Jurnal Mapaccing. Volume 1. Nomor 1. Okt 2023, pp. 25 Ae 29 PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAMBU Nurul Ainun La dacingA. Abdul Ganing . Ridhayani Adiningsih . Haeranah Ahmad Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Mamuju ARTICLE INFO Article history Submitted :2023-08-23 Revised :2023-10-14 Accepted :2023-10-27 Keywords: Knowladge. Attitude. Action. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Tindakan. Diare. Balita This is an open access article under the CC BY-SA license: ABSTRACT In 2013, the World Health Organization (WHO) recorded 1. 7 billion cases of diarrhea occurring annually with a mortality rate in children under 5 years of 760,000. The aim of this research is to determine the description of CTPS behavior regarding the incidence of diarrhea in toddlers in the Bambu Community Health Center Working Area. This type of research is descriptive research. The research results showed that the knowledge of mothers of toddlers regarding washing hands with soap was mostly good, namely 60. 3% and respondents who had less knowledge 7% of respondents. Most of the attitudes of mothers of toddlers regarding washing hands with soap are good, 81. 2%, while respondents who have poor attitudes are 18. The actions of mothers of toddlers regarding washing hands with soap mostly have low personal hygiene actions, namely 49. 5% and respondents who have good actions. The conclusion of this research is that the hand washing behavior with soap of mothers of toddlers is mostly good. ABSTRAK World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, tercatat 1. 7 miliar kasus diare yang terjadi dalam kurun waktu tahunan dengan angka mortalitas pada anak dibawah 5 tahun sebesar 760. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku CTPS terhadap kejadian Diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bambu. Jenis penelitian ini adalah penelitian deksriptif. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar adalah baik yaitu sebanyak 60. 3 % dan responden yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 30. 7% responden. Sikap ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar adalah baik 81. 2 % sedangkan responden yang memiliki sikap kurang yaitu sebanyak 18. 8 % Tindakan ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar memiliki tindakan kebersihan diri yang rendah yaitu 49. dan responden yang memiliki tindakan yang baik sebesar 50. Kesimpulan penelitian ini adalah perilaku cuci tangan pakai sabun dari ibu balita sebagian besar ACorresponding Author: Nurul Ainun La Dacing Telp. Email:nurulainunladacing@poltekkesmamuju. PENDAHULUAN Diare, atau penyakit diare, merupakan kondisi di mana tubuh mengalami eliminasi feses dalam bentuk yang tidak normal, umumnya berupa cairan dengan tingkat kepadatan yang lebih rendah dari biasanya. Kejadian ini seringkali disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar, yaitu tiga kali atau lebih dalam rentang waktu 24 jam. Penyakit diare umumnya dipicu oleh infeksi mikroorganisme (Rohmah and Syahrul, 2. Penyakit diare adalah masalah kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan dan tersebar diseluruh dunia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ficher T dan timnya dalam penelitian World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, terdapat 1. 7 miliar kasus diare setiap tahun, dengan angka kematian anak di bawah 5 tahun mencapai 760. 000 (Tambuwun. Ismanto and Silolonga, 2. Meskipun diare umumnya dianggap sebagai penyebab kematian umum di negara berkembang, permasalahan ini tidak hanya terbatas pada negara-negara tersebut. Sebagai contoh, di Amerika Utara, setiap anak rata-rata mengalami lebih dari 12 kasus diare per tahun (Irawan and Mujiburrahman, 2. Penyakit diare menjadi penyebab utama kematian pada balita . i bawah lima tahu. dan menjadi penyebab kedua terbesar dalam kematian bayi di seluruh dunia. Kehilangan cairan http://jurnal. id/index. php/mpc/index Gambaran Perilaku Cuci Tangan A Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 tubuh akibat diare dapat menyebabkan dehidrasi dengan gangguan keseimbangan elektrolit seperti kekurangan kalium atau ketidakseimbangan garam lainnya dalam tubuh (Fadilah. Damanik and Yulianto, 2. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memahami perilaku CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabu. terhadap kejadian diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bambu. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pengetahuan CTPS terhadap kejadian diare pada balita, sikap CTPS terhadap kejadian diare pada balita, dan tindakan CTPS terhadap kejadian diare pada METODE Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian dekskriptif untuk mengetahui gambaran perilaku CTPS terhadap kejadian Diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bambu. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Bambu. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Mei Ae Juni 2023. Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita yang pernah terkena diare di wilayah kerja Puskesmas Bambu sebanyak 134 balita. Sampel pada penelitian ini sebesar 100 balita. Perhitungan besar sampel menggunakan rumus Slovin : ycA yea= ya yea yeo yeIya yaycye = 101 Sampel ya yaycye yeo . a,yayeya ) Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d = Tingkat kepercayaan / presisi 0,05 % Pengambilan sampel dilakukan dengan Random Sampling Pengumpulan Data Data Primer yang di peroleh dengan wawancara langsung terhadap ibu balita penderita diare dan data sekunder data penderita diare pada balita yang diperoleh dari Puskesmas Bambu. Pengolahan dan Analisis Data Data dari hasil wawancara kemudian diolah menggunakan komputer melalui aplikasi SPSS. Data yang sudah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang disertai narasi HASIL PENELITIAN Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bambu Umur Balita Jumlah . Persentase % 36 - 59 bulan (Anak Balit. O 60 bulan (Prasekola. Total http://jurnal. id/index. php/mpc/index Gambaran Perilaku Cuci Tangan A Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Berdasarkan Tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa dapat diketahui bahwa umur balita terbanyak ada pada umur 48 Ae 59 bulan yaitu 50 balita . ,3%) , dan paling sedikit ada pada umur O 60 bulan dan 36 Ae 47 bulan yaitu 24 balita . 8%) dan 27 balita ( 26. 7%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka di dapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 2 Distribusi Karakteristik Responden Ibu Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bambu Karakteristik Jumlah . Persentase % Umur 19 Ae 24 25 Ae 30 Total SMP SMA Tidak Sekolah Total Pendidikan Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui umur ibu balita paling tinggi ada pada kelompok umur 19 Ae 24 Tahun yaitu 94 orang 93,1%, dan kelompok paling rendah ada pada umur 25 Ae 30 Tahun yaitu 7 orang 6. Pendidikan ibu yang paling banyak menjadi responden adalah SMP yaitu 32 orang 31,7%. Tabel 1 Distribusi Pengetahuan. Sikap dan Tindakan Ibu Dalam Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun Terhadap Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Variabel Penelitian Pengetahuan Baik Kurang Sikap Baik Kurang Tindakan Baik Kurang Jumlah . Persentase % Tabel 3 menunjukkan bawa bahwa pengetahuan ibu balita tentang cuci tangan pakai sabun terhadap kejadian diare dinyatakan baik sebanyak 70 orang . ,3%) selebihnya dinyatakan rendah sebanyak 30 orang ( 30,7%). Diketahui bahwa sikap ibu dalam cuci tangan pakai sabun terhadap kejadian diare pada balita paling tinggi adalah 82 orang . ,2%), kemudian yang paling rendah ada pada pengetahuan ada pada sikap kurang 19 orang . 8%). Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa tindakan ibu dalam cuci tangan pakai sabun terhadap kejadian diare pada balita paling tinggi ada pada tindakan yaitu 51 orang . 5%), kemudian yang paling rendah ada pada tindakan ada pada sikap kurang 50 orang . 5%). http://jurnal. id/index. php/mpc/index Gambaran Perilaku Cuci Tangan A Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 PEMBAHASAN Pengetahuan merupakan hasil dari informasi yang diperoleh seseorang melalui indranya seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba terhadap suatu objek. Tingkat pengetahuan tiap individu bervariasi, dapat diperoleh melalui pengalaman langsung atau tidak langsung, seperti mendengar cerita orang (Pakpahan et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu balita tentang cuci tangan pakai sabun (CTPS) terbagi menjadi baik . orang atau 69. 3%) dan kurang baik . orang atau 30. 7%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Setyobudi yang mencatat bahwa sebagian besar ibu balita di Kelurahan Ampenan Tengah Kota Mataram memiliki pengetahuan rendah tentang CTPS (Setyobudi. Pribadiani and Listyarini, 2. Data lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita . 3%) tidak mengetahui langkah-langkah CTPS dengan baik, dan 63. 4% tidak mengetahui waktu yang diperlukan untuk CTPS. Pentingnya penggunaan sabun dalam CTPS juga kurang dipahami, di mana 47. 1% ibu balita tidak menyadari pentingnya CTPS (Maryunani, 2. Latar belakang pendidikan responden menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki pendidikan SMP . 7%). Pendidikan menjadi faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan ibu balita, di mana semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pengetahuan (Radhika. Faktor ini sejalan dengan temuan (Rabbi and Dey, 2. , yang menyatakan perlunya inisiatif jangka panjang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama ibu dan anak, tentang pentingnya CTPS (Setyobudi. Pribadiani and Listyarini, 2. Sikap, sebagai faktor pendorong tindakan, mencerminkan keyakinan, ide, konsep, dan pengalaman hidup individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita . memiliki sikap baik terhadap CTPS. Persentase ini berbeda dengan penelitian Gustimade yang menyatakan bahwa kurang dari separuh ibu di Kelurahan Ampenan Tengah Kota Mataram bersikap negatif terhadap CTPS (Jelantik and Astarini, 2. Dari hasil kuesioner, 97. 0% ibu balita setuju untuk mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar, namun 31. 7% tidak setuju bahwa kontaminasi tangan orang tua dapat mempengaruhi kesehatan balita. Waktu yang dianggap penting untuk CTPS adalah sebelum makan, sebelum menyusui, dan setelah buang air besar (Kemenkes RI, 2. Tindakan merupakan implementasi dari pengetahuan dan sikap seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50. 5% ibu balita memiliki tindakan baik dalam CTPS, sementara 49. memiliki tindakan kurang baik. Perlu diperhatikan bahwa salah satu dari 6 langkah dalam CTPS tidak dilakukan dapat menyebabkan penularan penyakit diare dan sakit perut pada ibu dan anak balita (Lavena, 2. Cuci tangan pakai sabun memiliki peran penting dalam mencegah penularan penyakit diare, karena tangan dapat menjadi agen penular kuman. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir membantu mencegah penyebaran kuman dan melindungi kesehatan ibu dan anak balita (Lavena. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengetahuan ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar adalah baik yaitu sebanyak 3 % dan responden yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 30. 7% responden. Sikap ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar adalah baik 81. 2 % sedangkan responden yang memiliki sikap kurang yaitu sebanyak 18. 8 % Tindakan ibu balita mengenai cuci tangan pakai sabun sebagian besar memiliki tindakan kebersihan diri yang rendah yaitu 49. 5% dan responden yang memiliki tindakan yang baik hanya 50. Saran dalam penelitian ini adalah peran puskesmas sangat dibutuhkan untuk menggerakkan masyarakat dan mensosialisasikan perilaku CTPS. Puskesmas Bambu dapat memanfaatkan temuan penelitian ini sebagai sarana advokasi prioritas program CTPS kepada Pemerintah Kota Mamuju. http://jurnal. id/index. php/mpc/index Gambaran Perilaku Cuci Tangan A Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 DAFTAR PUSTAKA