Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at https://journal. an-nur. id/index. php/alwildan ANALISIS KRITIS PENDIDIKAN AKHLAK BAGI PESERTA DIDIK (Bangun Rancang Pemikiran Hamk. Khoirotu Alkahfi Qurun Institut Agama Islam An nur Lampung Email : alkahfiar3@gmail. Received: December 2022 DOI: 10. 57146/alwildan. Accepted: December 2022 Published: December 2022 Abstrak : This article discusses a critical analysis of moral education for students (Prof. Dr. Hamka thinking desig. Education today is experiencing a lot of moral decadence and a loss of social values which are marked by promiscuity, drinking, brawls, drugs, and many more things that come out of morality. This is part of deviant behavior among adolescents, youth and society. Furthermore. Hamka, an Indonesian scientist and intellectual figure. Prof. Dr. Hamka. As it is understood that character plays a very important role in shaping a person's attitude and behavior, both as an individual, society and nation, in order to achieve life goals in accordance with the right guidance. Character development becomes urgent, in the midst of developing attitudes and behaviors that conflict with values . , both religious and cultural values . This research is library research (Library Researc. where the data is obtained from reading and collecting books related to research, such as primary data and secondary data. After getting the data, then the data is processed using the reading method at the symbolic stage, namely reading that is not carried out thoroughly but captures the contents of the data, reading at the semantic level, namely reading in detail, decomposing, and capturing the essence of the data. Then these data were analyzed using the Verstehen. Holistic, and Interpretation methods. Character development based on monotheism values, both textually sourced from the Qur'an and al-Hadith as well as originating from the thoughts of Islamic scientists, such as Hamka reconstructing these thoughts and concepts aims to prepare humans, especially new Muslim scientists who always have an Islamic commitment, as guidelines for the right management of life Keywords : Morals and Education Abstrak : Artikel ini membahas analisis kritis pendidikan akhlak bagi peserta didik (Rancang Bangun pemikiran Prof. Dr. Hamk. Pendidikan dimasa sekarang ini banyak mengalami dekandensi moral serta hilangnya nilai-nilai sosial yang banyak ditandai dengan adanya pergaulan bebas, minuman keras, tawuran, narkoba, dan masih banyak lagi hal-hal yang keluar dari akhlaq. Hal ini adalah sebagian dari perilaku menyimpang di kalangan remaja, pemuda serta masyarakat. Selanjutnya Hamka seorang saintis dan tokoh intelektual Indonesia. Prof. Dr. Hamka. Sebagaimana difahami bahwa karakter memegang peran yang sangat penting dalam membentuk sikap dan prilaku seseorang, baik sebagai individu, masyarakat, dan bangsa, agar bisa mencapai tujuan hidup sesuai dengan tuntunan yang benar. Pengembangan karakter menjadi urgent, ditengah berkembangnya sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai . , baik nilai . agama maupun budaya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (Library Researc. yang datanya diperoleh dari hasil membaca dan pengumpulan buku-buku yang barkaitan dengan penelitian, seperti data primer dan data sekunder. Setelah mendapatkan data, kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan metode membaca pada tahap simbolik, yakni membaca yang dilakukan tidak menyeluruh melainkan menangkap isi dari data tersebut, membaca pada tingkat semantik, yakni membaca secara terinci, terurai, dan menangkap esensi dari data tersebut. Kemudian data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan metode Verstehen . Holistika, dan Interprentasi. Pengembangan karakter Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 berdasarkan nilai tauhid, baik yang bersumber dari alQurAoan dan al-Hadits secara tekstual maupun bersumber dari pemikiran para ilmuan Islam, seperti Hamka merekonstruksi pemikiran dan konsep ini bertujuan untuk mempersiapkan manusia, khususnya saintis muslim baru yang selalu memiliki komitmen keIslaman, sebagai petunjuk pengelolaan kehidupan yang benar Kata Kunci: akhlak dan pendidikan PENDAHULUAN Salah satu fenomena terpenting yang mewarnai kehidupan modern tidak lain adalah kemerosotan moral, khususnya dikalangan generasi muda. Dekadensi moral yang melanda lebih disebabkan manusia teralienasi sebagai dampak dari kehidupan modern dibawah kendali supermasi rasionalisme, positivisme, materialisme, dan hedonisme. Nurchalish Madjid menengarai adanya "sesuatu yang tercecer" dalam pandangan orang modern, yaitu bidang kerohanian (Khoirotu Alkahfil Qurun, 2. Sementara menurut Sayyed Hossein Nasr, alienasi manusia modern disebabkan budaya modern yang menolak hakikat rohaniyah manusia sehingga tercabut dari akar spiritualitasnya hingga lupa akan eksistensi dirinya sebagai hamba Allah (Aabi. (MA. Achlami HS, 2. Pendidikan dimasa sekarang ini banyak mengalami dekandensi moral serta hilangnya nilai-nilai sosial yang banyak ditandai dengan adanya pergaulan bebas, minuman keras, tawuran, narkoba, dan masih banyak lagi hal-hal yang keluar dari akhlaq tercela. Hal ini adalah sebagian dari perilaku menyimpang di kalangan remaja, pemuda serta Meskipun akhir-akhir ini prestasi intelektual anak-anak Indonesia mengalami peningkatan cukup baik dengan banyaknya prestasi di berbagai olimpiade sains internasional, namun kemunduran justru terjadi pada aspek lain yang amat penting, yaitu moralitas. Kemunduran pada aspek ini menyebabkan krisis pendidikan akhlak dalam dunia pendidikan kita, sehingga dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat menahan laju kemerosotan akhlak yang terus terjadi (Ulil Amri Syafri, 2. Tidak mengherankan apabila generasi muda yang kehilangan pegangan didalam lingkungan primernya, yaitu keluarga menghadapi keadaan yang lebih parah di dalam masyarakat Dengan demikian semakin terlihat fenomena meningkatnya tingkah laku kekerasan dari para remaja dan pemuda, ketidakjujuran, perjudian, krisis kewibawaan, kehidupan penyelewengan seksual, meningkatnya egoisme dan menurunnya tanggung jawab warga negara . ivil responsibilit. Dengan singkat para pemuda dan para remaja cenderung kepada tingkah laku yang self destructive dan kebutaan etika . thical illiterac. Kecendrungan penggunaan obat-obat terlarang, penyelewengan seksual para remaja peserta didik dan pemuda sekitar kita, sangat mengkhawatirkan dan diambang kritis yang sangat meresahkan kalangan pendidik dan orang tua (Nurul Zuriah, 2. Bagaimanapun krisis mentalitas,moral, dan karakter anak berkaitan dengan krisis-krisis yang multidemensional lain, yang dihadapi bangsa pada umumnya dan pendidikan nasional pada khususnya. Oleh karena itu, jika dicermati dan dinilai lebih adil dan objektif merupakan cerminan dari krisis mentalitas dan moralitas dalam masyarakat yang lebih luas (Nurul Zuriah. Peserta didik zaman sekarang adanya rasa hormat, kasih sayang, rasa Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan segan atau kita kenal dengan istilah taAdhim terhadap guru ataupun orang tua semakin hilang, pudar entah kemana, perasaan itu hilang dan hampir tidak tampak terlihat dalam nuansa proses pembelajaran yang terjadi dan berlangsung pada saat ini. Mengapa demikian, hal itu terjadi karena peserta didik zaman sekarang kurang dalam meresapi, kurang dalam menghayati, dan kurang dalam melaksanakan atau mempraktikan apa yang telah dipelajari dalam ilmu tata laksana akidah akhlak atau dalam ilmu budi pekerti dikenal dengan istilah sopan santun. Bahkan menurut para ahli pendidikan tingkat kenakalan anak usia sekolah di era modern ini sudah melebihi batas yang Terlihat jelas bahwa banyak kasus pada anak usia sekolah yang masih dibawah umur yang sudah mengenal rokok, narkoba, freesex, tawuran dan banyak terlibat dalam tindak kriminal lainya, yang pada hakikatnya hal tersebut adalah merupakan krisis akhlak pada usia sekolah. Maraknya tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, perilaku asusila, pergaulan bebas yang menjamur sampai tingkat pedesaan serta penyakit lainya yang itu semua disebabkan oleh merosotnya moral bangsa (Muchlas Samawi, et al, 2. Di era globalisasi saat ini, dimana teknologi internet sudah mendominasi, hal-hal seperti di atas sudah banyak terjadi dikalangan pelajar hingga pelosok daerah. Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada tahun 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa sebanyak 93,7 % anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks, sebanyak 62,7 % anak SMP mengaku tidak perawan. sebanyak 21, 2 % remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah pelajar remaja perempuan. Yang terbaru adalah menurut sebuah survei yang dilaporkan oleh DurexAs Face of Global Sex, menunjukan kalau rata-rata remaja Indonesia kehilangan keperawanan atau keperjakaan di usia 19 tahun. 12 Kemudian berdasarkan Survey Lentera pada tahun 2015, menunjukan sebanyak 45 % jumlah remaja di Indonesia pada usia 13 hingga 19 tahun sudah merokok (Liput-Id. Survei, 2. Data-data diatas menggambarkan bahwa banyak sekali perkembangan kasus akhlak buruk peserta didik. Secara umum, mereka yang lulus sekolah dengan akhlak yang buruk ini akan menempati posisi-posisi di dunia kerja Piepit Maulidia menyatakan. Hasil Survei : 45 % Remaja Indonesia Usia 13-19 Tahun Sudah Merokok . urabaya-tribunnews. com, 2. Indoesia yang sarat dengan persaingan. Rendahnya moral dan akhlak para pelaku kebijakan juga akan diikuti oleh rendahnnya etos kerja di Realita lain yang terjadi dalam lembaga kependidikan saat ini adalah titik berat pendidikan lebih banyak kepada masalah kognitifnya saja. Penentu kelulusan pun masih lebih banyak pada prestasi akademik dan kurang memperhitungkan akhlak dan budi pekerti peserta didik. Dunia pendidikan kita sangat meremehkan mata pelajaran yang berkaitan dengan pembentukan Di lain pihak, tidak dipungkiri, bahwa pelajaran-pelajaran yang mengembangkan karkter bangsa seperti Pendidkan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama Islam. Ilmu Pengetahuan Sosial, dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih menekankan pada aspek kogntif daripada Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan aspek afektif dan psikomotorik. Di samping itu, penilaian dalam mata-mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan belum secara total mengukur sosok utuh untuk pribadi siswa (Abuddin Nata, 2. Dalam permasalahan tentang akhlak baik peserta didik masyarakat tidak akan henti-hentinya dalam mengkaji pembahasan tersebut karena akhlak sebagai tolak ukur peradaban bangsa dan kemajuan suatu bangsa. Berkaitan dengan ilmu pendidikan akhlak bagi peserta didik serta menjadikan suatu solusi bagi peserta didik sekarang ini yang pada dasarnya masih mengalami dekadensi moral. Dalam permasalahan diatas menarik untuk dikaji, melihat dari fenomena moderen saat ini dengan gaya bebas pergaulan dan sangat relavan dengan pemikiran Prof. Dr. Hamka, dengan perumusan teori pendidikan. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yaitu penelitian yang objek kajiaanya menggunakan data pustakan berupa buku-buku, journal sebagai data (Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, 2. , sumber data ini terbagi menjadi dua bagian data Primer, yaitu data langsung dari karya penulis yang peneliti teliti (Kaelan M. S, 2. sedangkan data sekunder adalah sebagai data pendukung yang tidak langsung berkitan dangan penelitian yang penulis teliti (Chailid Narbuko. Abu Ahmad, 1. Setelah mendapatkan data, kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan metode membaca pada tahap simbolik, yakni membaca yang dilakukan tidak menyeluruh melainkan menangkap isi dari data tersebut, membaca pada tingkat semantik, yakni membaca secara terinci, terurai, dan menangkap esensi dari data tersebut. Kemudian data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan metode Verstehen . Historis. Holistika, dan Interprentasi (Khoirotu Alkahfi Qurun, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Intlektual Prof. Dr. Hamka Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA), dilahirkan di daerah Sungai Batang. Maninjau Sumatera Barat pada hari Ahad, tanggal 17 Februari 1908 M. /13 Muharam 1326 H dari kalangan family yang taat beragama. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amarullah atau sering disebut Haji Rasul. Haji Rasul adalah seorang ulama yang pernah mengenyam pendidikan agama di Mekkah, pelopor kebangkitan kaum mudo dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau. Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal dari keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVi dan awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem adat keibuan . uku ibu/matrilinea. Oleh karna itu, dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya (Nizar Samsul, 2. Secara formal, alur pendidikan yang dienyam oleh Hamka tidak terlalu tinggi. Pada usia 8-15 tahun, beliau mulai mengenyam pendidikan agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek. Engku Mudo Abdul Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Hamid. Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el-Yunusy. Pelaksanaan pendidikan saat itu masih bersifat tradisional dengan penggunaan sistem Pada tahun 1916, sistem klasikal baru masuk dan dikenal di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistim klasikal yang dikenal tersebut belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan yang diajarkan masih berkisar pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan, cenderung mirip dengan sistem pendidikan tradisional. Konsep Pendidikan Akhlak Prof. Dr. Hamka Ajaran yang di bawa oleh para Nabi sejak awal hingga masa sebelum lahirnya agama Islam, selalu menjaga martabat kemanusiaan agar tidak mengalami penurunan yang berakibat menyamai martabat kebinatangan. Kedudukan akhlak dalam Islam sangatlah penting, karena akhlak merupakan buah dari tauhid yang tertanam dalam jiwa manusia. Penanaman adab dan budi pekerti dalam diri anak hendaknya dilakukan sedini mungkin. Upaya ini dilakukan dengan cara menanamkan kebiasaan hidup yang baik. Pada periode ini, pelajaran terhadap materi-materi agama belum begitu dibutuhkan. Adapun yang dibutuhkan adalah didikan nilai-nilai agama. Setelah anak dapat memahami dan mulai menggunakan akalnya secara baik, maka materi-materi pelajaran agama baru kemudian diberikan kepadanya, setahap demi setahap, sesuai dengan perkembangan fisik dan psikis, serta kemampuan Pendekatan ini memberikan kesan adanya pertimbangan tahapan pendidikan yang perlu dilakukan orang tua terhadap seorang anak atau pendidik terhadap peserta didik. Menurut Hamka, anak-anak umur 7 tahun hendaklah disuruh sembahyang, umur 10 tahun paksa supaya jangan ditinggalkannya, sembahyang di awal waktu dengan segera, kalau dapat hendaklah dengan hati tunduk . hauAa. Kalau hati ragu hendaklah paksa pula hati itu . Inilah yang bernama sugesti menurut ilmu jiwa zaman Mudah-mudahan lantaran tiap hari telah diadakan pengaruh demikian, jalan itu akhirnya akan terbuka juga (Hamka, 1. Tetapi apalah hendak dikata, kalau perasaan agama lemah di dalam hati orang tua sendiri. Anaknya diserahkannya kepada suatu sekolah. Menurut Hamka, di sekolah itu yang ada hanya pengajaran, bukan pendidikan. Dalam hal lain dalam pengembangan keilmuan adalah kajian epistemology (Jersey: Litlle Field. Adam &co, 1. Seperti ditulis Ali Syariati, pengetahuan yang benar tidak bisa lahir kecuali dari cara berpikir yang benar, sedang cara berpikir yang benar itu sendiri hanya bisa muncul dari epistemologi yang benar (Boulder: Keith Lehrer and Ernest Sosa . ), 1991. Muhammad Baqir Ash-Shadr, 1. Karena itu. Hasan Hanafi menganggap epistemologi sebagai penyebab hidup matinya filsafat dan pemikiran. Siapa yang tidak menguasai metodologi atau yang dalam kajianfilsafat disebut epistemologi, maka tidak akan mampu mengembangkan pengetahuannya (Khoirotu Alkahfi Qurun, 2. Selanjutnya pendidikan agama inipun amat perlu, walaupun pada sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan agama. Karna sebagaimana dikatakan tadi, pendidikan dan pengajaran adalah hal yang berbeda. Selanjutnya Hamka Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan berpendapat, apa gunanya bersembunyi, bahwasannya pada masa ini, pun banyak terdapat sekolah-sekolah yang mengajarkan agama, tetapi tidak mendidikan agama. Maka keluar pulalah anak-anak muda yang alim ulama, bahasa Arabnya seperti air yang mengalir, tetapi budinya rendah. Sama sajalah harganya sekolah-sekolah semacam ini dengan sekolah yang tidak mengajarkan dan mendidikan agama. Mengutip pendapat Al-Hakim AlMustaAshim. Hamka memberikan rambu-rambu bagi kedua orang tua bagaimana cara melaksanakan pendidikan terhadap anak, yaitu: Biasakan anak cepat bangun dan jangan terlalu banyak tidur. Sebab, dengan banyak tidur akan membuat anak malas beraktivitas, malas berpikir, dan lamban berkreasi. Tanamkan pendidikan akhlak yang mulia dan hidup sederhana sedini mungkin. Sebab, bila tidak, maka akan sulit untuk mengubah sikap yang telah mengkristal tersebut kepada sebuah kebaikan. Membangkitkan panca indera anak dengan mengoptimalkan fungsi pendengaran dan pengelihatan melalui memikirkan penciptaan Allah, baik dari segi keindahan maupun keajaiban serta makna yang terkandung di dalamnya. Ajari berpola hidup sederhana, yaitu sederhana dalam mengeluarkan belanja. tidak boros dan tidak bakhil, sederhana mengeluarkan perkataan. tidak bocor mulut dan bicara berdasarkan situasi dan kondisi, sederhana mengerjakan pekerjaan, dan sederhana ketika suka maupun duka. Melalui cerita-cerita yang menekankan cinta kasih, ajarkan kepada mereka penting-nya kehidupan yang harmonis. Biasakan anak untuk percaya diri dan tidak menggantungkan diri dengan orang lain, memiliki kemerdekaan dalam mengeluarkan pendapat, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang Setidaknya, ada dua pendekatan Islam untuk menanamkan kepercayan diri, yaitu melalui tauhid dan melalui Mempercayai tiada kekuatan dan ketentuan yang final selain aturan Allah. Tidak adasatu makhluk pun yang patut ditakuti, kecuali Allah. Selama suatu aktivitas tidak bertentangan dengan ketentuan dan nilai-nilai Illahi, maka tidak perlu tumbuh Aktivitas yang dilakukan akan lebih dinamis dan sekaligus bernilai ketundukan kepada zat yang agung. Tumbuhnya kepercayaan pada diri peserta didik akan menimbulkan daya gerak dan daya pikir secara merdeka (Al-Hakim Al-MustaAshim, 2. Setelah anak beranjak dewasa, kedua orang tua dituntut untuk menghargai pendapat yang dikemukakan anak dan memberikan kemerdekaan kepadanya untuk berkembang, baik fisik maupun psikis, secara Kedua orang tua hendaknya bersikap arif dan bijaksana dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Pendekatan yang demikian Pandangannya ini didasarkan pada realitas sikap-umumnya-orang Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan tua waktu itu, di mana tatkala menghadapi anak yang nakal, acapkali orang tua bersikap kasar. Padahal, anak yang demikian itu biasanya pada waktu bersamaan potensi akalnya ikut berkembang. Hamka mengungkapkan bahwasannya di zaman dahulu, menjadi kemegahan seorang ayah kalau anaknya takut kepadanya. Baru saja dia masuk rumah, kembali daripada pekerjaannya, anak itu lari sebagai kucing yang bersalah mencuri Sebab itu sampai besarnya, ayah dan anak tidaklah merasai nikmat berayah atau nikmat beranak. Hal ini bertentangan dengan salah satu karakteristik pendidik ideal yang menyebutkan bahwa pendidik harus mempunyai karakter atau sifat kebapaan, dalam arti harus memposisikan diri sebagai pelindung yang mencintai muridnya serta selalu memikirkan masa depan mereka untuk kebaikan anaknya. Tugas kedua orang tua adalah mencontohkan perilaku dan sikap yang baik, menasehatinya, membimbing dan mengontrol-bukan membentuk-agar dinamika fitrah anak berkembang secara maksimal, sesuai dengan nilai ajaran agamanya (Hamka, 1. Analisis Pendidikan Akhlak Menurut Pemikiaran Prof. Dr. Hamka Proses pembelajaran harus mampu mengembangkan segenap segenap potensi peserta didik. Pengembangan itu mencakup keseluruhan hakekat dan dimensi kemanusiaan serta pancadaya yang dimiliki peserta didik melalui teraplikasikannya kewibawaan . dalam setiap proses pembelajaran yang diselenggarakannya. Sebaliknya, pendidik yang kurang memahami peserta didik akan menyebabkan terjadi praktik-praktik pembelajaran yang kurang memberikan kemungkinan terhadap pengembangan potensi peserta Akibatnya potensi peserta didik akan terabaikan, tersia-siakan dan bahkan mungkin terdholimi. Sebab, kewibawaan pendidik yang meliputi unsur pengakuan, kasih sayang dan kelembutan, pengarahan, penguatan dan tindakan tegas yang mendidik serta keteladanan tidak teraplikasikan dalam proses pembelajaran (Ali Mashari, 2. Agar teraktualkan dan menjadikan pesertadidik mengamalkan dalam kehidupan wujudiah agar terciptanya pesertadidi yang berakhlakul karimah, dalam suatu konsep Hamka meyatakan bahwasanya beberapa masalah akhlak atau etika. Hamka membagi menjadi dua trem yang pertama terapan atau etika khusus dan yang kedua dengan menggunakan terma AubudiAy, tetapi maksudnya adalah etika dalam arti praksis. Meskipun dia tidak menggunakan terma etika, tetapi yang dimaksud adalah etika terapan. Etika terapan adalah etika yang terkait dengan pekerjaan-pekerjaan atau profesi-profesi tertentu (Novi Maria Ulfah dan Dwi Istiyani, 2. Etika terapan, membahas topiktopik banyak sekali, tetapi untuk memudahkan pembahasan, etika terapan terbagi menjadi dua wilayah besar. Etika profesi, seperti etika guru, etika kedokteran, etika pengacara, etika pengarang, dan lainnya. Kedua, etika yang menyoroti sebuah masalah dari berbagai masalah yang terjadi. Menurut Hamka dalam memdidik haruslam memiliki sifat akademisi yang mumpuni karna akademis adalah hal-hal yang terkait dengan masalah Etika atau berakhalak akademis sebagai bagian dari etika profesi, maka etika atau akhlak ini akan membicarakan masalah yang terkait langsung Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan dengan pendidikan, yaitu pembahasan maslah etika menuntut ilmu, etika guru, etika seorang peserta didik, etika pembelajaran, kewajiban seorang peserta didik terhadap seorang guru, kewajiban sesama peserta didik dan lainnya. Menurut hamka ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam menuntut ilmu. Hal ini antara lain: Seorang peserta didik seharusnya mencari guru yang baik. Ia dalam menuntut ilmu seharusnya mempunyai motivasi yang baik, yaitu mencari keridhaan Allah. Ia dalam menuntut ilmu seharusnya melakukannya secara sistematis, teratur, mulai dari awal sampai akhir. Ia seharusnya tidak meninggalkan yang sulit beralih kepada yang mudah dan perbanyaklah penyelidikan sendiri. Ia harus berusaha untuk cerdas dan tidak boleh putus asa. Ia jangan berhenti menuntut ilmu karena sudah menjadi orang kaya atau mempunyai kedudukan yang tinggi. Ia tidak terhalang menuntut ilmu, karena merasa diri telah tua, karena mencari ilmu tidak dibatasi oleh umur, status sosial, ras, kedudukan, kekayaan, dan lainnya. Ia, hendaklah mengusahakan dirinya supaya tingkah lakunya sepada dengan derajat ilmunya. Ia, seharusnya menuliskan ilmu-ilmu dianggap penting yang Ia, hendaknya sabar dan teguh hati, karena dalam hidup selalu berganti antara yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Ia, seharusnya memperlakukan guru dengan sebaik mungkin (Novi Maria Ulfah dan Dwi Istiyani, . Menyikapi fenomena di atas, dunia pendidikan harus memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral, etika dan akhlak bangsa, dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik. Dalam sistem pendidikan nasional, dijelaskan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (La Iba, 2. Pendidikan akhlak mempunyai urgensi yang sangat asasi dalam kesejahteraan kehidupan di dunia dan akhirat. Pendidikan akhlak pun mempunyai peran vital untuk membangkitkan masyarakat dari kebobrokan tingkah laku menuju masyarakat islami. Bahkan hampir semua permasalahan kehidupan, baik di tingkat individu, keluarga maupun masyarakat muncul karena minimnya akhlak yang dimiliki oleh manusia dewasa ini. Pembahasan akhlak tidak pantas dijadikan sebagai pembahasan sampingan atau pembahasan pelengkap sehingga diposisikan pada posisi kedua apalagi nomor urut akhir. Akhlak juga bukanlah sifat pelengkap untuk sifat-sifat kebaikan Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan seorang manusia yang jika diabaikan tidak akan merusak aturan kehidupan. Akhlak merupakan inti dari kepribadian seorang muslim dan kepribadian umat, sehingga harus menjadi pondasi bagi kehidupan manusia. Tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. Selain itu, pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Solihin menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan akhlak membentuk hamba Allah yang berbudi pekerti yang luhur selaras dengan ajaran Islam. Yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu bapak, sayang kepada sesama makhluk Allah, dan seterusnya (M. Sholihin, 2. Menurut Athiyah al-Abrasyi tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan perangai, bersifat bijaksana, ikhlas, jujur dan suci (Muhammad Athiyah al-Abrasyi, 2. Dalam sisi lain Khoirotu Alkahfi Qurun memberikan suatu comentar mengenai pendidikan akhlak karna Ilmu itu sendiri mencerminkan salah satu Asma Allah, yang berkaitan langsung dengan Basmalah dan Hamdalah (Khoirotu Alkahfi Qurun. Karena itulah mengapa Hidajat Nataatmadja katakan bahwa ilmu itu ghaib, mustahil terjangkau dengan akal. Akan tetapi bukan barati kegaiban tidak mampu terjaangkau, karena manusia mengemban Ruh yang diberi kemampuan untuk menerima kemampuan Allah. Ya, itulah sumber inteligensi (Hidajat Nataatmadja, 1. Segala ilmu hanyalah merupakan penjabaran dari ayat-ayat suci, dan prilaku baik merupakan suatu manifestasi Asma Allah di hati manusia pilihan-Nya. Maha Besar Allah. Maha Mengetahui Dia, sehingga tiada Dia memerlukan musyawarah dengan manusia utuk menunjuk siapa manusia yang akan memperoleh bimbinganNya (Khoirotu Alkahfi Qurun, 2. Dengan Asma Allah SWT itulah manusia dapat membedakan antara yang buruk dan yang baik dalam suatu kondisi dan situasi yang bagaimanapun ruwetnya. Itulah Al-Furqon yang di wahyukan pada Nabi Muhammad, yang syariatnya tercatat dalam Al-QurAan dan AlHadits. Begitulah setiap ilmu seharusnya, hanyalah suatu penjabaran dari makna ayat-ayat suci, sehingga dengan ilmu-ilmu itu terjamin bisa bergerak di jalan lurus yang di Ridhoi Allah SWT (Khoirotu Alkahfi Qurun, 2. Konsep Dasar Pendidikan Islam. Disini penulis mencoba memberikan visualisasi dari konsep dasar yang paling penting adalah dalam pemikiran hamka tiadak lain adalah nilai-nilai spiritual, atau nilai ke agamaan, krna nilai agama adalah suatu pondasi dalam kehidupan. Sehingga jiwa mampu mengendalikan jasad dan akal, jangan sebaliknya, karena bila Jiwa nya kuat dan mampu mengendalikan akal dan jasad, maka Insan tersebut menjadi Insal Kamil atau Insan yang Paripurna. Jadi sangat beralasan, mengapa hamka sangat menekankan proses pembentukan awal dalam pendidikan adalah pemguatan aqidah dan ahklak (Ace, 2. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Aqidah dan akhlak Dalam pemikiran Hamka Jiwa Jasad Akal Corionsity Knoeledge TUJUAN PENDIDIKAN : - Mencari Keridhoan Allah ( Aqida. - Membagun Budi Pekerti (Akhla. - Mempersiapkan berpotensi/ berguna Gambar 1. Konsep dan tujuan pendidikan Islam Menujiu peserta didik berakhlak Maka dapat di fahami bahwasanya dari gambar diatas pemikiran Hamka tentang kerangka dasar pendidikan Islam sudah sangat terstruktur, sehingga penulis mencoba untuk mensarikan dari paparan dalam buku ini. Kerangka Dasar Pendidikan Islam menurut Pemikiran Hamka meliputi aspek: Pendidik dan Peserta Didik. Materi Pendidikan. Kurikulum Pendidikan. Metode Pendidikan dan Model Lembaga Pendidikan. Menurut Hamka haruslah memperkuat pembangunan Karakter dan Intelektualitas pesertadidik. Dalam Pandangan Hamka, tugas seorang pendidik adalah membantu mempersiapkan dan mengantarkan peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Sementara secara khusus, tugas pendidik meliputi : mengetahui tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, membangkitkan minat belajar, membangkitkan dan mengarahkan potensi peserta didik, mengatur situasi proses belajar mengajar yang kondusif, mengakomondir tuntunan sosial dan zaman kedalam proses pendidikan serta melakukan interaksi dengan peserta didik, orang tua dan sosial secara harmonis (Samsul Nizar, 2. Gambaran kualitas seorang pendidik bagi Hamka adalah orangorang yang selama ini telah berinteraksi dengan dirinya, dimana seorang pendidik disamping memiliki tingkat keilmuan yang luas dan dalam juga memiliki akhlak yang mulia ditambah dengan tanggung jawab profesi sebagai seorang pendidik yang memiliki rasa cinta . dan tanggung jawab moral tinggi terhadap hasil didikannya (Samsul Nizar, 2. KESIMPULAN Ajaran yang di bawa oleh para Nabi sejak awal hingga masa sebelum lahirnya agama Islam, selalu menjaga martabat kemanusiaan agar tidak mengalami penurunan yang berakibat menyamai martabat kebinatangan. Kedudukan akhlak dalam Islam sangatlah penting, karena akhlak merupakan buah dari tauhid yang tertanam dalam jiwa manusia. Penanaman adab dan budi pekerti dalam diri anak hendaknya dilakukan sedini mungkin. Upaya ini dilakukan dengan cara menanamkan kebiasaan hidup yang baik. Pendidikan akhlak mempunyai urgensi yang sangat asasi dalam kesejahteraan kehidupan di dunia dan akhirat. Pendidikan akhlak pun mempunyai peran vital untuk Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan membangkitkan masyarakat dari kebobrokan tingkah laku menuju masyarakat Bahkan hampir semua permasalahan kehidupan, baik di tingkat individu, keluarga maupun masyarakat muncul karena minimnya akhlak yang dimiliki oleh manusia dewasa ini. Pembahasan akhlak tidak pantas dijadikan sebagai pembahasan sampingan atau pembahasan pelengkap sehingga diposisikan pada posisi kedua apalagi nomor urut akhir. Akhlak juga bukanlah sifat pelengkap untuk sifat-sifat kebaikan seorang manusia yang jika diabaikan tidak akan merusak aturan kehidupan. Akhlak merupakan inti dari kepribadian seorang muslim dan kepribadian umat, sehingga harus menjadi pondasi bagi kehidupan manusia. DAFTAR PUSTAKA Fauzie Nurdin. Pengantar Filsafat, (Jogjakarta : Pantai Rhei Books Offis Fauzie Nurdin, dan Kiki Muhamad Hakiki, . MERAWAT TRADISI MEMPERERAT PERSAUDARAAN (Analisa Atas Makna Kearifan Lokal Tradisi Pengangkonan (Pengangkatan Ana. Dalam Perkawinan Beda Suku Pada Masyarakat Lampung Pepadun. Bandar Lampung: UIN Raden Iantan Lampung Abuddin Nata, . Akhlak Tasauf dan Karakter Mulia. Jakarta: Raja Grafindo Ace, . Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Terhadap Kondisi Saat Ini. Journal Of Environmental & Science Education. Vol. 7 No. Achlami HS, . Intenalisasi Nilai Akhlak Tasawwuf Dalam Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Al-Hikmah Bandar lampung. Jurnal Studi Keislaman. Volume 18. Nomor 1 Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, . Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia Ali Mashari, . Profile Of High Touch In The Application Learning Process. Volume 5 No 2 P-ISSN : Guidena | Journal of Guidance and Counseling. Alvin I. Goldman, . Epistemics and Sciences of Knowledge dalam The Open Curtain. Soviet (Tanpa Penerbi. http://surabayatribunnews. com/2020/03/29/hasil/survei-45-persen-remaja- indonesiausia-13-19-sudah-merokok/ Baharun. Manajemen Kinerja Dalam Meningkatkan Competitive Advantage Pada Lembaga Pendidikan Islam. At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah, 5. , 243Ae262. Chailid Narbuko. Abu Ahmad, . Metodologi Penelitian. Cet-1. Jakarta. Bumi Aksara, 1997 Dagobert D. Runes, . The Dictionary of Philosophy. New Jersey: Litlle Field, :Adam &co Hamka, . Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet-XI. Kaelan M. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Jogyakarta: Paradigm Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 87-98 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Khoirotu Alkahfi Qurun, . Implikasi Nilai-Nilai Rohman-Rohim Dalam Membentuk Akhlak Manusia Menurut Dr. Hidajat Nataatmadja. Skripsi. Aqidah Dan Filsafat Islam. Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Raden Intan Lampung Khoirotu Alkahfi Qurun, . Pengembangan Karakter Perspektif Hidajat Nataatmadja : Dari Potensi Ke Aktualisasi. BinaAo al-Ummah Vol. 15 No. Khoirotu Alkahfi Qurun, . Moqadimah Percikan Filsafat. Jakarta : E-Media Khoirotu Alkahfi Qurun, . Mengungkap Nilai Sosial Pada Budaya Muakhi Perspektif Prof. Dr. Fauzie Nurdin. M,S. Bandar Lampung : UIN Raden Intan Lampung La Iba. Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Al-QurAan (Kajian Tafsir Surat Luqma Ayat 12-. , journal : Al-iltizam . Vol. No. Laal. Knowledge Management in Higher Education. Procedia Computer Science, 3, 544Ae549 Levina. Kutuev. Balakhnina. Tumarov. Chudnovskiy. , & Shagiev, e. The Structure of the Managerial System of Higher EducationAs Development. International Journal Of Environmental & Science Education, 11. , 8143Ae8153. Liput-Id. Survei:Remaja Indonesia Kehilangan Keperawanan di Usia 19 Tahun,http://w. id/unik/survei-remaja-indonesia-kehilangankeperawanan-di-usia-19-tahun/, di akses pada tanggal 10 januari 2020. M Fakih bin All. Pendidikan karakter Lintas Zaman. Bandung: Mizan Muchlas Samawi, et al , . Pendidikan Karakter Konsep dan Model. Bandung: PT. Remaja Roasda karya Muhammad Athiyah al-Abrasyi. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung. Pustaka Setia