . Presentase (%) Baik 42,5% Cukup Kurang Dari hasil pre-test dan post-test dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden tentang bahaya merokok meningkat sebesar 17,96%. Meski tidak meningkat 100%, tetapi dengan adanya peningkatan pemahaman responden yang sudah lebih baik, artinya penyuluhan mengenai edukasi bahaya merokok ini sesuai dengan harapan, yaitu terjadinya peningkatan dan pemahaman. Menurut Sekeronej et al . merokok adalah aktivitas menghisap asap hasil pembakaran produk tembakau, seperti rokok atau pipa, yang kemudian dihembuskan kembali. Kegiatan ini melibatkan pembakaran tembakau yang dibungkus dengan daun nipah atau kertas, di mana asapnya dihirup ke dalam tubuh dan dikeluarkan Menurut Mussardo . perilaku merokok dapat didefinisikan sebagai aktivitas membakar dan menghisap rokok, yang menghasilkan asap yang dapat terhirup oleh orang di Perilaku ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Manoppo . merokok merupakan kebiasaan yang umum di masyarakat dan dapat menyebabkan dampak serius bagi kesehatan perokok serta orang-orang di sekitarnya. Sebagian besar masyarakat cukup memahami bahaya merokok, namun prevalensi perilaku merokok masih tinggi. Sikap seseorang terhadap bahaya merokok dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: Menurut Rorimpandey et al . tingkat pemahaman individu mengenai dampak negatif merokok berperan signifikan dalam membentuk sikap mereka. Menurut penelitian Komasari dan Helmi . menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik tentang risiko kesehatan akibat merokok dapat mendorong sikap negatif terhadap perilaku tersebut. Interaksi dengan teman sebaya yang merokok dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap merokok. Kehadiran teman yang merokok seringkali meningkatkan toleransi atau bahkan dorongan untuk merokok. Sikap permisif atau kebiasaan merokok orang tua dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap merokok. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan anggota yang merokok cenderung memiliki sikap yang lebih toleran terhadap Kepuasan psikologis yang diperoleh dari merokok, seperti perasaan rileks atau peningkatan konsentrasi, dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap bahaya merokok. Individu yang merasakan manfaat psikologis dari merokok mungkin mengabaikan risiko Menurut Fikriyah dan Febrijanto . paparan terhadap lingkungan sosial di mana merokok dianggap sebagai norma dapat mempengaruhi sikap individu. Lingkungan yang mendukung perilaku merokok dapat menurunkan kesadaran akan bahaya merokok. Menurut Yogae . paparan terhadap iklan rokok dan representasi merokok di media dapat membentuk persepsi positif terhadap merokok, sehingga mempengaruhi sikap individu terhadap bahaya yang ditimbulkan. Asap rokok mengandung lebih dari 7. 000 bahan kimia, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit serius. Menurut Suryoadji et al . CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 73-81 Hompage: https//journal. id/index. php/care merokok adalah penyebab utama dari penyakit paru-paru obstruktif kronik (PPOK), seperti emfisema dan bronkitis kronis. Zat dalam asap rokok dapat merusak dinding saluran pernapasan dan menyebabkan kesulitan bernapas. Merokok juga meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru, yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. Menurut WHO . merokok memperburuk kondisi jantung dengan meningkatkan tekanan darah, merusak pembuluh darah, dan memperburuk aliran darah ke jantung. Perokok memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dan stroke. Asap rokok mengandung karbon monoksida yang mengikat hemoglobin, mengurangi jumlah oksigen yang dapat dibawa darah, dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Menurut Nasution dan Yusuf . pada pria, merokok dapat menurunkan kualitas sperma dan menyebabkan disfungsi Pada wanita, merokok mengurangi kesuburan dan meningkatkan risiko keguguran serta komplikasi kehamilan, seperti kelahiran prematur dan preeklampsia. Menurut Junior . merokok adalah faktor utama penyebab kanker paru-paru, tetapi juga berkontribusi terhadap kanker lainnya, seperti kanker mulut, tenggorokan, dan Zat karsinogen dalam rokok dapat merusak sel-sel tubuh, memicu pertumbuhan sel kanker, dan meningkatkan kemungkinan terjadinya metastasis . enyebaran kanker ke bagian tubuh lainny. Merokok tidak hanya merusak sistem pernapasan tetapi juga mempengaruhi jantung, pembuluh darah, kesehatan reproduksi, meningkatkan risiko kanker, dan melemahkan sistem imun. Menghentikan kebiasaan merokok adalah salah satu langkah terbaik yang dapat diambil untuk menjaga kesehatan tubuh. KESIMPULAN Pengabdian masyarakat melalui edukasi bahaya merokok merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat, tentang bahayanya merokok bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya peningkatana prevalensi perokok di Indonesia dan Peningkatan penyakit yang di akibatkan oleh rokok yang membahayakan kesehatan masyarakat. Dengan demikian diharapkan bahwa siswa/siswi SMP Nusantara Plus, dapat menjadikan model edukasi yang berkelanjutan dan perluasan program edukasi seperti kolaborasi antar pihak, serta pemanfaatan media digital dapat meningkatkan dampak kampanye bahaya merokok, untuk mendukung upaya penurunan prevalensi perokok, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA