JIWAKERTA: Jurnal Ilmiah Wawasan Kuliah Kerja Nyata Volume: 3. Nomor 2, 2022. Hal: 87-91 Pemberian Inhalasi Sederhana Sebagai Upaya Penanggulangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Isp. Pada Balita Cahya Tribagus Hidayat1*. Sasmiyanto1 1 Universitas Muhammadiyah Jember. cahyatribagus@unmuhjember. DOI: https://doi. org/10. 32528/jiwakerta. *Correspondensi: Cahya Tribagus Hidaya Email: cahyatribagus@unmuhjember. Published: 30 Desember 2022 Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Abstrak: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang umumnya menyerang balita. Tingkat mortalitas akibat ISPA mencapai 26,6%. Jumlah balita yang mengalami ISPA mencapai 51,4%. Tindakan inhalasi sederhana merupakan alternatif dalam penanggulangan balita dengan ISPA mengingat terapi inhalasi dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah dilakukan. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan ibu dalam melakukan tindakan inhalasi sederhana pada balita ISPA. Kegiatan pengabdian ini menggunakan tiga metode yaitu ceramah, demonstrasi dan tutorial. Kegiatan berlangsung dengan lancar, hal tersebut terlihat dari antusiasme Keywords: ISPA, balita, inhalasi Abstract: Acute Respiratory Infection (ARI) is a respiratory infection that generally affects toddlers. The mortality rate due to ARI reached The number of toddlers experiencing ISPA reached 51. Simple inhalation is an alternative in dealing with toddlers with ARI, considering that inhalation therapy is carried out in a simple and easy way. The purpose of this activity is to increase the mother's ability to perform simple inhalation actions on toddlers with ISPA. This service activity uses three methods, namely lectures, demonstrations and tutorials. The event went well, this was evident from the enthusiasm of the participants. Keywords: ARI, toddler, inhalation Pendahuluan Anak adalah individu yang unik dengan karakteristik yang berbeda dari orang dewasa (Yuliastati & Nining, 2. Anak mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi, balita, anak sekolah, dan remaja sampai akhirnya anak menjadi individu Meninjau dari aspek pertumbuhan dan perkembangan, daya tahan tubuh anak tidaklah sama dengan dewasa mengingat pada masa masa kanak- kanan akan lebih rentan terkena penyakit karena daya tahan tubuh yang belum optimal. Salah satu penyakit yang sering menyerang anak yaitu ISPA. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari (Alfarindah, 2. Istilah ISPA sendiri merujuk pada tiga komponen yang meliputi infeksi, http://jurnal. id/index. php/jiwakerta JIWAKERTA: Jurnal Ilmiah Wawasan Kuliah Kerja Nyata Volume: 3. Nomor 2, 2022 88 of 96 saluran pernapasan, dan akut (Hayati, et all, 2. Penyakit ISPA sendiri disebabkan oleh mikroorganisme baik berupa virus, bakteri, maupun jamur. Kejadian ISPA sendiri dapat terjadi pada semua kalangan usia, baik bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, maupun lansia. ISPA pada balita merupakan kejadian yang paling sering ditemukan. WHO sendiri mencatat jumlah penderita ISPA mencapai 400 sampai 500 juta jiwa dengan tingkat mortalitas sebesar 26,67% (WHO 2013 dalam Hayati, et all. Tingkat mortalitas akibat ISPA mencapai 98% pada bayi, anak, dan lanjut usia, hal tersebut bukanlah tanpa sebab mengingat ISPA yang berkelanjutan dapat menimbulkan komplikasi berupa pneumonia (Habibi, et all, 2. Angka kejadian ISPA sendiri di Desa Sukorambi masihlah tergolong tinggi, tercatat sebanyak 51,4% balita di Desa Sukorambi mengalami ISPA. Beberapa gejala yang muncul dari penyakit ISPA itu sendiri dapat berupa panas disertai sakit tenggorokan atau rasa nyeri saat menelan, pilek, batuk berdahak atau kering (Alfarindah, 2. Batuk berdahak dan pilek merupakan gejala tersering yang muncul dari ISPA itu sendiri. Adanya batuk berdahak dan pilek sering kali menyebabkan masalah pernapasan yang tidak lancar, hal tersebut terjadi karena akumulasi sekret dalam jalan Akumulasi sekret dalam jalan napas sendiri terjadi akibat proses infalamasi mikroorganisme yang ada di dalam jalan napas, sehingga menyebabkan obstruksi jalan napas yang mengakibatkan seseorang sulit untuk bernapas. Beberapa terapi farmakologi ataupun non farmakologi sering kali dipilih oleh penderita ISPA dalam mengatasi masalah ini. Pemberian terapai farmakologi saat ini masih menjadi alternatif utama dalam mengatasi akumulasi sekret pada penderita ISPA, namun pemberian terapi farmakologi tidak lepas beberapa efek samping yang dapat menimbulkan masalah baru, sehingga dibutuhkan alternatif melalui terapi non farmakologi dalam mengatasi akumulasi sekret dalam jalan Selama ini terapi non farmakologi yang sering digunakan oleh masyarakat yaitu melalui pemanfaatan tanaman herbal seperti jahe dan madu, namun hal tersebut masih memiliki banyak kekurangan lantaran pemberian ramuan herbal sering kali tidak disukai oleh anak- anak. Alternatif lain yang dapat dijadikan terapi non farmakologi dalam mengatasi akumulasi sekret yaitu dengan cara pemberian inhalasi sederhana. Terapi inhalasi sendiri diartikan sebagai terapi pemberian obat secara langsung ke saluran pernapasan melalui penghisapan dalam bentuk aerosol atau serbuk . ry powde. (Supriyatno & Nataprawira, 2. Pemberian terapi inhalasi sendiri dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah dilakukan di rumah. Terapi inhalasi sederhana merupakan inovasi yang dapat dilakukan guna mengencerkan sekret di dalam jalan napas melalui alat dan bahan yang sderhana seperti air hangat dan minyak kayu putih. Meskipun terapi inhalasi sederhana ini terlihat mudah, namun cara kerja terapi ini, tidak lain dan tidak bukan seperti obat mukolitik dan bronkodilator di dalam saluran pernapasan. JIWAKERTA: Jurnal Ilmiah Wawasan Kuliah Kerja Nyata Volume: 3. Nomor 2, 2022 89 of 96 Metode Kegiatan yang diangkat dalam pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam penatalaksanaan balita dengan ISPA khususnya dalam masalah pengeluaran sekret pada balita. Oleh karena itu diusulkan kerangka pemecahan masalah secara operasional sebagai berikut: Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan tentang: Pengetian penyakit ISPA terutama pada balita Penyebab penyakit ISPA pada anak Tanda dan gejala penyakit ISPA pada balita Penatalaksanaan ISPA pada balita memalui tindakan inhalasi sederhana. Demonstrasi pemberian inhalasi sederhana pada balita yang meliputi kegiatan Persiapan alat dan bahan, dalam konteks ini pemateri yaitu mahasiswa menyiapkan alat berupa baskom, minyak kayu putih, air hangat dan handuk. Memberikan contoh secara langsung proses inhalasi sederhana pada balita Sasaran pada pengabdian masyarakat ini adalah ibu yang memiliki balita. Sasaran ini ditujukan pada 15 ibu yang memiliki balita. Kegiatan pengabdian masyarakat diselenggarakan dengan melibatkan berbagai pihak. Pihak- pihak yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain: Ibu yang memiliki balita sejumlah 15 orang. Mahasiswa serta pelaksana kegiatan yang berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi kegiatan. Metode pembelajaran yang digunakan untuk mendukung keberhasilan program adalah sebagai berikut: Ceramah dan tanya jawab Metode ini dipilih untuk membangkitkan pengetahuan ibu yang memiliki balita dalam memahami konsep penyakit ISPA yang berupa pengertian, penyebab, tanda gejala, dan Metode ini digunakan selama proses penyuluhan kesehatan. Demonstrasi Metode ini dipilih untuk menjelaskan suatu proses kerja secara bertahap sehingga dapat memberi kemudahan bagi peserta dapat mengamati secara cermat proses pemberian inhalasi sederhana pada balita dengan ISPA. Proses demonstrasi ini meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan terminasi sesuai dengan Standart Opetional Procedure (SOP) Latihan/ praktik tutorial Pada metode ini peserta mempraktikkan kembali cara pemberian inhalasi sederhana pada balita ISPA sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh pemateri sebelumnya. Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan ini, dilakukan dengan melihat keterlibatan dan antusias peserta. Keterlibatan peserta dapat dilihat dari absen peserta kegiatan dan antusiasme peserta dilihat dari motivasi peserta selama kegiatan berlangsung. Digunakan juga metode praktik untuk mengetahui keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat ini. JIWAKERTA: Jurnal Ilmiah Wawasan Kuliah Kerja Nyata Volume: 3. Nomor 2, 2022 90 of 96 Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat membutuhkan waktu selama kurang lebih 90 menit. Kegiatan demontrasi pemberian inhalasi sederahana pada balita ISPA telah dilakukan pada tanggal 7 Maret 2021. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta. Hasil kegiatan yang telah dilaksanakan. Terkait dengan pengetahuan peserta. Pengetahuan peserta tentang ISPA pada awalnya sangatlah kurang, hal tersebut terlihat ketika pemateri menanyakan tentang pengertian ISPA secara umum maka semua peserta terdiam dan ada beberapa yang menjawab tidak tahu. namun setelah diberikan pendidikan kesehatan maka mayoritas peserta dapat memahami tentang ISPA pada balita serta bagaimana cara penanganannya. Antusiasme ibu dalam mengikuti demonstrasi inhalasi sederhana pada balita ISPA sangat Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang ISPA dan cara penanganannya, peserta terlihat antusias dalam mengikuti setiap langkah- demi langkah demonstrasi pemberian inhalasi sederhana pada balita ISPA. Setelah dilakukan feed back antusiasme ini disebabkan oleh beberapa alasan, seperti keingin tahuan ibu yang memiliki balita dalam melakukan tindakan inhalasi sederhana pada balita dengan ISPA di rumah, selain itu alat dan bahan yang mudah didapat juga meningkatkan antusiasme peserta dalam mengikuti demonstrasi sampai akhir. Ketiga hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah kendala yang dialami peserta selama proses kegiatan pemberian inhalasi sederhana pada balita ISPA. Salah satunya adalah masih ada beberapa ibu yang khawatir tentang pemberian inhalasi sederhana pada balita ISPA. Salah satunya adalah tentang keselamatan balita saat dilakukan inhalasi. Selain itu kendala yang dihadapi peserta adalah kendala dalam penyerapan informasi mengenai cara kerja inhalasi sederhana itu sendiri dalam proses pengenceran sekret dalam saluran Sehingga solusi yang ditawarkan oleh pemateri adalah memberikan pemahaman dengan cara menganalogikan tindakan inhalasi dengan tindakan yang sering dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, sehingga meningkatkan pemahaman ibu dalam memberikan tindakan inhalasi di rumah. Simpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pelaksanaan demonstrasi pemberian inhalasi sederhana pada balita ISPA adalah sebagai berikut: Demonstrasi pemberian inhalasi pada balita dengan ISPA berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Kegiatan demonstrasi mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan ibu yang memiliki balita dalam memberikan perawatan balita dengan ISPA terutama melalui tindakan inhalsi sederhana. Daftar Pustaka