VARIABEL VOL. 8 NO. 2 (October 2. : 98-108 p-ISSN: 2593-302X dan e-ISSN: 2599-3038 Variabel is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik Hastuty1. Nurhayati2. Sri Rahmadhanningsih3. Sumarli4. Resy Nirawati5 Universitas Terbuka. Jakarta. Indonesia1. ISBI Singkawang. Singkawang. Indonesia2,4,5. Universitas Bosowa. Makassar. Indonesia3 hastutyferdi@gmail. com1, nurhayati@stkipsingkawang. id2,*), rahma@universitasbosowa. id3, sumarliphysics@gmail. com4, resynirawati@gmail. Corresponding author Kata Kunci: STAD. Kriteria Ketuntasan Belajar. Hasil Belajar Matematika ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Paluh Mudik. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah tes dan non tes. Non tes dilakukan dengan observasi, wawancara dan catatan lapangan. Hasil penelitian didapatkan setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda adalah 77,63 sedangkan hasil belajar siswa sebelum dilakukan pembelajaran STAD adalah 59,74. Sehingga terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. Improving Mathematics Learning Outcomes through the STAD Type Cooperative Learning Model for Students of SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik Keywords: STAD. Learning Completion Criteria. Mathematics Learning Outcomes ABSTRACT The purpose of this study was to determine the extent to which student learning outcomes improved on the topic of adding fractions with different denominators using the STAD-type cooperative learning model in grade V of SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. This type of research was classroom Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 action research, consisting of planning, implementation, observation, and reflection. This classroom action research was carried out in two cycles, and each cycle consisted of two The population of this study was grade V students of SD Negeri 95/i Tanjung Paluh Mudik. The data collection techniques for this study were tests and non-tests. Non-tests were carried out through observation, interviews, and field The results of the study were obtained after mathematics learning with the STAD type cooperative learning model. average score of student learning outcomes on the topic of adding fractions with different denominators was 77. 63, while the student learning outcomes before the STAD learning were So there is an increase in student learning outcomes on the topic of adding fractions with different denominators using the STAD-type cooperative learning model in grade V of SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dasar yang sangat penting dalam pendidikan sekolah dasar. Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung, tetapi juga melatih siswa dalam berpikir logis, kritis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar menjadi fondasi utama bagi perkembangan kemampuan akademik siswa pada jenjang pendidikan berikutnya (Safari & Rahmalia, 2. Namun, dalam kenyataannya, pembelajaran matematika sering kali dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar yang diperoleh. Kondisi ini juga ditemukan pada siswa SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik, di mana hasil belajar matematika masih belum mencapai target yang diharapkan. Dari hasil yang didapatkan pada tahun pelajaran 2019/2020 bahwa nilai matematika peserta didik kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik masih terdapat siswa di bawah KKM yang telah ditentukan yakni 60 dan masih banyak siswa yang memperoleh Karena metode dan teknik yang digunakan cenderung monoton kepada murid, di mana guru aktif menyampaikan informasi dan murid pasif menerima. Kesempatan bagi murid untuk melakukan refleksi melalui interaksi antara murid dengan murid, dan murid dengan guru kurang Dengan pembelajaran tersebut murid tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, tetapi mereka menjadi sangat tergantung pada guru, tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien. Rendahnya hasil belajar tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya motivasi belajar siswa, pembelajaran yang masih berpusat pada guru, serta metode pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif (Salamah, 2. Pembelajaran matematika yang masih bersifat konvensional, seperti ceramah dan pemberian latihan secara individu, cenderung membuat siswa pasif dan kurang memiliki kesempatan untuk berdiskusi atau bekerja sama dengan teman. Akibatnya, siswa menjadi cepat bosan dan tidak tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan inovasi dalam proses pembelajaran agar siswa lebih aktif, termotivasi, dan mampu memahami materi dengan lebih baik (Santy & Soepudin, 2. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 matematika adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Model STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang menekankan kerja sama dalam kelompok heterogen. Dalam model ini, siswa belajar bersama dalam tim, saling membantu memahami materi, serta termotivasi untuk mencapai prestasi kelompok melalui evaluasi individu dan penghargaan tim. Model STAD dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, meningkatkan interaksi sosial siswa, serta mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran (Susanti et al. , 2017. Artini, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa, menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam belajar, serta berdampak pada peningkatan hasil belajar matematika (Trianto, 2009. Taniredja et al. , 2012. Darmadi, 2. Dengan demikian, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik. Dengan menggunakan model pembelajaran ini, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika khususnya pada materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Resear. Tindakan yang diberikan adalah proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan, yaitu . perencanaan tindakan, . pelaksanaan tindakan, . observasi dan evaluasi dan . refleksi (Trianto, 2011. Sanjaya, 2. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini berlokasi di SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik dengan subjek penelitian adalah Siswa kelas V dengan jumlah siswa 19 orang yang terdiri dari : laki-laki 12 orang dan perempuan 7 orang pada semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Rencana Tindakan Penelitian tindakan ini direncanakan terdiri dari dua siklus. Kedua siklus ini merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, artinya pelaksanaan Siklus II merupakan lanjutan dan perbaikan berdasarkan refleksi dari Siklus I. Siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan Siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Untuk dapat mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik maka sebelumnya diberikan tes awal dan hasilnya dijadikan sebagai skor dasar. Setelah itu barulah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Siklus I Sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. , maka pelaksanaan Siklus I ini dibagi 2 tahap yaitu . perencanaan tindakan atau rancangan tindakan . , . pelaksanaan tindakan . , . observasi dan evaluasi dan . Tahap perencanaan Tahap perencanaan yang dilakukan pada Siklus I ini adalah sebagai berikut: Menelaah kurikulum SD kelas V pada mata pelajaran matematika. Membuat model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut : Menyatakan kegiatan atau topik utama pembelajaran yang diberikan, berupa kompetensi Inti, kompetensi dasar, kelas/semester dan alokasi waktu. Menyatakan tujuan umum pembelajaran . ndikator pencapaian hasil belaja. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 . Merinci media untuk mendukung pembelajaran atau topik tersebut. Dalam hal ini media yang akan digunakan adalah media LCD Proyektor yang isinya mencakup materi yang akan disajikan. Membuat skenario pembelajaran atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menyiapkan media /alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran. Menyiapkan pembentukan kelompok-kelompok kecil untuk kerja kelompok, dengan menggunakan model pembelajaran tipe STAD. Pada pembentukan kelompok siswa dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang, yang dibagi berdasarkan nomor urut absen. Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran dikelas. Membuat soal-soal yang disusun berdasarkan materi Aemateri yang telah diajarkan. Tahap tindakan Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah kegiatan belajar mengajar dan mengimplementasikan soal-soal yang telah dipersiapkan, baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun pada pemberian tugas kurikuler. Gambaran umum yang dilakukan adalah : Pada awal setiap pertemuan, hal yang pertama dilakukan adalah memberikan penjelasan singkat tentang materi yang dipelajari dengan mengkaitkan dengan kehidupan nyata siswa atau kehidupan sehari-hari serta memperlihatkan gambar yang ada di LCD. Setelah guru menjelaskan, siswa diberikan tugas sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan, baik secara individual maupun secara kelompok. Pada pembentukan kelompok siswa dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang yang dibagi berdasarkan nomor urut absen. Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting seperti kehadiran siswa, keaktifan dalam mengerjakan tugas, bertanya, memberikan tanggapan, serta keseriusan dalam kerjasama dengan kelompoknya. Memberi tes akhir Siklus I Melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa, dengan berbagai cara seperti pengukuran proses bekerja, hasil karya, penampilan. PR, kuis, hasil tes tulis dan demonstrasi. Tahap observasi dan Evaluasi Pada tahap penulis melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Observasi dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data hasil observasi yang meliputi kehadiran siswa, kerjasama, keaktifan siswa baik dalam bertanya atau memberi tanggapan, menjawab pertanyaan guru atau teman, mengerjakan tugas, tampil menyelesaikan soal latihan di papan tulis dengan benar, siswa yang melakukan kegiatan di luar proses belajar mengajar, siswa yang memerlukan bimbingan dalam mengerjakan soal, siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali konsep yang telah dibahas dan kerjasama dengan kelompoknya. Evaluasi selanjutnya dilaksanakan pada akhir Siklus I dengan memberikan tes tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar siswa terhadap materi yang telah diperoleh selama Siklus I berlangsung. Tahap Refleksi Data yang diperoleh dari hasil observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari analisis tersebut peneliti merekfleksi diri dan melihat kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah berhasil atau tidak. Adapun hal-hal yang sudah baik agar tetap dipertahankan sedangakan yang belum berhasil ditindaklanjuti pada siklus berikutnya. Siklus II Siklus II dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Pada dasarnya hal yang dilakukan pada Siklus II ini adalah mengulangi tahap-tahap yang dilaksanakan pada Siklus I. Disamping itu akan dilaksanakan juga sejumlah rencana baru untuk memperbaiki, merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dari hasil refleksi yang diperoleh pada Siklus I. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: Data mengenai tingkat hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran setelah diadakan tindakan, dikumpulkan dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan Data mengenai proses belajar mengajar dalam hal kehadiran dan keaktifan siswa untuk tiap pertemuaan diambil dengan menggunakan lembar observasi. Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan statistik deskripsi yaitu skor rata-rata dan persentase. Selain itu ditentukan pula standar deviasi, tabel frekuensi, nilai minimum, dan maksimum yang diperoleh dari setiap siklus. Adapun untuk keperluan analisis penguasaan siswa digunakan standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minima. Tingkat penguasaan < 60 dikategorikan Aytidak tercapaiAy. Tingkat penguasaan = 60 dikategorikan AytercapaiAy. Tingkat penguasaan > 60 dikategorikan AyterlampauiAy. Untuk menganalisis data hasil observasi digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Kriteria penilaian pada data observasi yaitu kehadiran, menanggapi pertanyaan guru, pertanyaan teman, mengajukan pertanyaan, kerjasama dengan kelompok, membuat kesimpulan, dan mengumpulkan Indikator Kinerja Kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik, terhadap bahan ajar setelah diberikan pembelajaran dengan menggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, baik ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus maupun dari data hasil observasi dalam mengikuti proses pembelajaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Adapun yang dianalisis adalah deskriptif mengenai perubahan hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada Siklus I dan Siklus II berdasarkan hasil tes pada tiap akhir siklus. Di samping itu akan dianalisis pula refleksi terhadap pelaksanaan tindakan dalam proses belajar mengajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada tahap ini pula penulis menganalisis perubahan sikap siswa berdasarkan hasil pengamatan dan observasi maupun refleksi. Analisis kuantitatif Analisis deskriptif hasil belajar siswa pada tes awal siklus Tes awal yang dilakukan peneliti bertujuan untuk memperoleh gambaran awal tentang hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Tes awal ini akan dijadikan acuan untuk melihat sejauh mana keberhasilan metode pengajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun hasil tes awal Siklus belajar siswa kelas V materi pembelajaran matematika dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil analisis statistik deskriptif pada skor hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD . wal siklu. dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Rata-rata skor yang dicapai siswa tidak mencapai nilai KKM yaitu 60. Rentang skornya juga masih tinggi. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 Tabel 1. Data Kondisi Awal Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Nama Siswa Nilai Tidak Tercapai Tercapai Melampaui S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 Rata-rata 59,74 Persentase 26,32 52,63 21,05 Tabel 2. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Awal Siklus Statistik Nilai Statistik Subyek 19,00 Skor Ideal 100,00 Skor Tertinggi 90,00 Skor Terendah 40,00 Rentang Skor 50,00 Rata-rata Skor 59,74 Median Modus Dari data Tabel 1, jika skor hasil belajar responden dikelompokkan ke dalam 3 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Awal Siklus Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) < 60 Tidak tercapai 26,32 = 60 Tercapai 52,63 > 60 Melampaui 21,05 Jumlah Pada Tabel 3 terlihat bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa dari 3 kategori yang ada, kategori tidak tercapai terdapat 26,32%, yang frekuensinya melampaui sekitar 21,05%. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 Analisis deskriptif hasil belajar siswa pada tes Siklus I Data prestasi belajar pada Siklus I setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Tes Siklus I Nama Siswa Nilai Tidak Tercapai Tercapai Melampaui S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 Rata-rata 68,42 Persentase 10,53 36,84 52,63 Hasil analisis statistik deskriptif pada skor hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Siklus I Statistik Nilai Statistik Subyek 19,00 Skor Ideal 100,00 Skor Tertinggi 100,00 Skor Terendah 40,00 Rentang Skor 60,00 Rata-rata Skor 68,42 Median Modus Tabel 5 menunjukkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tabel tersebut mengindikasikan adanya peningkatan dimana pada awal siklus rata-rata skor 59,74 menjadi 68,42 pada Siklus I ini. Dari data Tabel 4, jika skor hasil belajar responden dikelompokkan kedalam 3 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang disajikan pada Tabel 6. Pada Tabel 6 terlihat bahwa hasil belajar siswa bervariasi dan pada umumnya kemampuan hasil belajar siswa sudah meningkat yang pada awal siklus ke Siklus I. Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 Tabel 6. Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Siklus I Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) < 60 Tidak tercapai 10,53 = 60 Tercapai 36,84 > 60 Melampaui 52,63 Jumlah Analisis deskriptif hasil belajar siswa pada tes Siklus II Data prestasi belajar pada Siklus II setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Data Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Tes Siklus II Nama Siswa Nilai Tidak Tercapai Tercapai Melampaui S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 Rata-rata 77,63 Persentase 5,26 26,32 68,42 Hasil analisis statistik deskriptif pada skor hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 95/i Tanjung Pauh Mudik setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap materi penjumlahan pecahan berpenyebut beda pada Siklus II dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Siklus II Statistik Nilai Statistik Subyek 19,00 Skor Ideal 100,00 Skor Tertinggi 100,00 Skor Terendah 55,00 Rentang Skor 45,00 Rata-rata Skor 77,63 Median Modus Tabel 8 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan dibanding Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 pada Siklus I yang rata-rata skornya 68,42 menjadi 77,63 pada Siklus II. Berdasarkan data Tabel 7, jika skor hasil belajar responden dikelompokkan kedalam 3 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Siklus II Skor Kategori Frekuensi Persetase (%) < 60 Tidak tercapai 5,26 = 60 26,32 > 60 68,42 Jumlah Pada Tabel 9 terlihat bahwa hasil belajar siswa bervariasi dan pada umumnya kemampuan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi dari Siklus I ke Siklus II. Analisis Kualitatif Refleksi terhadap pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran matematika Refleksi Siklus I Siklus I terdiri dari dua kali pertemuan dengan materi penjumlahan pecahan biasa berpenyebut Materi disajikan diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan keadaan sekitar, kemudian menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Setelah itu penulis menjelaskan materi secara singkat dan mengaitkannya dengan contoh benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengelompokkan siswa dan membagikan LKPD untuk setiap kelompok. Kemudian setelah itu diberikan kuis dan dikerjakan secara individu. Pada pertemuan kedua dan berikutnya, materi disajikan diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, kemudian menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Setelah itu penulis menjelaskan materi secara singkat dan mengaitkannya dengan contoh benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengelompokkan siswa dan membagikan LKPD untuk setiap Kemudian setelah itu diberikan kuis dan dikerjakan secara individu, kemudian evaluasi, menyimpulkan materi, memberikan penguatan. Pada Siklus I ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti telah tercapai, misalnya meningkatnya ratarata hasil belajar siswa terhadap matematika yang terlihat pada Tabel 4 namun masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya. Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki pada Siklus II antara lain : Pada Siklus I siswa dikelompokkan menurut absen, ternyata nilainya tidak optimal sehingga pada Siklus II pengelompokan diubah berdasarkan hasil tes Siklus I. Siswa tetap dibagi dalam 5 kelompok dan pada setiap kelompok terdapat siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah. Pada Siklus I beberapa siswa belum menguasai cara menyamakan penyebut dengan KPK dan pecahan senilai, sehingga pada Siklus II materi itulah yang akan mendapat penekanan. Refleksi Siklus II Siklus II terdiri dari dua kali pertemuan dengan materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda dengan menyamakan penyebut dengan cara kali silang dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya. Pada siklus ini penulis menekankan hal-hal yang perlu diperbaiki seperti cara menyamakan penyebut dengan menggunakan KPK dan pecahan senilai, kemudian penulis menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Pada pertemuan pertama peneliti menjelaskan materi disajikan diawali dengan mengaitkan materi Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, kemudian menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Setelah itu penulis menjelaskan materi secara singkat dengan menampilkan video sebagai media Dan mengelompokkan siswa dan membagikan LKPD untuk setiap kelompok. Kemudian setelah itu diberikan kuis dan dikerjakan secara individu, kemudian evaluasi, menyimpulkan materi, memberikan penguatan. Pada Siklus II ini, pada umumnya siswa lebih bersemangat lagi dengan model pembelajaran dengan cara berkelompok sehingga siswa dapat saling berdiskusi dan bertukar pikiran dalam memahami materi dan memecahkan atau menyelesaikan soal matematika. Pada Siklus II ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti tercapai. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Murtiningsih . Sukendra dan Wedayanti . , dan Listiyowati . yang menyatakan bahwa model pembelajaran STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Irwanti dan Kusmanto . Depari et al. , dan Sari dan Musdi . yang menyatakan bahwa model pembelajaran STAD berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa. Perubahan sikap siswa Di samping terjadinya peningkatan hasil belajar siswa pada Siklus I dan Siklus II, tercatat pula sejumlah perubahan sikap yang terjadi pada siswa. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif dan dicatat oleh peneliti dalam lembar observasi tiap siklus. Adapun perubahan- perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut: Pada Siklus I kehadiran siswa sudah bagus begitu juga pada Siklus II. Pada Siklus I siswa masih malu-malu dalam bertanya kepada guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru sedangkan pada Siklus II siswa sudah berani untuk bertanya guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru. Pada Siklus I interaksi siswa dengan sumber belajar/media sudah baik sedangkan pada Siklus II interaksi siswa dengan sumber belajar/media jauh lebih baik dari Siklus I. Pada Siklus I semua siswa aktif melakukan kegiatan fisik dan mental . , begitu juga pada Siklus II. Pada Siklus I ketuntasan belajar siswa meningkat, itu dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa pada Siklus I 68,42 menjadi 77,63 pada Siklus II. Peneliti menyadari bahwa untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika perlu dirancang model pembelajaran yang sesuai dengan situasi keadaan siswa, yang terpenting juga adalah membelajarkan siswa antusias, keberanian mengungkapkan gagasan, ide dan pemikiran serta meningkatkan hasil belajar matematika (Purwanto, 2. Adanya peningkatan hasil belajar matematika pada Siklus II tersebut menunjukkan bahwa banyak kemajuan yang dicapai oleh siswa setelah dilaksanakan pembelajaran model kooperatif tipe STAD. Uraian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nudiah, et al. Surdiana . , dan Pradevi et al. yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan minat belajar matematika siswa. KESIMPULAN Pada awal siklus atau sebelum dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa adalah 59,74. Sementara skor ideal yang mungkin dicapai siswa adalah 100,00. Pada Siklus I atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda adalah 68,42 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00. Pada Siklus II atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa pada pokok bahasan Variabel Vol. 8 No. (October 2. Page: 98-108 penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda adalah 77,63 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00. DAFTAR PUSTAKA