Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Efektifitas Ekstrak Daun Sirih terhadap Penanggulangan Penyakit Bakterial Aeromonas hydrophila pada Ikan Nila (Oreochromis niloticu. (Effectiveness of Betel Leaf Extract in Controlling The Bacterial Disease Aeromonas hydrophila in Tilapia (Oreochromis niloticu. ) Zulfiani1*. Mariyam1. Muhammad Ansar1. Darsiani1. Dewi Yuniati1. Nurul Mutmainnah2 Program Studi Akuakultur. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat Program Studi Budidaya Perairan. Universitas Muhammadiyah Parepare *Corresponding author: zulfiani@unsulbar. ABSTRACT The cultivation of Nile tilapia often experiences high mortality rates due to disease. The primary disease commonly affecting the fish is bacterial, specifically Motile Aeromonas Septicemia (MAS) caused by the bacterium Aeromonas hydrophila. One of the efforts to address this issue is the use of natural materials with antimicrobial properties that are environmentally friendly. This study aims to determine the effectiveness of betel leaf extract in treating Nile tilapia (*Oreochromis niloticus*) infected with Aeromonas hydrophila. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions. The treatments involved the addition of betel leaf extract to the feed at concentrations of A = control. B = 0. 3 mL/100 g of feed. C = 0. 6 mL/100 g of feed, and D = 0. 9 mL/100 g of feed. Observed parameters included survival rate (SR), clinical symptom observations, and water The results showed that the highest survival rate was found in treatment B at 70 %, followed by treatment D at 33. 33 %. C at 30. 00 %, and the lowest in treatment A at 26. 66 %. Based on the research findings, it can be concluded that the optimal concentration of betel leaf extract as an antibacterial agent 3 mL per 100 g of feed, with an average survival rate of 70 %. Additionally, this concentration results in the fastest recovery of clinical symptoms compared to other treatments. Keywords: Aeromonas hydrophila. Betel Leaf Extract. Nile Tilapia ABSTRAK Budidaya ikan nila sering kali mengalami tingkat kematian yang tinggi akibat penyakit. Penyakit utama yang umum menyerang ikan ini adalah penyakit bakteri, khususnya Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memanfaatkan bahan alami yang memiliki sifat antimikroba dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas ekstrak daun sirih dalam mengobati ikan nila (Oreochromis niloticu. yang terinfeksi Aeromonas hydrophila. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan melibatkan penambahan ekstrak daun sirih pada pakan dengan konsentrasi A = kontrol. B = 0,3 mL/100 g pakan. C = 0,6 mL/100 g pakan, dan D = 0,9 mL/100 g pakan. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR), pengamatan gejala klinis, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi ditemukan pada perlakuan B sebesar 70 %, diikuti oleh perlakuan D sebesar 33,33 %, perlakuan C sebesar 30,00 %, dan terendah pada perlakuan A sebesar 26,66 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak daun sirih yang terbaik sebagai antibakteri adalah 0,3 mL/100 g pakan dengan rataan kelangsungan hidup sebesar 70 %, dan proses penyembuhan gejala klinis yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kata Kunci: Aeromonas hydrophila, ekstrak daun sirih, nila AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Zulfiani et al. | Seminar Nasional PKP I . : 155 Ae 163 Pendahuluan Daun sirih dapat digunakan sebagai antibakteri untuk mencegah infeksi bakteri hydrophila karena mengandung 4,2% minyak atsiri . Selain minyak atsiri hasil fitokimia mengandung senyawa flavanoid, alkaloid, terpenoid, steroid, saponin, fenol, dan tanin . Senyawa terpenoid berpotensi sebagai anti bakteri karena berfungsi untuk merusak dinding sel bakteri yang dapat menyebabkan lisis, kebocoran nutrien dari dalam sel, menyebabkan terjadinya denaturasi protein sel dan menghambat kerja enzim di dalam sel . Beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait penggunaan ekstrak daun sirih, yaitu pada ikan gurame dan ikan patin . , . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun sirih (Piper betle L) kedalam pakan bakterial Aeromonas hydrophila pada ikan (Oreochromis mengetahui dosis yang optimal untuk menanggulangi penyakit tersebut. Ikan nila (Oreochromis niloticu. merupakan ikan air tawar dengan potensi produksi yang signifikan. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2024, rataan produksi perikanan budidaya ikan nila terus mengalami peningkatan sejak tahun 2020 Ae 2023 sebesar 5,43 % dengan jumlah produksi pada tahun 2023 sebesar 1. Seiring dengan produksi yang terus meningkat, beberapa kendala ditemukan dalam pelaksanaannya, seperti pertumbuhan lambat, tingkat kelangsungan hidup rendah, dan kematian yang disebabkan penyakit . Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi kompleks atau tidak seimbang antara tiga komponen dalam ekosistem perairan, yaitu inang . kan yang lema. , patogen yang ganas, dan kualitas lingkungan yang memburuk . Azhar et al. , menyatakan bahwa patogen bakterial adalah jenis patogen yang sering menjadi kendala pada budidaya ikan nila. Salah satu jenis penyakit bakterial yang sering menyerang ikan nila adalah penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemi. Aeromonas Gejala yang ditunjukan oleh ikan nila yang terkena penyakit akibat infeksi bakteri biasanya berupa kehilangan nafsu makan, bercak merah dan luka-luka pada permukaan tubuh, pendarahan pada insang, perut membesar berisi cairan, sisik dan sirip ekor lepas, dan jika dilakukan pembedahan akan terlihat pembengkakan serta kerusakan pada hati, ginjal dan limpa ikan . , . Salah satu upaya meningkatkan imun dan pemberian antibiotik sebagai pengobatan infeksi bakteri A. hydrophila namun upaya tersebut juga menimbulkan dampak negatif. Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama akan berdampak negatif, diantaranya dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, memerlukan biaya yang cukup mahal, dan dapat mencemari lingkungan . Salah satu cara aman digunakan adalah dengan memanfaatkan tanaman obat- obatan bahan alami yang berfungsi sebagai anti mikroba yang ramah lingkungan . Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun sirih Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 40 hari pada bulan Agustus sampai September 2023 di SMK Negeri Rea Timur. Kecematan Binuang. Kabupaten Polewali Mandar. Provinsi Sulawesi Barat. Prosedur Penelitian Persiapan Ikan Uji Sampel larva ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan ukuran 4-6 cm berumur 2 bulan yang berasal dari SMK-PP Rea Timur. Sebelum dilakukan pengujian terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi dan dilanjutkan dengan pemeliharaan selama 7 hari untuk menyesuaikan lingkungan dalam wadah dan menstabilkan kondisi ikan agar tidak terinfeksi bakteri lain sebelum di uji Wadah yang digunakan berupa toples sealware volume 16 L dan diisi air dengan volume 10 L. Jumlah tebar masing-masing wadah terdiri dari 10 ekor/wadah sebanyak 12 Zulfiani et al. | Seminar Nasional PKP I . : 155 Ae 163 Ikan diberi pakan pelet sebanyak tiga kali sehari sampai kondisinya benar-benar stabil dengan nafsu makan tinggi dan tidak terjadi kematian. hydrophila sebanyak 0,1 mL. Aeromonas Pemberian Pakan Pasca Uji Tantang Ikan yang telah diuji tantang dilakukan pengadaptasian selama 24 jam tanpa diberi Pada hari kedua, ikan diberi pakan yang telah dicampurkan dengan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,3 mL, 0,6 mL, dan 0,9 Pemberian pakan diberikan sebanyak 3 % dari bobot tubuh ikan dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari, yakni pada pagi, siang dan sore hari. Ikan yang telah diuji tantang diberikan ekstrak daun sirih pada setiap perlakuan, pemberian pakan mulai diamati pada hari kedua sampai hari ke-15. Hal ini dilakukan agar kondisinya benar-benar stabil dengan nafsu makan yang tinggi dan tidak terjadi kematian. Pembuatan Ekstrak Daun Sirih Pada pembuatan ekstrak daun sirih (Piper betle L), bagian tanaman yang diambil adalah daun yang masih segar. Daun di cuci terlebih dahulu dengan air mengalir dan dikeringkan dibawah sinar matahari hingga kering yang ditandai daun mudah dipatahkan. Setelah kering, daun diblender sampai menjadi tepung dan diayak dengan menggunakan saringan. Serbuk daun sirih diekstrak menggunakan metode maserasi. Pembuatan filtrat dari serbuk daun sirih mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Rachmawaty et al. , serbuk daun sirih dimasukkan kedalam erlenmeyer, kemudian dicampur dengan etanol 90 %, lalu di tutup menggunakan aluminium foil dan dibiarkan selama lima hari untuk memperoleh filtrat ekstrak daun sirih. Hasil filtrat ditambah akuades 10% dan dilarutkan menggunakan stirrer kemudian diaplikasikan pada pakan Rancangan Penelitian Penelitian ini didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu: A = kontrol atau tanpa pemberian ekstrak daun sirih. B = ekstrak daun sirih 0,3 mL/100 g pakan. C = ekstrak daun sirih 0,6 mL/100 g pakan. D = ekstrak daun sirih 0,9 mL/100 g Pencampuran Ekstrak Daun Sirih pada Pakan Pakan komersil dan ekstrak daun sirih ditimbang terlebih dahulu kemudian ekstrak ditambah akuades sebanyak 10 % dari bobot pakan dan dilarutkan menggunakan stirrer selanjutnya dimasukkan ke dalam botol spray kemudian disemprotkan pada pakan sambil diaduk hingga merata dengan menggunakan kedua tangan hingga homogen. Pakan dikering-anginkan selama satu hari, setelah kering pakan dimasukkan kedalam toples lalu disimpan didalam ruangan yang kering Variabel yang Diamati Pengamatan Gejala Klinis Pengamatan gejala klinis dilakukan setiap 4 hari pasca uji tantang selama 15 hari. Meliputi tingkah laku, respon makan dan refleks gerak, serta abnormalitas . ropsy dan Survival Rate (SR) Penyuntikan Bakteri Aeromonas hydrophila ke Ikan Uji Kelangsungan hidup ikan dilakukan Bakteri Aeromonas hydrophila berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang. Ikan nila yang telah melewati proses aklimatisasi selanjutnya diuji tantang oleh bakteri Aeromonas hydropila dengan cara di suntik. Metode penyuntikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah intramuskular, yaitu pada lima sisik kebelakang dan dua sisik kebawah pada bagian sirip punggung, ikan Aeromonas menghitung jumlah ikan yang mati sampai hari ke-15 pasca uji tantang. Tingkat kelangsungan hidup ikan dihitung dengan formula 2 yang dikemukaan oleh Paradhiba et . SR = N0 y 100 Keterangan: Zulfiani et al. | Seminar Nasional PKP I . : 155 Ae 163 SR = Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah ikan nila yang hidup sampai akhir pemeliharaan . N0 = Jumlah ikan nila pada awal pemeliharaan . Ikan nila yang diamati menunjukkan gejala klinis yang ditandai adanya perubahan bentuk fisik, tingkah laku, dan kurangnya nafsu makan pasca penyuntikan bakteri A. Patogenitas diamati secara visual dengan memperhatikan gejala klinis yang tampak setiap hari setelah penyuntikan sampai akhir masa pemeliharaan kurun waktu 15 hari. Hasil pengamatan gejala klinis pada Tabel 1 menunjukkan terjadi peradangan yang ditandai adanya warna kemerahan yang tampak menyebar ke tubuh ikan. Radang merupakan gejala yang timbul akibat adanya patogen yang masuk kedalam inang dan meyebabkan infeksi. Gejala yang nampak adalah berupa pembengkakan pada permukaan tubuh, luka pada bekas suntikan dantimbulnya bercak merah . Penyuntikan yang dilakukan secara intramuskular akan menunjukkan gejala serangan yang tampak dari luar berupa borok pada kulit yangmenembus ke arah daging . Analisis Data Pengamatan gejala klinis dianalisis secara deskriptif, sedangkan variabel kelangsungan hidup dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan bantuan software SPSS untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan. Jika terdapat pengaruh perlakuan terhadap organisme uji maka dilanjutkan dengan uji WTukey . Hasil dan Pembahasan Pengamatan Gejala Klinis Tabel 1. Pengamatan gejala klinis setelah penyuntikan bakteri Aeromonas hydrophila Perlakuan Hari ke-3 Hari ke-7 Hari ke-11 Hari ke-15 Sumber: Data primer hasil penelitian . A = kontrol atau tanpa pemberian ekstrak daun sirih. B = ekstrak daun sirih 0,3 mL/100 g pakan. C = ekstrak daun sirih 0,6 mL/100 g pakan. D = ekstrak daun sirih 0,9 mL/100 g Perubahan tingkah laku ikan nila pasca penyuntikan, yaitu nafsu makan menurun, berenang menyendiri disertai gerakan yang tidak aktif. Menurut Haryani et al. perubahan tingkah laku pasca penyuntikan, yaitu posisi renang ikan menjadi miring karena kehilangan keseimbangan dalam tubuh. Sedangkan gejala klinis secara morfologi yang teramati pada semua perlakuan pengujian, yaitu inflamasi yang dicirikan dengan pembengkakan dan luka pada bekas suntikan serta pembengkakan bola mata . Pada hari ke 3 pasca penyuntikan, ikan nila semua perlakuan menunjukkan gejala lendir berlebih, peradangan, sirip ekor geripis, dan sisik terkelupas dan terjadi kerusakan daging. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khaerani et . , gejala klinis yang ditimbulkan pasca infeksi yaitu adanya peradangan pada bekas suntikan, hingga berkembang menjadi borok. Zulfiani et al. | Seminar Nasional PKP I . : 155 Ae 163 Hari ke-7 perlakuan A mengalami gejala peradangan berlanjut menjadi borok yang ciricirinya sisik terkelupas serta daging yang rusak pada tubuh ikan. Sedangkan perlakuan B. C dan D mengalami gejala borok sedang. Pada hari ke-11 luka ikan nila pada perlakuan A membesar dan menyebabkan kematian pada Hal ini dikarenakan tidak adanya kandungan antibakteri pada pakan perlakuan A sehingga penyebaran bakteri A. Pada perlakuan C dan D ikan nila masih mengalami borok sedangkan perlakuan B gejala borok mulai mengecil. Proses penyembuhan luka pada sebagian ikan uji mulai terjadi pada hari ke-9 sampai hari ke-15 untuk perlakuan B . ,3 mL). C . ,6 mL). D . ,9 mL). Proses pemulihan ditandai dengan adanya daging ikan mulai tertutupi jaringan-jaringan baru bekas luka pasca infeksi bakteri A. Hydrophila . Adanya penambahan ekstrak daun sirih dengan konsentrasi yang berbeda pada pakan memberikan hasil yang lebih baik, ditinjau dari diameter luka yang lebih sempit serta proses penyembuhannya yang relatif lebih cepat dibandingkan tanpa pemberian ekstrak daun Hal ini menunjukkan bahwa sistem imun pada ikan tersebut bekerja sebagai akibat adanya pemberian imunostimulan pada pakan yang termakan dan masuk kedalam tubuh ikan . Pemberian konsentrasi tersebut, diduga mampu meningkatkan produk jaringan limfomeiloid untuk menghasilkan sel-sel darah dan meningkatkan respon imun ikan terhadap serangan patogen . Peningkatan daya tahan tubuh ikan diduga karena adanya senyawa alkaloid yang dibawah aliran darah menuju sel-sel tubuh, akibatnya sel-sel tersebut menjadi lebih aktif, sehat dan terjadi perbaikan struktur serta bersifat detoksifikasi yang mampu menetralisir racun yang dihasilkan oleh bakteri A. Hydrophila . Kemampuan antibakteri pada daun sirih dipengaruhi oleh kandungan senyawa metabolit sekunder flavonoid. Flavonoid yang mekanisme kerusakan membran sel . Mekanisme antibakteri pada flavonoid mempengaruhi proses enzimatis bakteri dengan cara menginaktifkan enzim enzim pada sel mikroba. Proses lain yang tidak kalah penting dalam proses antibakteri adalah kinerja tanin dengan merusak dinding sel karena sifatnya yang lipofilik. Mekanisme antibakteri dari ekstrak daun sirih juga ditunjukkan oleh senyawa metabolit sekunder saponin yang memiliki sifat bakterisida, mengganggu kestabilan sitoplasma sel sehingga dapat menyebabkan kematian pada bakteri . Berdasarkan hasil pengobatan ikan nila dengan ekstrak daun sirih diperoleh hasil terbaik pada perlakuan B dengan konsentrasi 0,3 mL/ 100 g pakan, ditinjau dari diameter luka yang lebih sempit serta proses penyembuhan yang relatif lebih cepat dari perlakuan lainnya. Karena kandungan ekstrak daun sirih 0,3 mL/ 100 g pakan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini dikarenakan kandungan flavonoid dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan sitem imun ikan sehingga efektif diberikan pada ikan yang terserang penyakit bakteri A. Senyawa flavonoid berfungsi sebagai antibakteri karena dapat mengganggu fungsi dinding sel bakteri melalui pembentukan kompleks dengan protein ekstraseluler dan menghambat motilitas bakteri . Survival Rate (SR) Pencampuran ekstrak daun sirih dengan dosis berbeda selain dapat mengobati infeksi bakteri A. hydrophila pada benih ikan nila juga akan berdampak pada kelangsungan hidupnya. Kelangsungan hidup ikan uji dipengaruhi oleh dosis ekstrak daun sirih pada pencampuran Pemeliharaan benih ikan nila yang terinfeksi bakteri A. hydrophila selama 15 hari dengan pencampuran ekstrak daun sirih pada pakan dengan dosis yang berbeda, menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang berbeda pada setiap perlakuannya. Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila yang terinfeksi bakteri A. hydophila selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih ke dalam pakan menunjukkan adanya pengaruh nyata (PC0,. terhadap kelangsungan hidup ikan nila. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan A tidak berbeda nyata pada perlakuan C dan D, tetapi berbeda nyata pada perlakuan B. Zulfiani et al. | Seminar Nasional PKP I . : 155 Ae 163 Tabel 2. Rataan tingkat kelangsungan hidup ikan nila Perlakuan A (Kontro. B . kstrak daun sirih 0,3 mL/100 g paka. C . kstrak daun sirih 0,6 mL/100 g paka. D . kstrak daun sirih 0,9 mL/100 g paka. Kelangsungan hidup (%)ASD 26,66A15,27a 70,00A10,00b 30,00A10,00a 33,33A20,81a Keterangan: Superskrip pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. Tabel 2, menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan tingkat kelangsungan hidup 70 %, selanjutnya diikuti oleh perlakuan D dengan jumlah 33,33 %. C sebanyak 30 %, dan yang terendah terdapat pada perlakuan A 26,66 %. Tingginya tingkat kematian pada perlakuan A disebabkan karena bakteri A. hydrophila yang terdapat pada perlakuan A tidak diberikan campuran ekstrak daun sirih kedalam pakan. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan bakteri A. hydrophila tersebut semakin berkembang sehingga menyebabkan banyak ikan uji mengalami kematian . Berdasarkan kelangsungan hidup ikan uji diketahui bahwa pemberian ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,3 mL/100 g pakan adalah perlakuan terbaik dibandingkan dengan konsentrasi 0,6 mL/100 g pakan dan 0,9 mL/100 g pakan, dengan nilai kelangsungan hidup sebesar 30 % dan 33,33 %. Hal ini diduga bahwa dosis yang paling rendah mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan. Hal tersebut dikarenakan toksisitas bahan yang semakinmeningkat seiring dengan peningkatan dosis suatu bahan. Daun sirih mengandung bahan aktif berupa alkaloid. Senyawa alkaloid diduga memiliki efek negatif yaitu dapat bersifat racun bagi ikan. Namun demikian, alkaloid pada jumlah tertentu dapat bekerja secara sinergis dengan senyawa lainnya, sehingga tidak bersifat racun bagi ikan . Pemberian ekstrak daun sirih dapat mempertahankan kehidupan benih ikan nila, hal ini dikarenakan kandungan kavicol dan penyerangan penyakit pada benih ikan nila. Selain itu, beberapa senyawa seperti flavonoid, terpenoid dan tanin, diduga sebagai bahan aktif yang berperan sebagaiimunostimulan dan antibakteri . Kesimpulan Konsentrasi ekstrak daun sirih terbaik adalah sebesar 0,3 mL/100 g pakan dengan rataan kelangsungan hidup sebesar 70 %, dan proses penyembuhan gejala klinis yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Daftar Pustaka