Tersedia secara online https://e-journal. id/index. php/dv/ E-ISSN: 2775-4200 P- ISSN: 2580-8028 Jurnal Dhammavicaya: Volume: Vi Nomor: 1 Juli 2024 Halaman: 52-67 Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara Yohny1*. Adrian2. Isomudin3 Institut Nalanda. Indonesia Alamat: Jl. Pulo Gebang No. 107 Cakung Ae Jakarta Timur Koresprodensi penulis : yohnyyutakakuo@gmail. ABSTRACT The research of this study was to determine the effect of emotional intelligence and spiritual intelligence on the performance of Chong De Buddhist Sunday School (SMB) teachers in North Sumatra. The independent variables in this study are emotional intelligence (X. and spiritual intelligence (X. , and the dependent variable is teacher performance (Y). This study uses multiple regression analysis to determine the effect of emotional intelligence (X. and spiritual intelligence (X. on teacher performance (Y). In this study the determination of the sample using probability sampling technique with the number of samples used in this study as many as 86 respondents. This study uses primary data, data is collected by distributing questionnaires to respondents via google forms. Testing the research hypothesis using SPSS 20. 0 for Windows. The results showed that emotional intelligence (X. had a positive effect on the performance of teachers (Y) Buddhist Sunday School (SMB) Chong De North Sumatra with a correlation coefficient ry1 = 0. 645 and a coefficient of determination R2= 0. 416 and the regression equation: 1 = 83. 350X1. Spiritual intelligence (X. has a positive effect on teacher performance (Y) Buddhist Sunday School (SMB) Chong De North Sumatra with correlation coefficient ry2=0. 731 and coefficient of determination R2=0. 534 and regression equation 2 = 516 0. 438X2. Emotional intelligence (X. and spiritual intelligence (X. have a positive and significant effect together on the performance of teachers (Y) Buddhist Sunday School (SMB) Chong De North Sumatra with a correlation coefficient ry12 = 0. 805 and a coefficient of determination R2 = 0. 648 means emotional intelligence and emotional intelligence affect 64. 8% of teacher performance while the remaining 35. 2% is influenced by other independent variables that are not examined in this research. The regression equation in this study is as follows: 1,2= 58. 209X1 0. 329X2. Based on these results, to optimize teacher performance, policies and regulations are needed to increase emotional intelligence and spiritual intelligence. Keywords: Emotional Intelligence. Spiritual Intelligence. Teacher Performance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Variabel independen yang diteliti adalah kecerdasan emosional (X. dan kecerdasan spiritual (X. , sedangkan variabel dependen adalah kinerja guru (Y). Metode yang digunakan adalah analisis regresi berganda untuk menganalisis pengaruh kedua jenis kecerdasan terhadap kinerja guru. Penelitian ini melibatkan 86 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden via Google Forms. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan SPSS 20. 0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kinerja guru dengan koefisien korelasi ry1 = 0,645 dan koefisien determinasi RA = 0,416, serta persamaan regresi = 83,503 0,350X1. Kecerdasan spiritual juga berpengaruh positif dengan koefisien korelasi ry2 = 0,731 dan koefisien determinasi RA = 0,534, dengan persamaan regresi = 70,516 0,438X2. Secara bersama-sama, kedua variabel ini berpengaruh positif terhadap kinerja guru dengan koefisien korelasi ry12 = 0,805 dan koefisien determinasi RA = 0,648, yang berarti keduanya mempengaruhi 64,8% kinerja guru. Untuk meningkatkan kinerja guru, perlu adanya kebijakan untuk memperkuat kecerdasan emosional dan spiritual. Kata kunci: Kecerdasan Emosional. Kecerdasan Spiritual. Kinerja Guru . Riwayat Artikel : Diterima: 18-07-2024 Disetujui: 31-07-2024 Alamat Korespondensi: Yohny Institut Nalanda. Indonesia Jl. Pulo Gebang No. Cakung Ae Jakarta Timur Email : yohnyyutakakuo@gmail. LATAR BELAKANG Sekolah minggu Buddha (SMB) merupakan salah satu prasarana di sektor pendidikan keagamaan non formal dimana biasanya kegiatan belajar di lakukan di setiap hari Minggu. Sekolah minggu Buddha (SMB) juga merupakan salah satu kegiatan yang menunjang siswa di pendidikan formal dalam hal ke-Agamaan dan diharapkan dapat menjembatani siswa-siswa sekolah formal untuk mendapatakan pendidikan keagamaan Buddha dan budi pekerti yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah formal tersebut sehingga bisa menjadi pendukung dalam membimbing siswa untuk mencapai tujuan dengan memiliki karakter yang lebih positif serta bertanggung jawab sebagai siswa maupun sebagai umat Buddha. Pencapaian tujuan yang optimal dari pembelajaran SMB, sangat penting diperhatikan oleh para guru, salah satu faktor penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran adalah metode mengajar (Adrian. Pembinaan guru bisa menjadi perhatian bagi lembaga pendidikan. Penting untuk mengidentifikasi sedini mungkin terjadi ketika ada ketidak cocokan besar pada sifat orang yang melakukan pekerjaan itu. Kehadiran yang bisa kita temukan juga di lingkungan sekolah minggu Buddha (SMB). Salah satunya adalah fenomena beban kerja guru yang terlalu banyak dalam rentang waktu yang singkat dan terbatasnya sumber daya serta kebijakan dan kurikulum yang kaku sehingga guru perlu mengejar program khusus dan tidak banyak untuk improvisasi diri, kreatif dan inovatif. Guru memiliki sedikit kesempatan untuk membuat pilihan dan keputusan. Dalam kegiatan seperti mengajar sangat membutuhkan banyak energi, keterlibatan mendalam dalam berbagai jenis kegiatan diantaranya pertemuan sepulang sekolah minggu Buddha dengan orang tua murid, menyiapkan rencana pelajaran, menyiapkan rencana dan proyek jangka panjang, konseling siswa dan orang tua. Guru sebagai tenaga pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta sehingga memberikan efek terhadap perkembangan potensi siswa dalam konteks psikologis dan fisik, yakni bersifat positif terhadap apa yang dipelajarinya, baik dilihat dari tujuan serta manfaatnya dengan kata lain merupakan kondisi dimana menunjukan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di suatu sekolah (Hidayat, 2. Keberhasilan seorang pendidik dalam mendidik siswa di sekolah ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual seorang pendidik. Kecerdasan Emosional akan mempengaruhi kehidupan emosi seorang pendidik agar dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri sehingga dapat mengembangkan sikap yang lebih positif dalam membimbing dan memberikan pengajaran kepada siswa. Sedangkan Kecerdasan Spiritual bagi seorang pendidik bertujuan sebagai kompas penyadaran diri sehingga lebih bisa mengekpresikan diri secara kreatif serta lebih memiliki semangat dan keyakinan diri dalam mencintai pekerjaannya sebagai seorang pendidik. Berdasarkan pengamatan terhadap kinerja guru di Sekolah Minggu Buddha Chong De SeSumatera Utara melalui hasil survei pendahuluan: . Terdapat 63. 33% guru yang masih bermasalah dalam dimensi Kualitas Kerja, khususnya dalam melaksanakan proses perencanaan pembelajaran dengan ketrampilam dan karakter yang baik dalam mencapai hasil kerja. Terdapat 68. 33% guru yang masih bermasalah dalam dimensi Ketepatan Waktu, khususnya dalam menyelesaikan pekerjaan secara baik dengan menyelesaikan tema pembelajaran sesuai dengan target pembelajaran. Terdapat 81. 67% guru yang masih bermasalah dalam dimensi Pencapaian Tujuan khususnya dalam rangka perencanaan, pelaksanaan serta penilaian hasil . Terdapat 78. 33% guru yang masih bermasalah dalam dimensi Kemampuan dan Tanggung Jawab, khususnya dalam rangka peningkatan rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang pantas dan efektif. Terdapat 66. 67% guru yang masih bermasalah dalam dimensi Produktivitas, khususnya dalam menerapkan berbagai kegiatan yang mendukung pencapaian kualitas dan peningkatan pembelajaran. Konteks permasalahan dari beberapa variabel yang telah diuraikan sebelumnya dan dari hasil survei pendahuluan, peneliti mendapatkan informasi bahwa kinerja guru yang belum optimal dari guru-guru di Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De selaras dengan sifat, perilaku, kesadaran bersosial dan karakter dari para guru yang menyebabkan kinerja gurunya masih rendah. Adapun permasalahan yang timbul dari dampak atau pengaruh beberapa variabel terhadap kinerja di Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Seluruh Sumatera dapat dilihat dengan adanya perilaku guru yang mudah menyerah saat kepala sekolah memberikan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dikarenakan kurangnya motivasi guru terhadap diri sendiri, sehingga hal ini membuat guru-guru merasa ragu untuk bertanya dan berdiskusi sesama rekan guru ataupun kepada kepala sekolah, akibatnya guru cenderung belum dapat mengambil keputusan dengan tepat dalam menjalankan perkerjaan di sekolah, begitu juga rendahnya tingkat optimalisasi guru dalam memberikan materi pelajaran serta improvisasi diri terhadap tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Hal ini menyebabkan masalah yang timbul pada kinerja guru dan mencakup 47% permasalahan dalam penelitian ini. Mengingat kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual adalah dua hal yang sama pentingnya dalam meningkatkan kinerja seorang guru untuk tercapaiannya tujuan pembelajaran dengan memaksimalkan potensi diri yang ada dalam guru itu sendiri serta dengan mengoptimalkan kemampuan mengajar tanpa terbebani stres kerja dalam menghadapi siswa dan pekerjaannya di Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Seluruh Sumatera Utara. KAJIAN PUSTAKA Kinerja Guru Kinerja guru, menurut Barnawi dan Mohammad Arifin . 7: . , dapat didefinisikan sebagai tingkat keberhasilan guru dalam menyelesaikan tugas dan pendidikan sesuai dengan didasarkan pada standar kinerja yang telah ditetapkan untuk jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan. Kinerja pendidik dapat diamati dan dinilai berdasarkan kompetensi yang diperlukan oleh setiap guru. Menurut Departemen Pendidikan Georgia, ada tiga indikator: . Perencanaan guru untuk program kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Evaluasi kegiatan kecerdasan emosional. Kecerdasan Emosional Menurut Goleman . , kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, mengendalikan, dan mengekspresikannya dengan tepat, termasuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan mengelola emosi secara efektif dalam mengembangkan hubungan sosial dengan orang lain. Menurut Goleman . alam Wibowo. , indikator adalah sebagai berikut: . Kesadaran diri (Self Awarenes. Pengaturan diri (Self-Regulatio. Memotivasi diri (Self-Motivatio. Empati (Empat. Keterampilan sosial (Social Skil. Kecerdasan Spiritual Menurut Zohar dan Marshall . , kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri seseorang yang berhubungan dengan kearifan jiwa, sehingga seseorang dapat menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Menurut Sukidi . , ada lima indikator: . Jujur. Keterbukaan. Pengetahuan Diri. Fokus. Menurut Munandar . , kreativitas secara spiritual dan non-dogmatis didefinisikan sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi kombinasi baru yang memiliki makna sosial. Kreativitas didefinisikan sebagai inisiatif untuk suatu proses atau ide yang bermanfaat, tepat, dan bernilai untuk tugas yang sesuai dengan pedoman atau petunjuk yang tidak lengkap yang menuntun kita untuk mengerti atau menemukan sesuatu yang baru. Menurut Suryana . , ada lima indikator kreativitas diantaranya ingin tahu, optimis, fleksibel, mencari solusi, dan suka berimajinasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan terbatas pada guru-guru sekolah minggu Buddha (SMB) di Maha Vihara Chong De seluruh Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan dengan rentang waktu 6 bulan, terhitung Mei 2022 sampai dengan Oktober 2022. Proses penelitian sesuai kaidah penelitian ilmiah dimulai dari pemilihan masalah, survei awal penelitian kepada 30 orang guru yang di pilih secara acak dari berbagai kota di Indonesia, kemudian masalah dirumuskan dilanjutkan dengan merumuskan kerangka berpikir serta hipotesis penelitian. Adrian . menambahkan bahwa metode penelitian juga berkaitan dengan pendekatan, variabel, sumber data, penyusunan instrumen penelitian yang reliabel dan valid, pengumpulan data dengan teliti, analisis data yang sesuai dengan jenis data, dan diakhiri dengan menyimpulkan hasil penelitian, serta penyusunan laporan penelitian yang komprehensif. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan guru sekolah minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara sebanyak 110 orang. Sampel menurut Sugiyono . adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel dapat didefinisikan sebagai suatu bagian yang ditarik dari populasi. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dapat didefinisikan sebagai suatu bagian yang ditarik dari Arikunto . mengutarakan bahwa AuSampel adalah satu bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili populasiAy. Berdasarkan pendapat tersebut,teknik penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui Probability Sampling, yakni teknik sampling untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Secara aplikasi teknik probability sampling dilakukan dengan cara Simple Random Sampling, yaitu cara pengambilan dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata . dalam anggota populasi tersebut. Jadi dalam penelitian ini ukuran sampel minimal yang akan diambil adalah sebanyak 86 guru dari populasi sebanyak 110 guru Sekolah Minggu Buddha Chong De Se-Sumatera Utara. dengan taraf signifikansi () sebesar 5%. Instrumen penelitian dengan menetapkan indikator setiap variabel yang nantinya diproksikan dalam butir-butir kuisioner dengan definisi sebagai berikut. Setelah data yang dikumpulkan memenuhi syarat normalitas, multikolenieritas dan heteroskedastisitas, dan linearitas maka data yang dikumpulkan diuji hubungan antar variabelnya dengan menggunakan analisis regresi linier bergada dengan variabel kecerdasan emosional (X. , kecerdasan spiritual (X. berpengaruh terhadap kinerja guru (Y). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian skor gejala pusat . entral tendenc. rata-rata . yaitu sebesar 126,35 lebih besar dari skor median 126 dan skor modus 126. Penyebaran distribusi kecerdasan emosional (X. SMB Chong De Se-Sumatera Utara dapat disimak pada tabel Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Kecerdasan Emosional (X. Kelas Interval Kelas 100 Ae 106 Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif (%) 107 Ae 113 114 Ae 120 121 Ae 127 128 Ae 134 135 Ae 141 142 Ae 148 149 - 155 Jumlah Sumber: Data Diolah . Posisi terbesar penelitian kecerdasan emosional (X. Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De yang disajikan pada Tabel 13 di atas berada pada kelas interval antara 121 - 127 sebesar 39,53% dari populasi. Posisi ke-2 ditempati oleh kelas interval 128 Ae 134 sebesar 25,58%. Posisi ke-3 ditempati kelas interval 114 - 120 sebesar 16,28%. Posisi ke-4 ditempati kelas interval 135 - 141 sebesar 12,79%. Posisi ke-5 ditempati kelas interval 100 - 106 sebesar 2,33%. Posisi ke-6 ditempati kelas interval 142 Ae 148 sebesar 2,33%. Posisi ke-7 ditempati kelas interval 149 Ae 155 sebesar 1,16% dan posisi ke-8 ditempati kelas interval 107 Ae 113 sebesar 0%. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (X. SMB Chong De belum merata dan perlu ditingkatkan kecerdasan emosional (X. di Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Seluruh Sumatera Utara. Berdasarkan hasil analisis, skor gejala pusat . entral tendenc. rata-rata . yaitu sebesar 130,60 lebih besar dari skor median 130 dan lebih besar dari skor modus 128. Penyebaran distribusi data pada variabel kecerdasan spiritual (X. Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Distribusi Frekuensi Variabel Kecerdasan Spiritual (X. Kelas Interval Kelas 115 - 119 120 - 124 125 - 129 130 - 134 Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif (%) 135 - 139 140 - 144 145 - 149 150 - 154 Jumlah Sumber: Data Diolah . Posisi ke-1 berada pada kelas interval antara 130 - 134 sebesar 29,07% dari populasi. Posisi ke-2 ditempati oleh kelas interval 125 - 129 sebesar 25,58%. Posisi ke-3 ditempati kelas interval 135 - 139 sebesar 15,12%. Posisi ke-4 ditempati kelas interval 120 Ae 124 sebesar 13,95%. Posisi ke-5 ditempati kelas interval 140 - 144 sebesar 5,81%. Posisi ke-6 ditempati kelas interval 115 - 119 sebesar 4,65%. Posisi ke-7 ditempati kelas interval 145 - 149 sebesar 3,49% dan posisi ke-8 ditempati kelas interval 150 - 154 sebesar 2,33%. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual (X. SMB Chong-De belum merata serta perlu ditingkatkan kecerdasan spiritual (X. Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Seluruh Sumatera Utara. Berdasarkan hasil analisis, skor gejala pusat . entral tendenc. rata-rata . yaitu sebesar 127,78 lebih besar dari skor median 127,50 dan skor modus 126. Penyebaran distribusi frekuensi data kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Distribusi Frekuensi Variabel Kinerja Guru (Y) Kelas Interval Kelas 116 - 119 120 - 123 124 - 127 128 - 131 132 - 135 136 - 139 140 - 143 Jumlah Sumber: Data Diolah . Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif (%) Posisi ke-1 penelitian kinerja guru (Y)Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De berada pada kelas interval antara 124 - 127 sebesar 32,56% dari populasi. Posisi ke-2 ditempati oleh kelas interval 128 Ae 131 sebesar 29,07%. Posisi ke-3 ditempati kelas interval 132 - 135 sebesar 17,44%. Posisi ke-4 ditempati kelas interval 120 Ae 123 sebesar 12,79%. Posisi ke-5 ditempati kelas interval 116 - 119 sebesar 4,65%. Posisi ke-6 ditempati kelas interval 136 Ae 139 sebesar 2,33%. Posisi ke-7 ditempati kelas interval 140 - 143 sebesar 1,16%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De belum merata serta perlu ditingkatkannya kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Seluruh Sumatera Utara. Pengujian Persyarat Analisis Perhitungan normalitas galat taksiran Y - 1 menggunakan SPSS V. 20 pada kolom Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro- Wilk diperoleh kinerja guru (Y) Lhitung = 0,990 dan kecerdasan emosional (X. Lhitung = 0,972 sementara itu Ltabel:. =0. 05:n=. = 0,096 dan Ltabel:. =0. 01:n=. = 0,111. Persyaratan normal, jika nilai Sig. lebih dari 0,05 artinya data berasal dari populasi yang berdistribusi normal adalah Lhitung > Ltabel. Dengan demikian galat baku taksiran Y-1-2 berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas No. Galat Lhitung Ltabel =0. 05:n=. Y-1 0,597 0,096 Y-2 0,657 0,096 Syarat Normal: Lhitung > Sig. Sumber: Data Diolah . ( =0. 01:n=. 0,111 0,111 Keteranga Normal Normal Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas PENGELOMPOKAN Sig. Y atas X1 0,400 Y atas X2 0,180 Syarat homogen: Sig. > 0,05. Sumber: Data Diolah . Keterangan Homogen Homogen Berdasarkan data diatas menunjukkan nilai sig melebihi 0,05 sehingga kelompok data kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritual berasal dari populasi yang homogen. Tabel 6. Hasil Uji Multikoleniaritas Model Kecerdasan Emosional Kepemimpinan Spiritual Sumber: Data Diolah . Collinearity Statistics Tolerance VIF 0,773 1,293 0,773 1,293 Variabel kecerdasan emosional (X. memiliki nilai tolerance sebesar 0,773 dan nilai VIF sebesar 1,293 serta variabel kecerdasan spiritual (X. dengan nilai tolerance sebesar 0,773 dan nilai VIF sebesar 1,293. Dengan demikian, setiap variabel bebas memiliki nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10 maka model persamaan regresi dalam penelitian ini terbebas dari masalah Tabel 7. Hasil Uji Linieritas PENGELOMPOKAN Sig. Y dan X1 0,689 Y dan X2 0,162 Syarat Homogen: Sig > 0,05 Keterangan Linier Linier Sumber: Data Diolah . Hasil perhitungan uji linearitas dengan menggunakan SPSS V. 20 terlihat pada kolom Sig. Deviation from Liniearity sebesar 0,689 lebih besar dari 0,05 . ,689 > 0,. Persyaratan linier, jika nilai Sig. lebih dari 0,05 artinya kecerdasan emosional dan kinerja guru memiliki hubungan yang linier. Hasil perhitungan uji linearitas dengan menggunakan SPSS V. 20 terlihat pada kolom Sig. Deviation from Liniearity sebesar 0,162 lebih besar dari 0,05 . ,162 > 0,. artinya kecerdasan spiritual dan kinerja guru memiliki hubungan yang linier. Pengujian Hipotesis Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Korelasi antara Kecerdasan Emosional (X. terhadap Kinerja Guru (Y) Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Coefficients Std. Error Kecerdasa . Emosional Sumber: Data Diolah . Standardized Coefficients Beta Persamaan hipotesis teruji bila signifikansi < 0,05 yang berarti variabel X1 terdapat Berdasarkan perhitungan yang diperoleh, tingkat signifikansi kecerdasan emosional (X. 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 7,733 > ttabel 1,663 sehingga dapat disimpulkan Nilai thitung = 7,733 dan nilai ttabel . ,05. = 1,663 serta nilai ttabel . ,01. = 2,372. Hal ini berarti thitung > ttabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa persamaan regresi signifikan sehingga hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis (H. ditolak yang berarti kecerdasan emosional (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru (Y). Tabel 9. Hasil Uji Regresi Linieritas dan Signifikansi Persamaan Regresi Y terhadap X1 ANOVAa Model Regression Sum of Squares Mean Square Sig. Residual Total Sumber: Data Diolah . Pengujian persyaratan linearitas persamaan regresi menggunakan uji F dengan ketentuan Fhitung > Ftabel persamaan regresi tersebut dikatakan linier. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh skor Fhitung = 59,798 dan skor pada Ftabel . ,05. = 3,95 skor Ftabel . ,01. = 6,95. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kecerdasan emosional (X. terhadap kinerja guru (Y). Dengan demikian persamaan regresi = 83,503 0,350X1 berbentuk linier . aris luru. Persamaan tersebut dapat diterjemahkan nilai konsisten variabel kecerdasan emosional adalah sebesar 83,503. Koefisien regresi variabel X1 sebesar 0,350 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 satuan atau 1% kecerdasan emosional (X. , maka nilai kinerja guru (Y) bertambah sebesar 0,350 atau 35,0%. Koefisien regresi tersebut bernilai positif sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh X1 terhadap variabel Y adalah positif. Tabel 10. Hasil Uji Koefisien Korelasi antara Kecerdasan Spiritual (X. terhadap Kinerja Guru (Y) Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Coefficients Std. Error Kecerdasan Spiritual Sumber: Data Diolah . Standardized Coefficients Beta Sig. Berdasarkan pada Tabel 10 di atas maka pengaruh fungsional antara kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) dalam persamaan regresi sederhana adalah : = 70,516 0,438 X2. Untuk menguji ada tidaknya pengaruh antara kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) maka dilakukan uji signifikan persamaan regresi dengan uji-t. Persamaan hipotesis teruji bila signifikansi < 0,05 yang berarti variabel X2 terdapat berpengaruh. Berdasarkan perhitungan yang diperoleh, tingkat signifikansi kecerdasan spiritual (X. 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 9,819 > ttabel 1,663 sehingga dapat disimpulkan berpengaruh. Nilai thitung = 9,819 dan nilai ttabel . ,05. = 1,663 serta nilai ttabel . ,01. = 2,372. Hal ini berarti thitung > ttabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa persamaan regresi signifikan sehingga hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis (H. ditolak yang kecerdasan spiritual (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru (Y). Pembahasan Hasil Penelitian Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan sangat signifikan kecerdasan emosional (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Se-Sumatera Utara, dengan persamaan regresi 1 = 83,503 0,350X1 dengan skor Persamaan hipotesis teruji t hitung > t tabel = 7,733 > 1,663 dan Fhitung = 59,798 > Ftabel . ,05. = 3,95. Ftabel . ,01. = 6,95, yang artinya bahwa persamaan regresi positif dan sangat signifikan. Persamaan regresi tersebut bersifat linier, skor koefisien korelasi dihasilkan sebesar ry1 = 0,645, menunjukkan bahwa tingkat kekuatan hubungan termasuk kategori kuat antara kecerdasan emosional (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Nilai koefisien determinasi kecerdasan emosional (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara adalah. Hal ini mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel kecerdasan emosional (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara adalah sebesar 41,6%. Sisanya sebesar 58,4% disumbangkan oleh variabel-variabel lain yang memiliki hubungan dengan peningkatan kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Se-Sumatera Utara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hendrastuti, dkk. SMK Saraswati 1 Denpasar dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa Kecerdasan Emosional terbukti positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Hasilnya ditunjukkan oleh garis adalah koefisien positif 0,382 dengan Statistik T = 2. 085 (T-statistic > 1,. Penelitian yang dilakukan oleh Ekowati, dkk. dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif terhadap kinerja guru SDN Kec. Pino Kabupaten Bengkulu Selatan. Hasil hipotesis pengujian ini guru dapat mengendalikan emosinya dengan baik serta memiliki ketrampilan kesadaran diri dalam menyelesaikan masalah sebagai bentuk rasa tanggung jawab sehingga kinerja guru semakin optimal. Setelah penelitian terbukti terdapat pengaruh positif dan signifikan, peneliti dengan konsisten dan berani menunjukkan bahwa hasil penelitian ini memperkuat penelitian yang terdahulu. Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan sangat signifikan kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Se-Sumatera Utara, dengan persamaan regresi 2 = 70,516 0,438X2 dengan skor Persamaan hipotesis teruji t hitung > t tabel = 9,819 > 1,663 dan Fhitung = 96,415 > Ftabel . ,05. = 3,95. Ftabel . ,01. = 6,95, yang artinya bahwa persamaan regresi positif dan sangat signifikan. Persamaan regresi tersebut bersifat linier, skor koefisien korelasi dihasilkan sebesar ry2 = 0,731, menunjukkan bahwa tingkat kekuatan hubungan termasuk kategori yang kuat antara kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Nilai koefisien determinasi kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De adalah R2x2 = 0,534. Hal ini mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara adalah sebesar 53,4%. Sisanya sebesar 46,6% disumbangkan oleh variabel-variabel lain yang memiliki hubungan dengan peningkatan kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De SeSumatera Utara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hendrastuti, dkk. SMK Saraswati 1 Denpasar dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa kecerdasan spiritual terbukti positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Hasilnya ditunjukkan oleh garis adalah koefisien positif 0,362 dengan Statistik T = 2. 446 (T-statistic > 1,. Penelitian yang dilakukan oleh Ekowati, dkk. dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa kecerdasan spiritual memiliki pengaruh positif terhadap kinerja guru SDN Kec. Pino Kabupaten Bengkulu Selatan. Hasil hipotesis pengujian ini adalah guru memiliki kesadaran diri dan semangat pribadi untuk melayani serta kecenderungan untuk melihat keterkatian antara berbagai hal . erpandangan holisti. sehingga meningkatkan kemampuan kerja yang dimiliki oleh guru. Setelah penelitian terbukti terdapat pengaruh positif dan signifikan, peneliti dengan konsisten dan berani menunjukkan bahwa hasil penelitian ini memperkuat penelitian yang terdahulu. Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif dan sangat signifikan kecerdasan emosional (X. dan kecerdasan spiritual (X. secara bersama-sama terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara, dengan persamaan regresi 3 = 58,479 0,209 X1 0,329 X2 dengan skor Persamaan hipotesis teruji Fhitung = 76,504 > Ftabel . ,05. = 3,11. Ftabel . ,01:. = 4,67, yang artinya bahwa persamaan regresi berpengaruh positif dan sangat signifikan. Persamaan regresi tersebut bersifat linier, skor koefisien korelasi dihasilkan sebesar ry1. 2 = 0,805, menunjukkan bahwa tingkat kekuatan hubungan termasuk kategori sangat kuat antara kecerdasan emosional (X. dan kecerdasan spiritual (X. secara bersama-sama terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Nilai koefisien determinasi kecerdasan emosional (X. dan kecerdasan spiritual (X. terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De adalah R2x12 = 0,648 Hal ini mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual (X. secara bersama-sama terhadap kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara adalah sebesar 64,8%. Sisanya sebesar 35,2% disumbangkan oleh variabel-variabel lain yang memiliki hubungan dengan peningkatan kinerja guru (Y) Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ekowati, dkk. dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama memiliki pengaruh simultan terhadap kinerja guru SDN Kec. Pino Kabupaten Bengkulu Selatan. Hal ini berarti bahwa, jika kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama di tingkatkan maka kinerja guru SDN Kec. Pino Bengkulu Selatan juga akan meningkat. Hasil hipotesis pengujian ini adalah guru termotivasi untuk bekerja lebih baik, saat hasil pekerjaan guru diberikan apresiasi dan guru merasa bersemangat untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang guru miliki dengan sebaik-baiknya. Setelah penelitian terbukti terdapat pengaruh positif dan signifikan, peneliti dengan konsisten dan berani menunjukkan bahwa hasil penelitian ini memperkuat penelitian yang terdahulu. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Secara ideal dari penelitian dengan melakukan tahapan penelitian kuantitatif melalui proses analisa hasil pengolahan data, perhitungan statistik, pengujian Analisa Hipotesis dan pembahasan hasil penelitian yang kemudian diperkuat dengan tahap penelitian kualitatif melalui proses observasi, wawancara mendalam dan pengumpulan dokumen, maka penelitian mengenai pengaruh kinerja guru sekolah minggu buddha (Y) di Chong De Se-Sumatera Utara melalui kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual menghasilkan beberapa kesimpulan penelitian yang dirinci sebagai berikut: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Se-Sumatera Utara dengan koefisien ry1 = 0,645, koefisien determinasi . 2 = 0,416 . ,6%) dengan persamaan regresi Y= 83,503 0,350X1. Hal ini berarti semakin baik kecerdasan emosional maka semakin tinggi kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Dari hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dan mengatur kehidupan emosinya untuk dapat menyelesaikan masalah dan mampu melakukan penyesuaian diri melalui ketrampilan kesadaran diri, pengendalian diri sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru yang meliputi kualitas kerja serta mencapai tujuan pembelajaran dan mampu juga bertanggung jawab menjadi seorang pendidik. Jika kecerdasan emosional semakin baik maka akan mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara dimana guru mampu mengambil keputusan dengan bijak saat proses diskusi di dalam kelas serta mudah beradaptasi dengan orang lain yang ada di lingkungan sekolah. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel kecerdasan spiritual dengan variabel kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong-De Se-Sumatera Utara. Hal ini berarti semakin tinggi kecerdasan spiritual maka kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara akan semakin meningkat, dengan koefisien ry2 = 0,731, koefisien determinasi . 2 = 0,534 . ,4%) dengan persamaan regresi Y = 70,516 0,438X2. Hal ini berarti semakin tinggi kecerdasan spiritual maka semakin meningkatkan kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Dari hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dalam konteks makna yang lebih luas, seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain sehingga diharapkan peningkatan kinerja guru yang meliputi produktivitas atau hasil kerja seorang guru dalam menentukan target pembelajaran yang sesuai dengan waktu dan standarisasi yang sudah diberikan (SOP) pembelajaran, hal ini akan mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara dimana guru menjalin komunikasi harmonis dengan siswa saat kegiatan diluar kelas dan guru senantiasa memberitahukan kepada orang tua siswa untuk menekankan nilai kejujuran di rumah. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama- sama dengan variabel kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien ry12 = 0,805, koefisien determinasi . 2 = 0,648 . ,8%) dengan persamaan regresi Y = 58,479 0,209 X1 0,329 X2. Berarti semakin baik kecerdasan emosional dan semakin tinggi kecerdasan spiritual secara bersama - sama dapat meningkatkan kinerja guru Sekolah Minggu Buddha (SMB) Chong De Se-Sumatera Utara dimana guru selalu teliti dalam menyelesaikan program perencanaan pembelajaran dan mampu menyelesaikan materi pelajaran sebelum pergantian pelajaran berikutnya. Saran Pihak sekolah khususnya kepala sekolah dapat memberikan semangat dan motivasi kepada guru dalam menghadapi kesulitan pekerjaan di sekolah sehingga akan menimbulkan semangat dalam diri guru untuk berusaha lebih keras dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi di sekolah. Pihak sekolah dapat membangun komunikasi yang baik antar warga sekolah untuk memahami kondisi sekolah untuk meningkatkan komunikasi yang baik antar warga sekolah sehingga sesama warga sekolah akan saling tolong menolong untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi di sekolah. DAFTAR PUSTAKA