JURNAL SURYA Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan Halaman link: http://jurnal.umla.ac.id Asuhan Keperawatan Pada pasien Post SC Dengan Intervensi Penerapan Terapi Foot Massage: Studi Kasus (Nursing Care in Post SC Patients with Intervention Application of Foot Massage Therapy: Case Study) Maria Fransiska Mara¹,Theresia Syrilla da Cunha¹ ¹ Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Nusa Nipa Maumere ARTIKEL INFO ABSTRAK Proses Artikel Diterima : 19 Januari 2023 Direvisi : 23 Maret 2023 Dipublikasikan: 10 April 2023 Pendahuluan: Sectio caeasar adalah persalinan dengan cara membuat sayatan perut untuk mengeluarkan janin. Persalinan sectio caesarea yaitu proses mengeluarkan bayi dengan membedah perut ibu dengan membuat sayatan di dinding rahim. Tindakan sectio caesarea tindakan medis utama untuk menyelamatkan nyawa ibu dan juga bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada ibu postpartum section caesarae dengan penerapan terapi foot massage untuk mengurangi nyeri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Pengumpulan data mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi keperawatan dilakukan di ruang Anggrek RSUD dr. TC. Hillers Maumere pada Januari 2023. Sampel yang digunakan adalah 2 pasien yang dilakukan perawatan di rumah sakit minimal 3 hari. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil: pengkajian dua responden yang merupakan ibu postpartum melalui SC hari ke yang mengalami nyeri selama masa perawatan. Diagnosis yang ditetapkan adalah Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (prosedur operasi sectio caesarea: terputusnya inkontuinitas jaringan) Intervensi dilakukan adalah penerapan terapi foot massage, observasi skala nyeri dan tanda-tanda vital serta kolaboratif untuk tindakan selanjutnya. Evaluasi setelah dilakukan tindakan nyeri berkurang, tidak ada tanda-tanda infeksi. Kesimpulan: Setelah dilakukan foot massage selama 3 hari selama 15-20 menit menunjukkan penurunan cari pada pasien postpartum Sectio caeasarea. Koresponden penulis Maria Fransiska Mara dacunhalila@gmail.com Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Nusa Nipa Maumere Cara mensitasi Mara, M. F., & Cubha, T., S., (2022). Nursing Care in Post SC Patients with Intervention Application of Foot Massage Therapy: Case Study. J. Media Komunikasi Ilmu Kesehatan, 15(1), 10–15. https://doi.org/https://doi.org/10. 38040/js.v15i1.568 Kata Kunci: Ketaatan; sikap; Protokol kesehatan. SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 10 ABSTRACT Introduction: Sectio caeasar is labor by making an abdominal incision to remove the fetus. Sectio caesarea delivery is the process of removing the baby by dissecting the mother's abdomen by making an incision in the uterine wall. Sectio caesarea is the main medical action to save the life of the mother and also the baby. This study aims to describe nursing care in postpartum section caesarae mothers with the application of foot massage therapy to reduce pain. Methods: This research uses a case study design. Data collection ranging from assessment to nursing evaluation was carried out in the Anggrek room of RSUD dr. TC. Hillers Maumere in January 2023. The samples used were 2 patients who were hospitalized for at least 3 days. Data collection techniques use interviews, observations and documentation studies. Results: assessment of two respondents who were postpartum mothers through day SC to those who experienced pain during the treatment period. The diagnosis established is Acute Pain associated with Physical Injury Agents (sectio caesarea surgical procedure: disconnection of tissue incontuinity) Intervention is carried out is the application of foot massage therapy, observation of pain scales and vital signs and collaborative for further action. Evaluation after treatment pain reduced, no signs of infection Conclusion: After foot massage for 3 days for 15-20 minutes showed a decrease in search in postpartum Sectio caeasarea patients Keywords: Foot massage, sectio caessarea, pospartum PENDAHULUAN Masa nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata “pure” yang artinya bayi dan “parous” yang berarti melahirkan. Masa nifas dimulai setelah placenta lahir dan berakhir ketika ala-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari (Maritalia, 2012). Setelah melahirkan pertama, wanita berada dalam masa transisi untuk menjadi ibu pertama kali. Mereka harus menjalani peran fungsi adaptasi dengan peran ibu baru. World Health Organization (WHO, 2015) angka kejadian Sectio Caesarea meningkat di negara-negara berkembang. SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 WHO menetapkan indikator persalinan Sectio Caesarea 10-15 % untuk setiap Negara, jika tidak sesuai indikasi operasi Sectio Caesarea dapat meningkatkan resiko morbilitas dan mortilitas pada ibu dan bayi angka kelahiran melalui oprasi caesarea sekitar 10% hingga 15% dari semua kelahiran di negara berkembang. Termasuk 20% di Inggris, 23% di Amerika dan 21% . Angka kematian ibu (AKI) mencerminkan status kesehatan ibu. Ada risiko kematian selama kehamilan, melahirkan dan nifas. Hampir 529.000 perempuan meninggal akibat komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas. oleh karena itu, diperkirakan AKI global sekitar sekitar 400 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu menurut WHO sebanyak 80% disebabkan perdarahan 11 hebat, infeksi, hipertensi dan aborsi yang tidak aman (WHO, 2019). Dan sekitar 28% kematian ibu yang tidak dapat diperkirakan terdiri dari pendarahan antepartum dan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan pendarahan pervagina yang biasa dialami oleh ibu hamil umur minimal sejak 22 minggu atau trimester III yang termasuk kasus kegawat daruratan dan memiliki risiko tinggi yang kejadiannya berkisar dari seluruh persalinan ada 3% (Husain et al., 2019). Di Indonesia kejadian Sectio Caesarea naik dari tahun ke tahun pada tahun 2000, namun tidak ada signifikan pada tahun 2007 (Sumelung et al., 2014). Pada survey demografi dan kesehatan tahun 2009-2010 angka melahirkan dengan sectio caesarea secara nasional di indonesia sekitar 20,5% dari total persalinan (SAMBAS, 2017). Dan menurut SDKI di indonesia pada tahun 2012 ada 921.000 dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8% dari seluruh persalinan (Hapsari & Hendraningsih, 2018). Sectio caeasar adalah persalinan dengan cara membuat sayatan perut untuk mengeluarkan janin. Persalinan section caesarea yaitu proses mengeluarkan bayi dengan membedah perut ibu dengan membuat sayatan di dinding rahim (Mardiawati, 2017). Persalinan section caesarea dapat memberikan keuntungan dan kerugian bagi ibu. Salah satu keuntungannya bisa membantu persalinan dengan cara membedah perut sebagai jalan lahir jika tidak dapat melakukan persalinan secara pervagina. Dan kerugiannya ibu akan merasa sakit akibat luka insisi dan mungkin akan memberikan efek psikologis (Utam i, 2016). Rasa sakit saat operasi secar akan mempengaruhi perubahan kontinuitas jaringan akibat operasi. Pengobatan untuk mengurangi nyeri pada pasien section caesarea post partum biasanya menggunakan analgesik, tetapi farmakologi tidak digunakan untuk memperbaiki kondisi pasien. Kemampuan mengontrol nyeri, sehingga harus diberikan kombinasi SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 farmakologi dan non farmakologi agar masa kesembuhan tidak berkepanjangan, dan nyeri ibu nifas dapat dikurangi (Rini & Susanti, 2018). Manajemen nyeri yang biasanya diberikan pada pasien dengan nyeri hebat yakni dengan pemberian relaksasi nafas dalam, terapi musik atau terapi murrotal, serta terapi pemijatan. Pemberian pijat kaki pernah diberikan pada pasien dengan operasi sectio caesarea di Negara Turki. Menurut Degirmen (2018) pemberian pijat kaki pada pasien post operasi sectio caesarea dapat mengurangi intensitas nyeri pada 24 jam pertama. Menurut Potter dan Perry (2009) saat ini terapi komplementer mengalami peningkatan ketertarikan dan penggunaan, salah satunya adalah pijat kaki. Pijat kaki merupakan gabungan dari empat teknik masase yaitu effleurage (mengusap), petrissage (memijit), Friction (menggosok) dan tapotement (menepuk). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan terapi foot massage pada pasien Post SC METODE PENELITIAN Metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup salah satu unit. Satu unit disini dapat berarti satu klien, keluarga, kelompok, komunitas, atau institusi. ininstitusi.(Soekidjo, 2014). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2 orang, teknik pengumpulan data menggunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Lima tahapan proses keperawatan diawali dari pengkajian klien sampai evaluasi dilakukan di ruang Anggrek RSUD dr. TC. Hillers Maumere selama tiga hari perawatan. Selanjutnya disajikan secara naratif dari fakta yang ada dilapangan dan teori yang relevan, sehingga dilakukan penelitian studi kasus untuk asuhan keperawatan pada pasien post SC H-1 dengan intervensi terapi foot massage. HASIL PENELITIAN 12 Hasil pengkajian yang didapat dari kedua pasien yaitu pasien pertama atas nama Ny. M.A.W dengan diagnosa medis P1001 post SC H-1 di dapatat pasien mengatakan nyeri pada luka Post SC, , skala nyeri 7 ( nyeri berat), pasien tampak meringis kesakitan, , luka tampak tertutup kasa, pasien tampak berhatihati bila bergerak, hasil TTV : TD : 120/70 mmHg, S: 36ºC, N : 82x/menit, RR : 20x/menit. Hasil pemeriksaan fisik yang di dapat keadaan umum baik, Tampak sakit Ringan, kesadaran Composmentis (GCS 15), konjungtiva tidak anemis, Sclera tidak ikterik, TFU 2 jari dibawah umbilikus, Kontraksi uterus baik, teraba keras, Posisi uterus 2 jari dibawah umbilicus, Distensi rectus abdominalis Teraba, Lochea Rubra, Warna Merah terang, Jenis Rubra 3 kali ganti pembalut. Sedangkan pada pengkajian pasien kedua atas nama Ny. M.I ditemukan pasien mengatakan sakit pada luka Post SC,skala nyeri 7 pasien tapak meringis kesakitan, luka tampak tertutup kasa, pasien tampak takut untuk bergerak, hasil TTV : TD : 110/70 mmHg, S : 36ºC, N : 80x/menit, RR : 20x/menit. Hasil pemeriksaan fisik yang didapat keadaan umum baik, tampak sakit ringan, konjungtiva tidak anemis, Sclera tidak ikterik, TFU 2 jari dibawah umbilikus, Kontraksi uterus baik, teraba keras, Posisi uterus 2 jari dibawah umbilicus, Distensi rectus abdominalis Teraba, Lochea Rubra, Warna Merah terang, Jenis Rubra, 2 kali ganti pembalut PEMBAHASAN Setelah dilakukan pengkajian asuhan keperawatan terhadap kedua klien dengan diagnosis medis post partum melalui SC, ditemukan masalah keperawatan utama klien berdasarkan penegakkan diagnosis keperawatan SDKI adalah nyeri akut D.0077 kondisi dimana ibu merasakan nyeri akibat luka insisi dan mungkin akan memberikan efek psikologis (Utam i, 2016). Rasa sakit saat operasi secar akan mempengaruhi SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 perubahan kontinuitas jaringan akibat operasi, sehingga penulis menegakkan diagnosa sesuai SDKI yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur operasi). Analisa data dan masalah keperawatan yang ditemukan dilapangan sesuai dengan kriteria yang tercantum pada teori tersebut diatas yakni Ny. M.A.W Data objektif yang ditemukan pada klien pertama, hasil pengkajian fisik Keadaan umum baik klien Tampak sakit Ringan Ibu tampak meringis kasikitan, Skala nyeri 7 (nyeri berat), Luka tampak tertutup kasa,Tidak ada rembesan, Putting menonjol sedikit, ASI tampak keluar sedikit saat di palpasi, Payudara tidak tampak tegang, TTV : TD: 120/80 mmHg, suhu : 36⁰C, nadi : 80x/menit, RR : 18 x/menit, Terpasang infuse RL 20 tpm, Terpasang DC dengan produksi urine 500 cc. Analisa data dan masalah keperawatan Ny. M.I. Data objektif yang ditemukan pada klien kedua hasil pengkajian Ibu tampak meringis kasikitan, Skala nyeri 5 (nyeri sedang), Luka tampak tertutup kasa, Tidak ada rembesan, Putting menonjol sedikit, ASI tampak keluar sedikit saat di palpasi, Payudara tampak tegang. Hasil pengkajian fisik yaitu keadaan umum klien baik, tanda-tanda vital: TD: 110/70 mmHg,Nadi 80x/menit, RR 20x/menit, S: 36⁰celsius. Klien tampak sakit Ringan, klien tampak meringis kesakitan, skala nyeri 7 ( nyeri berat) tampak ada luka operasi di bagian abdomen luka tertutup kasa, tampak terpasang infus Rl, tampak terpasang kateter produksi urin 600 cc, Kesadaran Composmentis (GCS 15) Konjungtiva tidak anemis, Sclera tidak ikterik. Keadaan payudara bentuk simetris, putting menonjol ,tidak lecet, pengeluaran ASI Ada, tapi tidak lancar, bendungan ASI ada, ada nyeri tekan. Tindakan keperawatan dilaksanakan selama 3 hari dan pemberian intervensi foot massage disertai observasi hasil pemijatan. Lama waktu pemijatan setiap responden sama, 15-20 menit secara bergantian antara kaki kiri dan kanan. Skala pengukuran tingkat nyeri menggunakan skala 13 nyeri menurut Hayward yaitu skala 0 tidak nyeri, 1-3 nyeri ringan, 4-6 nyeri sedang, 7-9 nyeri berat, 10 nyeri tidak terkontrol. Penelitian Hariyanto (2015), bahwa ada Pengaruh Foot massage therapy Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pasien Post SC dimana terapi foot massage adalah salah satu terapi untuk mengurangi nyeri dan mengalihkan distraksi. Sedangkan hasil yang ditemukan pada kedua pasien ini setelah dilakukan pemijatan ada perbedaan yaitu pada pasien pertama setelah dilakukan terapi pemijatan selama 2x24 jam hasilnya pasien mengatakan nyeri sudah berkurang, pasien mengatakan sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan pada pasien kedua setelah dilakukan pemijatan selama 2x24 jam pasien mengatakan nyeri berkurang disaat istirahat tetapi akan muncul lagi disaat pasien terlalu beraktifitas. Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa terapi foot massage mempengaruhi nyeri karena merupakan salah satu intervensi atau penatalaksanaan nonfarmakologis untuk meningkatkan pergerakan beberapa struktur dari kedua otot dan jaringan subkutan, dengan menerapkan kekuatan mekanik ke jaringan. Pergerakan ini dapat meningkatkan aliran getah bening dan aliran balik vena, mengurangi pembengkakan dan memobilisasi serat otot, tendon dengan kulit. Dengan demikian, massage therapy dapat digunakan untuk meningkatkan relaksasi otot untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat pemulihan pasien setelah operasi (Anderson & Cutshall, 2012). KESIMPULAN Berdasarkan hasil peneitian dan pembahasan serta tujuan penelitian studi kasus tentang asuhan keperawatan pada pasien postpartum Sectio caeasarea didapatkan hasil bahwa pemberian food massase selama 3 hari selama 15-20 menit menunjukkan penurunan cari pada pasien postpartum Sectio caeasarea. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu postpartum SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 sectio tentang penerapan terapi foot massage. Peran petugas kesehatan, bidan bisa memberikan edukasi pemberian terapi foot massage DAFTAR PUSTAKA Anderson & Cutshall, (2012). Medical Surgical Nursing: Clinical management for connuity of care. (Edisi V). Philadelphia: Wb Sounders Company. Degirmen, (2018). Hubungan Paritas Dan Riwayat Sectio Cesarea Dengan Kejadian Placenta Previa Di Rsud Arifin Achmad Pekanbaru. Jurnal Endurance, 2 (February), 68–73. https://doi.org/10.22216/jen.v2i1.1 673 Hapsari & Hendraningsih, (2018). Penerapan massage ekstermitas bawah menggunakan minyak esensial lavender pada pasien pasien dengan nyeri akut di upt panti werdha mojopahit mojokerto. Hariyanto, (2015). Pengaruh Foot massage therapy Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pasien Post Op Laparatomi RSUP DR. M. Djamil Padang. Maritalia, (2012). The Effect Hand And Foot Massage On Post Cesarean Pain And Anxiety. Journal Of Midwifery And Reproducve Health, 465-471. Mardiawati, (2017). Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, bayi dan keluarga. Edisi 8. Jakarta: EGC. Potter dan Perry, (2009). Asuhan Kebidanan Nifas & Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Sumelung et al., (2014). Asuhan Kebidanan Nifas Beserta Daftar Tilik. Yogyakarta: Universitas 'Aisyiyah. .Soekidjo, (2014). Hubungan Usia dan Paritas Ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa. SAMBAS, (2017). Pengaruh Foot Massage Therapy terhadap Skala Nyeri Ibu Post Op Sectio Cesaria di Ruang Nifas RSUD Kota Mataram . JURNAL KEPERAWATAN TERPADU, 64-70. Utam i, (2016). Pengaruh pijat refleksi terhadap tingkat nyeri klien post operasi sectio caesarea. Jurnal Darul Azhar. 14 WHO. Maternal Mortality. (2015). World Helath Organizaon. WHO. (2019). World Helath Organizaon SURYA Vol. 15, No. 01, April 2023 15