Amphibious Journal Volume. 1 No. 2 Desember 2024 e-ISSN : 3063-8445, dan p-ISSN : 3063-9514. Page 11-17 Available online at: https://journal. id/index. php/Amphibious/ Optimalisasi Latihan Perang Gerilya Guna Meningkatkan Pengetahuan Taruna Korps Marinir Gontar Nanang Dwi Saputra1*. Mostien Mostien2 Taruna Akademi Angkatan Laut Korps Marinir,Indonesia Dosen Prodi Manajemen Pertahanan Matraa Laut Aspek Darat,Indonesia Abstract. The Indonesian Navy Academy (AAL) is an Indonesian Navy educational institution that produces young Indonesian Navy officers who are tough and ready to be placed in KRI and in Marine Battalions throughout the territory of the Republic of Indonesia. Level i Marine Corps Cadets carry out Dikko training for 3 months in the Banyuwangi area. In the training there is material on guerrilla warfare which is carried out in the guerrilla versus guerrilla stage by utilizing the surrounding area with residents as partisans for cadets who carry out guerrilla training, in this training the provision of material is given in theory and practice which is carried out around the population so that students can mingle with the surrounding population and can complete the tasks given by the trainer in accordance with the objectives of the training. There are two factors that can influence the guerrilla versus guerrilla material, namely internal and external factors, this factor greatly affects the results of the training carried out by cadets because there are geographical influences and weather influences, the trainer will look for a new location so that the training can be carried out in accordance with the objectives of the training. In the implementation of the training, the expected results are that all students can understand the material given by the trainer and can be applied in guerrilla versus guerrilla training. The results of the study using management theory (POAC) have been implemented in guerrilla warfare training at DIKKO but need to be optimized especially in planning, organizing and actuating. Optimization is carried out by providing material in class not only theory but with applicable and technical methods, in Dikko training, additional supporting personnel and training equipment are needed . or example, civilian clothin. , the implementation of training at AAL is adjusted to TOP standards so that all stages of training can be carried out and can improve the knowledge of Marine Corps Cadets. Keywords: Guerrilla. Dikko. Guerrilla War Tactics Abstrak. Akademi Angkatan Laut (AAL) merupakan suatu lembaga pendidikan TNI AL yang mencetak PerwiraPerwira muda TNI AL yang tangguh dan siap ditempatkan di KRI dan di Batalyon- Batalyon Marinir yang ada diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Taruna Korps Marinir tingkat i melaksanakan latihan Dikko selama 3 bulan di wilayah Banyuwangi. Dalam latihan tersebut ada materi tentang perang gerilya yang dilaksanakan di tahap gerilya lawan gerilya dengan memanfaatkan daerah sekitar dengan adanya penduduk sebagai partisan bagi taruna yang melaksanakan latihan gerilya, dalam latihan ini pemberian materi yang diberikan secara teori dan praktek yang dilaksanakan disekitar penduduk supaya siswa dapat membaur dengan penduduk sekitar dan dapat menyelesaiakan tugas yang diberikan oleh pelatih sesuai dengan tujuan latihan. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pada materi gerilya lawan gerilya ada dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, faktor ini sangat mempengaruhi hasil latihan yang dilaksanakan oleh taruna karena terdapat adanya pengaruh geografi dan pengaruh dari cuaca, pelatih akan mencari lokasi yang baru agar latihan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan latihan. Dalam pelaksanaan latihan hasil yang diharapkan adalah seluruh siswa dapat mengerti materi yang diberikan oleh pelatih dan dapat diaplikasikan dalam latihan gerilya lawan gerilya. Hasil penelitian dengan menggunakan teori manajemen (POAC) sudah dilaksanakan pada latihan perang gerilya di DIKKO namun perlu dioptimalisasikan khususnya di planning, organizing dan actuating. Optimalisasi dilakukan dengan pemberian materi dikelas tidak hanya teori namun dengan metode yang aplikatif dan bersifat teknis, dalam latihan Dikko dibutuhkan penambahan personel pendukung serta kelengkapan latihan . ontoh tenue pakaian sipi. , pelaksanaan latihan di AAL di sesuaikan dengan standar TOP sehingga semua tahapan latihan bisa dilaksanakan dan dapat meningkatkan pengetahuan Taruna Korps Marinir. Kata Kunci : Gerilya. Dikko. Taktik Perang Gerilya Received: Oktober 17,2024. Revised: Oktober 31,2024 Accepted: November 11, 2024, 2024. Online available: November 13, 2024 Optimalisasi Latihan Perang Gerilya Guna Meningkatkan Pengetahuan Taruna Korps Marinir PENDAHULUAN Peperangan yang digunakan untuk merebut kemerdekaan Indonesia adalah dengan taktik tempur gerilya. Taktik tempur gerilya dilakukan dengan berpindah-pindah dan sembunyi-sembunyi (Himpunan Catatan Tentang Perang Gerilya, 2. Perang di masa datang akan semakin berkembang dengan adanya peralatan modern yang lebih canggih. Peperangan akan lebih terlihat dan terbuka namun masih membutuhkan taktik tempur gerilya yang membutuhkan pasukan sedikit dan persenjataan minim. Taktik tempur gerilya sangat efektif dalam merebut kekuasaan musuh yang sangat kuat. Peperangan gerilya sangat membutuhkan bantuan kerjasama dari masyarakat dalam hal logistik dan kekuatan tambahan yang sangat di butuhkan oleh pasukan gerilya. Perang gerilya tidak hanya di gunakan oleh Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaanya namun negara lain juga menggunakan taktik gerilya untuk merebut kemerdekaanya. Pertempuran Gerilya adalah pertempuran yang dilakukan dengan kekuatan minim dan dilakukan secara berpindah-pindah. Skenario yang dilatihkan saat pelaksanaan Pendidikan Komando (Dikk. tahap Gerilya Lawan Gerilya (GLG). Tahapan GLG mengajar-kan taruna untuk dapat menyatu dengan lingkungan dan masyarakat setempat. Pembelajaran pertempuran Gerilya di Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai lembaga pendidikan sampai saat ini belum terlaksana secara optimal. Pertempuran Gerilya sebagai dasar ilmu pengetahuan dasar intelejen dan juga sebagai sarana pembelajaran yang akan lebih mudah dipahami jika tidak hanya di gambarkan ataupun diajarkan secara klasikal di kelas. Dalam peperangan gerilya peralatan yang dibutuhkan sangatlah minim namun sangatlah berpotensi untuk mengalahkan musuh yang besar, tentunya akan sangat menunjang pembelajaran dan praktek bagi Taruna AAL. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif . escriptive researc. adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau yang dapat diamati. Sumber data primer didapatkan dari informan dalam hal ini yang akan di wawancarai yaitu Kamalatmar. Pelatih Depmar dan Taruna Korps Marinir. Data Sekunder yang digunakan berupa dokumen-dokumen pendukung. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 2 DESEMBER 2024 e-ISSN : 3063-8445, dan p-ISSN : 3063-9514. Page 11-17 Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara langsung kepada informan . ebagai data prime. dan mengumpulkan dokumen-dokumen pendukung . ebagai data sekunde. Teknik analisis data (Patton, 1. berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Saat Ini Taruna Korps Marinir melaksanakan kegiatan latihan perang gerilya saat latihan Dikko pada tahap hutan dan tahap Gerilya Lawan Gerilya (GLG) yang diikuti oleh siswa sekolah Bintara dan Tamtama. Pelaksanaan latihan di Hutan Selogiri daerah Banyuwangi. Latihan Dikko dilaksanakan selama 77 hari. Taruna mendapatkan pelajaran dasar-dasar komando yang disampaikan oleh pelatih Dikko. Sebelum mendapatkan materi perang gerilya taruna mendapatkan pelajaran tentang intelejen dan pelajaran tentang PUS (Perang Urat Syara. , materi-materi tersebut dapat mambantu dalam pelaksanaan latihan perang gerilya. Materimateri tersebut bagian dari materi perang gerilya. Dalam latihan GLG taruna memiliki jabatan sebagai Dantim (Komandan Ti. yang beranggotakan siswa Bintara sejumlah 9 atau 10 personel. Pada latihan perang gerilya dibagi dalam dua kelompok/kompi, yaitu kompi kuning dan kompi merah dimana masing-masing mendapatkan giliran menjadi gerilya dan anti gerilya. Tugas dari kelompok gerilya adalah menjadikan peran sebagai orang gerilya yang memiliki rencana untuk menghancurkan sebuah fasilitas musuh yang akan di hancurkan maupun di sabotase, dengan perencanaan yang ada dan pelaksanaan patroli tertutup yang dilaksanakan oleh anggota yang melaksanakan latihan mendapatkan data untuk melaksankan serangan maupun sabotase pada wilayah musuh maupun markas musuh, pelaksanaan yang berlangsung pada siang hari ini dilaksanakan dengan membaur dengan masyarakat yang ada. Taruna akan membaur dengan masyarakat untuk mendapatkan dukungan logistik maupun informasi. Teknis pelaksanaan latihan gerilya dimana satu kompi menjadi gerilya dan satu kompi menjadi anti gerilya, dimana kedua kompi bersaing untuk dapat menyelesaikan tugas dari setiap kompi. Taruna AAL dilatih untuk mempelajari taktik perang gerilya dan dilatih untuk dapat melaksanakannya dengan baik. Selain itu sebagai Dantim taruna dapat berlatih langsung memimpin calon anggotanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi berupa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam latihan terdiri dari taruna sebagai pelaku, pelatih sebagai pemberi materi dan pendukung sebagai penyedia peralatan dan kebutuhan selama latihan. Faktor eksternal dalam Optimalisasi Latihan Perang Gerilya Guna Meningkatkan Pengetahuan Taruna Korps Marinir latihan terdiri dari kondisi geografi lokasi latihan, cuaca, penduduk. Data primer diperoleh dengan melaksanakan wawancara kepada Kamalatmar. Pelatih Dikko dan Taruna Korps Marinir. Pedoman wawancara menggunakan teori manajemen. adapun hasil wawancara sebagai berikut: Planning (Perencanaa. Sampai saat ini belum ada rencana pengembangan materi gerilya yang diberikan diluar latihan Dikko karena materi gerilya diajarkan dan langsung dipraktekkan dalam latihan Dikko. Taruna menyampaikan bahwa kurangnya pemberian materi di kelas menyebabkan pelaksanaan saat latihan praktek menjadi kurang maksimal. Organizing (Pengorganisasia. Kegiatan latihan Dikko ini sangat penting sebagai bekal dalam kedinasan. Pengorganisasian latihan praktek gerilya disesuaikan dengan dengan PI dan jumlah peserta latihan Dikko, kondisi daerah latihan serta kondisi sosial daerah Actuating (Pelaksanaa. Dalam pelaksanaannya teori harus diberikan dulu secara matang sehingga pelaksanaan prakteknya taruna dapat berjalan dengan baik. Controling (Pengawasa. Pengawasan terhadap latihan Dikko sudah dilaksanakan dengan pembuatan laporan Pendidikan dan mengikutsertakan tim evaluasi dari Subditlat. Kondisi Yang Diharapkan Dalam pelaksanaan latihan yang diharapkan adalah dimana seluruh unsur yang ada dalam pelaksanaan latihan dapat bekerja dengan baik dan siswa yang menerima materi dapat mengerti dan seluruh pelaksanaan praktek berjalan dengan lancar, dan segala bantuan dari masyarakat yang mendukung sangat berguna bagi siswa sangat membantu siswa dalam pembelajaran menjadi gerilyawan dan dari masyarakat yang mendukung dengan menjadi partisan bagi siswa untuk dapat melaksanakan tujuan dari tugas yang di berikan oleh pelatih. Dan hasil dari latihan yang di berikan seluruh siswa dapat mengerti bagaimana taktik perang gerilya yang dilaksanakan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: Planning (Perencanaa. Pada kegiatan perencanaan terdapat kekurangan dan kelemahan pada kondisi yang dialami oleh akademi dibandingkan dengan keadaan di satuan. Karena seharusnya pembelajaran di akademi harus sejalan dengan apa yang akan dilaksanakan di kesatuan. Sehingga bayangan dan gambaran yang didapatkan oleh taruna di akademi tidak berbeda dengan apa yang akan mereka laksanakan di satuan batalyon Depmar hanya memberikan saran dan masukan kepada dosen pembimbing untuk memberikan praktek taktis setelah mendapatkan materi teori di kelas, belum AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 2 DESEMBER 2024 e-ISSN : 3063-8445, dan p-ISSN : 3063-9514. Page 11-17 adanya pemberian jam tambahan untuk melaksanakan pelajaran dan latihan taktik perang gerilya, kurangnya latihan dari Departemen. Organizing (Organisas. Peng-organisasian pelaksanaan Latek Dikko sudah sesuai dengan ketentuan. Actuating (Pelaksanaa. Pem-berian materi diberikan hanya saat latek Dikko. Hal ini terjadi karena dari pihak Depmar menganggap bahwa taruna di dalam pengajaran perang gerilya hanya sebagai pengenalan, hal tersebut didasari oleh kebutuhan Taruna Marinir agar mendapat bayangan dan gambaran terhadap pelaksanaan materi perang gerilya. Controling (Pengawasa. Depmar melalui tim evaluasi dan dari Subditlat telah melaksanakan pengawasan dengan pembuatan laporan pendidikan dan evaluasi. Pembahasan hasil analisa data dengan kondisi tang diharapkan. Planning (Perencanaa. Pada latihan praktek yang dilaksanakan taruna kurang memahami materi taktis yang dilaksanakan pada latihan lapangan, dapat dilihat pada pelaksanaan latihan Dikko pada tahap hutan materi Perang gerilya. Taruna kesulitan untuk membagi anggota dan aktifitas selama pelaksaanaan latihan gerilya dan belum paham mengenai prosedur gerakan taktis yang harus dilaksanakan dalam saat pengumpulan data maupun informasi. Hal ini tentu mengakibatkan kurangnya kepercaya -an diri oleh para taruna dalam memimpin suatu peleton dalam latihan tersebut. Sehingga dalam pelaksanaan pengumpulan informasi jadi banyak yang terlewat. Di kesatuan, seorang perwira remaja akan memberikan pengajaran kepada anggotanya di batalyon. Maka penting bagi seorang taruna untuk memahami dan menguasai materi operasi darat sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya dalam memimpin peleton di kesatuan. Dengan demikian perencanaan pemberian materi sangat diperlukan. Organizing (Organisas. Pada sisi pengorganisasian, masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan di lapangan. Dalam hal ini adalah pelaksanaan dalam latihan yang ada dalam lapangan dimana pasukan yang ada harus melaksanakan 2 tugas yang diberikan, dan selama melaksanakan tugas pasti ada disaat personel dalam kelompok pasti ditarik ke kelompok lain untuk melaksankan tugas dari satuan atas, tugas yang di berikan adalah tugas patroli tempur dan patroli penyelidikan guna mendapatkan informasi dari musuh. Actuating (Pelaksanaa. Pada pelaksanaannya banyak poin yang belum terlaksana secara maksimal. Pada pelaksanaan pengajaran di kelas, pemberian materi kurang maksimal karena pelaksanaan pemberian materi taktis belum sepenuhnya dilaksanakan, sehingga taruna hanya mendapatkan gambaran sesuai dari apa yang mereka rasakan dan pemberian teori praktek lapangan mengenai materi perang gerilya. Pelaksanaan di Optimalisasi Latihan Perang Gerilya Guna Meningkatkan Pengetahuan Taruna Korps Marinir lapangan, materi perang gerilya kurang maksimal diberikan kepada taruna. Hal ini ditunjukan dari pelaksanaan teori taktis yang masih menggunakan metode pre-memory. Hal ini dapat mengurangi bayangan dan gambaran dari taruna mengenai pelaksanaan latihan dan tugas operasi yang akan dilaksanakan setelah mereka lulus dari AAL menjadi seorang Danton Marinir. Controling (Pengawasa. Pada pengawasan yang dilakukan oleh Depmar sudah sesuai dengan laporan yang dibuat dalam Laporan Pelaksanaan Latihan Praktek. Sehingga dari segi pengawasan Depmar sudah melaksanakannya dengan baik dilihat dari pelaksanaannya dalam memberikan Laporan Pelaksanaan Latihan. Pemecahan Masalah Kemampuan Taktik Perang Gerilya Taruna korps Marinir harus ditingkatkan agar dapat memahami materi secara sempurna. Cara meningkatkan Pengetahuan Ketrampilan Taktik Perang Gerilya Taruna Korps Marinir untuk menjadi Danton Marinir yang siap melaksanakan Tugas Operasi diantaranya adalah: Dalam pelaksanaan pengajaran di kelas, materi-materi seperti Taktik Perang Gerilya tidak hanya dalam bentuk teori saja. Perlu adanya metode yang aplikatif dan bersifat teknis dalam pelaksanaannya,Sehingga pemaham -an taruna mengenai materi Perang Gerilya menjadi lebih baik. Pelaksanaan latihan lapangan yang dilaksanakan di Akademi harus dimaksimalkan, jumlah personel pendukung harus disesuaikan standar TOP latihan sehingga seluruh tahapan latihan dapat dilaksanakan. Dengan demikian materi pelajaran Perang Gerilya dapat dipahami dan dikuasai oleh taruna. Pengembangan latihan perang gerilya pada pendidikan komando bisa dilakukan dengan penambahan jumlah personel pendukung serta hal-hal yang mendukung pelaksanaan SIMPULAN Untuk mengatasi permasalahan belum maksimalnya materi Taktik Perang Gerilya sebagai bekal taruna korps marinir di kedinasan, maka Peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 2 DESEMBER 2024 e-ISSN : 3063-8445, dan p-ISSN : 3063-9514. Page 11-17 Waktu. pelaksanaan latihan taruna korps marinir untuk jam pelaksanaan dimaksimalkan dengan cara memanfaatkan waktu dari jam pelajaran yang tersedia sebaik mungkin, sehingga waktu pengajaran tidak terbuang sia-sia untuk melaksanakan pelajaran baik di kelas maupun di lapangan. Sarana Dan Prasarana Pendukung. Unsur pendukung dan materil pendukung dimaksimalkan dalam melaksanakan latihan praktek lapangan untuk materi Perang Gerilya. Dengan cara Meningkatkan jumlah pelatih yang mengajarkan taruna serta menambah jumlah personil BKO yang diambil dari satuan Kolat (Komando Latiha. Metode Pengajaran Materi. Pada pembelajaran di kelas, setiap pelajaran dibagi menjadi 2/3 pembelajaran teori kelas dan 1/3 pembelajaran teori praktek lapangan, sehingga taruna menjadi lebih paham dan mendapat gambaran untuk materi yang sedang Pengasuhan Departemen. Memaksimalkan pada pengasuhan Departemen dengan cara mengganti materi pengasuhan yang kurang diperlukan dengan materi operasi Gerilya, sehingga materi operasi darat dapat dipelajari lebih dalam dari materi pengasuhan Penyesuaian Tenue Taruna. Departemen mengajukan tentang usulan terhadap Tenue Taruna korps Marinir pada saat melaksanakan pelajaran yang memerlukan Tenue Sipil, sehingga kedepannya waktu pembelajaran materi untuk Taruna korps marinir tidak terkendala oleh tenue mereka yang kurang dalam pelaksanaan latihan supaya dapat berbaur dengan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA