Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. 2 No. April 2026, pp. E-ISSN 3090-0972 Analisis Manajemen Risiko dalam Pengambilan Keputusan Bisnis pada Perusahaan Startup Yudi Pratama 1*. Ilham Akbar 1 . Farhan Ramdhan 1 1 Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram Indonesia Email: yudipratama@gmail. ARTICLE INFO Article history a. Received April 3, 2026 Revised April 17, 2026 Accepted April 20, 2026 Published April 29, 2026 Keywords risk management, decision-making, business risk, business strategy. ABSTRACT The rapid growth of startup companies in the digital era presents various opportunities as well as challenges, particularly in dealing with high business uncertainty. One of the key factors determining startup success is the ability to manage risk effectively. This study aims to analyze the implementation of risk management in business decision-making processes within startup companies, as well as to identify the most dominant types of risks they face. The research method employed is a qualitative approach, with data collection techniques including in-depth interviews, observations, and documentation studies conducted on several growing The findings indicate that most startups encounter major risks such as financial risk, market risk, operational risk, and technological risk. The implementation of systematic risk management has proven to help companies identify, evaluate, and mitigate potential losses, thereby supporting more accurate and measurable decision-making. Furthermore, the study reveals that startups with adaptive and innovative organizational cultures tend to be more effective in managing risks. Therefore, risk management becomes a crucial element in enhancing the sustainability and competitiveness of startup companies amid dynamic and competitive market conditions. The implications of this study suggest that startup companies need to continuously integrate risk management into every strategic and operational process. In addition, support from stakeholders, the use of analytical technologies, and the improvement of human resource competencies in understanding risk are important factors in strengthening decision-making systems. This study is expected to provide practical contributions for startup business practitioners and serve as a reference for future research related to risk management and business decision-making. License by CC-BY-SA Copyright A 2026. The Author. How to cite: Pratama. Akbar. , & Ramdhan. Analisis Manajemen Risiko dalam Pengambilan Keputusan Bisnis pada Perusahaan Startup. Primary Journal of Multidisciplinary Research, 2. , 29-33. doi: https://doi. org/10. 70716/pjmr. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah mendorong lahirnya berbagai perusahaan rintisan . yang beroperasi dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan penuh Startup umumnya memiliki karakteristik fleksibel, inovatif, dan berorientasi pada pertumbuhan cepat, namun di sisi lain juga menghadapi tingkat risiko yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan konvensional (Blank & Dorf, 2. Ketidakpastian pasar, perubahan teknologi yang cepat, serta keterbatasan sumber daya menjadikan startup sangat rentan terhadap berbagai jenis risiko yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha mereka. Dalam konteks tersebut, manajemen risiko menjadi elemen penting dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Manajemen risiko tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengidentifikasi dan meminimalkan potensi kerugian, tetapi juga sebagai pendekatan strategis dalam meningkatkan kualitas keputusan yang diambil oleh manajemen (Hopkin, 2. Dengan adanya manajemen risiko yang efektif, perusahaan dapat lebih siap dalam menghadapi ketidakpastian serta mampu memanfaatkan peluang yang ada secara optimal. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pengambilan keputusan yang baik harus didasarkan pada analisis risiko yang komprehensif (Hillson, 2. Perusahaan startup dihadapkan pada berbagai jenis risiko, seperti risiko keuangan, risiko operasional, risiko pasar, dan risiko teknologi. Risiko keuangan berkaitan dengan keterbatasan modal dan arus kas yang tidak stabil, sedangkan risiko pasar mencakup ketidakpastian permintaan dan persaingan yang ketat. Selain itu, risiko operasional dan teknologi juga menjadi perhatian utama mengingat ketergantungan startup pada inovasi digital (Damodaran, 2. Oleh karena itu, kemampuan dalam mengelola risiko secara sistematis menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan startup dalam mempertahankan eksistensinya di pasar. Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. April 2026, pp 29-33 Meskipun pentingnya manajemen risiko telah banyak dibahas dalam literatur, implementasinya pada perusahaan startup masih menghadapi berbagai kendala. Banyak startup yang belum memiliki sistem manajemen risiko yang terstruktur karena fokus utama mereka seringkali terletak pada pertumbuhan dan inovasi produk (Ries, 2. Akibatnya, pengambilan keputusan sering dilakukan secara intuitif tanpa mempertimbangkan risiko secara mendalam, yang berpotensi menimbulkan kerugian di masa depan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori manajemen risiko dan praktik di lapangan, khususnya pada perusahaan startup. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen risiko dalam pengambilan keputusan bisnis pada perusahaan startup. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengidentifikasi jenis risiko yang paling dominan serta mengevaluasi bagaimana manajemen risiko dapat meningkatkan efektivitas keputusan bisnis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoretis maupun praktis, khususnya dalam pengembangan konsep manajemen risiko yang lebih adaptif terhadap karakteristik startup di era digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana penerapan manajemen risiko dalam proses pengambilan keputusan bisnis pada perusahaan Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali fenomena secara holistik dan kontekstual, terutama dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan penuh ketidakpastian seperti startup (Creswell, 2. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik manajemen risiko yang diterapkan oleh pelaku usaha. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan fokus pada analisis fenomena yang terjadi di lapangan. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai karakteristik tertentu dari objek penelitian (Sugiyono, 2. Dalam konteks ini, penelitian berupaya mendeskripsikan bagaimana startup mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko dalam pengambilan keputusan bisnis mereka. Lokasi penelitian difokuskan pada beberapa perusahaan startup yang sedang berkembang di sektor teknologi dan jasa. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive sampling, yaitu berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, seperti usia perusahaan, skala usaha, dan tingkat pertumbuhan bisnis (Etikan. Musa, & Alkassim, 2. Dengan demikian, data yang diperoleh diharapkan mampu merepresentasikan kondisi nyata dari praktik manajemen risiko pada startup. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari informan melalui wawancara mendalam dengan pendiri . , manajer, serta pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan bisnis. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan, laporan bisnis, serta literatur yang relevan dengan topik penelitian. Kombinasi kedua jenis data ini digunakan untuk meningkatkan validitas dan keandalan hasil penelitian (Yin, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu wawancara, observasi, dan Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk memberikan fleksibilitas kepada peneliti dalam menggali informasi secara mendalam. Observasi dilakukan untuk memahami secara langsung proses pengambilan keputusan dalam aktivitas bisnis sehari-hari. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan mengelompokkan informasi yang relevan, sedangkan penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian berlangsung (Miles et al. , 2. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, baik triangulasi sumber maupun triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai informan, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan penelitian (Patton, 1. Selain itu, penelitian ini juga memperhatikan aspek etika penelitian dengan menjaga kerahasiaan identitas informan serta memastikan bahwa seluruh data yang diperoleh digunakan hanya untuk kepentingan akademik. Setiap informan diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian serta diminta Pratama et al. (Analisis Manajemen Risiko dalam Pengambilan Keputusan Bisnis pada Perusahaan Startup ) Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. April 2026, pp 29-33 persetujuannya sebelum proses wawancara dilakukan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memenuhi kaidah ilmiah, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip etika dalam penelitian sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan startup yang menjadi objek penelitian memiliki tingkat kesadaran yang cukup baik terhadap pentingnya manajemen risiko, meskipun implementasinya masih bervariasi. Sebagian besar informan menyatakan bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas bisnis sehari-hari. Namun demikian, hanya sebagian startup yang telah memiliki kerangka kerja manajemen risiko yang terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman konseptual mengenai risiko sudah ada, tetapi belum sepenuhnya diikuti oleh penerapan sistematis dalam praktik bisnis. Dalam proses identifikasi risiko, startup umumnya mengandalkan pengalaman pribadi pendiri serta diskusi internal tim manajemen. Risiko yang paling sering diidentifikasi meliputi risiko keuangan, seperti keterbatasan modal dan ketidakstabilan arus kas, serta risiko pasar yang berkaitan dengan perubahan preferensi konsumen. Selain itu, risiko teknologi juga menjadi perhatian utama, terutama bagi startup berbasis digital yang sangat bergantung pada sistem dan infrastruktur teknologi. Temuan ini sejalan dengan pandangan Damodaran . yang menyatakan bahwa perusahaan inovatif cenderung menghadapi risiko multidimensional yang kompleks. Pada tahap analisis risiko, sebagian startup telah mulai menggunakan pendekatan sederhana seperti analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. untuk mengevaluasi potensi risiko dan Meskipun metode ini relatif sederhana, namun cukup membantu dalam memberikan gambaran awal mengenai posisi perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian. Namun demikian, belum banyak startup yang menggunakan alat analisis risiko yang lebih kuantitatif atau berbasis data, seperti risk matrix atau probabilistic risk assessment, sehingga keputusan yang diambil masih cenderung bersifat intuitif. Selanjutnya, dalam hal pengendalian risiko, startup umumnya menerapkan strategi mitigasi yang bersifat fleksibel dan adaptif. Misalnya, untuk mengatasi risiko keuangan, beberapa startup memilih untuk melakukan efisiensi biaya operasional serta mencari sumber pendanaan alternatif seperti investor atau venture capital. Untuk risiko pasar, strategi yang digunakan meliputi inovasi produk dan peningkatan kualitas layanan guna mempertahankan loyalitas pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa startup cenderung mengandalkan kecepatan adaptasi sebagai strategi utama dalam menghadapi risiko. Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa budaya organisasi memiliki peran penting dalam efektivitas manajemen risiko. Startup yang memiliki budaya kerja terbuka, kolaboratif, dan inovatif cenderung lebih responsif terhadap perubahan dan lebih cepat dalam mengidentifikasi serta mengatasi Budaya organisasi yang mendukung komunikasi terbuka memungkinkan setiap anggota tim untuk berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga menghasilkan keputusan yang lebih komprehensif dan terinformasi (Ries, 2. Namun demikian, terdapat beberapa kendala utama dalam penerapan manajemen risiko pada startup. Salah satu kendala yang paling dominan adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi finansial maupun sumber daya manusia. Banyak startup yang belum memiliki tenaga ahli khusus di bidang manajemen risiko, sehingga proses pengelolaan risiko dilakukan secara informal. Selain itu, tekanan untuk mencapai pertumbuhan yang cepat seringkali membuat startup mengabaikan aspek risiko dalam pengambilan keputusan strategis. Dari perspektif pengambilan keputusan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko yang lebih baik berkontribusi terhadap peningkatan kualitas keputusan bisnis. Startup yang secara aktif mengelola risiko cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan memiliki pertimbangan yang lebih matang. Sebaliknya, startup yang tidak memiliki sistem manajemen risiko yang jelas cenderung mengambil keputusan secara reaktif dan berisiko tinggi. Hal ini memperkuat argumen bahwa manajemen risiko merupakan bagian integral dari proses pengambilan keputusan yang efektif (Hopkin, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa manajemen risiko memiliki peran strategis dalam mendukung keberlanjutan bisnis startup. Meskipun masih terdapat berbagai keterbatasan dalam Pratama et al. (Analisis Manajemen Risiko dalam Pengambilan Keputusan Bisnis pada Perusahaan Startup ) Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. April 2026, pp 29-33 implementasinya, startup yang mampu mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam proses bisnisnya akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran serta kapasitas startup dalam mengelola risiko secara lebih sistematis dan terstruktur, baik melalui pelatihan, penggunaan teknologi, maupun dukungan dari ekosistem bisnis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan bisnis pada perusahaan startup. Startup pada umumnya telah menyadari adanya berbagai jenis risiko seperti risiko keuangan, pasar, operasional, dan teknologi, namun implementasi manajemen risiko masih belum sepenuhnya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagian besar startup masih mengandalkan pendekatan intuitif dan pengalaman dalam mengelola risiko, meskipun beberapa di antaranya telah mulai menerapkan metode sederhana seperti analisis SWOT. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko yang baik dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan bisnis. Startup yang memiliki kesadaran dan praktik manajemen risiko yang lebih matang cenderung mampu mengidentifikasi potensi ancaman lebih dini serta merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menghadapi ketidakpastian. Faktor budaya organisasi juga terbukti berpengaruh dalam mendukung efektivitas manajemen risiko, di mana lingkungan kerja yang terbuka dan kolaboratif mampu mempercepat proses identifikasi dan mitigasi risiko. Namun demikian, terdapat berbagai kendala yang dihadapi oleh startup dalam menerapkan manajemen risiko, seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya tenaga ahli, serta fokus yang lebih besar pada pertumbuhan bisnis jangka pendek. Kondisi ini menyebabkan manajemen risiko belum menjadi prioritas utama dalam strategi bisnis startup. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan manajemen risiko sebagai bagian integral dari proses bisnis. KESIMPULAN Berdasarkan kesimpulan tersebut, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan. Pertama, perusahaan startup disarankan untuk mulai mengembangkan sistem manajemen risiko yang lebih terstruktur dan terintegrasi dalam setiap proses pengambilan keputusan bisnis. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadopsi kerangka kerja manajemen risiko yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha. Kedua, startup perlu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi di bidang manajemen risiko. Dengan adanya pemahaman yang lebih baik, diharapkan seluruh anggota organisasi dapat berkontribusi secara aktif dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko. Ketiga, pemanfaatan teknologi seperti data analytics dan sistem informasi manajemen dapat menjadi solusi dalam meningkatkan efektivitas manajemen risiko. Teknologi memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis risiko secara lebih cepat, akurat, dan berbasis data. Keempat, bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan kuantitatif atau mixed methods, serta memperluas objek penelitian pada sektor industri yang berbeda agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif dan generalisasi yang lebih kuat. DAFTAR PUSTAKA