GeoScienceEd 7. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi, dan Geofisika http://jpfis. id/index. php/GeoScienceEdu/index Krisis Epistemologi Pendidikan Islam di Era Modern: Systematic Literature Review tentang Dikotomi Ilmu dan Model Integrasi Keilmuan Muhammad Arhandika Rahman1*. Aldi Ashaomi Saputra1. Ahmad Sulhan1 1 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram. Indonesia. DOI: https://doi. org/10. 29303/goescienceed. Article Info: Received Revised Accepted Published : 20 Mei2026 : 27 Mei 2026 : 03 Juni 2026 : 12 Juni 2026 Correspondence: Muhammad Arhandika Rahman Phone: Abstract: Modernity has intensified the dichotomy between religious and general knowledge in Islamic education, leading to an epistemological crisis. This article aims to examine the historical and epistemological roots of this dichotomy, explore relevant models of knowledge integration, and formulate directions for reconstructing contemporary Islamic education. This study employs a qualitative approach with a systematic literature review design, involving an in-depth examination of relevant articles, books, and scholarly publications spanning the period from 1989 to 2026. The data were analyzed through thematic synthesis, focusing on the historical roots of dichotomy, critiques of modern epistemology, and models of knowledge integration. The findings show that the epistemological crisis in Islamic education is rooted in colonialism, the secularization of modern knowledge, dualistic educational systems, and the weakening of the tauhidic In contrast. Amin AbdullahAos integration-interconnection paradigm, bayani-burhani-irfani epistemology, the tauhidic approach, and NasrAos idea of the desacralization of knowledge offer promising solutions. The study concludes that Islamic education requires a holistic, integrative, and transformative epistemological paradigm to respond to modern challenges without losing its spiritual and moral dimensions. Keywords: Epistemological Crisis. Knowledge Dichotomy. Knowledge Integration. Islamic Education. Citation: Rahman. Saputra. , & Sulhan. Krisis Epistemologi Pendidikan Islam di Era Modern: Systematic Literature Review tentang Dikotomi Ilmu dan Model Integrasi Keilmuan. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi. Dan Geofisika (GeoScienceEd Journa. , 7. , 2364Ae https://doi. org/10. 29303/goescienceed. Pendahuluan Saat ini, pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan yang cukup kompleks, khususnya terkait dengan pemisahan yang jelas antara ilmu agama dan ilmu umum. Fragmentasi pengetahuan ini tidak hanya memengaruhi struktur kurikulum, tetapi juga berdampak pada pola berpikir, orientasi pendidikan, dan tujuan pembentukan individu secara utuh. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut krisis epistemologi, yaitu kesulitan dalam memahami sumber, hakikat, metode, dan tujuan ilmu dalam konteks pendidikan Islam (Fakhrurazi, et al. , 2. Fenomena dikotomi ilmu ini bukanlah warisan alami dari tradisi Islam, melainkan konsekuensi interaksi antara kolonialisme, modernitas sekuler, dan model pendidikan Barat yang memisahkan agama dari sains (Miftahudin, 2. Penelitian terdahulu menegaskan bahwa dualisme ini semakin diperkuat oleh sistem pendidikan modern yang menempatkan lembaga pendidikan agama dan umum pada jalur yang Dampaknya, pendidikan Islam sering berada dalam ketegangan antara tuntutan normatif-keagamaan dan tekanan ilmiah-kontemporer (Syarif, et al. , 2. Dalam kerangka epistemologi modern, ilmu kerap dipahami secara positivistik, empiris, dan Pandangan ini memang mendorong kemajuan sains, namun sekaligus mereduksi dimensi makna, moralitas, dan spiritualitas pengetahuan (Ihsan, ___________ Email: ibnuhafs123@gmail. Copyright A 2026. Rahman. Saputra. , & Sulhan. This open access article is distributed under a (CC-BY License Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. et al. , 2. Seyyed Hossein Nasr menyoroti fenomena ini melalui konsep desacralization of knowledge, yakni hilangnya kesucian dan keterkaitan ilmu dengan prinsip Bagi Nasr, krisis ilmu modern bukan sekadar masalah metodologi, melainkan juga krisis makna dan arah orientasi pengetahuan (Rehman & Hashimi, 2021. Nasr, 1. Sebagai respons, para pemikir Muslim kontemporer menawarkan berbagai model integrasi keilmuan untuk mengatasi fragmentasi tersebut. Sebagai contoh. Amin Abdullah mengemukakan paradigma integrasi-interkoneksi, yang memandang ilmu sebagai sebuah jaringan yang saling terhubung, bukan sebagai bidang-bidang yang berdiri sendiri dan Tradisi epistemologi Islam juga menyediakan fondasi integratif melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani, yang memungkinkan penggabungan teks, rasio, dan intuisi spiritual dalam satu kerangka keilmuan yang menyeluruh (Jauzao& Ibrahim, 2. Berdasarkan konteks tersebut, tulisan ini menggunakan pendekatan systematic literature review untuk memetakan secara kritis akar krisis epistemologi, mengevaluasi model-model integrasi keilmuan yang relevan, dan mengidentifikasi arah solusi bagi pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Kajian ini diharapkan tidak hanya memberikan deskripsi masalah, tetapi juga menawarkan sintesis konseptual yang lebih tajam dan aplikatif. Metode Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan desain systematic literature review (SLR), dipilih karena tujuan kajian lebih menekankan pada pemahaman mendalam daripada pengukuran fenomena secara kuantitatif, desain tersebuk digunakan untuk memahami secara mendalam bagaimana krisis epistemologi pendidikan Islam terbentuk, bagaimana dikotomi ilmu bekerja, dan bagaimana model integrasi keilmuan ditawarkan dalam Dengan kata lain, penelitian ini berusaha membaca pola-pola pemikiran yang tersebar dalam berbagai sumber ilmiah, lalu menyusunnya kembali menjadi gambaran yang lebih utuh dan bermakna. Sumber data utama dalam kajian ini adalah artikel jurnal ilmiah, buku akademik, dan publikasi ilmiah relevan yang diterbitkan dalam rentang 1989Ae2026. Penelusuran literatur dilakukan secara digital menggunakan aplikasi Publish or Perish dengan memanfaatkan pangkalan data Google Scholar atau Scopus/Web of Science. Rentang waktu ini dipilih agar pembahasan tidak hanya berhenti pada literatur mutakhir, tetapi juga tetap menyentuh pemikiran dasar yang menjadi fondasi diskusi, seperti gagasan Seyyed Hossein Nasr tentang desacralization of Karena penelitian ini sepenuhnya berbasis pustaka, maka tidak ada partisipan, responden, atau Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 unit eksperimen yang terlibat, sehingga tidak digunakan teknik sampling lapangan seperti probabilistik maupun non-probabilistik. Pengumpulan penelusuran pustaka dan dokumentasi dengan kata kunci yang sesuai dengan fokus penelitian, seperti krisis epistemologi, dikotomi ilmu, integrasi keilmuan, pendidikan Islam, desacralization of knowledge, integrasi-interkoneksi, bayani-burhani-irfani. Literatur yang terkumpul kemudian dipilih dengan dua pertimbangan utama: pertama, benar-benar relevan dengan tema penelitian. kedua, memiliki bobot akademik yang memadai. Sumber yang hanya menyinggung topik secara sepintas atau tidak memberi kontribusi konseptual yang jelas dikeluarkan dari Cara ini membantu menjaga agar pembahasan tetap fokus, jernih, dan dapat dipertanggungjawabkan. Setelah literatur terpilih, data dianalisis melalui sintesis tematik. Prosesnya dilakukan dengan mengelompokkan literatur ke dalam tema-tema besar, seperti akar historis dikotomi, krisis epistemologi modern, kritik terhadap desakralisasi pengetahuan, model integrasi keilmuan, solusi rekonstruksi pendidikan Islam, dan implikasi teoretis-konseptual. Selanjutnya, tiap sumber dibaca secara komparatif untuk melihat persamaan, perbedaan, dan hubungan Dari situ, peneliti menyusun narasi analitis yang lebih padu, sehingga hasil kajian tidak hanya menjadi kumpulan ringkasan, tetapi benar-benar membentuk pemahaman baru yang lebih menyatu. Keandalan analisis dijaga melalui keterlacakan sumber, konsistensi tema, dan kehati-hatian dalam menafsirkan Hasil dan Diskusi Hasil tinjauan literatur mengungkap bahwa krisis epistemologi dalam pendidikan Islam pada era modern bukanlah fenomena yang terjadi secara mendadak, melainkan hasil dari akumulasi faktor historis, termasuk warisan kolonial, pergeseran worldview keilmuan, serta meningkatnya tren sekularisasi pengetahuan. Oleh sebab itu, pembahasan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pemetaan deskriptif terhadap literatur yang ada, kemudian dilanjutkan dengan sintesis tematik yang mendalami akar historis dikotomi ilmu, krisis epistemologi, kritik terhadap epistemologi modern, model-model integrasi keilmuan, strategi rekonstruksi, serta implikasi teoretis dan konseptual yang muncul dari temuan tersebut. Analisis Deskriptif Literatur Sebagai tahap awal, literatur yang relevan dikaji dan dipetakan secara deskriptif untuk menggambarkan arah umum perkembangan kajian yang ada. Pemetaan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. ini memiliki peran penting, tidak hanya dalam mengidentifikasi sumber-sumber yang dijadikan rujukan, tetapi juga untuk menyoroti tren tematik, fokus Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 titik-titik antarpenelitian yang menjadi dasar bagi analisis Tabel 1. Analisis Deskriptif Literatur Nama Jurnal Judul Al-Ilmiya: Jurnal Tauhid Sebagai Epistemologi Pendidikan Islam: Pendidikan Islam, 1. Kritik dan Rekonstruksi atas Dikotomi Jurnal Ilmu Kontemporer As-Sulthan Journal of Epistimologi ilmu dalam pendidikan Islam: Education, 3. , 340-347 Analisis studi pustaka terhadap dikotomi, integrasi, dan interkoneksi ilmu pengetahuan Al-Qarawiyyin: Jurnal Reinterpretasi epistemologi pendidikan Islam Ilmu Ushuluddin, dalam filsafat Al-FArAb sebagai solusi krisis makna kurikulum kontemporer JIP: Jurnal Ilmu Rekonstruksi Epistemologi Pendidikan Islam Pendidikan, 3. , 617-634 Pada Masa Kolonial Belanda dan Implikasi Terhadap Dikotomi Pendidikan di Indonesia FALASIFA : Jurnal Studi Integrasi Islam dan Sains: Sebuah Telaah Keislaman, 12. , 116Epistemologi IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Menjembatani Dikotomi Ilmu Agama dan Ilmu Keislaman, 9. , 999Umum (Kajian Atas Pemikiran Integratif M. Amin Abdulla. Takuana: Jurnal Integrasi Epistemologi Bayani. Burhani dan Irfani Pendidikan. Sains. Dan dalam Pembentukan Ilmu Pendidikan Islam Humaniora, 4. , 669Ae Kontemporer. Global Islamika: Jurnal Epistemologi Pendidikan Agama Islam Studi Islam dan Berkemajuan dalam Perspektif K. Ahmad Pemikiran Islam, 4. Dahlan. 14Ae24. Journal of Islamic Bumi kotak: Krisis epistemologi Islam Education Thoughts and rekonstruksi paradigma pendidikan Islam di era Practices, 9. , 279Ae286. disorientasi pengetahuan. AN NAJAH: Jurnal Integrasi ilmu dalam pendidikan Islam: Pendidikan Islam dan Menelusuri akar klasik dan relevansinya di era Sosial Keagamaan, 4. Dari hasil pemetaan tersebut, terlihat bahwa literatur cenderung menekankan dua isu utama, yaitu kritik terhadap dikotomi ilmu dan upaya integrasi Dengan kata lain, perdebatan yang berkembang tidak hanya terbatas pada aspek Penulis Ulya. Pausil. Zalnur. , & Arief. Ahmad. Syarif. Maulana. Nafisa. Putri. , & Ahmad. Nurcholis. Saputra. , & Suyanta. Nurhamidah. Maesaroh. Balkis. Rahma. Haqiah, , & Usman. Sholikhuddin. Nafilah Putri. Dafa. & Ega Nurul Ishaq. Sutisna. AsyAoari. & Shobahiya. Annisa. , & Prabowo, kelembagaan pendidikan, tetapi juga menyoroti landasan filosofis yang mendasari cara ilmu dipahami, disusun, dan diarahkan dalam konteks tradisi pendidikan Islam. Tabel 2. Analisis Literatur Nama Penulis Ulya. Judul Tauhid sebagai epistemologi pendidikan Islam: Kritik dan rekonstruksi atas Metodologi Penelitian Kualitatif. Studi Pustaka Hasil Penelitian Dikotomi ilmu tidak hanya bersumber dari persoalan kurikuler, tetapi dari tidak berfungsinya tauhid sebagai Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 dikotomi ilmu Pausil. Zalnur, & Arief Epistimologi ilmu dalam pendidikan Islam: Analisis studi pustaka terhadap dikotomi, integrasi, dan interkoneksi ilmu Kualitatif. Studi Pustaka Ahmad. Reinterpretasi epistemologi pendidikan Islam dalam filsafat AlFArAb sebagai solusi krisis makna kurikulum Kualitatif. Studi Pustaka Syarif. Maulana . Nafisa. Putri, & Ahmad Rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam pada masa kolonial Belanda dan implikasinya terhadap dikotomi pendidikan di Indonesia Kualitatif. Studi Pustaka Nurcholi s. Integrasi Islam dan sains: Sebuah telaah Kualitatif. Studi Pustaka Saputra Suyanta Menjembatani dikotomi ilmu agama dan ilmu umum: Kajian atas pemikiran integratif M. Amin Abdullah Library Research pandangan hidup dan prinsip epistemik pendidikan. Tauhid direduksi menjadi doktrin teologis normatif sehingga relasi integral antara ilmu, iman, dan amal terputus. Dikotomi ilmu merupakan konstruksi historis yang dipengaruhi sekularisme Barat. Integrasi menyatukan ilmu agama dan ilmu umum dalam kerangka tauhid, sedangkan interkoneksi menekankan dialog antardisiplin. Epistemologi Al-FArAb menegaskan harmonisasi wahyu dan akal sebagai dasar pembelajaran, menempatkan pendidikan sebagai jalan menuju saAdah, dan menekankan kurikulum yang mengintegrasikan dimensi etik, metafisik, dan rasional. Pendidikan Islam mengalami marginalisasi epistemologis akibat sistem kolonial sekuler. Ketegangan antara sekolah modern dan lembaga Islam melahirkan dualisme epistemologis yang masih memengaruhi pendidikan Keterpisahan Islam dan sains lebih disebabkan faktor historis, sosiologis, dan politis, bukan ajaran Islam. Pola keselarasan epistemologi Islam dan sains adalah kulli-juz'i . niversal-partikula. Jaring laba-laba keilmuan Amin Abdullah mendorong dialog multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner, sehingga mampu mengatasi fragmentasi Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 Nurhami Integrasi epistemologi dah et al. bayani, burhani, dan irfani dalam pembentukan ilmu pendidikan Islam Kualitatif. Kajian Literatur Sholikhi ddin et Epistemologi pendidikan agama Islam berkemajuan dalam perspektif K. Ahmad Dahlan Kualitatif. Library Research Sutisna. AsyAoari. Shobahiy Bumi kotak: Krisis epistemologi Islam rekonstruksi paradigma pendidikan Islam di era disorientasi pengetahuan Kualitatif Deskriptif Annisa Prabowo Integrasi ilmu dalam pendidikan Islam: Menelusuri akar klasik dan relevansinya di era Kualitatif Deskriptif Hasil pemetaan yang disajikan pada tabel kedua menunjukkan bahwa literatur cenderung terbagi ke dalam dua fokus utama, yaitu kritik terhadap dikotomi ilmu dan upaya integrasi keilmuan. Fokus pertama menunjukkan bahwa pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum merupakan konsekuensi dari perjalanan historis, sedangkan fokus kedua menekankan pentingnya pendidikan Islam memiliki kerangka epistemologis baru yang lebih terpadu. Akar Historis Dikotomi Akar historis dari dikotomi dalam pendidikan Islam erat kaitannya dengan transformasi signifikan yang terjadi sejak era kolonial. Pada masa tersebut, kolonialisme memperkenalkan sistem pendidikan dan memperkuat pembaruan Bayani, burhani, dan irfani membentuk epistemologi yang saling melengkapi. Integrasi ketiganya menghasilkan pendidikan yang menyeimbangkan intelektual, moral, dan spiritual. Ahmad Dahlan menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sekuler, serta menekankan integrasi spiritualitas, rasionalitas, dan kemanusiaan dalam pendidikan progresif. Krisis epistemologi Islam berakar pada fragmentasi dan sekularisasi pengetahuan Pendidikan Islam perlu diarahkan pada integrasi wahyu, rasionalitas, dan empiris dalam kerangka epistemologi tauhidik. Dikotomi ilmu bukan berasal dari tradisi Islam, tetapi dari dinamika sosial-politik dan kemunduran intelektual. Integrasi ilmu menjadi pendekatan kunci agar pendidikan Islam adaptif tanpa kehilangan dasar teologis. dualistik yang memisahkan pendidikan agama dari pendidikan umum, sehingga tradisi keilmuan Islam yang sebelumnya mengintegrasikan wahyu, rasio, dan moralitas mulai mengalami marginalisasi dari segi epistemologis (Damayanti, & Sodiman, 2. Pada era kolonial Belanda, sistem pendidikan modern dikembangkan dengan orientasi administratif, birokratis, dan rasionalistik. Sementara itu, pesantren, surau, dan madrasah tetap mempertahankan pendekatan keilmuan yang berakar pada wahyu dan tradisi para ulama klasik. Pertemuan antara kedua sistem ini menimbulkan ketegangan yang tidak hanya bersifat kelembagaan, tetapi juga epistemologis, karena masing-masing berangkat dari asumsi yang berbeda terkait sumber pengetahuan, metode pembelajaran, dan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. tujuan pendidikan (Asrori. , & Ismail, 2. Pascakemerdekaan, warisan kolonial tersebut tidak langsung Dalam praktik pendidikan nasional, pendidikan umum dan pendidikan agama masih sering berjalan secara paralel, dengan kurikulum, standar pencapaian, dan orientasi lulusan yang berbeda. Akibatnya, pemahaman terhadap ilmu cenderung terfragmentasi: terdapat ilmu yang dikategorikan religius dan ilmu yang dianggap bersifat duniawi, seolah keduanya berjalan terpisah tanpa adanya keterkaitan yang jelas (Saputra, et al. , 2. Selain pengaruh kolonial, munculnya spesialisasi ilmu modern turut memperkuat fenomena dikotomi (Aciro, et al. , 2. Perkembangan ilmu yang semakin tersegmentasi menyebabkan tiap disiplin ilmu berjalan secara otonom dan cenderung menutup diri dari interaksi atau dialog dengan disiplin lain. Dalam konteks pendidikan Islam, kondisi ini semakin memperlebar kesenjangan antara ilmu keislaman dan ilmu umum, karena masing-masing dikembangkan berdasarkan logika, metodologi, dan tujuan yang berbeda (Atikah, & Sholihin, 2. Dari perspektif worldview, dikotomi tersebut mencerminkan pergeseran dari pandangan tauhidik menuju pandangan sekuler. Dalam kerangka tauhidik, seluruh pengetahuan bersumber dari Allah dan harus diarahkan untuk kemaslahatan serta penghambaan kepada-Nya. Sebaliknya, worldview sekuler memisahkan nilai-nilai menempatkan rasionalitas antroposentris sebagai pusat kebenaran dan orientasi ilmu (Syarif, et al. , 2. Dengan demikian, akar historis dikotomi dalam pendidikan Islam dapat ditelusuri pada tiga faktor utama: pertama, kolonialisme yang menciptakan sistem pendidikan dualistik. kedua, sekularisasi pengetahuan yang memutus keterkaitan ilmu dengan nilai dan ketiga, spesialisasi ilmu modern yang mendorong fragmentasi keilmuan. Ketiga faktor ini saling memperkuat dan menghasilkan warisan epistemologis yang masih terasa hingga saat ini (Syarif, et al. , 2025. Fakhrurazi, 2. Krisis Epistemologi dalam Pendidikan Islam Krisis epistemologi dalam pendidikan Islam merupakan masalah mendasar yang tidak hanya terkait dengan isi kurikulum, tetapi juga menyangkut cara memahami hakikat ilmu, sumbernya, serta tujuan akhir pendidikan (Tiara, & Danu, 2. Berdasarkan tinjauan literatur, krisis ini muncul ketika pendidikan Islam memisahkan pengetahuan ke dalam dua kutub yang jelas berbeda, yakni ilmu agama yang bersifat normatif dan ilmu umum yang dikembangkan secara empirisrasional (Khasanah, et al. , 2. Secara konseptual, krisis epistemologi terjadi ketika hubungan antara wahyu, akal, pengalaman, dan Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 intuisi tidak lagi ditempatkan dalam kerangka Berbagai studi menunjukkan bahwa pendidikan Islam kontemporer masih sering berhenti pada pembahasan sumber dan alat pengetahuan, tanpa menelusuri dimensi ontologis dan aksiologis yang lebih Padahal, pendidikan Islam menuntut kerangka yang tidak hanya menjelaskan apa yang diketahui dan bagaimana mengetahuinya, tetapi juga untuk apa ilmu tersebut digunakan (Khasanah, et al. Krisis ini menjadi semakin nyata dalam konteks modernitas, di mana pendidikan diarahkan pada pragmatisme dan utilitarianisme. Perkembangan teknologi, globalisasi, serta tuntutan pasar kerja mendorong lembaga pendidikan untuk lebih menekankan pencapaian kognitif dan keterampilan teknis dibanding pembentukan karakter dan kedalaman Dalam kondisi seperti ini, pendidikan Islam menghadapi tekanan ganda: di satu sisi harus mempertahankan identitas keislamannya, sementara di sisi lain tetap dituntut responsif terhadap logika modern yang sering bertentangan dengan sakralitas ilmu (Tiara, & Danu, 2023. Mardatillah, et al. , 2. Sejumlah kajian juga menyoroti bahwa krisis epistemologi berkaitan dengan lemahnya dasar pengetahuan dalam pengembangan pendidikan Islam. Epistemologi pendidikan Islam sering dibahas secara statis, seolah cukup dengan menyebut sumber-sumber ilmu tanpa menjelaskan hubungan dinamis di antara sumber-sumber tersebut. Akibatnya, ilmu agama dan ilmu umum berkembang secara terpisah, sehingga sulit dipahami sebagai satu sistem keilmuan yang saling melengkapi (Tiara, & Danu, 2023. Khasanah, et al. , 2. Dalam konteks ini, kritik epistemologis Seyyed Hossein Nasr menjadi sangat relevan. Nasr menekankan bahwa modernitas telah memisahkan pengetahuan dari dimensi sakralnya, sehingga terjadi fenomena desacralization of knowledge. Menurutnya, pengetahuan yang kehilangan kesucian tidak lagi menuntun manusia menuju hikmah, melainkan hanya pada efisiensi dan dominasi teknis (Nasr, 1. Jika pandangan ini diterapkan pada pendidikan Islam, jelas bahwa persoalan utama bukan sekadar adanya mata pelajaran yang terpisah, tetapi juga hilangnya kesadaran bahwa seluruh ilmu berada dalam satu tatanan ilahiah. Pendidikan Islam yang mengabaikan dimensi sakral ilmu berisiko terjebak dalam formalisme, rutinitas administratif, dan pengulangan materi yang minim transformasi (Rehman & Hashimi, 2021. Nasr, 1. Dengan demikian, krisis epistemologi perlu dipahami sebagai krisis struktur dan orientasi pengetahuan sekaligus. Struktur pengetahuan menjadi terfragmentasi akibat kurangnya integrasi antara wahyu, akal, dan pengalaman, sementara orientasi Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. pengetahuan menjadi kabur karena ilmu tidak lagi diarahkan secara utuh pada pembentukan insan beriman, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi Kritik Epistemologi Modern dan Desakralisasi Pengetahuan Epistemologi modern telah mengubah secara signifikan cara manusia memahami ilmu. Ciri khasnya terletak pada penekanan terhadap rasionalitas, objektivitas, empirisme, dan pengendalian teknologis atas realitas. Pendekatan ini memang berhasil mendorong kemajuan sains, namun dalam perspektif pendidikan Islam, hal tersebut menimbulkan konsekuensi serius karena cenderung memisahkan pengetahuan dari nilai-nilai transenden, dimensi spiritual, dan tujuan etis yang lebih mendalam (Nasr. Khasanah, et al. , 2. Kritik terhadap epistemologi modern muncul dari kenyataan bahwa ilmu tidak lagi dipahami sebagai sarana pencarian kebenaran yang menyeluruh, melainkan lebih sebagai alat untuk menguasai alam dan memenuhi kebutuhan praktis manusia (Chertkova. Dalam kerangka ini, pengetahuan menjadi kuat secara instrumental, namun lemah secara moral. Dalam konteks pendidikan Islam, orientasi seperti ini berisiko menggeser tujuan pendidikan dari pembentukan insan beradab menjadi sekadar produksi tenaga terampil yang belum tentu memiliki fondasi etis dan spiritual yang utuh (Tiara, & Danu, 2. Seyyed Hossein Nasr merupakan salah satu tokoh yang memberikan kritik mendalam terhadap modernitas pengetahuan. Ia menekankan bahwa ilmu modern telah mengalami desacralization, yakni pemisahan pengetahuan dari dimensi kesakralan yang dalam tradisi klasik justru menjadi sumber makna Menurut Nasr, ketika ilmu terlepas dari Yang Suci, yang tersisa hanyalah pengetahuan parsial yang tidak mampu menjawab pertanyaan terdalam tentang hidup, tujuan, dan kebahagiaan manusia (Nasr, 1. Gagasan desacralization of knowledge menjadi sangat relevan bagi pendidikan Islam, karena menunjukkan bahwa persoalan modernitas tidak hanya terletak pada isi ilmu, tetapi juga pada struktur Modernitas menghasilkan pengetahuan yang maju secara material, tetapi mengabaikan keterkaitan ilmu dengan Tuhan, jiwa, dan moralitas. Akibatnya, peserta didik mungkin menguasai fakta dan konsep, tetapi belum tentu mencapai kebijaksanaan yang sejati (Rehman & Hashimi, 2021. Nasr, 1. Dalam praktik pendidikan Islam, kritik ini penting karena banyak metode pembelajaran masih terjebak pada logika transmisi yang sempit. Ilmu diajarkan sebagai materi yang harus dikuasai, bukan Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 sebagai sarana untuk transformasi diri. Orientasi semacam ini memperkuat pemisahan antara dimensi intelektual dan spiritual, padahal dalam tradisi Islam, ilmu selalu terkait dengan iman, amal, adab, dan tanggung jawab sosial (Tiara, & Danu, 2023. Khasanah, et al. , 2. Dengan demikian, kritik terhadap epistemologi modern bukan berarti menolak modernitas secara Yang perlu dikritisi adalah klaim bahwa epistemologi modern merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran. Pendidikan Islam perlu melakukan seleksi kritis: memanfaatkan kekuatan analitis dan metodologi modern, sembari tetap menjaga fondasi Dengan demikian, ilmu modern tidak ditolak, tetapi ditempatkan kembali dalam kerangka yang lebih utuh, sakral, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia (Canu, et al. , 2025. Nasr, 1. Model Integrasi Keilmuan dalam Pendidikan Islam Berbagai tinjauan literatur menunjukkan bahwa langkah paling signifikan dalam menanggapi dikotomi ilmu dalam pendidikan Islam adalah pengembangan model integrasi keilmuan. Model ini lahir dari kesadaran bahwa pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum tidak sejalan dengan worldview Islam, yang melihat ilmu sebagai satu kesatuan utuh yang saling terhubung secara harmonis dengan wahyu, akal, dan realitas empiris (Harahap, et al. , 2. Oleh karena itu, integrasi keilmuan tidak hanya dimaknai sebagai rekonstruksi cara pandang terhadap pengetahuan itu sendiri (Mardatillah, et al. , 2. Salah satu model yang banyak dibahas adalah paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah. Dalam pendekatan ini, ilmu dipahami sebagai jejaring yang saling berhubungan, bukan sebagai bidang-bidang yang berdiri sendiri dan saling menegasikan. Metafora spider web of knowledge menggambarkan bahwa ilmu agama, sains alam, ilmu sosial, dan humaniora harus saling berdialog agar pendidikan Islam mampu menangkap realitas secara lebih komprehensif (Purwaningtyas, & Delahara, 2024. Habibi, et al. , 2. Keunggulan model Amin Abdullah terletak pada sifatnya yang dialogis dan terbuka. Pendekatan ini tidak menolak ilmu modern, namun menentang pandangan dikotomis yang memutus hubungan antardisiplin (Qorimah, & Baidi, 2. Dalam pendidikan Islam kontemporer, pendekatan ini penting karena memberikan ruang integrasi antara wahyu dan temuan empiris, antara tradisi dan modernitas, serta antara nilai keislaman dan dinamika sosial yang terus berubah. Dengan demikian, integrasi-interkoneksi berfungsi sebagai strategi epistemologis sekaligus pedagogis (Maulana, et al. , 2. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. Di sisi lain, model integrasi yang berbasis epistemologi bayani, burhani, dan irfani menawarkan fondasi sistematis dari tradisi keilmuan Islam sendiri. Pendekatan bayani menekankan otoritas teks dan wahyu sebagai sumber normatif. burhani menyoroti pentingnya nalar logis dan argumentasi rasional. sedangkan irfani memberi ruang bagi intuisi, pengalaman spiritual, dan penyucian batin. Ketiga pendekatan ini, bila diposisikan secara integratif, membentuk kerangka keilmuan yang holistik dan tidak reduksionistik, sehingga tidak bergantung pada satu sumber pengetahuan semata (Rizki, & Rijal, 2. Literatur dominasi salah satu epistemologi dapat menimbulkan ketimpangan dalam pendidikan Islam. Jika bayani terlalu dominan, pendidikan cenderung tekstual, kaku, dan kurang kritis. jika burhani terlalu dominan, pendidikan berisiko menjadi rasionalistik dan minim sedangkan jika irfani dipisahkan dari kedua pendekatan lain, pendidikan bisa kehilangan basis normatif dan rasionalnya. Oleh karena itu, integrasi ketiganya dipandang sebagai kunci untuk menghasilkan pendidikan Islam yang seimbang antara validitas teks, kekuatan nalar, dan kedalaman makna spiritual (Erdiyani, et al. , 2025. Rizki, & Rijal, 2. Pendekatan integratif lain adalah perspektif tauhidik, yang menempatkan kesatuan Allah sebagai fondasi epistemologi. Dalam model ini, seluruh pengetahuan bersumber dari Tuhan dan diarahkan kembali pada tujuan penghambaan serta kemaslahatan Pendekatan ini menjadi sangat penting untuk mencegah pendidikan Islam terperangkap dalam pemisahan ontologis antara ilmu agama dan ilmu Dengan kata lain, integrasi keilmuan bukan hanya soal metode belajar, melainkan juga pemulihan kesadaran bahwa seluruh ilmu berada dalam satu horizon ketuhanan (Khasanah, et al. , 2. Jika dibandingkan, model Amin Abdullah bayani-burhani-irfani struktur internal keilmuan Islam. Keduanya saling Amin Abdullah memberikan arah bagaimana ilmu dihubungkan secara akademik dan sosial, sedangkan bayani-burhani-irfani memberikan dasar bagaimana ilmu disusun secara filosofis dan Literatur menegaskan bahwa integrasi keilmuan yang efektif harus berjalan pada dua tingkat sekaligus: relasi antarilmu dan kedalaman dasar epistemiknya (Erdiyani, et al. , 2. Dalam konteks pesantren dan pendidikan Islam di Indonesia, integrasi keilmuan juga dipahami sebagai bentuk dekolonisasi pengetahuan. Beberapa kajian menunjukkan bahwa penerapan bayani, burhani, dan irfani di lembaga pendidikan Islam dapat menjadi bentuk resistensi terhadap hegemoni pengetahuan Barat Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 yang cenderung sekuler dan dominan. Hal ini menegaskan bahwa integrasi ilmu bukan hanya agenda akademik, tetapi juga agenda kultural dan peradaban (Erdiyani, et al. , 2. Dengan demikian, model-model integrasi keilmuan menunjukkan bahwa solusi terhadap dikotomi ilmu tidak cukup hanya melalui penambahan mata kuliah atau penyusunan kurikulum baru. Yang epistemologis yang memungkinkan ilmu agama, sains, dan pengalaman spiritual saling menerangi. Di sinilah integrasi-interkoneksi, bayani-burhani-irfani, tauhidik menjadi tiga kerangka paling relevan bagi Islam (Erdiyani, et al. , 2. Solusi Rekonstruksi Pendidikan Islam Berdasarkan sintesis literatur, solusi terhadap krisis epistemologi pendidikan Islam perlu diarahkan pada rekonstruksi yang menyeluruh, bukan hanya perbaikan parsial. Rekonstruksi ini mencakup level paradigma, kurikulum, kelembagaan, dan pedagogi. Tanpa pembenahan pada empat level tersebut, pendidikan Islam akan terus berada dalam pola dikotomis yang sama, meskipun istilah yang digunakan telah berubah (Mardatillah, et al. , 2. Pada level paradigma, pendidikan Islam perlu kembali pada worldview tauhidik yang menegaskan kesatuan sumber ilmu, tujuan ilmu, dan orientasi ilmu. Paradigma ini penting untuk melampaui cara pandang modern yang memisahkan fakta dari nilai, serta pengetahuan dari kebijaksanaan. Dengan worldview tauhidik, seluruh disiplin ilmu dipahami sebagai bagian dari upaya mengenal sunnatullah dan mengabdi kepada Allah (Rehman & Hashimi, 2021. Khasanah, et al. , 2. Pada diwujudkan melalui desain pembelajaran lintas disiplin yang tidak menempatkan ilmu agama dan ilmu umum secara terpisah. Sejumlah literatur menegaskan perlunya kurikulum yang menghubungkan dogmatiktransendental dengan realitas empiris, sehingga peserta didik dapat melihat keterkaitan antara nilai keislaman dan persoalan kehidupan nyata. Kurikulum dengan model seperti ini akan lebih efektif dalam membentuk lulusan yang tidak hanya menguasai teks, tetapi juga mampu menganalisis dan memahami realitas sosial secara kritis. (Tiara, & Danu, 2. Pada level kelembagaan, transformasi perlu diarahkan pada sinergi antara madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam dengan dunia keilmuan modern. Lembaga pendidikan Islam tidak lagi cukup hanya mempertahankan identitas tradisional, tetapi perlu aktif membangun budaya akademik yang dialogis, terbuka, dan interdisipliner. Transformasi ini penting agar integrasi ilmu tidak berhenti sebagai wacana, melainkan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. hadir dalam tata kelola pendidikan, kebijakan akademik, serta pengembangan dosen dan guru (Puspasari, & Usman. Pada level pedagogi, pembelajaran harus diarahkan pada penguatan berpikir kritis, reflektif, partisipatif, dan berbasis pengalaman. Guru tidak lagi berfungsi semata sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator yang menghubungkan teks, konteks, dan problem nyata. Pendekatan seperti ini akan membantu peserta didik memahami bahwa ilmu agama dan ilmu umum bukan dua wilayah yang saling meniadakan, melainkan dua jalan untuk membaca kebenaran secara lebih utuh (Puspasari, & Usman. Tiara, & Danu, 2. Dalam kerangka Nasr, solusi pendidikan Islam juga harus memulihkan kesakralan ilmu. Artinya, integrasi tidak boleh berhenti pada penguasaan pembentukan manusia yang sadar bahwa ilmu adalah amanah ilahiah. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya mencetak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang beradab, bijak, dan memiliki orientasi transendental (Canu, et al. , 2025. Nasr, 1. Literatur juga menegaskan bahwa solusi yang efektif harus mampu menjawab tantangan modernitas tanpa meniru modernitas secara mentah. Pendidikan Islam perlu selektif dalam menyerap metode ilmiah modern, sambil tetap menjaga basis etik, spiritual, dan Sikap selektif ini penting agar pendidikan Islam tidak kehilangan identitasnya di tengah tuntutan globalisasi, digitalisasi, dan kompetisi pengetahuan (Mardatillah, et al. , 2. Dengan demikian, solusi bagi pendidikan Islam bukanlah memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan mengolah keduanya dalam kerangka integratif yang kokoh. Tradisi memberi fondasi epistemologis, modernitas memberi perangkat analitis, dan integrasi keilmuan memberi jembatan konseptual agar keduanya dapat bekerja bersama. Jika rekonstruksi ini berhasil, pendidikan Islam akan lebih efektif dalam menghasilkan generasi yang berilmu, beradab, berpikir kritis, dan mampu menyesuaikan diri dengan tantangan Implikasi Teoretis dan Konseptual Hasil kajian ini menegaskan bahwa krisis epistemologi dalam pendidikan Islam bukan hanya masalah terkait operasional kurikulum, tetapi juga menyentuh struktur dasar pengetahuan, orientasi pendidikan, dan arah pembentukan manusia secara Oleh karena itu, implikasi teoretis dari penelitian ini menekankan perlunya transformasi cara memahami pendidikan IslamAidari sekadar sistem transfer ilmu menjadi sistem rekonstruksi kesadaran Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 ilmiah yang berlandaskan prinsip tauhid, adab, dan integrasi pengetahuan (Khasanah, et al. , 2025. Mardatillah, et al. , 2. Pertama. Pada tingkat epistemologis, pendidikan Islam perlu menghapus pola dikotomis yang secara kaku memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa pemisahan ini menghasilkan cara pandang yang fragmentaris, sehingga ilmu tidak lagi dipahami sebagai kesatuan yang saling memperkuat. Dengan demikian, implikasi konseptual pertama dari kajian ini adalah penguatan epistemologi integratif yang mampu menjembatani wahyu, akal, pengalaman, dan intuisi dalam satu horizon keilmuan (Tiara & Danu, 2023. Khasanah, et al. Kedua, penelitian ini menekankan bahwa kritik terhadap epistemologi modern harus direspons melalui rekonstruksi, bukan sekadar penolakan. Pemikiran Seyyed Hossein Nasr mengenai desacralization of knowledge menegaskan bahwa ilmu modern kehilangan makna ketika terlepas dari dimensi sakral. Oleh karena itu, implikasi teoretis berikutnya adalah perlunya menghadirkan kembali dimensi transendental dalam pendidikan Islam, sehingga ilmu tidak berhenti pada fungsi instrumental semata, tetapi juga menjadi sarana pembentukan hikmah dan kebijaksanaan (Canu, et al. Nasr, 1. Ketiga, model integrasi keilmuan, seperti integrasi-interkoneksi M. Amin Abdullah dan bayani-burhani-irfani, pentingnya paradigma dialogis dan plural dalam memahami realitas. Literatur terkini menunjukkan bahwa integrasi ini tidak hanya relevan bagi studi pemikiran Islam, tetapi juga bagi pengembangan kurikulum, pedagogi, dan kepemimpinan pendidikan. Dengan kata lain, implikasi konseptual penelitian ini menekankan bahwa integrasi ilmu harus dijadikan prinsip dasar dalam desain pendidikan, bukan sekadar topik teoritis di ranah akademik (Erdiyani, et al. , 2025. Habibi, et al. , 2. Keempat, kajian ini memberikan implikasi terhadap penilaian kualitas lulusan pendidikan Islam. Keberhasilan tidak lagi cukup diukur dari penguasaan kognitif atau prestasi akademik formal, melainkan juga harus mencakup kemampuan berpikir kritis, kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan integritas moral. Pendekatan ini sejalan dengan temuan literatur yang pendidikan Islam harus mampu melahirkan peserta didik yang kreatif, mandiri, dan memiliki tanggung jawab sosial. (Khasanah, et al. , 2025. Mardatillah, et al. Kelima, dari sudut pandang kelembagaan, pendidikan Islam membutuhkan transformasi serius pada tingkat kebijakan, budaya akademik, dan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. pengembangan sumber daya manusia. Jika dikotomi ilmu tetap dipertahankan, perguruan tinggi Islam, madrasah, dan pesantren akan terus berjalan dalam logika paralel yang tidak saling memperkuat. Oleh karena itu, implikasi penelitian ini menekankan pentingnya reformasi kurikulum, pelatihan dosen dan guru, serta penciptaan ekosistem akademik yang mendorong dialog antardisiplin (Fauzi, et al. , 2025. Habibi, et al. , 2. Secara konseptual, artikel ini juga menekankan bahwa rekonstruksi pendidikan Islam tidak dapat berhenti pada level sintesis abstrak. Transformasi epistemologi harus diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran yang menghubungkan dogma dan realitas, teks dan konteks, serta nilai dan pengalaman. Dengan pendekatan ini, pendidikan Islam akan lebih mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan identitas epistemologisnya (Tiara & Danu, 2023. Khasanah, et al. , 2. Akhirnya, implikasi paling penting dari kajian ini adalah penguatan arah pendidikan Islam sebagai pendidikan yang holistik, integratif, dan berorientasi Pendidikan Islam tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga harus mampu mengolah tradisi tersebut menjadi energi transformasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Di sinilah integrasi ilmu, pemulihan kesakralan pengetahuan, dan rekonstruksi epistemologi bertemu sebagai agenda intelektual sekaligus pedagogis. Kesimpulan Kajian ini menegaskan bahwa krisis epistemologi dalam pendidikan Islam pada era modern bukan sekadar persoalan teknis atau kurikulum semata, melainkan merupakan masalah mendasar yang menyentuh cara pandang terhadap ilmu, tujuan pendidikan, dan arah pembentukan manusia secara Sejak awal, artikel ini menyoroti bahwa dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum menjadi simpul utama dari berbagai persoalan, baik pada tingkat Dengan demikian, tujuan artikel untuk menelusuri akar krisis, mengevaluasi model integrasi keilmuan, dan merumuskan arah rekonstruksi pendidikan Islam telah terjawab melalui analisis yang Secara lebih rinci, hasil kajian menunjukkan bahwa akar historis dikotomi ilmu terkait erat dengan warisan kolonial, sekularisasi pengetahuan modern, serta spesialisasi ilmu yang semakin terfragmentasi. Kondisi ini menyebabkan pendidikan Islam mengalami krisis epistemologis, karena hubungan antara wahyu, akal, pengalaman, dan intuisi tidak lagi dipahami sebagai kesatuan yang utuh. Temuan ini mempertegas bahwa persoalan pendidikan Islam bukan hanya terkait Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2364-2376 pemisahan mata pelajaran, tetapi lebih pada cara pandang terhadap ilmu itu sendiri. Selain itu, kajian ini menyoroti bahwa berbagai model integrasi keilmuan menawarkan solusi yang relevan dan kontekstual. Paradigma integrasiinterkoneksi M. Amin Abdullah, epistemologi bayaniburhani-irfani, pendekatan tauhidik, serta kritik Seyyed Hossein Nasr terhadap desacralization of knowledge sama-sama memberikan pijakan penting bagi rekonstruksi pendidikan Islam yang lebih holistik. Dengan demikian, integrasi ilmu bukan sekadar wacana akademik, melainkan kebutuhan nyata agar pendidikan Islam dapat menghadapi tantangan zaman sekaligus tetap menjaga dimensi spiritual, moral, dan Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini pendidikan Islam terus dikembangkan, tidak hanya dalam ranah konseptual, tetapi juga dalam perumusan kelembagaan yang lebih integratif. Bagi para pendidik dan pengelola institusi pendidikan Islam, hasil kajian ini menjadi pengingat bahwa pembaruan tidak harus berarti meninggalkan tradisi, melainkan mengolah tradisi tersebut agar lebih hidup dan relevan. Pada saat yang sama, pembaca diajak untuk memahami bahwa masa depan pendidikan Islam akan sangat bergantung pada kesediaan kita untuk merawat kesatuan ilmu, memulihkan kesakralannya, dan menghidupkan kembali orientasi keilmuan yang membebaskan sekaligus memanusiakan. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan memberikan dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan artikel ini. Segala bantuan, bimbingan, serta masukan yang telah diberikan sangat berharga bagi penyempurnaan penelitian ini hingga selesai dengan Referensi