JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 KAJIAN MORFOLOGI KAMPUNG KAPITAN SEBAGAI KAWASAN PERMUKIMAN TEPIAN AIR YANG BERKELANJUTAN (STUDI KASUS: KAMPUNG KAPITAN 7 ULU, PALEMBANG) Medi Ardi Yansyah. Citra Persada. 1, . Jurusan Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Lampung Bandar Lampung. Lampung. Indonesia e-mail: mediardiyansyah2002@gmail. ABSTRAK Palembang merupakan salah satu kota di Indonesia dan merupakan ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis. Kota Palembang dibelah oleh Sungai Musi menjadi dua Kampung Kapitan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang terletak di tepi Sungai Musi, tepat di sisi barat Jembatan Ampera yang dikenal juga dengan daerah Tujuh Ulu. Munculnya Kampung Kapitan pada awalnya disebabkan oleh kebutuhan atau kepentingan masyarakat atas transportasi dan kebutuhan terhadap air. Perkembangan yang terjadi di Kampung Kapitan cukup pesat dan telah mempengaruhi kondisi lingkungan di kampung tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji morfologi Kampung Kapitan sebagai permukiman tepian air dan mencari tahu apakah Kampung Kapitan telah berkembang menjadi permukiman berkelanjutan. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan pengumpulan data berdasarkan hasil studi literatur dan observasi langsung ke lapangan. Setelah mengkaji sejarah Kampung Kapitan, faktor perkembangan morfologi, elemen morfologi, jenis tepian air, pola permukiman, dan kondisi lingkungan di Kampung Kapitan, permasalahan yang didapatkan dari perkembangan permukiman yaitu masalah pada lingkungan hidup yang buruk. Morfologi Kampung Kapitan mengalami perubahan yang sangat jauh dari tahun ke tahun, ditandai dari berkurangnya ruang terbuka dan hilangnya area bantaran sungai yang berubah menjadi area pemukiman. Kurangnya pemahaman masyarakat terkait efisiensi energi dan transportasi sehingga tidak tersedianya jalur kendaraan dan lahan parkir di Kampung Kapitan. Perilaku hidup tidak sehat, membuktikan bahwa lingkungan di Kampung Kapitan belum memenuhi kriteria dari lingkungan tepian air berkelanjutan. Kata Kunci: Kampung Kapitan. permukiman berkelanjutan ABSTRACT Palembang is one of the cities in Indonesia and is the capital of South Sumatra Province. Geographically. Palembang City is divided by the Musi River into two parts. Kapitan Village is one of the cultural heritage areas located on the banks of the Musi river right on the west side of the Ampera bridge which is also known as the Tujuh Ulu area. The emergence of Kapitan Village was initially caused by the community's need or interest in transportation and the need for water. The development in Kapitan Village was quite rapid and affected the environmental conditions in the The purpose of this study is to examine the morphology of Kapitan Village as a waterfront settlement and find out whether Kapitan Village has developed into a sustainable settlement. The research used is qualitative and data collection is based on the results of literature studies and direct field observation. After studying the history of Kapitan Village, morphological development factors, morphological elements, types of water banks, settlement patterns, and environmental conditions in Kapitan Village, the problems obtained from the development of settlements are problems with a bad environment. The morphology of Kapitan Village has changed very far from year to year, this is marked by reduced open space and the loss of riverbank areas that turn into residential areas, a lack of community understanding regarding energy efficiency and transportation so that there are no vehicle lanes and parking lots in Kapitan Village. Unhealthy living behaviors prove that the environment in Kapitan Village has not met the criteria of the sustainable waterfront environment. Keywords: Kapitan Village. sustainable settlements Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 PENDAHULUAN alembang merupakan salah satu kota di Indonesia dan merupakan ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan, secara geografis Kota Palembang dibelah oleh Sungai Musi menjadi dua bagian yaitu seberang ilir AyIliranAy dibagian utara dan seberang ulu AuUluanAy di bagian selatan. Sejak dahulu Sungai Musi digunakan masyarakat Palembang sebagai transportasi air yang sangat membantu bagi perekonomian masyarakat sekitar, tak hanya itu tepian Sungai Musi pun digunakan sebagai tempat tinggal baik oleh penduduk pribumi hingga etnis pendatang seperti etnis Tionghoa. Kampung Kapitan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang terletak di tepi Sungai Musi tepat di sisi barat Jembatan Ampera yang dikenal juga dengan daerah Tujuh Ulu. Dahulu kawasan ini adalah tempat yang pertama kali menjadi kawasan tempat tinggal bagi warga Tionghoa pada masa penjajahan Belanda. Kampung Kapitan menjadi kawasan permukiman yang dipengaruhi oleh tiga lapis budaya yaitu budaya Cina. Belanda, dan Pelembang. Sama halnya yang terjadi di alun-alun lama Semarang yang dimana terdapat lapisan budaya era Islam. Kolonial Belanda, dan Kemerdekaan . Pencampuran budaya ini membuat Kampung Kapitan ini memiliki ciri khas pada rumah tradisional yang berbeda dibandingkan dengan rumah limas tradisional Palembang pada umumnya. Perkembangan permukiman yang terjadi di Kampung Kapitan, para penduduk di kampung tersebut mampu beradaptasi dari hunian di atas air dengan rumah rakitnya kemudian berpindah ke darat dengan rumah panggungnya dengan segala macam percampuran elemen arsitekturnya . Morfologi dalam konteks arsitektur merupakan konsepsi mengenai struktur dan bentuk ruang serta lingkungan binaan dalam suatu wilayah. Sima dan Zhang . menyebutkan Elemen morfologi kota yakni pola jalan . treet patter. , tata guna lahan . and us. , massa bangunan . uilding mas. , dan ruang terbuka . pen spac. Pengetahuan mengenai elemen morfologi kota dapat memahami sejarah dan perkembangan suatu kota, sehingga dapat menjadi acuan dalam perancangan kota guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta meningkatkan daya tadi kota itu sendiri. Sungai Musi selain menjadi kawasan terbuka . pen spac. juga berperan sebagai sumber kehidupan dan sarana transportasi bagi masyarakat setempat. Lokasi Sungai Musi yang berada di kota dan merupakan bagian dari perkembangan kota tersebut merupakan hal yang penting. Permukiman di tepian sungai yang muncul seperti Kampung Kapitan pada awalnya disebabkan oleh kebutuhan atau kepentingan atas transportasi dan kebutuhan terhadap air. Kondisi permukiman yang tidak tertata dan terawat dengan baik menyebabkan permasalahan tersendiri seperti lingkungan yang kumuh akibat dari kebiasaan masyarakat yang buruk hingga halaman rumah berupa rawa-rawa yang kotor sehingga lingkungan yang dihasilkan sangat tidak layak untuk ditempati. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka penerapan lingkungan berkelanjutan sangatlah penting agar terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat dan dapat berlanjut ke generasi yang akan datang. Sasaran dari penelitian ini adalah mengetahui morfologi dan kondisi fisik permukiman Kampung Kapitan. Kemudian membandingkan apakah perkembangan Kampung Kapitan telah sesuai dengan penerapan permukiman berkelanjutan dan apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan Kampung Kapitan sebagai permukiman berkelanjutan. II. METODE Metodologi yang digunakan pada penelitian ini yakni penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berfokus pada pembuktian hipotesis non angka atau bersifat deskriptif, dengan melakukan observasi secara langsung pada objek yang diteliti sehingga penulis mengetahui kondisi lapangan. Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan berdasarkan studi literatur dan observasi Studi literatur dilakukan agar penulis mengetahui dasar-dasar tentang kawasan permukiman tepian air berkelanjutan yang digunakan untuk memperkuat argumentasiKajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 argumentasi yang ada. Observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui keadaan fisik Kampung Kapitan dan bangunan-bangunan yang terkait dan data tersebut dapat digunakan sebagai studi preseden dan studi banding bagi penulis. Tahapan penelitian yang dilakukan pertama kali adalah melakukan observasi pada kondisi permukiman tepian air Kampung Kapitan. Kemudian melakukan pengumpulan data-data dari studi literatur yang dimaksudkan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang masih kasar yang terlihat di lapangan. Selanjutnya adalah melakukan penyajian data yang bertujuan pada penarikan sebuah kesimpulan dan menganalisis seluruh informasi yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Morfologi Kampung Kapitan Faktor Sejarah dan Kebudayaan Sejak dahulu Kota Palembang sudah menjadi tujuan migrasi oleh masyarakat dari berbagai daerah salah satunya yaitu pedagang Cina yang masuk ke Palembang pada tahun 1365-1407 pada masa kehancuran Kerajaan Sriwijaya hingga sebelum berdirinya Kerajaan Palembang Darussalam, yang pada saat itu Kota Palembang dalam keadaan tidak terurus dan tidak ada penguasa . Berita Cina mengabarkan bahwa pada masa kekosongan kekuasaan tersebut palembang dikuasai oleh orang-orang Nanhai dengan menobatkan Liang Tau-Ming bersama putranya sebagai penguasa tertinggi . Etnis Cina yang mampu membaur dengan masyarakat asli Palembang bahkan sampai menikah dengan penduduk setempat hingga mendirikan serikat dagang dan menempatkan Palembang sebagai kota niaga dan basis dagang yang besar. Kemampuan Liang Taow Ming dalam mengikat persatuan antar masyarakat Cina menjadikannya komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hingga pada saat Pemerintah Kolonial Belanda berkuasa atas Kesultanan Darussalam Belanda mengangkat AoPerwiraAo Cina yang disebut dengan sebutan Kapitan . ekarang kapte. yang ditugaskan untuk menjaga keamanan wilayah dan perdagangan candu . Tjoa Kie Tjuang merupakan pemimpin masyarakat Cina yang pertama pada masa pemerintahan Belanda dengan pangkat Mayor dengan masa jabatan dari tahun 1830-1855 di kawasan 7 Ulu. Kemudian digantikan oleh putranya bernama Tjoa Ham Him dengan pangkat Kapten. Selain itu juga diangkat seorang Letnan yang bernama Tjia King Tjun, dan diangkat seorang Mayor bernama Lim Hut Siang. Mayor. Kapiten atau Letnan ini diberi suatu kebebasan untuk mengatur pemerintahan di daerah sendiri dengan cara memberi upeti kepada Pemerintah Hindia Belanda . Sejak saat itu, pemerintah kolonial Belanda menempatkan warga Cina ini di perkampungan tersendiri . Dimana pada saat ini kampung yang merupakan tempat awal mula kedatangan etnis itu disebut dengan Kampung Kapitan. Asal pemberian nama Kapitan ini pada mulanya berawal dari gelar Kapitan . yang diberikan pemerintah Belanda kepada komandan keturunan Cina yang bertugas untuk mengawasi Kampung ini . Sejarah Kampung Kapitan yang panjang sangat mempengaruhi kebudayaan di Kampung Kapitan, hal ini dibuktikan dari masih adanya kegiatan budaya dan tradisi yang rutin dilakukan seperti festival tahunan Cap Go Meh. Sedekah Kampung. Ulang Tahun Dewa. Cheng Beng, dan Upacara Dewa Bumi yang dapat dinikmati oleh penduduk dan masyarakat luar . Serta bukti fisik yang masih dapat kita lihat pada rumah Kapitan yang memiliki tiga unsur budaya yakni Cina. Belanda, dan Palembang. Faktor Geografis dan Elemen Morfologi Kampung Kapitan Kampung Kapitan terletak di tepi Sungai Musi membuat Kampung Kapitan menjadi lokasi yang strategis untuk sektor perekonomian terbukti dari kedatangan etnis Cina ke Kota Palembang dan mendirikan serikat dagang, serta dilanjutkan oleh kedatangan dan perebutan kekuasaan oleh Kolonial Belanda. Elemen morfologi pembentuk kota pada Kampung Kapitan berdasarkan penjelasan Sima dan Zhang . , yaitu: Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL a VOL 10 NO 01 Pola Jalan (Street Patter. Pola jalan pada Kampung Kapitan terbentuk memiliki bentuk sistem pola jalan organis yakni pola jalan yang terbentuk secara alami mengikuti aliran air sungai dan juga sistem pola bersudut atau grid yakni memiliki pola yang teratur dengan jalan-jalan yang saling memotong tegak lurus. Yang menghubungkan Kampung Kapitan dengan wilayah lainnya baik itu akses darat maupun akses sungai. Gambar 1. Aksesibilitas Kampung Kapitan Sumber: Meliansari & Ellisa, 2023 a Tata Guna Lahan (Land Us. Lahan pada Kampung Kapitan terbagi menjadi 2 . , yaitu lahan terbangun dan lahan tidak terbangun, dengan perbandingan lebih besar lahan terbangun. Lahan terbangun meliputi permukiman, cagar budaya, dan perdagangan. Sedangkan, untuk lahan tidak terbangun yaitu sungai dan sedikit lahan terbuka hijau. Gambar 2. Pembagian Tata Guna Lahan Kampung Kapitan Sumber: Olah Data Penulis, 2022 a Massa Bangunan (Building Mas. Bangunan di Kampung Kapitan terbagi menjadi 2 . jenis, yaitu bangunan beton dan bangunan kayu. Bangunan beton diantaranya bangunan permukiman dan bangunan perekonomian yang berjenis tidak panggung. Sedangkan, bangunan kayu merupakan bangunan permukiman yang berjenis bangunan panggung dan tak Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Penggunaan bangunan panggung pada Kampung Kapitan yaitu penanganan terhadap bencana banjir sebab tanah yang berjenis tanah rawa. Gambar 3. Bangunan Panggung dan Bangunan Tidak Panggung Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 a Ruang Terbuka (Open Spac. Kampung Kapitan minim terhadap ruang terbuka. Hal ini disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk dan pengalih fungsian lahan menjadi area terbangun sebagai Ruang terbuka hanya terdapat pada beberapa titik saja, seperti area kavling yang belum terbangun dan taman yang berada di depan rumah Kapitan. Gambar 4. Ruang Terbuka (Open Spac. di Kampung Kapitan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Kondisi Fisik Permukiman Kampung Kapitan Kondisi Lingkungan Kampung Kapitan Lingkungan hidup merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penentu kehidupan kita pada masa yang akan datang. Berikut ini merupakan analisis keadaan lingkungan pada Kampung Kapitan. a Kondisi Lingkungan Fisik Permukiman Pola perilaku masyarakat dalam hal kebersihan dapat berdampak pada lingkungan hidup jika masyarakat menerapkan hidup sehat dan bersih, maka lingkungan hidup akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan. Namun, sebaliknya jika masyarakat tidak dapat menjaga kebersihan lingkungan maka lingkungan akan memberikan dampak yang buruk untuk kehidupan masyarakat. Hal ini dapat kita lihat pada keadaan lingkungan hidup di Kampung Kapitan. Kebiasaan masyarakat Kampung Kapitan yang buruk seperti membuang sampah di lingkungan sekitar rumah berdampak pada kumuhnya lingkungan pemukiman masyarakat. Sampah rumah tangga dapat kita lihat pada lingkungan sekitar rumah masyarakat. Bahkan hingga pada bagian bawah rumah kita dapat menemukan banyak sampah rumah tangga. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Gambar 5. Keadaan lingkungan pemukiman Kampung Kapitan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 a Kondisi anak Sungai Musi dan Sungai Musi Kebiasaan masyarakat Kampung Kapitan dalam membuang sampah rumah tangga sembarangan tidak hanya berdampak pada halaman rumah yang kumuh, melainkan berdampak pada kondisi aliran Sungai Musi yang juga mengalami pencemaran. Hal ini ditimbulkan sebab kebiasaan masyarakat yang membuang segala macam sampah rumah tangga secara sembarangan. Baik itu berupa sampah padat maupun cair. Tidak hanya itu, air kotor atau limbah cair rumah tangga dari masyarakat Kampung Kapitan langsung dialirkan ke aliran Sungai Musi tanpa adanya perlakuan khusus seperti penyaringan ataupun peresapan terlebih dahulu. Air anak Sungai Musi yang tercemar sampah dan limbah rumah tangga tersebut mengalir secara langsung menuju Sungai Musi. Keadaan ini membawa dampak yang sangat buruk pada kesehatan masyarakat setempat karena menjadi sumber penyakit yang dapat mengganggu Tidak sedikit anak-anak kecil yang masih bermain air di sungai serta masyarakat yang menggunakan air Sungai Musi yang sudah tercemar untuk kebutuhan sehari-hari. Gambar 6. Keadaan aliran anak Sungai Musi Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Gambar diatas merupakan keadaan aliran anak Sungai Musi yang sudah sangat Dari gambar diatas kita dapat melihat air sungai yang sudah berubah warna dan sudah mengeluarkan aroma tidak sedap, dan dapat dilihat bahwa masyarakat setempat masih melakukan aktifitas seperti biasa walaupun mereka berada pada lingkungan yang sudah tidak sehat dan menjadi sarang dari berbagai penyakit. Pada Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 aliran Sungai Musi pun kita dapat melihat sampah yang berserakan pada tepiannya, hal mirisnya adalah masih banyak anak-anak kecil yang masih gemar bermain air di tepian Sungai Musi pada pagi dan sore hari dengan keadaan air sungai yang sudah Mereka terlihat sangat menikmatinya tanpa memikirkan penyakit apa yang dapat mengancam kesehatan mereka. Gambar 7. Sungai Musi yang tercemar oleh sampah Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Jenis Tepian Air Kampung Kapitan Kampung Kapitan merupakan kampung tepian air dengan tipe tepian air sungai. Letak Kampung Kapitan yang berada di tepi Sungai Musi masih kental akan aktivitas budaya dan tradisi. Sejarah kampung yang merupakan tempat awal mula kedatangan etnis Cina di Palembang ditandai dengan masih adanya bangunan bernilai sejarah. Faktor sejarah tersebut menjadi penyebab Kampung Kapitan menjadi kawasan tepian air berjenis Cultural Waterfront, yakni kawasan tepian air yang berisikan aktivitas budaya, pendidikan, dan ilmu Gambar 8. Kampung Kapitan dari view drone Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Pola pemukiman Kampung Kapitan Persebaran pemukiman Kampung Kapitan pada tahun 1937-1945 tersebar secara merata dan tidak dipengaruhi oleh keadaan jalan maupun sungai. Selain itu, ruang terbuka Kampung Kapitan pada masa itu masih sangat tinggi. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 Gambar 9. Kondisi pemukiman dan ruang terbuka Kampung Kapitan tahun 1937-1945 Sumber: Adiyanto, 2016 Pada tahun 1971, permukiman Kampung Kapitan sudah mulai padat dengan letak pemukiman yang masih tersebar secara merata dan masih memiliki ruang terbuka yang cukup luas. Gambar 10. Kondisi pemukiman dan ruang terbuka Kampung Kapitan tahun 1971 Sumber: Adiyanto, 2016 Pada tahun 2014, permukiman di Kampung Kapitan sudah padat dan tersebar merata. Kondisi ruang terbuka di Kampung Kapitan sudah sangat berkurang. Ruang terbuka hanya terdapat pada area rumah Kapitan dan rumah Mayor. Gambar 11. Kondisi pemukiman dan ruang terbuka Kampung Kapitan tahun 2014 Sumber: Adiyanto, 2016 Pada tahun 2023 kondisi permukiman pada Kampung Kapitan sudah sangat berbeda dibandingkan pada tahun 1937-1945. Permukiman pada Kampung Kapitan sudah sangat padat dan tersebar secara merata. Keberadaan ruang terbuka tidak jauh berbeda dengan kondisi pada tahun 2014, yaitu hanya berada pada area depan rumah Kapitan dan area depan rumah Mayor. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Gambar 12. Kondisi pemukiman dan ruang terbuka Kampung Kapitan tahun 2023 Sumber: Olah Data Penulis, 2023 Kampung Kapitan memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya, dilihat dari perkembangannya yang dimulai pada tahun 1937-2023. Kampung Kapitan memiliki pola permukiman berjenis tersebar. Pola permukiman ini ditandai dengan tersebarnya permukiman secara merata. Keadaan ruang terbuka Kampung Kapitan juga mengalami penyusutan yang sangat jauh. Gambar 13. Pola persebaran pemukiman Sumber: idschool. Relasi Morfologi dan Permukiman di Kampung Kapitan Morfologi dan lingkungan permukiman di Kampung Kapitan memiliki sebuah hubungan dan dampak terhadap kualitas lingkungan yang berkelanjutan di kampung Berikut adalah beberapa aspek hubungan antara keduanya: Densitas Populasi dan Penggunaan Lahan Kampung Kapitan memiliki luas wilayah 80 hektar yang terletak di area tepian sungai dengan pembagian guna lahan sebagai area cagar budaya, perdagangan, ruang terbuka, sungai dan permukiman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Palembang. Kampung Kapitan memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, yaitu sekitar 18. 810 jiwa pada tahun 2009. Pada tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar 19. 907 jiwa. Kebutuhan lahan hunian sangatlah besar, sehingga menjadi faktor fungsi lahan di Kampung Kapitan didominasi sebagai area pemukiman. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 Gambar 14. Persebaran Tata Guna Lahan Kampung Kampung Kapitan Sumber: Olah Data Penulis, 2023 Penggunaan lahan yang didominasi sebagai area pemukiman tanpa memikirkan morfologi dari suatu wilayah dapat mengubah karakteristik asli dari wilayah tersebut. Efisiensi Energi dan Transportasi Perkembangan sebuah kota yang baik dapat mempengaruhi konsumsi energi dan polusi udara melalui pengaturan tata bangunan dan juga infrastruktur transportasi yang dapat memfasilitasi arus jalan publik . endaraan umum, bersepeda, dan berjalan kak. Akses masuk ke Kampung Kapitan terhalang oleh perbedaan elevasi setinggi 60 cm antara jalan kolektor (Jl. KH Azhar. dengan jalan lokal Kampung Kapitan. Perbedaan elevasi disebabkan tingginya coran beton jalan kolektor yang tidak berimbang oleh tinggi jalan Akibatnya, akses masuk menuju Kampung Kapitan hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dengan menuruni tangga saat memasuki gapura dan kendaraan harus parkir di pinggir jalan kolektor. Gambar 15. Tangga pada Gapura Kampung Kapitan Sumber: Olah Data Penulis, 2023 Gambar 16. Jalan KH Azhari tanpa Area Parkir Sumber: google maps, 2023 Belum adanya ketersediaan tempat parkir dan juga jalan akses kendaraan pada Kampung Kapitan menandakan bahwa perkembangan permukiman masih belum mengutamakan keberlanjutan dari efisiensi transportasi. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Kualitas Udara dan Sirkulasi Udara Kualitas udara sangat dipengaruhi oleh keberadaan ruang terbuka dan pohon serta kondisi lingkungan sekitar. Jika terdapat banyak pohon dan kondisi lingkungan baik, maka kondisi udara akan baik pula. Ruang terbuka memiliki peran penting dalam mengalirkan udara serta pohon memiliki peran dalam menyaring udara, sehingga dapat menghasilkan udara segar. Kondisi udara di Kampung Kapitan berada pada kondisi buruk hal ini disebabkan pada kondisi lingkungan yang kumuh dan terdapat banyak sampah sehingga menghasilkan aroma yang tidak sedap. Selain itu, keberadaan ruang terbuka dan pohon sangat terbatas dan sulit ditemukan, sehingga berdampak pada kualitas dan sirkulasi udara yang buruk. Gambar 17. Kondisi Permukiman Yang Sempit Di Kampung Kapitan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Pengelolaan Air dan Drainase Pengolahan sumber air yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula, sebab tidak dapat kita pungkiri bahwa kita membutuhkan air pada kehidupan sehari hari seperti, memasak, mencuci, minum, dan mandi. Kampung Kapitan terletak pada wilayah yang kaya dengan air, sebab Kampung Kapitan terletak pada wilayah rawa dan pinggiran sungai Musi. Akan tetapi, kondisi sumber air yang berada di Kampung Kapitan sangat buruk yang disebabkan oleh pengolahan air limbah rumah tangga yang tidak sesuai, sehingga berakibat pada tercemarnya mata air di Kampung Kapitan. Selain pengolahan air yang buruk, kondisi drainase di Kampung Kapitan berukuran kecil serta banyak yang dipenuhi oleh sampah rumah tangga. Gambar 18. Kondisi Drainase Di Kampung Kapitan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022 Aksesibilitas Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau memiliki berbagai manfaat seperti meningkatkan kualitas udara dan lingkungan, meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional, serta memperkuat ikatan sosial antara individu dalam komunitas. Ketersediaan ruang terbuka hijau di Kampung Kapitan nyaris tidak ada. Penyebabnya adalah pengalih fungsian lahan menjadi kawasan pemukiman oleh penduduk, bahkan sampai ke area bantaran sungai. Berkurangnya area terbuka hijau berdampak pada berkurangnya daerah resapan air yang dapat menyebabkan bencana banjir dan mengakibatkan kualitas udara menurun. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL JURNAL WILAYAH DAN KOTA VOL 10 NO 01 Upaya Mewujudkan Permukiman Berkelanjutan di Kampung Kapitan Mewujudkan permukiman berkelanjutan di Kampung Kapitan perlu didasari oleh indikator untuk mengukur dan memantau kemajuan dalam keberlanjutan di kawasan Tiga indikator keberlanjutan permukiman . antara lain: Aspek Lingkungan - Ekosistem Kampung Kapitan berada pada tanah berjenis rawa dan berada pada tepi Sungai Musi sehingga Kampung Kapitan memiliki 2 . jenis ekosistem yang perlu Hasil pengamatan lapangan yang telah dilakukan menunjukan bahwa kondisi dari ekosistem di Kampung Kapitan telah tercemar oleh sampah dan limbah rumah tangga sehingga biota air yang hidup di ekosistem tersebut tidak dapat berkembang dan bertahan hidup. Demi terciptanya Lingkungan yang Berkelanjutan maka diperlukannya pembenahan menyeluruh pada ekosistem yang ada seperti melakukan pembersihan pada area yang tercemar, pembebasan bantaran sungai dan menjadikannya sebagai area terbuka. - Kualitas Air Sungai dan rawa menjadi sumber air alami yang berada di alam, kualitas air dapat kita lihat dari kondisi sungai dan rawa yang bersih atau tercemar. Kondisi sungai dan rawa di Kampung Kapitan yang tercemar mengakibatkan kualitas air yang buruk dan tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga masyarakat sangat bergantung pada air yang berasal dari PDAM. Agar terciptanya kualitas air yang bersih dan berkelanjutan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan peningkatan fasilitas pengolahan sampah sehingga tidak mencemari lingkungan, melakukan restorasi ekosistem serta menumbuhkan kesadaran terhadap masyarakat dengan melakukan edukasi dan partisipasi masyarakat terkait pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. - Kualitas Udara Kualitas udara di Kampung Kapitan terpengaruh oleh kondisi lingkungan serta keberadaan sampah di sepanjang permukiman. Pergerakan udara yang terbatas karena dihalangi oleh rumah-rumah yang padat dengan tumpukan sampah di area tersebut membuat udara tidak bisa berganti dan menghasilkan aroma yang tidak Selain itu, keterbatasan ruang terbuka dan pohon yang sulit ditemukan juga menambah dampak pada kualitas dan sirkulasi udara yang buruk. Upaya untuk meningkatkan kualitas standar kadar udara adalah dengan melakukan penataan kembali permukiman kumuh, pembersihan kotoran dan sampah di sepanjang jalan permukiman, serta menyediakan ruang terbuka hijau agar udara dapat bebas bergerak. Aspek Sosial dan Budaya Kampung Kapitan memiliki warisan budaya benda dan tak benda yang menarik dan telah diwariskan secara turun menurun. Budaya benda di Kampung Kapitan meliputi Rumah Kapitan. Rumah Abu. Rumah Bapak Iskandar. Rumah Mayor, dan Rumah Bapak Gempita, serta budaya tak benda seperti perayaan Ulang Tahun Dewa. Cheng Beng. Upacara Dewa Bumi. Cap Go Meh, dan Sedekah Kampung. Kebudayaan yang beragam ini pastinya memerlukan perhatian yang khusus agar dapat bertahan dan dinikmati oleh generasi selanjutnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kebudayaan di Kampung Kapitan yaitu dengan melakukan pelestarian warisan budaya dengan cara memelihara dan melakukan dokumentasi, melakukan pendidikan dan kesadaran budaya kepada masyarakat, melakukan promosi pariwisata budaya, dan meningkatkan komunitas Aspek Ekonomi Kegiatan perekonomian di Kampung Kapitan didominasi oleh perdagangan dan produsen makanan seperti kerupuk dan kemplang yang dijual di toko-toko sederhana. Diversifikasi ekonomi lokal dan dukungan untuk usaha kecil dan menengah telah dilakukan Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 oleh pemerintah lokal dengan membuat destinasi wisata kuliner yaitu Kampung Kreatif Pempek Tanggo Rajo Cindo dimana masyarakat dapat melihat proses serta turut mencoba membuat pempek. Kampung Kapitan telah memiliki bekal yang baik dalam bidang perekonomian dan penanganan yang tepat dalam mempertahankan serta mengembangkan sesuatu yang sudah ada. Pengembangan tersebut dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian masyarakat Kampung Kapitan selain dari wisata Rumah Kapitan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kampung Kapitan merupakan suatu kampung yang berada di kecamatan Seberang Ulu I dan merupakan perkampungan yang dipengaruhi oleh tiga lapis budaya yang berbeda, yaitu Cina. Belanda, dan Palembang. Kampung Kapitan memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya, sehingga harus tetap dilestarikan agar generasi yang akan datang dapat mempelajari sejarah dari Kampung Kapitan. Kondisi morfologi Kampung Kapitan mengalami perubahan yang sangat pesat dari tahun ketahun, hal ini ditandai dari berkurangnya ruang terbuka dan hilangnya area bantaran sungai yang berubah menjadi area pemukiman. Kondisi lingkungan di Kampung Kapitan berdasarkan lingkungan fisik permukiman dan anak Sungai Musi adalah tergolong kumuh. Hal ini ditandai dengan kotornya lingkungan pemukiman masyarakat dan aliran Sungai Musi yang juga mengalami pencemaran. Relasi antara morfologi dan kondisi permukiman di Kampung Kapitan adalah bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun membuat kondisi lingkungan di Kampung Kapitan menjadi kumuh dan ketersediaan ruang terbuka hijau menjadi menurun. Hal tersebut disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terkait efisiensi energi dan transportasi, sehingga tidak tersedianya jalur kendaraan dan lahan parkir di Kampung Kapitan. Perilaku hidup tidak sehat masyarakat Kampung Kapitan seperti membuang sampah sembarangan pada halaman sekitar dan sungai serta pengolahan limbah rumah tangga yang tidak tepat juga menjadi salah satu penyumbang terciptanya lingkungan hidup yang buruk dan kumuh. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka ekosistem air sungai area rawa dan Sungai Musi akan terancam menghilang. Untuk mewujudkan permukiman berkelanjutan di Kampung Kapitan, perlu memperhatikan 3 . aspek aspek, lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi dengan memastikan ketiganya dilakukan secara seimbang. Aspek yang telah terwujud pada Kampung Kapitan adalah aspek ekonomi, karena telah memiliki bekal yang baik dan penanganan yang tepat dalam mempertahankan potensi ekonomi yang sudah ada, seperti wisata kuliner Kampung Kreatif Pempek Tanggo Rajo Cindo dan rumah produksi makanan lainnya. Hal tersebut menjadi nilai tambah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Kampung Kapitan selain dari wisata Rumah Kapitan. Saran Untuk menciptakan lingkungan tepian air yang berkelanjutan, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan, yaitu: Perlu adanya penataan pola penggunaan lahan dan kepadatan populasi, sebab peningkatan densitas populasi dengan pemakaian lahan yang efisien dapat meminimalkan konversi lahan yang berharga dan mengurangi tekanan terhadap ekosistem alami. Pembebasan lahan pada bantaran sungai dan mengalih fungsikan sebagai ruang terbuka hijau. Kajian Morfologi Kampung Kapitan Sebagai Kawasan Permukiman Tepian Air yang Berkelanjutan (Studi Kasus: Kampung Kapitan 7 Ulu. Palemban. JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL VOL 10 NO 01 Melakukan penataan lanskap pada area taman atau ruang terbuka hijau agar menciptakan aliran udara yang baik pada lingkungan. Menciptakan jalur khusus kendaraan umum dan area parkir di Kampung Kapitan supaya pengunjung tidak sembarangan parkir di jalan kolektor (Jl. KH Azhar. Pemerintah perlu mengedukasi kepada masyarakat terkait pentingnya sanitasi dan peran dari tiap warga untuk menjaga kebersihan di lingkungannya sendiri. Melakukan pelestarian terhadap kebudayaan yang ada agar tidak menghilang dan dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. Pembangunan bangunan disarankan menggunakan bangunan dengan jenis bangunan panggung, karena jenis tanah yang merupakan tanah rawa sehingga dapat terhindar dari genangan banjir. DAFTAR PUSTAKA