Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 7 No. 1 Juni 2023, hal 14-33 Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Meutia Khaliya1*. Agus Setiawan2 Program Studi Sejarah. Universitas Indonesia. khaliya11@ui. Program Studi Sejarah. Universitas Indonesia. a_setiawan55@hotmail. Korespondensi Dikirim: 11-12-2022. Direvisi: 23-02-2023. Diterima: 27-03-2023. Diterbitkan: 30-06-2023 Abstract: In the 1950s around the Korean War, the United States provided a lot of assistance to South Korea, including in the field of film. Hollywood films are increasingly influencing Korean cinema, including films by Han Hyung-mo who is considered one of the pioneers in South Korean cinema, especially after he released the film Madame Freedom. Therefore, the formulation of the problem in this study is what was the role of the United States in South Korean films in the 1950s and how was the influence of the United States included in the film Madame Freedom. This study uses the historical method with four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The purpose of this study is to show the influence of the United States on South Korean film culture in the 1950s. The results of this study show that the United States exerts its influence through films by importing Hollywood films and facilitating various South Korean film needs through related US institutions. The influence of the United States on South Korean film in the 1950s then took the form of the values of modernity and Cold War cosmopolitanism from the United States in all aspects of the film. Keywords: film. Han Hyung-mo. Madame Freedom. South Korea. the United States Abstrak: Ketika Perang Korea terjadi pada tahun 1950 sampai 1953. Amerika Serikat memberikan banyak bantuan bagi Korea Selatan, termasuk dalam bidang perfilman. Film-film Hollywood pun semakin mempengaruhi perfilman Korea, termasuk film-film karya Han Hyung-mo yang dianggap sebagai salah satu pionir dalam perfilman Korea Selatan, terutama setelah ia merilis film Madame Freedom. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran Amerika Serikat dalam perfilman Korea Selatan pada tahun 1950an dan bagaimana pengaruh Amerika Serikat yang masuk dalam film Madame Freedom. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan pengaruh Amerika Serikat dalam budaya perfilman Korea Selatan pada tahun 1950-an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amerika Serikat memasukkan pengaruhnya melalui film dengan cara mengekspor film-film Hollywood dan memfasilitasi berbagai kebutuhan perfilman Korea Selatan melalui lembaga-lembaga Amerika Serikat yang terkait. Pengaruh Amerika Serikat terhadap perfilman Korea Selatan pada tahun 1950-an kemudian berupa nilai-nilai modernitas dan kosmopolitan Perang Dingin dari Amerika Serikat dalam seluruh aspek film. Kata Kunci: Amerika Serikat. Han Hyung-mo. Korea Selatan. Madame Freedom This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 14 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Pendahuluan Perfilman Korea Selatan merupakan salah satu budaya Korea Selatan yang memiliki popularitas tertinggi walaupun sebenarnya perfilman Korea tidak memiliki genre asli. Genregenre dalam perfilman Korea merupakan imitasi dari genre film asal negara lain, misalnya film samurai dari Jepang, film Barat dari Hollywood, dan film seni bela diri dari Hong Kong. Jadi. Korea hanya menerima beberapa genre dari negara-negara lain dan memodifikasinya sesuai dengan budaya Korea. Jepang menjadi negara yang pertama mengenalkan perfilman kepada masyarakat Korea pada masa kolonial (S. Chung, 2. Perfilman dijadikan sebagai ruang propaganda Jepang saat itu. Propaganda Jepang ini kerap dikatakan sebagai langkah awal kemajuan modern untuk seluruh Asia Timur, termasuk dalam beradaptasi dengan industri dan nilai-nilai Barat (Seth, 2. Oleh karena itu, beberapa film Kekaisaran Jepang diproduksi di Korea sebagai alat propaganda Kolonialisme Jepang (Russell, 2. Sejak pertengahan tahun 1930-an, pembuat film asal Joseon menghasilkan berbagai film yang kemudian dikenal sebagai Joseon yeonghwa Aofilm JoseonAo dengan dibantu oleh para pembuat film asal Jepang yang berada di Joseon. Nama tersebut digunakan karena film-film tersebut diproduksi di wilayah Joseon dan para pembuat film, baik asal Jepang maupun Joseon, juga menyebutnya demikian. Namun, industri film pada masa ini tetap didominasi oleh modal dari pihak Jepang dan dijalankan di dalam batasan kekaisaran Jepang dan sensor Film Joseon yang diproduksi dari tahun 1919 sampai 1945 masih belum memiliki posisi yang pasti antara film etnis Joseon dan film negara Jepang. Meskipun demikian, film-film yang berhasil diproduksi kemudian didistribusikan ke Jepang. Manchuria, dan wilayah jajahan Jepang lainnya. Pendistribusian tersebut juga dijalankan dengan menerima aspirasi komersial maupun artistik dari para pembuat film asal Joseon (C. Chung, 2. Adapun salah satu film yang menonjol pada era kolonial ini adalah Military Train (Gunyongyeolch. karya Seo Gwang-je yang disebut sebagai film pro-Jepang pertama dan juga film pertama yang dibantu oleh pemerintah saat itu (Gerow, 2. Setelah Perang Sino-Jepang pada tahun 1937, beberapa industri film Joseon beralih ke tema pro-Jepang, sedangkan sebagian lainnya berusaha membebaskan diri dari aibnya dan ikut membentuk negara merdeka baru karena adanya pembebasan dan pembentukan pemerintah pada tahun 1945 (Jeong, 2. Aib yang dimaksud adalah status zaman kolonial Korea, yakni AutradisionalAy dan AuterbelakangAy (Klein, 2. Pada masa pembebasan ini, semakin banyak film Joseon yang diproduksi tanpa campur tangan Jepang. KMDb, database film Korea yang dioperasikan oleh Hangungyeongsangjaryeowon AoKorean Film ArchiveAo, film Korea yang berhasil diproduksi berjumlah 68 film yang terbagi menjadi 8 film pada tahun 1948, 22 film pada tahun 1949, dan 3 pada tahun 1950. Film Joseon kemudian dibagi ke dalam tiga kategori film, yakni film sejarah tentang pembebasan dan kemerdekaan bangsa, film pencerahan dan budaya, dan melodrama populer (Jeong, 2. Selain pada masa penjajahan Jepang, perkembangan film nasional Korea Selatan selanjutnya terjadi pada masa Perang Dingin yang memecah Korea menjadi Selatan dan Utara (Doherty, 1. Film-film yang diproduksi di semenanjung Korea masih disebut sebagai film Page 15 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Joseon setelah merdeka dari Jepang pada 15 Agustus 1945 sampai pemerintahan Korea Selatan resmi terbentuk pada 15 Agustus 1948. Bahkan, istilah tersebut masih dipakai bergantian dengan Hanguk yeonghwa-gye Aoadegan film KoreaAo. Penggunaan istilah film Joseon dan juga judul Joseon pada saat ini menampilkan konteks sosial-budaya dan geopolitik yang lebih kompleks segera setelah terbebas dari Jepang. Namun, penerapan istilah film Joseon pada masa pascakemerdekaan ini menunjukkan baik praktik pembuatan film ketika masa kolonial Jepang maupun fase transisi periode pascakemerdekaan ketika film Korea Selatan diproduksi sebagai bentuk yang berbeda dari film Korea Utara. Pada masa ini, film Joseon juga lagi-lagi harus berurusan dengan kekuatan negara agar dapat ditunjuk sebagai sinema nasional Korea (C. Chung, 2. Pada periode tahun 1950-an, perfilman Korea Selatan masuk dalam periode kosmopolitanisme Perang Dingin yang disebabkan oleh kebijakan luar negeri Washington, yakni integrasi Free World AoDunia BebasAo. Kosmopolitanisme Perang Dingin merupakan bentuk budaya yang muncul berdampingan dengan ekspansi kekuatan Amerika Serikat ke Asia setelah Perang Dunia II. Dapat pula diartikan sebagai sebuah gaya . eperangkat kekayaan tekstual dan esteti. yang produksinya distimulasi oleh sebuah badan institusi dan praktik . eperangkat kekayaan materia. yang dikeluarkan sesuai dengan seperangkat cita-cita politik dan sosial . eperangkat kekayaan intelektua. Selanjutnya, kosmopolitanisme Perang Dingin juga dianggap sebagai sikap ke arah modernitas. Inilah yang membuat perfilman Korea Selatan mulai menghapuskan aspek-aspek opresif Konfusianisme yang patriarkal dan menggantinya dengan nilai-nilai liberal Barat, terutama individualisme dan kebebasan, yang berlaku bagi semua orang. Oleh karena itu, dimensi feminis juga mulai masuk ke perfilman Korea tahun 1950-an. Berikutnya, kosmopolitanisme Perang Dingin juga diartikan sebagai praktik material produksi dan penyebaran budaya. Pengertian ini menjelaskan keterlibatan Korea Selatan dalam Free World sehingga memungkinkan masuknya artefak budaya, pemikiran-pemikiran, dan teknik-teknik produksi budaya dari Barat. Berbagai produk Barat yang masuk ini kemudian digunakan oleh mereka untuk memproduksi dan menyebarkan budaya mereka sendiri. Dalam pembuatan film, mereka melakukannya dengan cara menggunakan peralatan film dan teknik-teknik pembuatan film dari Barat untuk menyempurnakan gambaran Korea Selatan dalam film mereka. Terakhir, kosmopolitanisme Perang Dingin merupakan gaya budaya, yakni manifes fitur tekstual dalam berbagai produk budaya Korea Selatan, termasuk film. Gaya ini memerlukan apropriasi dan indigenisasi berbagai elemen gaya yang berasal dari model Barat (Klein, 2. Sutradara yang menonjol dan banyak dibantu oleh United States Information Service (USIS) pada tahun 1950-an adalah Han Hyung-mo. Ia bekerja baik sebagai produser maupun sebagai art director yang juga sangat cakap dalam desain pencahayaan. Film-filmnya menarik banyak penonton, berpartisipasi dalam festival film internasional, memenangkan penghargaan-penghargaan dalam negeri dan internasional, dipuji oleh Rhee Syngman, dan dikagumi oleh rekan-rekannya, dan menjadi salah satu di antara film-film Korea Selatan pertama yang diekspor secara komersial. Sebagai seseorang yang pernah melewati masa perpecahan Korea dan pintar memanfaatkan situasi politik, ia telah berkecimpung dalam Page 16 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo industri film dengan bantuan dari USIS sejak sebelum tahun 1950-an. Salah satu filmnya yang sangat menarik untuk dibahas adalah Madame Freedom (Klein, 2. Penjelasan di atas menunjukkan masih terdapat ruang untuk meneliti sejarah Korea Selatan pada tahun 1950-an, khususnya terkait perfilman Korea Selatan yang menjadi alat propaganda Amerika Serikat. Penelitian terdahulu terkait kosmopolitanisme Perang Dingin dalam perfilman Korea tahun 1950 dibahas secara menyeluruh pada buku berjudul Cold War Cosmopolitanism: Period Style in 1950s Korean Cinema yang ditulis oleh Christina Klein pada tahun 2020. Buku ini menjelaskan tentang budaya perfilman Korea pada periode pascakolonial sampai sekitar Perang Dingin. Lalu. Klein menjelaskan berbagai gaya dalam industri perfilman Korea, seperti perempuan aprys, budaya film dan budaya suara, budaya konsumen dan keteguhan untuk mengadakan pertunjukkan film (Klein, 2. Ia juga menjelaskan beberapa hal terkait Han Hyung-mo, termasuk bagaimana film-film Hollywood membantunya, tapi tidak memberikan detail terkait bagaimana Amerika Serikat masuk ke dalam perfilman Korea Selatan. Selanjutnya, ada artikel yang ditulis oleh Shin Kang-ho dengan judul HanHyeongmo Gamdok Seuthail Yeonggu - 1950nyeondae Yeonghwareul Jungsimeuro [A Study on the Style of Director Han Hyung-mo - centered on 1950s movies-]. Artikel tersebut memaparkan tentang lima film yang disutradarai oleh Han Hyung-mo pada tahun 1950-an melalui analisis gaya terkait bagaimana gaya Hollywood klasik pada saat itu direproduksi dalam film atau film bergenre populer Korea. Penulis artikel menyatakan bahwa film-film karya Han Hyungmo merupakan yang terbaik dalam menunjukkan gaya Hollywood dan bentuk serta gaya narasi yang berstandar tinggi (Shin, 2. Penelitian ini kurang menjelaskan terkait bagaimana pengaruh Amerika Serikat dalam film Madame Freedom. Berdasarkan pemaparan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran Amerika Serikat dalam perfilman Korea Selatan pada tahun 1950-an dan bagaimana pengaruh Amerika Serikat yang masuk dalam film Madame Freedom. Hal ini menarik untuk dikaji sebab keingintahuan penulis terhadap kehadiran nilai-nilai Perang Dingin dari Amerika Serikat yang diadaptasi ke dalam perfilman Korea Selatan di tengah sulitnya situasi akibat perang. Dengan rumusan masalah ini, penulis bertujuan untuk menjabarkan pengaruh yang dibawa oleh Amerika Serikat dalam perfilman Korea Selatan, khususnya film-film yang diciptakan oleh Han Hyung-mo, pada periode awal pemerintahan Korea Selatan. Metode Penelitian Dalam melakukan penelitian kualitatif ini, penulis menggunakan metode sejarah yang melibatkan empat tahap, yaitu: . heuristik melalui studi studi pustaka dengan menggunakan sumber utama berupa film Madame Freedom yang dapat ditonton pada akun YouTube iuAEoAoi Korean Classic Film, lalu catatan dokumen dari Korean Film Archive (KOFA). Korean Movie Database (KMD. , dan National Museum of Korean Contemporary History, kemudian ditunjang dengan buku-buku dan beberapa artikel jurnal terkait perfilman Korea dan Han Hyung-mo pada tahun 1950-an, terutama artikel-artikel yang telah terbit di Korean Page 17 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Citation Index. kritik sumber, dilakukan dengan memastikan keresmian lembaga-lembaga yang menyimpan sumber utama dan melihat latar belakang penulis sumber-sumber pustaka apakah sesuai dengan topik yang ditulisnya sehingga dapat menghasilkan tulisan yang kredibel dan membandingkannya dengan sumber utama. interpretasi, penulis membaca semua sumber terkait dan mencari keterkaitannya antara satu sama lain. dan historiografi. Hasil Penelitian Peran Amerika Serikat dalam Perfilman Korea Selatan Film-film Hollywood sudah memasuki Joseon sejak tahun 1910-an karena diimpor oleh H Morris yang merupakan pebisnis penjualan dan pusat perbaikan mobil sekaligus agen Universal yang membuka Morris Trading Company pada tahun 1915. Lalu, pendistribusian dilakukan oleh perusahaan distribusi film milik Korea yang pertama. Gisin Yanghaeng. Namun, film-film Hollywood baru mendapatkan popularitas pada sekitar tahun 1930-an. Rakyat Korea kemudian mendapatkan kesan yang mendalam dari pesan-pesan terkait kebebasan dalam film-film Hollywood. Rakyat Korea yang saat itu masih dijajah oleh Jepang pun merasa film-film Hollywood sebagai kekuatan yang membebaskan mereka. Perasaan ini kemudian membuat mereka menganggap Amerika Serikat sebagai aliansi atau bahkan penyelamat yang dapat memerdekakan mereka dari Jepang (D. Kim, 2. Ini menunjukkan bahwa film-film asal Amerika Serikat sudah masuk ke Korea jauh sebelum masa pendudukan mereka dan berhasil memberikan pengaruh bagi rakyat Korea. Rakyat Korea pun bahkan telah menganggap Amerika Serikat sebagai penyelamat mereka sehingga dapat dikatakan ini menjadi salah satu faktor penerimaan rakyat Korea terhadap kedatangan militer Amerika Serikat pascakemerdekaan. Selanjutnya, situasi perfilman di Korea Selatan pada masa pendudukan Amerika Serikat dipengaruhi oleh kebijakan film pemerintahan militer Amerika Serikat yang menjadi bagian dari kebijakan film bagi negara pendudukan Amerika Serikat dan juga kebijakan pendudukan yang komprehensif secara umum. Kebijakan tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan Hollywood, otoritas militer setempat, dan transit melalui Jepang (KOFA, 2. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masuknya pengaruh Amerika ke dalam industri perfilman Korea Selatan secara resmi diawali oleh kerja sama antara pemerintah Amerika Serikat dengan Hollywood pada masa Perang Dingin. Kebijakan film bagi negara pendudukan Amerika Serikat pun diberlakukan bukan hanya terhadap Korea Selatan, melainkan juga terhadap Jerman. Austria, dan Jepang (Cho, 2. Pendudukan ini dibarengi dengan upaya deNazifikasi, de-militerisasi, dan de-komunisme (Armstrong, 2. Amerika Serikat sangat memperhatikan dampak perang psikologis melalui film ketika Perang Dunia II (Cho, 2. Film menjadi media utama untuk hiburan konsumsi massal dan dimensi lunak dari kehadiran Amerika Serikat pascaperang (S. Chung & Sin, 2. Oleh karena itu. Amerika Serikat menerapkan kebijakan terkait produksi film secara sungguh-sungguh melalui Office of War Information (OWI) yang dibentuk pada tahun 1942. Sementara cabang domestik agensi intelijen perang membentuk Bureau of Motion Picture (BMP) di Los Angeles dan bekerjasama dengan Hollywood, cabang luar negeri menjalankan rekonstruksi politik dan Page 18 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo budaya di negara-negara yang baru merdeka dari penjajahan dan menyebarkan pesan-pesan pro-Amerika melalui berbagai film. Di sisi lain. Hollywood, yang dikatakan sebagai sosok penting dalam perang psikologis, mulai bersiap untuk mengamankan pasar luar negeri setelah perang karena tidak lama lagi perang akan berakhir. Untuk tujuan tersebut, industri perfilman Amerika pun mendirikan American Film Export Association pada bulan Juni 1945 untuk menyatukan ekspor luar negeri dari delapan perusahaan film besar Amerika. Asosiasi tersebut merupakan anak perusahaan dari Motion Picture Association of America (MPAA) dan memiliki tiga misi utama untuk menyebarkan pemahaman tentang studio di luar negeri. Pertama, eliminasi hambatan perdagangan yang tidak bersahabat, seperti tarif, kuota, pajak pengiriman uang, peraturan nilai tukar, dan sebagainya, untuk kepentingan semua perusahaan anggota dan tawar-menawar dengan pemerintah dan industri asing di negara-negara tempat studio pribadi tidak dapat melakukannya. Kedua, memperkuat hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat. Ketiga, koordinasi kepentingan antar perusahaan anggota (Cho, 2. Terlihat bahwa Amerika Serikat sangat cerdas untuk memanfaatkan momen pascakemerdekaan untuk menyebarkan propagandanya melalui film-film Hollywood. Mengekspor film ke Korea yang baru saja merdeka tentu akan memberikan pengaruh besar bagi rakyat Korea karena mereka masih berada dalam keadaan yang tidak stabil dan memerlukan hiburan. Pemerintah Amerika Serikat memandang daerah-daerah pendudukan pascaperang sebagai negara-negara kriminal perang yang mempertahankan kecenderungan totalier Nazisme atau pun militerisme sehingga perlu ditanamkan demokrasi dan liberalisme (Cho, 2. Amerika Serikat pun berusaha untuk mereorientasi Korea ke demokrasi liberal gaya Amerika (Armstrong, 2. Oleh karena itu, keseluruhan kebijakan informasi publik pemerintah Amerika Serikat dirancang dengan tujuan membuat masyarakat pada daerah pendudukan untuk mengetahui kejahatan militerisme dan perang, kemudian mempraktikkan demokrasi baik secara ideologis maupun dalam kehidupan mereka. Dalam proses ini, media film, termasuk film Hollywood, dianggap sebagai alat yang penting untuk mengarahkan dan mengajarkan kembali penduduk wilayah pendudukan dengan menunjukkan Amerika Serikat dan cara hidup orang Amerika sebagai perwujudan demokrasi. Selain itu, industri perfilman berusaha untuk mempelopori wilayah pendudukan sebagai pasar baru tempat mereka dapat menayangkan penemuan dan film baru mereka yang sebelumnya dilarang selama masa penjajahan Jepang. Alhasil, tujuan meraih keuntungan dan pembuatan pasar dengan tujuan mengajarkan kembali ideologi kadang bekerja sama dan kadang berkonflik terkait kebijakan film di empat negara pendudukan (Cho, 2. Amerika Serikat sangat paham bahwa keadaan Korea Selatan yang terluka akibat penjajahan dan konflik dengan Korea Utara merupakan kesempatan bagi Amerika Serikat untuk memasukkan ideologi demokrasi liberalnya. Kejahatan militerisme dan perang yang ditampilkan dalam film-film Hollywood merupakan strategi yang luar biasa untuk semakin membuat rakyat Korea Selatan tidak menyukai kekerasan dan berpihak pada demokrasi yang ditampilkan dalam film secara apik. Film-film Hollywood yang berhasil diekspor ke Korea Selatan pun menjadi pedoman bagi para pembuat film Korea Selatan dalam memproduksi film. Film Hollywood sebagai Page 19 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo produk Amerika Serikat memiliki pengaruh yang signifikan dalam budaya perfilman Korea Selatan pada tahun 1950-an. Lee Hyung-pyo, seorang penulis skenario, sinematografer, dan sutradara yang sebelumnya pernah bekerja dengan USIS, mengungkapkan bahwa para pembuat film Korea berpedoman pada film-film Hollywood yang telah dianggap sebagai panduan teknik-teknik yang lebih maju. Lee mengatakan. AuPada tahun 50-an, kebanyakan dari kami menonton film asing karena kami berusaha untuk mempelajari sesuatu. Ay Setelah menonton film-film asing. Lee akan mengaplikasikan teknik-teknik yang telah ia pelajari ke dalam karya-karya filmnya dengan cara diatur sesuai kebutuhannya. Ia menambahkan. Au[A] Jadi, saya sangat terpengaruh oleh film-film Amerika. Dari topik sampai penyutradaraan atau bahkan penggunaan musik [A] Kemudian teknik kamera. Dan selanjutnya komposisi, layar, semuanya saya pelajari dari film-film Amerika. Ay Selain itu. Kang Beom-gu, seorang sinematografer dan sutradara, juga mengingat bahwa film-film Hollywood memberikan model bagaimana menggabungkan keterlibatan sosial dengan daya tarik populer (Klein, 2. Jadi, pengaruh Amerika Serikat dalam perfilman Korea Selatan ternyata bukan hanya terletak pada pesan-pesan yang disampaikan, melainkan juga pada keseluruhan proses pembuatan Ini berarti film-film Hollywood juga mendorong kemajuan dalam perfilman Korea Selatan. Keberadaan USIS sebagai badan yang bertugas untuk melakukan propaganda di Korea Selatan . 5 Ae 1. menjadi salah satu penyebab perfilman Korea Selatan mendapatkan pengaruh yang besar dari Amerika Serikat. USIS sendiri merupakan cabang lokal dari the United States Information Agency (USIA) yang merupakan instrumen utama propaganda Amerika Serikat di seluruh dunia (Nilsson, 2. Mengarahkan Korea Selatan ke modernitas merupakan tujuan utama dari Perang Dingin budaya. Oleh karena itu, film berita, dokumenter, dan pendidikan yang dibantu atau diproduksi oleh USIS dipertontonkan secara luas melalui unit-unit seluler dan diputar di sebagian besar bioskop komersial sebelum pemutaran film Film-film ini menunjukkan pandangan-pandangan menarik dari modernitas yang telah ter-Amerikanisasi: mengajarkan orang-orang Korea Selatan tentang sejarah, budaya, dan institusi Amerika. menampilkan upaya rekonstruksi Amerika di Korea. perkembangan modern di Korea Selatan. dan mempromosikan nilai-nilai Perang Dingin seperti demokrasi dan kebebasan (Klein, 2. Dengan begitu. USIS menjadi perwakilan utama Amerika Serikat di Korea Selatan untuk menyebarkan film-film bermuatan propaganda Amerika Serikat. Para penulis dan pembuat film Korea Selatan sangat terlibat dalam proses produksi dan lokalisasi film-film USIS bagi penonton Korea Selatan. Mereka bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk merekonstruksi Amerika Serikat sebagai perwujudan yang dapat diterima dari modernitas di dalam budaya film Korea Selatan. Dalam kerja sama ini, biasanya USIS akan membantu pembuatan film para sutradara film dengan berbagai cara, yang paling menonjol adalah dengan menyediakan perpustakaan yang disediakan oleh VoA Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (Klein, 2. Selain itu. Charles M. Tanner, yang bertanggung jawab atas urusan terkait film dalam USIS di Korea Selatan tahun 1947 sampai 1950, menuliskan dalam laporannya bahwa diperlukan peralatan minimal untuk memproduksi film Page 20 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo jika ingin membangun kembali industri perfilman Korea Selatan. Ia menyarankan pembentukan the Holding Company di Korea untuk membeli peralatan-peralatan film dari Asia Foundation, mengurus dan mengoperasikannya. Di samping itu, rencana pertamanya diwujudkan dengan mendirikan Korean Film and Culture Association setelah melakukan persiapan selama tiga tahun. Selanjutnya. USIS memberikan pelatihan untuk menjadi staf teknis dalam perfilman yang secara aktif menerima alat-alat modern dan memiliki pemikiran demokratis dan rasional (S. Lee, 2. Pada masa Perang Dingin yang dianggap sebagai momen dalam produksi film di Korea Selatan. USIS mendirikan studio film di Chinhae dan Sangnam yang berlokasi dekat dengan pusat perang. Busan. Studio film di Sangnam menyediakan bantuan yang luar biasa baik terkait teknologi maupun teknik perfilman sejak Bahkan, studio ini juga secara reguler memproduksi sangat banyak film berita dan dokumenter selama tahun 1950-an. Para pembuat film asal Korea pun direkrut untuk melokalisasi film-film USIS dan studio tersebut menjadi sumber material dan teknologi bagi mereka (H. Kim, 2. Ada pun film berita yang pertama kali dirilis pada tahun 1952 adalah Liberty News (Libeoti Nyuse. (H. Kim, 2. USIS memberikan banyak bantuan juga dikarenakan oleh hancurnya berbagai alat produksi film akibat perang. Oleh karena itu. USIS pun memproduksi film dengan cara yang menyiratkan bantuan berupa kerja sama internasional sekaligus rekonstruksi dan mencakup konten tentang bantuan transportasi, jalan, telekomunikasi, perumahan, kesehatan, dan pendidikan. Meskipun USIS memproduksi banyak film, hanya 15 film yang berhasil diverifikasi karena masih bertahan sampai saat ini (R. Kim, 2. Dapat dipahami bahwa ternyata Perang Korea turut membawa kerusakan bagi industri perfilman Korea Selatan pada saat itu. Namun. USIS berhasil memberikan berbagai macam bantuan sehingga industri perfilman Korea Selatan pun terselamatkan dan mampu bangkit kembali. Selain itu. National Film Production Center (NFPC) memiliki gedung yang disediakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan peralatannya diberikan oleh Amerika Serikat. NFPC sendiri merupakan pusat produksi film Korea Selatan di bawah kementerian informasi. Lembaga tersebut menghasilkan film berita mingguan dan lebih dari 40 subjek informasi, edukasi, dan dokumenter setiap tahunnya. NFPC juga diberikan dasar film pelatihan teknis dari proyek dua tahun Syracuse University yang dirancang di bawah arahan anggota University Film Producers Association (UFPA) (Maccann, 1. Tidak cukup dengan peralatan. Amerika Serikat juga memberikan bekal ilmu yang berkontribusi pada perfilman Korea Selatan. Film pelatihan teknis ini dapat dikatakan sebagai salah satu faktor awal kemajuan perfilman Korea Selatan di tahun 1950-an. Di sisi lain, kebijakan anti-komunis, berasal dari the United States Army Military Government in Korea (USAMGIK) dan semakin kuat pada masa pemerintahan Rhee Syngman, juga memberikan pengaruh yang besar dalam jumlah produksi film dan pembuat film Korea Selatan setelah berakhirnya Perang Korea pada tahun 1953. Kepergian sejumlah besar pembuat film ke Korea Utara ditambah dengan tewasnya tokoh-tokoh penting dan kehancuran akibat perang menyebabkan perfilman Korea Selatan melemah. Oleh karena itu, mulai muncul pembuat-pembuat film baru sehingga lahir generasi baru dalam industri Page 21 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo pefilman Korea Selatan pada tahun 1953 (Hughes, 2. Jadi, perfilman Korea Selatan pun ikut terkena dampak dari kebijakan politik Korea Selatan saat itu yang sedang berupaya menumpas komunis. Han Hyung-mo Han Hyung-mo . merupakan lulusan program studi seni di Manchuria, belajar tentang perfilman di Tokyo, dan kemudian memulai kariernya dalam industri perfilman dengan tanggung jawab mengurus seni dalam film Homeless Angel (Jib Eomneun Cheons. (Shin, 2. Meskipun telah aktif dalam bidang film sejak tahun 1944, ia memulai debutnya sebagai sutradara dengan filmnya yang berjudul Through the Wall (Seongbyeogeul Ttulkh. pada tahun 1949 dan memproduksi 19 film sejak itu sampai tahun Han Hyung-mo paling aktif berkarya pada tahun 1950 di mana ia membuat 10 film (KMDb, n. Terdapat beberapa film Han Hyung-mo yang sukses menciptakan awal perubahan baru dalam perfilman Korea Selatan, misalnya The Hand of Fate (Unmyeonge So. yang diciptakan ketika masyarakat Korea Selatan ingin menemukan cara untuk menyembuhkan luka hati mereka akibat Perang Korea yang baru saja berakhir pada tahun 1953 (Park, 2. Oleh karena itu, film tersebut pun menjadi film Korea Selatan pertama yang memasukkan adegan ciuman dan salah satu film pertama yang mengekspresikan suasana baru rasa sakit dan ketakutan akibat akhir perang saudara di negara mereka (Martin, 2. Dengan pencapaiannya, ia menjadi sutradara film layar lebar terbaik pada saat itu dan pionir teknologi film Korea yang memiliki kemampuan dalam semua proses produksi film, termasuk syuting, penyutradaraan, dan pengeditan (Shin, 2. Film-film Hollywood mempengaruhi berbagai aspek dalam film-film Han Hyung-mo untuk menunjukkan modernitas. Dari sinematografi Hollywood. Han Hyung-mo belajar untuk menangkap dimensi emosional yang menyenangkan dari modernitas, yakni kecemasan, kebebasan, dan keinginannya (Klein. Rekam jejak Han Hyung-mo sebagai seorang sutradara dengan karya-karya filmnya yang luar biasa membuat ia menjadi tokoh perfilman Korea Selatan yang dipercaya oleh Amerika Serikat. Oleh karena itu. USIS pun kerap membantu proses pembuatan film Han Hyung-mo. Melalui Han Hyung-mo. Amerika Serikat memiliki harapan untuk menyebarkan lebih banyak propagandanya. Madame Freedom Gambar 1. Madam Oh bersama dengan anak dan suaminya Page 22 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Madame Freedom . adalah film tentang seorang ibu rumah tangga yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang istri dan ibu seiring dirinya terpengaruh budaya Barat dari lingkungan sekitarnya. Film diawali dengan Madam Oh yang tengah menyetrika pakaian dengan menggunakan setrika besi sedikit berdebat dengan suaminya yang menolak ketika dimintai tolong untuk mengajar anak mereka yang sedang kesulitan mengerjakan tugas Selanjutnya, suaminya juga enggan menjawab ketika Madam Oh meminta izin untuk menerima tawaran pekerjaan. Adegan-adegan awal ini menunjukkan Madam Oh yang masih terikat sistem patriarki dan nilai-nilai Konfusianisme. Namun, seiring berputarnya film, tokoh Madam Oh akan memperlihatkan bahwa perempuan mampu menjadi tokoh utama dan melawan nilai-nilai sosial konservatif sebelumnya tentang perempuan. Hal ini menjadi sesuatu yang baru di tengah masyarakat Korea Selatan yang masih kental dengan patriarkinya pada saat itu. Oleh karena itu. Madame Freedom menunjukkan bahwa gaya hidup Barat juga masuk ke dalam kehidupan berkeluarga. Fakta ini membuat Madame Freedom menjadi tontonan ringan bagi siapa pun karena hampir semua orang pasti memiliki keluarga. Film yang ringan ini pun menjadi film yang menarik untuk ditonton dan kemudian bisa mengantarkan berbagai pesan dengan lebih baik. Madame Freedom sebagai sebuah film pun kemudian menjadi salah satu media yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai Barat, termasuk sisi negatifnya. Film ini merupakan film melodrama yang mengubah bayangan akan Amerika Serikat dan keinginan terhadap budaya dan barang Amerika ke dalam gaya Korea, lalu menunjukkannya sebagai sesuatu yang dapat diakses oleh masyarakat (R. Kim, 2. Film yang merupakan karya representatif dari tahun 1950-an ini dibuat berdasarkan karya Jung Biseok ini diproduksi dalam format hitam putih dan durasi sepanjang 124 menit. Film ini dianggap sebagai karya yang membuka jalan terhadap produksi drama modern (KOFA. Han Hyung-mo membawa penonton untuk merasakan konflik melodramatis dari pernikahan yang tidak bahagia sampai akhir film (Klein, 2. Selain itu, pada tahun 1950an yang merupakan salah satu periode transformasi sosial, banyak nilai-nilai tradisional yang dipertanyakan meskipun tidak sepenuhnya ditinggalkan. Fenomena ini kemudian membuat film dapat menyampaikan berbagai pesan terkait nilai-nilai tradisional yang dipertanyakan itu. Han Hyung-mo pun terdorong membuat film terkait momen ini, salah satunya perubahan kaum perempuan (Klein, 2. Nilai modern yang juga dapat masuk dalam kehidupan perempuan ditampilkan oleh Han Hyung-mo melalui tokoh Madam Oh. Tokoh tersebut melambangkan modernitas kosmopolitan karena ia merupakan perempuan modern yang menyambut masuknya budaya Barat sebagai alat untuk melarikan diri dari kehidupan keluarga yang mengekang. Ia mampu menggunakan setrika besi yang merupakan produk modern, kemudian menunjukkan keinginannya untuk modernitas sosial yang sesuai melalui permintaannya terhadap bantuan suaminya dalam membesarkan anak mereka (Klein, 2. Terdapat kemungkinan Han Hyung-mo mempelajari modernitas perempuan dari film-film Hollywood yang pernah ia Perempuan Amerika Serikat yang hidup dengan gaya modern pasti beberapa kali Page 23 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo dimunculkan dalam film-film Hollywood. Oleh karena itu. Han Hyung-mo mampu membentuk tokoh Madam Oh yang bersikap modern. Han Hyung-mo menerjemahkan ideologi liberal Perang Dingin sebagai visceral cosmopolitanism Aokosmopolitanisme mendalamAo melalui tokoh Madam Oh. Sebutan yang dibuat oleh Mica Nava itu berarti sebuah struktur perasaan di mana hubungan dengan orang luar negeri dialami pada tingkat pribadi secara langsung dan dengan demikian dapat diakses oleh perempuan. Diakses melalui bentuk komersial budaya, kosmopolitanisme mendalam sering dialami sebagai perasaan dan keinginan, serta menjadi sarana untuk memahami tatanan sosial yang berubah dengan cepat (Klein, 2. Inilah mengapa Madam Oh memiliki keinginan akan dinamika rumah tangga yang memberikan posisi seimbang baik bagi dirinya sebagai seorang perempuan maupun suaminya sebagai seorang pria setelah ia mampu beradaptasi dengan modernitas. Gambar 2. Madam Oh menggunakan pakaian modern gaya Barat Selanjutnya. Madame Freedom bertokohkan perempuan yang terpengaruh kosmopolitanisme Perang Dingin. Hal ini terjadi karena Han Hyung-mo terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran baru tentang perempuan yang beredar dalam budaya masyarakat, tapi belum normatif. Budaya masyarakat itu meliputi propaganda Amerika Serikat, majalah Yowon, kehidupan sehari-hari perempuan karier, dan tokoh feminis seperti Helen Kim dan Lee Tai-young. Tokoh-tokoh perempuan dalam film Han Hyung-mo berupaya untuk membebaskan diri mereka dari batasan patriarki dan membuat kembali diri mereka sebagai individu yang otonom. Oleh karena itu, film ini berjudul Madame Freedom. Film ini menggambarkan perkembangan kapasitas perempuan dan keinginannya yang semakin besar untuk menjalankannya di tengah masyarakat (Klein, 2. Kelelahan mereka menghadapi patriarki pramodern digambarkan dengan aksi mereka meninggalkan rumah dan juga berselingkuh (D. Lee, 2. Sebelumnya mereka dianggap berada di belakang, tapi kini mereka ada di garda depan untuk menavigasi peluang dan bahaya dari masyarakat baru yang sedang terbentuk di sekitar mereka. Tokoh-tokoh perempuan ini menjadi lambang kepribadian modern dan perwujudan dari ungkapan AuJanji-janji rekonstruksi pascaperang yang membebaskan dan utopis,Ay dan mereka membawa pemikiran-pemikiran kepribadian otonom yang dipromosikan oleh prajurit Perang Dingin budaya Amerika sebagai fondasi kehidupan modern. Para tokoh perempuan ini kemudian menjadi salah satu ruang terpenting dalam budaya publik pascaperang di mana visi feminisme kosmopolitan Perang Dingin banyak diserukan (Klein, 2. Meskipun Han Hyung-mo merupakan seorang laki-laki. Page 24 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo ternyata ia berani untuk memasukkan unsur feminisme di dalam filmnya. Ini menunjukkan bahwa ia memiliki pemikiran yang tercerahkan oleh paham-paham dari Barat. Ada kemungkinan maksud dari keputusannya untuk menyisipkan feminisme dalam filmnya adalah agar budaya patriarki dapat berkurang dan perempuan Korea Selatan menjadi lebih bebas untuk menjalani hidupnya. Gambar 3. Perilaku perempuan modern dalam Madame Freedom Madamee Freedom menunjukkan banyak tokoh-tokoh perempuan yang bertentangan dengan aturan Konfusianisme di mana perempuan diwajibkan menjadi seorang ibu dan istri yang baik. Banyak terlihat adegan perempuan merokok, memakai banyak perhiasan, menjalankan bisnis sendiri, bekerja, menabung banyak uang, dan menjalani pendidikan. Tidak hanya itu terdapat pula adegan Madam Oh melempar hadiah yang diterima suaminya ke wajah suaminya, meninggalkan anaknya yang meminta dirinya untuk tidak pergi, dan bertengkar dengan suaminya di hadapan anaknya. Ia juga berbohong kepada suaminya dengan mengatakan ia bekerja seharian dan justru menuduh suaminya berselingkuh padahal dirinya lah yang berselingkuh bahkan dengan dua pria. Adegan-adegan ini jelas menunjukkan sosok istri yang tidak berbakti kepada suami dan anaknya. Ada pun sebutan bagi tokoh-tokoh perempuan modern tersebut adalah perempuan aprys. Istilah Auperempuan aprysAy yang merupakan turunan dari Auperempuan modernAy di masa kolonial Jepang yang menjadi figur budaya modernitas paling menonjol pada tahun 1950-an dan direpresentasikan oleh Madam Oh. Istilah tersebut berasal dari bahasa Prancis aprys guerre yang berarti Ausetelah perangAy dan membangkitkan perubahan sosial dan budaya yang dibawa oleh Perang Korea. Menjadi aprys berarti seorang perempuan berhenti sementara untuk mengikuti aturan Konfusianisme yang telah mendefinisikan keperempuanan Korea selama berabad-abad. Perempuan aprys berkepribadian tegas, berani secara seksual, dan aktif di muka publik. Ini juga meliputi konsep perempuan kontemporer yang dimaskulinisasi. Perempuan dalam konsep tersebut menolak peran ibu rumah tangga dan ibu, tapi justru Page 25 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo mengejar gaya hidup materialistis. mahasiswa sombong yang berpikir ia lebih pintar dari lakilaki. gye madam atau ibu rumah tangga yang boros uang yang berpartisipasi dalam kelompok menabung dan meminjamkan uang. istri yang dibebaskan, yakni ibu rumah tangga dari kelas menengah atau kaya yang mengejar kesenangan pribadinya seperti kesenangan konsumen, hiburan, dan barang-barang impor. Selain itu, perempuan-perempuan aprys melakukan konsumsi yang berlebihan dan menghabiskan waktu dengan menari, menonton film di bioskop, dan berkencan. Mereka juga berkencan dan melakukan hubungan intim dengan orang asing untuk mengejar kepuasan seksual dan memilih suami karena tidak ingin Jadi, secara keseluruhan mereka menantang prinsip dasar patriarki (Klein, 2. Penulis melihat Han Hyung-mo berupaya untuk memberikan peringatan terkait degradasi moral yang akan terjadi pada kaum perempuan apabila terlalu bebas dan mengikuti gaya Barat secara berlebihan. Jadi, ia memang ingin perempuan Korea Selatan terbebas dari budaya patriarki, tapi ia juga ingin mereka untuk dapat menjaga diri di tengah banyaknya pengaruh Barat. Gambar 4. Perumahan Hanok dan Profesor Jang mengajarkan huruf Korea Unsur-unsur lokal Korea yang memperlihatkan unsur nasionalis dan lokalisasi juga terlihat dalam Madame Freedom. Pada awal film. Han Hyung-mo menunjukkan perumahan rumah tradisional Korea (Hano. sebagai salah satu latar tempat dalam film. Para tokoh digambarkan tinggal dalam Hanok tersebut. Lalu, tokoh-tokoh perempuan juga banyak menggunakan pakaian tradisional Korea (Hanbo. meskipun dapat dilihat adanya perubahan gaya pakaian Madam Oh ke gaya Barat di beberapa adegan. Selain itu, yang paling menarik adalah adanya adegan Profesor Jang mengajarkan tulisan Korea (Hangeu. dan tulisan tersebut ditunjukkan jelas dalam film. Adegan-adegan ini menunjukkan bahwa pengaruh Amerika tidak sepenuhnya menguasai film-film Korea Selatan saat itu karena para sutradara pun tetap mempertahankan identitas nasional mereka. Han Hyung-mo memasukkan nilai nasionalis melalui tokoh Profesor Jang yang merupakan seorang profesor bahasa nasional Korea. Sebelum periode kemerdekaan, bahasa Korea mendapat tekanan dari pemerintah kolonial Jepang dan penggunaan karakter bahasa Cina yang telah lama digunakan oleh elit yang Sino sentris, maka keahlian linguistik Profesor Jang menjadi unsur yang memperkuat nilai nasionalis dalam Madame Freedom. Ini juga sejalan dengan dorongan pascakolonial untuk mengajarkan hangeul, huruf resmi bahasa Korea, di sekolah negeri dan menggunakannya secara eksklusif dalam budaya percetakan (Klein, 2. Page 26 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Pengaruh Amerika juga memasuki ruang dialog dalam film Han Hyung-mo. Yang menarik adalah penonton dapat memahami bahwa di titik tersebut tidak ada lagi penggunaan bahasa Jepang yang berarti Korea Selatan telah terbebas dari penjajahan Jepang. Penggunaan bahasa Inggris dapat meningkatkan perasaan kemerdekaan, modernitas, dan kedekatan dengan Amerika Serikat. Beberapa adegan yang menunjukkan hal ini adalah ketika tokoh bernama Shin mengatakan AuGood morning . elamat pag. Ay dan AuI love you Auaku mencintaimuA. kepada Madam Oh. Tokoh Shin sendiri merupakan tetangga Madam Oh yang memiliki alat musik Barat berupa piringan hitam . Ada pula penyebutan nama minuman Barat, seperti AuWhiskeyAy dan AuHighballAy, lalu nama tarian Barat, yakni AuBluesAy dan AuSkate WaltzAy. Saat memesan minuman di kafe, tokoh perempuan bernama Park memesan AuCoffee . Ay dan memberikan AuPresent . Ay kepada Profesor Jang. Profesor Jang kemudian memanggil Park dengan AuMisseu . Ay. Tokoh Park digambarkan bekerja dengan orang Barat di kantornya, sedangkan Profesor Jang adalah orang berpendidikan tinggi. Han Hyung-mo memang juga menunjukkan modernitas dalam penggabungan suara dan Madame Freedom melekatkan karakter-karakternya dalam ruang suara modernitas yang diciptakan dengan menggabungkan sedikit suara dari luar negeri dan musik yang diambil dari budaya suara Korea Selatan dengan suara lokal lainnya. Tentunya, suara-suara ini bekerja dengan baik dalam film Han Hyung-mo untuk melengkapi latar dan Tokoh-tokohnya kerap menggunakan kata atau frasa bahasa Inggris dalam ucapannya kepada yang lebih muda. Tokoh yang lebih ter-Amerikanisasi melakukannya lebih Adegan-adegan tersebut menunjukkan kemahiran para pembicaranya dalam budaya Amerika. Selain itu, suara kata-kata bahasa Inggris tersebut juga memiliki afiliasi politik yang mengarahkan hubungan Korea Selatan dengan Amerika menggantikan hubungan kolonial Korea Selatan dengan Jepang dan hubungan budaya Korea Selatan dengan Cina (Klein. Gambar 5. Toko Paris tempat Madam Oh bekerja Melalui latar tempat dalam Madame Freedom, penulis dapat menilai bahwa pengaruh Amerika tidak hanya sebatas pada kehidupan personal, tapi juga mencapai kehidupan masyarakat secara menyeluruh, termasuk kota tempat tinggal mereka. Ini dapat menciptakan gambaran baru akan modernitas ke dalam benak rakyat Korea Selatan sehingga tidak menutup kemungkinan ini menjadi salah satu faktor adanya pengaruh Amerika dalam tatanan kota yang sebenarnya di Korea Selatan. Gambaran baru ini terlihat dari adegan latar tempat di awal film yang berupa kebisingan kota dengan suara klakson dan lalu lalang berbagai kendaraan. Page 27 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Han Hyung-mo juga menekankan modernitas urban dalam filmnya yang semakin memperlihatkan suasana kota setelah adanya pengaruh Amerika. Terdapat adegan yang menunjukkan Butik Paris yang dikelilingi dengan hiruk-pikuk klakson mobil dan suara lalu Suara tersebut tetap terdengar meskipun teredam oleh pintu yang tertutup. Latar suara tersebut berperan sebagai pelengkap suara untuk barang-barang Barat yang ditunjukkan. Suara-suara tersebut kemungkinan didapatkan dari film-film Hollywood atau diambil dengan izin dari rekaman yang diproduksi secara gratis oleh VoA milik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. VoA menyediakan perpustakaan rekaman yang menyimpan 56 rekaman efek suara yang dapat dipinjam oleh pembuat film komersial (Klein, 2. Madame Freedom juga memperdengarkan berbagai macam lagu baru asal Barat ke telinga para penontonnya sehingga rakyat Korea Selatan pun nantinya terdorong untuk mencari tau lagu-lagu tersebut. Dalam prosesnya, rakyat Korea Selatan tentunya akan mendengar lebih banyak macam lagu baru yang menarik bagi mereka. Ini dapat membuat mereka semakin menyukai dan menerima Amerika Serikat sebagai sahabat negara mereka. Han Hyung-mo merupakan pembuka jalan bagi penggunaan musik dalam perfilman Korea Selatan dan ia banyak menggunakan musik Barat dalam dalam film-filmnya, termasuk Madame Freedom. Musik dan tarian Barat yang digunakan oleh Han Hyung-mo pun menunjukkan nuansa kosmopolitan dan modern yang sangat beragam. Han Hyung-mo memasukkan sekitar 35 musik berbeda, beberapa dimainkan lebih lama dari yang lainnya. Tiga lagu muncul sebagai penampilan musik dan sisanya terdengar sebagai soundtrack sebagai musik diegetik1 dan nondiegetik2. Masuk pula satu lagu trot Korea berjudul Saturday for Avecs yang ditampilkan dalam nomor musik tambahan oleh penyanyi terkenal bernama Baek Seol-hui di acara makan siang perempuan. Trot adalah bentuk budaya Korea hibrida yang berakar pada tradisi musik Amerika. Eropa, dan Jepang. Kebanyakan dari musik Barat yang digunakan adalah diegetik, misalnya tokoh yang memainkan rekaman di kamarnya dan mendengar musik tetangga di jalan. Dengan suasana yang sangat kosmopolitan dari kehidupan tokoh dalam film Han Hyung-mo, penonton juga diajak merasakan suasana tersebut (Klein, 2. Bahasa Inggris terlihat digunakan sebagai penambah nilai estetika dalam film Madamee Freedom. Terdapat kemungkinan penggunaan lirik bahasa Inggris ini membuat penonton merasa bahasa Inggris sebagai bahasa yang indah sehingga tertarik untuk mempelajarinya. Selain itu, penulis melihat Han Hyung-mo memiliki perasaan di mana lagu Amerika lebih merepresentasikan pesan yang ingin ia sampaikan dalam adegan masalah-masalah sosial yang Han Hyung-mo menggunakan suara nondiegetik yang berlirik bahasa Inggris untuk untuk dijadikan sebagai jembatan suara yang memudahkan penonton masuk dari satu adegan ke adegan lainnya, menyampaikan makna sebuah adegan, dan menunjukkan ekspresi perasaan AuMusik sumberAy yang disajikan seperti muncul dari dalam dunia fiksi karakter film (Tan et al. , 2. AuMusik dramatisAy yang menyertai adegan, tapi tidak berasal dari dalam dunia fiksi karakter film (Tan et al. Page 28 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo modern daripada sebagai daya tarik tindakan modern. Hal tersebut dilakukan Han Hyung-mo dengan cara menekankan kedalaman emosional pada adegan seorang tokoh dengan menggunakan lagu-lagu yang liriknya berhubungan dengan situasi tokoh tersebut (Klein. Gambar 6. Suasana orang-orang Korea melakukan tarian Barat dengan diiringi musik Barat Dalam film Madame Freedom, terdapat banyak adegan menari tarian Barat yang bervariasi dengan berbagai makna. Beberapa jenis tarian Barat yang disebutkan dalam film adalah Blues. Skate Waltz, dan Tango. Tarian-tarian tersebut pun terlihat dilakukan dalam berbagai makna, yakni menunjukkan modernitas, menghibur, bersenang-senang, berkencan, dan menggoda. Adegan-adegan menari ini tentunya diiringi dengan alunan musik Barat yang berbeda-beda sesuai dengan tariannya. Musik Amerika dalam konteks ini dapat mengambil hati rakyat Korea Selatan agar semakin menyukai kehidupan ala Amerika karena dimainkan pada adegan-adegan tarian yang menyenangkan. Han Hyung-mo menandai penerimaan tokohnya terhadap gaya hidup enjoi yang modern dalam aspek tarian. Penonton dapat mendengar musik Latin yang biasanya dimainkan sebagai soundtrack ketika tokohnya sedang menari, membicarakan tentang menari, atau bahkan berpikir tentang menari. Musik Latin menandai pergerakan Madam Oh yang keluar dari tatanan sosial dan identitas yang berpusat di rumah dan masuk ke ruang publik yang beroperasi menurut aturan yang berbeda. Dengan kekuatannya yang mampu mengajak pendengarnya menari, musik membuat hidup terasa lebih nyata. Musik lebih merepresentasikan waktu santai daripada pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, kepuasan atas keinginan seseorang daripada pelayanan untuk mematuhi orang lain, dan kemungkinan romansa dengan pasangan yang dipilih secara bebas. Musik juga eksotik dengan suara dari luar negeri yang berperan sebagai ajakan untuk menghuni selama beberapa saat dunia baru yang tiba-tiba terbuka di Seoul, yakni selama film berputar (Klein, 2. Penggunaan lagu-lagu yang sukses di Amerika Serikat memberikan pengaruh pada gambaran posisi masyarakat Korea Selatan dalam film-film Han Hyung-mo. Dengan lagulagu yang terkenal di Amerika Serikat dan Barat pada tahun 1940-an dan 1950-an, soundtrack film Madame Freedom menunjukkan kosmopolitanisme Perang Dingin melalui ekspresi Soundtrack itu juga menjadi bentuk musik dari cita-cita integrasi Korea Selatan ke dalam Free World yang mencakup Amerika. Eropa, dan Amerika Latin, serta membangun pengalaman kontak temporal dan kultural dengan Barat bagi tokoh dan penonton. Melalui Page 29 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo musik. Han Hyung-mo menciptakan Seoul sebagai kota yang modis dan up-to-date dengan tren budaya di New York. Mexico City. Havana, dan London. Sifat kontemporer soundtrack film Han Hyung-mo mengantar penontonnya ke dalam temporalitas dari modernitas budaya yang dimiliki bersama dengan penduduk kota-kota besar Barat tersebut. Musik juga dimanfaatkan oleh Han Hyung-mo untuk melekatkan Korea Selatan menjadi satu titik dalam sebuah jaringan lokal modern. Film-film Han Hyung-mo dengan soundtrack-nya yang kosmopolitan mampu membuat tokoh dan penonton merasakan pengalaman bergabung ke dalam sistem Free World sebagai kesenangan, imajinasi, dan emosi. Ajakan untuk kebersamaan seperti itu memiliki implikasi politik dalam masyarakat pascakolonial, yakni menunjukkan bahwa alasan keterbelakangan yang Jepang sebut untuk membenarkan tindakan penjajahannya terhadap Korea Selatan dapat terbantahkan (Klein, 2. Free World yang dihadirkan dalam Madame Freedom merupakan ruang yang membangun meskipun tidak ada bentuk fisiknya. Travis Workman menyebut ruang tersebut dengan topos dan menuliskannya dengan fokus pada trauma Perang Korea yang tidak ditunjukkan secara langsung di layar, tapi membentuk fondasi banyak jalan cerita dan Dalam Madame Freedom dan film-film kosmopolitan Perang Dingin lainnya. Free World hanya merupakan sebuah topos, yakni tempat yang tidak secara langsung menunjukkan, tapi memiliki eksistensi yang secara terus-menerus diarahkan oleh gaya visual dan aural. Sementara narasi film Madame Freedom tetap fokus pada perjalanan Madam Oh di sepanjang Seoul, karakteristik film tersebut menunjukkan kehadiran dunia yang lebih besar yang memberi makna tambahan yang tersirat. Maksudnya adalah film tersebut menunjukkan afiliasi Korea Selatan dengan kapitalis, demokratis, dan dunia Barat yang tidak terlihat di luar perbatasannya (Klein, 2. Jadi, melalui unsur-unsur Barat di dalam Madame Freedom, rakyat Korea Selatan dapat merasakan Free World tanpa perlu kontak secara langsung. Selain itu, unsur-unsur Barat tersebut juga dapat membentuk pandangan rakyat Korea Selatan terhadap Free World seindah yang ditampilkan dalam film dan terhadap Amerika Serikat sebagai pembawa modernitas bagi negara mereka. Kesimpulan Langkah awal yang dilakukan Amerika Serikat untuk mengarahkan masyarakat Korea Selatan ke nilai-nilai Perang Dingin . apitalis, demokratis, dan dunia Bara. melalui perfilman adalah dengan mengekspor film-film Hollywood ke Korea Selatan melalui American Film Export Association. Cara tersebut sukses dan bahkan para pembuat film Korea Selatan menjadikan film-film Hollywood sebagai pedoman mereka dalam berkarya. Maka, tidak heran apabila film-film pada tahun 1950-an sarat akan nilai-nilai Barat. Selanjutnya. Amerika Serikat melancarkan propagandanya melalui USIS dengan memberikan bantuan bagi keperluan pembuatan film di Korea Selatan, misalnya alat-alat produksi, studio, rekaman suara, pelatihan, dan sebagainya. USIS aktif membuat film dan juga membantu para sutradara film di Korea Selatan. UFPA juga ikut memberikan film pelatihan dan kebijakan anti-komunisme USAMGIK turut memberikan pengaruh dalam perfilman Korea Selatan. Salah satu sutradara yang kerap dibantu oleh Amerika Serikat adalah Han Hyung-mo. Page 30 of 33 Meutia Khaliya. Agus Setiawan Pengaruh Amerika Serikat dalam Budaya Perfilman Korea Selatan 1950-an: Madame Freedom Karya Han Hyung-mo Madame Freedom merupakan salah satu film Han Hyung-mo yang mendapatkan banyak perhatian karena sukses menyajikan tokoh utama perempuan yang dikombinasikan dengan nilai-nilai modernitas. Dalam film tersebut. Han Hyung-mo mengkombinasikan gayagaya Barat dengan gaya asli. Ia juga menampilkan perubahan sikap perempuan yang telah mengenal modernitas sehingga tidak lagi terkekang nilai-nilai Konfusianisme dan menjadi perempuan yang terpengaruh kosmopolitanisme Perang Dingin yang mengenalkan Modernitas dalam film ini juga tidak hanya ditampilkan melalui tokoh, melainkan juga melalui musik, suara, dan dialog. Han Hyung-mo menggunakan banyak musik Barat dan suara nondiegetik berlirik bahasa Inggris. Terdapat pula beberapa dialog yang menggunakan bahasa Inggris dengan gaya pengucapan orang Korea. Selain itu, penonton juga disuguhkan tarian-tarian Barat yang bernuansa kosmopolitan. Unsur-unsur Amerika ini pada intinya memberikan warna baru dalam perfilman Korea Selatan. Warna baru yang dibawa oleh Amerika Serikat itu kemudian membuat rakyat Korea Selatan merasakan pengalaman tidak langsung hidup di tengah Free World yang terlihat menyenangkan dan merasakan kedekatan dengan Amerika Serikat. Maka, dapat kita lihat bahwa perfilman Korea Selatan yang sebelumnya penuh dengan budaya Jepang sebagai upaya propaganda Jepang pada masa penjajahan kemudian menjadi bergaya Barat sekaligus kosmopolitan yang mengedepankan modernitas. Namun, tetap terlihat upaya pembuat film untuk mengindigenisasi unsur-unsur Barat yang masuk dalam film-filmnya. Hal tersebut karena unsur-unsur tersebut tidak langsung diterima begitu saja, tapi melalui proses penyesuaian dengan budaya Korea Selatan. Ucapan Terimakasih