Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 4 . ISSN : 2615-0883 (Media Onlin. Implementasi Nilai Tri Kaya Parisudha Dalam Moderasi Beragama (Persepektif Bhagawad Gita Dan Sarasamuscay. Ni Ketut Suterji*. Ni Putu Prawani Uma Lestari. Ni Kadek Sepriani Sekolah Tinggi Agama Hindu Bhatara Guru Kendari. Sulawesi Tenggara. Indonesia puspagita62@gmail. Abstract Religious Moderation is a government program to achieve harmony in the lives of Indonesian people with diverse beliefs, cultures and languages. Every religion recognized in Indonesia has authentic sources that can support religious moderation, and Hinduism is no different. This research aims to examine more deeply the implementation of Tri Kaya Parisudha, including cleanliness of mind . anacika parisudh. , cleanliness of words . acika parisudh. and cleanliness of actions . ayika parisudh. to achieve religious moderation. This research is classified as descriptive qualitative research with a library research method, namely studying the sacred library texts of the Bhagavad Gita and Sarasamuscaya, and in-depth interviews with Hindu religious figures who were determined deliberately . urposive samplin. Data were analyzed using qualitative descriptive methods. Based on the analysis of the results and discussion, it is concluded that the teachings of Religious Moderation are found in the teachings of the Bhagawad Gita and Sarasamuscaya which are implemented in the Tri Kaya Parusdha teachings. The implementation of the Tri Kaya Parisudha values in Religious Moderation in Indonesia is made easier by increasing understanding and grounding the teachings of the Bhagavad Gita and Sarasamuscaya, which aims to build good character and attitudes of Hindus. Having a good Hindu character facilitates social relations between, internal and external religious communities in Indonesia so that tolerance, order and peace in society are conducive. Keywords: Tri Kaya Parisudha. Implementation. Religious Moderation Abstrak Moderasi beragama merupakan program pemerintah untuk mencapai harmoni kehidupan rakyat indonesia yang beragam keyakinan, budaya dan bahasa. Setiap agama yang diakui di indonesia memiliki sumber-sumber autentik yang dapat mendukung moderasi beragama, demikian juga agama hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam implementasi Tri Kaya Parisudha, meliputi kebersihan pikiran . anacika parisudh. , kebersihan perkataan . acika parisudh. dan kerbersihan tindakan . ayika parisudh. untuk mencapai moderasi beragama. Penelitin ini tergolong penelitian kualitatif deskriptif dengan motode kajian pustaka . ibrary researc. yaitu mengkaji teks pustaka suci Bhagawad Gita dan Sarasamuscaya, dan wawancara mendalam . ndept intervie. dengan tokoh-tokoh agama Hindu yang ditetapkan secara sengaja . urposive Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa ajaran moderasi beragama terdapat pada ajaran Bhagawad Gita dan Sarasamuscaya yang diimplementasikan dalam ajaran tri kaya Impelementasi nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam Moderasi Beragama di Indonesia dipermudah dengan meningkatkan pemahaman dan membumikan ajaran Bhagawad Gita dan Sarasamuscaya, yang bertujuan untuk membangun karakter dan sikap umat hindu yang baik. Dengan karakter umat hindu yang baik memudahkan hubungan sosial antar, intern dan ekstern umat beragama di Indonesia sehingga toleransi, ketertiban dan kedamaian dalam masyarakat kondusif. Kata Kunci: Tri Kaya Parisudha. Implementasi. Moderasi Beragama https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Kehidupan beragama di indonesia saat ini mendapat perhatian dari berbagai pihak karena meningkatnya kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Sikap intoleran baik antar umat beragama maupun di dalam satu agama, penghinaan terhadap pemimpin agama, dan berbagai kasus pelecehan atau penistaan agama oleh individu atau kelompok masyarakat semakin marak terjadi. Situasi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja dan perlu segera dicari solusinya. Jika tidak, dikhawatirkan hal ini akan memperburuk kerukunan, persatuan, dan kesatuan bangsa, yang pada akhirnya bisa menyebabkan disintegrasi bangsa (Gunawan. Ihsan & Jaya, 2. Untuk membangun harmoni hubungan antar pemeluk agama di indonesia, pemerintah melalui kementerian agama republik indonesia telah mencanangkan moderasi beragama. Menurut Gunawan. Ihsan & Jaya . bahwa upaya untuk mencapai kebaikan, persaudaraan, dan kemaslahatan seringkali melibatkan praktik Moderasi Beragama, terutama dalam konteks pendidikan sebagai jalur menuju tujuan tersebut. Menurut Abror . bahwa selain enam agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat, ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa dan aksara daerah, serta kepercayaan lokal di indonesia. Hasan . menjelaskan bahwa keragaman ini merupakan karunia yang luar biasa dan potensi yang patut disyukuri. Keragaman ini juga dapat dilihat dari enam agama yang dianut oleh penduduk indonesia, salah satunya adalah agama hindu dan Dalam ajaran agama hindu moderasi beragama mengacu pada keseimbangan dan kesederhanaan dalam menjalankan ajaran agama. Dalam agama hindu dapat ditemui sumber-sumber ajaran yang menjadi pedoman atau mengandung pesan moderasi beragama. Misalnya. Tri Kaya Parisudha. Tri Hita Karana. Tri Pararta. Wasudewa Kutum Bhakam yang dibingkai dalam konsep tat twam asi. Ajaran Tri Kaya Parisudha menjelaskan tentang kesucian dalam tiga aspek kehidupan, yaitu pikiran . anacika parisudh. , perkatan . acika parisudh. , dan perbuatan . ayika parisudh. (Rosalina, 2. Yhani . menjelaskan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha memberikan pengajaran bahwa sebagai anggota masyarakat, seseorang perlu memiliki pemikiran yang baik, integritas moral, dan perilaku yang benar. Menurut Mahendra . bahwa gagasan Tri Kaya Parisudha menjadi salah satu falsafah alternatif yang dapat digunakan bangsa Indonesia sebagai landasan komunikasi pendidikan, utamanya dalam moderasi Penelitian mengenai nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sudah dilakukan oleh Damayanti . yang berfokus pada implementasi Tri Kaya Parisudha dalam meningkatkan etika siswa. Penelitian mengenai Tri Kaya Parisudha dilakukan juga oleh Rosalina . yang dilaksanakan di desa wisata munduk kecamatan seririt kabupaten Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon para wisatawan mancanegara dalam berkomunikasi dengan menerapkan nilai-nilai tri kaya parisdha. Rosalina . menyimpulkan bahwa komunikasi para pelaku pariwisata munduk dengan wisatawan menerapkan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha mendorong terjalinnya hubungan yang saling menguntungkan dan sikap yang baik pada tamu. Makna yang dapat ditarik dari dua penelitian Tri Kaya Parisudha yang telah dijelaskan bila dibandingkan dengan penelitian penulis terdapat perbedaan pada tujuan yang ingin dicapai. Penelitian Damayanti . menekankan pada metode pendidikan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha untuk membangun etika siswa peserta didik dan penelitian Rosalina . pada penerapan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam berkomunikasi dengan wisatawan . yang berhasil menciptakan hubungan dan pelayanan kepada tamu yang baik, penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis secara lebih dalam pelaksanaan atau implementasi nilai-nilai tri kaya parisudha, yang mencakup penyucian pikiran . anacika parisudh. , penyucian perkataan . acika parisudh. , dan penyucian tindakan . ayika parisudh. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dalam rangka mencapai tujuan Moderasi Beragama dalam konteks agama, khususnya terkait dengan nilai-nilai inti Agama Hindu yang bersumber dari Pustaka Suci Bhagawad Gita dan Sarasamuscaya. Metode Penelitian menggunakan pendekatan Paradigma Interpretatif yang memandang bahwa fenomena kehidupan tidak tunggal namun dipengaruhi oleh banyak faktor, yang tergolong dalam cara berpikir kualitatif. Paradigma Interpretatif sangat cocok untuk penelitian sosial, termasuk penelitian agama. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menerapkan teknik studi literatur (Library Researc. dan wawancara dalam pengumpulan data. Libreray research yaitu menelaah pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamuscaya dikaitkan dengan penerapan atau implementasi nilai-nilai Tri Kaya Parisudda untuk mewujudkan moderasi beragama. Wawancara yaitu mengumpulkan informasi mengenai penerapan atau implementasi nilainilai Trikaya Parisudha kepada tiga orang tokoh umat Hindu tingkat nasional dan daerah serta akademisi sebagai informan, yang ditetapkan secara sengaja . urposive sumplin. Sumber data adalah teks-teks yang terdapat dalam pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamucaya yang terkait dengan nilai-nilai Trikaya Parisudha dan mendukung atau dapat dijadikan penuntun dalam moderrasi beragama. Sumber data melalui wawancara adalah informan, yaitu tokoh agama hindu. Alat pengumpul data utama adalah peneliti sendiri dengan bantuan pedoman wawancara dan catatan kajian literatur dan perekam. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis kualitatif Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif naratif yaitu menguraikan dengan kata-kata dan kalimat yang merupakan gambaran dari hasil penelitian. Hasil Dan Pembahasan Moderasi Beragama dalam Ajaran Agama Hindu Moderasi beragama merupakan proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebihlebihan saat mengimplementasikannya (Saifuddin, 2. Moderasi beragama menurut Ali Ramdhani (Hasani, 2. ) adalah cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan mentaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara. Sikap moderat dalam Agama Hindu digunakan istilah madya yang berasal dari terminologi sansekerta atau kawi. Istilah madya dan derivasinya dapat ditemukan dalam beberapa teks kesusastraan jawa kuno antara lain Adiparwa. Udyogaparwa. Sumanasantaka. Brahmanda Purana. Saracamuscaya. Agastia Parwa dan lainnya yang berarti tengah, bagian tengah atau berada di tengah tengah (Triguna & Mahyuni, 2. Menurut Hasani . ada empat sikap moderat yang dijadikan dasar untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, yaitu . Sikap terbuka, . Sikap rasional, . Sikap rendah hati, dan . Sikap mampu saling memaafkan. Prilaku ini sesuai dengan konsep Trikaya Parisudha yang merupakan tuntunan moral dan etika sesuai filsafat hindu, khususnya di Dalam penelitian ini, pustaka suci yang dikaji sebagai penuntun dalam Moderasi Beragama melalui Tri Kaya Parisudha adalah sloka-sloka Bhagawad Gita dan Sarasamucaya. Pustaka Suci Bhagawad Gita mengajarkan tentang tujuan hidup manusia yang berlaku universal yang meliputi filsafat, etika/susila dan acara/upacara untuk mewujudkan kelepasan. Menurut Mardwiatmoko . bahwa nilai-nilai yang diajarkan dalam pendidikan agama Hindu melalui Bhagavad Gita mencakup nilai Tattwa. Susila, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan Acara/Upacara. Nilai Tattwa terdiri dari Widhi Tattwa. Atma Tattwa. Karma Phala Tattwa. Punarbhawa Tattwa, dan Moksa Tattwa. Nilai Susila dalam Bhagavad Gita menekankan pentingnya moralitas atau etika sebagai landasan yang kuat untuk mencapai keberhasilan dalam kehidupan duniawi maupun spiritual. Nilai acara mencakup dasardasar pelaksanaan yadnya dan pengetahuan tentang yadnya yang berasal dari kerja dan berlandaskan pada brahman. Terkait dengan Moderasi Beragama sloka-sloka Bhagawad Gita yang ditelaah terkait dengan nilai etika/susila. Persaudaraan merupakan inti Moderasi Beragama, yang rujukannya dapat ditemukan dalam teks Bhagawadgita IV. 11, yang berbunyi: Ye yatha mam prapadyante. Tams tathai Aova bhajamy aham. Mama vartma Aonuvartante. Manushyah partha sarvasah. Terjemahannya: Bagaimana pun . manusia mendekati-Ku. Aku terima, wahai Arjuna. Manusia mengikuti-Ku pada segala jalan (Puja, 2. Sloka tersebut mengandung ajaran tentang persaudaraan, toleransi, keterbukaan dan memberikan kesempatan kepada yang lain untuk memeluk kepercayaannya dan beribadah tanpa tekanan dari siapapun. Bahwa apapun keyakinan atau agama yang dianut seseorang dengan niat untuk mencari dan mendekatkan diri kepada tuhan, akan diterima oleh-Nya. Pemahaman seseorang atas sloka ini akan membangun sikap teloransi dan sikap terbuka. Sikap toleransi dan sikap terbuka merupakan sikap yang menunjukkan moderasi beragama. Pandangan ini diperkuat dan sejalan dengan pustaka Bhagawad Gita VII. 21, yang berbunyi: yo yo yAA yAA tanuA bhaktau uraddhayArcitumicchati, tasya tasyAcalAA uraddhAA tAm eva vidadhAmyaham. Terjemahannya: Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta dengan penuh keyakinan. Aku menjadikan bentuk keyakinan itu menjadi mantap (Puja, 2. Menurut sloka tersebut ada penegasan bahwa dalam praktek beragama setiap orang bebas bersembahyang atau melakukan pemujaan menurut keyakinan sesuai dengan apa yang diajarkan kepada mereka. Implementasi sikap ini mewujudkan rasa persaudaraan dalam masyarakat. Pandangan ini didukung pula sloka Bhagawad Githa IX. 29, yang berbunyi: Samo Aoham sarva-bhutesu Na me dvesyoAosti na priyah. Ye bhajanti tu mam bhaktya Mayi te tesu capyaham Terjemahannya: Aku bersikap sama pada semua makhluk, tidak ada yang Aku benci dan tidak ada yang Aku kasihi. Akan tetapi, mereka yang memuja-Ku dengan rasa bhakti, maka dia akan selalu bersama-Ku dan Aku ada pada dirinya (Puja, 2. Berdasarkan ketiga kutipan sloka dalam pustaka suci Bhagawan Gita tersebut dikaitkan dengan Moderasi Beragama tentunya sangat relevan dan memberikan dukungan, bahwa dalam beragama setiap orang wajib membangun persaudaraan, kesejajaran, keterbukaan, saling menghormati dan setiap orang . etiap warga negar. diberi kebebasan untuk bersembahyang, memuja menurut keinginan dan sesuai ajaran Tidak ada satupun orang dapat memaksakan kehendaknya dan melakukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tindakan ekstrim dan melarang pemeluk agama melakukan ibadahnya. Sikap dan prilaku yang mencerminkan toleransi dan keterbukaan serta persaudaraan dipastikan dapat membangun harmonis sosial yang menjadi tujuan moderasi beragama. Pustaka Suci yang kedua dikaji dalam penelitian ini adalah pustaka suci Pustaka suci Sarasamuscaya mengajarkan etika pergaulan yang baik bahwa perbuatan baik dan perbuatan buruk tersebut bersumber dari diri sendiri. Pemahaman terhadap konsep baik dan buruk mendorong seseorang untuk mempertimbangkan dampak dari tindakannya sehingga cendrung untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Sikap ini tentu dapat mendukung tercapainya tujuan Moderasi Beragama. Ajaran tersebut sesuai sloka Sarasamuscaya 128, yang berbunyi: Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring sarira kahanya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kasatyan, mapageh ring dharma, katemung amrta. Terjemahannya: Tak berjauhan bisa . itu dengan amrta. disinilah, di badan sendirilah keterangannya, jika orang bodoh dan senang hatinya kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya. sebaliknya kokoh berpegang kepada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar kepada dharma, maka amerta-lah diperolehnya (Wiraputra, 2. Berdasarkan sloka tersebut dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang berbuat jahat . subha karm. akan memperoleh hasil yang buruk . dan mereka yang berbuat baik . ubha karm. akan memperoleh hasil atau hal-hal yang baik . Pemahaman konsepsi baik-buruk dalam kehidupan juga perlu didukung oleh sikap rela berkorban atau melakukan pelayanan, tolong-menolong dengan tulus dan iklas serta selalu berbuat baik. Ajaran ini dijelaskan pula dalam Sarasamuscaya 129, yang Nihan ta kottamaning kasatyan, nang yajna, nang dana, nang brata, kapwa wenang ika mengentasaken, sor tika dening kasatyan, ring kapwan angentasaken. Terjemahannya: Keutamaan kebenaran adalah demikian, yajna . , dana . , maupun brata-janji diri . umpah bati. semuanya itu dapat dibebaskan. akan tetapi masih dikalahkan oleh satya . dalam hal sama-sama membebaskan diri dari kehidupan di dunia ini (Wiraputra, 2. Ajaran Sarasamuscaya menekankan pada upaya untuk melakukan perbuatan baik, yang menjadi landasan Moderasi Beragama, yaitu sloka Sarasamusyaca 317, yang Matangnyan cubhakarma tikang prihen, yadnyapin papakarma ulahaning wwang ri kita, ulah sang sadhu juga pamalesanta, haywa amales ring papakarma, apan ikang wwang mahyun gumawayang kapapan, pawakning papa ika, hilang denyawaknya, ika pwa tan len mukti phalani-kang acubhakarma ginawayanya. Terjemahannya: Oleh karena itu perbuatan baiklah yang patut anda usahakan, meskipun perbuatan jahat yang dilakukan orang terhadap diri anda perbuatan sang sadhu hendaknya merupakan pembalasan anda jangan membalas dengan perbuatan jahat, sebab orang yang berhasrat akan berbuat kejahatan, merupakan badannya kejahatan itu dapat menghancurkan tubuhnya sendiri pendeknya bukan orang lain yang mengenyam hasil perbuatan buruk yang dilakukannya itu (Wiraputra, 2. Berdasarkan tiga sloka pustaka suci Sarasamuscaya yang disebutkan di atas, dengan jelas menekankan pada upaya agar setiap orang berbuat baik kepada sesamanya. Sikap yang dibangun berdasarkan ajaran Sarasamuscaya mendorong seseorang dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berhubungan dengan orang lain untuk menunjukkan sikap yang baik. Sikap baik dalam pergaulan sehari-hari menunjukkan sikap toleransi, keterbukaan, persahabatan dan persaudaraan sehingga terwujud harmoni sosial yang menjadi tujuan moderasi beragama. Pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamucaya berdasarkan kutipankuitipan sloka dan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dalam ajaran Agama Hindu terdapat petunjuk atau pedoman yang dapat dijadikan landasan berpikir atau penuntun dalam berhubungan dengan orang lain, yaitu sikap ramah, sopan, menjunjung toleransi, ketertbukaan dan persaudaraan sehingga terwujud harmoni dalam kehiduapn sosial yang menjadi tujuan moderasi beragama. Implementasi Nilai Trikaya Parisudha Berdasarkan Pustaka Suci Bhagawad Gita Implementasi Pikiran . anacika, mana. Pikiran sangat menentukan tindakan perkataan dan perbuatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2. arti kata pikiran, yaitu . Hasil berpikir . Akal, ingatan . Akal . alam arti daya upay. Angan-angan, gagasan dan . Niat, maksud. Menurut Somawati & Wiraswastini . bahwa manusia memiliki akal atau rasio yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya. Berbeda dengan hewan yang hanya bereaksi terhadap rangsangan eksternal tanpa pertimbangan sebelumnya, manusia memiliki kemampuan lebih. Manusia memiliki nalar, naluri, dan kemampuan berpikir logis yang memungkinkannya membedakan antara yang baik dan buruk, yang dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Viveka. Pustaka suci Bhagawad Gita disebut juga Pancama Veda atau Veda kelima, selain catur veda. Pikiran merupakan awal pertimbangan untuk melakukan perkataan dan Pengendalian pikiran dalam implementasi nilai-nilai Trikaya Parisudha harus benar-benar terkontrol dan suci, sebagaimana dapat dibaca pada sloka Bhagawad Gita 19, yang berbunyi: Ihaiva tair jitah sargo Yesam samye shtitham manah. Nirdosan hi samam brahmma Tasmad brahmani te sthitah Terjemahannya: Bahkan di dunia ini sekalipun, kelahiran diatasi oleh mereka yang pikirannya sama seimbang, karena sesungguhnya Brahman adalah sempurna dan sama. Karena itu merekapun ada dalam Brahman (Puja, 2. Berdasarkan sloka tersebut di atas, dapat dimaknai bahwa semua mahluk sama dihadapan Tuhan (Ida Sangyang Widi Was. sehingga dalam pandangan ini seharusnya tidak ada konflik antar sesama manusia yang berawal dari pikiran. Menurut Widiada . ajaran Tri Kaya Prisuddha adalah ajaran yang menekankan pengendalian indraindra manusia, karena jika indra-indra ini tidak terkendali, dapat menyebabkan penyimpangan dalam pola pikir manusia. Ajaran tersebut dapat ditemukan pula dalam sloka Bhagavad Gita i. 42, yang berbunyi: IndriyAni parAny Ahur indriyebyah param manah Manasas tu parA buddhiryo buddheh paratas tu sah Terjemahannya: Disebutkan bahwa indria-indria yang bersifat lebih halus . ari pada badan kasar sthula sarir. , lebih kuat daripada indria-indria adalah pikiran, dan lebih kuat daripada pikiran adalah kecerdasan, dan lebih kuat daripada kecerdasan adalah dia, sang hawa nafsu (Darmayasa, 2. Dari sloka tersebut dapat ditarik makna bahwa sumber kecerdasan adalah pikiran. Pikiran yang terkontrol dan fokus dapat mengendalikan indria-indria yang terus bergerak untuk memuaskan keinginan. Pikiranlah yang mendorong terwujudnya perkataan dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH perbuatan. Bahwa penderitaan-kebahagian, suka-duka disebabkan oleh pikiran dan indria-indria yang bersemayam di dalam badan . ngga sarir. sehingga pengendalian pikiran sangat penting yang dapat dilakukan dengan upawasa dan yoga . uasa dan Implementasi pengendalian indria-indria yang bersumber dari pikiran . mendorong seseorang untuk berbuat baik dalam berhubungan dengan orang lain sehingga terwujud moderasi beragama. Pandangan tersebut senada dan diperkuat dengan sloka Bhagawad Gita VI. 15, yang berbunyi: yuyjann evaA sadAtmAnaA yog niyata-mAnasau, uAntiA nirvANa-paramAA mat-saAsthAm adhigacchati Terjemahannya: Demikian, dengan seluruh gugusan pikiran serta perasaannya terpusatkan padaKu, seorang Yog yang telah berhasil mengendalikan pikirannya, mencapai kedamaian sejati-NirvANa tertinggi-yang bersumber dari-Ku juga (Krishna, 2. Makna sloka tersebut di atas menegaskan bahwa setiap umat Hindu perlu menyadari pentingnya pikiran yang bersih (Manacika Parisudh. untuk menghasilkan perkataan dan perbuatan yang baik dalam mewujudkan hubungan sosial yang baik. Setiap individu umat Hindu perlu mengenal suasana pikirannya. Pikiranlah yang menyebabkan seseorang dapat membedakan yang baik dan yang salah, membedakan yang mengutungkan dan yeng merugikan. Sumertini . menerangkan bahwa pikiran memiliki potensi sebagai sekutu atau lawan tergantung pada situasinya. Agar pikiran bebas dari dualitas tersebut, seseorang perlu menjaga keseimbangan dalam menerima apresiasi dan kritik, menghadapi tantangan dan meraih penghargaan. Upaya diperlukan untuk menjaga ketenangan pikiran dan menghindari terpengaruh oleh gelombang Oleh karena itu, untuk memahami filosofi manusia, langkah awal yang sangat penting adalah mengendalikan pikiran agar selalu berada dalam harmoni. Konsep teori pikiran ini memainkan peran krusial dalam menerapkan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha untuk mencapai Moderasi Beragama. Implementasi Perkataan (Wacika Parisudh. Dalam kamus besar bahasa indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2. arti perkataan adalah kumpulan kata, kisah, cerita atau sesuatu yang Perkataan dalam Bhagawad Gita dijelaskan dengan baik karena akan berdampak pada perbuatan. Berkata-kata atau perkataan yang baik . acika parisudh. menjadi sangat penting. Moderasi Beragama sangat perlu mengerti tentang cara kerja Hal tersebut dapat ditemukan dalam sloka Bhagawad Gita VI. 5, yang berbunyi: Uddhared AtmanAtmAnam nAtmAnam avasAdayet Atmaiva hy Atmano bandhur Atmaiva ripur Atmanah Terjemahannya: Setiap orang hendaknya menyelamatkan Sang Dirinya melalui dirinya sendiri, dan hendaknya ia tidak membuat dirinya merosot dalam kejatuhan. Oleh karena diri sendiri adalah sahabat terbaik bagi sang diri dan diri sendiri adalah musuh berbahaya bagi Sang Diri (Darmayasa, 2. Makna yang dapat ditarik dari sloka tersebut bahwa seseorang dapat selamat atau mengalami bencana karena tidak mengendalikan kata-kata atau perkataannya yang berasal dari pikirannya karena pikiriannya tidak fokus pada kebaikan. Kata-kata yang kasar, kata yang menyakitkan keluar akibat terrencaan dalam pikiran seseorang. Dalam sloka Bhagawad Gita XVII. 15, yang berbunyi: Anudvega-karam vakyam satyam priya-hitam ca yat svadhyayabhyasanam caiva van-mayam tapa ucyate Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kata-kata yang tidak melukai hati, dapat dipercaya, lemah lembut dan berguna, demikian pula membiasakan diri dalam mempelajari kitab-kitab suci, ini dinamakan bertapa dengan ucapan (Puja, 2. Pesan yang dapat ditarik dari sloka tersebut bahwa seseorang hendaknya selalu mempertimbangkan kata-kata yang akan diucapknnya sehingga akan dapat berbicara secara lembut, berguna dan enak di dengar, dan hal ini dapat terus ditingkatkan dengan membiasakan diri mempelajari pustaka suci. Menurut Wentin . setiap upaya untuk berbicara dengan baik menunjukkan bahwa kita memiliki keinginan untuk menjadi bijaksana dalam setiap perkataan kita. Ini adalah harapan mulia untuk mendedikasikan diri menjadi pribadi yang dewasa di masa depan, yang dimulai dari langkah sederhana, yaitu berbicara dengan baik. Terkait dengan perkataan yang disebutkan dalam sloka Bhagawad Gita, penjelasan yang relevan terkait perkataan dalam membangun Moderasi Beragama adalah sloka Nitisastra V. 3, yang berbunyi: Wasita nimittanta manemu laksmi. Wasita nimittanta pati kapangguh. Wasita nimittanta manemu duhka. Wasita nimittanta manemu mitra. Terjemahannya: Dengan perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. Dengan perkataan engkau akan menemui kematian. Dengan perkataan engkau mendapat kesengsaraan. Dengan perkataan engkau akan mendapatkan teman (Padmodihardjo & Resowidjojo, 1. Pesan Sloka Nitisastra tersebut dengan jelas menerangkan bahwa perkataan menimbulkan dampak sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain dalam hubungan Dalam implementasi nilai-nilai Tri Kaya Parisudha hendaknya umat Hindu memedomani ajaran ini agar dapat ikut berperan dalam membangun Moderasi Beragama. Implementasi Perbuatan (Kayika parisudh. Menurut kamus besar bahasa indonesia (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2. arti kata perbuatan adalah sesuatu yang diperbuat . tindakan, kelakuan, atau tingkah laku. Menurut Rahmawati . bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan, harus mempertimbangkan keseimbangan antara kenikmatan untuk dirinya sendiri dengan kenikmatan untuk orang lain. Berikut disajikan sloka Bhagawad Gita II. 37, yang menjadi pedoman hidup dalam melakukan tindakan atau perbuatan . , yang berbunyi: hato vA prApsyasi svargaA jitvA vA bhokyase mahm tasmAduttiha kaunteya yuddhAya kutaniucayau Terjemahannya: Wahai Putra Kunti, jika engkau akan terbutuh . i medan peran. maka engkau akan mencapai surga. Atau, jika engkau akan menang . i dalam peran. , maka engkau akan menikmati kerajaan di dunia. Oleh karena itu, bangunlah dan pastikan dirimu untuk bertempur (Darmayasa, 2. Berdasarkan sloka tersebut, pertimbangan seseorang mengenai manfaat atau untung-rugi akan menjadi keputusannya untuk melakukan perbuatan, terutama dalam moderasi beragama. Menurut Somawati & Wiraswastini . bahwa konsisten melakukan perbuatan baik sesuai petunjuk dharma, maka tidak diragukan lagi kehidupan orang tersebut akan bermakna bukan saja bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain. Pertimbangan yang menentukan keputusan untuk bertindak atau melakukan perbutan . aik atau buru. dijelaskan pada Sloka Bhagawad Gita II. 50, yang berbunyi: buddhiyukto jahAtha ubhe sukutadukute, tasmAdyogAya yujyasva yogau karmasu kauualam. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Orang yang mempunyai kesadaran keseimbangan membebaskan dirinya dari perbuatan baik dan buruk dalam kehidupan manusia . Oleh karena itu, lelapkanlah dirimu dalam yoga keseimbangan, sebab memparaktikkan yoga di dalam segala perbuatan adalah kecerdasan (Darmayasa, 2. Yoga dapat juga diartikan disiplin dalam tindakan . Tindakan ini dilaksanakan berdasarkan peraturan atau pedoman yang telah ditetapkan. Agar tindakan seseorang diyakini benar perlu disadari leberadaan dan keyakinan terhadap Tuhan dalam tindakan tersebut. Pemahaman terhadap tindakan . juga perlu dipadukan dengan pemahaman mengenai karma . ebab-akiba. Dalam melakukan tindakan, umat Hindu wajib memedomani Sloka Bhagawad Gita i. 8, yang menjelaskan bahwa dalam melakukan tindakan seseorang harus bebas dari tekanan, yang berbunyi: NityaA kuru karma tvaA Karma jyAyo hyakarmaNau, uarra-yAtrAp ca te na prasiddhyed akarmaNau Terjemahannya: Bekerjalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik dari pada tidak berbuat, dan bahkan tubuhpun tak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya (Puja. Sloka tersebut menjelaskan bahwa untuk memelihara badan ini seseorang harus berkerja atau melakukan perbuatan. Dalam kehidupan sehari-hari implementasi dari ajaran ini akan berhubungan dengan kepentingan manusia lainnya sehingga perbuatan baik berdasarkan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dapat mewujudkan tujuan moderasi Dalam kenyataan hidup kadangkala ditemukan orang yang suka mencampuri pekerjaan orang lain sehingga berakibat pada kesalah pahaman. Mencampuri pekerjaan orang lain bukanlah sikap yang dianjurkan dalam ajaran Bhagawad Gita. Seseorang harus fokus dan tekun melaksanakan pekerjaanya. Dalam ajaran Bhagawad Gita i. 35, yang uhreyAn swa-dharmo viguNau para-dharmAt sv-anuhhitAt, swa-dharme nidhanaA uhreyau para-dharmo bhayAvahau Terjemahannya: Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain yang sangat berbahaya (Puja, 2. Sikap yang tidak suka ikut campur menunjukkan sikap yang bijaksana dalam pergaulan antar manusia. Bila setiap orang tekun dalam pekerjaannya kesalah pahaman dapat dihindari sehingga terwujud persaudaraan dalam hubungan antar manusia. Situasi ini akan memudahkan mewujudkan Moderasi Beragama. Implementasi Tri Kaya Parisudha berdasarkan Pustaka Suci Sarasamuscaya Menurut Wirapura . , pustaka suci Sarasamuscaya membahas secara mendalam tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu yaitu Catur Purusartha, yang meliputi dharma, artha, kama dan moksha. Aspek kesusilaan menjadi bahasan yang lebih mendalam pada pustaka suci sarasamuscaya. Dalam implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam mewujudkan Moderasi Beragama ditemukan sloka-sloka dalam pustaka Sarasamucaya yang meliputi pedoman berpikir, berkata dan berbuat. Menurut Somawati & Wiraswastini . bahwa dari pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan perbuatan yang baik pula. Dari perbuatan yang baik, maka phala yang diperoleh dari karma yang dilakukan akan baik pula. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa apa yang diperbuat seseorang pasti membawa hasil, entah buruk maupun baik. Bahkan berpikirpun akan membawa hasil. Maka dari itu, setiap manusia harus dapat menguasai pikiran, perkataan dan perbuatannya berdasarkan dharma atau kebenaran. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH a. Implemetasi Pikiran (Manacika Parisudh. Pikiran . itta, budh. dapat menjadi kawan atau lawan tergantung dari situasi yang dihadapi seseorang. Dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 85 dapat ditemukan penjelasan mengenai pikiran, yang berbunyi: manasA niucayaA kutvA tato vAcA vidhiyate, kriyate karmmaNA paucAt pradhAnaA vai manastatau. Terjemahannya: Pikiran membuat keputusan, perkataan mengikutinya, terakhir diwujudkan menjadi perbuatan, oleh karena pikiran adalah yang utama (Seto, 2. Berdasarkan sloka tersebut di atas dapat ditarik makna bahwa yang menjadi sumber segala perkataan dan tindakan adalah pikiran. Mengelola pikiran agar selalu dalam keadaan fokus yang bersih dapat dilatih yang pada akhirnya diwujudkan dalam perkataan yang baik dan perbuatan yang baik pula, sebagai sebuah karakter yang baik. Lebih lanjut berdasarkan penelusuran pustaka suci Sarasamucaya ditemukan penjelasan mengenai pikiran yang harus ditata dengan baik untuk dapat mengelola tindakantindakan, yaitu Sarasamuscaya 86, yang berbunyi: mano hi mlaA sarvveAmindrayANaA pravartate, uubhAuubhasvavasthAsu kAryyaA tat suvyavasthitam. Terjemahannya: Pikiran adalah sumber dari mana dia merasakan aktivitasnya. Pikiran inilah yang harus dikukuhkan dengan benar untuk melayani pada semua keadaan baik ataupun tidak baik (Seto, 2. Makna sloka tersebut di atas adalah segala aktivitas atau tindakan manusia dimulai dari pikiran sehingga pikiran itulah yang harus dikelola dengan baik. Upawasa dan melakukan yoga merupakan dua latihan yang dapat mengendalikan pikiran agar selalu Pikiran memiliki jangkauan yang luas dan dengan sangat cepat berubah-ubah, hal tersebut dijelaskan dalam sloka Sarasamuscaya 87, yang berbunyi: dragaA bahudhAgAmi prArthanAsaAuayAtmakam, manau suniyataA yasya sa sukh pretya veha ca. Terjemahannya: Pikiran melintasi jauh dan luas, penuh dengan keinginan dan keraguan, orang yang dapat mengendalikan pikiran menjadi bahagian di sini dan di sana (Seto. Sloka tersebut diatas bermakna bahwa jangkaun pikiran sangat luas bahkan tidak terbatas yang dapat membuat seseorang penuh keraguan dan dibelengu oleh keinginan untuk memenuhi indria-indria. Bila seseorang dapat mengendalikan pikirannya berarti dapat juga mengendalikan indria-indria sehingga akan memperoleh pahala berupa kebahagian abadi . Pikiran pada hakekatnya mempengaruhi indria-indria. Pengendalian pikiran akan dapat mengarahkan indria-indria pada tindakan yang benar. Penjelasan tersebut ditemukan dalam pustaka suci Sarasamuscaya 88, yang berbunyi: sarvvaA pauyati cakumAn manoyuktem cakuA, manasi vyAkule jate pauyannapi na pauyati. Terjemahannya: Ketika mata bersama dengan pikiran, ia melihat semuanya. Ketika pikiran bingung, meskipun mata terbuka, seseorang tidak melihat apa-apa (Seto, 2. Kamuflase pikiran ini sangat penting untuk dipahami sebagaimana dijelaskan dalam pustaka Sarasamucaya 91, yang berbunyi: abhinNevapi kAryeu bhidyate manasau kriyA, anyethaiva stanaA putraucintayatyanyathA patiu. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Meskipun tindakan tidak berbeda, pikiran membuat perbedaan. Bayi dan suami sama-sama menghisap payudara, tetapi pikiran mereka berbeda (Seto, 2. Terkait dengan penerapan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam upaya Moderasi Beragama penerpaan pikiran terkontrol dan bersih harus selalu diupayakan oleh setiap orang sehingga tidak terjadi keslahpahaman yang dapat menimbulkan konflik. Umat Hindu dalam upaya mendukung Moderasi Beragama sangat perlu memahami arti dari pikiran yang dijelaskan dalam pustaka suci Sarasamuscaya. Implementasi Perkataan (Wacika Parisudh. Komunikasi memegang peranan penting dalam hubungan sosial atau hubungan antar manusia. Tutur kata yang baik, sopan, jelas dan dalam intonasi yang lembut membuat hati pendengar sejuk dan damai. Pedoman dalam bertutur kata yang baik ditemukan dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 125, yang berbunyi: abhyAvahati kalyANaA vividhaA vAk subhAitA, saiva durbhAita puAsAmanarthAyopapadyate. Terjemahannya: Ucapan yang baik akan membawa banyak kebaikan. Tetapi jika ucapan yang buruk itu membawa kejahatan kepada manusia (Seto, 2. Sloka tersebut di atas mengandung makna bahwa dalam hubungan komunikasi dengan orang lain cara dan intonasi ucapan-uacapan atau perkataan dapat menimbulkan dampak baik atau dampak buruk. Pertimbangan menggunakan kata-kata menjadi sangat penting dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga dijelaskan dalam pustaka suci Sarasamuscaya 126, yang berbunyi: vAk sAyakA vadanAnnipatanti yairAhatauuocati ratryahAni, parasya vA marmmasu te patanti tasmAddhro nAvasujet pareu. Terjemahannya: Perkataan jahat seperti panah terbang dari mulut seseorang dan menyerang seseorang, dia khawatir siang dan malam, meresap hati nuraninya. Orang bijak seharusnya tidak pernah melakukannya (Seto, 2. Menurut sloka tersebut di atas bahwa perkataan yang kasar dan menyakitkan sangat dalam dampaknya pada orang yang menerima. Setiap orang harus menghindari menggunakan kata-kata yang kasar, sebagaimana disebutkan dalam pustaka suci Sarasamuscaya 127, yang berbunyi: marmANyasthni hudayaA tathAsun ghora vAco nirddahantha puAsAm, tasmAdvAcaA ruuatA tikNarpAA dharmmarAmo nityauo varjjayettAm. Terjemahannya: Ucapan yang kasar dapat membakar jiwa, tulang, hati, dan bahkan semangat. Oleh sebab itu, seseorang yang setia pada dharma harus menghindari ucapan yang kasar dan menyakitkan (Seto, 2. Sloka tersebut menjelaskan bahwa perkataan yang kasar berdampak sangat buruk bagi orang lain sehingga akan mempengaruhi hubungan sosial. Dengan demikian harus selalu ada upaya dari setiap orang untuk menghindari menggunakan kata-kata kasar dalam berkomunikasi dengan siapapun dalam masyarakat. Rasa sakit yang diakibatkan oleh ucapan kata-kata kasar sulit bahkan tidak dapat disembuhkan. Untuk menyadari akibat dari kata-kata dapat memedomani sloka pustaka suci Sarasamuscaya 128, yang saArohati uanairvviddhaA vanaA parauunA hatam, vAcA duruktaA bbhatsaA na saArohati tatkatam. Terjemahannya: Sebuah pohon yang ditebang dengan kapak perlahan-lahan tumbuh kembali. Tapi luka yang dibuat oleh ucapan yang kasar tidak kunjung sembuh (Seto, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan sloka tersebut di atas bahwa ucapan atau kata-kata yang kasar merasuk ke dalam jiwa seseorang dan terus dikenangnya, yang akan dapat mempengaruhi kesehatan mental. Diibaratkan bagai tanaman yang dipangkas akan tumbuh secara perlahan, namun kata-kata kasar merusak dan mematikan semangat seseorang. Perkataan yang diucapkan jangan sampai mengandung pelecehan, fitnah dan dusta sebagaimana tertuang dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 130, yang berbunyi: nAkrouamicchenna muA vadecca na paiunyaA janavAdaA na kuryyAt, satyavrato mitabhAoAopramattastasya vAgdvAramupaiti guptim. Terjemahannya: Seseorang hendaknya tidak ingin melecehkan, mengatakan apa yang tidak benar, atau memfitnah dan berdusta. Jika dia benar dan terukur dalam perkataan, dia melindungi dan menjaga jangan sampai terluka (Seto, 2. Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar kata-kata fitnah lebih kejam dari pembunuhan Sloka Sarasamuscaya tersebut di atas dengan jelas melarang seseorang melakukan fitnah, bohong dan melakukan pelecehan terhadap siapapun. Akibat dari perlakuan ini disadari sangat buruk sehingga dilarang dalam ajaran agama. Perkataan harus mengandung kebenaran sebagaimana tertuang dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 126, yang berbunyi: satyAA vAcamahiAsAA ca vadedaparivAdinA, kalyopetAmaparuAmanuuaAsAmapaiuunAA. Terjemahannya: Seseorang harus mengucapkan kata-kata yang benar, tidak menyakiti atau memfitnah, yang penuh dengan kebajikan, yang tidak atau berbahaya (Seto. Menurut sloka di atas, penting bagi seseorang untuk memelihara kejujurannya. Kejujuran ini terwujud dalam berbicara yang benar, tidak menyakiti, tidak menfitnah, berperilaku baik, dan bertindak tanpa membahayakan orang lain. Sikap ini tertuang pula dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 139, yang berbunyi: duAnubhtamarthaA yau puo na vinighate, yathA bhtapravAditvAdityetat satyalakaNam. Terjemahannya: Kebenaran diartikan sebagai mengatakan dengan tepat apa yang telah terjadi. Apa pun yang dilihat atau diketahui seseorang tidak boleh disembunyikan, jika ditanyai (Seto, 2. Seseorang disamping terus menjaga kejujurannya juga harus menjaga kebenaran. Menjaga kebenaran dan kejujuran dengan cara mengatakan sesuai dengan fakta yang ada. Dalam kehidupan sehari-hari orang sulit membedakan antara berkata yang benar dan jujur dengan menyelamatkan orang lain. Seseorang juga harus dapat memilah dan menyaring kata-kata yang baik dan berguna serta memisahkan yang buruk dan tak berguna, tuntunan ini tertuang dalam sloka pustaka suci Sarasamuscaya 353, yang berbunyi: prAjyoAopi jalpatAA puAsAA urutvA vAcau uubhAuubhau, guNavad vAkyamAdatte haAsau kramivAmbhasi. Terjemahannya: Orang bijaksana meski mendengarkan kata-kata baik dan jahat dari orang-orang yang mengucapkan, namun beliau hanya mengambil yang baik, seperti angsa yang memisahkan dan mengeluarkan susu dari air (Seto, 2. Sloka tersebut di atas mengajarkan agar seseorang selalu mengambil aspek baik dari sesuatu pembicaraan yang baik atau yang jahat. Kemampuan untuk membedakan perkataan yang baik dan buruk serta mengambil manfaatnya tentu saja membutuhkan pertimbangan yang dalam yang melibatkan pemikiran yang luas. Sikap ini dapat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dikembangkan dalam penerapan nilai-nilai Tri Kaya Prisudha dalam kehidupan seharihari, terutama daam mewujudkan tujuan Moderasi Beragama. Implementasi Perbuatan (Kayika Parisudh. Sloka-sloka Sarasamuscaya disamping menjelaskan tentang pikiran yang suci, perkataan yang suci juga menjelaskan tentang perbuatan yang suci dan baik. Tiga nilainilai ini merupakan konsepsi dari ajaran Tri Kaya Parisudha. Hal dasar yang perlu dipahami dalam perbuatan bahwa hasil karya atau perbuatan manusia tidak selalu sesuai Pesan ini tertuang dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 9, yang berbunyi: upabhogaiu parityaktaA nAtmAnamavasAdayet, caNsAlatveAopi mAnuyaA sarvvathA tAta durllabham. Terjemahannya: Jika seseorang tidak mencapai kemakmuran, dia seharusnya tidak sedih tentang hal itu. Sebagai manusia meskipun hina sekali pun, adalah dicapai dengan sangat sulit (Seto, 2. Makna dari sloka tersebut adalah agar seseorang terus-menerus berbuat yang benar dan baik apapun hasilnya apakah kemakmuran atau kemiskinan. Demikian juga dalam hubungan sosial dalam bermasyarakat, khsusunya moderasi beragama, seseorang harus besikap teguh dalam perbuatannya. Sangat penting untuk memepertimbangkan dampak dari perbuatan terhadap orang lain, sloka pustaka suci Sarasamucaya 142, wajib dijadikan penuntun, yang berbunyi: jvitaA yau svayaA hicchet kathaA soAonyAn praghAtayet, yadyadAtmani hccheta tat parasyApi cintayet. Terjemahannya: Seseorang yang berusaha untuk hidup, bagaimana dia bisa menghancurkan orang Apa yang dia cari untuk dirinya sendiri, sesungguhnya dia harus memikirkan orang lain juga (Seto, 2. Makna sloka tersebut bahwa pencapaian seseorang tidak boleh mengorbankan orang lain. Seseorang harus maju bersama dengan yang lainnya sebagai bentuk kepedulian dan toleransi dalam pergaulan sosial masyarakat. Mementingkan diri sendiri dan membiarkan orang lain menjadi obyek penderita adalah perbuatan tercela menurut sloka ini dan tidak dapat dibenarkan. Sikap ini dijelaskan pula dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 143, yang berbunyi: yasyAnte uvApi caraNau kurute mrdhnya uaIkitau, sa kAyau parapsanair dhAryata iti ko nayau. Terjemahannya: Apa artinya memelihara tubuh ini melalui siksaan terhadap orang lain, ketika pada akhirnya bahkan seekor anjing pun meletakkan cakarnya di atas kepalamu tanpa rasa kagum (Seto, 2. Keberhasilan seseorang harus dipandang sebagai kerja bersama agar harmoni dapat diwujudkan. Karena manusia sebagai mahluk sosial pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Makna lain dari sloka tersebut adalah terkait dengan dengan martabat dan kehormatan. Setiap gerak atau perbuatan seseorang wajib dipertimbangkan untuk kepentingan orang lain sebagaimana dijelaskan dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 145, yang berbunyi: gacchatastihato vApi jAgratau svapatoAopi na, phalaA bhtahitarthAya tat pauoriva ceitam. Terjemahannya: Berjalan, berdiri, bangun dan tidur, jika aktivitas seseorang tidak menguntungkan orang lain, maka itu adalah gerakan binatang (Seto, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sloka tersebut di atas mengisyaratkan bahwa perbedan manusia dengan binatang adalah pada kemampuannya untuk berpikir yang mengarahkan manusia pada perbuatan baik. Orang yang dalam perbuatannya atau tindakannya merugikan orang lain sesungguhnya bukanlah manusia namun telah menjalankan kebiasaan binatang. Sloka ini bermakna agar setiap orang dengan kuat dan tegus menjaga sifat kemuliaannya. Hal ini dijelaskan dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 147, yang berbunyi: vadhabandhaparikleuAn prANino na karoti yau, sa sarvvasya hitaA prepsuu sukhamatyantamaunute. Terjemahannya: Seseorang yang tidak menyembelih, menyakiti atau menyiksa makhluk, orang yang berusaha untuk menyenangkan semua, ia mencapai kebahagiaan mutlak (Seto, 2. Berdasarkan sloka tersebut manusia diajarkan untuk selalu melayani orang lain agar orang lain merasa senang . gawe sukaning wong le. Seseorang yang berhasil bersikap dan bertindak sebagaimana amanah sloka ini akan mencapai kebahagian baik di dunia ini ataupun di akhirat nanti . Upaya utnuk terus menerus melayani orang lain dengan baik akan mendorong terwujudnya tujuan moderasi beragama. Dalam melakuka tindakan atau perbuatan seseorang tidak boleh menyakiti mahluk lainnya, yang dijelaskan dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 148, yang berbunyi: yaccintayati yadyAti ratiA badhnAti yatra ca, tathA cApnotyayatnena prANino na hinasti yau. Terjemahannya: Dengan tidak menyakiti makhluk, seseorang mencapai tanpa usaha apa yang dicita-citakannya, menuju apa yang digerakkan dan di mana ia menghendakinya (Seto, 2. Makna sloka tersebut bahwa dengan tidak menyakiti mahluk lain termasuk manusia di dalamnya, usaha manusia untuk mencapai tujuannya lebih mudah sehingga wajib bagi manusia untuk memartabatkan orang lain, khususnya untuk mewujudkan moderasi beragama. Memberi perlindungan kepada orang lain atau mahluk lain, tindakan ini juga akan diterima sebaliknya, yang dijelaskan dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 150, yang berbunyi: abhayaA sarvvabhtebhyo yo dadAti dayAparau, abhayaA tasya bhtAni dadatha na saAuayau. Terjemahannya: Jika karena kebaikan seseorang memberikan perlindungan kepada semua makhluk hidup, maka makhluk lain memberikan keselamatan kepadanya, tidak diragukan lagi (Seto, 2. Menurut sloka tersebut di atas, bila seseorang berlaku dan bertindak baik kepada orang lain maka orang lainpun tergerak hatinya untuk membalas kebaikannya, memberikan pelayanan dan perlindungan. Sikap ini tentu saja sangat mendukung penarapan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam moderasi beragama. Melakukan perbuatan atau tindakan yang baik sangatlah sulit tetapi dapat dilakukan yang diibaratkan memikul batu besar ke atas gunung. Hal tersebut tertuang dalam sloka pustaka suci Sarasamucaya 324, yang berbunyi: Aropyate uilA uaile kleuena mahatA yathA, patyate ca sukhenAdhastathAtmA puNyapApayou. Terjemahannya: Sangat sulit untuk mengambil batu ke atas bukit, namun mudah untuk Demikian pula dengan jiwa seseorang dalam hal pahala dan kejahatan (Seto, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sloka tersebut di atas mengandung makna yang mendalam bahwa perjuangan yang keras yang dilakukan seseorang dan dapat mencapai keberhasilan mencapai tujuannya, dapat dengan mudah jatuh bila ia tidak menjaganya dengan baik. Keteguhan hati dan tindakan untuk tetap menjalankan misi kebenaran tentulah disertai dengan berbagai cobaan dan hambatan. Hanya hati yang teguh dapat melaluinya dengan baik dan Moderasi beragama telah menjadi kesepakatan bersama Bangsa Indonesia untuk mencapai ketertiban dan keamanan di tengah keragaman kepercayaan, agama, suku, bahasa dan budaya di indonesia. Penerapan berbagai ajaran kesusilaan dan pembangunan karakter seperti penerapan nilai-nilai tri kaya parisudha yang merupakan ajaran Agama Hindu yang meliputi pikiran bersih . anacika parisudh. , perkataan bersih . acika parisudh. dan perbuatan bersih . ayika parisudh. berdasarkan sesanti dalam sloka pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamuscaya, harus terus digerakkan, dilaksanakan atau diimplementasikan dan dikembangkan untuk menjaga Indonesia. Moderasi beragama menjadi perhatian setiap lembaga dan umat beragama di Demikian juga tokoh-tokoh kelembagaan agama hindu. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan pandangan para tokoh agama Hindu tentang nilai-nilai tri kaya parisudha dalam mendorong terwujudnya harmoni kehidupan berdasarkan pemaknaan moderasi bergama dan seumber-sumber pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamuscaya serta penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hasil wawancara sebagai berikut: Menurut Ketua Sabha Walaka Parisada Pusat (SW). Informan kesatu, yang diwawancarai langsung, ketika diajukan pertanyaan mengenai konsepsi nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam kaitannya dengan moderasi beragama, memberikan keterangan yang intisarinya, yaitu . Ajaran Tri Kaya Parisuddha harus diimplementasikan, yang meliputi kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan menjadi pedoman prilaku yang sangat penting untuk membangun harmoni hubungan antar manusia, yang menjadi dasar terwujudnya moderasi beragama . Agama Hindu sangat kaya dengan sumber-sumber ajaran yang merupakan pedoman dan tuntunan dalam membangun karakter umat Hindu yang bijak, beretika, berintegritas moral yang tinggi dan bertanggung jawab. Sumber yang utama adalah sruti . dan smerti . afsir, bhasy. , seperti Bhagawad Gita. Sarasamuscaya. Manawa Dharma Sastra. Slokantara, lontar-lontar Shang Kamahanayikan. Wraspathi Tatwa, dan Mahawakya Tat Twam Asi, serta Vasudaiwa Kutum Bhakam . Dalam implementasi nilai-nilai Tri Kaya Parisudha, umtu Hindu perlu memperhatikan Pertama, umat Hindu harus mengerti, paham dan dapat menjelaskan dengan baik ajaran tri kaya parisuda. Kedua, memahami dampak positif dari penerapan nilai-nilai Tri Kaya Parisudaha dan cara menerapkannya Ketiga, menerapkan nilai-nilai Tri Kaya Pariduha dalam kehidupan sehari-hari, artinya bukan saja dengan umat Hindu tetapi terhadap semua orang. Wawancara berikutnya dilakukan dengan Informan kedua, yaitu Ketua Paruman Walaka Parisada Povinsi Sulawesi Tenggara yang instisarinya sebagai berikut . Nilainilai Tri Kaya Parisuda memiliki potensi untuk mendorong terciptanya moderasi Hal ini karena ajaran Tri Kaya Parisuda mengandung nilai-nilai yang tinggi dan bersifat universal bagi kehidupan serta harmoni umat manusia di indonesia, terutama di kota kendari dan sulawesi tenggara, yang meliputi Pertama, kesucian dalam pikiran . , yang berarti kesucian mencakup kebaikan dan sikap positif . erfikir positi. Kedua, kesucian dalam setiap perkataan . , di mana kata-kata yang diucapkan memberikan ketenangan dan damai Ketiga, nilai luhur kesucian dalam perbuatan . mencakup tindakan nyata yang benar dalam interaksi sosial, memberikan bantuan dengan tulus dan ikhlas kepada sesama tanpa memandang agama dan ras . Cara menimplementasikan ajaran Trikaya Parusdha, yaitu Pertama, implementasi nilai-nilai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tri Kaya Parisuda dengan cara memikirkan cara apa yang dilakukan orang lain adalah sesuatu yang baik walaupun berbeda dengan diri sendiri . erbaik sangk. Kedua, dengan berkata yang benar sopan dan baik kepada orang lain, sehingga orang lain tidak marah, tidak tersinggung dan tidak benci. Berkata yang benar dan sopan akan membawa kedamaian baik secara interen sesama agama maupun secara exteren dengan umat beragama lain Ketiga, dengan berbuat yang benar dan baik, menolong kepada sesama, orang lain tanpa memandang suku, agama, ras, status sosial, dan tingkat pendidikan Sehingga kita bisa hidup berdampingan . Sumber-sumber ajaran Tri Kaya Parisuda, meliputi Pustaka Suci Sarasmucaya. Pustaka Suci Bhagawadgita. Swastikarana. Buku Panca Sarada. Pustaka Suci Upadesa. Pustaka Suci Manawa Dharmasastra. Buku Panca Yadnya . sinya yadnya pikiran, perkataan, dan karya nyata atau perbuata. dan Buku Yoga Marga, harus dipelajari dengan baik. Wawancara dengan informan ketiga. Dosen STAH Empu Kuturan Singaraja mengenai penerapan nilai-nilai Tri Kaya Parisuda dalam konteks Moderasi Beragama intisarinya, meliputi . Tri Kaya Parisudha merupakan satu ajaran dalam Agama Hindu yang menggambarkan penerapan perbuatan baik . ubha karm. dan sifat-sifat ilahi . aiwi Istilah Tri Kaya Parisudha berasal dari kata Tri yang berarti tiga. Kaya yang merujuk pada perbuatan atau perilaku, dan Parisudha yang artinya sangat suci atau Ajaran ini memberikan petunjuk kepada umat Hindu mengenai pengelolaan Tata Keyakinan (Sraddh. Tata Nilai (Tattw. Tata Pikir (Jnan. Tata Etika (Susil. Tata Sarana, dan Laku (Acara/Sadhan. Ajaran ini terkait dengan pergerakan pikiran . , pergerakan ucapan . , dan pergerakan tingkah laku . dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dimensi personal maupun sosial atau komunal . Dengan mengimplementasikan filosofis hidup Tri Kaya Parisudha ini baik pada aspek jasmani dan rohani sakala, sakala-niskala, dan niskala, maka impian tentang terciptanya kehidupan yang madani atau satyam, siwam, sundaram yaitu suatu kehidupan masyarakat yang suci, beradab, harmoni, tentram damai sentosa dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya akan menjadi kenyataan . Pemahaman dan penerapan Tri Kaya Parisdha dalam kehidupan, maka pergerakan pikiran . , pergerakan ucapan . , dan pergerakan tingkah laku . mereka akan lebih terstruktur dan terarah sesuai dengan prinsip-prinsip tata keyakinan . , tata nilai . , tata pikir . , tata etika . , serta tata sarana dan laku . cara dan Sadhan. dalam agama mereka. Selanjutnya, ajaran Tri Kaya Parisudha akan menjadi pedoman dan panduan bagi mereka dalam membangun, menjalani, dan memberi makna pada kehidupan mereka menuju perbaikan dan kemajuan, baik dari segi jasmani maupun rohani, sesuai dengan filosofi hidup yang diwujudkan oleh ajaran tri kaya parisudha . Nilai-nilai Tri Kaya Parisudha wajib diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka Moderasi Beragama sebagai manifestasi dari kesadaran kolektif dalam keberagaman dapat terwujud. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah disampaikan, nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dijelaskan dengan lebih rinci melalui sloka-sloka dalam pustaka suci bhagawad gita dan sarasamuscaya. Pustaka suci Bhagawad Gita, sebagai pedoman perilaku, memberikan arahan kepada umat hindu untuk menjernihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kitab ini mengandung nilai-nilai mulia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta membangun toleransi dan persaudaraan. Pemahaman ajaran Bhagawad Gita menjadi kunci dalam menerapkan Tri Kaya Parisudha untuk mencapai moderasi beragama. Pustaka suci Sarasamuscaya menjelaskan lebih lanjut nilai-nilai Tri https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kaya Parisudha agar setiap orang menunjukkan sikap yang baik, rela berkorban, suka menolong, serta mempertimbangkan setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam berinteraksi dengan orang lain maupun makhluk lainnya, dengan tujuan mencapai harmoni tanpa mengorbankan orang lain. Implementasi nilai-nilai tri kaya parisudha dengan menjadikan sloka dari pustaka suci Sarasamuscaya sebagai panduan akan mempermudah pencapaian tujuan dan cita-cita hidup. Pustaka suci Bhagawad Gita dan pustaka suci Sarasamuscaya, salih melengkapi untuk membangun kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan, yang pertama lebih menakankan pada falsafah ajaran Hindu dan yang kedua lebih pada praktek lengsung dalam kehidupan sehari-hari dalam beriteraksi dengan manusia lainnya. Kedua pustaka suci ini menuntun, mendorong dan menjadi pedoman dalam mewujudkan moderasi beragama melalui penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri kaya Parisudha. Dengan mengimplementasikan pikiran yang benar dan baik . anacika parisudh. , ucapan atau perkataan yang baik dan benar . acika parisudh. , serta tindakan yang baik dan benar . ayika parisudh. sebagai elemen tri kaya parisudha, manusia dapat menjadi pribadi yang selalu waspada, hati-hati, dan bertindak dengan penuh pertimbangan. Semua tindakan berpikir, berujar, dan berbuat wajib mengikuti ajaran yang terkandung dalam pustaka suci Bhagawad Gita dan Sarasamuscaya. Sikap kolektif ini akan membawa manusia menuju evolusi kehidupan yang lebih baik, bijaksana, dinamis, kreatif, inovatif, dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dharma, yang secara langsung mendukung terwujudnya Moderasi Beragama sebagai tujuan bersama. Daftar Pustaka Abror. Moderasi Beragama Dalam Bingkai Toleransi: Moderasi Beragama Dalam Bingkai Toleransi. Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam, 1. , 143-155. Damayanti. Implementasi Pendidikan Tri Kaya Parisudha Dalam Meningkatkan Nilai Etika Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Purwosari Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong. Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan. Agama dan Kebudayaan Hindu, 6. , 17-22. Darmayasa. Bhagawad Gita: Nyanyian Tuhan. 55th ed. Sadhvi Widyastana. Denpasar: Yayasan Dharma Sthapanam. Gita. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Bhagavad Gita Values Of Hindu Religious Education In The Bhagavad Gita Mardwiatmoko. Jurnal Widya Aksara, 28. Gunawan. Ihsan. , & Jaya. Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran PAI di SMA Al-Biruni Cerdas Mulia Kota Bandung. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal, 6. , 1425. Hasan. Prinsip Moderasi Beragama Dalam Kehidupan Berbangsa. Jurnal Mubtadiin, 7. , 110-123. Hasani. Peran Keluarga dalam Penguatan Moderasi Beragama untuk Pemantapan Empat Pilar Kebangsaan. Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora, 6. , 260-273. Krishna. Bhagawad Gita Transkreasi Baru Untuk Zaman Baru. Cetakan Ke. Jakarta: Pusat Studi Veda & Dharma. Mahendra. Manusia Yang Beradab Menurut Tri Kaya Parisudha. Pustaka: